Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama (Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)

Monday, November 06, 2017
Abdoel Moeis

Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama 

(Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)
Para pejuang Indoensia. @Doc. Istimewa. 
Sejak 1959 dan diikuti penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hampir setiap tahunnya, Indonesia mengukuh dan menetapkan beberapa nama pejuang dengan gelar pahlawan nasional. Gelar tersebut diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki peran maupun kontribusi penting, dalam proses dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Hingga saat ini, ada lebih dari 165 nama tokoh yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Data itu berdasarkan situs Pahlawan Center (pahlawancenter.com), yang dimiliki Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). 

Begitu banyak sudah gelar pahlawan nasional dikukuhkan oleh pemerintah, namun apakah para pembaca tahu, siapa tokoh pertama yang diberi gelar tersebut?

Abdoel Moeis (Abdul Muis), dialah seorang wartawan, sastrawan, sekaligus pejuang yang pertama kali diberikan gelar pahlawan nasional oleh Bangsa Indonesia. Tokoh kelahiran Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli tahun 1893, itu, ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 218 Tahun 1959 oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Liputan6.com, (Online, diakses, 6 November 2017).
Lukisan Wajah Abdoel Moei. @Doc. Goedang Biografi. 
Semasa hidup, Abdoel Moeis telah menghasilkan beberapa karya sastra dan artikel yang terkenal pada saat itu. Novel “Salah Asuhan” terbitan tahun 1928, merupakan salah satu novelnya yang paling dikenal. Bahkan novel tersebut telah difilmkan pada tahun 1972 oleh Asrul Sani serta telah diterjemahkan Robin Susanto ke dalam Bahasa Inggris berjudul “Never the Twain” dan menjadi referensi sastra hingga saat ini. Selain novel, artikel kritikan terhadap Pemerintah Hindia Belanda, juga pernah dituliskan oleh lulusan Sekolah Eropa Rendah atau Eur Lagere School (ELS) ini. Pada surat kabar berbahasa Belanda, De Express (yang kemudian ditutup oleh pemerintah tahun 1912), Abdoel Moeis membahas tentang pengecaman tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina orang Indonesia (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Sejak remaja, Abdoel Moeis telah merantau ke Pulau Jawa. Pendidikan yang dienyamnya hanya sebatas ijzah hasil ujian ambtenar kecil (Klein Ambtenaars Examen). Meskipun demikian, dia juga pernah merasakan jenjang Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), selama selama beberapa tahun (1900-1902) dan memilih berhenti dikarenakan sakit.

Artikel Terkait: Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Di dunia politik, Abdoel Moeis pernah aktif di organisasi Syarikat Islam (SI) sejak 1913 dan pernah terlibat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) yang pertama, 1920-1923. Kepiawaiannya dalam menulis, membuat tokoh berdarah minang ini dipercaya memimpin salah satu surat kabar milik SI di Bandung, Kaum Muda, bersama dengan AH Wignyadisastra. Sejak saat itu, dia mulai merambah ke beberapa media lainnya, seperti Oetoesan Hindia, Hindia Sarekat, Neratja, serta beberapa media lainnya pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya begitu komitmen menyuarakan perubahan nasib warga pribumi, sehingga dianggap radikal dan menjadi pemicu untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. 

Pergerakan yang dilakukan Abdoel Moeis semakin menjadi-jadi, khususnya saat mulai berkenalan dengan beberapa tokoh penting pergerakan seperti, Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soeryaningrat. Keempat tokoh ini kemudian membentuk Komite Bumi Putra, sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda. Selanjutnya, komite ini menolak dengan tegas dan menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari Spanyol, yang dirayakan di tanah jajahan (Indonesia/Hindia Belanda).

Peran Abdoel Moeis pada dunia pendidikan dibuktikan dengan berdirinya Technische Hooge School di Bandung atau yang saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Usaha tersebut dilakukannya setelah mempengaruhi para tokoh Belanda, saat dirinya diutus ke Belanda oleh Komite Indie Weerbaar dalam membahas pertahanan bagi Hindia Belanda (Indonesia), ketika tahun 1917 atau saat perang dunia pertama (Sejarahri.com, (Online), diakses, 5 November 2017).

Perlawanan terhadap pemerintah bukan hanya dilakukan Abdoel Moeis melalui tulisan-tulisan politiknya saja, tetapi juga dengan pergerakan langsung. Salah satunya, ketika Abdoel Moeis menjabat Ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB), ia memimpin aksi kaum buruh untuk mogok kerja pada, 11 Januari 1922, di Yogyakarta. Aksi yang dilakukan tersebut dalam tempo dua minggu sudah menyebar ke luar Yogyakarta, seperti Karesidenan Cirebon, Pekalongan, Kedu, Kediri, Semarang, Rembang, serta Surabaya, dengan lebih kurang 1.000 orang buruh pada saat itu (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Aksi pergerakan yang dilakukan, dianggapnya sebagai suatu bentuk perjuangan nasional. Akibat tindakannya tersebut, dia kemudian ditangkap oleh pemerintah kolonial, pada 8 Februari 1922, dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Selama dipengasingan, Abdoel Moeis berhasil mendirikan dua media, yakni harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut, akan tetapi usia kedua surat kabar tersebut tidak lama. Abdoel Moeis kemudian memilih untuk menjadi seorang petani di pengasingannya, setelah dia tidak berjumpa lagi dengan beberapa rekan seperjuangannya.

Paska proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, Belanda mencoba kembali ingin menguasai negeri yang pernah dijajahnya. Gencarnya agresi militer yang dilakukan, memutuskan Abdoel Moeis kembali terlibat melakukan perlawanan dengan membentuk suatu persatuan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan di pengasingannya, yaitu Persatuan Perjuangan Priangan. Laskar itu dipimpinnya hingga Republik Indonesia meraih kemerdekaan sepenuhnya. Sebelum lima belas tahun usia kemerdekaan Indonesia, Abdoel Moeis lebih dahulu menutup usia, pada, 17 Juni 1959, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. 

Adapun beberapa karya sastra yang ditulis oleh Abdoel Moeis selain novel Salah Asuhan, yakni Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953). Selain itu, beberapa karyanya yang lain dan telah diterjemahkan, di antaranya Don Kisot karya Cerpantes (1923), Tom Sawyer Anak Amerika karya Mark Twain (1928), Sebatang Kara karya Hector Melot (1932), dan Tanah Airku karya C. Swaan Koopman (1950) (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Perjuangan yang telah dilakukan Abdoel Moeis dalam membela kepentingan rakyat kecil, menjadi alasan tersendiri bagi Pemerintah Indonesia untuk mengukuhkan gelar pahlawan kepada tokoh berdarah minangkabau ini. Gelar tersebut diberikan pada 30 Agustus 1959, oleh Presiden Soekarno, melalui Kepres No 218 Tahun 1959, berselang dua bulan pejuang rakyat kecil tersebut meninggal.

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia hampir setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada beberapa tokoh pejuang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk bangsa dan negara ini.


Sumber:
Merdeka. Tidak Ada Tahun. Profil: Abdoel Moeis. (Online). (diakses, 5 November 2017).
Pahlawan Center. Tidak Ada Tahun. Pahlawan Nasional. (Online). (diakses, 6 November 2017).
Sejarah RI. Tidak Ada Tahun. Biografi Abdul Muis. (Online). (diakses, 5 November 2017).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments