Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Friday, August 18, 2017 0

Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Ilustrasi budaya dari berbagai suku di Indonesia. @Doc. Istimewa.
Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang bisa dikatakan unik, yang saya alami. Mungkin sebagian kawan-kawan pernah mengalami hal yang sama.

Kejadian ini terjadi pada Kamis, 10 Agustus 2017 lalu, di saat saya memutuskan untuk memotong rambut setelah pulang dari Kampus Politeknik Aceh yang ada di Pango. Cuaca panas, membuat rambut dan kepala saya menjadi gerah. Maklum saja, aktu itu rambut saya bisa dibilang lumayan panjang, bagian depannya kalau ditarik bisa lewat dagu dan bagian belakangnya telah sampai bahu. Jadi, solusi mencari tempat jasa pemotongan rambut (pangkas) sambil menuju jalan pulang saya anggap sangatlah tepat. Biar terlihat lebih muda dan keren kayak orang-orang. Hehehe.

Saya pun beranjak dari Kampus Politeknik Aceh dengan menggunakan sepeda motor sambil memikul tas yang lumayan berat karena berisi laptop, buku, serta beberapa barang lainnya. Rute perjalanan yang saya tempuh untuk pulang ke rumah sambil mencari tempat pangkas, yakni Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango lalu ke Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Sepanjang perjalanan yang saya lalui, sambil mengendarai sepeda motor, saya mencoba memperhatikan tempat pangkas di kawasan pertokoan yang ada di kiri dan di kanan bahu jalan.

Beberapa menit setelah bergeser dari tempat yang saya bergerak tadi, akhirnya saya mendapatkan salah satu tempat pangkas yang ada di kawasan Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Mendapati tempat tersebut, saya langsung memarkirkan sepeda motor dan lalu masuk ke dalam.

Ketika masuk, saya langsung disodorkan pertanyaan oleh salah seorang karyawan jasa pemotongan rambut layaknya menyambut konsumennya. 

"Koh ook bang? (Potong rambut bang?)," tanyanya karyawan tersebut dengan dialeg Bahasa Aceh.

"Nyo bang (iya bang)," jawab saya yang memang ingin memotong rambut.

Sambil melepaskan tas yang tersandang, saya memperhatikan sekeliling ruangan mencari tempat untuk meletakkan tas. Karyawan yang memahami gerak-gerik saya langsung mengatakan untuk meletakkan tas di atas meja (tempat peralatan pemotongan rambut) dekat kaca.

"Neu peuduk atas meja nyo ju (letakkan di atas meja ini saja)," ucapnya menyuruh.

Saya mencoba meletakkan tas di atas meja, namun masih saya pegang karena masih ragu dengan posisi tas yang saya anggap masih kurang pas (takut jatuh karena berisi laptop). 

"Peuduk ju (letakkan saja), gak apa-apa, gak jatuh itu," disambut dengan dialeg Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia oleh karyawan yang nantinya akan memotong rambut saya dengan karena melihat saya sedikit ragu meletakkan tas.

Mendengar pernyataan itu, saya letakkan tas lalu menuju kursi pangkas untuk duduk.

Di dalam ruangan itu ada 5 orang, di antaranya 2 orang konusmen (termasuk saya) dan 3 orang jasa pemotongan rambut (satu bersiap-siap untuk memotong rambut saya, satu sedang memotong rambut konsumen yang lain, dan satunya lagi sedang menjalankan shalat).

Kemudian karyawan itu menanyakan kembali kepada saya. "Kiban ta koh? (Bagaimana kita potong?)," tanyanya menawarkan potongan dengan model rambut yang bagaimana.

"Rapi," jawab saya dengan santai.

Karyawan tersebut kemudian menanyakan kembali, dan saya tetap dengan jawaban yang sama.

Mungkin suara saya terlalu pelan dan cepat ataukah antara didengar jelas atau tidak oleh karyawan tersebut. Sehingga teman  di sebelahnya langsung menyahut dan mengatakan kepada karyawan itu bahwa saya tidak bisa berbahasa Aceh.

"Han jeut Bahasa Aceh jih nyan (Tidak bisa Bahasa Aceh dia tu)," sahut kawannya.

Karyawan tersebut akhirnya menanyakan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

"Mau pangkas model yang gimana bang?," tanyanya.

Saya pun menjawab dengan bahasa Indonesia. "Dirapikan aja bang, samping sama potong atasnya dikit," jawabku.

Merasa sedikit bingung, karyawan tersebut mencoba menunjukan pilihan beberapa gambar model potongan rambut yang tertera di dinding ruangan tersebut.

"Apa mau kayak nomor 19?," menawarkan salah satu model potongan rambut yang ada.

Sejenak saya berpikir sambil memperhatikan model potongan rambut yang ditawarkan. Tidak lama kemudian saya pun mengiyakan model tersebut karena terlihat lebih rapi dan keren.

"Boleh bang, yang nomor 19 aja," jawab ku menyetujui tawarannya.

Karyawan itu kemudian bersiap-siap untuk memotong rambutku, namun ketika dia baru saja memegang mesin pemotong rambut. Matanya tiba-tiba mengarah ke tas yang aku letakan tadi di atas meja.

"Kita pindahkan aja tasnya ya bang?," dia meminta izin kepada ku sembari mencoba memindahkan tas.

"Berat juga tasnya bang, apa isinya?," tanyanya padaku.

Aku yang melihat langsung merespon. "Laptop sama buku bang. Hati-hati bang," mengingatkan kepada karyawan itu.

Mendengar rekannya mengatakan bahwa tas yang dipindahkan itu berat. Karyawan satunya yang sedang memotong rambut pelanggan lain, mencoba menyambung pembicaraan.

"Nyan bom aso jih. Hati-hati kah me, meunyo ret meuledak habe geutanyo (itu bom isinya. Hati-hati kamu bawa, kalau jatuh meledak habis kita)," ucapnya karyawan tersebut.

"Kadang cit jih aneuk buah Abu Safi (kadang juga dia anak buah Abu Safi)," ucapnya lagi menambahkan sambil tertawa.

Mendengar apa yang dikatakannya, saya hanya tersenyum seakan tidak menghiraukan apa yang dia bicarakan.

Setelah itu, karyawan tadi kembali menceritakan tentang saya dengan menggunakan Bahasa Aceh, seakan-akan mereka menganggap saya benar-benar tidak mengerti bahasa tersebut. Saya kembali tidak menghiraukan, tetapi saya tetap mendengar percakapan mereka.

Di dalam hati saya bergumam heran, "apa orang ini benar-benar gak tahu kalau aku bisa berbahasa Aceh?," tanyaku dalam hati.

Bosan bercerita mulai dari tentang saya hingga tentang-tentang lainnya. Akhirnya karyawan tadi berhenti berbicara dan suasanya menjadi senyap. Tidak lama kemudian, masuk pelanggan lainnya keruangan tersebut. Pembicaraan kembali dimulai dengan tema baru lagi. Di saat itu, saya sudah tidak peduli dan tidak mendengar lagi apa yang menjadi pembahasan.

Beberapa menit kemudian, rambut saya pun selesai dipotong oleh karyawan yang pertama tadi. Biasanya, setelah habis potong rambut maka karyawan akan menyetel kursi menjadi lebih santai (telentang) untuk dilakukan pemijatan (mengurut).

Melihat kursi akan disetel, saya pun respon melarang dengan menggunakan Bahasa Aceh.

"Ohh bek bang, bek. Ka jeut nyo (ohh jangan bang, jangan. Udah bisa ini)," menginstruksikan kepadanya bahwa saya tidak mau dipijat.

Mendengar saya berbicara menggunakan Bahasa Aceh. Karyawan  itu langsung kaget.

"Haii, jeut lago Bahasa Aceh? Lon pike kon awak Aceh beno (haii, bisa rupanya Bahas Aceh? Saya pikir bukan orang Aceh tadi)," tanyanya kaget.

"Jeut bang (bisa bang)," jawabku.

"Man pakon beno wakte lon tanyong hana jaweb? (Lalu kenapa tado waktu saya tanya (masalah potongan rambut) tidak dijawab?," tanyanya lagi.

"Na bang, cuma mungken han dron leungo beno (ada bang, cuma mungkin gak abang dengar tadi," jawabku lagi sambil senyum dingin.

Mendengar pembicaraan kami, seorang karyawan tadi kembali ikut menyahut.

"Mungken abang nyan Aceh Jawa (mungkin abang itu Aceh Jawa). Hahaha...," sahutnya tertawa.

Sambil berbenah diri untuk beranjak, aku langsung menanyakan harga operasional pomotongan rambut. Setelah menyerahkan biaya pembayaran, karyawan tersebut merasa tidak enak kepada diriku. Itu terlihat dari cara dia mencoba mengakrabkan diri dengan ku.

"Omak bang, pike dron beno awak Jawa atau awak Medan. Kareuna wakte jak deungon ook panyang (omak bang, pikir abang tadi orang Jawa atau orang Medan. Karena waktu datang dengan rambut panjang lagi," ngelesnya.

Merasa tidak enak, dia sempat meminta maaf sebelum saya keluar dari ruang itu.

"Lake meuah bang beuh. Lon hana lon teupeu beno (minta maaf bang ya. Saya tidak tahu tadi)," ucapnya.

Merasa tidak ada yang harus dimaafkan, dan saya menganggapnya itu sebuah candaan.

"Hana peu bang, santai ju (tidak apa-apa bang, santai saja)," jawabku.

***

Begitulah cerita singkat yang saya alami sewaktu memotong rambut. Dari tulisan ini, Saya kembali teringat pada sebuah peristiwa saat saya sedang liputan. Kejadian itu hampir sama seperti yang saya alamj, akan tetapi konteksnya saja berbeda.

Ketika itu korbannya adalah rombongan atlit sepeda yang sedang melakukan touring dari Pulau Weh (Sabang) ke Kota Banda Aceh. Para atlit yang tiba di salah satu penginapan di Kota Banda Aceh pernah diganggu oleh pekerja bangunan di penginapan mereka saat pertama kali sampai. Ada beberapa pekerja yang mencoba mengganggu dan berbicara hal yang tidak wajar untuk atlit wanita yang ikut dengan para rombongan dengan menggunakan bahasa daerah Jawa Barat (Sunda).

Mendengar mereka sedang dibicarakan, salah seorang atlit wanita yang mengerti merasa marah dan memarahi para pekerja tersebut dengan Bahasa Sunda. Teman-teman atlit lainnya yang merasa heran apa yang dibicarakan mencoba menanyakan kepada salah seorang atlit tersebut.

"Itu tadi dia bilangin kita yang enggak-enggak, wuuu dasar," ucap atlit wanita tersebut.

Tulisan ini mungkin hisa menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa jangan menilai orang dari luar. Selain itu, jangan pernah mencoba membicarakan orang lain dengan menggunakan bahasa yang mungkin kita anggap orang yang kita bicarakan itu tidak mengerti atau memahaminya.

Mungkin saat itu kalian menceritakan mereka, namun suatu saat kalian akan malu karenanya.

Kita Merah Putih

Thursday, August 17, 2017 0

Kita Merah Putih

Seorang bocah menghormat bendera merah putih. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku merah.
Engkau putih.
Berpadu, satu.
Berbeda menjadi saudara.
Merah putih kita.

Sekber Wartawan, Banda Aceh
17 Agustus 2017

Mereka (Hutan)

Tuesday, August 15, 2017 0

Mereka (Hutan)

No Forest, No Light, and No Future (Tidak ada Hutan, Tidak Ada Cahaya, dan Tidak Ada Masa Depan). @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Mereka tak bersuara,
tapi mereka bisa mendengar.
Mereka tak mengeluarkan air mata,
namun mereka dapat bersedih pula.
Mereka punya rasa.
Tetapi kita tidak pernah percaya
bahwa mereka ada untuk kita (manusia).

Banda Aceh
31 Juli 2017

Guruku

Monday, August 14, 2017 0

Guruku

Ilustrasi. @Doc. Kompasiana.
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau begitu mulia.
Di dalam hati para siswa.
Begitu besar jasamu guruku.

Kau begitu sabar.
Di setiap engkau mengajar.
Begitu berartinya guruku.

Jasamu.
Sulit dilupakan.
Jasamu.
Sulit tuk dikenang.
Guruku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Atas semua
yang kau berikan untukku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Wahai guruku.
Terima kasihku.

Wahai guruku.
Terima kasihku.

SMA Muhammadiyah 1 Batam, Batam 
2011

Berhenti Berharap

Monday, August 14, 2017 0

Berhenti Berharap

Ilustrasi. @Doc. Google.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku terlalu berharap.
Terlalu lama aku telah menunggu.
Kepastian itu tiada ujungnya,
namun malah semakin menyiksaku.
Menyiksa bathin juga perasaanku.

Apa maksud dari semua ini.
Aku masih tidak pernah mengerti.
Mengapa aku selalu berharap.
Padahal semua itu hanya semu,
yang melahirkan luka dan sakit melara.

Aku berharap,
namun tanpa pernah diambil peduli.
Bagaikan bulan berharap bertemu matahari.
Gelap dunia, bencana semesta.

Huuffffttt.
Lebih baik aku memupuskannya.
Tiada guna aku terlarut dalam harap.

Gampong Emperum, Banda Aceh
2012

Tips Unik Agar Mau Menulis

Thursday, August 10, 2017 0

Tips Unik Agar Mau Menulis

Ilustrasi menulis. @Doc. Kompasiana.
Menulis bisa dikatakan sebagai suatu kemampuan seseorang dalam merangkai kata-kata serta bahasa dengan menciptakan suatu kalimat. Pada dunia bahasa, menulis menjadi salah satu bagian yang sangat penting dilakukan setelah kemampuan membaca, berbicara, dan menyimak. Sebab dengan menulis, penulis mampu menceritakan kembali situasi ataupun keadaan yang dilihatnya. Selain itu dengan kemampuan menulis, penulis juga bisa lebih mudah dalam mengingat apa yang sudah terjadi.

Ada beberapa definisi atau pengertian dari menulis yang saya ambil. Pengertian tersebut ada menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, dan menurut beberapa para ahli.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, menulis berasal dari kata tulis yang berarti ada huruf (angka dan sebagainya) yang dibuat (digurat dan sebagainya) dengan pena (pensil, cat, dan sebagainya) (Sumber: KBBI Online).

Menurut para ahli seperti Djago Tarigan dalam buku yang ditulis Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009:5) menulis bisa diartikan sebagai mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan (Sumber: Dunia Baca Dot Com (Online)).

Definisi menulis menurut Pranoto (2004:9) adalah menuangkan buah pikiran kedalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Sumber: Zha Gadih Minang (Online)).

Berdasarkan tiga definisi di atas, menulis dapat diartikan sebagai suatu susunan huruf atau angka yang dibuat dalam bentuk kalimat berupa ungkapan, pendapat yang dituangkan kedalam tulisan.

Di atas sudah dijelaskan definisi ataupun pengertian dari menulis. Lalu bagaimana cara kita agar mau menulis? Inilah yang menjadi beberapa masalah bagi para penulis terutama penulis pemula. Akan tetapi kawan-kawan jangan panik ataupun bingung untuk mulai menulis dari tulisan yanga akan kawan-kawan tulis.
Kali ini saya akan berbagi beberapa informasi mengenai tips dan cara untuk menjadi penulis ataupun minimalnya mau menulis sebuah artikel atau tulisan. Tips ini berdasarkan pengalaman yang saya alami untuk memulai menulis. Adapun langkah-langkahnya bisa kawan-kawan baca di bawah ini.

Cobalah Tulis Kembali Buku-Buku Bacaan
Membuat suatu tulisan atau artikel memang tidaklah mudah. Kawan-kawan harus memikirkan apa yang harus ditulis dan kata apa yang akan ditulis pertama kali. Mengenai hal tersebut, kawan-kawan bisa memulainya dengan mencoba menulis tulisan yang ada di buku bacaan yang kamu punya ataupun pinjam dari perpustakaan.

Menulis kembali tulisan yang ada di buku adalah sebagai suatu lahan latihan paling dasar bagi penulis pemula untuk mau menulis. Hal ini dikarenakan, tulisan dari buku bacaan yang ada secara tidak langsung telah memacu kawan-kawan untuk membaca, mengingat, dan mengikuti rangkaian kata-kata yang ada di dalam buku. Selain itu, menulis kembali buku bacaan akan melatih jari-jari tangan kawan-kawan untuk mau menulis.   

Latihan menulis melalui cara ini bisa dilakukan dengan sehari minimal satu sampai sepuluh halaman buku. Apabila kawan-kawan sudah mulai terbiasa, cobalah untuk meningkatkan halaman tulisan perharinya. Jika jari-jari dan pikiran kawan-kawan sudah biasa untuk menulis maka coba tingkatkan dengan melakukan resume (membuat ringkasan) dari bagaian atau bab yang ada pada buku. Semakin sering kamu lakukan latihan menulis seperti ini, maka kamu mulai terbiasa dan bahkan semakin menambah keinginan untuk menulis.

Tulislah Apa Yang Anda Pikirkan
Permasalahan bagi para penulis pemula untuk mau menulis biasanya adalah apa yang mau ditulis oleh penulis. Sebenarnya sih itu bukan suatau permasalahan yang serius. Ketika kawan-kawan sudah mulai mau menulis, tulislah apa yang kamu pikirkan. Tulis semua dahulu sampai selesai menurut kawan-kawan. 

Sebagai pemula, kamu bisa menulis tulisan berupa puisi, cerpen, ataupun kisah maupun diari serta perjalanan hidupmu. Kalau kawan-kawan bisa menulis artikel esai atau opini itu malahan lebih bagus lagi.

Tulisan yang sudah kawan-kawan tulis kemudian coba dibaca kembali untuk memperbaiki setiap kata yang salah sekaligus merangkai kalimat mana yang tepat. Kotak-katiklah tulisan yang kamu punya sesuai keinginan kamu. Kemudian tulisan yang sudah kamu kotak-katik coba untuk dibaca kembali untuk lebih memastikan hasilnya.

Kedua tips di atas berdasarkan pengalaman dari saya yang mungkin bisa bermanfaat bagi kawan-kawan. Semoga dengan tips sederhana ini bisa menambah kemauan kawan-kawan yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis atau memulai untuk menulis.

Pemimpin Harus Paham Situasi Masyarakat

Tuesday, August 08, 2017 0

Pemimpin Harus Paham Situasi Masyarakat

Ilustrasi seorang pemimpin. @Doc. www.forbes.com
Tulisan mungkin bisa menjadi pengingat dan pertimbangan bagi pemimpin-pemimpin yang ada di seluruh dunia, dan khususnya Provinsi Aceh saat melintasi kawasan maupun jalan di saat waktu-waktu tertentu.

Jika kemarin ada beberapa pemandangan yang unik terlihat oleh mata saya, hari ini kejadian lain kembali terpantau di mata saya.

Pada waktu itu, Jumat siang sekira kurang dari pukul 12.00 WIB. Saat saya duduk di Sekber (Sekretariat Bersama) Wartawan yang ada di Jln. Sultan Alaidin Mahmudsyah, saya beserta teman-teman lainnya disajikan pemandangan kemacetan kota. Maklum, jadwal waktunya istirahat dan menjelang Shalat Jumat.

Kemacetan lampu merah Simpang Kodim siang itu mencapai Jembatan Pante Pirak. Hampir seluruh kendaraan roda enam, empat dan dua, yang berjubel mencoba saling selip.

Sedang asik-asiknya melihat pemandangan tersebut, tiba-tiba suara sirine dari satu unit mobil patroli polisi lalulintas terdengar dari kejauhan.

Penasaran dengan suara sirene yang menjerit tersebut. Saya coba mengangkat kepala (mengintip/menerawang dari kejauhan). Mungkin tu mobil polantas dan personilnya mau mengatur kemacetan yang terjadi (pikir saya).

Ketika asal suara sirene itu tepat dihadapan saya, yang timbul adalah sedikit rasa kecewa. Ternyata mobil yang membawa sirene menjerit-jerit tersebut mengiring mobil mewah seorang pejabat Pemerintah Aceh (berdasarkan plat merah dengan nomor digitnya hanya satu dan sangat kecil yang tidak lebih dari angka 5).

Petugas tersebut dengan percaya dirinya menyuruh pengendara lainnya untuk membuka jalan, hanya untuk orang yang seharusnya mengerti keadaan saat itu.

Kejadian tersebut membuat saya hampir beropsi negatif, namun saya coba mengisinya dengan hal positif.

"MUNGKIN ORANG YANG ADA DI DALAM MOBIL ITU SEDANG SAKIT PERUT ATAU SAKIT ATAU HAL KRITIS LAINNYA YANG LEBIH PENTING DARIPADA KESIBUKAN LAIN MASYARAKAT (SEPERTI INGIN SHALAT JUMAT KARENA HAMPIR TIBA WAKTUNYA)."

Tulisan ini mungkin bisa menjadi teguran kepada para pemimpin atau pejabat lainnya. Bahwa diwaktu-waktu tertentu ada kalanya juga seorang pejabat harus merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat.
Begitulah cerita hari ini.

Terima kasih buat kawan-kawan yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya.

Kau (Gitar) Kesepian

Sunday, August 06, 2017 0

Kau (Gitar) Kesepian

Ini adalah gitar ku yang ku beli tahun 2013 lalu. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Malam ini tak ingin ku sentuh
dirimu. Meski hanya se-not.
Ku biarkan dingin malam
mencabik-cabik dirimu
bersama rintik hujan.
Tapi aku menantang.
Melirik memandang
kau yang tak semu
namun berdiri kaku.

Emperum, Banda Aceh
5 Agustus 2017
Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Friday, August 04, 2017 0

Peringatan Buat Kaum Hawa Yang Suka Memakai Baju Atau Rok Lebar

Ilustrasi baju gamis atau rok lebar seorang wanita yang masuk ke dalam gigi tarik (gear) sepeda motor. @Doc. Istimewa.
Tulisan mungkin bisa menjadi peringatan bagi kaum hawa (perempuan/wanita/cewek) yang suka atau sedang memakai baju gamis (baju terusan/panjang) atau rok ataupun sejenisnya.

Sore itu, Kamis, tanggal 3 Agustus 2017. Saat saya sedang melintas jalan dari daerah Jembatan Pante Pirak menuju Darussalam. Ada satu penampakan unik yang terjadi dengan beberapa orang, khususnya wanita. 

Di mana, saya melihat ada tiga rok dari tiga orang wanita masing-masing terjepit pintu dengan tiga mobil di tiga di lokasi yang berbeda. 

Pertama saya jumpa di menuju Simpang Jambo Tape. Terlihat rok seorang wanita terjepit mobil avanza berwarna silver.

Kedua, saat saya hampir sampai di Simpang Taman Ratu Safiatuddin. Kembali terlihat rok seorang wanita terjepit di sebuah mobil sedan.

Dan yang terakhir, ketiga. Ketika hampir sampai di Simpang Mesra, lagi-lagi saya melihatnya. Pintu mobil pick up menjepit rok seorang wanita.

Ketiga peristiwa tersebut membuat saya membayangkan, bagaimana jika rok tersebut terjepit di gear (gigi tarik) sepada motor? Apa jadinya ketiga wanita itu?

Intinya, kembali lagi saya ingatkan kepada para wanita mohon diperhatikan jika menaiki kendaraan. Lihatlah pakaian anda sebelum berangkat atau menaiki kendaraan, agar hal-hal tidak diinginkan tidak menimpa anda. Kan sayang kalau baju gamis (baju terusan/panjang) atau rok robek gara-gara itu. 😁😁😂

Sendiri

Thursday, August 03, 2017 0

Sendiri 

Ilustrasi. @Doc. Brilio.net
Karya: Mhd. Saifullah
Sendiri. Di sini ku masih sendiri.
Tak ada yang menemani.
Hati ini. Terasa sepi.

Sendiri. Di sini ku menyendiri.
Tak ada yang mengerti.
Hati ini. Terasa sunyi.

Ku ingin kehadiranmu
mampu membelah kesunyian,
kesepian, dan kesendirian.
Ku ingin engkau di sini.
Temani aku sendiri.

Gampong Emperum, Banda Aceh
11 Desember 2011

Surat Untuk Bunda

Monday, July 31, 2017 0

Surat Untuk Bunda

Ilustrasi. @Doc. Anak Kampus.
Karya: Mhd. Saifullah
Secerca bait puisi, surat untuk bunda.
Untuk yang tersayang.
Ibunda tercinta,
selalu menunggu anaknya pulang.

Bunda.
Meski usia semakin menua.
Tetapi di mataku, tak tampak rupa yang ada.
Rambut memutih tetap terlihat indah.
Bunda masih tampak cantik
dari wanita yang lainnya.
Sama seperti di kala pertama aku
di turunkan ke dunia.
Melihat malaikat yang sempurna.

Wahai ibunda.
Wanita yang telah melahirkanku,
menyayangiku dan membesarkanku.
Dengan kesabaran dan cinta.
Engkau menahan dalam sembilan bulan.
Anak dalam kandungmu
hingga lahir dan tumbuh menjadi dewasa.

Tak cukup hanya terima kasih.
Tak cukup dengan barang tuk diberi.
Dan tak cukup seumur hidup berbakti.
Bila dibandingkan besarnya pengorbanan
untuk melahirkan aku ke dunia ini.

Bunda.
Hanya Allah yang bisa membalas semua.
Anakmu hanya bisa berdoa,
agar Allah membalasnya dengan ridhaNya.
Karena anakmu pasti takan mampu.
Karena anakmu takan bisa.
Untuk membalas semua yang telah ada.

Di hari ibu ini.
Secerca bait puisi ini merupakan bukti.
Bahwa lemahnya anakmu ini.
Tak bisa membalas pengorbananmu,
tanpa bantuan dari sang Ilahi.

Gampong Emperum, Banda Aceh
21 Desember 2011

Hanya Panas Matahari

Saturday, July 29, 2017 0

Hanya Panas Matahari 

Ilustrasi. @Doc. Tribun Manado
Karya: Mhd. Saifullah 
Panasnya matahari
seakan membakar kulit.
Butir-butir biji jagung,
bercucuran di sela tubuh.

Otak di kepala
seakan mendidih.
Diri terasa gelisah.
Kemalasan subur dengan sendirinya.

Tetapi berbeda dengan mereka.
Meraka merasa hari adalah cahaya.
Tak terasa sejuk mentari,
meski badan semakin mendidih.
Tak merasa akan lelah,
Asal mampu memenuhi jiwa.

Panasnya mentari bukan rintangan.
Panasnya mentari bukanlah penghalang.
Dan panasnya matahari bukanlah alasan.

Kebal telah telapak kaki.
Sengatan mentari
bukan sebuah hirauan lagi.

Keringat telah menjadi sahabat.
Debu jalanan telah akrab.

Namun tiada mengeluh
kehidupan dunia.
Selalu bersyukur
meski tiada harta.
Karena diri masih
memiliki Allah.

Batu Aji, Batam 
2011

Kau Bohongi

Thursday, July 27, 2017 0

Kau Bohongi

Ilustrasi. @Doc. Motivasi Kerja
Karya: Mhd. Saifullah 
Bagaikan berjalan,
di atas hancurnya perasaan.
Dan kau hanya bisa terdiam
dan pergi.

Kau tak pernah rasakan.
Betapa hancurnya perasaan.
Yang telah menyakitkan hati ini.
Dan kau telah menghancurkan
semua mimpi.

Kau telah membohongi semua
yang ada.
Ku kira,
kau kan setia.
Ternyata.
Tu semua bohongan belaka.
Kau buat ku terluka.

Kau bohongi aku lagi.
Dan juga cinta ini.

Batu Aji, Batam 
2011

Ku Ingin Kembali

Monday, July 24, 2017 0

Ku Ingin Kembali

Ilustrasi. @Doc. Bila Rindu Tinggal Kata
Karya: Mhd. Saifullah 
Berjalan di gelap malam.
Tertatih mengarungi waktu.
Terdiam dalam keheningan.
Menyesali yang telah terjadi.

Dalam hidupku.
Kini ku ingin ku kembali
menjadi seperti dulu.
Tanpa bayangan hitam menghantui.
Ku berharap setitik cahaya.
Ku menanti, menanti di sini.

Ku tak bisa berlari menjauh.
Ku menyesali yang telah terjadi.

Batu Aji, Batam
2010

Pacarku, Seorang Guru

Saturday, July 22, 2017 0

Pacarku, Seorang Guru

Ilustrasi. @Doc. Google.
Karya: Mhd. Saifullah
Pacarku, seorang guru.
Pastinya, dia lebih hebat
daripada diriku.
Bukti nyata saja.
Meski lelah,
dia tidak mudah menyerah.
Khususnya memberi ilmu
kapada siswanya.
Walau harga keringatnya lebih murah
dari uang jajan pemerintah.

Pacarku, seorang guru.
Pergi pagi, pulang siang.
Bahkan petang,
lewat adzan ashar berkumandang.
Namun kerja dan usahanya,
tak dipandang.
Berbeda bila pejabat yang datang.

Pacarku, seorang guru.
Aku bangga memilikimu.

Lamteumen, Banda Aceh
23 Juli 2017

Berikanlah Aku Cinta

Thursday, July 20, 2017 0

Berikanlah Aku Cinta

Ilustrasi. @Doc. Nur Khadijah Official Blog.
Karya: Mhd. Saifullah
Hari ini ku,
sangat bahagia
bisa memilikimu.

Mendapatkan cinta
yang tulus darimu
dan hanya untukku.

Ku serahkan semua
cinta dan ketulusanku,
Hanya untukmu,
ku serahkan semua.

Berikanlah aku cinta,
Yang tulus dalam hatimu.
Berikanlah aku kasih,
Yang tulus dari dirimu.
Ohh cinta.

Ku percaya kamu,
ku harap kau begitu
percaya padaku.

Kan menjaga cinta
yang tulus dariku
dan hanya untukmu.
Ohh cinta.
Hanya untukmu.

Batu Aji, Batam 
2010

Me(memori)

Wednesday, July 19, 2017 0

Me(memori)

Ilustrasi Me(memori). @Doc. Arkea.
Karya: Mhd. Saifullah
Coba kau ceritakan padaku,
tentang indah senja di sore itu.
Sebelum semua ditelan malam.
Sebelum lelah mata ku terpejam.

Bukalah kembali kisah kita
dan putar memori tawa canda.
Sebelum semuanya berlalu.
Sebelum aku lelah dengan waktu.

Genggam tanganku,
ungkapkanlah masa itu.
Di kala kita bertemu,
berpilu, lalu menyatu.

Ku bisikan kata.
Satu alunan nafas terindah
tentang manisnya bersama,
agar engkau tak gundah
di saat aku mulai lelah.

Coba kau tulis di album mu,
tentang diriku, di pagi kelabu.
Sebelum semua di mata mu.
Sesaat itu aku dibawa waktu.

Emperum, Banda Aceh
20 Juli 2017

Sudah Tibalah Waktunya

Tuesday, July 18, 2017 0

Sudah Tibalah Waktunya

Ilustrasi. @Doc. Rika Dianie D.
Karya: Mhd. Saifullah 
Sudahlah tiba waktu untuk kita.
Mengenang semua
kenangan lalu bersama.
Mulai dari berjumpa,
hingga harus berpisah.
Moga ini semua kan jadi
memmorri indah.

Masa indah takan pernah terlupa.
Hingga aku tiada,
tetap ku kenang jua.
Meskipun aku jauh,
kau selalu dihatiku.
Meski dalam hatimu,
tiada tentang diriku.

Janganlah kau bersedih.
Dengan perpisahan ini.
Ku yakin kita pasti,
akan berjumpa kembali.
Walau hanya dalam mimpi.
Kita berjumpa kembali.
Ingatlah selalu di sini.
Di hari ini.

Jangan kau ragu di dalam hatimu.
Biarlah semua berlalu
bersama dengan waktu.
Menangis, tertawa, gembira, berduka.
Kita selalu bersama menjalani hari indah.
Tetapi lah sudah, lah tiba waktunya.
Kita harus berpisah walau hanya sementara.
Walau kurasa betapa sakit–sakit di dada.
Mungkin ini semua telah kehendak yang Kuasa.

Gampong Blang Dalam, Aceh Utara 
2008

Merapah Repih

Tuesday, July 11, 2017 0

Merapah Repih

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku meletakkan cinta
di angkasa.
Masa perlahan membakar.

Aku benamkan cinta
dalam palung lautan
agar sejuk selalu menyertai.
Laksana,
arus menghanyutkan.

Aku tanamkan saja cinta
di tanah bumi
agar tumbuh menyebar
di kidung jiwa.
Sayang. Iklim merapuhkannya
hingga menyadarkan aku.

Lelah. Lelah.
Hanya kata
dan sudah.

Ini cinta.
Ini masa.
Ini rasa.
Ini musnah.
Inilah realita.

Banda Aceh
12 November 2016

Lenguh

Monday, July 10, 2017 0

Lenguh

Ilustrasi. @Cyber Dakwah.
Karya: Mhd. Saifullah
Pernah terdengar cerita dari mu.
Tentang langit dan awan kelabu.
Tentang pudarnya langit biru.
Tentang senja dan fajar yang tak berhalu.

Rangkaian kata-kata suci,
terhampar di bawah teduhnya kaki bumi.
Kau menadah,
di kala engkau merapah.
Berharap langit melahirkan mahkota
pelangi-pelangi kecil nan indah.
Kau menadah,
di kala engkau merapah.

Menyengap.
Ya, kau hanya mulai menyengap.
Lalu melihat tabir-Nya,
gumaman mulutmu lesa.

Tuhan. Aku ini apa?
Aku bagaimana?
Aku berdosa.

Ie Masen, Banda Aceh
16 Juni 2017

Kamu

Saturday, July 08, 2017 0

Kamu

Ilustrasi. @Doc. STMIKMB
Karya: Mhd. Saifullah
Purnama bercerita rindu
tentang hari itu.
Tentang senyuman mu.
Tentang waktu-waktu.
Tentang dirimu.
Namun, bisu nan semu.
Hanya di balik awan kelabu.
Kamu

Darussalam, Banda Aceh
Minggu, 11 Juni 2017

Hijrah Kah?

Saturday, July 08, 2017 0

Hijrah Kah?

Ilustrasi Hijrah. @Doc. Asrama Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Karya: Mhd. Saifulahh
Menggema tiada henti.
Di kesunyian, takbir tiada berhenti.
Di antara langit pekat gelap,
fajar terbangun dari lelap.
Memecah suara rinai menderu
seakan membasahi kalbu.

Hari itu tiba.
Hari kemenangan di depan mata.
Siap kah untuk merubah?
Mampukah diri untuk berhijrah?

Sunggal, Medan
25 Juni 2017

Dirinya?

Friday, July 07, 2017 0

Dirinya?

Ilustrasi. @Doc. Istimewa
Karya: Mhd. Saifullah
Ku patri nama mu,
di tabir langit-langit semu.
Kata-kata dan sajak asmara,
mudah bergelora
selalu bersahaja.
Meski dalam diam
tiada menyebut.

Hati ku sadar.
Kuat kurasakan
getaran-getaran itu,
meski secupak rindu di dada.

Niat ku melangkah.
Menyusur lorong-lorong tanya
hanya untuk menyambut rasa.
Meski tak tampak mata
di mana wujudmu dan apa.

Hilang. Begitu saja.
Mudah. Layaknya ombak.
Cussss. Menyapu pasir.

Emperum, Banda Aceh
30 April 2017

A.C.E.H

Wednesday, July 05, 2017 0

A.C.E.H

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
A. Akui bahwa dirimu Aceh.
C. Ceritakan. Kabarkan dunia.
Tanah dan air mu, Aceh.
E. Empatikan diri. Kita sama di sini.
Berdiri dan duduk bermusyawarah, di Aceh.
H. Himpunlah. Berkhidmah.
Perbedaan suku, itu Rahmat-Nya.
Membusungkan dada.
Bersuara, mengatasnamakan bangsa, Aceh.

Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.
Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.
Aku Cinta Engkau (Aceh) Hingga akhir hayatku.

Aku. Aceh.
Kamu. Aceh.
Dia. Aceh.
Kita semua. Aceh.
Aceh menyatukan kita.

Berbanggalah sebagai Bangsa Aceh.

Kajhu, Aceh Besar
17 Mei 2017

Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Awal dari Sejarah Aceh)

Tuesday, July 04, 2017 0

Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Bagian I)

Cover buku Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul : Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki.
Penulis         : Harry Kawilarang
Penerbit         : Bandar Publishing
Tahun terbit           : 2010 (Cetakan Ketiga)
Tebal/jumlah halaman : 226 Halaman

Resensi Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki:

Di dalam buku Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki, Harry Kawilarang menuliskan sejarah Aceh ke dalam beberapa pembabakan waktu. Adapaun pembabakan yang dituliskannya, dimulai dari Awal dari Sejarah Aceh, Perjanjian Inggris-Belanda 1824, Lobi Aceh di Pentas Internasional, Perang Aceh Pertama (1873), Perang Aceh Kedua (1874-1880), Perang Aceh Ketiga (1884-1896), Perang Aceh Keempat (1898-1910), Sistem Perang Hutan Sejak 1900, Perlawanan Kaum Nasionalis Aceh, Tsunami Pembukaan Pintu Harapan, dan Profil Partai Lokal di Aceh.

1. Awal dari Sejarah Aceh 
Kedaulatan Kerajaan Aceh sudah di akui oleh dunia internasional sebelum kehadiran kolonialisme bangsa Eropa di Asia Tenggara. Hal itu berdasarkan beberapa catatan sejarah, seperti di buku Larous Grand Dictionaire Universelle, La Grand Encylodedie (ensiklopedia Prancis) berbahasa Prancis, dan buku yang ditulis oleh Profesor M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia.

Di dalam Larous Grand Dictionaire Universelle dituliskan, “Aceh cukup dominan di Nusantara terutama pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17 (pada vol.I halaman 70, terbitan Paris 1886),” dan di dalam La Grand Encylodedie dituliskan, “Pada 1582, Kesultanan Aceh telah melebarkan sayap kekuasaannya di beberapa wilayah di Kepulauan Sunda Besar (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain) serta beberapa daerah di Semenanjung Malysia. Selain itu, Aceh juga menjalin hubungan niaga dengan berbagai negara di seputaran Asia Timur hingga ke Samudera Hindia, tepatnya dari Jepang hingga Arab Saudi.”... ”Sebagai negeri adi daya di Asia Tenggara, Kerajaan Aceh menyerang Portugis yang menjajah Malaka pada awal abad ke-16. Pada tahun 1586, Aceh dengan 500 kapal perang dan kekuatan 60.000 pasukan marinirnya menyerang Portugis di Malaka (vil.IV halaman 402, terbitan Prancis 1874). Bahkan, berdasarkan tulisan Profesor M.C. Ricklefs, Aceh di tempatkan sebagai suatu daerah andalan kekuatan, kaya dan maju.

Kedaulatan Kerajaan Aceh mulai terganggu sejak Belanda secara resmi mengirimkan maklumat dan menyatakan perang pada 26 Maret 1873. Penyerangan yang dilakukan ternyata sia-sia dan bahkan merugikan Negara Belanda karena telah kehilangan seorang pimpinan perang, yakni Jenderal Kohler yang tewas. Peristiwa tersebut menggemparkan Eropa bahkan beberapa negara di dunia, karena perang yang terjadi menjadi berita di halaman utama London Times (Edisi 22 April 1873) dan New York Times (Edisi 6 Mei 1873). Akan tetapi konflik tersebut belum berakhir, perang Aceh dan Belanda terus berlangsung hingga 69 tahun lamanya.

Seorang sejarawan dan wartawan Belanda, Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog (1969) menuliskan perang antara Belanda dan Aceh berlangsung hingga 80 tahun.

“Belanda belum pernah berperang begitu dahsyatnya menghadapi Aceh dibandingkan di tempat lain dalam sejarah Belanda. Selain cukup lama, yakni 80 tahun. Menelan lebih dari 100 ribu pasukan Belanda, perang Aceh merupakan perang militer yang tiada bandingnya dalam sejarah militernya. Bagi Belanda, perang Aceh adalah lebih banyak konflik senjata yang turut mempengaruhi politik nasional, kolonial, dan internasional kita.”

Sejarah dari Kerajaan Aceh dijelaskan Harry Kawilarang di dalam buku ini, berawal dari sebuah kerajaan bernama Lamuri yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1530). Perkembangan kerajaan yang dipimpinnya, membuat sultan mengubah nama kerajaan menjadi Aceh Darussalam dan berani melakukan penyerangan pada tahun 1524 ke wilayah Portugis di Pasai. Serangan yang dilakukan menewaskan Horge de Brito komandan pasukan dan berhasil mengusir Portugis dari Pasai. Sejak saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam berperan di Samudera Pasai dan terus memperluas kekuasaannya di Sumatera.

Kerajaan Aceh mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, yakni mulai tahun 1607-1636. Iskandar Muda berhasil melakukan perluasan kerajaan dan menguasai beberapa kerajaan yang ada di Semenanjung Malaya, seperti Pahang (1618), Kedah (1613 dan 1615) serta melakukan serangan ke Johor karena dianggap bersekutu dengan Malaka yang dikuasai Portugis, Satun Thailand Selatan dan Siak (Sekarang bernama Riau). Sehubungan dengan itu, Kerajaan Aceh juga melakukan hubungan dengan berbagai kerajaan besar, antara lain, Turki, Inggris, Belanda, dan Perancis.

Adanya hubungan antara Aceh dengan Turki Ottoman dibuktikan dengan diberikannya Meriam Lada Sicupak dan pengiriman beberpa ahli perang untuk membantu Kerajaan Aceh. Meriam tersebut diberikan kepada Kerajaan Aceh sebagai bukti bahwa utusan mereka telah sampai di Kerajaan Turki Ottoman dan persembahan lada yang dibawa telah diterima oleh sultan meskipun hanya tinggal secupak (sicupak). Sehubungan dengan itu, sultan Ottoman juga mengirimkan kepada sultan Aceh sebuah bintang jasa dan bendera yang menandakan lambang perlindungan bagi kerajaan bawahan Ottoman di luar negeri.

Hubungan Aceh dengan Inggris dimulai pada abad ke-16 dengan membangun kerja sama di bidang perdagangan. Ratu Elizabeth I mengirimkan utusan Sir Janes Lancaster ke Aceh untuk meminta izin berlabuh dan berdagang di wilayah Aceh. Permintaan tersebut kemudian dibalas oleh sultan Aceh melalui surat dengan tintas enas yang sampai saat ini disimpan di Inggris. Hubungan kerja sama kedua kerajaan ini berlangsung hingga masa Raja James I, bahkan Kerajaan Inggris pernah mengirimkan sebuah meriam sebagai hadia kepada sultan Aceh. Meriam tersebut kemudian dikenal dengan nama Meriam Raja James.

Jauh sebelum Belanda melakukan penyerangan ke Aceh, kedua kerajaan ini sempat melakukan hubungan kerja sama. Sultan Aceh pernah mengirimkan Tuanku Abdul Hamid ke Belanda sebagai utusan dalam menyambut surat permintaan bantuan Kerajaan Oranje yang dikirimkan oleh Pangeran Maurits kepada Kerajaan Aceh Darussalam. Hal itu kemudian didukung dengan adanya bukti prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhand (suami Ratu Juliana) di makam Tuanku Abdul Hamid yang meninggal karena sakit saat berada di Belanda.

Kerja sama Aceh dengan Prancis dibuktikan dengan diterimanya utusan Kerajaan Prancis yang membawa sebuah cermin yang berharga sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Denys Lombard dalam bukunya menulis bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di dalam istana.

Kejayaan yang diraih oleh Kerajaan Aceh di masa Sultan Iskandar Muda dengan menguasai semua pelabuhan penting di pantai barat dan pantai timur Sumatera, menjadikan kerajaan ini kaya raya, rakyat makmur, dan kemajuan ilmu pengetahuan yang menonjol di kawasan Asia Tenggara. Sehubungan dengan itu, wilayah kekuasaan yang mencapai kawasan Semenanjung Malaya, membuat kapal dagang asing dipaksa tunduk kepada Kerajaan Aceh apabila melakukan perdagangan di wilayah tersebut. 

Pada tahun 1636, Sultan Iskandar Muda kemudian wafat dan digantikan oleh adik angkatnya, yakni Sultan Iskandar Tsani. Hanya memimpin beberapa tahun, Sultan Iskandar Tsani pun mangkat pada tahun 1641. Hal ini menyebabkan kekuatan sultan di kawasan Selat Malaka memudar dan membuat kawasan tersebut mulai dikuasai oleh Belanda dan Portugis. Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Aceh perlahan semakin menciut.

Pasca magkatnya Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh memasuki era kepemimpinan ratu (sultanah) hingga sampai 60 tahun lamanya. Adapun sultanah yang pernah memimpin Kerajaan Aceh di antaranya, Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688), dan Sri Ratu Zinatuddin Kamalat Syah (1688-1699). Selama kepemimpinan sultanah, kekuasaan Kerajaan Aceh semakin menciut dan hanya berfungsi sebagai lambang. Kepemimpinan kerajaan tetap diakui, namun kekuasaannya hanya di pelabuhan, ibu kota, dan sekitarnya, sedangkan posisi imam, ulee balang, mentroe (menteri) dan pejabat pemerintahan lainnya telah menjadi kepala wilayah turun-temurun. Bahkan, perubahan kepemimpinan yang mulai dikuasai oleh Dinasti Arab tahun 1699 dan Dinasti Bugis tahun 1727, tidak memberikan perubahan atau memulihkan kemakmuran bagi Kerajaan Aceh. 

Sengketa perebutan kekuasaan pada abad ke-18 telah menyebabkan menurunnya kredibilitas dan wibawa kepemimpinan Aceh. Kemelut antara Sultan Jauhar al-Alam Shah (1795-1823) dengan ulee balang terkait perdagangan terpusat di pelabuhan dan, perdagangan bebas kemudian dimanfaatkan oleh Said Husain, seorang pedagang warga Inggris di Penang yang juga keturunan keluarga raja Aceh yang dibuang. Dia mendekati ulee balang untuk menggusur Sultan Jauhar dan menempatkan putranya sebagai sultan yang bergelar Saif al-Alam Shah. Akan tetapi konflik ini tetap berlanjut hingga terjadi perang laut pada tahun 1817 antara pro kepemimpinan Sultan Jauhar dan Saif al-Alam Shah. Situasi kemudian semakin diperkacau dengan terlibatnya bangsa-bangsa Eropa seperti Inggri dan Belanda yang menganggap perang laut antara kedua sultan tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan dan mengganggu jalur perdagangan.

Pada tahun 1820, Sultan Jauhar berhasil mengejar dan mengusir Saif al-Alam Shah dari Aceh melalui bantuan kapal perang Inggris. Akan tetapi di lain pihak, panglima polem tetap menentang kepemimpinan Sultan Jauhar yang telah dibantu oleh Inggris melalui perjanjian di Pidie, pada 22 April 1819 melalui Kapten Coombs. Sejak saat itu, Sultan Jauhar yang mangkat pada Desember 1823, tidak sempat kembali memijakkan kakinya di ibu kota kerajaan.

Sumber:
Kaw, ilarangHarry. 2010. Aceh Dari Sultan Iskandar Muda Ke Helsinki (Cetakan Ketiga). Banda Aceh: Bandar Publishing.

Propaganda

Sunday, July 02, 2017 0

Propaganda

Karya: Mhd. Saifullah
Hari itu, kalender tepat
menunjukkan tanggal 26 Juni.
Di Hari Minggu,
tersiar kabar duka menyambut pagi.
Peristiwa berdarah menggema
di antara takbir sunyi
menyambut hari nan fitri.
Tentang hilangnya nyawa.
Gugurnya prajurit Mapolda.

Berselang. Berita tersiar di televisi
memberi bayang. Mengabari tayangan kebiri.
Dengan lantang. Salah satu media negeri.
"Itu perbuatan teroris".
"Dibalik penyerangan ada ISIS."

Isu dibuka, dibangunlah dinamika
yang belum tentu itu sebuah fakta.
Ternodalah Islam di hari raya
oleh orang-orang berkuasa dibalik media.

Sebuah ungkapan diberi,
ketegasan dari salah seorang anggota Polri.
"Tidak ada sangkut paut teroris,
apalagi bersangkut dengan ISIS."

Apa yang terjadi?
Mengapa bisa begini?
Mengapa setiap kekerasan
selalu diadukan antara Islam dan Polisi?
Apalagi prajurit yang gugur adalah nasrani.

Terlalu mudah membangun opsi
melontarkan isu ingin memecah belah negeri.
Berita besar dalam mengabari
namun kurang dalam akurasi.
Seperti unsur disengaja
agar saling hantam antar umat beragama.

Negeri kita sedang diganggu
oleh orang-orang gila.
Orang-orang yang tidak suka kehidupan damai,
rukun, dan sejahtera.

Yakinlah, skenario serupa akan ada,
dengan mudos yang sama.
Medan
Kamis, 29 Juni 2017

Di Saat

Saturday, July 01, 2017 0

Di Saat

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Di saat rakyat bertanya.
Ia kau kebiri,
bahkan disuruh pergi.

Di saat rakyat berbicara.
Ia kau minta menanti,
meski tak pasti.

Di saat rakyat berteriak.
Ia kau tuduh berspekulasi,
dianggap mengancam diri.

Di saat cukong tak berkata.
Kau beri semua hasil bumi,
anak cucuk bagai dibui.

Sunggal, Medan
30 Juni 2017

Per Cuma

Sunday, April 09, 2017 0

Per Cuma

Gambar Tulisan Percuma (Doc. Aa Fuady)

Karya: Mhd. Saifullah
Bukan siapa, atau pun apa.
Tidak harus semua
diawali perbuatan tanya mengapa.

Banyak berpikir.
Banyak berilmu.
Banyak pula kehilangan.

Percuma.

Kita selalu ingin mencoba.
Tapi kita lupa bekal untuk berubah.
Kita merasa bangga,
namun tiada upaya.
Berharap di pucuk iba.

Percuma.

Bukan siapa, atau untuk apa.
Berbuatlah sederhana
asal berguna.
Tidak percuma.
Emperum, Banda Aceh
21 Februari 2017

Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Tuesday, March 21, 2017 0

Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Politik Etis

Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
Hampir di seluruh dunia terjadi perkembangan dan pembaruan di bidang politik, ekonomi, dan ide-ide. Hal tersebut kemudian menjadi pendorong bagi Pemerintah Belanda untuk memberikan kesempatan lebih banyak lagi kepada anak bumiputera untuk mendapatkan pendidikan. Perubahan yang terjadi di seluruh dunia menjadi dasar timbulnya aliran yang dikenal Politik Etis (Etiche Politiek) di kalangan Bangsa Belanda. Aliran ini pertama kali dicetus oleh Van Deventer dengan sebutan Hutang Kehormatan sebagai semboyan. Aliran ini akhirnya kemudian dikenal dengan slogan irigasi, edukasi, dan emigrasi.

Tokoh Belanda lain yang mendukung pemberian pendidikan kepada aristrokat bumiputera selain Van Deventer adalah Snouck Hourgroje. Adapun sekolah-sekolah yang didirikan pada masa Politik Etis menurut Balai Pustaka, antara lain:

1) Sekolah Lanjutan
Ada empat sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Belanda sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan Politik Etis, seperti Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah), dan Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi).

• Lager Onderwijs (Pendidikan Rendahan)
Ada dua sistem pokok yang menjadi hakikat pada pendidikan dasar untuk tingkat sekolah pendidikan dasar, yaitu Sekolah Rendah dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dan Sekolah Rendah menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.

• Midleboar Ondewijs (Pendidikan Lanjut/Pendidikan Menengah)
Satu jenis sekolah lanjutan berdasarkan sistem persekolahan Belanda pada golongan sekolah dasar adalah sekolah dasar yang lebih luas Meer Vitgebreld Lagere Onderwijs (MULO). Sekolah ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Lama waktu pendidikan pada sekolah ini berkisar antara tiga sampai empat tahun.

• Algemeene Middlebares School atau AMS (Sekolah Menengah Umum)
Sekolah menengah umum atau Algemeene Middlebares School (AMS) merupakan kelanjutan dari pendidikan lanjut/pendidikan menengah MULO. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar diperuntukan bagi Golongan Bumiputera dan Golongan Timur Asing. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada AMS adalah tiga tahun. Ada dua jurusan dari sekolah ini, yaitu Jurusan Bagian A (Pengetahuan Kebudayaan) dan Jurusan B (Pengetahuan Alam).

• Hooger Burger School atau HBS (Sekolah Warga Negara Tinggi)
Hooger Burger School (HBS) merupakan sekolah bagi Golongan Eropa, bangsawan Bumiputera, serta tokoh-tokoh terkenal lainnya. Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan berorientasi ke Eropa Barat khususnya Belanda. Lama waktu pendidikan yang harus ditempuh untuk belajar pada sekolah ini antara tiga dan lima tahun.

2) Sekolah Lanjutan Kejuruan
Ada beberapa sekolah lanjutan kejuruan lainnya yang juga didirikan, yaitu antara lain Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan), Technish Onderwijs (Sekolah Teknik), Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang), Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian), Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan), dan Kweek School (Pendidikan Keguruan).

• Ambachts Leergang (Sekolah Pertukangan)
Sekolah yang berasal dari Homewerk School (Sekolah Pekerjaan Tangan) dan Njverheid School (Sekolah Kerajinan Tangan) pertama kali didirikan tahun 1881. Tujuan sekolah ini didirikan adalah untuk mendidik dan melahirkan mandor (werkbaas). Sekolah pertukangan ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dengan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun. 

• Technish Onderwijs (Sekolah Teknik)
Mula-mula sekolah ini didirikan dari Koningin Wihelmina School pada tahun 1906 di Jakarta. Sekolah Teknik (Technish Onderwijs) merupakan kelanjutan dari sekolah pertukangan (Ambachts Leergang). Bahasa pengantar untuk pendidikan di sekolah ini adalah Bahasa Belanda dan lama waktu pendidikan yang ditempuh adalah tiga tahun.

• Handels Onderwijs (Pendidikan Dagang)
Didirikannya sekolah ini oleh Pemerintah Belanda bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang begitu pesat.

• Landbauw Oderwijs (Pendidikan Pertanian)
Sekolah Pertanian (Cultuur School) mulai didirikan pada tahun 1911 dengan dua jurusan, yaitu pertanian dan kehutanan. Sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pembelajaran ini, hanya menerima lulusan dari sekolah dasar yang menggunakan Bahasa Belanda juga. Lama pendidikan yang harus ditempuh di Sekolah Pertanian adalah tiga sampai empat tahun. Tujuan berdirinya sekolah ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang akan dipekerjakan sebagai pegawai pengawas kehutanan dan pertanian.

• Meisjes Vokonderwijs (Pendidikan Kejurusan Kewanitaan)
Gagasan-gagasan R.A. Kartini untuk diberikan pendidikan terhadap wanita ternyata mendapat perhatian oleh Pemerintah Belanda. Pemerintah memberikan perhatian di bidang ini dengan mendirikan Lagere Nijverheid School (Sekolah Kepandaian Putri) pada tahun 1918. Selain pihak pemerintah, pihak swasta juga mendirikan sekolah yang sejenis bernama Huischould School (Sekolah Rumah Tangga) dengan lama waktu belajar adalah tiga tahun. Di samping itu, ada Sekolah Van Deventer khusus pendidikan keputrian dengan orientasi Eropa (Belanda). Sekolah Van Deventer juga memberikan pendidikan untuk menjadi guru Frobel Onderwijs (Sekolah Taman Kanak-Kanak).

• Kweek School (Pendidikan Keguruan)
Lembaga tertua yang sudah ada sejak awal abad ke-19 adalah lembaga keguruan. Di Surakarta, pada tahun 1851 telah didirikan Sekolah Guru Negeri untuk pertama kali dan jauh sebelumnya pemerintah telah membuat kursus-kursus bagi guru dengan nama Normal Cursus. Kursus ini didirikan untuk mempersiapkan dan menghasilkan guru-guru Sekolah Desa.

3) Pendidikan Tinggi
Para kalangan penganjur Politik Etis pada abad ke-20 mengemukakan gagasan mereka untuk segera dibentuk Hooger Onderwijs (Pendidikan Tinggi). Pada tahun 1910, didirikan sebuah perkumpulan yang bernama Indische Universiteits Veriniging (Perkumpulan Universitas Indonesia) dengan tujuan mendirikan pendidikan tinggi, baik melalui pihak swasta maupun pihak pemerintah. Ada tiga bidang keahlian pendidikan tinggi, yaitu antara lain Pendidikan Tinggi Kedokteran, Pendidikan Tinggi Hukum, dan Pendidikan Tinggi Teknik.

• Pendidikan Tinggi Kedokteran
Di Indonesia, lembaga Pendidikan Tinggi Kedokteran pertama kali didirikan pada tahun 1851, dimulai dari Sekolah Dokter Djawa. Lama waktu pendidikan yang diperlukan untuk belajar adalah dua tahun setelah tamat atau lulus dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantar yang digunakan di Sekolah Dokter Djawa adalah Bahasa Melayu. Pada tahun 1913, perubahan nama dilakukan di sekolah ini menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Selain di Jakarta, pada tahun 1913 juga didirikan sekolah yang sama bernama Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS) di Surabaya. Syarat dan lama pendidikan yang harus ditempuh di NIAS sama juga seperti di STOVIA.

• Pendidikan Tinggi Hukum
Pendidikan Tinggi Hukum mulai didirikan pada tahun 1909 dengan nama Rechts School (Sekolah Hukum). Rechts School hanya menerima lulusan dari Europeesche Lagere School (ELS). Lama pendidikan yang diperlukan di sekolah ini untuk belajar adalah tiga tahun dengan menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

• Pendidikan Tinggi Teknik
Pemerintah Belanda untuk pertama kali baru benar-benar mendirikan pendidikan tinggi yang sesui dan memenuhi sayarat sebagai suatu perguruan tinggi yaitu pada tahun 1920. Meskipun pada periode ini masih ada terdapat beberapa permasalahan pendidikan, seperti belum memiliki kesempatan yang sama bagi semua rakyat Indonesia untuk memasuki pendidikan; selanjutnya mata pelajaran yang diperuntukan untuk pribadi dan menjadikan Bangsa Indonesia memiliki rasa harga diri dirasakan begitu kurang dan tidak mendidik untuk menjadi anak yang cerdas pada sekolah rendah bumiputera.

Artikel Terkait:
    Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

    Daftar Sumber:
    Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
    Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
    Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Oleh: Tommy Hidayat
    Editor: Mhd. Saifullah

    Dampak Politik Etis Dalam Bidang Pendidikan

    Tuesday, March 14, 2017 0

    Dampak Politik Etis Dalam Bidang Pendidikan

    Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
    Politik Etis yang dijalankan Pemerintah Belanda dan dikonsepkan oleh Van Derventer yang diwujudkan dalam bentuk program seperti irigrasi, edukasi, dan emigrasi sebelumnya telah dipaparkan dampaknya para perubahan pola pikir masyarakat pribumi. Salah satu dampak dari adanya Politik Etis terlihat pada program di bidang pendidikan. 

    Tujuan Pemerintah Belanda pada program tersebut sebenarnya untuk membentuk masyarakat pribumi sebagai pegawai pemerintahan rendah dengan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pemerintah. Akan tetapi, pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda di bawah Van Derventer yang diawali dengan pembentukan sekolah-sekolah untuk masyarakat pribumi, ternyata menjadi bumerang bagi pemerintahan sendiri.

    Pendidikan memberikan masyarakat pribumi tentang tradisi yang paling baik dari barat. Bagi yang bersekolah di sekolah yang didirikan pemerintah, diharapkan berpengaruh luas dan menjadi tokoh penting dalam masyarakat Indonesia. Meskipun Pemerintah Belanda tetap membatasi sekolah-sekolah yang telah didirikan. Batasannya berupa pemberian kesempatan sekolah kepada masyarakat elit pribumi. Meskipun sebelumnya, pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sebelum Politik Etis dibentuk, sistem pendidikan sudah dikenal di Indonesia namun dibawah kendali pemerintah.

    Artikel Terkait:
      Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

      Daftar Sumber:
      Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
      Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
      Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
      ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
      Oleh: Tommy Hidayat
      Editor: Mhd. Saifullah

      Implikasi Penerapan Kebijakan Politik Etis

      Monday, March 13, 2017 0

      Implikasi Penerapan Kebijakan Politik Etis

      Gambar Ilustrasi Politik Etis di Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
      Diterapkannya kebijakan Politik Etis tentunya akan menimbulkan beberapa dampak positif serta negatif dan yang harus diketahui bahwa tujuan awal dari semua program yang ada ternyata tidak terlaksana dengan baik, bahkan mendapat hambatan. Ada pun satu program yang berdampak positif dan bersifat jangka panjang bagi Bangsa Indonesia adalah pada bidang pendidikan. Program tersebut telah melahirkan golongan-golongan terpelajar dan terdidik yang kelak akan membuat Pemerintahan Belanda menjadi terancam. Gelongan-golongan tersebut yang kemudian memunculkan beberapa organisasi intelektual seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan beberapa organisasi lainnya serta mendirikan dewan rakyat (Volksraad).

      Adapun dampak-dampak lain yang terlihat nyata dari penerapan ketiga bidang program dalam kebijakan Politik Etis adalah sebagai berikut:

      • Politik
      Kekuasaan yang desentralisasi atau otonomi bagi Bangsa Indonesia ternyata tetap saja terdapat masalah, yaitu golongan penguasa tetap kuat dalam intervensi. Hal ini dikarenakan perusahan-perusahan Belanda kalah bersaing dengan perusahaan Jepang dan Amerika yang menyebabkan sentralisasi berusaha diterapkan kembali.
      • Sosial
      Peningkatan jumlah melek huruf, lahirnya para golongan terpelajar, serta dunia pendidikan yang semakin berkembang sangat berdampak positif. Akan tetapi dampak negatif dari hal tersebut adalah semakin terlihat jelas kesenjangan antara golongan bangsawan dan bawahan. Golongan bangsawan kelas atas dapat menikmati pendidikan yang lebih baik lagi dengan bersekolah dan langsung dipekerjakan di perusahaan-perusahaan Belanda.

      • Ekonomi
      Lahirnya sistem politik liberal, kapitalisme modern, dan pasar bebas, menjadikan persaingan dan modal sebagai indikator utama perdagangan. Oleh karena itu dampaknya berupa yang lemah akan kalah dan tersingkir. Selain itu, dampak lainnya berupa munculnya perusahaan-perusahaan swasta dan asing di Indonesia, misalnya seperti Shell.

      Artikel Terkait:
        Politik Etis yang merupakan politik balas jasa atau Hutang Kehormatan yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda di daerah jajahannya ternyata menimbulkan berbagai dampak. Bagi Bangsa Indonesia, penerapan kebijakan Politik Etis terutama program pada bidang pendidikan ternyata membawa kemajuan dan bagaikan abad pencerahan. Sebaliknya, bagi politik Pemerintah Belanda kebijakan tersebut bagaikan bumerang yang menghantam pemerintah dari lahirnya para golongan terpelajar dari pribumi. Hal itu dapat dilihat dalam dinamika dan dari perkembangan sekolah yang semakin banyak bidang dan jumlah tiap tahunnya.

        Daftar Sumber:
        Kartodirdjo, Sartono. 1990. Sejarah Pergerakan Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
        Nurdayat. 2008. Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia Pada Awal Abad Ke-20. (Online) (diakses 7 Maret 2017).
        Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1994. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
        ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        Oleh: Tommy Hidayat
        Editor: Mhd. Saifullah