Sang Inspirator Bangsa Menjadi Mata Air Negeri

Sang Inspirator Bangsa Menjadi Mata Air Negeri

Gambar Habibie Berlatar Tema Acara Pameran "Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri. (Doc. Antara News)
Siapa yang tidak kenal dengan Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bachruddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie? Orang yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 dan Presiden ke-3 Republik Indonesia ini namanya pasti sudah tidak asing lagi di telinga dunia internasional dan industri pesawat terbang. Apalagi di tanah air, kisah perjalanan hidup beliau telah banyak memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Dalam memperingati 80 tahun usia sang inspirator bangsa, berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends Mandiri Museum mengadakan sebuah kegiatan sebagai bentuk apresiasi terhadap Pak Habibie. Kegiatan yang dimulai sejak 24 Juli – 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua-Jakarta dengan menampilkan pameran foto-foto perjalanan hidup sang inspirator bangsa. Selain pemeran, ada gebyar aneka lomba dan salah satunya lomba menulis blog yang bertemakan, “Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri”. Kegiatan-kegiatan yang dibuat dibuka untuk umum agar perjalanan hidup selama 80 tahun sang inspirator bangsa bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat dan pemuda-pemudi Indonesia khususnya.

Perjalanan panjang hidup Pak Habibie sebagian telah difilmkan dan ditulis di buku. Menjalani kehidupan dengan permasalahan keluarga, ekonomi, karir, dan sampai cinta telah dialami oleh sang inspirator bangsa ini. Selama 80 tahun hal-hal demikian telah dirasakan Pak Habibie sejak masih anak-anak hingga sekarang. Tidak suka berpangku tangan itulah sifatnya, beliau tipikal orang pekerja keras, memiliki semangat, kesadaran, keyakinan, konsisten, disiplin, dan selalu bersyukur. Semua itu menjadi sebuah kekuatan bagi beliau sehingga mampu menjalankan dan menangani setiap permasalahan yang ada.

Bekerja Keras Untuk Lebih Baik
Sifat tekun dan pekerja keras sudah ditunjukan oleh Habibie sejak usia 14 tahun. Anak keempat dari delapan orang bersaudara yang lahir dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. Keterpurukan kehidupan ekonomi keluarga mereka setelah meninggalnya sang ayah, membuat Habibie harus membantu meringankan pekerjaan ibunya sewaktu mereka telah tinggal di Bandung. 
Gambar Foto Habibie Sewaktu Bersama Ketujuh Saudara-Saudaranya. (Doc. Google)
Keluarga Habibie pindah ke Bandung tidak lama setelah ayahnya meninggal. Sang ibu memutuskan pindah setelah mendapat biaya dari hasil penjualan rumah serta kendaraan peninggalan ayahnya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka di Bandung, ibu sang inspirator bangsa ini membuka jasa katering dan kost. Habibie yang sedang menuntut ilmu juga ikut membantu agar meringankan pekerjaan ibunya. Kehidupan yang susah menyadarkan Habibie untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh serta tekun dalam menuntut ilmu.

Kerja kerasnya untuk belajar mulai tampak sewaktu Habibie duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Habibie yang bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS) sekolah masa Hindia Belanda, menjadi siswa favorit di sekolahnya pada pelajaran-pelajaran Ilmu Eksakta. Setelah tamat sekolah tahun 1954, Habibie melanjutkan pendidikannya di Teknik Mesin Universitas Indonesia di Bandung (sekarang ITB). Setahun kemudian sang inspirator bangsa ini mendapat beasiswa di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Biaya kehidupan pendidikan Habibie selama kuliah di Jerman ditanggung oleh ibunda sendiri. Keseriusan beliau dalam belajar ditunjukan dengan memanfaatkan libur kuliah bukan untuk bekerja, namun untuk mengambil matakuliah. Dalam meringankan beban tanggungan ibunya, waktu kosong kuliah beliau dimanfaatkan untuk bekerja namun bukan untuk menghidupinya karena beliau tidak mau kuliahnya terganggu karena kerja. Penghasilan kerjanya digunakan hanya untuk membeli buku keperluan kuliah. Hidup dalam keadaan kekurangan, namun beliau dapat menyelesaikan pendidikannya sampai S2 dalam waktu 5 tahun di RWTH. Sang inspirator bangsa lulus dengan gelar Diploma Teknik (setara gelar Master) bidang desain dan kontruksi pesawat terbang. Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan gelar Diploma Teknik, Habibie kembali ke Indonesia.

Gambar Foto Pak Habibie Bersama Bu Ainun (Doc. Detik.com)
Pada tahun 1962, Habibie mengikat cintanya dengan menikahi seorang gadis bernama Hasri Ainun teman SMA dahulu. Habibie membawa Ainun ke Jerman untuk menemaninya menyelesaikan studi S3. Kehidupan keluarga baru Habibie pada saat itu terbilang sangat kekurangan dan sempat mengalami kesusahan sewatu Ainun akan mengandung putra pertama mereka. Penghasilan Habibie sebagai mahasiswa tingkat doktoral tidak banyak selain itu uangnya juga harus disisihkan untuk di tabung.

Keseriusan, ketekunan, serta kerja keras selama menjalani pendidikan doktoral sambil menghidupi keluarga kecilnya berbuah hasil yang manis. Sang inspirator bangsa ini meraih indeks prestasi summa cum laude (lulus dengan pujian terbanyak) untuk gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) yang diraihnya pada tahun 1965.

Menjadi Mata Air Bangsa Indonesia
Karir sang inspirator bangsa pada bidang penerbangan dimulai dengan menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Penerbangan (1965) yang selanjutnya menjadi Vice President sekaligus Direkur Teknologi di Messerschmitt Bolkow Blhohm (MBB) Hamburg (1978). Menjabat sebagai Vice President, Habibie menjadi orang pertama di Indonesia bahkan di Asia yang menjabat sebagai orang nomor dua di perusahan pesawat terbang Jerman tersebut. Penelitiannya yang menghasilkan beberapa teori sangat dikenal  dan banyak meyumbang di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) seperti Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Teori-teori yang dihasilkan beliau dalam dunia pesawat terbang di antaranya Habibie Faktor, Habibie Theorem, dan Habibie Method.

Gambar Foto Habibie Swaktu Menjadi Presiden RI Ke-3 (Doc. Google)
Kesuksesan karir dan keberhasilannya serta menyumbangkan ilmu dalam dunia pesawat terbang tidak membuat Habibie lupa dengan tanah airnya Indonesia. Sewaktu menjabat sebagai Vice President, Habibie mengundang 40 insinyur Indonesia dan mempekerjakannya di MBB. Hal ini dilakukan Habibie agar kelak Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia memiliki skil dan pengalaman dalam bidang industri pesawat terbang. Itulah keinginan sang inspirator bangsa ini agar bangsanya maju dalam bidang teknologi.

Kecintaannya terhadap tanah air ditunjukan dengan menerima panggilan dari Presiden Soeharto untuk memintanya kembali ke Indonesia. Kepulangan Habibie ke Indonesia pada tahun 1947 disambut oleh Presiden Soeharto dengan sangat serius. Habibie diangkat menjadi penasehat pemerintah di bidang teknologi pesawat dan teknologi tinggi. Pada saat itu Habibie juga masih menjabat Vice President MBB. Pada tahun 1976, Habibie bersama para insnyur pesawat terbang yang telah bekerja di MBB mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Tahun 1985 berganti nama menjadi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara)) dan industri pesawat terbang ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara.

Keseriusan Habibie untuk membuat bangsanya maju ditunjukan dengan melepaskan jabatannya sebagai Vice President MBB pada tahun 1978 dan lebih memilih jabatan yang diamanahkan oleh tanah airnya. Jabatan yang diberikan kepada Habibie pada saat itu adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sampai tahun 1997. Hal inilah yang membuat sang inspirator bangsa ini ingin fokus dan melepaskan jabatan di MBB.

Gambar Foto Habibie dan Replika Miniatur Pesawat N2130 (Doc. Google)
Pada tahun 1998, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden Indonesia. Di tahun tersebut, Habibie merasakan kesedihan, akibat krisis moneter 1998 pemerintah memilih untuk menutup IPTN. Habibie pernah mengatakan kepada presiden, “kasih saya uang $500 juta dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer, dll dan kita tidak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka”. Keputusan IPTN ditutup diambil setelah IMF tidak memberikan bantuan ekonomi terhadap Indonesia. Habibie tidak bisa berbuat banyak, beliau memilih mengalah demi keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

Lengsernya Presiden Soeharto, menjadikan Habibie sebagai Presiden Indonesia ke-3. Menjabat tugas sebagai Presiden Indonesia muali 21 Mei 1998, Habibie diwarisi begitu banyak permasalahan yang terjadi di negeri mulai dari krisis ekonomi dan politik, hingga sosial. Akan tetapi berkat kerja keras dan keyakinan Habibie beserta Kabinet Reformasi Pembangunan perlahan permasalahan itu dapat diatasi. 

Krisis ekonomi ditangani dengan mendapatkan kembali dukungan dari perkumpulan negara Dana Moneter Internasional. Selain menangani krisis moneter, Habibie juga berperan dalam berdirinya Bank Mandiri pada 2 Oktober 1998. Setahun kemudian, empat bank milih pemerintah seperti Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia digabungkan ke dalam Bank Mandiri. 

Pada bidang politik, lahirnya beberapa Undang-Undang di antaranya UU Anti Monopoli/Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik, dan UU Otonomi Daerah. Selain itu, kesuksesan pada masa beliau adalah membuat Pemilihan Umum (Pemilu) untuk pertama kalinya setelah terjadinya reformasi. Keberhasilannya melaksanakan Pemilu Tahun 1999 menandakan akhir jabatannya sebagai Presiden Indonesia. Sejak saat itu, Habibie kembali lagi ke Jerman dan jarang tinggal di Indonesia. 

Perhatian dan kecintaannya terhadap Indonesia tidak putus begitu saja. Sang inspirator bangsa ini mendirikan sebuah organisasi Habibie Center pada 10 November 1998. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk menciptakan masyarakat demokratisasi secara kultural dan struktural serta memajukan Sumber Daya Manusia dan usaha sosialisasi teknologi. Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono organisasi inilah yang mengawal demokratisasi dan memajukan modrenisasi di Indonesia.

Kecintaanya terhadap Indonesia sama halnya seperti beliau mencintai istrinya, Ainun. Sejak Bu Ainun meninggal pada 22 Mei 2010, Habibie lebih banyak menghabiskan waktu menulis sebuah buku tentang perjalanan cinta mereka. Buku setebal 323 halaman menceritakan semua rasa cinta beliau terhadap almarhum istrinya yang telah menemani hidupnya selama 48 tahun sehingga buku itu diberi judul Habibie dan Ainun.

Gambar Foto Habibie di Acara Pameran Foto Habibie (Doc. Antara News)
Kesadaran Habibie untuk membantu Indonesia dikarena keinginannya untuk membuat bangsa ini maju sehingga masyarakat menjadi memakmur. Habibie menganggap bila masyarakat belum makmur maka keluarganya juga tidak akan makmur karena mereka bagian masyarakat. Sehingga Habibie ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk kemakmuran rakyat. “Jadilah mata air yang jernih, yang memberikan kehidupan kepada sekitarmu”, itu merupakan perkataan yang diucapkan oleh ayahnya kepada Habibie.

Habibie merupakan sosok orang pekerja keras. Sang inspirator bangsa ini menganggap bahwa hidup seumpama naik sepeda, bila berhenti maka jatuh maka kita harus berusaha untuk terus mendayung dan menjaga keseimbangan. Karena alasan itulah menjadi motivasi Habibie untuk berusaha dan bekerja keras dalam belajar serta hidupnya.
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments