Hanya Panas Matahari

Saturday, July 29, 2017

Hanya Panas Matahari 

Ilustrasi. @Doc. Tribun Manado
Karya: Mhd. Saifullah 
Panasnya matahari
seakan membakar kulit.
Butir-butir biji jagung,
bercucuran di sela tubuh.

Otak di kepala
seakan mendidih.
Diri terasa gelisah.
Kemalasan subur dengan sendirinya.

Tetapi berbeda dengan mereka.
Meraka merasa hari adalah cahaya.
Tak terasa sejuk mentari,
meski badan semakin mendidih.
Tak merasa akan lelah,
Asal mampu memenuhi jiwa.

Panasnya mentari bukan rintangan.
Panasnya mentari bukanlah penghalang.
Dan panasnya matahari bukanlah alasan.

Kebal telah telapak kaki.
Sengatan mentari
bukan sebuah hirauan lagi.

Keringat telah menjadi sahabat.
Debu jalanan telah akrab.

Namun tiada mengeluh
kehidupan dunia.
Selalu bersyukur
meski tiada harta.
Karena diri masih
memiliki Allah.

Batu Aji, Batam 
2011

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments