Satu Kedamaian

Satu Kedamaian

Gambar kolom Opini di Harian Rakyat Aceh tanggal 7 Februari 2017 (Doc. Mhd. Saifullah)
Kedamai menjadi suatu harapan yang tidak bisa dinilai harganya bagi mereka yang dilanda kerusuhan maupun peperangan. Di Aceh, istilah tersebut seakan masih menjadi harga mahal meski konflik regional sudah berhenti. Kedamaian bagaikan barang langka, sebab keributan dan kerusuhan masih sering terjadi, terutama menjelang pemilihan kepala daerah seperti saat ini. Faktornya bermacam-macam, mulai dari hal sepele sampai tingkat permasalahan serius.

Seruan untuk mewujudkan serta mensukseskan Pilkada damai bukanlah suatu hal baru di Aceh. Jauh sebelum situasi politik yang semakin memanas seperti ini, seruan itu selalu dan terus-menerus disosialisasikan oleh pihak panitia penyelenggara kepada setiap elemen-elemen masyarakat. Akan tetapi, bagaikan air di daun talas, tidak berarti. Pemukulan, penembakan, intimidasi masih saja terus terjadi yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak menginginkan Pilkada di Aceh berjalan damai. 

Dilanda Krisis Kepercayaan
Pilkada Aceh tinggal menghitung hari, suhu perpolitikan juga semakin memanas. Intirik-intirik semakin gencar dilakukan untuk menjadi pemimpin dan menunjukkan siapa yang terbaik dari para calon daerah masing-masing. Alhasil, keraguan mulai timbul dan rasa saling percaya menghilang. Hal ini mengakibatkan timbullah krisis kepercayaan antara satu pihak dengan pihak lainnya bahkan sampai pemerintah pusat dalam pelaksanaan Pilkada di Aceh.

Krisis kepercayaan pemerintah pusat terhadap jalannya Pilkada Aceh secara damai ditunjukan dengan mengirimkan 1900 personil Brimob Bawah Kendali Operasi (BKO) dari beberapa Polda di Indonesia ke Aceh. Dalih melakukan pengamanan dan evaluasi dari Pilkada 2012, dijadikan pondasi oleh pemerintah untuk memasukkan Pasukan BKO (20 Januari 2017). Meskipun menuai kritikan karena Aceh dianggap sudah dalam situasi kondusif, tetapi keraguan pemerintah dengan Pilkada damai di Aceh begitu besar hingga tidak diberikan kepercayaan begitu saja. 

Ketika krisis kepercayaan mulai melanda, maka apapun yang dilakukan akan selalu dicurigai bahkan dianggap salah. Tidak penting di mana tempatnya dan berhubungan dengan kegiatan apa, akan tetap dicurigai. Krisis kepercayaan selanjutnya timbul dari satu pihak ke pihak lainnya yang sedang berkompetisi pada Pilkada Aceh.

Insiden yang terjadi di Masjid Raya Pase pada saat pelaksanaan Shalat Jum’at (20 Januari 2017) lalu, merupakan salah satu bentuk dari adanya krisis kepercayaan antara satu pihak dengan pihak lain. Ketika salah satu timses Paslon mencurigai salah seorang calon yang pada saat itu ditunjuk untuk menjadi Khatib Jum’at. Indikasi adanya kampanye terselubung faktor pemicu utama, meskipun tidak ditemukan seperti yang dicurigai. Ini merupakan salah satu bukti dari krisis kepercayaan yang melanda masing-masing timses dan calon. Peristiwa tersebut seakan telah mencoreng nama Aceh di nasional yang identik dengan syariat Islam dan sedang menyambut Pilkada.

Kedua peristiwa yang berbeda konteks di atas merupakan dampak dari hilangnya rasa saling percaya atau krisis kepercayaan yang melanda satu pihak dengan pihak lain. Lalu bagaimana Aceh akan maju bila para calon pemimpin serta timnya saja tidak saling percaya bahkan apabila sampai perang saudara. Ini bisa berdampak panjang bagi Aceh, bukan hanya saat Pilkada namun bisa berpengaruh terhadap perdamaian yang ada saat ini.

Kata damai masih menjadi harga mahal dan sukar didapatkan di Aceh. Perbedaan berpendapat dan pandangan politik masih belum bisa diterima seutuhnya, terutama seperti saat ini. Penyebabnya tidak lain karena kita belum terbiasa menyikapi perbedaan dengan cara yang paling tepat, sehingga krisis kepercayaan dengan mudah melanda daerah kita. Hal inilah yang menjadikan kita terkadang saling memendam keraguan antara sesama dan bahkan sampai saling melukai. Padahal apabila kita menyatukan perbedaan yang ada, maka akan lebih mudah menuju satu impian yang diperjuangkan, yaitu menjadikan Aceh lebih maju, makmur, dan sejahtera. Dan bukankah perbedaan itu adalah rahmat?

Perbedaan dapat menutupi kekurangan satu pihak dengan kelebihan pihak lain dan begitu juga sebaliknya. Ada dua nasehat dari orang bijak yang mengatakan, “kita mesti bersatu jika menghadapi sesuatu yang penting, apalagi genting. Setiap persoalan selalu ada solusinya”. Kedua nasehat ini sangat tepat digunakan bila melihat krisis kepercayaan yang melanda Aceh saat ini, apalagi menjelang pemilihan pemimpin. Persoalan-persoalan yeng terjadi apabila ditanggapi dengan bijaksana akan menghasilkan solusi yang baik pula untuk Aceh kedepannya. Hal ini akan berdampak besar terhadap masyarakat, kesejahteraan dan kemakmuran akan lebih mudah dilaksanakan, sebab Aceh telah menemukan satu kedamaian.

Tulisan ini pernah dimuat di rubik Opini pada media massa cetak (koran) Harian Rakyat Aceh (7 Februari 2017).
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments