Damaimu Pilkadaku

Sunday, February 26, 2017

Damaimu Pilkadaku
Gambar Ilustrasi Pemusnahan Surat Suara Pilkada (Doc. Mhd. Saifullah)

Pilkada (Pemilihan Kepada Daerah) merupakan suatu pesta besar pada sebuah daerah dengan melibatkan rakyat banyak. Sebagai sebuah pesta, pastinya akan membawa kebahagiaan dan rasa gembira di dalam bathin. Namun, di Aceh justru yang terjadi malah sebaliknya. Pesta rakyat untuk memilih kepala daerah ini malah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Marilah kita coba sedikit mengintip beberapa kasus kekerasan dan intimidasi dibelakang yang pernah menghiasi perjalanan menjelang Pilkada tahun 2012. Lalu, apakah terus seperti ini pesta raykat yang sebenarnya di Bumi Serambi Mekkah?

Tidak terasa hampir lima tahun, semua akan berubah dan berlalu. Sejak terpilih sebagai pemimpin masing-masing daerah pada tahun 2012. Para pemimpin dari masing-masing daerah yang ada di Aceh telah menjalankan sebagian tugasnya. Dan selama itu juga masyarakatpun sudah dapat menilai pemimpinnya. Mungkin sebagian dari mereka ada yang mendapatkan pujian layaknya seorang raja, dan sebagian lainnya mendapat sumpahan maupun cacian layaknya hamba yang hina.

Kini pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh datang lagi. Masyarakat Aceh akan kembali diminta menggunakan hak suaranya untuk memilih gubernur, walikota serta bupati sesuai daerah masing-masing. Meskipun masih terkesan jauh pada tahun 2017 nanti, namun panasnya udara dari persaingan kursi pimpinan daerah perlahan sudah mulai terasa. Terlihat beberapa Bakal Calon (Balon) beserta suporter setianya (Timses) mulai melakukan gerakan koalisi. Dengan menggandeng beberapa lembaga masyarakat serta partai lokal dan nasional. 

Selain itu taktik serta strategi berlahan juga sudah mulai dijalankan oleh masing-masing balon. Bahkan, ada beberapa bendera serta stiker dari partai lokal sudah mulai mewarnai dan menghiasi dengan indahnya di setiap sudut kota sampai pelosok gampong. Isu-isu berupa fakta maupun fitnah sudah mulai lepas landas tidak mau kalah. Bukan hanya dari para calon, namun juga dari beberapa oknum yang dijadikan boneka para elit politik juga ambil bagian.

Refleksi Pilkada 2012
Bila kita memandang kembali Pilkada tahun 2012, terdapat beberapa kasus yang terjadi dalam beberapa bulan menjelang pilkada. Layaknya rumput yang sangat kering di bawah panasnya matahari, begitu disulut sedikit saja dengan api maka akan membakar seluruh lahan yang ada. Begitu juga dengan keadaan perpolitikan di Aceh pada saat itu. Panasnya situasi politik serta sengitnya kompetisi pada Pilkada 2012, secara tidak langsung hampir membakar Deklarasi Pilkada Damai Aceh yang telah disepakati bersama. 

Memanasnya situasi di Aceh menjelang Pilkada 2012 mulai terlihat menjelang akhir tahun 2011 sampai April 2012. Dengan jumlah lebih dari 12 kasus, dan menyebabkan 13 orang meninggal serta beberapa orang luka-luka. Dengan kasus yang terjadi seperti perusakan atribut, penculikan, penembakan, teror melalui sms dan sebagainya. Sehingga banyak masyarakat yang menjadi resah dan merasa diintimidasi dengan hal-hal tersebut.

Berdasarkan beberapa kasus di atas, salah seorang calon kandidat pada Pilkada 2012 yang juga merupakan korban dari teror dan perusakan menyimpulkan bahwa kasus-kasus tersebut merupakan ulah dari beberapa oknum yang bermain dibelakang layar. Mereka selalu mengontrol pergerakan dari para elit politik serta timses setiap kandidat yang ada. Bukan hanya itu, para oknum tersebut juga melakukan provokasi untuk melakukan perpecahan antara kandidat, agar para kandidat saling tuding-menuding. Mereka ini yang tidak menginginkan perpolitikan Aceh hidup dan berkembang. Selain itu para oknum ini nantinya yang akan mengambil kesempatan dan keuntungan dari konflik internal politik yang terjadi.  Dan kesimpulan ini didukung juga oleh Kriminolog dari Universitas Indonesia Mulyana W Kusuma yang mengatakan belum ditemukan bukti yang mengarah pada keterlibatan partai maupun calon perseorangan dalam sejumlah aksi teror.

Panasnya suhu perpolitikan menjelang Pilkada boleh-boleh saja. Ini menandakan bahwa dunia perpolitik di tanah Aceh hidup dan tidak monoton. Namun alangkah baiknya persaingan tersebut dilakukan dengan strategi-strategi jitu yang bisa menarik simpati rakyat dan dinilai langsung untuk dipilih. Sebagai salah seorang rakyat Aceh, saya sangat berharap kepada para elit politik, tokoh masyarakat, dan aktivis semua untuk bersama-sama bercermin dan mengambil pelajaran dari Pilkada pada tahun 2012. Sebab kita semua pasti tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali pada Pilkada 2017 nanti. Kita semua pasti ingin hidup tenang, berkumpul bersama keluarga, makan dengan santai, dan buang air sendiri tanpa rasa takut akan tindakan yang tidak diinginkan.

Demi mewujudkan masyarakat Aceh yang maju dan cerdas tanpa intimidasi. Mari kita semua menjaga situasi yang kondusif menjelang Pilkada 2017 nanti. Jangan mudah terprovokasi dengan isu yang dibuat oleh pihak ketiga dengan mengatasnamakan salah satu calon. Dan mengapa harus ada darah yang turun untuk mendapatkan kursi kekuasaan bila kita masih bisa menepiskannya dengan silaturrahmi. Sebenarnya, kecurangan yang dilakukan oleh para elit politik dengan cara kekerasan dan aksi teror dapat melunturkan rasa percaya masyarakat. Sebab secara pribadi sudah pasti masyarakat menginginkan pelaksanaan Pilkada 2017 nanti aman, damai dan bebas dari segala bentuk intimidasi dan pemaksaan kehendak. Kita semua harus benar-benar komitmen untuk selalu menjaga perdamaian di bumi Serambi Mekkah ini.

Tulisan ini pernah dimuat di rubik Opini pada media massa cetak (tabloid) Berita Merdeka (Februari 2016).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments