Adik Kecilku

Wednesday, October 18, 2017 0

Adik Kecilku

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.  
Karya: Mhd. Saifullah 
Tak ada lagi
senyuman indah,
dari wajah kecilmu.
Kau kini telah tenang.
Di sana.
Ohh adik kecilku.

Tenanglah.
Adik kecilku.

Kini kau telah pergi,
tinggalku sendiri.
Menuju nirwana
di tempat terindah.

Yang indah,
yang selalu ada di dekatNya.
Di sisiNya.
Di syurga.

Tawamu telah hilang
menjadi kenangan.
Candamu kini telah pergi
menjadi sebuah angan.

Tenanglah Adik kecilku.
Tenanglah Adik kecilku.
Di syurga.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Baginda Rasullah Muhammad SAW

Saturday, October 14, 2017 0

Baginda Rasullah Muhammad SAW

Ilustrasi. @Doc. Bintang.com 
Karya: Mhd. Saifullah
Isnin, duabelas Rabiul Awal.
Di malam tenang
serta cuaca cerah nan indah,
bertabur cahaya bintang benderang.
Seakan bulan mengeluarkan senyuman,
terindah di malam ini.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Kemarau panjang melanda,
sontak berubah menjadi subur
dalam penghijauan.
Patung-patung berhala menjulang,
tersungkur dan hancur berantakan.
Api berkobar bertahun-tahun,
Husss.
Padam seketika seakan tak berdaya.

Pintu syurga terbuka,
mengabarkan ini adalah pertanda.
Sebuah pertanda dari Ilahi.
Seorang kekasih
akan dilahirkan ke bumi.

Sebuah kabar tersiar keseluruh kota.
Menghantarkan kesejukan
di antara berkecamukan.
Saat seorang ibu
melahirkan seorang putra,
Allah titipkan di rahim,
Aminah istri Abdullah.

Putra dipilih menjadi pemimpin
umat di dunia.
Kelak menjadi penegak agama Allah.
Putra yang dititipkan sebuah
Kalammullah,
Perkataan Allah,
dalam ayat-ayat suci
Menjadi pedoman hidup
kita saat ini.

Bersuara merdu bila berbicara.
Terpercaya bila diberi amanah.
Berkata jujur tanpa mendusta.
Bijaksana dalam keputusan.

Tak perlu kaya untuk
memiliki beribu umat.
Kesederhanaan memancarkan
kekayaan hati.
Tak elak seluruh dunia mengagumimu,
Wahai Baginda Rasulku.

Pihak kawan,
maupun lawan menyeganimu,
Mengataskanmu,
dari pemimpin-pemimpin hebat.
Pemimpin yang selalu diagung-agungkan.
Pemimpin yang selalu dipuja-puja di dunia
dan pemimpin yang selalu
diteladani oleh semua manusia.

Siapa tak kenal beliau?
Kekasih Allah dan dikagumi
oleh semua,
Aku, kamu dan kita semua
pasti mengenalnya.
Bukan hanya umat Islam.
Yahudi, Nasrani, maupun agama lain
yang ada di dunia,
Pasti mengenalnya.

Itulah seorang sosok pemimpin
yang sempurna di dunia.
Baginda besar penghujung alam
Rasulullah Muhammad SAW.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
2013

Metamorfosis

Thursday, October 12, 2017 0

Metamorfosis

Ilustrasi metamorfosis desa menjadi kota. @Doc. fadinug.
Karya: Mhd. Saifullah
Jangkrik berdering menderu bersuara.
Katak bernyanyi membaca mantra.
Saling merebu, saling berdoa.

Pagar-pagar mematri lahan,
sekaki demi sekaki, menghimpit dengan jalan.
Aroma-aroma alam berlahan menepi.
Tak pergi menjauh namun mati.

Jangkrik berdering wujud tak ada.
Nyanyian katak terpasung jua.
Merebu dunia fana.

Gampong Lampeuneurut, Aceh Besar
12 September 2017

Kamu (Puisi Yang Menjadi Lagu)

Saturday, October 07, 2017 0
Puisi & Lagu

Kamu

Karya: Mhd. Saifullah
Kamu. Tetaplah di sini bersama ku
temani aku cukup kamu.
Ku ingin kau jadi pendamping ku,
ya cuma kamu.
Di kala kita berdua
melalui hari-hari bersama.
Terasa, terasa berbeda.
Bagaikan indah nirwana di ujung senja.
Menyambut malam menemaniku.
Bersama bulan dan bintang serta dirimu
Kamu. Tetaplah di sini bersama ku
temani aku cukup kamu.
Ku ingin kau hadir di sisi ku,
temani diriku
Kamu. Tetaplah kau selalu bersama ku
dalam setiap waktu.
Kamu. Ku ingin kau jadi pendamping ku,
ya cuma kamu.

Lampeuneurut, Aceh Besar
23 September 2017

***
Kamu - Say IFull
Vidoe lagu berjudul 'Kamu' yang ada di YouTube.

Reff:
     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah di sini bersama ku
         C           D    
Temani aku cukup
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau jadi pendamping ku
         C            D   
Yang cuma kamu

Intro:
G, D, D7

          G             D   
Di kala kita berdua
      C             G           D
melalui hari-hari bersama.
          G                         D
Terasa, terasa berbeda.
     Am                     G        
Bagaikan indah nirwana
   Em        D
di ujung senja.

(#)
       Bm                                                C
Menyambut malam . . .  Menemaniku
       Bm                                           C                Cm
Bersama bulan dan bintang serta dirimu


Reff:
     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah di sini bersama ku
         C           D    
Temani aku cukup
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau hadir di sisi ku
         C            D   
Temani diriku

     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah kau selalu bersama ku
         C           D    
Dalam setiap waktu
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau jadi pendamping ku
         C            D   
Yang cuma kamu

Malam

Saturday, October 07, 2017 0

Malam

Ilustrasi. @Doc. tribunnews.com
Karya: Mhd. Saifullah
Sungguh malam mempesona.
Langit cerah,
bintang saling bermain mata
Angin bersiul santai,
seakan membelah di wajahku.

Dari sini terlihat.
Badak baja berlalu lalang,
berpacu dengan kepentingan.
Melintas dengan kesibukan.
Musik tua berputar mengalun.
Bersanding malam,

dengan cahaya lampu-lampu zaman.
Menambah kesenyapan,
kepalsuan topeng malam.
Sungguh malam super kesibukan.

Duduk berkumpul,
berbicara dengan sesuka hati.
Hanya untuk kepuasan diri,
dari sebagian manusia.

Sungguh malam alam berbisik.
Sungguh malam seakan mengusik.

Gampong Lamprik, Banda Aceh
27 November 2014

Mahasiswa Galau

Wednesday, October 04, 2017 0

Mahasiswa Galau 

Ilustrasi. @Doc. appnationconference.com
Karya: Mhd. Saifullah
Ditunda? capeknya.
Sakitnya digantung
dan diPHPin kayak gini.
Mahasiswa galau.

Besok datang lagi.
Final? gak jadi.
Pulang kampong? gak jadi.
Datang tiap hari?
Capeknya.
Mahasiswa galau lagi.

Lari sana, lari sini.
Lihat ruang sana, lihat ruang sini.
Namun gak masuk lagi.
Mahasiswa semakin galau.

Final usai, coba lihat nilai.
Putus lagi, koneksi mati.
Hhhhhuuuuufffff.
Mahasiswa galau
semakin menjadi.

Semua dianggap lumrah.
Paling cuma bisa berkata.
Sakitnya digantung
dan diPHPin kayak gini.
Mahasiswa galau lagi,
semakin menjadi.

Inilah musim peganti,
tiap awal dan akhir semester
di kampusku ini.

Memang udah biasa,
tapi gak ada ubahnya.
Kampus kita kaya,
namun fakir biaya.

SPP ditekan luar bisa,
fasilitasnya geleng kepala.
Jadi jangan ambil susah.
Nikmati dan maklumi aja.
Namanya juga kampus tercinta.

Gampong Beorabong, Aceh Besar 
2013

Kata-Kata Mereka

Monday, October 02, 2017 0

Kata-Kata Mereka 

Ilustrasi. @Doc. okezone.com
Karya: Mhd. Saifullah 
Bersyukurlah atas segalanya.
Karena hidup ini sungguh indah.
Hanya diperlukan keyakinan
dan percaya.
Tetapi sangat sulit.
Ya, sulit untuk melakukannya.

Berjarak,
namun saling berdampingan.
Karena bergerak akan terasa sungkan.

Bila ingin menjadi kaya itu gampang.
Hanya memikirkan di otak
untuk membangun fitnah.

Pusing kepala akan ada obatnya.
Berpura berdiam saja
dan tak tahu apa-apa.

Merasa lelah dengan berbuat,
karena semua pembelajaran.
Belum titik pastilah bisa,
karena pertolongan
akan datang dengan segera.

Bila saja engkau mengerti.
Bila saja engkau mengetahui.
Bila saja engkau memahami.
Bisa saja bahwa orang lain
juga merasakan hal yang sama.

Hhuuufff.
Hanya butuh istirahat,
karena telah lelah menjalani hari.
Seakan ingin tak ingat semua,
tetapi harus tetap jangan emosi
Karena tidak ada kata mencoba
dan tidak ada kata belajar.
Yang ada hanya melakukan,
serta tidak melakukan.

Semua akan terus berjalan.
Semua akan terus berputar.
Karena ini belum titik.

Gampong Lamnyong, Banda Aceh 
23 November 2014

Mereka Ahlinya

Friday, September 29, 2017 0

Mereka Ahlinya

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Mereka pandai dalam berdrama.
Mereka pandai dalam berbicara.
Mereka ahlinya,
bisa berperan apa saja.

Mereka bisa berpura-pura.
Mereka bisa bersandiwara.
Mereka ahlinya.
Karena kita tidak akan bisa.

Mereka bisa bermain.
Membodohi setiap penonton.
Membuat orang terpukau.
Semua orang menjadi tergoda,
terlena dan bahkan
harus mengikutinya.
Mereka ahlinya.
Mereka penguasa panggung dunia.
Dan mereka memang ahlinya.
Karena itu memang profesinya.

Daruasalam, Banda Aceh 
24 Desember 2014

Kotor Otak Kotor

Thursday, September 28, 2017 0

Kotor Otak Kotor 

Ilustrasi. @Doc. Persatuan Perjuangan Indonesia.
Karya: Mhd. Saifullah
Kotor otak kotor.
Jangan berlagak bersih.
Merasa paling suci.
Merasa paling benar.
Atau merasa engkau paling berarti.

Kotor otak kotor.
Berlagak hebat
layaknya seorang motivator.
Padahal engkau lebih kotor.
Menjadi provokator dengan berwatak kotor.

Sok merasa peduli.
Mencari cela kesalahan sambil berlari.
Kritik-kritik tapi semua basi
berlalu tanpa solusi.
Ada niat buruk itulah otak kotor.

Kotor kotor kotor.
Dasar otak kotor.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Laila

Tuesday, September 26, 2017 0

Laila 

Laila saat itu. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Laila laila.
Hanya sepenggal kata.
Laila laila.
Namun membuatku bertanya-tanya.

Apa yang tersimpan dibalik laila?
Aku semakin penasaran saja.

Laila laila.
Kamu mengatakan laila.
Dia mengatakan laila.
Mereka mengatakan laila.
Dan aku?
Laila?
Tidak
Tiiidaaaakk.

Aku tidak mengerti apa itu laila.
Di sana laila.
Di sini laila.
Di situ laila.
Di mana-mana laila.
Mengapa semua mengatakan laila.

Laila laila.
Apakah makna dibalik kata itu.
Aku bertanya tentangnya.
Namun aku tak tahu,
kemana harus bertanya.

Laila laila.
Engkau memang luar bisa
Sampai saat ini,
aku bertanya-tanya.

Gampong Rukoh, Banda Aceh 
28 Desember 2014

Malaikat Yang Sempurna Di Dunia

Sunday, September 24, 2017 0

Malaikat Yang Sempurna Di Dunia

Ilustrasi. @Doc. tvm.com
Karya: Mhd. Saifullah
Tuhan.
Sungguh engkau begitu baik.
Kau telah mengirimkan aku,
seorang malaikat.
Tiada bersayap, tak bercahaya.
Tetapi bagiku, sungguh sempurna.

Tangan kuat lembut membelaiku.
Tegar hati dibalut lembutnya.
Sungguh aku merasa bahagia.
Mendapat malaikat sempurna.

Begitu sabar membesarkanku,
merawat, dan menghadapiku.
Membuat aku semakin bersykur,
memiliki malaikat sepertimu.
Wahai ibu.

Tuhan sungguh adil.
Memberiku kekayaan berupa senyuman.
Tuhan sungguh bijaksana.
Melebihkan ibu
sebagai malaikat di dunia.

Ibu mampu mengangkatku
menjadi terbaik.
Meski ia tak bersayap.

Ibu mampu melindungiku
atas kehendakmu.
Meski tak terbuat dari baja.

Ibu mampu menerangiku
dengan kasihnya.
Meski terbuat dari cahaya.

Dialah malaikatku.
Dialah ibu.

Terima kasih Tuhan.
Kau telah mengirimkanku
kepada malaikat sederhana,
namun sempurna.

Banda Aceh 
15 November 2014

Keinginan Rakyat

Friday, September 22, 2017 0

Keinginan Rakyat 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Pilih kami pasti bermutu, maju,
nomor satu dan bersatu.

Kulihat, kudengar.
Dari orang-orang
mengatakan diri kandidat.
Menjadi pemimpin rakyat.

Apakah ini sebuah obral janji?
hati nurani? atau kata-kata basi?
Sering terdengar di sana-sini.
Apalagi menjelang pesta rakyat nanti.

Kami rakyat jelata,
tidak meminta apa-apa.
Kami rakyat jelata,
tak perlu uang dari saku anda.
Kami rakyat jelata,
hanya meminta.
Meminta dan meminta
perdamaian ini tetap terjaga.

Takan sejahtera negeri kita,
bila kekacauan di mana-mana.
Takan makmur,
bila kita terus bertempur
Takan nyaman beribadah,
bila kita selalu gelisah.

Tetaplah khidmat.
meski pesta telah tamat.
Jaga rakyatmu
perdamaian ditunggu-tunggu.
Lebih baik hidup sengsara
dari pada berperang sesama saudara.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Menuju Pengabdian

Wednesday, September 20, 2017 0

Menuju Pengabdian

Ilustrasi. @Doc. acehtrend.co
Karya: Mhd. Saifullah
Agak berbeda di minggu ini.
Terjaga dari lelap,
berjalan, berkumpul
dengan orang-orang
memiliki tujuan dan kepentingan.
Kepentingan bukan untuk diri sendiri.
Tetapi kepentingan untuk mengabdi.
Di penantian bersama,
terukir senyum kebahagiaan.
Terlukis wajah-wajah,
saling bertegur sapa.
Sambil tertawa, bergurau
dan berbincang-bincang.
Membahas rencana
kelak dipengabdian kita.
Pagi ini semangat nyata.
Kantuk musnah,
mimpi takut tak ingin berjumpa.
Matahari tegar menyapa jiwa.
Petakan langkah ringan terasa.
Seiring pagi yang cerah
memberikan semangat nyata.
Bersama langit biru
bergumal awan putih.
Dan suara alam
terasa ringan melangkah kini.

Daruasalam, Banda Aceh
7 Desember 2014

Sanger Khas Aceh dan Asal Usul Namanya

Monday, September 18, 2017 2

Sanger Khas Aceh dan Asal Usul Namanya

Sanger adalah minumah khas Aceh yang diracik khusus dengan komposisi antara kopi dan susu (salah satu warung kopi Solong cabang Lampeunerut). @Doc. Mhd. Saifullah
Pernahkah kawan-kawan mendengar kata sanger? Pernahkah kawan-kawan meminumnya? Jika pernah, di manakah tempat menikmatinya? 

Kata sanger mungkin terdengar asing bahkan jarang ada di dalam list daftar menu minuman di beberapa warung kopi (Warkop) di luar Provinsi Aceh. Bisa dikatakan sebagian besar orang yang pernah menikmati minuman ini, pastinya tidak terlepas dari salah satu warung kopi yang ada di Aceh ataupun pastinya berkaitan erat dengan citarasa kuliner dari Tanah Rencong (jika di luar daerah Aceh). 

Sanger merupakan salah satu minuman khas yang dikenal berasal dari Aceh. Minuman perpaduan antara kopi dan sedikit susu manis ini, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990-an, di salah satu warung kopi di Kota Banda Aceh. Tak heran jika saat ini, hampir di seluruh list daftar menu minuman pada warung kopi yang ada di Aceh, khususnya di Ibu Kota Banda Aceh, tersedia minuman ini. Hal ini dikarenakan, sanger menjadi minuman favorit saat ini bagi para penikmat kopi setelah kopi hitam biasa.

Perbedaan Sanger dan Kopi Susu
Jika dilihat sekilas dengan mata atau bagi yang belum pernah melihatnya, minuman sanger akan terlihat sama dengan kopi susu. Hal ini dikarenakan, warna dari kedua minuman tersebut hampir sama, selain dari kedua komposisinya yang juga sama, yakni perpaduan antara kopi dan susu. Namun, perbedaannya baru dapat dirasakan ketika sudah mencicipinya. 

Pada minuman sanger, antara rasa kopi dan susu lebih menyatu. Warnanya yang lebih gelap, membuat nikmat dari pahitnya kopi masih dapat dirasakan jelas meski sudah dicampur susu. Itu disebabkan komposisi pembuatan sanger dengan perpaduan 3 banding 1 antara kopi dan susu yang kemudian diracik dengan khas oleh barista saring saat membuatnya. 

Lain halnya dengan pembuatan sanger, perpaduan komposisi kopi susu bisa dikatakan 2 banding 2 atau lebih antara kopi dan susu. Sehingga warnanya lebih terang dan rasa susu pada minuman kopi susu bisa dikatakan lebih unggul.

Sejarah Minuman Sanger
Sebelum kawan-kawan membaca tentang sejarah minuman sanger, penulis ingin bertanya terlebih dahulu kepada kawan-kawan.

Pernahkah kawan-kawan mengetahui dan mendengar asal usul nama minuman sanger?

Jika belum pernah, penulis berharap tulisan ini dapat menambah wawasan kawan-kawan tentang minuman ini. Seandainya sudah pernah, semoga penjelasan berikut dapat memperkuat apa yang sudah kawan-kawan ketahui.
Sajian Sanger Arabica yang belakangan ini juga mulai populer di beberapa warung kopi di Aceh. @Doc. Mhd. Saifullah (@ms1991).
Asal usul nama minuman sanger sebelumnya sudah pernah penulis dengar dari beberapa orang yang menceritakan secara singkat. Akan tetapi, dikarenakan merasa kurang puas dengan pendapat tersebut, penulis mencoba mencari artikel tentang asal usul nama sanger dengan men-searching melalui Google. Alhasil, penulis berhasil menemukan sebuah artikel dengan judul Misteri Nama Senger di Warung Kopi Aceh yang dirilis oleh salah satu media online nasional bernama kompas.com pada 26 November 2013 lalu.

Di dalam artikel tersebut berisi mengenai asal usul nama minuman sanger, yang merupakan hasil wawancara antara wartawan kompas.com dengan Sarbini, pengusaha warung kopi Solong Mini di kawasang Lampineung, Banda Aceh. Berikut isi artikel singkat yang penulis kutip langsung dari situs kompas.com.

***
Minuman sanger mulai dikenal di warung kopi sejak tahun 1990. Berawal dari keinginan sejumlah mahasiswa yang berkantong tipis, tetapi ingin menikmati minuman bercita rasa tinggi.

“Dulu, mahasiswa kan uang jajannya tidak banyak, tapi terkadang mereka ingin menikmati kopi dengan racikan susu. Katanya buat menambah vitamin. Alhasil, mereka mulai berkompromi dengan pemilik warung, dan minta sama-sama mengerti bahwa mahasiswa tidak punya banyak uang, tapi sesekali ingin minum kopi pakai susu,” jelas Sarbaini.

Nah, ungkapan “sama-sama ngerti” yang disingkat menjadi “sanger” inilah yang kemudian dijadikan istilah oleh para mahasiswa yang nongkrong di warung kopi Jasa Ayah, Solong Ulee Kareng, untuk bisa menikmati kopi plus susu.

“Karena uangnya sedikit, makanya susunya juga tidak banyak, hanya seperdelapan ukuran gelas saja, lalu diberi kopi yang disaring. Nah, air kopi dari saringan yang ditarik tinggi oleh barista saring itulah yang menciptakan cita rasa khas dari sanger,” jelas pria yang dikenal sebelumnya juga menjadi barista saring di Warung Kopi Jasa Ayah Solong Ulee Kareeng, Banda Aceh.
***

Itulah penjelasan singkat dari asal usul nama minuman sanger yang kini begitu familiar di setiap warung kopi yang ada. Meskipun saat ini, minuman yang juga dikenal sebagai kopi susu ala Aceh ini terus berkembang racikannya, seperti sanger espresso yang menggunakan mesin kopi. Namun ciri khas sesungguhnya dari minuman ini tetaplah komposisi 3 banding 1, antara kopi dan susu yang dipadukan dengan gaya barista saringnya yang sangat khas.

Kejamnya Masa Kini

Saturday, September 16, 2017 0

Kejamnya Masa Kini 

Ilustrasi. @Doc. Tugas Sekolah Ku.
Karya: Mhd. Saifullah
Bukan suara angin
sedang berhembus.
Bergerak perlahan.
Seperti suara gesekan
atau dahan patah menua.

Namun.
Tiada ranting di sini.
Hanya besi gagah berdiri
mencakar para langit.
Dan seorang bocah
setengah terlelap malam mati.

Ini gambaran negeri
ekonomi meningkat tinggi?
Tetapi bocah kecil masih merana.
Melarat sekarat seadanya.

Tapi apalah daya.
Si kaya semakin
mementingkan hartanya.
Si miskin semakin
ditekan dengan berbagai cara.

Sesungguhnya semua harta
adalah hanya titipan semata.

Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Selamat Milad

Thursday, September 14, 2017 0

Selamat Milad 

Ilustrasi. @Doc. Textspace.net
Karya: Mhd. Saifullah
Aku baru mengenalmu,
dan engkau juga begitu.
Tapi bukan masalah kita,
dan bukan penghalang untuk berbagi kata.

Walau aku bukan sahabatmu.
Walaupun aku tak sedekat temanmu.
Tapi aku coba untuk ucapkan
hari ulang tahunmu.
Meski mereka telah terdahulu.

Aku tak bisa memberikan barang berharga.
atau memberikan bunga.
Sungguh-sungguh aku tak bisa.

Namun aku hanya bisa menitip doa,
kepada Sang Pencipta.
Serta beriring syair puisi tercipta.

Semoga ini lebih bermakna,
Walau tak berkesan,
bagimu dan tanggal miladmu.

Selamat Milad
Selamat Milad
Selamat Milad

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Jatuhnya Cinta

Tuesday, September 12, 2017 0

Jatuhnya Cinta

Ilustrasi. @Doc. Sustainable Hopes
Karya: Mhd. Saifullah
Biarkan aku sendiri di sini.
Meraung hayal pernah bertahta tinggi.
Menjadi raja dalam kebahagiaan cinta.
Menjadi raja dalam setiap senyuman
bersamanya.
Menjadi mengukir kata cinta
di tengah samudera.

Namun.
Kini cinta itu mati.
Ia meyakinkan takan ada cinta sejati.
Takan pernah ada cinta abadi.
Semua hanya angan-angan tinggi.

Saat asmara melanda
bagaikan bunga di musim bencana.
Namun berlahan musnah.
Mati seiring mentari meninggalkan pergi.

Kini aku meratap sunyi.
Terpaku rindu bayang-bayang sepi.
Lalu sirnah dibalik cahaya nirwana.

Takan pernah ada cinta sejati.
Bunga berguguran berlahan hilang
diterpa angin wuussss dan pergi.

Aku terluka di sini.
Cinta melumpuhkan jiwa ini.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
11 Maret 2012

Tinggal Apa?

Sunday, September 10, 2017 0

Tinggal Apa?

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Akan tiba satu masa.
Di mana mahkota
akan terlepas dari tahta
dan cahaya akan redup dengan sendirinya.
Tubuh akan terpasung
di bawah batu yang kaku.
Kisah hanya menjadi cerita
generasi selanjutnya.
Jasa hanya selepas ingatan
tetesan air para peziarah.
Sedangkan arwah
akan menanggung semua pertangungjawaban.
Tanggal (lepas) segalanya.
Tinggal Apa?

Gampong Pango, Banda Aceh
10 September 2017

Selamat Datang Sang Kombatan

Thursday, September 07, 2017 0

Selamat Datang Sang Kombatan

Buku Sang Kombatan Karya Musa AM alias Murdani Abdullah Musa. @Doc. Mhd. Saifullah
Buku Sang Kombatan sudah membuat saya penasaran sejak beliau (Bang Murdani alias Musa AM) menuliskan cerita ini di dunia maya (online). Selama di dunia maya, saya pernah membaca salah satu bagian (episode) kisah di buku ini saat itu, namun dikarenakan saya sedikit kurang suka membaca secara online sehingga saya tidak melanjutkan membacanya lagi (dengan harapan tulisan tersebut dapat dibukukan).

Tulisan berjudul Sang Kombatan sempat hilang dari pikiran saya. Akan tetapi beberapa bulan lalu saya mendapatkan kabar bahwa beliau akan menerbitkan Buku Sang Kombatan. Saya yang sudah penasaran sempat menanyakan kapan buku itu akan diterbitkan oleh beliau (di salah satu warkop di Pango).

Kabar penerbitan buku sempat hilang lagi dipikiranku. Tapi awal bulan Agustus, belalu beliau kembali meramaikan sebuah grup WhatsApp (WA) dengan memberi kabar bahwa buku sudah siap dicetak dan tinggal diedarkan. Mendengar kabar itu, saya langsung memesan sama beliau buku tersebut.

Singkat waktu, bukupun sudah tiba di Banda Aceh (mengetahui dari grup WA). Saya langsung menanyakan kepada beliau tentang buku dan memesannya satu buah. Saya menanyakan kapan beliau ada ke warkop saya akan datang untuk membwli buku tersebut.

Tiba waktunya kemarin beliau memberikan kabar bahwasanya ia sedang duduk di salah satu warkop di kawasan Simpang BPKP. Sebelum membeli dan mengambil buku, saya sempat berkeliling seputaran Jalan Ali Hasjmy (dari beberapa warkop hingga ke kantor beliau) mencari beliau karena tidak bisa dihubungi.
Beberapa menit kemudian beliau kembali memberikan kabar bahwa beliau sedang duduk di warkop. Tidak lama kemudian saya pun meluncur dan mengucapkan selamat atas karya beliau.

Akhirnya Buku Sang Kombatan pun berada di tangan saya. Tidak mau membuang kesempatan, saya meminta beliau untuk menandatangani buku yang belum saya baca ini.
Bang Murdani saat membubuhkan tanda tangan untuk ku di Buku Sang Kombatan. @Doc. Mhd. Saifullah
Memang Buku Sang Kombatan hanya baru beberapa halaman saja (baru satu bab) saya baca. Namun ada beberapa cerita dalam kalimat yang menurut saya begitu menarik. Di antaranya mengenai menu makanan dan minuman yang menjadi ciri khas dan pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi tersebut.

