Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Tuesday, March 21, 2017 0

Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
Hampir di seluruh dunia terjadi perkembangan dan pembaruan di bidang politik, ekonomi, dan ide-ide. Hal tersebut kemudian menjadi pendorong bagi Pemerintah Belanda untuk memberikan kesempatan lebih banyak lagi kepada anak bumiputera untuk mendapatkan pendidikan. Perubahan yang terjadi di seluruh dunia menjadi dasar timbulnya aliran yang dikenal Politik Etis (Etiche Politiek) di kalangan Bangsa Belanda. Aliran ini pertama kali dicetus oleh Van Deventer dengan sebutan Hutang Kehormatan sebagai semboyan. Aliran ini akhirnya kemudian dikenal dengan slogan irigasi, edukasi, dan emigrasi.

Tokoh Belanda lain yang mendukung pemberian pendidikan kepada aristrokat bumiputera selain Van Deventer adalah Snouck Hourgroje. Adapun sekolah-sekolah yang didirikan pada masa Politik Etis menurut Balai Pustaka, antara lain:

1) Sekolah Lanjutan
Ada empat sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Belanda sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan Politik Etis, seperti Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), dan Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi).

• Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan)
Ada dua sistem pokok yang menjadi hakikat pada pendidikan dasar untuk tingkat sekolah pendidikan dasar, yaitu Sekolah Rendah dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dan Sekolah Rendah menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.

• Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah)
Satu jenis sekolah lanjutan berdasarkan sistem persekolahan Belanda pada golongan sekolah dasar adalah sekolah dasar yang lebih luas Meer Vitgebreld Lagere Onderwijs (MULO). Sekolah ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Lama waktu pendidikan pada sekolah ini berkisar antara tiga sampai empat tahun.

• Algemeene Middlebares School atau AMS (Sekolah Menengah Umum)
Sekolah menengah umum atau Algemeene Middlebares School (AMS) merupakan kelanjutan dari pendidikan lanjut/pendidikan menengah MULO. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar diperuntukan bagi Golongan Bumiputera dan Golongan Timur Asing. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada AMS adalah tiga tahun. Ada dua jurusan dari sekolah ini, yaitu Jurusan Bagian A (Pengetahuan Kebudayaan) dan Jurusan B (Pengetahuan Alam).

• Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi)
Hooger Burger School (HBS) merupakan sekolah bagi Golongan Eropa, bangsawan Bumiputera, serta tokoh-tokoh terkenal lainnya. Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan berorientasi ke Eropa Barat khususnya Belanda. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada sekolah ini antara tiga dan lima tahun.

2) Sekolah Lanjutan Kejuruan
Ada beberapa sekolah lanjutan kejuruan lainnya yang juga didirikan, yaitu antara lain Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan), Technish Onderwijs (Sekolah Teknik), Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang), Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian), Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan), dan Kweek School (Pendidikan Keguruan).

• Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan)
Sekolah yang berasal dari Homewerk School (Sekolah Pekerjaan Tangan) dan Njverheid School (Sekolah Kerajinan Tangan) pertama kali didirikan tahun 1881. Tujuan sekolah ini didirikan adalah untuk mendidik dan melahirkan mandor (werkbaas). Sekolah pertukangan ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dengan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun. 

• Technish Onderwijs (Sekolah Teknik)
Mula-mula sekolah ini didirikan dari Koningin Wihelmina School pada tahun 1906 di Jakarta. Sekolah Teknik (Technish Onderwijs) merupakan kelanjutan dari sekolah pertukangan (Ambachts Leergang). Bahasa pengantar untuk pendidikan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun.

• Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang)
Didirikannya sekolah ini oleh Pemerintah Belanda bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang begitu pesat.

• Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian)
Sekolah Pertanian (Cultuur School) mulai didirikan pada tahun 1911 dengan dua jurusan, yaitu pertanian dan kehutanan. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pembelajaran ini, hanya menerima lulusan dari sekolah dasar yang menggunakan Bahasa Belanda juga. Lama pendidikan yang harus ditempuh di Sekolah Pertanian adalah tiga sampai empat tahun. Tujuan berdirinya sekolah ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang akan dipekerjakan sebagai pegawai pengawas kehutanan dan pertanian.

• Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan)
Gagasan-gagasan R.A. Kartini untuk diberikan pendidikan terhadap wanita ternyata mendapat perhatian oleh Pemerintah Belanda. Pemerintah memberikan perhatian di bidang ini dengan mendirikan Lagere Nijverheid School (Sekolah Kepandaian Putri) pada tahun 1918. Selain pihak pemerintah, pihak swasta juga mendirikan sekolah yang sejenis bernama Huischould School (Sekolah Rumah Tangga) dengan lama waktu belajar adalah tiga tahun. Di samping itu, ada Sekolah Van Deventer khusus pendidikan keputrian dengan orientasi Eropa (Belanda). Sekolah Van Deventer juga memberikan pendidikan untuk menjadi guru Frobel Onderwijs (Sekolah Taman Kanak-Kanak).

• Kweek School (Pendidikan Keguruan)
Lembaga tertua yang sudah ada sejak awal abad ke-19 adalah lembaga keguruan. Di Surakarta, pada tahun 1851 telah didirikan Sekolah Guru Negeri untuk pertama kali dan jauh sebelumnya pemerintah telah membuat kursus-kursus bagi guru dengan nama Normal Cursus. Kursus ini didirikan untuk mempersiapkan dan menghasilkan guru-guru Sekolah Desa.

3) Pendidikan Tinggi
Para kalangan penganjur Politik Etis pada abad ke-20 mengemukakan gagasan mereka untuk segera dibentuk Hooger Onderwijs (Pendidikan Tinggi). Pada tahun 1910, didirikan sebuah perkumpulan yang bernama Indische Universiteits Veriniging (Perkumpulan Universitas Indonesia) dengan tujuan mendirikan pendidikan tinggi, baik melalui pihak swasta maupun pihak pemerintah. Ada tiga bidang keahlian pendidikan tinggi, yaitu antara lain Pendidikan Tinggi Kedokteran, Pendidikan Tinggi Hukum, dan Pendidikan Tinggi Teknik.

• Pendidikan Tinggi Kedokteran
Di Indonesia, lembaga Pendidikan Tinggi Kedokteran pertama kali didirikan pada tahun 1851, dimulai dari Sekolah Dokter Djawa. Lama waktu pendidikan yang diperlukan untuk belajar adalah dua tahun setelah tamat atau lulus dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantar yang digunakan di Sekolah Dokter Djawa adalah Bahasa Melayu. Pada tahun 1913, perubahan nama dilakukan di sekolah ini menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Selain di Jakarta, pada tahun 1913 juga didirikan sekolah yang sama bernama Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS) di Surabaya. Syarat dan lama pendidikan yang harus ditempuh di NIAS sama juga seperti di STOVIA.

• Pendidikan Tinggi Hukum
Pendidikan Tinggi Hukum mulai didirikan pada tahun 1909 dengan nama Rechts School (Sekolah Hukum). Rechts School hanya menerima lulusan dari Europeesche Lagere School (ELS). Lama pendidikan yang diperlukan di sekolah ini untuk belajar adalah tiga tahun dengan menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

• Pendidikan Tinggi Teknik
Pemerintah Belanda untuk pertama kali baru benar-benar mendirikan pendidikan tinggi yang sesui dan memenuhi sayarat sebagai suatu perguruan tinggi yaitu pada tahun 1920. Meskipun pada periode ini masih ada terdapat beberapa permasalahan pendidikan, seperti belum memiliki kesempatan yang sama bagi semua rakyat Indonesia untuk memasuki pendidikan; selanjutnya mata pelajaran yang diperuntukan untuk pribadi dan menjadikan Bangsa Indonesia memiliki rasa harga diri dirasakan begitu kurang dan tidak mendidik untuk menjadi anak yang cerdas pada sekolah rendah bumiputera.

Artikel Terkait:
    Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

    Daftar Sumber:
    Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
    Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
    Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Oleh: Tommy Hidayat
    Editor: Mhd. Saifullah

    Dampak Politik Etis Dalam Bidang Pendidikan

    Tuesday, March 14, 2017 0

    Dampak Politik Etis Dalam Bidang Pendidikan

    Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
    Politik Etis yang dijalankan Pemerintah Belanda dan dikonsepkan oleh Van Derventer yang diwujudkan dalam bentuk program seperti irigrasi, edukasi, dan emigrasi sebelumnya telah dipaparkan dampaknya para perubahan pola pikir masyarakat pribumi. Salah satu dampak dari adanya Politik Etis terlihat pada program di bidang pendidikan. 

    Tujuan Pemerintah Belanda pada program tersebut sebenarnya untuk membentuk masyarakat pribumi sebagai pegawai pemerintahan rendah dengan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pemerintah. Akan tetapi, pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda di bawah Van Derventer yang diawali dengan pembentukan sekolah-sekolah untuk masyarakat pribumi, ternyata menjadi bumerang bagi pemerintahan sendiri.

    Pendidikan memberikan masyarakat pribumi tentang tradisi yang paling baik dari barat. Bagi yang bersekolah di sekolah yang didirikan pemerintah, diharapkan berpengaruh luas dan menjadi tokoh penting dalam masyarakat Indonesia. Meskipun Pemerintah Belanda tetap membatasi sekolah-sekolah yang telah didirikan. Batasannya berupa pemberian kesempatan sekolah kepada masyarakat elit pribumi. Meskipun sebelumnya, pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sebelum Politik Etis dibentuk, sistem pendidikan sudah dikenal di Indonesia namun dibawah kendali pemerintah.

    Artikel Terkait:
      Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

      Daftar Sumber:
      Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
      Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
      Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
      ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
      Oleh: Tommy Hidayat
      Editor: Mhd. Saifullah

      Implikasi Penerapan Kebijakan Politik Etis

      Monday, March 13, 2017 0

      Implikasi Penerapan Kebijakan Politik Etis

      Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
      Diterapkannya kebijakan Politik Etis tentunya akan menimbulkan beberapa dampak positif serta negatif dan yang harus diketahui bahwa tujuan awal dari semua program yang ada ternyata tidak terlaksana dengan baik, bahkan mendapat hambatan. Ada pun satu program yang berdampak positif dan bersifat jangka panjang bagi Bangsa Indonesia adalah pada bidang pendidikan. Program tersebut telah melahirkan golongan-golongan terpelajar dan terdidik yang kelak akan membuat Pemerintahan Belanda menjadi terancam. Gelongan-golongan tersebut yang kemudian memunculkan beberapa organisasi intelektual seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan beberapa organisasi lainnya serta mendirikan dewan rakyat (Volksraad).

