Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Friday, August 18, 2017

Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Ilustrasi menggosip (menceritakan seseorang). @Doc. kataislam.com
Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang bisa dikatakan unik, yang saya alami. Mungkin sebagian kawan-kawan pernah mengalami hal yang sama.

Kejadian ini terjadi pada Kamis, 10 Agustus 2017 lalu, di saat saya memutuskan untuk memotong rambut setelah pulang dari Kampus Politeknik Aceh yang ada di Pango. Cuaca panas, membuat rambut dan kepala saya menjadi gerah. Maklum saja, aktu itu rambut saya bisa dibilang lumayan panjang, bagian depannya kalau ditarik bisa lewat dagu dan bagian belakangnya telah sampai bahu. Jadi, solusi mencari tempat jasa pemotongan rambut (pangkas) sambil menuju jalan pulang saya anggap sangatlah tepat. Biar terlihat lebih muda dan keren kayak orang-orang. Hehehe.

Saya pun beranjak dari Kampus Politeknik Aceh dengan menggunakan sepeda motor sambil memikul tas yang lumayan berat karena berisi laptop, buku, serta beberapa barang lainnya. Rute perjalanan yang saya tempuh untuk pulang ke rumah sambil mencari tempat pangkas, yakni Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango lalu ke Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Sepanjang perjalanan yang saya lalui, sambil mengendarai sepeda motor, saya mencoba memperhatikan tempat pangkas di kawasan pertokoan yang ada di kiri dan di kanan bahu jalan.

Beberapa menit setelah bergeser dari tempat yang saya bergerak tadi, akhirnya saya mendapatkan salah satu tempat pangkas yang ada di kawasan Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Mendapati tempat tersebut, saya langsung memarkirkan sepeda motor dan lalu masuk ke dalam.

Ketika masuk, saya langsung disodorkan pertanyaan oleh salah seorang karyawan jasa pemotongan rambut layaknya menyambut konsumennya. 

"Koh ook bang? (Potong rambut bang?)," tanyanya karyawan tersebut dengan dialeg Bahasa Aceh.

"Nyo bang (iya bang)," jawab saya yang memang ingin memotong rambut.

Sambil melepaskan tas yang tersandang, saya memperhatikan sekeliling ruangan mencari tempat untuk meletakkan tas. Karyawan yang memahami gerak-gerik saya langsung mengatakan untuk meletakkan tas di atas meja (tempat peralatan pemotongan rambut) dekat kaca.

"Neu peuduk atas meja nyo ju (letakkan di atas meja ini saja)," ucapnya menyuruh.

Saya mencoba meletakkan tas di atas meja, namun masih saya pegang karena masih ragu dengan posisi tas yang saya anggap masih kurang pas (takut jatuh karena berisi laptop). 

"Peuduk ju (letakkan saja), gak apa-apa, gak jatuh itu," disambut dengan dialeg Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia oleh karyawan yang nantinya akan memotong rambut saya dengan karena melihat saya sedikit ragu meletakkan tas.

Mendengar pernyataan itu, saya letakkan tas lalu menuju kursi pangkas untuk duduk.

Di dalam ruangan itu ada 5 orang, di antaranya 2 orang konusmen (termasuk saya) dan 3 orang jasa pemotongan rambut (satu bersiap-siap untuk memotong rambut saya, satu sedang memotong rambut konsumen yang lain, dan satunya lagi sedang menjalankan shalat).

Kemudian karyawan itu menanyakan kembali kepada saya. "Kiban ta koh? (Bagaimana kita potong?)," tanyanya menawarkan potongan dengan model rambut yang bagaimana.

"Rapi," jawab saya dengan santai.

Karyawan tersebut kemudian menanyakan kembali, dan saya tetap dengan jawaban yang sama.

Mungkin suara saya terlalu pelan dan cepat ataukah antara didengar jelas atau tidak oleh karyawan tersebut. Sehingga teman  di sebelahnya langsung menyahut dan mengatakan kepada karyawan itu bahwa saya tidak bisa berbahasa Aceh.

"Han jeut Bahasa Aceh jih nyan (Tidak bisa Bahasa Aceh dia tu)," sahut kawannya.

Karyawan tersebut akhirnya menanyakan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

"Mau pangkas model yang gimana bang?," tanyanya.

Saya pun menjawab dengan bahasa Indonesia. "Dirapikan aja bang, samping sama potong atasnya dikit," jawabku.

Merasa sedikit bingung, karyawan tersebut mencoba menunjukan pilihan beberapa gambar model potongan rambut yang tertera di dinding ruangan tersebut.

"Apa mau kayak nomor 19?," menawarkan salah satu model potongan rambut yang ada.

Sejenak saya berpikir sambil memperhatikan model potongan rambut yang ditawarkan. Tidak lama kemudian saya pun mengiyakan model tersebut karena terlihat lebih rapi dan keren.

"Boleh bang, yang nomor 19 aja," jawab ku menyetujui tawarannya.

Karyawan itu kemudian bersiap-siap untuk memotong rambutku, namun ketika dia baru saja memegang mesin pemotong rambut. Matanya tiba-tiba mengarah ke tas yang aku letakan tadi di atas meja.

"Kita pindahkan aja tasnya ya bang?," dia meminta izin kepada ku sembari mencoba memindahkan tas.

"Berat juga tasnya bang, apa isinya?," tanyanya padaku.

Aku yang melihat langsung merespon. "Laptop sama buku bang. Hati-hati bang," mengingatkan kepada karyawan itu.

Mendengar rekannya mengatakan bahwa tas yang dipindahkan itu berat. Karyawan satunya yang sedang memotong rambut pelanggan lain, mencoba menyambung pembicaraan.

"Nyan bom aso jih. Hati-hati kah me, meunyo ret meuledak habe geutanyo (itu bom isinya. Hati-hati kamu bawa, kalau jatuh meledak habis kita)," ucapnya karyawan tersebut.

"Kadang cit jih aneuk buah Abu Safi (kadang juga dia anak buah Abu Safi)," ucapnya lagi menambahkan sambil tertawa.

Mendengar apa yang dikatakannya, saya hanya tersenyum seakan tidak menghiraukan apa yang dia bicarakan.

Setelah itu, karyawan tadi kembali menceritakan tentang saya dengan menggunakan Bahasa Aceh, seakan-akan mereka menganggap saya benar-benar tidak mengerti bahasa tersebut. Saya kembali tidak menghiraukan, tetapi saya tetap mendengar percakapan mereka.

Di dalam hati saya bergumam heran, "apa orang ini benar-benar gak tahu kalau aku bisa berbahasa Aceh?," tanyaku dalam hati.

Bosan bercerita mulai dari tentang saya hingga tentang-tentang lainnya. Akhirnya karyawan tadi berhenti berbicara dan suasanya menjadi senyap. Tidak lama kemudian, masuk pelanggan lainnya keruangan tersebut. Pembicaraan kembali dimulai dengan tema baru lagi. Di saat itu, saya sudah tidak peduli dan tidak mendengar lagi apa yang menjadi pembahasan.

Beberapa menit kemudian, rambut saya pun selesai dipotong oleh karyawan yang pertama tadi. Biasanya, setelah habis potong rambut maka karyawan akan menyetel kursi menjadi lebih santai (telentang) untuk dilakukan pemijatan (mengurut).

Melihat kursi akan disetel, saya pun respon melarang dengan menggunakan Bahasa Aceh.

"Ohh bek bang, bek. Ka jeut nyo (ohh jangan bang, jangan. Udah bisa ini)," menginstruksikan kepadanya bahwa saya tidak mau dipijat.

Mendengar saya berbicara menggunakan Bahasa Aceh. Karyawan  itu langsung kaget.

"Haii, jeut lago Bahasa Aceh? Lon pike kon awak Aceh beno (haii, bisa rupanya Bahas Aceh? Saya pikir bukan orang Aceh tadi)," tanyanya kaget.

"Jeut bang (bisa bang)," jawabku.

"Man pakon beno wakte lon tanyong hana jaweb? (Lalu kenapa tado waktu saya tanya (masalah potongan rambut) tidak dijawab?," tanyanya lagi.

"Na bang, cuma mungken han dron leungo beno (ada bang, cuma mungkin gak abang dengar tadi," jawabku lagi sambil senyum dingin.

Mendengar pembicaraan kami, seorang karyawan tadi kembali ikut menyahut.

"Mungken abang nyan Aceh Jawa (mungkin abang itu Aceh Jawa). Hahaha...," sahutnya tertawa.

Sambil berbenah diri untuk beranjak, aku langsung menanyakan harga operasional pomotongan rambut. Setelah menyerahkan biaya pembayaran, karyawan tersebut merasa tidak enak kepada diriku. Itu terlihat dari cara dia mencoba mengakrabkan diri dengan ku.

"Omak bang, pike dron beno awak Jawa atau awak Medan. Kareuna wakte jak deungon ook panyang (omak bang, pikir abang tadi orang Jawa atau orang Medan. Karena waktu datang dengan rambut panjang lagi," ngelesnya.

Merasa tidak enak, dia sempat meminta maaf sebelum saya keluar dari ruang itu.

"Lake meuah bang beuh. Lon hana lon teupeu beno (minta maaf bang ya. Saya tidak tahu tadi)," ucapnya.

Merasa tidak ada yang harus dimaafkan, dan saya menganggapnya itu sebuah candaan.

"Hana peu bang, santai ju (tidak apa-apa bang, santai saja)," jawabku.

***

Begitulah cerita singkat yang saya alami sewaktu memotong rambut. Dari tulisan ini, Saya kembali teringat pada sebuah peristiwa saat saya sedang liputan. Kejadian itu hampir sama seperti yang saya alamj, akan tetapi konteksnya saja berbeda.

Ketika itu korbannya adalah rombongan atlit sepeda yang sedang melakukan touring dari Pulau Weh (Sabang) ke Kota Banda Aceh. Para atlit yang tiba di salah satu penginapan di Kota Banda Aceh pernah diganggu oleh pekerja bangunan di penginapan mereka saat pertama kali sampai. Ada beberapa pekerja yang mencoba mengganggu dan berbicara hal yang tidak wajar untuk atlit wanita yang ikut dengan para rombongan dengan menggunakan bahasa daerah Jawa Barat (Sunda).

Mendengar mereka sedang dibicarakan, salah seorang atlit wanita yang mengerti merasa marah dan memarahi para pekerja tersebut dengan Bahasa Sunda. Teman-teman atlit lainnya yang merasa heran apa yang dibicarakan mencoba menanyakan kepada salah seorang atlit tersebut.

"Itu tadi dia bilangin kita yang enggak-enggak, wuuu dasar," ucap atlit wanita tersebut.

Tulisan ini mungkin hisa menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa jangan menilai orang dari luar. Selain itu, jangan pernah mencoba membicarakan orang lain dengan menggunakan bahasa yang mungkin kita anggap orang yang kita bicarakan itu tidak mengerti atau memahaminya.

Mungkin saat itu kalian menceritakan mereka, namun suatu saat kalian akan malu karenanya.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments