Sanger Khas Aceh dan Asal Usul Namanya

Monday, September 18, 2017 2

Sanger dan Asal Usul Namanya

Sanger adalah minumah khas Aceh yang diracik khusus dengan komposisi antara kopi dan susu (salah satu warung kopi Solong cabang Lampeunerut). @Doc. Mhd. Saifullah
Pernahkah kawan-kawan mendengar kata sanger? Pernahkah kawan-kawan meminumnya? Jika pernah, di manakah tempat menikmatinya? 

Kata sanger mungkin terdengar asing bahkan jarang ada di dalam list daftar menu minuman di beberapa warung kopi (Warkop) di luar Provinsi Aceh. Bisa dikatakan sebagian besar orang yang pernah menikmati minuman ini, pastinya tidak terlepas dari salah satu warung kopi yang ada di Aceh ataupun pastinya berkaitan erat dengan citarasa kuliner dari Tanah Rencong (jika di luar daerah Aceh). 

Sanger merupakan salah satu minuman khas yang dikenal berasal dari Aceh. Minuman perpaduan antara kopi dan sedikit susu manis ini, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990-an, di salah satu warung kopi di Kota Banda Aceh. Tak heran jika saat ini, hampir di seluruh list daftar menu minuman pada warung kopi yang ada di Aceh, khususnya di Ibu Kota Banda Aceh, tersedia minuman ini. Hal ini dikarenakan, sanger menjadi minuman favorit saat ini bagi para penikmat kopi setelah kopi hitam biasa.

Perbedaan Sanger dan Kopi Susu
Jika dilihat sekilas dengan mata atau bagi yang belum pernah melihatnya, minuman sanger akan terlihat sama dengan kopi susu. Hal ini dikarenakan, warna dari kedua minuman tersebut hampir sama, selain dari kedua komposisinya yang juga sama, yakni perpaduan antara kopi dan susu. Namun, perbedaannya baru dapat dirasakan ketika sudah mencicipinya. 

Pada minuman sanger, antara rasa kopi dan susu lebih menyatu. Warnanya yang lebih gelap, membuat nikmat dari pahitnya kopi masih dapat dirasakan jelas meski sudah dicampur susu. Itu disebabkan komposisi pembuatan sanger dengan perpaduan 3 banding 1 antara kopi dan susu yang kemudian diracik dengan khas oleh barista saring saat membuatnya. 

Lain halnya dengan pembuatan sanger, perpaduan komposisi kopi susu bisa dikatakan 2 banding 2 atau lebih antara kopi dan susu. Sehingga warnanya lebih terang dan rasa susu pada minuman kopi susu bisa dikatakan lebih unggul.

Sejarah Minuman Sanger
Sebelum kawan-kawan membaca tentang sejarah minuman sanger, penulis ingin bertanya terlebih dahulu kepada kawan-kawan.

Pernahkah kawan-kawan mengetahui dan mendengar asal usul nama minuman sanger?

Jika belum pernah, penulis berharap tulisan ini dapat menambah wawasan kawan-kawan tentang minuman ini. Seandainya sudah pernah, semoga penjelasan berikut dapat memperkuat apa yang sudah kawan-kawan ketahui.
Sajian Sanger Arabica yang belakangan ini juga mulai populer di beberapa warung kopi di Aceh. @Doc. Mhd. Saifullah (@ms1991).
Asal usul nama minuman sanger sebelumnya sudah pernah penulis dengar dari beberapa orang yang menceritakan secara singkat. Akan tetapi, dikarenakan merasa kurang puas dengan pendapat tersebut, penulis mencoba mencari artikel tentang asal usul nama sanger dengan men-searching melalui Google. Alhasil, penulis berhasil menemukan sebuah artikel dengan judul Misteri Nama Senger di Warung Kopi Aceh yang dirilis oleh salah satu media online nasional bernama kompas.com pada 26 November 2013 lalu.

Di dalam artikel tersebut berisi mengenai asal usul nama minuman sanger, yang merupakan hasil wawancara antara wartawan kompas.com dengan Sarbini, pengusaha warung kopi Solong Mini di kawasang Lampineung, Banda Aceh. Berikut isi artikel singkat yang penulis kutip langsung dari situs kompas.com.

***
Minuman sanger mulai dikenal di warung kopi sejak tahun 1990. Berawal dari keinginan sejumlah mahasiswa yang berkantong tipis, tetapi ingin menikmati minuman bercita rasa tinggi.

“Dulu, mahasiswa kan uang jajannya tidak banyak, tapi terkadang mereka ingin menikmati kopi dengan racikan susu. Katanya buat menambah vitamin. Alhasil, mereka mulai berkompromi dengan pemilik warung, dan minta sama-sama mengerti bahwa mahasiswa tidak punya banyak uang, tapi sesekali ingin minum kopi pakai susu,” jelas Sarbaini.

Nah, ungkapan “sama-sama ngerti” yang disingkat menjadi “sanger” inilah yang kemudian dijadikan istilah oleh para mahasiswa yang nongkrong di warung kopi Jasa Ayah, Solong Ulee Kareng, untuk bisa menikmati kopi plus susu.

“Karena uangnya sedikit, makanya susunya juga tidak banyak, hanya seperdelapan ukuran gelas saja, lalu diberi kopi yang disaring. Nah, air kopi dari saringan yang ditarik tinggi oleh barista saring itulah yang menciptakan cita rasa khas dari sanger,” jelas pria yang dikenal sebelumnya juga menjadi barista saring di Warung Kopi Jasa Ayah Solong Ulee Kareeng, Banda Aceh.
***

Itulah penjelasan singkat dari asal usul nama minuman sanger yang kini begitu familiar di setiap warung kopi yang ada. Meskipun saat ini, minuman yang juga dikenal sebagai kopi susu ala Aceh ini terus berkembang racikannya, seperti sanger espresso yang menggunakan mesin kopi. Namun ciri khas sesungguhnya dari minuman ini tetaplah komposisi 3 banding 1, antara kopi dan susu yang dipadukan dengan gaya barista saringnya yang sangat khas.

Kejamnya Masa Kini

Saturday, September 16, 2017 0

Kejamnya Masa Kini 

Ilustrasi. @Doc. Tugas Sekolah Ku.
Karya: Mhd. Saifullah
Bukan suara angin
sedang berhembus.
Bergerak perlahan.
Seperti suara gesekan
atau dahan patah menua.

Namun.
Tiada ranting di sini.
Hanya besi gagah berdiri
mencakar para langit.
Dan seorang bocah
setengah terlelap malam mati.

Ini gambaran negeri
ekonomi meningkat tinggi?
Tetapi bocah kecil masih merana.
Melarat sekarat seadanya.

Tapi apalah daya.
Si kaya semakin
mementingkan hartanya.
Si miskin semakin
ditekan dengan berbagai cara.

Sesungguhnya semua harta
adalah hanya titipan semata.

Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Selamat Milad

Thursday, September 14, 2017 0

Selamat Milad 

Ilustrasi. @Doc. Textspace.net
Karya: Mhd. Saifullah
Aku baru mengenalmu,
dan engkau juga begitu.
Tapi bukan masalah kita,
dan bukan penghalang untuk berbagi kata.

Walau aku bukan sahabatmu.
Walaupun aku tak sedekat temanmu.
Tapi aku coba untuk ucapkan
hari ulang tahunmu.
Meski mereka telah terdahulu.

Aku tak bisa memberikan barang berharga.
atau memberikan bunga.
Sungguh-sungguh aku tak bisa.

Namun aku hanya bisa menitip doa,
kepada Sang Pencipta.
Serta beriring syair puisi tercipta.

Semoga ini lebih bermakna,
Walau tak berkesan,
bagimu dan tanggal miladmu.

Selamat Milad
Selamat Milad
Selamat Milad

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Jatuhnya Cinta

Tuesday, September 12, 2017 0

Jatuhnya Cinta

Ilustrasi. @Doc. Sustainable Hopes
Karya: Mhd. Saifullah
Biarkan aku sendiri di sini.
Meraung hayal pernah bertahta tinggi.
Menjadi raja dalam kebahagiaan cinta.
Menjadi raja dalam setiap senyuman
bersamanya.
Menjadi mengukir kata cinta
di tengah samudera.

Namun.
Kini cinta itu mati.
Ia meyakinkan takan ada cinta sejati.
Takan pernah ada cinta abadi.
Semua hanya angan-angan tinggi.

Saat asmara melanda
bagaikan bunga di musim bencana.
Namun berlahan musnah.
Mati seiring mentari meninggalkan pergi.

Kini aku meratap sunyi.
Terpaku rindu bayang-bayang sepi.
Lalu sirnah dibalik cahaya nirwana.

Takan pernah ada cinta sejati.
Bunga berguguran berlahan hilang
diterpa angin wuussss dan pergi.

Aku terluka di sini.
Cinta melumpuhkan jiwa ini.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
11 Maret 2012

Tinggal Apa?

Sunday, September 10, 2017 0

Tinggal Apa?

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Akan tiba satu masa.
Di mana mahkota
akan terlepas dari tahta
dan cahaya akan redup dengan sendirinya.
Tubuh akan terpasung
di bawah batu yang kaku.
Kisah hanya menjadi cerita
generasi selanjutnya.
Jasa hanya selepas ingatan
tetesan air para peziarah.
Sedangkan arwah
akan menanggung semua pertangungjawaban.
Tanggal (lepas) segalanya.
Tinggal Apa?

Gampong Pango, Banda Aceh
10 September 2017

Selamat Datang Sang Kombatan

Thursday, September 07, 2017 0

Selamat Datang Sang Kombatan

Buku Sang Kombatan Karya Musa AM alias Murdani Abdullah Musa. @Doc. Mhd. Saifullah
Buku Sang Kombatan sudah membuat saya penasaran sejak beliau (Bang Murdani alias Musa AM) menuliskan cerita ini di dunia maya (online). Selama di dunia maya, saya pernah membaca salah satu bagian (episode) kisah di buku ini saat itu, namun dikarenakan saya sedikit kurang suka membaca secara online sehingga saya tidak melanjutkan membacanya lagi (dengan harapan tulisan tersebut dapat dibukukan).

Tulisan berjudul Sang Kombatan sempat hilang dari pikiran saya. Akan tetapi beberapa bulan lalu saya mendapatkan kabar bahwa beliau akan menerbitkan Buku Sang Kombatan. Saya yang sudah penasaran sempat menanyakan kapan buku itu akan diterbitkan oleh beliau (di salah satu warkop di Pango).

Kabar penerbitan buku sempat hilang lagi dipikiranku. Tapi awal bulan Agustus, belalu beliau kembali meramaikan sebuah grup WhatsApp (WA) dengan memberi kabar bahwa buku sudah siap dicetak dan tinggal diedarkan. Mendengar kabar itu, saya langsung memesan sama beliau buku tersebut.

Singkat waktu, bukupun sudah tiba di Banda Aceh (mengetahui dari grup WA). Saya langsung menanyakan kepada beliau tentang buku dan memesannya satu buah. Saya menanyakan kapan beliau ada ke warkop saya akan datang untuk membwli buku tersebut.

Tiba waktunya kemarin beliau memberikan kabar bahwasanya ia sedang duduk di salah satu warkop di kawasan Simpang BPKP. Sebelum membeli dan mengambil buku, saya sempat berkeliling seputaran Jalan Ali Hasjmy (dari beberapa warkop hingga ke kantor beliau) mencari beliau karena tidak bisa dihubungi.
Beberapa menit kemudian beliau kembali memberikan kabar bahwa beliau sedang duduk di warkop. Tidak lama kemudian saya pun meluncur dan mengucapkan selamat atas karya beliau.