      Adapun dampak-dampak lain yang terlihat nyata dari penerapan ketiga bidang program dalam kebijakan Politik Etis adalah sebagai berikut:

      • Politik
      Kekuasaan yang desentralisasi atau otonomi bagi Bangsa Indonesia ternyata tetap saja terdapat masalah, yaitu golongan penguasa tetap kuat dalam intervensi. Hal ini dikarenakan perusahan-perusahan Belanda kalah bersaing dengan perusahaan Jepang dan Amerika yang menyebabkan sentralisasi berusaha diterapkan kembali.
      • Sosial
      Peningkatan jumlah melek huruf, lahirnya para golongan terpelajar, serta dunia pendidikan yang semakin berkembang sangat berdampak positif. Akan tetapi dampak negatif dari hal tersebut adalah semakin terlihat jelas kesenjangan antara golongan bangsawan dan bawahan. Golongan bangsawan kelas atas dapat menikmati pendidikan yang lebih baik lagi dengan bersekolah dan langsung dipekerjakan di perusahaan-perusahaan Belanda.

      • Ekonomi
      Lahirnya sistem politik liberal, kapitalisme modern, dan pasar bebas, menjadikan persaingan dan modal sebagai indikator utama perdagangan. Oleh karena itu dampaknya berupa yang lemah akan kalah dan tersingkir. Selain itu, dampak lainnya berupa munculnya perusahaan-perusahaan swasta dan asing di Indonesia, misalnya seperti Shell.

      Artikel Terkait:
        Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

        Daftar Sumber:
        Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
        Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
        Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
        ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        Oleh: Tommy Hidayat
        Editor: Mhd. Saifullah

        Isi Kebijakan Politik Etis

        Saturday, March 11, 2017 0

        Isi Kebijakan Politik Etis

        Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
        Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock berpendapat bahwa pendidikan yang lebih baik akan memperkuat kaum pribumi dalam bidang administrasi. Fock juga menyarankan agar diusahakannya perairan berupa irigrasi, pembangunan jalan kereta api, dan pembelian kembali tanah-tanah partikelir. Diperbanyaknya bangunan irigrasi, pemberian kredit pertanian, dan mendorong industri merupakan usaha-usaha yang disarankan oleh Fock untuk memajukan kesejahteraan rakyat.

        Kebijakan Politik Etis ternyata telah mengubah pandangan dalam politik kolonial yang sebelumnya menganggap bahwa Hindia Belanda sebagai daerah yang memberikan keuntungan (wingewest) menjadi daerah yang perlu dikembangkan. Oleh karena itu, setiap keperluannya harus dipenuhi dan ditingkatkan budaya rakyat pribumi (Poesponegoro dan Notosusanto, 1994:37).

        Kebijakan Politik Etis sudah terkenal dengan tiga slogannya, yaitu Irigrasi, Edukasi, dan Emigrasi. Perkebunan tebu yang ada menghendaki adanya irigrasi yang intensif. Kebutuhan akan manusia sebagai tenaga kerja yang murah di daerah-daerah yang baru dibuka untuk perkebunan modern di provinsi-provinsi di luar Pulau Jawa sangat dibutuhkan oleh kantor-kantor dagang, pabrik-pabrik, dan cabang-cabang perubahan lainnya.

        J.A. Hobson dalam bukunya Imperialism A Study (1902), yang dikutip oleh Sartono Kartodirdjo (1990:32) membahas tentang pandangan mengenai makin merosotnya kesejahteraan penduduk pribumi timbul dari kalangan pedagang. Diperkirakan sejak tahun 1895, upah buruh sangat menguntungkan para pengusaha-pengusaha perkebunan dan sebaliknya sangat merugikan perdagangan hasil-hasil dari Negeri Belanda terutama kain Twente.

        Paham politik liberal yang membolehkan usaha swasta dan diyakini menguntungkan penduduk pribumi ternyata kemudian menipis ketika politik liberal justru menuju ke arah kemunduran kesejahteraan. Politik kesejahteraan yang dimulai secara resmi tercantum pada pidato ratu Belanda yang sekaligus pertanda dimulainya zaman baru dalam pemerintahan kolonial (Sartono Kartodirdjo, 1990:32-33).

        Ada tiga program yang akan diterapkan pada kebijakan Politik Etis, yaitu program Irigrasi (Irigate), Edukasi (Educate), dan Emigrasi (Emigrate). Ketiga perogram tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

        • Irigrasi (Irigate) atau pengairan dan infrastruktur
        Irigrasi merupakan program dari pembangunan dan penyempurnaan sarana serta prasarana untuk kesejahteraan rakyat, terutama seperti pada bidang pertanian dan perkebunan. Program ini diwujudkan dengan membuat waduk-waduk besar sebagai tempat penampungan air hujan yang akan digunakan untuk pertanian dan melakukan perbaikan sanitasi pengurangan penyakit kolera serta pes. Perbaikan sarana infrastruktur juga dilakukan terutama jalan raya dan kereta api yang digunakan sebagai media untuk mengangkut komoditi hasil dari pertanian dan perkebunan.

        • Edukasi (Educate) atau pendidikan
        Pendidikan merupakan program untuk peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengurangan jumlah penduduk yang buta huruf. Implikasi baiknya untuk Pemerintah Belanda juga berupa mendapatkan tenaga kerja terdiri untuk bagian birokrasi dengan gaji yang murah. Hal ini dikarenakan apabila Pemerintah Belanda mendatangkan pekerja langsung dari Eropa akan banyak menghabiskan biaya, selain gaji yang mahal dan pemberian sarana dan prasarana juga dipertimbangkan. Oleh karena itu, pemerintah kemudian membuat sekolah dengan dua tingkatan, yaitu Sekolah Kelas I dan Sekolah Kelas II. Sekolah Kelas I diperuntukan bagi golongan bangsawan serta tuan tanah. Sekolah Kelas II diperuntukan bagi golongan menengah dan biasa. Pendidikan yang diberikan dari kedua sekolah tersebut berupa mata pelajaran membaca, menulis, ilmu bumi, berhitung, sejarah, dan menggambar.

        • Emigrasi (Emigrate) atau transmigrasi
        Transmigrasi merupakakan satu program untuk pemerataan penduduk di Pulau Jawa dan Pulau Madura yang telah padat. Jumlah penduduk dari kedua pulau tersebut pada tahun 1900 sekitar 1,4 juta jiwa. Selain untuk pemerataan penduduk, jumlah perkebunan baru yang sudah semakin luas di kawasan Sumatera Utara dan Selatan membutuhkan banyak tenaga pengelola dan pegawai. Salah satu daerah yang ditetapkan sebagai pusat transmigrasi dari Pulau Jawa dan Pulau Madura adalah Lampung (Poesponegoro dan Notosusanto, 1994:42).

        Ketiga program di atas dalah program utama dalam penerapan kebijakan dari Politik Etis. Terlepas berhasil atau tidaknya serta ada kepentingan lain dari program tersebut. Program pendidikan menjadi program yang diprioritaskan, karena kedua program lainnya akan berhasil dan ditunjang oleh adanya pendidikan.

        Artikel Terkait:
          Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

          Daftar Sumber:
          Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
          Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
          Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
          ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
          Oleh: Tommy Hidayat
          Editor: Mhd. Saifullah

          Mahasiswa: Bila Tanggal Muda dan Tua

          Saturday, March 11, 2017 0

          Mahasiswa: Bila Tanggal Muda dan Tua

          Gambar Ilustrasi Tanggal Muda dan Tua. (Doc. Google)
          Karya: Mhd. Saifullah 
          Mahasiswa.
          Senyum selebar dunia
          ditanggal muda.
          Makan sesukanya,
          tak perlu pikir itu ini.

          Apa dimau.
          Wusss.
          Meluncur langsung dicari.
          Sebab kantong baru diisi,
          jadi gak perlu mikir sana sini.

          Sungguh indah bagi mahasiswa,
          bila sudah tanggal muda.

          Lambat laut tanggal tua menyapa.
          Dompet lebih plong,
          sebab keuangan mulai bolong.
          Buka laci dollar besi telah menanti.
          Syukur berharap
          dapat terbeli secupak nasi.

          Tanggal tua sungguh terasa
          Hari ini makan besok puasa.

          Hahaha.
          Inilah mahasiswa.
          Hari ini bergaya,
          besok merana.
          Hahaha.
          Warkop GR 
          Gampong Lamyong, Banda Aceh 
          25 November 2014

          Hakikat Kebijakan Politik Etis

          Friday, March 10, 2017 0

          Hakikat Kebijakan Politik Etis

          Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
          Politik Etis bisa dikatakan suatu istilah serta konsep kebijakan yang dipakai oleh Pemerintah Belanda sebagai bentuk balas jasa untuk mensejahterakan daerah jajahan. Istilah tersebut adalah suatu gerakan perbaikan yang dilakukan oleh kaum etis untuk menyebut politik baru kolonial.

          Van Deventer, seorang juru bicara pernah menuliskan sebuah artikel yang berjudul Hutang Budi. Di artikel yang ditulisnya dia menuntut restitusi uang berjuta-juta yang diperoleh Negeri Belanda sejak diberlakukannya Undang-Undang Comptabiliteit tahun 1867. Van Deventer mengecam politik keuangan Belanda yang dianggap tidak memisahkan keuangan negeri induk dari negeri jajahan. Politik yang pemisahan itu seharusnya dapat dilakukan sejak tahun 1867, namun tetap dilaksanakan sampai tahun 1878 telah mengambil 187 juta Gulden dinamakannya sebagai Politik Batig Slot oleh Van Deventer karena dianggap tidak menambah tetapi mengeksploitasikannya. Uang pendapatan sejak tahun 1867-1878 perlu dikembalikan, sebab itu merupakan hutang kehormatan.

          Ide restitusi menjadi daya tarik untuk memperkuat tumbuhnya kesadaran mengenai makin berkurangnya kesejahteraan penduduk pribumi. Sebutan orang-orang barat yang berorientasi humanistis untuk melanjutkan perkembangan Hindia Belanda demi keuntungan penduduk peribumi dan untuk mengejar politik kesejahteraan, menjadi semakin kuat. Ideologi etis dapat berkembang menjadi suatu kekuatan sosial yang penting karena dianggap bergerak bersama-sama dengan kepentingan-kepentingan yang konkret dari suatu golongan ekonomi yang mulai tumbuh besar (Sartono Kartodirdjo, 1990:32).

          Kebijakan Politik Etis semakin gencar dilakukan sesuai dengan perubahan politik di Belanda. Berkuasanya golongan kaum liberal yang menginginkan sistem ekonomi bebas dan kapitalis, menimbulkan usaha agar pendidikan di Hindia Belanda untuk mulai ditingkatkan. Munculnya doktrin untuk segera dijalankannya kebijakan Politik Etis juga timbul dari dari dua golongan yang berbeda. 

          Adapaun dua golongan yang semakin membuat kebijakan Politik Etis segera dilakukan, yaitu dari Golongan Misionaris dan Golongan Konservatif. 
          1. Golongan Misionaris merupakan golongan yang dibentuk dari 3 partai kristen yang mulai mengadakan perkembangan dalam bidang pendidikan, yaitu Partai Katolik, Partai Anti-Revolusioner, dan Partai Kristen. Program mereka adalah mengangkat derajat pribumi yang didasarkan oleh agama yang menjadi kewajiban bagi Negeri Belanda.
          2. Golongan Konservatif merupakan golongan kaum yang memiliki sikap serta prilaku politik yang menginginkan adanya perubahan berarti dan mendasar dalam suatu sistem. Golongan ini terdiri dari kaum penjilat, pemodal, penguasa, dan kaki tangan dari sebuah rezim. Golongan Konservatif yang menganggap bahwa sebagai negara yang lebih tinggi derajatnya memiliki kewajiban untuk memberadabkan orang-orang yang terbelakang.
          Doktrin yang timbul dari dua golongan di atas sangat berkembang pada saat itu. Bagi kedua golongan tersebut, mereka memiliki tujuan politik untuk meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan moral pribumi, serta perubahan pada ekonomi bukan eksploitasi kolonial melainkan pertanggungjawaban moral.

          Artikel Terkait:
            Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

            Daftar Sumber:
            Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
            Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
            Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
            ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Oleh: Tommy Hidayat
            Editor: Mhd. Saifullah

            Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC)

            Thursday, March 09, 2017 0

            Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC)

            Halo sahabat semua, jika pada artikel sebelumnya kita telah membahas mengenai langkah-langkah untuk Tutorial Membuat Table of Contents (TOC), kali ini saya akan membagikan tips selanjutnya yang masih berhubungan dengan artikel sebelumnya, yaitu mengenai Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC). Pada artikel yang selanjutnya ini nantinya bisa sahabat pelajari dan dipergunakan dalam mengedit tulisan serta lebih mudah untuk membuat Daftar Isi dalam pembuatan karya tulis ilmiah berupa skripsi, tesisi, makalah, dan lain sebagainya yang berhubungan. Di Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC), saya menggunakan aplikasi Microsoft Word 2010. Kalau begitu tanpa memperpanjang tulisan lagi, mari sahabat semua baca langkah-langkah yang harus sahabat lakukan.

            Sebelum melanjutkan untuk melakukan langkah-langkah eksperimennya, alangkah baiknya sahabat melihat gambar yang ada pada gambar di bawah ini.
            Gambar Contoh Menu Bar Home dan Sub Menu Bar Style (Doc. Mhd. Saifullah)
            Langkah-langkah yang harus sahabat lakukan dalam Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) mengenai Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC). Di antaranya langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
            • Klik menu bar Home yang berada di sebelah atas pojok kiri dari layar PC sahabat. Pada layar tersebut akan ditampilkan beberapa sub menu bar lainnya, di antaranya salah satunya adalah Styles.
            • Di bagian sub menu bar Styles akan ada beberapa tampilan kotak mulai dari Normal, No Spacing, Heading 1, Heading 2 Heading 3, dan sebagainya.
            • Arahkan pointer ke arah sub menu bar Styles.
            • Untuk dapat melakukan pengeditan pada sub menu bar Normal, No Spacing, Heading 1, Heading 2, Heading 3, dan lainnya diperlukan beberapa langkah lagi. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 
            1. Sub Menu Bar Normal
            • Arahkan pointer sahabat pada kotak Normal kemudian klik kanan.
            • Hasil klik kanan akan menampilkan beberapa sub pilihan lainnya. Sahabat dapat memilih tulisan Modify yang berada di barisan kedua.
            • Di Modify selanjutnya akan ditampilkan beberapa pilihan Modify Style seperti pada gambar di bawah ini.
            • Di bagian Modify sahabat ubah bagian Formating yang telah dilingkari berwarna merah untuk merubah jenis tulisan beupa Huruf (Font), Ukuran Huruf, Model Huruf, Warna Huruf, Jenis Barisan Paragraf, dan Spasi Paragraf.
            • Klik jenis Huruf (font) sahabat ganti dengan tulisan Times New Roman.
            • Model Tulisan tidak perlu di Bold, Italic, maupun Underline (garis bawah).
            • Ukuran Huruf sahabat ganti dengan ukuran 12 size.
            • Warna Huruf sahabat ganti dengan memilih warna hitam.
            • Jenis Paragraf sahabat ganti dengan menggunakan rata kiri dan kanan.
            • Spasi Paragraf sahabat ganti dengan sesuai selingkung (sesuai lingkungan) pedoman penulisan karya tulis yang diinginkan, bisa 1 spasi, 1,5 spasi, dan 2 spasi.
            • Selesai bagian Formating, sahabat lihat lingkaran merah selanjutnya yang berada di tampilan yang sama di bagian pojok kiri yang tertulis Format.
            • Di bagian Format sahabat pilih dan klik Paragraph yang selanjutnya akan ditampilkan seperti gambar di bawah ini.
            • Lihat bagian identation yang telah di lingkari berwarna merah dan ganti menjadi First Line (1,27 cm) untuk menjadikan paragraf menjurung ke dalam.
            • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit mulai dari Tampilan Paragraph dan Modify Style.
            Gambar Contoh Modify (Doc. Mhd. Saifullah)
            Gambar Contoh Modify Style (Doc. Mhd. Saifullah)
              2. Sub Menu Bar No Spacing
              • Arahkan pointer sahabat pada kotak No Spacing kemudian klik kanan.
              • Hasil klik kanan akan menampilkan beberapa sub pilihan lainnya. Sahabat dapat memilih tulisan Modify yang berada di barisan kedua.
              • Di Modify selanjutnya akan ditampilkan beberapa pilihan Modify Style seperti pada gambar di bawah ini.
              • Di bagian Modify sahabat ubah bagian Formating yang telah dilingkari berwarna merah untuk merubah jenis tulisan beupa Huruf (Font), Ukuran Huruf, Model Huruf, Warna Huruf, Jenis Barisan Paragraf, dan Spasi Paragraf.
              • Klik jenis Huruf (font) sahabat ganti dengan tulisan Times New Roman.
              • Model Tulisan dibuat Blod dengan mengklik huruf B.
              • Ukuran Huruf sahabat ganti dengan ukuran 14 size (Ukuran ini nantinya akan digunakan untuk penulisan judul).
              • Warna Huruf sahabat ganti dengan memilih warna hitam.
              • Jenis Paragraf sahabat ganti dengan menggunakan letak tengah (center).
              • Spasi Paragraf sahabat ganti dengan sesuai selingkung (sesuai lingkungan) pedoman penulisan karya tulis yang diinginkan, bisa 1 spasi, 1,5 spasi, dan 2 spasi.
              • Selesai bagian Formating, sahabat lihat lingkaran merah selanjutnya yang berada di tampilan yang sama di bagian pojok kiri yang tertulis Format.
              • Di bagian Format sahabat pilih dan klik Paragraph yang tampilannya tidak jauh berbeda dengan yang tadi.
              • Lihat bagian identation yang telah di lingkari berwarna merah dan ganti menjadi None agar tidak ada spasi pada judul.
              • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit mulai dari Tampilan Paragraph dan Modify Style.
              3. Sub Menu Bar Heading 1
              • Hal yang dilakukan pada Heading 1 tidak jauh berbeda dengan Sub Menu No Spacing terutama pada Modify, namun di Modify Style sedikit berbeda.
              • Pada Modify Style yang dilakukan perubahan hanya pada ukuran huruf, jika sebelumnya 14 size, ubah menjadi 12 size karena akan digunakan untuk judul pada bab.
              • Warna Huruf, Jenis Paragraf, Model Huruf, serta Spasi Paragraf tidak perlu diubah, karena Sub Menu Heading 1 tidak jauh berbeda dengan No Spacing.
              • Di bagian Formating dan Paragraph hanya diubah menjadi None agar tidak ada spasi pada bab.
              • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit mulai dari Tampilan Paragraph dan Modify Style.
              4. Sub Menu Bar Heading 2
              • Pada Sub Menu Bar Heading 2 tidak jauh berbeda dengan Heading 1, hanya dilakukan sedikit perubahan di Modify Style saja.
              • Pada Modify Style yang dilakukan perubahan hanya pada ukuran huruf, jika sebelumnya 14 size, ubah menjadi 12 size karena akan digunakan untuk sub bab.
              • Warna Huruf, Jenis Paragraf, Model Huruf, serta Spasi Paragraf tidak perlu diubah, karena Sub Menu Heading 2 tidak jauh berbeda dengan Sub Menu Heading 2.
              • Di bagian Formating dan Paragraph hanya diubah menjadi None agar tidak ada spasi pada sub bab.
              • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit mulai dari Tampilan Paragraph dan Modify Style.
              5. Sub Menu Bar Heading 3
              • Pada Sub Menu Bar Heading 3 tidak jauh berbeda dengan Heading 2, hanya dilakukan sedikit perubahan di Modify Style saja.
              • Pada Modify Style yang dilakukan perubahan hanya pada ukuran huruf, jika sebelumnya 14 size, ubah menjadi 12 size karena akan digunakan untuk sub bab.
              • Warna Huruf, Jenis Paragraf, serta Spasi Paragraf tidak perlu diubah, karena Sub Menu Heading 3 tidak jauh berbeda dengan Sub Menu Heading 2.
              • Model Huruf tidak perlu di Bold, Italic, maupun Underline (garis bawah).
              • Di bagian Formating dan Paragraph hanya diubah menjadi None agar tidak ada spasi pada sub bab.
              • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit mulai dari Tampilan Paragraph dan Modify Style.
              Bagaimana mudahkan mempelajari Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) dalam menggunakan langkah Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC)? Sahabat dapat mencoba-cobanya kembali sendiri apabila ingin semakin mahir sambil iseng-iseng malakukan eksperimen kecil-kecilan.

              Sekian artikel mengenai Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC). Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat semua yang sedang belajar atau iseng-iseng bermain Microsoft Word. Kalau begitu sampai jumpa pada artikel tips berupa tutorial berikutnya dari saya. Salam.

              Penerapan Kebijakan Politik Etis Di Indonesia

              Thursday, March 09, 2017 0

              Penerapan Kebijakan Politik Etis Di Indonesia

              Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
              Golongan liberal dan sosial demokrat yang ada di Belanda menginginkan adanya suatu kebijakan baru yang dibuat oleh Pemerintah Belanda untuk daerah jajahannya. Mereka berharap adanya keadilan bagi masyarakat Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka) yang dianggap telah banyak membantu dan meningkatkan defisa serta kemakmuran negara Belanda. Kebijakan itu kemudian diperjuangkan oleh para kaum liberal dan sosial demokrat di pemerintahan yang ada di Belanda

              Dingkatnya Ratu Wilhelmina I sebagai ratu baru di Negeri Belanda, pada tahun 1898 menjadi titik awal lahirnya kebijakan Politik Etis. Ratu Wilhelmina I mengungkapkan bahwa Pemerintah Belanda dianggap telah berhutang moril kepada daerah jajahan mereka yang telah banyak membantu. Pemerintah kemudian membentuk tim penelitian untuk meneliti keadaan daerah Hindia Belanda dan akan segera melakukan kebijakan politik mengenai kesejahteraan di daerah tersebut. Kebijakan itu kemudian dikenal dengan istilah Politik Etis.

