Kau Bohongi

09:20:00 0

Kau Bohongi

Ilustrasi. @Doc. Motivasi Kerja
Karya: Mhd. Saifullah 
Bagaikan berjalan,
di atas hancurnya perasaan.
Dan kau hanya bisa terdiam
dan pergi.

Kau tak pernah rasakan.
Betapa hancurnya perasaan.
Yang telah menyakitkan hati ini.
Dan kau telah menghancurkan
semua mimpi.

Kau telah membohongi semua
yang ada.
Ku kira,
kau kan setia.
Ternyata.
Tu semua bohongan belaka.
Kau buat ku terluka.

Kau bohongi aku lagi.
Dan juga cinta ini.

Batu Aji, Batam 
2011

Ku Ingin Kembali

09:10:00 0

Ku Ingin Kembali

Ilustrasi. @Doc. Bila Rindu Tinggal Kata
Karya: Mhd. Saifullah 
Berjalan di gelap malam.
Tertatih mengarungi waktu.
Terdiam dalam keheningan.
Menyesali yang telah terjadi.

Dalam hidupku.
Kini ku ingin ku kembali
menjadi seperti dulu.
Tanpa bayangan hitam menghantui.
Ku berharap setitik cahaya.
Ku menanti, menanti di sini.

Ku tak bisa berlari menjauh.
Ku menyesali yang telah terjadi.

Batu Aji, Batam
2010

Pacarku, Seorang Guru

14:29:00 0

Pacarku, Seorang Guru

Ilustrasi. @Doc. Google.
Karya: Mhd. Saifullah
Pacarku, seorang guru.
Pastinya, dia lebih hebat
daripada diriku.
Bukti nyata saja.
Meski lelah,
dia tidak mudah menyerah.
Khususnya memberi ilmu
kapada siswanya.
Walau harga keringatnya lebih murah
dari uang jajan pemerintah.

Pacarku, seorang guru.
Pergi pagi, pulang siang.
Bahkan petang,
lewat adzan ashar berkumandang.
Namun kerja dan usahanya,
tak dipandang.
Berbeda bila pejabat yang datang.

Pacarku, seorang guru.
Aku bangga memilikimu.

Lamteumen, Banda Aceh
23 Juli 2017

Berikanlah Aku Cinta

22:45:00 0

Berikanlah Aku Cinta

Ilustrasi. @Doc. Nur Khadijah Official Blog.
Karya: Mhd. Saifullah
Hari ini ku,
sangat bahagia
bisa memilikimu.

Mendapatkan cinta
yang tulus darimu
dan hanya untukku.

Ku serahkan semua
cinta dan ketulusanku,
Hanya untukmu,
ku serahkan semua.

Berikanlah aku cinta,
Yang tulus dalam hatimu.
Berikanlah aku kasih,
Yang tulus dari dirimu.
Ohh cinta.

Ku percaya kamu,
ku harap kau begitu
percaya padaku.

Kan menjaga cinta
yang tulus dariku
dan hanya untukmu.
Ohh cinta.
Hanya untukmu.

Batu Aji, Batam 
2010

Me(memori)

14:41:00 0

Me(memori)

Ilustrasi Me(memori). @Doc. Arkea.
Karya: Mhd. Saifullah
Coba kau ceritakan padaku,
tentang indah senja di sore itu.
Sebelum semua ditelan malam.
Sebelum lelah mata ku terpejam.

Bukalah kembali kisah kita
dan putar memori tawa canda.
Sebelum semuanya berlalu.
Sebelum aku lelah dengan waktu.

Genggam tanganku,
ungkapkanlah masa itu.
Di kala kita bertemu,
berpilu, lalu menyatu.

Ku bisikan kata.
Satu alunan nafas terindah
tentang manisnya bersama,
agar engkau tak gundah
di saat aku mulai lelah.

Coba kau tulis di album mu,
tentang diriku, di pagi kelabu.
Sebelum semua di mata mu.
Sesaat itu aku dibawa waktu.

Emperum, Banda Aceh
20 Juli 2017

Sudah Tibalah Waktunya

04:37:00 0

Sudah Tibalah Waktunya

Ilustrasi. @Doc. Rika Dianie D.
Karya: Mhd. Saifullah 
Sudahlah tiba waktu untuk kita.
Mengenang semua
kenangan lalu bersama.
Mulai dari berjumpa,
hingga harus berpisah.
Moga ini semua kan jadi
memmorri indah.

Masa indah takan pernah terlupa.
Hingga aku tiada,
tetap ku kenang jua.
Meskipun aku jauh,
kau selalu dihatiku.
Meski dalam hatimu,
tiada tentang diriku.

Janganlah kau bersedih.
Dengan perpisahan ini.
Ku yakin kita pasti,
akan berjumpa kembali.
Walau hanya dalam mimpi.
Kita berjumpa kembali.
Ingatlah selalu di sini.
Di hari ini.

Jangan kau ragu di dalam hatimu.
Biarlah semua berlalu
bersama dengan waktu.
Menangis, tertawa, gembira, berduka.
Kita selalu bersama menjalani hari indah.
Tetapi lah sudah, lah tiba waktunya.
Kita harus berpisah walau hanya sementara.
Walau kurasa betapa sakit–sakit di dada.
Mungkin ini semua telah kehendak yang Kuasa.

Gampong Blang Dalam, Aceh Utara 
2008

Merapah Repih

02:27:00 0

Merapah Repih

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku meletakkan cinta
di angkasa.
Masa perlahan membakar.

Aku benamkan cinta
dalam palung lautan
agar sejuk selalu menyertai.
Laksana,
arus menghanyutkan.

Aku tanamkan saja cinta
di tanah bumi
agar tumbuh menyebar
di kidung jiwa.
Sayang. Iklim merapuhkannya
hingga menyadarkan aku.

Lelah. Lelah.
Hanya kata
dan sudah.

Ini cinta.
Ini masa.
Ini rasa.
Ini musnah.
Inilah realita.

Banda Aceh
12 November 2016

Lenguh

01:50:00 0

Lenguh

Ilustrasi. @Cyber Dakwah.
Karya: Mhd. Saifullah
Pernah terdengar cerita dari mu.
Tentang langit dan awan kelabu.
Tentang pudarnya langit biru.
Tentang senja dan fajar yang tak berhalu.

Rangkaian kata-kata suci,
terhampar di bawah teduhnya kaki bumi.
Kau menadah,
di kala engkau merapah.
Berharap langit melahirkan mahkota
pelangi-pelangi kecil nan indah.
Kau menadah,
di kala engkau merapah.

Menyengap.
Ya, kau hanya mulai menyengap.
Lalu melihat tabir-Nya,
gumaman mulutmu lesa.

Tuhan. Aku ini apa?
Aku bagaimana?
Aku berdosa.

Ie Masen, Banda Aceh
16 Juni 2017

Kamu

23:00:00 0

Kamu

Ilustrasi. @Doc. STMIKMB
Karya: Mhd. Saifullah
Purnama bercerita rindu
tentang hari itu.
Tentang senyuman mu.
Tentang waktu-waktu.
Tentang dirimu.
Namun, bisu nan semu.
Hanya di balik awan kelabu.
Kamu

Darussalam, Banda Aceh
Minggu, 11 Juni 2017

Hijrah Kah?

14:13:00 0

Hijrah Kah?

Ilustrasi Hijrah. @Doc. Asrama Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Karya: Mhd. Saifulahh
Menggema tiada henti.
Di kesunyian, takbir tiada berhenti.
Di antara langit pekat gelap,
fajar terbangun dari lelap.
Memecah suara rinai menderu
seakan membasahi kalbu.

Hari itu tiba.
Hari kemenangan di depan mata.
Siap kah untuk merubah?
Mampukah diri untuk berhijrah?

Sunggal, Medan
25 Juni 2017

Dirinya?

11:28:00 0

Dirinya?

Ilustrasi. @Doc. Istimewa
Karya: Mhd. Saifullah
Ku patri nama mu,
di tabir langit-langit semu.
Kata-kata dan sajak asmara,
mudah bergelora
selalu bersahaja.
Meski dalam diam
tiada menyebut.

Hati ku sadar.
Kuat kurasakan
getaran-getaran itu,
meski secupak rindu di dada.

Niat ku melangkah.
Menyusur lorong-lorong tanya
hanya untuk menyambut rasa.
Meski tak tampak mata
di mana wujudmu dan apa.

Hilang. Begitu saja.
Mudah. Layaknya ombak.
Cussss. Menyapu pasir.

Emperum, Banda Aceh
30 April 2017

A.C.E.H

13:08:00 0

A.C.E.H

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
A. Akui bahwa dirimu Aceh.
C. Ceritakan. Kabarkan dunia.
Tanah dan air mu, Aceh.
E. Empatikan diri. Kita sama di sini.
Berdiri dan duduk bermusyawarah, di Aceh.
H. Himpunlah. Berkhidmah.
Perbedaan suku, itu Rahmat-Nya.
Membusungkan dada.
Bersuara, mengatasnamakan bangsa, Aceh.

Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.
Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.
Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.

Aku. Aceh.
Kamu. Aceh.
Dia. Aceh.
Kita semua. Aceh.
Aceh menyatukan kita.

Berbanggalah sebagai Bangsa Aceh.

Kajhu, Aceh Besar
17 Mei 2017

Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Awal dari Sejarah Aceh)

11:22:00 0

Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Bagian I)

Cover buku Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul : Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki.
Penulis         : Harry Kawilarang
Penerbit         : Bandar Publishing
Tahun terbit           : 2010 (Cetakan Ketiga)
Tebal/jumlah halaman : 226 Halaman

Resensi Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki:

Di dalam buku Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki, Harry Kawilarang menuliskan sejarah Aceh ke dalam beberapa pembabakan waktu. Adapaun pembabakan yang dituliskannya, dimulai dari Awal dari Sejarah Aceh, Perjanjian Inggris-Belanda 1824, Lobi Aceh di Pentas Internasional, Perang Aceh Pertama (1873), Perang Aceh Kedua (1874-1880), Perang Aceh Ketiga (1884-1896), Perang Aceh Keempat (1898-1910), Sistem Perang Hutan Sejak 1900, Perlawanan Kaum Nasionalis Aceh, Tsunami Pembukaan Pintu Harapan, dan Profil Partai Lokal di Aceh.

1. Awal dari Sejarah Aceh 
Kedaulatan Kerajaan Aceh sudah di akui oleh dunia internasional sebelum kehadiran kolonialisme bangsa Eropa di Asia Tenggara. Hal itu berdasarkan beberapa catatan sejarah, seperti di buku Larous Grand Dictionaire Universelle, La Grand Encylodedie (ensiklopedia Prancis) berbahasa Prancis, dan buku yang ditulis oleh Profesor M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia.

Di dalam Larous Grand Dictionaire Universelle dituliskan, “Aceh cukup dominan di Nusantara terutama pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17 (pada vol.I halaman 70, terbitan Paris 1886),” dan di dalam La Grand Encylodedie dituliskan, “Pada 1582, Kesultanan Aceh telah melebarkan sayap kekuasaannya di beberapa wilayah di Kepulauan Sunda Besar (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain) serta beberapa daerah di Semenanjung Malysia. Selain itu, Aceh juga menjalin hubungan niaga dengan berbagai negara di seputaran Asia Timur hingga ke Samudera Hindia, tepatnya dari Jepang hingga Arab Saudi.”... ”Sebagai negeri adi daya di Asia Tenggara, Kerajaan Aceh menyerang Portugis yang menjajah Malaka pada awal abad ke-16. Pada tahun 1586, Aceh dengan 500 kapal perang dan kekuatan 60.000 pasukan marinirnya menyerang Portugis di Malaka (vil.IV halaman 402, terbitan Prancis 1874). Bahkan, berdasarkan tulisan Profesor M.C. Ricklefs, Aceh di tempatkan sebagai suatu daerah andalan kekuatan, kaya dan maju.

Kedaulatan Kerajaan Aceh mulai terganggu sejak Belanda secara resmi mengirimkan maklumat dan menyatakan perang pada 26 Maret 1873. Penyerangan yang dilakukan ternyata sia-sia dan bahkan merugikan Negara Belanda karena telah kehilangan seorang pimpinan perang, yakni Jenderal Kohler yang tewas. Peristiwa tersebut menggemparkan Eropa bahkan beberapa negara di dunia, karena perang yang terjadi menjadi berita di halaman utama London Times (Edisi 22 April 1873) dan New York Times (Edisi 6 Mei 1873). Akan tetapi konflik tersebut belum berakhir, perang Aceh dan Belanda terus berlangsung hingga 69 tahun lamanya.

Seorang sejarawan dan wartawan Belanda, Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog (1969) menuliskan perang antara Belanda dan Aceh berlangsung hingga 80 tahun.

“Belanda belum pernah berperang begitu dahsyatnya menghadapi Aceh dibandingkan di tempat lain dalam sejarah Belanda. Selain cukup lama, yakni 80 tahun. Menelan lebih dari 100 ribu pasukan Belanda, perang Aceh merupakan perang militer yang tiada bandingnya dalam sejarah militernya. Bagi Belanda, perang Aceh adalah lebih banyak konflik senjata yang turut mempengaruhi politik nasional, kolonial, dan internasional kita.”

Sejarah dari Kerajaan Aceh dijelaskan Harry Kawilarang di dalam buku ini, berawal dari sebuah kerajaan bernama Lamuri yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1530). Perkembangan kerajaan yang dipimpinnya, membuat sultan mengubah nama kerajaan menjadi Aceh Darussalam dan berani melakukan penyerangan pada tahun 1524 ke wilayah Portugis di Pasai. Serangan yang dilakukan menewaskan Horge de Brito komandan pasukan dan berhasil mengusir Portugis dari Pasai. Sejak saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam berperan di Samudera Pasai dan terus memperluas kekuasaannya di Sumatera.

Kerajaan Aceh mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, yakni mulai tahun 1607-1636. Iskandar Muda berhasil melakukan perluasan kerajaan dan menguasai beberapa kerajaan yang ada di Semenanjung Malaya, seperti Pahang (1618), Kedah (1613 dan 1615) serta melakukan serangan ke Johor karena dianggap bersekutu dengan Malaka yang dikuasai Portugis, Satun Thailand Selatan dan Siak (Sekarang bernama Riau). Sehubungan dengan itu, Kerajaan Aceh juga melakukan hubungan dengan berbagai kerajaan besar, antara lain, Turki, Inggris, Belanda, dan Perancis.

Adanya hubungan antara Aceh dengan Turki Ottoman dibuktikan dengan diberikannya Meriam Lada Sicupak dan pengiriman beberpa ahli perang untuk membantu Kerajaan Aceh. Meriam tersebut diberikan kepada Kerajaan Aceh sebagai bukti bahwa utusan mereka telah sampai di Kerajaan Turki Ottoman dan persembahan lada yang dibawa telah diterima oleh sultan meskipun hanya tinggal secupak (sicupak). Sehubungan dengan itu, sultan Ottoman juga mengirimkan kepada sultan Aceh sebuah bintang jasa dan bendera yang menandakan lambang perlindungan bagi kerajaan bawahan Ottoman di luar negeri.

Hubungan Aceh dengan Inggris dimulai pada abad ke-16 dengan membangun kerja sama di bidang perdagangan. Ratu Elizabeth I mengirimkan utusan Sir Janes Lancaster ke Aceh untuk meminta izin berlabuh dan berdagang di wilayah Aceh. Permintaan tersebut kemudian dibalas oleh sultan Aceh melalui surat dengan tintas enas yang sampai saat ini disimpan di Inggris. Hubungan kerja sama kedua kerajaan ini berlangsung hingga masa Raja James I, bahkan Kerajaan Inggris pernah mengirimkan sebuah meriam sebagai hadia kepada sultan Aceh. Meriam tersebut kemudian dikenal dengan nama Meriam Raja James.

Jauh sebelum Belanda melakukan penyerangan ke Aceh, kedua kerajaan ini sempat melakukan hubungan kerja sama. Sultan Aceh pernah mengirimkan Tuanku Abdul Hamid ke Belanda sebagai utusan dalam menyambut surat permintaan bantuan Kerajaan Oranje yang dikirimkan oleh Pangeran Maurits kepada Kerajaan Aceh Darussalam. Hal itu kemudian didukung dengan adanya bukti prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhand (suami Ratu Juliana) di makam Tuanku Abdul Hamid yang meninggal karena sakit saat berada di Belanda.

Kerja sama Aceh dengan Prancis dibuktikan dengan diterimanya utusan Kerajaan Prancis yang membawa sebuah cermin yang berharga sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Denys Lombard dalam bukunya menulis bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di dalam istana.

Kejayaan yang diraih oleh Kerajaan Aceh di masa Sultan Iskandar Muda dengan menguasai semua pelabuhan penting di pantai barat dan pantai timur Sumatera, menjadikan kerajaan ini kaya raya, rakyat makmur, dan kemajuan ilmu pengetahuan yang menonjol di kawasan Asia Tenggara. Sehubungan dengan itu, wilayah kekuasaan yang mencapai kawasan Semenanjung Malaya, membuat kapal dagang asing dipaksa tunduk kepada Kerajaan Aceh apabila melakukan perdagangan di wilayah tersebut. 

Pada tahun 1636, Sultan Iskandar Muda kemudian wafat dan digantikan oleh adik angkatnya, yakni Sultan Iskandar Tsani. Hanya memimpin beberapa tahun, Sultan Iskandar Tsani pun mangkat pada tahun 1641. Hal ini menyebabkan kekuatan sultan di kawasan Selat Malaka memudar dan membuat kawasan tersebut mulai dikuasai oleh Belanda dan Portugis. Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Aceh perlahan semakin menciut.

