Presiden Baru

Wednesday, November 22, 2017 0

Presiden Baru 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau terpilih menjadi pemimpin bangsa.
Dipercaya memegang amanah.
Jangan kau coba menghianati
ataupun berlari.
Dari janji,
yang kau obral selama ini.

Wahai presiden baru ku.
Lihat rakyatmu.
Di ujung sana,
masih menderita.
Di ujung sini,
masih menanti.

Wahai presiden baru ku.
Dekaplah rakyatmu.

Satukan kami.
Jangan kau hancurkan demi kepentingan.
Persatukan kami.
Jangan kau tindas demi keamanan.

Jagalah kami wahai presiden baru ku.
Jangan dustai janjimu.
Pedulikan kami wahai presiden baru ku.
Jangan sekali kali kau acuhkan rakyatmu.

Wahai presiden baru ku.
Dengarkan seruan suara rakyatmu.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949

Sunday, November 19, 2017 0
Resume Buku

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh,
1945-1949 (Bagian 1)

Buku Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul: 
Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949
Penulis: 
Sudirman
Penerbit: 
BPSNT Banda Aceh
Tahun terbit: 
2012 (Cetakan Pertama)
Tebal/jumlah halaman: 
153 Halaman

Resensi Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949:

1. Pendahuluan
Agresi Militer I dan II, yang dilakukan Belanda, menyebabkan hampir seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali daerah Aceh, dapat dikuasai oleh neraga yang berjulukan kincir angin tersebut. Daerah itu kemudian menjadi modal dasar yang kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan. Salah satu yang dimiliki dan digunakan masyarakat Aceh sebagai modal perjuangan adalah media massa.

Media massa merupakan alat komunikasi yang begitu  berpengaruh dalam membentuk opini masyarakat, baik pada masa-masa damai maupun masa tidak damai. Melalui media massa, pesan atau ide dengan mudah dapat disampaikan kepada khalayak ramai hingga ke daerah yang tidak mungkin dijangkau. Media massa mencangkup seluruh alat komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, maupun hasil-hasil penerbitan yang memenuhi syarat untuk disebarluaskan, terbit secara periodik, bersifat umum, dan aktual.

Media massa merupakan kekuatan sosial politik yang ampuh dan mempunyai hubungan rangkap dalam rangka membangkitkan pendapat umum atau opini publik di masyarakat. Media massa bukan saja memantulkan atau merefleksikan pendapat-pendapat umum yang telah ada dalam masyarakat, tetapi juga menimbulkan, menciptakan, menempa, dan memupuk sendiri atau opini tertentu melalui pemberitaan-pemberitaan. Oleh karena itu, pada rentang waktu 1945-1949, media massa memiliki peranan yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan.

2. Perkembangan Media Massa Di Aceh
2.1 Radio
2.1.1 Zaman Hindia Belanda 
Siaran radio pertama di Indonesia dimulai dengan berdirinya Bataviasche Radio Vereniging, pada 16 Juni 1925. Kemudian, muncul beberapa siaran lainnya, seperti Nederlandsche Indische Omroep Mij yang merupakan radio siaran terbesar dan terlengkap, karena mendapat bantuan penuh dari Pemerintah Hindia Belanda, terdapat di Jakarta, Bandung, dan Medan. Beberapa badan siaran radio hadir di Surakarta bernama Solosche Radio Vereniging dan Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep; di Yogyakarta Mataramsche Vereniging Voor Radio Omroep; di Bandung Vereniging Voor Oosterse Radio Luisteraars; di Surabaya Chineese en Inheemsche Radio Luistraas; di Madiun Erste Madiunse Radio Omroep; di Medan Meyer Omroep Voor Allen; serta Radio Semarang.

Seluruh radio yang ada pada masa itu, sangat menguntungkan Pemerintah Hindia Belanda, karena program-programnya berorientasi bagi kepentingan pemerintah, baik menyangkut politik maupun sosial budaya. Media komunikasi radio digunakan untuk memperoleh informasi mengenai situasi daerah jajahan, sehingga dengan itu dapat memantapkan kekuasaan mereka di Indonesia.

Mengantisipasi pesatnya perkembangan radio siaran milik Belanda, pada 29 Maret 1937, para pejuang dari anggota volksraad melakukan pertemuan untuk melahirkan radio tandingan milik Pemerintah Hindia Belanda. Pertemuan itu dipelopori oleh, di antaranya M Sutarjo Kartohadikusumo dan Sarlito Mangunkusumo, yang kemudian melahirkan sebuah badan bernama Perserikatan Perkumpulan Radio Ketimuran.

Perkumpulan itu bertujuan semata-mata untuk memajukan kesenian dan kebudayaan daerah yang telah terancam akibat perkembangan radio siaran Pemerintah Kolonial Belanda. Selain itu, tujuan lainnya untuk memajukan masyarkat Indonesia, baik rohani maupun jasmani. Radio perkumpula yang berdiri tanpa bantuan dari pemerintah tersebut baru dapat dijalankan pada  1 November 1940.