              Bedasarkan penjelasan latar belakang di atas, maka timbul beberapa pertanyaan sebagai masalah terkait dengan Politik Etis. Permasalah-permasalah tersebut adalah sebagai berikut:
              a. Apa yang dimaksud dengan kebijakan Politik Etis?
              b. Bagaimana penerapan kebijakan Politik Etis di Hindia Belanda?

              Artikel Terkait:
                Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

                Daftar Sumber:
                Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
                Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
                Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
                ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                Oleh: Tommy Hidayat
                Editor: Mhd. Saifullah

                Tetaplah Bersamaku

                Wednesday, March 08, 2017 0

                Tetaplah Bersamaku

                Gambar Ilustrasi Aku Ingin Kau Di Sini (Doc. Sang Sembilan Satu Sinjai)
                Karya: Mhd. Saifullah
                Tetaplah bersamaku.
                Tetaplah di hati ku.
                Bercerita bulan dan bintang,
                tentang indah malam.

                Kau pandangi aku di sana.
                Bersuara nirwana bernyanyi di sini
                Bangunkan satu mimpi.
                Bersamamu, dan bersamamu.

                Jangan pergi dari cintaku.
                Aku ingin kau tetap bersamaku.
                Karena aku tak mampu berdiri
                untuk cinta.
                Bila tanpa dirimu.

                Aku ingin kau di sini.
                Aku ingin kau tetap di sini.
                Aku ingin kau selalu
                temani hatiku
                dan janganlah engkau pergi
                meninggalkanku.
                Emperum, Banda Aceh
                30 Desember 2016

                Tutorial Membuat Table of Contents (TOC)

                Wednesday, March 08, 2017 0

                Tutorial Membuat Table of Contents (TOC)

                Gambar Contoh Hasil Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) (Doc. Mhd. Saifullah)
                Halo sahabat semua, kali ini saya akan membagikan tips mengenai Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) yang nantinya bisa sahabat pelajari dan dipergunakan dalam mengedit tulisan serta lebih mudah untuk membuat Daftar Isi dalam pembuatan karya tulis ilmiah berupa skripsi, tesisi, makalah, dan lain sebagainya yang berhubungan. Di Tutorial Membuat Table of Contents (TOC), saya menggunakan aplikasi Microsoft Word 2010. Kalau begitu tanpa memperpanjang tulisan lagi, mari sahabat semua baca langkah-langkah yang harus sahabat lakukan.

                Berikut ini ada langkah-langkah yang harus sahabat lakukan dalam Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) yang saya bagikan ke dalam dua bagian agar lebih mudah untuk dipahami sahabt semua, yaitu Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC) dan Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC).

                Pembagian langkah-langkah dalam artikel Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) dilakukan untuk memudahkan sahabat saya dalam memahami dan mempelajari materi artikel ini. Setidaknya sahabat semua dapat lebihmudah apabila pemaparan materinya dilakukan satu demi-satu (step by step). Sehubungan dengan itu langkah-langkah yang ada juga dapat digunakan dalam membuat tulisan yang lainnya dalam menggunakan aplikasi Microsoft Word.

                Pada bagian pertama yaitu Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC) akan memberikan pemahaman atau memberikan pelajaran kepada sahabat semua mengenai ketentuan bentuk atau jenis huruf tulisan. Di antaranya nanti akan membahas langkah-langkah tentang jenis huruf (font), ukuran huruf, model huruf, paragraf, serta spasi dan penggunaan Normal, No Spaci, Heading 1, Heading 2, dan seterusnya yang digunakan atau bisa sesuai ketentuan yang sahabat inginkan.

                Pada bagian kedua yaitu Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC) atau memanggilnya untuk dapat ditampilan di Daftar Isi. Di bagian kedua ini nantinya akan dijelaskan langkah-langkah yang tidak jauh dengan bagian pertama namun dalam konteks Table of Contents (TOC), yaitu di antaranya tentang jenis huruf (font), ukuran huruf, model huruf, paragraf, serta spasi yang akan ditampilkan pada Daftar Isi. Hal ini selanjutnya bisa sesuai atau digunakan ketentuan yang sahabat inginkan.

                Langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada judul di bawah ini (klik setiap judul dari langkah-langkah tutorial di bawah):
                Sekian artikel mengenai Tutorial Membuat Table of Contents (TOC). Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat semua yang sedang belajar atau iseng-iseng bermain Microsoft Word. Kalau begitu sampai jumpa pada artikel tips berupa tutorial berikutnya dari saya. Salam.
                Menulis Daftar Pustaka Pada Makalah

                Menulis Daftar Pustaka Pada Makalah

                Monday, March 06, 2017 0

                Menulis Daftar Pustaka Pada Makalah

                Setelah sebelumnya saya memberikan tips Langkah-Langkah Membuat Makalah, Cara Membuat Cover/Sampul Makalah, Menulis Kata Pengantar Makalah Sederhana, Menulis Bab I Pendahuluan Pada Makalah, Menulis Bab II Pembahasan atau Isi Pada Makalah, Menulis Bab III Penutup Pada Makalah. Kali ini saya akan memberi tips atau cara Menulis Daftar Pustaka Pada Makalah.

                Daftar pustaka biasanya dikenal sebagai sumber acuan, sumber rujukan, referensi, dan bibliografi. Di daftar pustaka ini terkumpul segala sumber bahan bacaan yang digunakan dalam penyusunan makalah yang telah sahabat buat. Misalnya kita mengutip beberapa kalimat atau paragraf dari sumber bacaan lain ke dalam makalah yang kita tulis, namun sahabat tidak boleh lupa mencantumkan sumbernya. Sumber yang menjadi bahan bacaan ada bermacam-macam, seperti; surat kabar, jurnal buletin, majalah, terbitan berkala, ensiklopedia, hasil riset, dan lain-lain. Sudah pasti semua sumber bacaan itu berkaitan erat dengan makalah yang sahabat tulis. Dalam makalah, daftar pustaka harus sahabat letakkan setelah isi karangan dan ditulis pada halaman tersendiri. Lebih jelasnya, daftar pustaka ditulis setelah Bab III Penutup yang ada pada makalah.

                Di bawah ini ada beberapa contoh cara penulisan daftar pustaka secara sederhana yang bisa sahabat gunakan sebagai rujukan dalam menulis daftar pustaka pada makalah sahabat.

                Contoh:
                Cara penulisan daftar pustaka berdasarkan sumber acuan berupa buku.
                Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

                Cara penulisan daftar pustaka berdasarkan sumber acuan berupa website atau internet.
                Rri.co.id. Profil, (Online), (http://www.rri.co.id/profil.html., diakses 4 April 2016).

                Cara penulisan daftar pustaka berdasarkan sumber acuan berupa.jurnal
                Syam, M., Hamdani. 2015. Sistem Penyiaran di Aceh dari Era Kolonial Belanda Hingga Orde Baru: Satu Perspektif Sejarah. Banda Aceh: Al-Bayan.

                Cara penulisan daftar pustaka berdasarkan sumber acuan berupa artikel UU atau Kepres.
                Republik Indonesia. 2002. Undang-Undang Penyiaran Republik Indonesia. Jakarta: Sekretaris Negara.

                Cara penulisan daftar pustaka berdasarkan sumber acuan berupa surat kabar.
                Agam. 11 Januari, 2000. Sejarah Kerajaan Aceh. Serambi Indonesia, hlm 8 & 9.

                Sekian artikel mengenai Menulis Daftar Pustaka Pada Makalah dari saya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat pelajar semua yang sedang menempuh pendidikan. Semoga juga dengan tips di atas, sahabat semua mendapatkan nilai yang bagus dalam penyusunan makalah.

                Artikel Terkait:

                Menulis Bab III Penutup Pada Makalah

                Saturday, March 04, 2017 0

                Menulis Bab III Penutup Pada Makalah

                Setelah sebelumnya saya memberikan tips Langkah-Langkah Membuat Makalah, Cara Membuat Cover/Sampul Makalah, Menulis Kata Pengantar Makalah Sederhana, Menulis Bab I Pendahuluan Pada Makalah, dan Menulis Bab II Pembahasan atau Isi Pada Makalah. Kali ini saya akan memberi tips atau cara Menulis Bab III Penutup Pada Makalah. 

                Penulisan Bab III pada makalah biasanya mengenai penutup dari makalah yang telah sahabat buat. Pada bagian penutup ini terdirid dari kesimpulan dan saran mengenai makalah yang menjadi tugas dan telah sahabat buat. 

                Kesimpulan yang terdapat dari Bab III Penutup merupakan inti sari atau ulasan singkat dari makalah yang membahas dari Bab I Pendahuluan dan Bab II Pembahasan atau isi. Di bagian kesimpulan yang merupakan ulasan dari makalah bisa sahabat tambahkan dengan pendapat sahabat. Pada bagian kesimpulan ini yang harus sahabat ingat adalah kesimpulan bukan dari isi makalah yang kemudian kita copy paste dari isi makalah.

                Saran yang terdapat pada Bab III Penutup adalah bagian di mana bisa berisi kritikan ataupun kekurangan dari makalah yang telah kita buat. Selain itu, pada bagian saran sahabat bisa membuatnya untuk saran kepada peneliti selanjutnya maupun para pembaca yang membaca ataupun yang mengambil judul yang berkenaan dengan makalah sahabat.

                Untuk lebih jelas, di bawah ini ada contoh sederhana dari Bab III Penutup pada makalah yang mungkin bisa sahabat baca dan pahami serta menjadi pedoman bagi sahabat semua.

                Gambar Contoh Bab III Penutup Pada Makalah (Doc. Mhd. Saifullah)

                Sekian artikel mengenai Menulis Bab III Penutup Pada Makalah dari saya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat pelajar semua yang sedang menempuh pendidikan. Semoga juga dengan tips di atas, sahabat semua mendapatkan nilai yang bagus dalam penyusunan makalah.

                Politik Kampus

                Wednesday, March 01, 2017 0

                Politik Kampus 

                Gambar Ilustrasi (Doc. Mhd. Saifullah)
                Karya: Mhd. Saifullah 
                Bau-bau mulai terasa.
                Ilusi mata lewat semua.

                Apa yang terjadi?
                Semua sibuk.
                Sesibuk-sibuknya pasar Jakarta.

                Aku bingung,
                semakin ling-lung.

                Di sana berdiskusi.
                Di sini provokasi.
                Di mana-mana sibuk sendiri.

                Apa sebenarnya terjadi?

                Ahhh
                Aku bodoh atau
                tak sadar diri?
                Ini menjelang
                pesta demokrasi.
                Mahasiswa belajar berpolitisi.

                Tetapi,
                mengapa menjelang
                pesta demokrasi
                mahasiswa berpisah?
                Di kampus ini?

                Semua saling tak peduli.
                Seperti berkubu
                layaknya batu.
                Seakan tak pernah menyatu.

                Ahhh
                Aku bodoh atau
                tak sadar diri?
                Ini politisi.
                Politk kampus masa kini.
                FKIP Unsyiah 
                Daruasalam, Banda Aceh 
                10 Desember 2014