Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Tuesday, March 21, 2017

Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
Hampir di seluruh dunia terjadi perkembangan dan pembaruan di bidang politik, ekonomi, dan ide-ide. Hal tersebut kemudian menjadi pendorong bagi Pemerintah Belanda untuk memberikan kesempatan lebih banyak lagi kepada anak bumiputera untuk mendapatkan pendidikan. Perubahan yang terjadi di seluruh dunia menjadi dasar timbulnya aliran yang dikenal Politik Etis (Etiche Politiek) di kalangan Bangsa Belanda. Aliran ini pertama kali dicetus oleh Van Deventer dengan sebutan Hutang Kehormatan sebagai semboyan. Aliran ini akhirnya kemudian dikenal dengan slogan irigasi, edukasi, dan emigrasi.

Tokoh Belanda lain yang mendukung pemberian pendidikan kepada aristrokat bumiputera selain Van Deventer adalah Snouck Hourgroje. Adapun sekolah-sekolah yang didirikan pada masa Politik Etis menurut Balai Pustaka, antara lain:

1) Sekolah Lanjutan
Ada empat sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Belanda sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan Politik Etis, seperti Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), dan Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi).

• Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan)
Ada dua sistem pokok yang menjadi hakikat pada pendidikan dasar untuk tingkat sekolah pendidikan dasar, yaitu Sekolah Rendah dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dan Sekolah Rendah menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.

• Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah)
Satu jenis sekolah lanjutan berdasarkan sistem persekolahan Belanda pada golongan sekolah dasar adalah sekolah dasar yang lebih luas Meer Vitgebreld Lagere Onderwijs (MULO). Sekolah ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Lama waktu pendidikan pada sekolah ini berkisar antara tiga sampai empat tahun.

• Algemeene Middlebares School atau AMS (Sekolah Menengah Umum)
Sekolah menengah umum atau Algemeene Middlebares School (AMS) merupakan kelanjutan dari pendidikan lanjut/pendidikan menengah MULO. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar diperuntukan bagi Golongan Bumiputera dan Golongan Timur Asing. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada AMS adalah tiga tahun. Ada dua jurusan dari sekolah ini, yaitu Jurusan Bagian A (Pengetahuan Kebudayaan) dan Jurusan B (Pengetahuan Alam).

• Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi)
Hooger Burger School (HBS) merupakan sekolah bagi Golongan Eropa, bangsawan Bumiputera, serta tokoh-tokoh terkenal lainnya. Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan berorientasi ke Eropa Barat khususnya Belanda. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada sekolah ini antara tiga dan lima tahun.

2) Sekolah Lanjutan Kejuruan
Ada beberapa sekolah lanjutan kejuruan lainnya yang juga didirikan, yaitu antara lain Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan), Technish Onderwijs (Sekolah Teknik), Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang), Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian), Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan), dan Kweek School (Pendidikan Keguruan).

• Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan)
Sekolah yang berasal dari Homewerk School (Sekolah Pekerjaan Tangan) dan Njverheid School (Sekolah Kerajinan Tangan) pertama kali didirikan tahun 1881. Tujuan sekolah ini didirikan adalah untuk mendidik dan melahirkan mandor (werkbaas). Sekolah pertukangan ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dengan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun. 

• Technish Onderwijs (Sekolah Teknik)
Mula-mula sekolah ini didirikan dari Koningin Wihelmina School pada tahun 1906 di Jakarta. Sekolah Teknik (Technish Onderwijs) merupakan kelanjutan dari sekolah pertukangan (Ambachts Leergang). Bahasa pengantar untuk pendidikan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun.

• Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang)
Didirikannya sekolah ini oleh Pemerintah Belanda bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang begitu pesat.

• Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian)
Sekolah Pertanian (Cultuur School) mulai didirikan pada tahun 1911 dengan dua jurusan, yaitu pertanian dan kehutanan. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pembelajaran ini, hanya menerima lulusan dari sekolah dasar yang menggunakan Bahasa Belanda juga. Lama pendidikan yang harus ditempuh di Sekolah Pertanian adalah tiga sampai empat tahun. Tujuan berdirinya sekolah ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang akan dipekerjakan sebagai pegawai pengawas kehutanan dan pertanian.

• Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan)
Gagasan-gagasan R.A. Kartini untuk diberikan pendidikan terhadap wanita ternyata mendapat perhatian oleh Pemerintah Belanda. Pemerintah memberikan perhatian di bidang ini dengan mendirikan Lagere Nijverheid School (Sekolah Kepandaian Putri) pada tahun 1918. Selain pihak pemerintah, pihak swasta juga mendirikan sekolah yang sejenis bernama Huischould School (Sekolah Rumah Tangga) dengan lama waktu belajar adalah tiga tahun. Di samping itu, ada Sekolah Van Deventer khusus pendidikan keputrian dengan orientasi Eropa (Belanda). Sekolah Van Deventer juga memberikan pendidikan untuk menjadi guru Frobel Onderwijs (Sekolah Taman Kanak-Kanak).

• Kweek School (Pendidikan Keguruan)
Lembaga tertua yang sudah ada sejak awal abad ke-19 adalah lembaga keguruan. Di Surakarta, pada tahun 1851 telah didirikan Sekolah Guru Negeri untuk pertama kali dan jauh sebelumnya pemerintah telah membuat kursus-kursus bagi guru dengan nama Normal Cursus. Kursus ini didirikan untuk mempersiapkan dan menghasilkan guru-guru Sekolah Desa.

3) Pendidikan Tinggi
Para kalangan penganjur Politik Etis pada abad ke-20 mengemukakan gagasan mereka untuk segera dibentuk Hooger Onderwijs (Pendidikan Tinggi). Pada tahun 1910, didirikan sebuah perkumpulan yang bernama Indische Universiteits Veriniging (Perkumpulan Universitas Indonesia) dengan tujuan mendirikan pendidikan tinggi, baik melalui pihak swasta maupun pihak pemerintah. Ada tiga bidang keahlian pendidikan tinggi, yaitu antara lain Pendidikan Tinggi Kedokteran, Pendidikan Tinggi Hukum, dan Pendidikan Tinggi Teknik.

• Pendidikan Tinggi Kedokteran
Di Indonesia, lembaga Pendidikan Tinggi Kedokteran pertama kali didirikan pada tahun 1851, dimulai dari Sekolah Dokter Djawa. Lama waktu pendidikan yang diperlukan untuk belajar adalah dua tahun setelah tamat atau lulus dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantar yang digunakan di Sekolah Dokter Djawa adalah Bahasa Melayu. Pada tahun 1913, perubahan nama dilakukan di sekolah ini menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Selain di Jakarta, pada tahun 1913 juga didirikan sekolah yang sama bernama Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS) di Surabaya. Syarat dan lama pendidikan yang harus ditempuh di NIAS sama juga seperti di STOVIA.

• Pendidikan Tinggi Hukum
Pendidikan Tinggi Hukum mulai didirikan pada tahun 1909 dengan nama Rechts School (Sekolah Hukum). Rechts School hanya menerima lulusan dari Europeesche Lagere School (ELS). Lama pendidikan yang diperlukan di sekolah ini untuk belajar adalah tiga tahun dengan menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

• Pendidikan Tinggi Teknik
Pemerintah Belanda untuk pertama kali baru benar-benar mendirikan pendidikan tinggi yang sesui dan memenuhi sayarat sebagai suatu perguruan tinggi yaitu pada tahun 1920. Meskipun pada periode ini masih ada terdapat beberapa permasalahan pendidikan, seperti belum memiliki kesempatan yang sama bagi semua rakyat Indonesia untuk memasuki pendidikan; selanjutnya mata pelajaran yang diperuntukan untuk pribadi dan menjadikan Bangsa Indonesia memiliki rasa harga diri dirasakan begitu kurang dan tidak mendidik untuk menjadi anak yang cerdas pada sekolah rendah bumiputera.

Artikel Terkait:
    Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

    Daftar Sumber:
    Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
    Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
    Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Oleh: Tommy Hidayat
    Editor: Mhd. Saifullah

    Artikel Terkait

    Previous
    Next Post »
    Comments
    0 Comments