Akhirnya Buku Sang Kombatan pun berada di tangan saya. Tidak mau membuang kesempatan, saya meminta beliau untuk menandatangani buku yang belum saya baca ini.
Bang Murdani saat membubuhkan tanda tangan untuk ku di Buku Sang Kombatan. @Doc. Mhd. Saifullah
Memang Buku Sang Kombatan hanya baru beberapa halaman saja (baru satu bab) saya baca. Namun ada beberapa cerita dalam kalimat yang menurut saya begitu menarik. Di antaranya mengenai menu makanan dan minuman yang menjadi ciri khas dan pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi tersebut.

Mengenai makanan dan minuman, di dalam buku yang baru satu bab saya baca itu tertulis bahwa kopi seakan menjadi minuman favorit masyarakat Aceh di mana pun berada. Salah satu contohnya ketika Pakwa (tokoh Musa AM yang ada di dalam buku tersebut) sesaat setelah mendengarkan dan melihat diumumkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Presiden Megawati (Halaman 17).

Bukan hanya pada saat itu saja, beberapa kata dan kalimat kopi atau menawarkan minuman yang saat ini identik dengan Aceh tersebut juga terlihat di beberapa sub bab yang ada di bab pertama buku ini. Namun saya belum mengetahui bab-bab berikutnya, apakah masih ditemani kopi pada alunan ceritanya?

Selain kopi, ada kalimat dan suasana cerita yang membuat menarik perhatian saya saat membaca buku ini, yakni pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi ini. Di mana, saat Pakwa berada di Kompi D1 Pase, prajurit Tentara Naggroe (pasukan GAM) secara tidak sengaja HT mereka tersambung dengan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) (Halaman 31-32). Dialek percakapan dari keduanya itulah yang sangat saya suka dan membuat saya menarik.

Adapaun dialek percakapan keduanya sesuai di halaman 31-32 buku tersebut adalah sebagai berikut:

***
"Apa kabar kalian di sana, baik-baik saja?" Suara itu terdengar.

"Ya, Allah masih melindungi kami dari orang-orang seperti kalian. Apa kalian juga baik-baik saja?" tanyaku.
"Ya, baik. Namun lebih baik lagi jika di rumah berkumpul dengan anak istri," jawabnya lagi.

"Kalau begitu pulanglah. Kasihan istri dan anak kalian di rumah," balasku lagi.

"Tidak bisa pulang, Bos. Kami diperintahkan melenyapkan kalian. Namun kita sama-sama prajurit. Siap mati untuk keyakinan masing-masing. Betul toh?" jawabnya.
"Apa yang kalian cari sebenarnya? Aceh itu daerah modal NKRI. Tanpa Aceh tak ada NKRI," ujar TNI itu lagi.

"Sebagi daerah modal, apa pantas Aceh diperlakukan seperti ini? Kalian lihat rajyat kami miskin, sementara hasil alam dibawa ke Jakarta. Pusat telah beberapa kali mengkhianati Aceh, dari Soekarno hingga Megawati. Tak cukupkah alasan bagi kami melawan?" jawabku.

"Itu aku tidak tahu, Bos. Kami hanya menjalankan perintah. Doakan kami sehat-sehat saja selama di Aceh," ujarnya setelah sempat terdiam.

"Doa itu tak mungkin aku ucapkan. Karena kalau kalian sehat, maka kami yang mati," jawabku.

Suara di seberang sana terdengar tertawa. Tawa mereka terdengar banyak. "Ya, aku juga ragu dalam berdoa. Mungkin karena Tuhanku dan Tuhanmu sama. Entah berpihak ke mana dia dalam perang ini," ujarnya.
***

Saya suku dengan percakapan keduanya. Karena di situ terlihat dari masing-masing pihak memiliki keyakinan yang kuat dalam menempuh jalannya masing-masing meskipun Tuhan dan agama mereka sama.

Begitulah isi singkat dari satu bab yang baru saya baca pada Buku Sang Kombatan. Pastinya, buku ini juga akan banyak menceritakan dialek-dialek yang lebih menarik lagi pada bab selanjutnya.
Tanda tangan Musa AM alias Murdani Abdullah Musa di Buku Sang Kombatan yang aku punya. @Doc. Mhd. Saifullah
Sebagai catatan, Buku Sang Kombatan menjadi buku yang kesekian saya beli dengan gaji sendiri untuk dijadikan koleksi di perpustakaan ribadi saya (sejak April sudah rutin menyisihkan uang untuk membeli buku).

