Selamat Datang Sang Kombatan

Thursday, September 07, 2017

Selamat Datang Sang Kombatan

Buku Sang Kombatan Karya Musa AM alias Murdani Abdullah Musa. @Doc. Mhd. Saifullah
Buku Sang Kombatan sudah membuat saya penasaran sejak beliau (Bang Murdani alias Musa AM) menuliskan cerita ini di dunia maya (online). Selama di dunia maya, saya pernah membaca salah satu bagian (episode) kisah di buku ini saat itu, namun dikarenakan saya sedikit kurang suka membaca secara online sehingga saya tidak melanjutkan membacanya lagi (dengan harapan tulisan tersebut dapat dibukukan).

Tulisan berjudul Sang Kombatan sempat hilang dari pikiran saya. Akan tetapi beberapa bulan lalu saya mendapatkan kabar bahwa beliau akan menerbitkan Buku Sang Kombatan. Saya yang sudah penasaran sempat menanyakan kapan buku itu akan diterbitkan oleh beliau (di salah satu warkop di Pango).

Kabar penerbitan buku sempat hilang lagi dipikiranku. Tapi awal bulan Agustus, belalu beliau kembali meramaikan sebuah grup WhatsApp (WA) dengan memberi kabar bahwa buku sudah siap dicetak dan tinggal diedarkan. Mendengar kabar itu, saya langsung memesan sama beliau buku tersebut.

Singkat waktu, bukupun sudah tiba di Banda Aceh (mengetahui dari grup WA). Saya langsung menanyakan kepada beliau tentang buku dan memesannya satu buah. Saya menanyakan kapan beliau ada ke warkop saya akan datang untuk membwli buku tersebut.

Tiba waktunya kemarin beliau memberikan kabar bahwasanya ia sedang duduk di salah satu warkop di kawasan Simpang BPKP. Sebelum membeli dan mengambil buku, saya sempat berkeliling seputaran Jalan Ali Hasjmy (dari beberapa warkop hingga ke kantor beliau) mencari beliau karena tidak bisa dihubungi.
Beberapa menit kemudian beliau kembali memberikan kabar bahwa beliau sedang duduk di warkop. Tidak lama kemudian saya pun meluncur dan mengucapkan selamat atas karya beliau.

Akhirnya Buku Sang Kombatan pun berada di tangan saya. Tidak mau membuang kesempatan, saya meminta beliau untuk menandatangani buku yang belum saya baca ini.
Bang Murdani saat membubuhkan tanda tangan untuk ku di Buku Sang Kombatan. @Doc. Mhd. Saifullah
Memang Buku Sang Kombatan hanya baru beberapa halaman saja (baru satu bab) saya baca. Namun ada beberapa cerita dalam kalimat yang menurut saya begitu menarik. Di antaranya mengenai menu makanan dan minuman yang menjadi ciri khas dan pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi tersebut.

Mengenai makanan dan minuman, di dalam buku yang baru satu bab saya baca itu tertulis bahwa kopi seakan menjadi minuman favorit masyarakat Aceh di mana pun berada. Salah satu contohnya ketika Pakwa (tokoh Musa AM yang ada di dalam buku tersebut) sesaat setelah mendengarkan dan melihat diumumkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Presiden Megawati (Halaman 17).

Bukan hanya pada saat itu saja, beberapa kata dan kalimat kopi atau menawarkan minuman yang saat ini identik dengan Aceh tersebut juga terlihat di beberapa sub bab yang ada di bab pertama buku ini. Namun saya belum mengetahui bab-bab berikutnya, apakah masih ditemani kopi pada alunan ceritanya?

Selain kopi, ada kalimat dan suasana cerita yang membuat menarik perhatian saya saat membaca buku ini, yakni pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi ini. Di mana, saat Pakwa berada di Kompi D1 Pase, prajurit Tentara Naggroe (pasukan GAM) secara tidak sengaja HT mereka tersambung dengan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) (Halaman 31-32). Dialek percakapan dari keduanya itulah yang sangat saya suka dan membuat saya menarik.

Adapaun dialek percakapan keduanya sesuai di halaman 31-32 buku tersebut adalah sebagai berikut:

***
"Apa kabar kalian di sana, baik-baik saja?" Suara itu terdengar.

"Ya, Allah masih melindungi kami dari orang-orang seperti kalian. Apa kalian juga baik-baik saja?" tanyaku.
"Ya, baik. Namun lebih baik lagi jika di rumah berkumpul dengan anak istri," jawabnya lagi.

"Kalau begitu pulanglah. Kasihan istri dan anak kalian di rumah," balasku lagi.

"Tidak bisa pulang, Bos. Kami diperintahkan melenyapkan kalian. Namun kita sama-sama prajurit. Siap mati untuk keyakinan masing-masing. Betul toh?" jawabnya.
"Apa yang kalian cari sebenarnya? Aceh itu daerah modal NKRI. Tanpa Aceh tak ada NKRI," ujar TNI itu lagi.

"Sebagi daerah modal, apa pantas Aceh diperlakukan seperti ini? Kalian lihat rajyat kami miskin, sementara hasil alam dibawa ke Jakarta. Pusat telah beberapa kali mengkhianati Aceh, dari Soekarno hingga Megawati. Tak cukupkah alasan bagi kami melawan?" jawabku.

"Itu aku tidak tahu, Bos. Kami hanya menjalankan perintah. Doakan kami sehat-sehat saja selama di Aceh," ujarnya setelah sempat terdiam.

"Doa itu tak mungkin aku ucapkan. Karena kalau kalian sehat, maka kami yang mati," jawabku.

Suara di seberang sana terdengar tertawa. Tawa mereka terdengar banyak. "Ya, aku juga ragu dalam berdoa. Mungkin karena Tuhanku dan Tuhanmu sama. Entah berpihak ke mana dia dalam perang ini," ujarnya.
***

Saya suku dengan percakapan keduanya. Karena di situ terlihat dari masing-masing pihak memiliki keyakinan yang kuat dalam menempuh jalannya masing-masing meskipun Tuhan dan agama mereka sama.

Begitulah isi singkat dari satu bab yang baru saya baca pada Buku Sang Kombatan. Pastinya, buku ini juga akan banyak menceritakan dialek-dialek yang lebih menarik lagi pada bab selanjutnya.
Tanda tangan Musa AM alias Murdani Abdullah Musa di Buku Sang Kombatan yang aku punya. @Doc. Mhd. Saifullah
Sebagai catatan, Buku Sang Kombatan menjadi buku yang kesekian saya beli dengan gaji sendiri untuk dijadikan koleksi di perpustakaan ribadi saya (sejak April sudah rutin menyisihkan uang untuk membeli buku).

SELAMAT DATANG KE PUSTAKA PRIBADI KU SANG KOMBATAN

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments