Banda Aceh dan Bukan Kutaraja

Saturday, January 21, 2017

Banda Aceh dan Bukan Kutaraja

Gambar Foto Salah Satu Sudut Kota Banda Aceh dari Udara
(Doc. Banda Aceh Tourism)
Penggunaan istilah Kutaraja (Koetaradja) belakangan ini semakin populer dipakai menggantikan nama Banda Aceh. Istilah itu bahkan telah banyak disandingkan dengan icon-icon serta kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah kota maupun daerah Aceh. Kita ambil contoh saja yang paling populer saat ini, seperti pada Bus Trans Koetaradja dan tulisan Koetaradja di Simpang Kodim Banda Aceh (di tepi Krueng Daroy). Padahal kedua contoh itu merupakan icon terbaru yang ada dan dinikmati masyarakat di Kota Banda Aceh.

Istilah Kutaraja diartikan sebagai benteng raja atau kota raja. Penggunaan istilah ini bukan untuk menandakan bahwa kota ini merupakan kota ataupun benteng raja, akan tetapi pemakaian nama Kutaraja digunakan Belanda sebagai bentuk berdirinya kolonialisme di Aceh. Nama tersebut diberikan oleh Belanda untuk menggantikan nama Bandar Aceh Darussalam (sekarang dikenal Banda Aceh) sebagai ibu kota dan menghapus sisa maupun puing-puing dari Kerajaan Aceh Darussalam setelah mereka taklukkan. 

Lalu mengapa para pemimpin kota maupun daerah Aceh saat ini lebih sering menggunakan istilah Kutaraja daripada Banda Aceh? Bukankah mereka sudah sering mengumbar-umbar tentang sejarah dan membanggakan terutama sejarah Kerajaan Aceh Darussalam? Padahal nama Kutaraja sendiri telah dihapuskan berdasarkan keputusan pemimpin Aceh sendiri, lalu mengapa masih sering dibanggakan? Bahkan ada beberapa penulis sejarah amatir di blog mengatakan Banda Aceh berawal dari nama Kutaraja. Hal inilah menjadi alasan artikel ini saya tulis untuk membahas berdasarkan kronologi dan poin-poin penting sejarah nama Kota Banda Aceh dari awal berdiri sampai saat ini.

Kota Banda Aceh telah berdiri jauh sebelum ada Kerajaan Aceh Darussalam (1514), yaitu 22 April 1205 M (1 Ramadhan 601 H). Prasasti Nol Kilometer Kota Banda Aceh di Gampong Pandee adalah bukti berdirinya kota ini. Rusdi Sufi (1996) mengatakan, “sebelum abad ke-15 dan nama Bandar Aceh Darussalam, telah muncul nama Bandar Darussalam yang didirikan oleh Sultan Alaiddin Johan Syah sebagi ibu kota dari Kerajaan Lamuri untuk menggantikan ibu kota sebelumnya di Lamuri”. Bandar inilah kelak menjadi Bandar Aceh Darussalam (Sekarang dikenal Banda Aceh) setelah Kerajaan Aceh Darussalam didirikan Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530). 

Bandar Aceh Darussalam selama tiga abad digunakan sebagai nama Ibu Kota Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagai sebuah bandar (pelabuhan) serta pusat pemerintahan yang terletak di Selat Malaka, menjadikan ekonomi kota ini lebih cepat berkembang dan menjadi pusat pendidikan agama Islam pada waktu itu. Bahkan pada masa Sultan Iskandar Muda (1606-1636), Kerajaan Aceh Darussalam mencapai kejayaan menjadi lima kerajaan terbesar di dunia pada masa itu. 

Invansi pertama Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, tahun 1873 telah mengakibatkan kekacauan pertahanan di Aceh. Meskipun pada akhirnya Belanda gagal untuk menduduki dan harus kehilangan seorang mayor jenderal yang memimpim invansi ke Aceh.

Dampak invansi yang dilakukan Belanda terhadap Aceh melemahkan pertahanan di pusat kerajaan. Sehingga pada invansi selanjutnya yang dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten, Belanda berhasil menguasai ibu kota Aceh pada tanggal 24 Januari 1874. Keberhasilan itu coba diwujudkan dengan merencanakan merubah nama Bandar Aceh Darussalam menjadi Kutaraja untuk menghilangkan sisa peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam. 

Rencana itu merupakan tujuan politik yang dilakukan Belanda dan van Swieten khususnya. Perubahan itu merupakan bukti kepada Raja Belanda, Willem III di Amsterdam Belanda mengenai kemampuannya menaklukkan dan menghilangkan kerajaan Kerajaan Aceh Darussalam. Usaha itu diwujudkan dengan dikeluarkannya beslit tanggal 16 Maret 1874, oleh Gubernur Jenderal James Loudon di Batavia. Isi beslit mengenai perubahan nama Ibu Kota Bandar Aceh Darussalam menjadi Kutaraja (Benteng Raja) dan dimulainya kolonialisme di Aceh.

Beslit tersebut telah mengubur nama Bandar Aceh Darussalam. Nama Kutaraja semakin populer di masyarakat serta para penulis Belanda dan pribumi. Bahkan nama itu terus digunakan hingga Aceh menjadi sebuah provinsi di Indonesia pada tanggal 27 Januari 1957.

Pengembalian Bandar Aceh Darussalam sebagai nama ibu kota baru direncanakan setelah lima tahun Provinsi Daerah Istimewa Aceh berdiri. Melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh tanggal 21 Desember 1962, di Kutaraja dan diputuskan nama ibu kota Aceh menjadi Banda Aceh. Ali Hasjmy selaku Gubernur Aceh mengeluarkan Keputusan Pemerintahan Daerah Istimewa Aceh No.153/1962, tertanggal 28 Desember 1962 yang pada salah satu poinnya berisi mengenai perubahan nama Kutaraja menjadi Banda Aceh dihitung sejak 1 Januari 1963. Keputusan tersebut diikuti dengan SK No. Des 52/1/43-43 tanggal 9 Mei 1963 yang dikeluarkan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah. Pasca ketetapan tersebut, akhirnya nama Banda Aceh digunakan sebagai nama ibu kota Aceh setelah selama 89 tahun (1874-1963) terkubur oleh nama Kutaraja. 

Kelihatannya hal ini sepele, hanya sebuah istilah untuk nama yang dipakai. Seumpama perkataan William Shakespeare dalam kutipan novel Romeo and Juliet, “What’s in a name? (yang artinya apalah arti sebuah nama?)”. Sastrawan Italia abad ke-16 M ini juga mengatakan bahwa nama tidak akan mempengaruhi keadaan, tetap saja sama.

Istilah Kutaraja yang digunakan memang tidak merubah keadaan Kota Banda Aceh, namun harus disadari penggunaan istilah tersebut secara tidak langsung telah menggeser nama Banda Aceh yang penuh sejarah. Pemerintah seharusnya lebih bangga menggunakan istilah Banda Aceh sebagai peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam untuk icon ataupun tema kegiatan lainnya daripada istilah Kutaraja yang merupakan pemberian Belanda. Maka dari itu hal ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi pemerintah Aceh khususnya Banda Aceh. Tidak tahu apa sebenarnya yang penyebab pemerintah saat ini lebih suka menggunakan istilah Kutaraja daripada Banda Aceh. Akan tetapi yang harus kita ketahui adalah Banda Aceh berbeda dengan Kutaraja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments