Modal Sejarah Yang Hilang (Amanah Pejuang Angkatan 45 Aceh)

Tuesday, January 10, 2017

Modal Sejarah Yang Hilang
(Amanah Pejuang Angkatan 45 Aceh)

Gambar Ilustrasi Aceh Daerah Modal (Doc. Google)
Aceh, merupakan provinsi yang pernah dijuluki sebagai daerah modal bangsa Indonesia. Julukan itu diberikan melihat kegigihan rakyat Aceh berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) dalam menghadapi gangguan Belanda yang ingin kembali menjajah. Hal ini membuat Presiden Seokarno salut dan memberikan gelar tersebut langsung dari bibir untuk Aceh sewaktu pidato di Blang Padang, 16 Juni 1948.

Saya sengaja mengatakan Aceh pernah dijuluki sebagai daerah modal. Hal ini dikarenakan tidak adanya bukti-bukti berupa monumen yang menandakan bahwa daerah ini adalah modal bangsa Indonesia. Yang ada hanya monumen mengenai sumbangan rakyat Aceh kepada rakyat Indonesia, salah satunya Monumen pesawat Dakota RI-001 di Blang Padang. Padahal modal yang sesungguhnya diberikan oleh rakyat Aceh bukanlah hanya sumbangan berupa barang semata, namun darah dan nyawa. Itulah modal utama yang diberikan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia selama 1945-1949.

Mengapa pertempuran di front Medan Area lebih dikenal dari Aceh? Bukankah pasukan yang dikirim ke Medan Area adalah para pejuang dari Aceh? Hal ini dikarenakan adanya monumen yang menjadi bukti perjuangan dalam pertempuran tersebut. Di sepanjang jalan dari Langkat sampai ke Medan kita bisa melihat begitu banyaknya monumen yang berdiri dan menghiasi setiap persimpangan. 

Bulan Juli kemarin, saya mengunjungi dan sedikit berdiskusi mengenai peran rakyat Aceh pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) dengan seorang Purnawirawan Militer Angkatan 45 bernama Teuku Alibasya Talsya. Beliau banyak bercerita mengenai beberapa pengalamannya di masa itu. Sewaktu bercerita, raut wajah beliau sesekali terlihat sangat sedih dan terkadang gembira.

Raut wajah sedih tampak pada saat beliau menceritakan bagaimana keadaan mereka sewaktu Belanda melakukan serangan melalui udara dan kegigihan mereka saat berperang. Sedangkan raut wajah gembira ditunjukan sewaktu menceritakan kemenangan yang diraih saat melawan propaganda Belanda di dunia internasional melalui radio yang mereka gunakan hingga sampai membawa Indoneasia merdeka seutuhnya. Hal ini dikarenakan peristiwa yang dialami beliau pada saat itu sungguh tidak dapat dibayangkan oleh kita saat ini yang menikmati telah kemerdekaan.

Pada diskusi tersebut bilau mengatakan, “Aceh merupakan daerah modal, apabila pada saat itu ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tidak dipindahkan ke Aceh maka Indonesia sudah dianggap tidak ada. Karena selain Aceh, seluruh daerah Indonesia lainnya sudah dikuasai oleh Belanda”. 

Pemberian julukan Aceh sebagai daerah modal langsung dikatakan oleh Presiden Soekarno pada pidatonya di Blang Padang tanggal 16 Juni 1948. “Wahai anak-anak ku rakyat Aceh, hari ini bapakmu berkata tulus dari dalam hati. Tanpa Aceh, Indonesia tidak akan pernah ada. Aceh adalah daerah modal. Hanya Aceh yang masih tersisa dan dimiliki Bangsa Indonesia untuk saat ini”, ungkap beliau sambail meniru gaya pidato Soekarno.

Permintaan untuk didirikannya monumen yang menandakan Aceh Daerah Modal pernah disampaikan oleh T.A. Talsya dan Angkatan 45 lainnya kepada Pemerintah Daerah Aceh saat menghadiri jamuan makan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi sampai saat ini monumen yang diharapkan tidak juga berdiri. Bila membuat jamuan pemerintah mampu membuatnya dengan menu yang sangat luar biasa dan menghabiskan biaya yang besar. Sedangkan untuk membangun sebuah monumen bersejarah saja saat ini tidak bisa dan malahan berdalih seribu alasan.

Para Purnawirawan Militer Angkatan 45 akhirnya lelah dengan janji mendirikan monumen yang diucapkan oleh pemerintah daerah bila bertemu. Angkatan 45 juga enggan bila harus mengunjungi dan mengemis kepada gubernur hanya untuk meminta didirikannya monumen tersebut. “Tujuan kami meminta untuk didirikannya monumen Aceh sebagai daerah modal kepada pemerintah bukan agar supaya kami dikenang. Tetapi agar kelak menjadi bukti sejarah untuk generasi Aceh selanjutnya dan tidak hilang begitu saja ditelan masa”, satu ungkapan kekecewaan dari Pak T.A. Talsya.

Sejarah suatu bangsa tidak akan diakui oleh bangsa lain apabila tidak ada bukti yang terjadinya suatu peristiwa oleh bangsa itu sendiri. Peran Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) merupakan suatu peristiwa besar dari sejarah Indonesia khususnya Aceh. Modal yang berasal dari darah dan nyawa para pejuang seharusnya juga diketahui oleh generasi Aceh selanjutnya. 

Percuma saja pemerintah selalu mengumbarkan kehebatan Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia bila itu hanya sebatas lisan. Sejarah Aceh sebagai daerah modal akan hilang karena lisan tidak akan bertahan lama dan semakin musnah seiring masa. Kelak apa yang bisa dibuktikan kepada generasi Aceh selanjutnya bila tidak ada bukti yang tersisa maupun sesuatu yang menandakan kehebatan bangsa kita. 

Bila tulisan Soekarno tentang cita-cita rakyat Aceh bisa menjadi sebuah monumen di Kopelma Darussalam. Sudah sepatutnya pengakuan langsung Aceh sebagai daerah modal yang diucapkan Soekarno juga dibangun sebuah monumen sebagi buktinya.  

Tulisan ini saya buat hanya untuk melanjutkan cita-cita dari para Purnawirawan Militer Angkatan 45. Setidaknya Pemerintah Daerah Aceh dan rakyat Aceh juga mengetahuinya. Ingatlah pengorbanan dan perjuangan yang telah mereka lakukan sehingga kita bisa merasakannya saat ini. Hanya monumen yang diminta mereka berdiri, tidak lain agar sejarah perjuangan rakyat Aceh tidak hilang ditelan bumi.

Tulisan ini pernah dimuat pada media online Portalsatu.com (4/01/2017)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments