Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Friday, August 18, 2017 0

Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Ilustrasi budaya dari berbagai suku di Indonesia. @Doc. Istimewa.
Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang bisa dikatakan unik, yang saya alami. Mungkin sebagian kawan-kawan pernah mengalami hal yang sama.

Kejadian ini terjadi pada Kamis, 10 Agustus 2017 lalu, di saat saya memutuskan untuk memotong rambut setelah pulang dari Kampus Politeknik Aceh yang ada di Pango. Cuaca panas, membuat rambut dan kepala saya menjadi gerah. Maklum saja, aktu itu rambut saya bisa dibilang lumayan panjang, bagian depannya kalau ditarik bisa lewat dagu dan bagian belakangnya telah sampai bahu. Jadi, solusi mencari tempat jasa pemotongan rambut (pangkas) sambil menuju jalan pulang saya anggap sangatlah tepat. Biar terlihat lebih muda dan keren kayak orang-orang. Hehehe.

Saya pun beranjak dari Kampus Politeknik Aceh dengan menggunakan sepeda motor sambil memikul tas yang lumayan berat karena berisi laptop, buku, serta beberapa barang lainnya. Rute perjalanan yang saya tempuh untuk pulang ke rumah sambil mencari tempat pangkas, yakni Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango lalu ke Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Sepanjang perjalanan yang saya lalui, sambil mengendarai sepeda motor, saya mencoba memperhatikan tempat pangkas di kawasan pertokoan yang ada di kiri dan di kanan bahu jalan.

Beberapa menit setelah bergeser dari tempat yang saya bergerak tadi, akhirnya saya mendapatkan salah satu tempat pangkas yang ada di kawasan Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Mendapati tempat tersebut, saya langsung memarkirkan sepeda motor dan lalu masuk ke dalam.

Ketika masuk, saya langsung disodorkan pertanyaan oleh salah seorang karyawan jasa pemotongan rambut layaknya menyambut konsumennya. 

"Koh ook bang? (Potong rambut bang?)," tanyanya karyawan tersebut dengan dialeg Bahasa Aceh.

"Nyo bang (iya bang)," jawab saya yang memang ingin memotong rambut.

Sambil melepaskan tas yang tersandang, saya memperhatikan sekeliling ruangan mencari tempat untuk meletakkan tas. Karyawan yang memahami gerak-gerik saya langsung mengatakan untuk meletakkan tas di atas meja (tempat peralatan pemotongan rambut) dekat kaca.

"Neu peuduk atas meja nyo ju (letakkan di atas meja ini saja)," ucapnya menyuruh.

Saya mencoba meletakkan tas di atas meja, namun masih saya pegang karena masih ragu dengan posisi tas yang saya anggap masih kurang pas (takut jatuh karena berisi laptop). 

"Peuduk ju (letakkan saja), gak apa-apa, gak jatuh itu," disambut dengan dialeg Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia oleh karyawan yang nantinya akan memotong rambut saya dengan karena melihat saya sedikit ragu meletakkan tas.

Mendengar pernyataan itu, saya letakkan tas lalu menuju kursi pangkas untuk duduk.

Di dalam ruangan itu ada 5 orang, di antaranya 2 orang konusmen (termasuk saya) dan 3 orang jasa pemotongan rambut (satu bersiap-siap untuk memotong rambut saya, satu sedang memotong rambut konsumen yang lain, dan satunya lagi sedang menjalankan shalat).

Kemudian karyawan itu menanyakan kembali kepada saya. "Kiban ta koh? (Bagaimana kita potong?)," tanyanya menawarkan potongan dengan model rambut yang bagaimana.

"Rapi," jawab saya dengan santai.

Karyawan tersebut kemudian menanyakan kembali, dan saya tetap dengan jawaban yang sama.

Mungkin suara saya terlalu pelan dan cepat ataukah antara didengar jelas atau tidak oleh karyawan tersebut. Sehingga teman  di sebelahnya langsung menyahut dan mengatakan kepada karyawan itu bahwa saya tidak bisa berbahasa Aceh.

"Han jeut Bahasa Aceh jih nyan (Tidak bisa Bahasa Aceh dia tu)," sahut kawannya.

Karyawan tersebut akhirnya menanyakan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

"Mau pangkas model yang gimana bang?," tanyanya.

Saya pun menjawab dengan bahasa Indonesia. "Dirapikan aja bang, samping sama potong atasnya dikit," jawabku.

Merasa sedikit bingung, karyawan tersebut mencoba menunjukan pilihan beberapa gambar model potongan rambut yang tertera di dinding ruangan tersebut.

"Apa mau kayak nomor 19?," menawarkan salah satu model potongan rambut yang ada.

Sejenak saya berpikir sambil memperhatikan model potongan rambut yang ditawarkan. Tidak lama kemudian saya pun mengiyakan model tersebut karena terlihat lebih rapi dan keren.

"Boleh bang, yang nomor 19 aja," jawab ku menyetujui tawarannya.

Karyawan itu kemudian bersiap-siap untuk memotong rambutku, namun ketika dia baru saja memegang mesin pemotong rambut. Matanya tiba-tiba mengarah ke tas yang aku letakan tadi di atas meja.

"Kita pindahkan aja tasnya ya bang?," dia meminta izin kepada ku sembari mencoba memindahkan tas.

"Berat juga tasnya bang, apa isinya?," tanyanya padaku.

Aku yang melihat langsung merespon. "Laptop sama buku bang. Hati-hati bang," mengingatkan kepada karyawan itu.

Mendengar rekannya mengatakan bahwa tas yang dipindahkan itu berat. Karyawan satunya yang sedang memotong rambut pelanggan lain, mencoba menyambung pembicaraan.

"Nyan bom aso jih. Hati-hati kah me, meunyo ret meuledak habe geutanyo (itu bom isinya. Hati-hati kamu bawa, kalau jatuh meledak habis kita)," ucapnya karyawan tersebut.

"Kadang cit jih aneuk buah Abu Safi (kadang juga dia anak buah Abu Safi)," ucapnya lagi menambahkan sambil tertawa.

Mendengar apa yang dikatakannya, saya hanya tersenyum seakan tidak menghiraukan apa yang dia bicarakan.

Setelah itu, karyawan tadi kembali menceritakan tentang saya dengan menggunakan Bahasa Aceh, seakan-akan mereka menganggap saya benar-benar tidak mengerti bahasa tersebut. Saya kembali tidak menghiraukan, tetapi saya tetap mendengar percakapan mereka.

Di dalam hati saya bergumam heran, "apa orang ini benar-benar gak tahu kalau aku bisa berbahasa Aceh?," tanyaku dalam hati.

Bosan bercerita mulai dari tentang saya hingga tentang-tentang lainnya. Akhirnya karyawan tadi berhenti berbicara dan suasanya menjadi senyap. Tidak lama kemudian, masuk pelanggan lainnya keruangan tersebut. Pembicaraan kembali dimulai dengan tema baru lagi. Di saat itu, saya sudah tidak peduli dan tidak mendengar lagi apa yang menjadi pembahasan.

Beberapa menit kemudian, rambut saya pun selesai dipotong oleh karyawan yang pertama tadi. Biasanya, setelah habis potong rambut maka karyawan akan menyetel kursi menjadi lebih santai (telentang) untuk dilakukan pemijatan (mengurut).

Melihat kursi akan disetel, saya pun respon melarang dengan menggunakan Bahasa Aceh.

"Ohh bek bang, bek. Ka jeut nyo (ohh jangan bang, jangan. Udah bisa ini)," menginstruksikan kepadanya bahwa saya tidak mau dipijat.

Mendengar saya berbicara menggunakan Bahasa Aceh. Karyawan  itu langsung kaget.

"Haii, jeut lago Bahasa Aceh? Lon pike kon awak Aceh beno (haii, bisa rupanya Bahas Aceh? Saya pikir bukan orang Aceh tadi)," tanyanya kaget.

"Jeut bang (bisa bang)," jawabku.

"Man pakon beno wakte lon tanyong hana jaweb? (Lalu kenapa tado waktu saya tanya (masalah potongan rambut) tidak dijawab?," tanyanya lagi.

"Na bang, cuma mungken han dron leungo beno (ada bang, cuma mungkin gak abang dengar tadi," jawabku lagi sambil senyum dingin.

Mendengar pembicaraan kami, seorang karyawan tadi kembali ikut menyahut.

"Mungken abang nyan Aceh Jawa (mungkin abang itu Aceh Jawa). Hahaha...," sahutnya tertawa.

Sambil berbenah diri untuk beranjak, aku langsung menanyakan harga operasional pomotongan rambut. Setelah menyerahkan biaya pembayaran, karyawan tersebut merasa tidak enak kepada diriku. Itu terlihat dari cara dia mencoba mengakrabkan diri dengan ku.

"Omak bang, pike dron beno awak Jawa atau awak Medan. Kareuna wakte jak deungon ook panyang (omak bang, pikir abang tadi orang Jawa atau orang Medan. Karena waktu datang dengan rambut panjang lagi," ngelesnya.

Merasa tidak enak, dia sempat meminta maaf sebelum saya keluar dari ruang itu.

"Lake meuah bang beuh. Lon hana lon teupeu beno (minta maaf bang ya. Saya tidak tahu tadi)," ucapnya.

Merasa tidak ada yang harus dimaafkan, dan saya menganggapnya itu sebuah candaan.

"Hana peu bang, santai ju (tidak apa-apa bang, santai saja)," jawabku.

***

Begitulah cerita singkat yang saya alami sewaktu memotong rambut. Dari tulisan ini, Saya kembali teringat pada sebuah peristiwa saat saya sedang liputan. Kejadian itu hampir sama seperti yang saya alamj, akan tetapi konteksnya saja berbeda.

Ketika itu korbannya adalah rombongan atlit sepeda yang sedang melakukan touring dari Pulau Weh (Sabang) ke Kota Banda Aceh. Para atlit yang tiba di salah satu penginapan di Kota Banda Aceh pernah diganggu oleh pekerja bangunan di penginapan mereka saat pertama kali sampai. Ada beberapa pekerja yang mencoba mengganggu dan berbicara hal yang tidak wajar untuk atlit wanita yang ikut dengan para rombongan dengan menggunakan bahasa daerah Jawa Barat (Sunda).

Mendengar mereka sedang dibicarakan, salah seorang atlit wanita yang mengerti merasa marah dan memarahi para pekerja tersebut dengan Bahasa Sunda. Teman-teman atlit lainnya yang merasa heran apa yang dibicarakan mencoba menanyakan kepada salah seorang atlit tersebut.

"Itu tadi dia bilangin kita yang enggak-enggak, wuuu dasar," ucap atlit wanita tersebut.

Tulisan ini mungkin hisa menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa jangan menilai orang dari luar. Selain itu, jangan pernah mencoba membicarakan orang lain dengan menggunakan bahasa yang mungkin kita anggap orang yang kita bicarakan itu tidak mengerti atau memahaminya.

Mungkin saat itu kalian menceritakan mereka, namun suatu saat kalian akan malu karenanya.

Kita Merah Putih

Thursday, August 17, 2017 0

Kita Merah Putih

Seorang bocah menghormat bendera merah putih. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku merah.
Engkau putih.
Berpadu, satu.
Berbeda menjadi saudara.
Merah putih kita.

Sekber Wartawan, Banda Aceh
17 Agustus 2017

Mereka (Hutan)

Tuesday, August 15, 2017 0

Mereka (Hutan)

No Forest, No Light, and No Future (Tidak ada Hutan, Tidak Ada Cahaya, dan Tidak Ada Masa Depan). @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Mereka tak bersuara,
tapi mereka bisa mendengar.
Mereka tak mengeluarkan air mata,
namun mereka dapat bersedih pula.
Mereka punya rasa.
Tetapi kita tidak pernah percaya
bahwa mereka ada untuk kita (manusia).

Banda Aceh
31 Juli 2017

Guruku

Monday, August 14, 2017 0

Guruku

Ilustrasi. @Doc. Kompasiana.
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau begitu mulia.
Di dalam hati para siswa.
Begitu besar jasamu guruku.

Kau begitu sabar.
Di setiap engkau mengajar.
Begitu berartinya guruku.

Jasamu.
Sulit dilupakan.
Jasamu.
Sulit tuk dikenang.
Guruku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Atas semua
yang kau berikan untukku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Wahai guruku.
Terima kasihku.

Wahai guruku.
Terima kasihku.

SMA Muhammadiyah 1 Batam, Batam 
2011

Berhenti Berharap

Monday, August 14, 2017 0

Berhenti Berharap

Ilustrasi. @Doc. Google.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku terlalu berharap.
Terlalu lama aku telah menunggu.
Kepastian itu tiada ujungnya,
namun malah semakin menyiksaku.
Menyiksa bathin juga perasaanku.

Apa maksud dari semua ini.
Aku masih tidak pernah mengerti.
Mengapa aku selalu berharap.
Padahal semua itu hanya semu,
yang melahirkan luka dan sakit melara.

Aku berharap,
namun tanpa pernah diambil peduli.
Bagaikan bulan berharap bertemu matahari.
Gelap dunia, bencana semesta.

Huuffffttt.
Lebih baik aku memupuskannya.
Tiada guna aku terlarut dalam harap.

Gampong Emperum, Banda Aceh
2012

Tips Unik Agar Mau Menulis

Thursday, August 10, 2017 0

Tips Unik Agar Mau Menulis

Ilustrasi menulis. @Doc. Kompasiana.
Menulis bisa dikatakan sebagai suatu kemampuan seseorang dalam merangkai kata-kata serta bahasa dengan menciptakan suatu kalimat. Pada dunia bahasa, menulis menjadi salah satu bagian yang sangat penting dilakukan setelah kemampuan membaca, berbicara, dan menyimak. Sebab dengan menulis, penulis mampu menceritakan kembali situasi ataupun keadaan yang dilihatnya. Selain itu dengan kemampuan menulis, penulis juga bisa lebih mudah dalam mengingat apa yang sudah terjadi.

Ada beberapa definisi atau pengertian dari menulis yang saya ambil. Pengertian tersebut ada menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, dan menurut beberapa para ahli.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, menulis berasal dari kata tulis yang berarti ada huruf (angka dan sebagainya) yang dibuat (digurat dan sebagainya) dengan pena (pensil, cat, dan sebagainya) (Sumber: KBBI Online).

Menurut para ahli seperti Djago Tarigan dalam buku yang ditulis Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009:5) menulis bisa diartikan sebagai mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan (Sumber: Dunia Baca Dot Com (Online)).

Definisi menulis menurut Pranoto (2004:9) adalah menuangkan buah pikiran kedalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Sumber: Zha Gadih Minang (Online)).

Berdasarkan tiga definisi di atas, menulis dapat diartikan sebagai suatu susunan huruf atau angka yang dibuat dalam bentuk kalimat berupa ungkapan, pendapat yang dituangkan kedalam tulisan.

Di atas sudah dijelaskan definisi ataupun pengertian dari menulis. Lalu bagaimana cara kita agar mau menulis? Inilah yang menjadi beberapa masalah bagi para penulis terutama penulis pemula. Akan tetapi kawan-kawan jangan panik ataupun bingung untuk mulai menulis dari tulisan yanga akan kawan-kawan tulis.
Kali ini saya akan berbagi beberapa informasi mengenai tips dan cara untuk menjadi penulis ataupun minimalnya mau menulis sebuah artikel atau tulisan. Tips ini berdasarkan pengalaman yang saya alami untuk memulai menulis. Adapun langkah-langkahnya bisa kawan-kawan baca di bawah ini.

Cobalah Tulis Kembali Buku-Buku Bacaan
Membuat suatu tulisan atau artikel memang tidaklah mudah. Kawan-kawan harus memikirkan apa yang harus ditulis dan kata apa yang akan ditulis pertama kali. Mengenai hal tersebut, kawan-kawan bisa memulainya dengan mencoba menulis tulisan yang ada di buku bacaan yang kamu punya ataupun pinjam dari perpustakaan.

Menulis kembali tulisan yang ada di buku adalah sebagai suatu lahan latihan paling dasar bagi penulis pemula untuk mau menulis. Hal ini dikarenakan, tulisan dari buku bacaan yang ada secara tidak langsung telah memacu kawan-kawan untuk membaca, mengingat, dan mengikuti rangkaian kata-kata yang ada di dalam buku. Selain itu, menulis kembali buku bacaan akan melatih jari-jari tangan kawan-kawan untuk mau menulis.   

Latihan menulis melalui cara ini bisa dilakukan dengan sehari minimal satu sampai sepuluh halaman buku. Apabila kawan-kawan sudah mulai terbiasa, cobalah untuk meningkatkan halaman tulisan perharinya. Jika jari-jari dan pikiran kawan-kawan sudah biasa untuk menulis maka coba tingkatkan dengan melakukan resume (membuat ringkasan) dari bagaian atau bab yang ada pada buku. Semakin sering kamu lakukan latihan menulis seperti ini, maka kamu mulai terbiasa dan bahkan semakin menambah keinginan untuk menulis.

Tulislah Apa Yang Anda Pikirkan
Permasalahan bagi para penulis pemula untuk mau menulis biasanya adalah apa yang mau ditulis oleh penulis. Sebenarnya sih itu bukan suatau permasalahan yang serius. Ketika kawan-kawan sudah mulai mau menulis, tulislah apa yang kamu pikirkan. Tulis semua dahulu sampai selesai menurut kawan-kawan. 

Sebagai pemula, kamu bisa menulis tulisan berupa puisi, cerpen, ataupun kisah maupun diari serta perjalanan hidupmu. Kalau kawan-kawan bisa menulis artikel esai atau opini itu malahan lebih bagus lagi.

Tulisan yang sudah kawan-kawan tulis kemudian coba dibaca kembali untuk memperbaiki setiap kata yang salah sekaligus merangkai kalimat mana yang tepat. Kotak-katiklah tulisan yang kamu punya sesuai keinginan kamu. Kemudian tulisan yang sudah kamu kotak-katik coba untuk dibaca kembali untuk lebih memastikan hasilnya.

Kedua tips di atas berdasarkan pengalaman dari saya yang mungkin bisa bermanfaat bagi kawan-kawan. Semoga dengan tips sederhana ini bisa menambah kemauan kawan-kawan yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis atau memulai untuk menulis.

Pemimpin Harus Paham Situasi Masyarakat

Tuesday, August 08, 2017 0

Pemimpin Harus Paham Situasi Masyarakat

Ilustrasi seorang pemimpin. @Doc. www.forbes.com
Tulisan mungkin bisa menjadi pengingat dan pertimbangan bagi pemimpin-pemimpin yang ada di seluruh dunia, dan khususnya Provinsi Aceh saat melintasi kawasan maupun jalan di saat waktu-waktu tertentu.

Jika kemarin ada beberapa pemandangan yang unik terlihat oleh mata saya, hari ini kejadian lain kembali terpantau di mata saya.

Pada waktu itu, Jumat siang sekira kurang dari pukul 12.00 WIB. Saat saya duduk di Sekber (Sekretariat Bersama) Wartawan yang ada di Jln. Sultan Alaidin Mahmudsyah, saya beserta teman-teman lainnya disajikan pemandangan kemacetan kota. Maklum, jadwal waktunya istirahat dan menjelang Shalat Jumat.

Kemacetan lampu merah Simpang Kodim siang itu mencapai Jembatan Pante Pirak. Hampir seluruh kendaraan roda enam, empat dan dua, yang berjubel mencoba saling selip.

Sedang asik-asiknya melihat pemandangan tersebut, tiba-tiba suara sirine dari satu unit mobil patroli polisi lalulintas terdengar dari kejauhan.

Penasaran dengan suara sirene yang menjerit tersebut. Saya coba mengangkat kepala (mengintip/menerawang dari kejauhan). Mungkin tu mobil polantas dan personilnya mau mengatur kemacetan yang terjadi (pikir saya).

Ketika asal suara sirene itu tepat dihadapan saya, yang timbul adalah sedikit rasa kecewa. Ternyata mobil yang membawa sirene menjerit-jerit tersebut mengiring mobil mewah seorang pejabat Pemerintah Aceh (berdasarkan plat merah dengan nomor digitnya hanya satu dan sangat kecil yang tidak lebih dari angka 5).

Petugas tersebut dengan percaya dirinya menyuruh pengendara lainnya untuk membuka jalan, hanya untuk orang yang seharusnya mengerti keadaan saat itu.

Kejadian tersebut membuat saya hampir beropsi negatif, namun saya coba mengisinya dengan hal positif.

"MUNGKIN ORANG YANG ADA DI DALAM MOBIL ITU SEDANG SAKIT PERUT ATAU SAKIT ATAU HAL KRITIS LAINNYA YANG LEBIH PENTING DARIPADA KESIBUKAN LAIN MASYARAKAT (SEPERTI INGIN SHALAT JUMAT KARENA HAMPIR TIBA WAKTUNYA)."

Tulisan ini mungkin bisa menjadi teguran kepada para pemimpin atau pejabat lainnya. Bahwa diwaktu-waktu tertentu ada kalanya juga seorang pejabat harus merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat.
Begitulah cerita hari ini.

Terima kasih buat kawan-kawan yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya.

Kau (Gitar) Kesepian

Sunday, August 06, 2017 0

Kau (Gitar) Kesepian

Ini adalah gitar ku yang ku beli tahun 2013 lalu. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Malam ini tak ingin ku sentuh
dirimu. Meski hanya se-not.
Ku biarkan dingin malam
mencabik-cabik dirimu
bersama rintik hujan.
Tapi aku menantang.
Melirik memandang
kau yang tak semu
namun berdiri kaku.

Emperum, Banda Aceh
5 Agustus 2017
Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Friday, August 04, 2017 0

Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Ilustrasi baju gamis atau rok lebar seorang wanita yang masuk ke dalam gigi tarik (gear) sepeda motor. @Doc. Istimewa.
Tulisan mungkin bisa menjadi peringatan bagi kaum hawa (perempuan/wanita/cewek) yang suka atau sedang memakai baju gamis (baju terusan/panjang) atau rok ataupun sejenisnya.

Sore itu, Kamis, tanggal 3 Agustus 2017. Saat saya sedang melintas jalan dari daerah Jembatan Pante Pirak menuju Darussalam. Ada satu penampakan unik yang terjadi dengan beberapa orang, khususnya wanita. 

Di mana, saya melihat ada tiga rok dari tiga orang wanita masing-masing terjepit pintu dengan tiga mobil di tiga di lokasi yang berbeda. 

Pertama saya jumpa di menuju Simpang Jambo Tape. Terlihat rok seorang wanita terjepit mobil avanza berwarna silver.

Kedua, saat saya hampir sampai di Simpang Taman Ratu Safiatuddin. Kembali terlihat rok seorang wanita terjepit di sebuah mobil sedan.

Dan yang terakhir, ketiga. Ketika hampir sampai di Simpang Mesra, lagi-lagi saya melihatnya. Pintu mobil pick up menjepit rok seorang wanita.

Ketiga peristiwa tersebut membuat saya membayangkan, bagaimana jika rok tersebut terjepit di gear (gigi tarik) sepada motor? Apa jadinya ketiga wanita itu?

Intinya, kembali lagi saya ingatkan kepada para wanita mohon diperhatikan jika menaiki kendaraan. Lihatlah pakaian anda sebelum berangkat atau menaiki kendaraan, agar hal-hal tidak diinginkan tidak menimpa anda. Kan sayang kalau baju gamis (baju terusan/panjang) atau rok robek gara-gara itu. 😁😁😂

Sendiri

Thursday, August 03, 2017 0

Sendiri 

Ilustrasi. @Doc. Brilio.net
Karya: Mhd. Saifullah
Sendiri. Di sini ku masih sendiri.
Tak ada yang menemani.
Hati ini. Terasa sepi.

Sendiri. Di sini ku menyendiri.
Tak ada yang mengerti.
Hati ini. Terasa sunyi.

Ku ingin kehadiranmu
mampu membelah kesunyian,
kesepian, dan kesendirian.
Ku ingin engkau di sini.
Temani aku sendiri.

Gampong Emperum, Banda Aceh
11 Desember 2011

Surat Untuk Bunda

Monday, July 31, 2017 0

Surat Untuk Bunda

Ilustrasi. @Doc. Anak Kampus.
Karya: Mhd. Saifullah
Secerca bait puisi, surat untuk bunda.
Untuk yang tersayang.
Ibunda tercinta,
selalu menunggu anaknya pulang.

Bunda.
Meski usia semakin menua.
Tetapi di mataku, tak tampak rupa yang ada.
Rambut memutih tetap terlihat indah.
Bunda masih tampak cantik
dari wanita yang lainnya.
Sama seperti di kala pertama aku
di turunkan ke dunia.
Melihat malaikat yang sempurna.

Wahai ibunda.
Wanita yang telah melahirkanku,
menyayangiku dan membesarkanku.
Dengan kesabaran dan cinta.
Engkau menahan dalam sembilan bulan.
Anak dalam kandungmu
hingga lahir dan tumbuh menjadi dewasa.

Tak cukup hanya terima kasih.
Tak cukup dengan barang tuk diberi.
Dan tak cukup seumur hidup berbakti.
Bila dibandingkan besarnya pengorbanan
untuk melahirkan aku ke dunia ini.

Bunda.
Hanya Allah yang bisa membalas semua.
Anakmu hanya bisa berdoa,
agar Allah membalasnya dengan ridhaNya.
Karena anakmu pasti takan mampu.
Karena anakmu takan bisa.
Untuk membalas semua yang telah ada.

Di hari ibu ini.
Secerca bait puisi ini merupakan bukti.
Bahwa lemahnya anakmu ini.
Tak bisa membalas pengorbananmu,
tanpa bantuan dari sang Ilahi.

Gampong Emperum, Banda Aceh
21 Desember 2011

Hanya Panas Matahari

Saturday, July 29, 2017 0

Hanya Panas Matahari 

Ilustrasi. @Doc. Tribun Manado
Karya: Mhd. Saifullah 
Panasnya matahari
seakan membakar kulit.
Butir-butir biji jagung,
bercucuran di sela tubuh.

Otak di kepala
seakan mendidih.
Diri terasa gelisah.
Kemalasan subur dengan sendirinya.

Tetapi berbeda dengan mereka.
Meraka merasa hari adalah cahaya.
Tak terasa sejuk mentari,
meski badan semakin mendidih.
Tak merasa akan lelah,
Asal mampu memenuhi jiwa.

Panasnya mentari bukan rintangan.
Panasnya mentari bukanlah penghalang.
Dan panasnya matahari bukanlah alasan.

Kebal telah telapak kaki.
Sengatan mentari
bukan sebuah hirauan lagi.

Keringat telah menjadi sahabat.
Debu jalanan telah akrab.

Namun tiada mengeluh
kehidupan dunia.
Selalu bersyukur
meski tiada harta.
Karena diri masih
memiliki Allah.

Batu Aji, Batam 
2011

Kau Bohongi

Thursday, July 27, 2017 0

Kau Bohongi

Ilustrasi. @Doc. Motivasi Kerja
Karya: Mhd. Saifullah 
Bagaikan berjalan,
di atas hancurnya perasaan.
Dan kau hanya bisa terdiam
dan pergi.

Kau tak pernah rasakan.
Betapa hancurnya perasaan.
Yang telah menyakitkan hati ini.
Dan kau telah menghancurkan
semua mimpi.

Kau telah membohongi semua
yang ada.
Ku kira,
kau kan setia.
Ternyata.
Tu semua bohongan belaka.
Kau buat ku terluka.

Kau bohongi aku lagi.
Dan juga cinta ini.

Batu Aji, Batam 
2011

Ku Ingin Kembali

Monday, July 24, 2017 0

Ku Ingin Kembali

Ilustrasi. @Doc. Bila Rindu Tinggal Kata
Karya: Mhd. Saifullah 
Berjalan di gelap malam.
Tertatih mengarungi waktu.
Terdiam dalam keheningan.
Menyesali yang telah terjadi.

Dalam hidupku.
Kini ku ingin ku kembali
menjadi seperti dulu.
Tanpa bayangan hitam menghantui.
Ku berharap setitik cahaya.
Ku menanti, menanti di sini.

Ku tak bisa berlari menjauh.
Ku menyesali yang telah terjadi.

Batu Aji, Batam
2010