2.1.2 Zaman Pendudukan Jepang
Berkat bantuan radio sebagai alat propaganda, pada 8 Maret 1942, Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Radio siaran yang saat itu berstatus swasta diambil alih dan dikuasai seluruhnya, sedangkan radio-radio rakyat disegel. Siaran radio ditangani pusat siaran radio di Jakarta oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyuku. Cabang-cabang daerah seperti di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang, dinamakan Hoso Kyuku.

Semua siaran radio tersebut diarahakan untuk kepentingan Pemerintahan Jepang, selain dari siaran itu tidak boleh didengarkan, termasuk siaran dari luar negeri yang dikhawatirkan dapat melunturkan kepercayaan terhadap pemerintah. Oleh karena itu, berita-berita yang disiarkan hanya untuk membangkitkan semangat rakyat dalam membantu tentara Jepang melawan Sekutu di seluruh Asia. Jepang selalu bersemboyan Asia Timur Raya, yang dalam artian bahwa Asia adalah untuk bangsa Asia. 

2.2 Media Cetak
2.2.1 Zaman Hindia Belanda 
Perkembangan persuratkabaran di Aceh baru masuk sekitar akhir abad ke-19, pada masa Pemerintahan Belanda. Surat-surat kabar yang diterbitkan pada masa itu ada yang menggunakan bahasa pengantar dalam Bahasa Belanda, Melayu, Cina, dan ada pula yang mempergunakan bahasa daerah. 

Pers berbahasa Melayu mulai muncul tahun 1902 M, di Medan dengan nama Pertja Timoer, yang dicetak dipercetakan milik orang Belanda bernama J Hellerman. Terbit setiap Senin dan Kamis dengan Pimpinan Redaksi, Mangaradja Salembuwe.

Di Aceh, surat kabar diterbitkan ada yang berbahasa Belanda dan adapula berbahasa Melayu. Surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Aceh, yakni Pemberita Atjeh di Kutaraja. Surat kabar yang berada di bawah Pimpinan Dja Endar Moeda, digolongkan sebagai surat kabar yang progresif di Aceh. 

Pada tahun 1907 M, di Kutaraja berdiri sebuah surat kabar bernama Sinar Atjeh yang terbit setiap Senin dan Kamis. Surat kabar ini diterbitkan oleh perusahaan Sinar Atjeh Companie yang berkantor di Peunayong No 59, Kutaraja. Percetakan yang digunakan untuk mencetak, yakni dari Deli Courant di Kutaraja, Atjeh Drukkerij en Boekhandel fillial. Limboen Hwat, sebagai pimpinan redaksi, sedangkan Lim Boen San, sebagai pimpinan Bidang Administrasi dan Tata Usaha. Sinar Atjeh terbit tiga sampai empat halaman, dengan lebih banyak memuat iklan dari pengusaha dan mengenai ulasan politik, para penulis banyak menggunakan nama samaran, seperti “Aron Toetjoh”. Harga langganan surat kabar sebesar f.1.50 untuk pertiga bulan, f.3.00 perenambulan, dan untuk Kutaraja harga perbulan f.0.50. Selain itu, surat kabar ini banyak pula dikirim hingga ke Nederland.

Surat kabar berbahasa Melayu lainnya, didirikan tahun 1928 di Aceh, bernama Soera Atjeh di bawah asuhan TM Usman diterbitkan di Kota Sigli. Pada tahun 1932, surat kabar yang diterbitkan dua minggu sekali itu, pindah ke Kutaraja dan sejak tahun 1933, diterbitkan oleh organisasi Nadil Islahil Islamy (Organisasi Perbaikan Islam) yang juga diketuai TM Usman. Selain TM Usman, redaktur surat kabar ditambah lagi dengan Mohd Hasbi.

Perkembangan pers setelah berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional menduduki tempat yang lebih penting dari pers Eropa. Pers digunakan sebagai alat komunikasi dengan para anggota dan juga untuk menyerang kebijakan politik penjajah Belanda.

Di Aceh, selain surat kabar Soera Atjeh, pada masa-masa pergerakan juga dikenal dua surat kabar milik Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Oetoesan Rakjat dan Batterij. Selain itu, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), juga menerbitkan majalah bulanan bernama Penjoeloeh, yang dicetak di Medan, dengan Teungku Ismail Yakoeb sebagai pimpinan redaksi. Majalah Penjoeloeh bertahan hingga masuknya Jepang di Aceh, tahun 1942.

2.2.2 Zaman Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang di Aceh, pemerintah hanya menerbitkan surat kabar yang ada di bawah pengawasan Sinbun Bun bagian dari badan bernama Hodoka, yaitu Atjeh Sinbun. Surat kabar itu dicetak dipercetakan Atjeh Drukkerij, peninggalan milik kolonial Belanda di Aceh. Atjeh Sinbun dipimpin oleh Abdul Wahid R, sebagai direktur atau pimpinan umum, sedangkan para jurnalisnya, yakni Ismail Yakoeb, Ali Hasjmy, Amelz, Abdullah Arif, dan Talsya, yang kemudian dikenal sebagi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan di Aceh.

Melalui Atjeh Sinbun, para pejuang di Aceh berusaha memasukkan ide-ide perjuangan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sehingga ada terjadi pertentangan-pertentangan dalam penerbitan surat kabar antara pihak Pemerintah Jepang dengan para pemimpin rakyat di surat kabar Atjeh Sinbun. Pemerintah Jepang menyadari bahwa para redaktur surat kabar dari kalangan masyarakat selalu berusaha menggunakan Atjeh Sinbun sebagai alat perjuangan. Oleh karena itu, untuk mengawasinya, pemerintah menempatkan seorang petugas Jepang dalam proses penerbitan surat kabar. Jika sedikit saja ada unsur-unsur yang dianggap merusak kewibawaan pemerintahan pada penerbitan surat kabar, maka para redaktur akan diberikan sanksi. Dalam banyak kasus, tindakan yang diberikan oleh pemerintah kepada redaktur berupa pemindahan dari staf-staf redaksi Atjeh Sinbun ke tempat lain, bahkan bisa meringkuk dalam tahanan Kempetai Jepang.

Pada tahun 1943, Ismail Yakoeb diberikan penindakan atas tulisannya di Atjeh Sinbun yang dianggap oleh Pemerintah Jepang sebgai suatu usaha merong-rong kewibawaan pemerintah dengan sengaja. Dianggap membahayakan, Ismail Yakoeb dikeluarkan dari pemimpin redaksi Atjeh Sinbun. Penindakan di kalangan para redaktur kembali dilakukan Jepang dengan mengeluarkan Amelz dari redaksi Atjeh Sinbun. Berikutnya disusul lagi oleh Ibunu Rasyid dan AG Mutyara.

Surat kabar Atjeh Sinbun terakhir kali terbit pada 15 Agustus 1945. Akan tetapi, terbitan itu kemudian dibatalkan karena pejabat Pemerintahan Jepang memberitahu Ali Hasjmy bahwa Jepang telah kalah dalam peperangan melawan tentara Sekutu. Dengan demikian, berakhirlah riwayat surat kabar Atjeh Sinbun di Aceh.
Bersambung ke . . . (Bagian 2)

Semangat Permata Biru

Thursday, November 16, 2017 0

Semangat Permata Biru

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Di kala ku tadah langit
dalam hamparan lautan biru.
Ombak mengulum pasir, 
angin bertiup bersahutan.
Ku pandang seonggok biru menyilau.
Seperti permata berharga mulia.
Seakan tertarik untuk kutuju.

Ku berdiri melangkah maju. 
Keyakinan membelah lautan 
dan ombak yang coba menghantam. 
Ku kuatkan kuda-kuda. 
Walau harus terjatuh dan menjauh dari nyata.
Tapi aku takan menyerah. 
Walau nyawa taruhannya.
Berakit-rakit ke hulu, 
berenang-renang ke tepian. 
Bersakit-sakit dahulu, 
bersenang-senang kemudian.

Aku yakin bisa. 
Aku yakin mampu. 
Pulau biru gampang bagiku. 
Karang-karang hancurkan seperti abu,
bila mencoba menghalangiku. 

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Banda Aceh

Sunday, November 12, 2017 0

Banda Aceh

Acara Karnaval Di Kota Banda Aech. @Doc. Mhd. Saifullh. 
Karya: Mhd. Saifullah
Menikmati suasana yang asri.
Damai bagaikan pasir yang putih.
Di ujung Sumatera kota tercinta,
Banda Aceh namanya.

Banda Aceh
Kota tercinta.
Banda Aceh
Kota penuh sejarah.
Banda Aceh
Kota para raja.
Banda Aceh
Kota kaya budaya.

Ooohhh.
I love Banda Aceh.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Si Hitam Yang Nikmat

Friday, November 10, 2017 0

Si Hitam Yang Nikmat

Kopi Memacu Pikiranmu Untuk Menulis. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Hitam manis,
itu julukannya.
Menjadi primadona para kaum
muda, tua, hingga menjelang senja.
Teman betah pemberi inspirasi.

Hari-hari hampa tanpa
secangkir tentang dia.
Si hitam menggoda
menemani kita.
Kapanpun selalu terasa.
Tiap waktu tak hilang darinya.

Hitam-hitam.
Kau membuatku seakan gila.
Candumu membuatku tergoda.

Dunia bertanya-tanya.
Apa yang anda pikirkan?
Menikmati kopi bersama
orang-orang tersayang.
Apa yang terjadi?
Seduhan kopi nikmat sekali.
Apa yang anda lakukan?
Menikmati secangkir kopi
penuh inspirasi.

Si hitam sungguh menggoda.
Tak salah banyak yang suka.
Meski hitam, namun istimewa.
Uuhhh
Sungguh nyaman bersamanya

Warkop Tahufik
Gampong Mulia, Banda Aceh
1 Desember 2014

Suasana Tempo Dahoeloe

Wednesday, November 08, 2017 0

Suasana Tempo Dahoeloe 

Permainan Tradisional Indonesia, Layang-Layang. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suara para bocah.
Memecahkan bisu.
Larut dalam permainan,
tempo dulu.

Wohoo. Wohoo
Kini hilang.
Wohoo. Wohoo
Kini hilang.

Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suasana masa kecilku.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
Desember 2013

Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama (Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)

Monday, November 06, 2017 0
Abdoel Moeis

Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama 

(Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)
Para pejuang Indoensia. @Doc. Istimewa. 
Sejak 1959 dan diikuti penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hampir setiap tahunnya, Indonesia mengukuh dan menetapkan beberapa nama pejuang dengan gelar pahlawan nasional. Gelar tersebut diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki peran maupun kontribusi penting, dalam proses dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Hingga saat ini, ada lebih dari 165 nama tokoh yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Data itu berdasarkan situs Pahlawan Center (pahlawancenter.com), yang dimiliki Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). 

Begitu banyak sudah gelar pahlawan nasional dikukuhkan oleh pemerintah, namun apakah para pembaca tahu, siapa tokoh pertama yang diberi gelar tersebut?

Abdoel Moeis (Abdul Muis), dialah seorang wartawan, sastrawan, sekaligus pejuang yang pertama kali diberikan gelar pahlawan nasional oleh Bangsa Indonesia. Tokoh kelahiran Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli tahun 1893, itu, ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 218 Tahun 1959 oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Liputan6.com, (Online, diakses, 6 November 2017).
Lukisan Wajah Abdoel Moei. @Doc. Goedang Biografi. 
Semasa hidup, Abdoel Moeis telah menghasilkan beberapa karya sastra dan artikel yang terkenal pada saat itu. Novel “Salah Asuhan” terbitan tahun 1928, merupakan salah satu novelnya yang paling dikenal. Bahkan novel tersebut telah difilmkan pada tahun 1972 oleh Asrul Sani serta telah diterjemahkan Robin Susanto ke dalam Bahasa Inggris berjudul “Never the Twain” dan menjadi referensi sastra hingga saat ini. Selain novel, artikel kritikan terhadap Pemerintah Hindia Belanda, juga pernah dituliskan oleh lulusan Sekolah Eropa Rendah atau Eur Lagere School (ELS) ini. Pada surat kabar berbahasa Belanda, De Express (yang kemudian ditutup oleh pemerintah tahun 1912), Abdoel Moeis membahas tentang pengecaman tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina orang Indonesia (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Sejak remaja, Abdoel Moeis telah merantau ke Pulau Jawa. Pendidikan yang dienyamnya hanya sebatas ijzah hasil ujian ambtenar kecil (Klein Ambtenaars Examen). Meskipun demikian, dia juga pernah merasakan jenjang Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), selama selama beberapa tahun (1900-1902) dan memilih berhenti dikarenakan sakit.

Artikel Terkait: Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Di dunia politik, Abdoel Moeis pernah aktif di organisasi Syarikat Islam (SI) sejak 1913 dan pernah terlibat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) yang pertama, 1920-1923. Kepiawaiannya dalam menulis, membuat tokoh berdarah minang ini dipercaya memimpin salah satu surat kabar milik SI di Bandung, Kaum Muda, bersama dengan AH Wignyadisastra. Sejak saat itu, dia mulai merambah ke beberapa media lainnya, seperti Oetoesan Hindia, Hindia Sarekat, Neratja, serta beberapa media lainnya pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya begitu komitmen menyuarakan perubahan nasib warga pribumi, sehingga dianggap radikal dan menjadi pemicu untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. 

Pergerakan yang dilakukan Abdoel Moeis semakin menjadi-jadi, khususnya saat mulai berkenalan dengan beberapa tokoh penting pergerakan seperti, Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soeryaningrat. Keempat tokoh ini kemudian membentuk Komite Bumi Putra, sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda. Selanjutnya, komite ini menolak dengan tegas dan menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari Spanyol, yang dirayakan di tanah jajahan (Indonesia/Hindia Belanda).

Peran Abdoel Moeis pada dunia pendidikan dibuktikan dengan berdirinya Technische Hooge School di Bandung atau yang saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Usaha tersebut dilakukannya setelah mempengaruhi para tokoh Belanda, saat dirinya diutus ke Belanda oleh Komite Indie Weerbaar dalam membahas pertahanan bagi Hindia Belanda (Indonesia), ketika tahun 1917 atau saat perang dunia pertama (Sejarahri.com, (Online), diakses, 5 November 2017).

Perlawanan terhadap pemerintah bukan hanya dilakukan Abdoel Moeis melalui tulisan-tulisan politiknya saja, tetapi juga dengan pergerakan langsung. Salah satunya, ketika Abdoel Moeis menjabat Ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB), ia memimpin aksi kaum buruh untuk mogok kerja pada, 11 Januari 1922, di Yogyakarta. Aksi yang dilakukan tersebut dalam tempo dua minggu sudah menyebar ke luar Yogyakarta, seperti Karesidenan Cirebon, Pekalongan, Kedu, Kediri, Semarang, Rembang, serta Surabaya, dengan lebih kurang 1.000 orang buruh pada saat itu (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Aksi pergerakan yang dilakukan, dianggapnya sebagai suatu bentuk perjuangan nasional. Akibat tindakannya tersebut, dia kemudian ditangkap oleh pemerintah kolonial, pada 8 Februari 1922, dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Selama dipengasingan, Abdoel Moeis berhasil mendirikan dua media, yakni harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut, akan tetapi usia kedua surat kabar tersebut tidak lama. Abdoel Moeis kemudian memilih untuk menjadi seorang petani di pengasingannya, setelah dia tidak berjumpa lagi dengan beberapa rekan seperjuangannya.

Paska proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, Belanda mencoba kembali ingin menguasai negeri yang pernah dijajahnya. Gencarnya agresi militer yang dilakukan, memutuskan Abdoel Moeis kembali terlibat melakukan perlawanan dengan membentuk suatu persatuan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan di pengasingannya, yaitu Persatuan Perjuangan Priangan. Laskar itu dipimpinnya hingga Republik Indonesia meraih kemerdekaan sepenuhnya. Sebelum lima belas tahun usia kemerdekaan Indonesia, Abdoel Moeis lebih dahulu menutup usia, pada, 17 Juni 1959, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. 

Adapun beberapa karya sastra yang ditulis oleh Abdoel Moeis selain novel Salah Asuhan, yakni Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953). Selain itu, beberapa karyanya yang lain dan telah diterjemahkan, di antaranya Don Kisot karya Cerpantes (1923), Tom Sawyer Anak Amerika karya Mark Twain (1928), Sebatang Kara karya Hector Melot (1932), dan Tanah Airku karya C. Swaan Koopman (1950) (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Perjuangan yang telah dilakukan Abdoel Moeis dalam membela kepentingan rakyat kecil, menjadi alasan tersendiri bagi Pemerintah Indonesia untuk mengukuhkan gelar pahlawan kepada tokoh berdarah minangkabau ini. Gelar tersebut diberikan pada 30 Agustus 1959, oleh Presiden Soekarno, melalui Kepres No 218 Tahun 1959, berselang dua bulan pejuang rakyat kecil tersebut meninggal.

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia hampir setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada beberapa tokoh pejuang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk bangsa dan negara ini.


Sumber:
Merdeka. Tidak Ada Tahun. Profil: Abdoel Moeis. (Online). (diakses, 5 November 2017).
Pahlawan Center. Tidak Ada Tahun. Pahlawan Nasional. (Online). (diakses, 6 November 2017).
Sejarah RI. Tidak Ada Tahun. Biografi Abdul Muis. (Online). (diakses, 5 November 2017).

Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Sunday, November 05, 2017 0

Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Ilustrasi Taman Makam Pahlwan. @Doc. Sriwijaya Post. 
Indonesia merupakan sebuah negara, yang kemerdekaannya diraih dari kaum penjajah melalui sebuah perjuangan. Usaha itu bahkan telah dilakukan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dikumandangkan. Dalam arti kata, perjuangan masih berbentuk kedaerahan dari beberapa kerajaan yang ada di Nusantara.

Perlawanan-perlawanan menentang bangsa penjajah yang ditimbulkan, melahirkan beberapa nama pejuang, seperti Iskandar Muda, Soekarno, Mohd Hatta, Sudirman, Tjut Nyak Dhien, Kartini, dan beberapa pejuang lainnya. Para pejuang itulah, yang saat ini dikenal dengan gelar pahlawan nasional.

Beranjak dari penjelasan singkat di atas, timbul beberapa pertanyaan terkait pahlawan nasional. Bagaimana yang dimaksud dengan pahlawan nasional? Apakah ada syarat untuk mendapatkan gelar tersebut? Lalu, apakah penghargaan tersebut hanya diberikan kepada tokoh-tokoh besar? Sebagaimana yang diketahui, setiap 10 November, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada hari itu juga, biasanya presiden akan mengangkat dan mengumumkan beberapa nama tokoh sebagai pahlawan nasional.

Menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mencari beberapa artikel yang berkaitan mengenai pahlawan nasional. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan untuk para pembaca, khususnya bagi saya.

Latar Belakang Gelar Pahlawan Nasional
Berbicara mengenai penyamatan gelar pahlawan nasional, tidak terlepas dari sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 10 November oleh Bangsa Indonesia. Tanggal tersebut memiliki makna tersendiri bagi negeri yang terbentang dari Sabang sampai Marauke ini, dalam mengenang jasa orang-orang yang telah berjuang memerdekakan Indonesia dari penjajah.

Sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, pernah diulas oleh beberapa media online nasional, dalam bentuk berita. Pada artikel-artikel singkat itu menceritakan, apa latar belakang 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional, yang kini menjadi salah satu hari besar di negeri ini.

Pada artikel berjudul “Kenapa Hari Pahlawan Ditetapkan 10 November?”, menuliskan cerita penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan itu pertama kali dilakukan sekitar tahun 1950-an, semasa Seokarno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Alasan penggunaan tanggal tersebut, untuk mengenang sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi di Surabaya. Di mana pertempuran besar antara pejuang Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan melawan serdadu Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), membawa Belanda, yang ingin kembali menjajah negeri ini. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya salah satu hari besar nasional dan diperingati oleh bangsa ini. Adapun pengusul ide tersebut, merupakan seorang mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang pada masa itu ikut andil berperang, yakni Sumarsono (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

Selain untuk memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi, penetapan tersebut dikatakan memiliki unsur kesengajaan yang dilakukan Presiden Soekarno. Hal itu diungkapkan oleh seorang sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal. Menurutnya, Seokarno sengaja memanfaatkan momentum 10 November untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

Sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, diperkuat lagi dengan sebuah artikel berita yang mengusung judul “Siapakah Tokoh Pertama yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional?”. Pada artikel ini dituliskan, tokoh yang pertama kali dikukuhkan oleh Presiden Sukarno menyandang gelar pahlawan nasional adalah seorang wartawan, sastrawan, dan nasionalis yang lantang mengkritisi Pemerintahan Belanda lewat tulisan-tulisannya, yakni Abdul Muis. Tokoh kelahiran 3 Juli 1883 yang berasal dari Sumatera Barat ini, ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 30 Agustus 1959, melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 218 Tahun 1959 (Republika.co.id, (Online), diakses 2 November 2017).

Menetapkan Gelar Pahlawan Nasional
Orang-orang yang telah berjuang mengorbankan nyawa, pikiran, harta, dan keluarga, untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan negeri ini. Secara umum, mereka dapat disebut sebagai pahlawan. Upaya yang dilakukan, merupakan bukti dan wujud nyata kecintaan mereka terhadap ibu pertiwi. Akan tetapi, secara spesifik, para pejuang tersebut belum dapat disematkan gelar pahlawan nasional. Hal ini dikarenakan, ada beberapa regulasi yang menjadi syarat, untuk mengukuhkan seorang pejuang layak disebut sebagai pahlawan nasional.

Artikel Terkait: Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama

Secara garis besar, kata pahlawan nasional dapat diartikan sebagai seseorang yang rela berkorban dan berjasa besar terhadap perubahan (kebenaran) pada sebuah negara atau bangsa. Namun, secara definisi, pahlawan nasional memiliki arti tersendiri sesuai dengan makna katanya masing-masing.

Pahlawan nasional berasal dari dua kata, yakni “Pahlawan” dan “Nasional”. Secara definisi, arti kata pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran atau bisa dikatakan sebagai pejuang yang gagah berani. Kata nasional didefinisikan sebagai sifat kebangsaan, berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri, atau meliputi suatu bangsa. (KBBI (Online), diakses, 2 November 2017).

Definisi kata pahlawan telah diatur pemerintah melalui regulasi yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP RI) No 33 Tahun 1964, Tentang Penetapan, Penghargaan dan Pembinaan Terhadap Pahlawan. Pada regulasi tersebut, yang dimaksud dengan pahlwan adalah Warga Negara Republik Indonesia yang gugur atau tewas atau meninggal dunia karena akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa; dan Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya (PP RI No 33 Tahun 1964).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan, yang dimaksud sebagai pahlawan nasional adalah, seorang warga negara yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk bertindak membela kebenaran bagi negara dan bangsanya, serta tidak ternodai oleh tindakan yang membuat cacat nilai perjuangan atau kepahlawanannya.

Regulasi mengenai penetapan seseorang dengan gelar pahlawan nasional, tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009, yang membahas tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan. Pada aturan tersebut dijelaskan, presiden akan memberikan penghargaan berupa gelar pahlawan nasional kepada seseorang yang telah meninggal dunia atau gugur atas perjuangan, darmabakti, karya yang luar biasa, dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Penghargaan gelar itu dibuktikan dengan sebuah plakat dan piagam yang diberikan.

Pengajuan seseorang untuk mendapat gelar pahlawan nasional, telah diatur dalam PP No 35 Tahun 2010 tersebut. Usulan permohonan yang dimaksud, dapat dilakukan baik secara individu, kelompok masyarakat atau organisasi, institusi pemerintahan daerah maupun negara, serta kementerian ataupun lembaga nonkementerian.

Adapun syarat pengajuan yang harus dilengkapi, sesuai yang tertuang dalam Pasal 51 PP No 35 tahun 2010, yakni riwayat hidup diri berupa keterangan tentang kesatuan, organisasi, atau institusi pemerintahan, riwayat perjuangan, jasa dan tugas negara yang dilakukan calon penerima gelar pahlawan nasional. Selain itu, harus disertai dengan surat rekomendasi dari menteri pimpinan institusi pemerintahan, pimpinan institusi nonkementerian terkait, gubernur atau bupati/wali kota di tempat calon penerima dan pengusul gelar.

Calon penerima gelar pahlawan nasional yang diusulkan, akan dilakukan penelitian oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP). Tim yang beranggotakan paling banyak 13 orang (terdiri dari unsur praktisi, sejarawan, akademisi, pakar, dan instansi terkait) harus bersifat independen.

Hasil penelitian dan pengkajian yang dilakukan TP2GP, kemudian disampaikan kepada gubernur atau bupati/walikota untuk dipertimbangkan menerbitkan rekomendasi. Selanjutnya, rekomendasi tersebut diserahkan bupati/walikota atau gubernur kepada menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang sosial. Menteri terkait akan mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional melalui dewan sebelum diserahkan kepada presiden, untuk verifikasi kelayakan. Dewan yang dimaksud yakni dewan yang bertugas memberikan pertimbangan kepada presiden dalam memberikan gelar.

Jika pengusulan dianggap dewan memenuhi persyaratan utuk diberikan gelar pahlawan, maka akan disampaikan kepada presiden sebagai bahan pertimbangan pemberian gelar. Sebaliknya, apabila tidak memenuhi kriteria sebagai calon penerima gelar, pengajuan akan dikembalikan kepada pengusul.

Pemberian gelar pahlawan nasional kepada calon penerima gelar, akan dilakukan langsung oleh presiden, melalui ahli waris. Apabila ahli waris tidak ada, maka gelar tersebut akan diterima oleh pengusul.

Mengenai prosedur pengusulan gelar pahlawan nasional atau kriteria calon pahlawan nasional, dapat dilihat pada PP RI No 33 Tahun 1964 dan PP RI No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009. Atau dapat diakses melalui situs yang dikelola Kementerian Sosial Republik Indonesia, Pahlawan Center.


Penjelasan singkat mengenai sejarah gelar pahlawan nasional di atas, setidaknya sudah menjawab apa yang menjadi tanda tanya bagai para pembaca, khususnya saya selaku penulis. Meskipun secara umum telah kita ketahui, bahwa setiap orang yang rela mengorbankan jasa dan nyawanya, dapat disebut sebagai pahlwan. Terutama, mereka yang telah berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Bahkan, JJ Rizal mengatakan, setelah hari pahlawan ditetapkan, para tokoh yang pernah ikut berjuang dahulu, diberi gelar pahlawan. Meski tolak ukur kepahlawanan itu sendiri tidak mutlak jika dilihat dari sisi sejarah, karena dicampuri dengan kepentingan rezim penguasa. Selain itu, dia juga menilai, saat ini makna Hari Pahlawan lebih kepada unsur seremoni saja dan tanpa menghayati pesan nilai-nilai perjuangan oleh para pahlawan (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

***
“Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi mulai zaman Soeharto. Indonesia menjadi negara yang terus memproduksi pahlawan dengan penilaian yang lebih cenderung pada pertimbangan politik,” ujarnya. Dimana pahlawan lebih banyak berasal dari lembaga Kemiliteran atau Kepolisian.

“Saat ini kita sudah kehilangan warisan nilai-nilai perjuangan yang dibawa oleh para pahlawan. Semua sekarang penuh dengan kepentingan,” ujarnya.
***

Memaknai Hari Pahlawan, bukanlah hanya sekedar mengingatnya saja. Tetapi sebagai generasi dari bangsa yang pernah diperjuangkan mereka, kita harus mampu meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan dari usaha yang telah mereka lakukan.

Sumber:
KBBI. Tidak Ada Tahun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Online). (diakses, 2 November 2017).
Peraturan Presiden Republik Indonesia No 33 Tahun 1964 Tentang Penetapan, Penghargaan dan Pembinaan Terhadap Pahlawan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009, Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Oke Zone. 2011. Kenapa Hari Pahlawan Ditetapkan 10 November?. (Online), (diakses, 2 November 2017).
Republika. 2014. Siapakah Tokoh Pertama yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional?. (Online). (diakses, 2 November 2017).