SELAMAT DATANG KE PUSTAKA PRIBADI KU SANG KOMBATAN

Tersenyumlah

Wednesday, September 06, 2017 0

Tersenyumlah 

Ilustrasi membuat senyuman. @Doc. Nationalgeographic.co.id
Karya: Mhd. Saifullah
Mencintai dan dicintai adalah
bingkisan anugerah.
Menjalaninya adalah hal terindah.
Suka duka menjadi bumbunya.
Walau kadang perasaan harus tersiksa.

Perjalanan tentang cinta
selalu banyak godaan dan rintangan.
Anggap semua sebagai cobaan.
Untuk modal di masa depan
menghadapi kedewasaan.

Jangan terlalu lama
larut dalam kesedihan.
Jangan terlalu tenggelam
dalam kesepihan.
Ambil makna dari setiap perjalanan.

Tersenyumlah,
walau hati sedang terluka.
Tersenyumlah,
untuk satu makna.
Tersenyumlah,
untuk satu cinta.

Tersenyumlah.
Buat yang lain merasa bahagia.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
2012

Selalu Ada Untukmu

Monday, September 04, 2017 0

Selalu Ada Untukmu 

Ilustrasi. @Doc. Panti Rehabilitasi Betesda
Karya: Mhd. Saifullah
Bila malammu kini
gelap tanpa bulan.
Aku coba menemanimu
disela malammu.

Bila cahaya bintangpun
tak membuatmu bahagia.
Akan aku coba menghiburmu,
hingga tersirat senyuman
indah tampak dari bibirmu.

Dan bila engkau merasa
malammu sepi sendiri.
Aku mencoba untuk hadir
di dekatmu.
Meski menyelinap lewat mimpi.

Aku hanya mencoba selalu ada,
semampu dan sebisaku.
Hingga bila mana engkau bosan,
engkau dapat berlalu
ataupun mencari yang baru.

Tetapi izinkan perhatianku
tetap menjagamu.
Biarkan perasaan ini
tepat di siluet cintamu.

Aku rela,
walau aku harus terluka.
Aku rela,
asal engkau bisa
tersenyum bahagia.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Syair Dan Karya

Friday, September 01, 2017 0

Syair Dan Karya

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Tidak akan habis sebuah pikiran,
hanya untuk merangkai kata-kata indah.
Tidak akan lelah jari-jariku
untuk menarikan sebuah pena
Di atas kertas tak berwarna.

Menciptakan inspirasi bernilai tinggi.
Berseni dan bernuansa hati.
Hanya untuk satu kata.
Berkarya penuh makna.

Berkarya tentang cinta.
Berkarya tentang kehidupan manusia.
Berkarya tentang dunia.
Hingga berkarya tentang sang Pencipta.

Seperti roda berputar.
Mencari-cari tiada henti.
Berjalan menelusur sanubari.
Lautan hati tiada bertepi.

Syair bagaikan nafas,
memberikan kehidupan.
Syair bagaikan lentera,
menerangi hati yang gunda.

Berkaryalah untuk semua.
Berkarya dengan sesukanya.
Berkaryalah selagi engkau bisa.
Berkaryalah dengan sayir berirama.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
2012

Dentingan Serumpun Lonceng

Thursday, August 31, 2017 0

Dentingan Serumpun Lonceng

Ilustrasi Dentingan Serumpun Lonceng. Doc. pxhere.com
Karya: Mhd. Saifullah
Dengarkan ini.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Jangan.
Jangan.
Jangan.

Coba kau baca.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Coba kau rasa.
Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Coba kau karsa.

Jangan.
Jangan.
Jangan.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Dengarkan ini.