Pasca magkatnya Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh memasuki era kepemimpinan ratu (sultanah) hingga sampai 60 tahun lamanya. Adapun sultanah yang pernah memimpin Kerajaan Aceh di antaranya, Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688), dan Sri Ratu Zinatuddin Kamalat Syah (1688-1699). Selama kepemimpinan sultanah, kekuasaan Kerajaan Aceh semakin menciut dan hanya berfungsi sebagai lambang. Kepemimpinan kerajaan tetap diakui, namun kekuasaannya hanya di pelabuhan, ibu kota, dan sekitarnya, sedangkan posisi imam, ulee balang, mentroe (menteri) dan pejabat pemerintahan lainnya telah menjadi kepala wilayah turun-temurun. Bahkan, perubahan kepemimpinan yang mulai dikuasai oleh Dinasti Arab tahun 1699 dan Dinasti Bugis tahun 1727, tidak memberikan perubahan atau memulihkan kemakmuran bagi Kerajaan Aceh. 

Sengketa perebutan kekuasaan pada abad ke-18 telah menyebabkan menurunnya kredibilitas dan wibawa kepemimpinan Aceh. Kemelut antara Sultan Jauhar al-Alam Shah (1795-1823) dengan ulee balang terkait perdagangan terpusat di pelabuhan dan, perdagangan bebas kemudian dimanfaatkan oleh Said Husain, seorang pedagang warga Inggris di Penang yang juga keturunan keluarga raja Aceh yang dibuang. Dia mendekati ulee balang untuk menggusur Sultan Jauhar dan menempatkan putranya sebagai sultan yang bergelar Saif al-Alam Shah. Akan tetapi konflik ini tetap berlanjut hingga terjadi perang laut pada tahun 1817 antara pro kepemimpinan Sultan Jauhar dan Saif al-Alam Shah. Situasi kemudian semakin diperkacau dengan terlibatnya bangsa-bangsa Eropa seperti Inggri dan Belanda yang menganggap perang laut antara kedua sultan tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan dan mengganggu jalur perdagangan.

Pada tahun 1820, Sultan Jauhar berhasil mengejar dan mengusir Saif al-Alam Shah dari Aceh melalui bantuan kapal perang Inggris. Akan tetapi di lain pihak, panglima polem tetap menentang kepemimpinan Sultan Jauhar yang telah dibantu oleh Inggris melalui perjanjian di Pidie, pada 22 April 1819 melalui Kapten Coombs. Sejak saat itu, Sultan Jauhar yang mangkat pada Desember 1823, tidak sempat kembali memijakkan kakinya di ibu kota kerajaan.

Sumber:
Kaw, ilarangHarry. 2010. Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Cetakan Ketiga). Banda Aceh: Bandar Publishing.

Propaganda

01:48:00 0

Propaganda

Karya: Mhd. Saifullah
Hari itu, kalender tepat
menunjukkan tanggal 26 Juni.
Di Hari Minggu,
tersiar kabar duka menyambut pagi.
Peristiwa berdarah menggema
di antara takbir sunyi
menyambut hari nan fitri.
Tentang hilangnya nyawa.
Gugurnya prajurit Mapolda.

Berselang. Berita tersiar di televisi
memberi bayang. Mengabari tayangan kebiri.
Dengan lantang. Salah satu media negeri.
"Itu perbuatan teroris".
"Dibalik penyerangan ada ISIS."

Isu dibuka, dibangunlah dinamika
yang belum tentu itu sebuah fakta.
Ternodalah Islam di hari raya
oleh orang-orang berkuasa dibalik media.

Sebuah ungkapan diberi,
ketegasan dari salah seorang anggota Polri.
"Tidak ada sangkut paut teroris,
apalagi bersangkut dengan ISIS."

Apa yang terjadi?
Mengapa bisa begini?
Mengapa setiap kekerasan
selalu diadukan antara Islam dan Polisi?
Apalagi prajurit yang gugur adalah nasrani.

Terlalu mudah membangun opsi
melontarkan isu ingin memecah belah negeri.
Berita besar dalam mengabari
namun kurang dalam akurasi.
Seperti unsur disengaja
agar saling hantam antar umat beragama.

Negeri kita sedang diganggu
oleh orang-orang gila.
Orang-orang yang tidak suka kehidupan damai,
rukun, dan sejahtera.

Yakinlah, skenario serupa akan ada,
dengan mudos yang sama.
Medan
Kamis, 29 Juni 2017