Kabar Tersera Pada Lamina

Saturday, November 04, 2017 0

Kabar Tersera Pada Lamina

Ilustrasi Lamina. @Doc. Google. 
Karya: Mhd. Saifullah
Kata-kata dipasung pada lamina,
kabar dicatat tersera-sera
Antah-berantah,
sengaja
atau memang ada
Hanya membaca
apa tertitip di dalamnya

Luar biasa bergulir mesin waktu
mengurai satu demi satu
Kabar fakta menjadi semu
Kabar realita dikatakan sengaja
Tersera-sera
Ada mampu membaca,
namun tak paham kata,
Tinta merah dianggap cinta.

Tersusun

Tersera-sera

Lamprit, Banda Aceh
4 Oktober 2017

Rungau

Thursday, November 02, 2017 0

Rungau

Ilustrasi Rungau. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Kau titipkan sukma itu
di hembusan detak waktu.
Luruh riuk jiwa
pada bayang-bayang berdiri,
pekat, terbesit aungan menyepi

Rungau melanda diri
Aku didekapmu
Laila

Lamprit, Banda Aceh
1 November 2017

Sumpah Pemuda

Wednesday, November 01, 2017 0

Sumpah Pemuda 

Teks Sumpah Pemuda. @Doc. Informa Zone. 
Karya: Mhd. Saifullah
Sejarah tentang masa lalu.
Menyungsung niat untuk bersatu.
Merdeka dari penjajah,
lama berpijak di bumi Nusantara.

Semangat para patriot pemuda,
mengiring nasionalisme untuk bangsa.
Mulai dari Jong Sumatera,
Dong Java, Ambon, Cilebes, dan lainnya.
Bersatu menyerukan sumpah.

Dua puluh delapan Oktober 1928,
menjadi hari berharga.
Sadar bersatu, menyatu menguatkan
diri untuk melawan musuh yang satu.

Ikrar pemuda pun berkumandang.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
28 Oktober 2013

Ibu

Tuesday, October 31, 2017 0

Ibu

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Ibu. Kasih dan sayangmu padaku.
Tersalur,
menyatu dalam darahku.

Ibu. Cinta yang engkau berikan.
Tak sanggup
aku membalasnya.

Kau adalah malaikat jiwaku.
Yang memberikan cahaya
dalam kehidupanku.
Kasihmu takan terhenti,
kepada diriku.
Ohh ibu.

Ibu. Lelah,
takan pernah lelah.
Untukku, sebagai anakmu.
Ibu. Henti,
takan berhenti.
Kasihmu, dalam perjuangan.
I love ibu.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Hujan

Sunday, October 29, 2017 0

Hujan

Hujan. @Doc. Tribun Solo
Karya: Mhd. Saifullah
Awan mulai tampak hitam.
Genderang bergemuruh
menandakan air akan datang.

Turun dan terjun bebas,
dari kaki langit.
Tanpa penghalang
juga penghambat.

Itulah hujan.
Sekali berjalan
beribu hentakan tertuang.
Menyentuh lautan,
daratan, dedaunan
dan menggenangi jalanan.

Wahai engkau rezki.
Engkau membawa
apa yang dinanti.
Engkau pelepas dahaga,
dikala kemarau mengundang
dan melanda.

Engkau rezki dari Ilahi
Sebagai makhluk,
kita wajib mensyukuri.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2013

Balas Budi Dengan Mencaci

Tuesday, October 24, 2017 0

Balas Budi Dengan Mencaci

Ilustrasi. @Doc. Suara Harapan. 
Karya: Mhd. Saifullah
Mohon...mohon.
Itulah kata segar terdengar,
layaknya para pengemis berlalu–lalang.
Engkau memohon dengan memandang.
Dengan badan sedikit gemetar.

Semua itu selalu ku ingat dan terikat.
Karena engkau kini bagaikan penghianat.
Dengan congkaknya engkau menolak.
Dengan mudahnya engkau mengelak.

Hahahahahaaaa.
Memang engkau bagaikan tongkol berduri
menusuk kaki.
Sakit sungguh terasa sampai ke hati.
Membuat engkau lupa diri.
Dengan mudahnya engkau mencaci.

Apa ini caramu berterima kasih..?
Apa ini caramu membalas budi..?

Kau mencaci maki aku,
yang telah menyelamatkanmu.
Kau hina aku,
setelah aku meninggikanmu.
Dan kau.
Kau ingin membunuhku.
Setelah aku
memberikan kehidupan untukmu.

Hahahahahaaaa.
Engkau memang manusia
bertahta tinggi.
Tapi, tak beda sikapmu
dengan seekor babi.
Dan engkau bagaikan seekor unta.
Enggan melihat kebawah ketika kaya.

Balas budi dengan mencaci,
Engkaulah manusia
yang tak tahu berterima kasih.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013