Emperum, Banda Aceh
31 Agustus 2017

Jangan Menyerah

Tuesday, August 29, 2017 0

Jangan Menyerah

Ilustrasi. @Doc. Santapanrohani.org
Karya: Mhd. Saifullah
Di antara satu tanya,
terdapat sebuah jawaban.
Memberikan sebuah makna,
berartikan segalanya.
Ratapan,
impian,
harapan,
serta angan.

Jawaban itu jauh.
Jauh di sana.
Di tengah lautan.
Tidak akan terlihat
dari pinggiran.

Jangan menyerah
untuk sebuah impian.
Tancapkan serta dirikan,
tiang-tiang perjuangan kokohkan.

Jangan pernah berhenti bermimpi.
Sebelum mimpi itu mati.

Jangan menyerah.
Jangan menyerah.
Jangan menyerah.

Selagi engkau bisa menggapainya.
Keep your dream,
and keep your spirit.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
September 2012

Ku Jual Suaraku Untuk Masa Depanku

Saturday, August 26, 2017 0

Ku Jual Suaraku Untuk Masa Depanku 

Aku saat mengisi salah satu acara di Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Berjalan sendiri di bawah malam
terangnya si Kutaradja
Berjalan menepi membelah jalan
persimpangan si hiu dan buaya.

Bersandang gitar tersayang.
Menembus segarnya debu
berterbangan menghampar.

Tegak di toko tuan.
Biarkan aku memetik gitar
dan bersyair akan nyanyian.
Dengan lirik teralunkan.
Menghibur lalu-lalang pengunjung datang.

Mereka bertanya siapa diriku.

Aku adalah pelajar tertinggi.
Aku di sini berdiri,
bernyanyi untuk perguruan yang tinggi.

Menentukan nasib aku begini.
Dari pada meminta secupak nasi.
Lebih baik aku bernyanyi
dan menghibur para penikmati.

Inilah aku.
Bernyanyi tanpa ragu.
Meski wajah-wajah menatap jemu.
Ku tampar demi masa depanku.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Surat Cinta Kepada Ummul Mukminin

Friday, August 25, 2017 0

Surat Cinta Kepada Ummul Mukminin

Ilustrasi Ummul Mukminin. @Doc. Istimewa
Karya: Mhd. Saifullah
Namamu sudah tak asing lagi.
Di telinga umat Islam dahulu,
sampai saat ini.

Siapa tak kenal ummul mukminin.
Dua orang istri yang sangat setia.
Khadijah dan Aisyah,
itulah namanya.

Demi cinta kepada sang Pencipta
serta RasulNya mereka rela berkorban.
Untuk menegakkan agama Allah.
Dan merelakan segalanya.
Mulai dari harta hingga jiwa,
meski kadang harus tersiksa.

Kesetiaan dan cinta kepada Rasulku,
membuat aku mengagumimu.
Hingga aku jatuh hati kepada dirimu.
Wahai ummul mukminin Rasulku.

Goresan tinta kecil syair puisiku,
ku coba menuliskan tentang cinta
dan pengorbananmu kepada Rasulku.
Karena kagumku kepadamu wahai ummul mukminin.

Tiada istri paling sholeha
lagi bijaksana selain keduanya.
Tak salah Allah menjanjikan syurga
bila pengorbananmu tiada dua.

Wahai muslimat semua.
Tirulah sifat ummul mukminin yang telah ada.
Hidupkan keluargamu dengan cinta Allah.
Niscaya syurga menantimu di sana.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
26 Desember 2012

Harta

Thursday, August 24, 2017 0

Harta

Ilustrasi dari harta. @Doc. Republika.com
Karya: Mhd. Saifullah
Susah raja begitu gelisah.
Semua ada,
Namun sayang.
Kebahagiaan tak punya.
Hidup mewah seakan tak bermakna.

Susah.
Sungguh memang susah.
Bila hidup
hanya terpikirkan harta.
Susah mati
takut tersiksa.
Susah berbagi
dapat neraka.

Apa susahnya hidup berbagi.
Bila tak ada lebih,
nasi sepiringpun jadi.
Buat bekal di akhirat nanti
sebelum mati.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
5 Juli 2012