Negeri Minyak

Monday, December 11, 2017 0

Negeri Minyak 

Karya: Mhd. Saifullah 
Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Keluar satu, masuk satu.
Kendaraan belajar mengantri.
Tersusun rapi,
bagaikan ular berbaring menepi.
Menjadi hiburan tak berarti.
Pandangan tak begitu peduli,
ini sudah sering terjadi.

Keluar dua, masuk dua.
Kendaraan mengantri begitu lama.
Perut kendaraan bervariasi.
Sesuai keadaan ekonomi
dan dompet saat ini.

Keluar tiga, masuk tiga.
Pengendara semakin resah.
BBM sedang berganti.
Baju lama tersisi,
baju baru melambung tinggi.

Rakyat harus berpikir.
Membeli atau berhenti
Mengingat negeri
penghasil minyak bumi.
Tetapi fakta minyak import lagi.

Keluar empat, masuk empat.
Jirigen ikutan belajar mengantri.
Melihat harga begitu tinggi.
Timbun menimbun, memperkaya diri.
Yang penting punya sendiri terisi.

Masuk lima, keluar semua.
Antrian mulai tiada.
SPBU mulai lelah.
Sebab tadi berubah, esok berduka.

Hahaha.
Negeri kaya minyak menderita.

Gampong Lamnyong, Banda Aceh
23 November 2014

Berputar

Saturday, December 09, 2017 0

Berputar

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Berputar-putar
roda terus berputar.
Berputar-putar
waktu terus berjalan.
Berputar-putar
hari terus berlalu,
usia semakin mendekati mati.

Berputar-putar
roda kehidupan terus berputar.
Berputar-putar
perjalanan masih panjang.
Berputar-putar
semua saling berputar,
dan semua harus berputar.
Agar sesuai dalam kehidupan.

Kopelma Darussalam, Banda Aceh 
22 November 2014

Nyanyian Malam

Friday, December 08, 2017 0

Nyanyian Malam

Ilustrasi Nyanyian Malam. @Doc. Mhd. Saifullah 
Karya: Mhd. Saifullah
Gemuruh tiada berkumandang,
langit cerah malam ini.
Terdengar suara bintang
bermain riang.
Senyuman bulan juga semakin lebar.
Karna malam, tanpa berteman awan.

Semakin terasa nyanyian malam.
Semakin tercipta alunan gembira.
Cicak-cicak ikut tertawa,
melihat katak mulai berduka.
Seakan maut selalu menghantui jiwa.

Nyanyian malam membawa duka.
Sang katak menangis,
sambil mendurja.
Melihat sang ular bermain lidah,
mendengar gendang perut yang susah.

Nyanyian bencana berduka.
Langit cerah,
satu dalam suka dan duka.

Terbentuk suara berbeda-beda.
Terdengar bagaikan para nada.

Suara alam sungguh indah.
Nyanyian malam itulah dia.
Sampai aku menghantar mata.
Dan bermimpi hingga nirwana.

Gampong Laksana, Banda Aceh
20 November 2014

Awal

Wednesday, December 06, 2017 0

Awal

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Awalku bertemu denganmu,
Aku bagaikan patung.
Diam, membisu,
seakan tubuhku
terpaku oleh waktu.

Saat suara-suara
merayap ditelingaku,
Musim semi melahirkan
taman bunga di hatiku.
Jantungku menggebu-gebu,
terpacu.

Aku ling-lung,
lupa diri tidak menentu.
Aku tak mengerti
apa yang terjadi.
Rasa apa ini.

Aku semakin bingung,
Mengapa membatu
dihadapan seorang wanita.

Dia telah mengkudeta hatiku.
Dia merubahnya,
merubah menjadi taman bunga.

Sungguh tidak ku sangka.
Apakah ini cinta?
Cinta diawal melihat
dan mendengar suaranya.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
12 November 2014

Ternodai

Tuesday, December 05, 2017 0

Ternodai 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Inilah gambaran nyata.
Hak-hak mulai dilangkahi.
Menyulap pasti menjadi ilusi.
Mensetipoi kebaikan dan kebenaran.

Media-media saling berlomba
membumingkan kebodohan.
Bukan berita fakta,
tetapi lebih pro penguasa.

Kebenaran telah tersetipoi.
Pembodohan telah menodai
orang-orang tak bersalah.

Di dalam sana.
Para politisi menari-nari.
Mereka bukan berdiskusi,
tetapi tertawa gembira di kebodohan rakyat.

Berita telah berubah
membuta mata hapuskan masa.
Mensetipoi kebenaran,
mengelabuhi keadilan.

Sungguh, sungguh dan sungguh.
Kita telah dinodai.
Bahkan dilecehkan.
Dengan orang-orang
pengambil untung kebenaran.

Kajhu, Aceh Besar
9 November 2014

Mau Ke Mana

Thursday, November 30, 2017 0

Mau Ke Mana 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Mahasiswa adalah kita.
Jiwa pemuda lagi bijaksana.
Jiwa yang dapat merubah bangsa.

Hey hey hey.
Jangan cuma diam aja.
Begerak dan hidupkanlah semua.
Aktifkanlah masa muda.
Kita adalah mahasiswa.

Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Banggakanlah jiwa kita.
Jiwa seorang mahasiswa.
Tuntunan masyarakat semua.

Ingat tridarma perguruan tinggi.
Bagaikan modal tiada henti.
Merupakan sebuah janji
dan menjadi ideologi.
Karena hanya kita,
yang dapat merubah negeri ini.

Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Jiwa pemberani dan pantang menyerah.
Tak ada kata menyerah
untuk membelah rakyat yang lemah.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh
September 2014

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949 (Bagian 2)

Tuesday, November 28, 2017 0
Resume Buku

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh,
1945-1949 (Bagian 2)

Buku Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul: 
Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949
Penulis: 
Sudirman
Penerbit: 
BPSNT Banda Aceh
Tahun terbit: 
2012 (Cetakan Pertama)
Tebal/jumlah halaman: 
153 Halaman

Resensi Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949:

3. Peranan Media Massa Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Aceh
3.1 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Di Aceh
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, bukanlah akhir perjuangan bangsa ini. Sikap ketidakpuasan Belanda, membuatnya berusaha ingin menguasai kembali Indonesia dengan melancarkan agresi militer. Melalui agresi I dan II, Belanda mencoba menceraiberai negeri ini dalam bentuk beberapa negara boneka. Satu-satunya daerah dalam wilayah Negara Republik Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan yang tidak pernah dikuasai lagi oleh tentara Belanda sejak tahun 1942 adalah Aceh. Hal ini pula yang menjadi modal utama utusan Indonesia (Bung Hatta) dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, untuk dijadikan sebagai alasan bahwa Negara Republik Indonesia masih memiliki wilayah yang bebas dari penguasaan Belanda. Sedangkan kota-kota di Sumatera Timur yang menjadi basis pertahanan Indonesia, sudah dikuasai oleh Belanda.

Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, menyebabkan kekuasaan Dewan Pertahanan Daerah diserahkan kepada gubernur militer, pada 20 Desember, di tahun yang sama. Aceh merupakan daerah pertahanan yang potensial untuk melakukan konsolidasi dan persiapan menyerang agresor Belanda. Semua divisi dan satuan, dipersiapkan serta dikerahkan ke perbatasan Aceh-Sumatera Utara, seperti di Langkat, Tanah Karo, dan Dairi. Sejalan dengan itu, dilakukan pula pengungsian bahan material dan personil militer ke Burni Bius, tempat yang dipandang strategis untuk perjuangan, yaitu Kota Takengon, Aceh Tengah.

Pengungsian menyebabkan situasi dan posisi komandan berada di pedalaman, sementara satuan-satuan bawahan berada terpencar dalam hutan belantara. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu alat komunikasi yang dianggap begitu penting untuk melakukan kontak, penyusunan strategi perang, dan menentukan sasaran penyerangan. Alat komunikasi yang dibutuhkan tentu harus sesuai dengan kondisi alam dan medan juang, sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat. Jenis alat yang dimaksud adalah pemancar radio. Siaran radio dapat menjangkau batas-batas yang tidak mungkin ditempuh dengan fisik manusia maupun alat fisik lainnya. Selain itu, siaran radio juga dapat menembus blokade-blokade pasukan musuh dan menangkis propaganda-propaganda yang merugikan perjuangan Indonesia.

3.2 Peranan Radio Pada Masa Revolusi Kemerdekaan 
Satu di antara modal perjuangan Bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan adalah alat komunikasi, yaitu radio. Radio memegang peranan penting dalam menyebarluaskan informasi, melalui radio berita dapat mencapai sasarannya dengan mudah. Begitu besar manfaat siaran radio, terutama oleh Bangsa Indonesia, sebab berita proklamasi kemerdekaan dikumandangkan melalui radio. Demikian juga pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ketika Belanda memblokade dan mengepung dengan aksi militernya, upaya pencarian dukungan dari luar negeri dapat diperoleh melalui siaran radio.

Begitu pentingnya radio sehingga dianggap perlu membentuk suatu organisasi yang ideal dan efektif. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pada 10 November 1945, para pemimpin radio dari seluruh Jawa mengadakan pertemuan dan membicarakan persoalan tersebut dengan pemimpin negara, Presiden Soekarno, di Jakarta. Pertemuan itu menuntut kepada Jepang untuk menyerahkan semua studio radio beserta pemancar dan perlengkapannya kepada Bangsa Indonesia. Pada hari terakhir pertemuan itu, tepatnya pukul 24.00 WIB, dicapai suatu kesepakatan untuk mendirikan satu organisasi radio siaran dan menentukan tindakan-tindakan yang akan diambil oleh daerah-daerah. Berdasarkan kesepakatan, tanggal 11 September 1945, ditetapkan menjadi Hari Radio Republik Indonesia (RRI).

3.2.1 Radio Kutaraja 
Sejak awal perang kemerdekaan (1946), Aceh memiliki sebuah pemancar radio yang ditempatkan di Kutaraja yang dinamakan Radio Republik Indonesia Kutaraja. Cikal bakal radio tersebut merupakan sisa-sisa radio Jepang, Hodoka, yang dihancurkan pada saat Jepang kalah dengan Sekutu. Mengingat pentingnya alat komunikasi, para pemuda yang dipimpin Said Ahmad Dahlan beserta Tuanku Mahmud, T Ali Basya Talsya, Abdul Aziz, Ghazali Yunus, dan Oesman Raliby, berusaha mencari kekurangan peralatan radio di gudang-gudang yang masih dikuasai Jepang, seperti daerah Blang Bintang dan Lhoknga serta memasuki kampung-kampung.

Pemancar radio berhasil dirakit kembali dan mulai mengudara pada 11 Mei 1946, berkekuatan 25 watt dan dipancarkan pada gelombang 68-73 meter, dengan jarak jangkauan siaran hanya seputaran Kutaraja. Pada tahun 1947, perluasan jarak jangkauan siaran dilakukan setelah mendapat bantuan dari W Schulz dan Hojok Tjam. Radio Kutaraja yang kemudian berganti nama menjadi Pemantjar Radio Atjeh, memiliki kekuatan 100 watt, mengudara melalui gelombang 33 meter, dan jangkauan siarannya meluas hingga ke Kota Medan dan Bukittinggi. Dengan bantuan relly di Bukittinggi, berita kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh tahun 1948, dapat tersebar luas ke seluruh tanah air.

Perkembangan perluasan jarak jangkauan tidak hanya sampai di situ, pada 9 April 1948, Radio Atjeh menjadi 325 watt dan mengudara melalui gelombang 33,5 meter, dan sudah dapat diterima siarannya ke luar negeri. Ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersidang membicarakan masalah pertikaian antara Negara Republik Indonesia dengan Belanda, RRI Aceh berulang kali mengadakan siaran dengan materi mengenai keinginan dan tekad serta sikap Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai mosi dan resolusi disiarkan melalui radio ini, terutama yang berhubungan dengan kepentingan perjuangan Indonesia, sehingga berita tersebut dapat dijadikan bahan yang berguna untuk dikemukakan dalam perdebatan-perdebatan yang diadakan Dewan Keamanan PBB.

Pemancar RRI Aceh juga dipergunakan oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang berkedudukan di Sumatera Tengah. Penggunaan yang dimaksud, seperti mengirim berita-berita, menyiarkan pengumuman-pengumuman, dan instruksi-instruksi, baik yang ditujukan kepada tokoh-tokoh Indonesia di dalam negeri maupun Kepala Perwakilan Indonesia di luar negeri yang ada di India dan di PBB.

Adapun bahasa yang digunakan oleh RRI Aceh pada waktu itu selain Bahasa Indonesia, juga Bahasa Inggris dan Belanda. Pejuang yang aktif dalam urusan penyiaran antara lain, T Junaidi, Armin Lubis, dan Rajulis, mereka berasal dari Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera. 

3.2.2 Radio Rimba Raya
Agresi Militer II yang dilakukan Belanda berserta merebaknya propaganda-propaganda dan berita-berita kebohongan, begitu mengganggu semangat perjuangan Bangsa Indonesia pada saat itu. Amran Zamzami menyebutkan, Belanda  mempunyai corong-corong informasi media massa sebagai alat propaganda-propaganda dalam perang urat saraf.

Berdasarkan kejadian tersebut, pejuang Indonesia berusaha mendirikan Balai Penerangan dan Penyelidikan pada 17 Agustus 1946 di Medan, sebagai untuk menyebarluaskan informasi dan menangkal upaya Belanda menjatuhkan semangat perjuangan Bangsa Indonesia. Bahkan sebelumnya, Balai Penerangan dan Penyelidikan yang sama juga didirikan di Kutaraja pada 1 Februari 1946, yang diketuai oleh Said Ahmad Dahlan. 

Balai Penerangan itu kemudian secara resmi menjadi Jawatan Penerangan Keresidenan Aceh. Tugasnya tidak jauh berbeda dari lembaga sebelumnya, yakni menangkal propaganda musuh, juga melakukan penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat, termasuk mengelola siaran RRI Aceh. Keberadaan radio di Balai Penerangan Jawatan, ternyata belum mampu menjawab tantangan-tantangan musuh, berupa siaran-siaran radio mereka yang merubah opini masyarakat bahkan dunia tentang Indonesia. Dalam menjawab tantangan itu, masyarakat Indonesia di Aceh terdorong untuk menambah jangkauan pemancar radio, yang kemudian didapatkan dari Malaysia setelah diselundupkan ke Aceh melalui Tanjungpura.

Penyelundupan pemancar radio dilakukan oleh para pejuang dengan menembus blokade Belanda yang berjaga-jaga di perairan Selat Malaka. Akibat kejadian itu, 12 orang pejuang dari Batalyon B di bawah pimpinan Nip Karim gugur karena berhasil ditembak pasukan Belanda. Untuk dapat melakukan penyelundupan, Husin Yusuf meminta Mayor John Lie, seorang periwa Angkatan Laut Republik Indonesia, membantu proses penyelundupan tersebut. Bersama dengan 24 anggota TNI dari Divisi X, John Lie, berhasil menyelundupkan alat pemancar radio sampai ke Aceh, dengan menggunakan speed boat. 

Pemancar radio yang berhasil diselundupkan kemudian dipasang di Kreung Simpo, 19 Km dari Kota Bireuen, sedangkan studionya dipasang di Kota Bireuen. Lokasi itu dipilih untuk keamanan pemancar tersebut. Adapun pemasangan pemancar dilakukan oleh W Schulz dan dibantu Letnan Sayuddin Thalib, Letnan R Abdullah, Letnan Syarifuddin, dan Ramli Melayu.

Pemancar radio kemudian dipindahkan ke Kutaraja, atas permintaan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, Teungku Muhammad Daud Beureueh. Pemindahan itu dilakukan untuk memudahkan gubernur militer menyampaikan kebijakan politik demi perjuangan dan akan memudahkan pula mengetahui berita-berita perjuangan. Hal ini dikarenakan kemampuan jangkauan pemancar hingga ke luar negeri. 

Pemindahan sempat beberapa kali dilakukan. Setelah di Kutaraja, pemancar dipindahkan ke Cot Geu, kawasan kaki Gunung Seulawah. Terakhir, pascaagresimiliter II pecah, 20 Desember 1948, pemancar Radio Rimba Raya dipindahkan ke wilayah pegunungan Aceh Tengah, yakni ke Ronga-Ronga di Rimba Raya. Saat di Ronga-Ronga, siaran pertama yang dipancarkan adalah instruksi gubernur militer mengenai pemberlakuan mobilisasi umum terhadap seluruh penduduk yang sudah dewasa. 

Lokasi Radio Rimba Raya terletak di kawasan Ronga-Ronga, yang daerahnya rimbun dengan pepohonan lebat serta huta belantara. Sebelum dipindahkan ke lokasi tersebut, pemancar rencananya dibawa ke Burni Bius dekat Takengon, namun dikarenakan keamanan sehingga dibatalkan.

Penyiaran Radio Rimba Raya menggunakan calling Sumatera, Radio Republik Indonesia yang mengudara pada gelombang 19 meter dan Suara Indonesia Merdeka pada gelombang pemancar 25 meter. Untuk signal calling RRI Aceh, dipakai gelombang 61 meter, sehingga di luar negeri dapat diterima siarannya. Personil yang bekerja, terdiri atas  tenaga pemimpin, penyiar, teknisi, tenaga administrasi, dan sopir.

Waktu mengudara radio ini mulai pukul 16.00 WIB hingga 24.00 WIB. Dalam pembagiannya waktu siaran, 16.00-18.00 WIB, mengadakan hubungan telegraf dengan stasiun pemancar-pemancar grilia di dalam maupun di luar kota.  Pukul 19.00-21.00 WIB, mengenai siaran dalam negeri untuk ke masyarakat; pukul 21.00-23.00 WIB,  siaran khusus ke luar negeri; dan pukul 23.00-24.00 WIB,  siaran khusus ke garis depan pejuangan. Radio Rimba Raya hampir setiap hari melakukan hubungan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, seperti di New Delhi serta berita-beritanya sering dikutip oleh All Radio India. 

Ketika Yogyakarta yang merupakan ibu kota Indonesia pada saat itu, dikuasai oleh Belanda, pada 20 Desember 1948. Radio Rimba Raya tampil sebagai modal perjuangan yang dapat membantah semua berita propaganda yang dilancarkan Belanda. Dalam  situasi tersebut, radio tersebut memainkan perannya dalam upaya mengobarkan dan membangkitkan semangat perjuangan, terutama bagi pejuang yang ada di garis depan. Perjuangan itu menempatkan Radio Rimba Raya sebagai alat perjuangan yang berfungsi mengkater propaganda-propaganda siaran berita radio Belanda. Selain itu, Rimba Raya juga digunakan sebagai alat komunikasi dengan tokoh-tokoh pejuang militer dan diplomasi, seperti dengan Jenderal Sudirman dan TB Simatupang di Jawa. 

Saat berlangsungnya Konferensi Asia yang membahas tentang Indonesia, pada 20-23 Januari 1949 di New Delhi, Radio Rimba Raya bekerja ekstra dengan menambah jam siaran. Berita-berita yang disampaikan berkenaan dengan situasi politik dan ekonomi Indonesia kepada wakil-wakil bangsa ini yang hadir pada konferensi tersebut. Sedangkan selama konferensi berlangsung, siaran beritanya dijadikan bahan masukan bagi pejuang dan rakyat Indonesia yang ada di dalam negeri. 
Bersambung ke . . . (Bagian 3)

Senja Di Ufuk Barat Pulau Sumatera

Friday, November 24, 2017 0

Senja Di Ufuk Barat Pulau Sumatera 

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Jari ini lelah untuk bercerita.
Telah terbungkam mata
ini untuk berbicara.

Apakah engkau tahu?
Atau tak pernah mau tahu?

Langit tersenyum,
namun berapi-api.
Tanah subur,
namun tidak terkendali.

Mengalir segar
air berwarna merah.
Menguning ladang,
panen tak kunjung tiba.

Senja di ufuk barat
kini hampir tiba.
Kelelahan sehari akan terbayar.
Harapan esok fajar lebih indah,
karna senja akan menutup mata.
Setelah sehari resah dan lelah.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Presiden Baru

Wednesday, November 22, 2017 0

Presiden Baru 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau terpilih menjadi pemimpin bangsa.
Dipercaya memegang amanah.
Jangan kau coba menghianati
ataupun berlari.
Dari janji,
yang kau obral selama ini.

Wahai presiden baru ku.
Lihat rakyatmu.
Di ujung sana,
masih menderita.
Di ujung sini,
masih menanti.

Wahai presiden baru ku.
Dekaplah rakyatmu.

Satukan kami.
Jangan kau hancurkan demi kepentingan.
Persatukan kami.
Jangan kau tindas demi keamanan.

Jagalah kami wahai presiden baru ku.
Jangan dustai janjimu.
Pedulikan kami wahai presiden baru ku.
Jangan sekali kali kau acuhkan rakyatmu.

Wahai presiden baru ku.
Dengarkan seruan suara rakyatmu.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949

Sunday, November 19, 2017 0
Resume Buku

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh,
1945-1949 (Bagian 1)

Buku Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul: 
Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949
Penulis: 
Sudirman
Penerbit: 
BPSNT Banda Aceh
Tahun terbit: 
2012 (Cetakan Pertama)
Tebal/jumlah halaman: 
153 Halaman

Resensi Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949:

1. Pendahuluan
Agresi Militer I dan II, yang dilakukan Belanda, menyebabkan hampir seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali daerah Aceh, dapat dikuasai oleh neraga yang berjulukan kincir angin tersebut. Daerah itu kemudian menjadi modal dasar yang kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan. Salah satu yang dimiliki dan digunakan masyarakat Aceh sebagai modal perjuangan adalah media massa.

Media massa merupakan alat komunikasi yang begitu  berpengaruh dalam membentuk opini masyarakat, baik pada masa-masa damai maupun masa tidak damai. Melalui media massa, pesan atau ide dengan mudah dapat disampaikan kepada khalayak ramai hingga ke daerah yang tidak mungkin dijangkau. Media massa mencangkup seluruh alat komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, maupun hasil-hasil penerbitan yang memenuhi syarat untuk disebarluaskan, terbit secara periodik, bersifat umum, dan aktual.

Media massa merupakan kekuatan sosial politik yang ampuh dan mempunyai hubungan rangkap dalam rangka membangkitkan pendapat umum atau opini publik di masyarakat. Media massa bukan saja memantulkan atau merefleksikan pendapat-pendapat umum yang telah ada dalam masyarakat, tetapi juga menimbulkan, menciptakan, menempa, dan memupuk sendiri atau opini tertentu melalui pemberitaan-pemberitaan. Oleh karena itu, pada rentang waktu 1945-1949, media massa memiliki peranan yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan.

2. Perkembangan Media Massa Di Aceh
2.1 Radio
2.1.1 Zaman Hindia Belanda 
Siaran radio pertama di Indonesia dimulai dengan berdirinya Bataviasche Radio Vereniging, pada 16 Juni 1925. Kemudian, muncul beberapa siaran lainnya, seperti Nederlandsche Indische Omroep Mij yang merupakan radio siaran terbesar dan terlengkap, karena mendapat bantuan penuh dari Pemerintah Hindia Belanda, terdapat di Jakarta, Bandung, dan Medan. Beberapa badan siaran radio hadir di Surakarta bernama Solosche Radio Vereniging dan Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep; di Yogyakarta Mataramsche Vereniging Voor Radio Omroep; di Bandung Vereniging Voor Oosterse Radio Luisteraars; di Surabaya Chineese en Inheemsche Radio Luistraas; di Madiun Erste Madiunse Radio Omroep; di Medan Meyer Omroep Voor Allen; serta Radio Semarang.

Seluruh radio yang ada pada masa itu, sangat menguntungkan Pemerintah Hindia Belanda, karena program-programnya berorientasi bagi kepentingan pemerintah, baik menyangkut politik maupun sosial budaya. Media komunikasi radio digunakan untuk memperoleh informasi mengenai situasi daerah jajahan, sehingga dengan itu dapat memantapkan kekuasaan mereka di Indonesia.

Mengantisipasi pesatnya perkembangan radio siaran milik Belanda, pada 29 Maret 1937, para pejuang dari anggota volksraad melakukan pertemuan untuk melahirkan radio tandingan milik Pemerintah Hindia Belanda. Pertemuan itu dipelopori oleh, di antaranya M Sutarjo Kartohadikusumo dan Sarlito Mangunkusumo, yang kemudian melahirkan sebuah badan bernama Perserikatan Perkumpulan Radio Ketimuran.

Perkumpulan itu bertujuan semata-mata untuk memajukan kesenian dan kebudayaan daerah yang telah terancam akibat perkembangan radio siaran Pemerintah Kolonial Belanda. Selain itu, tujuan lainnya untuk memajukan masyarkat Indonesia, baik rohani maupun jasmani. Radio perkumpula yang berdiri tanpa bantuan dari pemerintah tersebut baru dapat dijalankan pada  1 November 1940.

2.1.2 Zaman Pendudukan Jepang
Berkat bantuan radio sebagai alat propaganda, pada 8 Maret 1942, Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Radio siaran yang saat itu berstatus swasta diambil alih dan dikuasai seluruhnya, sedangkan radio-radio rakyat disegel. Siaran radio ditangani pusat siaran radio di Jakarta oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyuku. Cabang-cabang daerah seperti di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang, dinamakan Hoso Kyuku.

Semua siaran radio tersebut diarahakan untuk kepentingan Pemerintahan Jepang, selain dari siaran itu tidak boleh didengarkan, termasuk siaran dari luar negeri yang dikhawatirkan dapat melunturkan kepercayaan terhadap pemerintah. Oleh karena itu, berita-berita yang disiarkan hanya untuk membangkitkan semangat rakyat dalam membantu tentara Jepang melawan Sekutu di seluruh Asia. Jepang selalu bersemboyan Asia Timur Raya, yang dalam artian bahwa Asia adalah untuk bangsa Asia. 

2.2 Media Cetak
2.2.1 Zaman Hindia Belanda 
Perkembangan persuratkabaran di Aceh baru masuk sekitar akhir abad ke-19, pada masa Pemerintahan Belanda. Surat-surat kabar yang diterbitkan pada masa itu ada yang menggunakan bahasa pengantar dalam Bahasa Belanda, Melayu, Cina, dan ada pula yang mempergunakan bahasa daerah. 

Pers berbahasa Melayu mulai muncul tahun 1902 M, di Medan dengan nama Pertja Timoer, yang dicetak dipercetakan milik orang Belanda bernama J Hellerman. Terbit setiap Senin dan Kamis dengan Pimpinan Redaksi, Mangaradja Salembuwe.

Di Aceh, surat kabar diterbitkan ada yang berbahasa Belanda dan adapula berbahasa Melayu. Surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Aceh, yakni Pemberita Atjeh di Kutaraja. Surat kabar yang berada di bawah Pimpinan Dja Endar Moeda, digolongkan sebagai surat kabar yang progresif di Aceh. 

Pada tahun 1907 M, di Kutaraja berdiri sebuah surat kabar bernama Sinar Atjeh yang terbit setiap Senin dan Kamis. Surat kabar ini diterbitkan oleh perusahaan Sinar Atjeh Companie yang berkantor di Peunayong No 59, Kutaraja. Percetakan yang digunakan untuk mencetak, yakni dari Deli Courant di Kutaraja, Atjeh Drukkerij en Boekhandel fillial. Limboen Hwat, sebagai pimpinan redaksi, sedangkan Lim Boen San, sebagai pimpinan Bidang Administrasi dan Tata Usaha. Sinar Atjeh terbit tiga sampai empat halaman, dengan lebih banyak memuat iklan dari pengusaha dan mengenai ulasan politik, para penulis banyak menggunakan nama samaran, seperti “Aron Toetjoh”. Harga langganan surat kabar sebesar f.1.50 untuk pertiga bulan, f.3.00 perenambulan, dan untuk Kutaraja harga perbulan f.0.50. Selain itu, surat kabar ini banyak pula dikirim hingga ke Nederland.

Surat kabar berbahasa Melayu lainnya, didirikan tahun 1928 di Aceh, bernama Soera Atjeh di bawah asuhan TM Usman diterbitkan di Kota Sigli. Pada tahun 1932, surat kabar yang diterbitkan dua minggu sekali itu, pindah ke Kutaraja dan sejak tahun 1933, diterbitkan oleh organisasi Nadil Islahil Islamy (Organisasi Perbaikan Islam) yang juga diketuai TM Usman. Selain TM Usman, redaktur surat kabar ditambah lagi dengan Mohd Hasbi.

Perkembangan pers setelah berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional menduduki tempat yang lebih penting dari pers Eropa. Pers digunakan sebagai alat komunikasi dengan para anggota dan juga untuk menyerang kebijakan politik penjajah Belanda.

Di Aceh, selain surat kabar Soera Atjeh, pada masa-masa pergerakan juga dikenal dua surat kabar milik Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Oetoesan Rakjat dan Batterij. Selain itu, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), juga menerbitkan majalah bulanan bernama Penjoeloeh, yang dicetak di Medan, dengan Teungku Ismail Yakoeb sebagai pimpinan redaksi. Majalah Penjoeloeh bertahan hingga masuknya Jepang di Aceh, tahun 1942.

2.2.2 Zaman Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang di Aceh, pemerintah hanya menerbitkan surat kabar yang ada di bawah pengawasan Sinbun Bun bagian dari badan bernama Hodoka, yaitu Atjeh Sinbun. Surat kabar itu dicetak dipercetakan Atjeh Drukkerij, peninggalan milik kolonial Belanda di Aceh. Atjeh Sinbun dipimpin oleh Abdul Wahid R, sebagai direktur atau pimpinan umum, sedangkan para jurnalisnya, yakni Ismail Yakoeb, Ali Hasjmy, Amelz, Abdullah Arif, dan Talsya, yang kemudian dikenal sebagi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan di Aceh.

Melalui Atjeh Sinbun, para pejuang di Aceh berusaha memasukkan ide-ide perjuangan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sehingga ada terjadi pertentangan-pertentangan dalam penerbitan surat kabar antara pihak Pemerintah Jepang dengan para pemimpin rakyat di surat kabar Atjeh Sinbun. Pemerintah Jepang menyadari bahwa para redaktur surat kabar dari kalangan masyarakat selalu berusaha menggunakan Atjeh Sinbun sebagai alat perjuangan. Oleh karena itu, untuk mengawasinya, pemerintah menempatkan seorang petugas Jepang dalam proses penerbitan surat kabar. Jika sedikit saja ada unsur-unsur yang dianggap merusak kewibawaan pemerintahan pada penerbitan surat kabar, maka para redaktur akan diberikan sanksi. Dalam banyak kasus, tindakan yang diberikan oleh pemerintah kepada redaktur berupa pemindahan dari staf-staf redaksi Atjeh Sinbun ke tempat lain, bahkan bisa meringkuk dalam tahanan Kempetai Jepang.

Pada tahun 1943, Ismail Yakoeb diberikan penindakan atas tulisannya di Atjeh Sinbun yang dianggap oleh Pemerintah Jepang sebgai suatu usaha merong-rong kewibawaan pemerintah dengan sengaja. Dianggap membahayakan, Ismail Yakoeb dikeluarkan dari pemimpin redaksi Atjeh Sinbun. Penindakan di kalangan para redaktur kembali dilakukan Jepang dengan mengeluarkan Amelz dari redaksi Atjeh Sinbun. Berikutnya disusul lagi oleh Ibunu Rasyid dan AG Mutyara.

Surat kabar Atjeh Sinbun terakhir kali terbit pada 15 Agustus 1945. Akan tetapi, terbitan itu kemudian dibatalkan karena pejabat Pemerintahan Jepang memberitahu Ali Hasjmy bahwa Jepang telah kalah dalam peperangan melawan tentara Sekutu. Dengan demikian, berakhirlah riwayat surat kabar Atjeh Sinbun di Aceh.

Semangat Permata Biru

Thursday, November 16, 2017 0

Semangat Permata Biru

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Di kala ku tadah langit
dalam hamparan lautan biru.
Ombak mengulum pasir, 
angin bertiup bersahutan.
Ku pandang seonggok biru menyilau.
Seperti permata berharga mulia.
Seakan tertarik untuk kutuju.

Ku berdiri melangkah maju. 
Keyakinan membelah lautan 
dan ombak yang coba menghantam. 
Ku kuatkan kuda-kuda. 
Walau harus terjatuh dan menjauh dari nyata.
Tapi aku takan menyerah. 
Walau nyawa taruhannya.
Berakit-rakit ke hulu, 
berenang-renang ke tepian. 
Bersakit-sakit dahulu, 
bersenang-senang kemudian.

Aku yakin bisa. 
Aku yakin mampu. 
Pulau biru gampang bagiku. 
Karang-karang hancurkan seperti abu,
bila mencoba menghalangiku. 

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Banda Aceh

Sunday, November 12, 2017 0

Banda Aceh

Acara Karnaval Di Kota Banda Aech. @Doc. Mhd. Saifullh. 
Karya: Mhd. Saifullah
Menikmati suasana yang asri.
Damai bagaikan pasir yang putih.
Di ujung Sumatera kota tercinta,
Banda Aceh namanya.

Banda Aceh
Kota tercinta.
Banda Aceh
Kota penuh sejarah.
Banda Aceh
Kota para raja.
Banda Aceh
Kota kaya budaya.

Ooohhh.
I love Banda Aceh.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Si Hitam Yang Nikmat

Friday, November 10, 2017 0

Si Hitam Yang Nikmat

Kopi Memacu Pikiranmu Untuk Menulis. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Hitam manis,
itu julukannya.
Menjadi primadona para kaum
muda, tua, hingga menjelang senja.
Teman betah pemberi inspirasi.

Hari-hari hampa tanpa
secangkir tentang dia.
Si hitam menggoda
menemani kita.
Kapanpun selalu terasa.
Tiap waktu tak hilang darinya.

Hitam-hitam.
Kau membuatku seakan gila.
Candumu membuatku tergoda.

Dunia bertanya-tanya.
Apa yang anda pikirkan?
Menikmati kopi bersama
orang-orang tersayang.
Apa yang terjadi?
Seduhan kopi nikmat sekali.
Apa yang anda lakukan?
Menikmati secangkir kopi
penuh inspirasi.

Si hitam sungguh menggoda.
Tak salah banyak yang suka.
Meski hitam, namun istimewa.
Uuhhh
Sungguh nyaman bersamanya

Warkop Tahufik
Gampong Mulia, Banda Aceh
1 Desember 2014

Suasana Tempo Dahoeloe

Wednesday, November 08, 2017 0

Suasana Tempo Dahoeloe 

Permainan Tradisional Indonesia, Layang-Layang. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suara para bocah.
Memecahkan bisu.
Larut dalam permainan,
tempo dulu.

Wohoo. Wohoo
Kini hilang.
Wohoo. Wohoo
Kini hilang.

Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suasana masa kecilku.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
Desember 2013