Mengenai makanan dan minuman, di dalam buku yang baru satu bab saya baca itu tertulis bahwa kopi seakan menjadi minuman favorit masyarakat Aceh di mana pun berada. Salah satu contohnya ketika Pakwa (tokoh Musa AM yang ada di dalam buku tersebut) sesaat setelah mendengarkan dan melihat diumumkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Presiden Megawati (Halaman 17).

Bukan hanya pada saat itu saja, beberapa kata dan kalimat kopi atau menawarkan minuman yang saat ini identik dengan Aceh tersebut juga terlihat di beberapa sub bab yang ada di bab pertama buku ini. Namun saya belum mengetahui bab-bab berikutnya, apakah masih ditemani kopi pada alunan ceritanya?

Selain kopi, ada kalimat dan suasana cerita yang membuat menarik perhatian saya saat membaca buku ini, yakni pembicaraan antara kedua tentara yang berbeda ideologi ini. Di mana, saat Pakwa berada di Kompi D1 Pase, prajurit Tentara Naggroe (pasukan GAM) secara tidak sengaja HT mereka tersambung dengan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) (Halaman 31-32). Dialek percakapan dari keduanya itulah yang sangat saya suka dan membuat saya menarik.

Adapaun dialek percakapan keduanya sesuai di halaman 31-32 buku tersebut adalah sebagai berikut:

***
"Apa kabar kalian di sana, baik-baik saja?" Suara itu terdengar.

"Ya, Allah masih melindungi kami dari orang-orang seperti kalian. Apa kalian juga baik-baik saja?" tanyaku.
"Ya, baik. Namun lebih baik lagi jika di rumah berkumpul dengan anak istri," jawabnya lagi.

"Kalau begitu pulanglah. Kasihan istri dan anak kalian di rumah," balasku lagi.

"Tidak bisa pulang, Bos. Kami diperintahkan melenyapkan kalian. Namun kita sama-sama prajurit. Siap mati untuk keyakinan masing-masing. Betul toh?" jawabnya.
"Apa yang kalian cari sebenarnya? Aceh itu daerah modal NKRI. Tanpa Aceh tak ada NKRI," ujar TNI itu lagi.

"Sebagi daerah modal, apa pantas Aceh diperlakukan seperti ini? Kalian lihat rajyat kami miskin, sementara hasil alam dibawa ke Jakarta. Pusat telah beberapa kali mengkhianati Aceh, dari Soekarno hingga Megawati. Tak cukupkah alasan bagi kami melawan?" jawabku.

"Itu aku tidak tahu, Bos. Kami hanya menjalankan perintah. Doakan kami sehat-sehat saja selama di Aceh," ujarnya setelah sempat terdiam.

"Doa itu tak mungkin aku ucapkan. Karena kalau kalian sehat, maka kami yang mati," jawabku.

Suara di seberang sana terdengar tertawa. Tawa mereka terdengar banyak. "Ya, aku juga ragu dalam berdoa. Mungkin karena Tuhanku dan Tuhanmu sama. Entah berpihak ke mana dia dalam perang ini," ujarnya.
***

Saya suku dengan percakapan keduanya. Karena di situ terlihat dari masing-masing pihak memiliki keyakinan yang kuat dalam menempuh jalannya masing-masing meskipun Tuhan dan agama mereka sama.

Begitulah isi singkat dari satu bab yang baru saya baca pada Buku Sang Kombatan. Pastinya, buku ini juga akan banyak menceritakan dialek-dialek yang lebih menarik lagi pada bab selanjutnya.
Tanda tangan Musa AM alias Murdani Abdullah Musa di Buku Sang Kombatan yang aku punya. @Doc. Mhd. Saifullah
Sebagai catatan, Buku Sang Kombatan menjadi buku yang kesekian saya beli dengan gaji sendiri untuk dijadikan koleksi di perpustakaan ribadi saya (sejak April sudah rutin menyisihkan uang untuk membeli buku).

SELAMAT DATANG KE PUSTAKA PRIBADI KU SANG KOMBATAN

Tersenyumlah

Wednesday, September 06, 2017 0

Tersenyumlah 

Ilustrasi membuat senyuman. @Doc. Nationalgeographic.co.id
Karya: Mhd. Saifullah
Mencintai dan dicintai adalah
bingkisan anugerah.
Menjalaninya adalah hal terindah.
Suka duka menjadi bumbunya.
Walau kadang perasaan harus tersiksa.

Perjalanan tentang cinta
selalu banyak godaan dan rintangan.
Anggap semua sebagai cobaan.
Untuk modal di masa depan
menghadapi kedewasaan.

Jangan terlalu lama
larut dalam kesedihan.
Jangan terlalu tenggelam
dalam kesepihan.
Ambil makna dari setiap perjalanan.

Tersenyumlah,
walau hati sedang terluka.
Tersenyumlah,
untuk satu makna.
Tersenyumlah,
untuk satu cinta.

Tersenyumlah.
Buat yang lain merasa bahagia.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
2012

Selalu Ada Untukmu

Monday, September 04, 2017 0

Selalu Ada Untukmu 

Ilustrasi. @Doc. Panti Rehabilitasi Betesda
Karya: Mhd. Saifullah
Bila malammu kini
gelap tanpa bulan.
Aku coba menemanimu
disela malammu.

Bila cahaya bintangpun
tak membuatmu bahagia.
Akan aku coba menghiburmu,
hingga tersirat senyuman
indah tampak dari bibirmu.

Dan bila engkau merasa
malammu sepi sendiri.
Aku mencoba untuk hadir
di dekatmu.
Meski menyelinap lewat mimpi.

Aku hanya mencoba selalu ada,
semampu dan sebisaku.
Hingga bila mana engkau bosan,
engkau dapat berlalu
ataupun mencari yang baru.

Tetapi izinkan perhatianku
tetap menjagamu.
Biarkan perasaan ini
tepat di siluet cintamu.

Aku rela,
walau aku harus terluka.
Aku rela,
asal engkau bisa
tersenyum bahagia.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Syair Dan Karya

Friday, September 01, 2017 0

Syair Dan Karya

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Tidak akan habis sebuah pikiran,
hanya untuk merangkai kata-kata indah.
Tidak akan lelah jari-jariku
untuk menarikan sebuah pena
Di atas kertas tak berwarna.

Menciptakan inspirasi bernilai tinggi.
Berseni dan bernuansa hati.
Hanya untuk satu kata.
Berkarya penuh makna.

Berkarya tentang cinta.
Berkarya tentang kehidupan manusia.
Berkarya tentang dunia.
Hingga berkarya tentang sang Pencipta.

Seperti roda berputar.
Mencari-cari tiada henti.
Berjalan menelusur sanubari.
Lautan hati tiada bertepi.

Syair bagaikan nafas,
memberikan kehidupan.
Syair bagaikan lentera,
menerangi hati yang gunda.

Berkaryalah untuk semua.
Berkarya dengan sesukanya.
Berkaryalah selagi engkau bisa.
Berkaryalah dengan sayir berirama.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
2012

Dentingan Serumpun Lonceng

Thursday, August 31, 2017 0

Dentingan Serumpun Lonceng

Ilustrasi Dentingan Serumpun Lonceng. Doc. pxhere.com
Karya: Mhd. Saifullah
Dengarkan ini.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Jangan.
Jangan.
Jangan.

Coba kau baca.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Coba kau rasa.
Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Coba kau karsa.

Jangan.
Jangan.
Jangan.

Jangan pernah hentikan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kesunyian.

Jangan umpamakan
serumpun lonceng-lonceng berdenting,
di antara suara-suara kebisingan.

Jangan hujatkan
dentingan lonceng-lonceng serumpun,
di antara rampang kebatinan.

Dengarkan ini.

Emperum, Banda Aceh
31 Agustus 2017

Jangan Menyerah

Tuesday, August 29, 2017 0

Jangan Menyerah

Ilustrasi. @Doc. Santapanrohani.org
Karya: Mhd. Saifullah
Di antara satu tanya,
terdapat sebuah jawaban.
Memberikan sebuah makna,
berartikan segalanya.
Ratapan,
impian,
harapan,
serta angan.

Jawaban itu jauh.
Jauh di sana.
Di tengah lautan.
Tidak akan terlihat
dari pinggiran.

Jangan menyerah
untuk sebuah impian.
Tancapkan serta dirikan,
tiang-tiang perjuangan kokohkan.

Jangan pernah berhenti bermimpi.
Sebelum mimpi itu mati.

Jangan menyerah.
Jangan menyerah.
Jangan menyerah.

Selagi engkau bisa menggapainya.
Keep your dream,
and keep your spirit.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
September 2012

Ku Jual Suaraku Untuk Masa Depanku

Saturday, August 26, 2017 0

Ku Jual Suaraku Untuk Masa Depanku 

Aku saat mengisi salah satu acara di Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Berjalan sendiri di bawah malam
terangnya si Kutaradja
Berjalan menepi membelah jalan
persimpangan si hiu dan buaya.

Bersandang gitar tersayang.
Menembus segarnya debu
berterbangan menghampar.

Tegak di toko tuan.
Biarkan aku memetik gitar
dan bersyair akan nyanyian.
Dengan lirik teralunkan.
Menghibur lalu-lalang pengunjung datang.

Mereka bertanya siapa diriku.

Aku adalah pelajar tertinggi.
Aku di sini berdiri,
bernyanyi untuk perguruan yang tinggi.

Menentukan nasib aku begini.
Dari pada meminta secupak nasi.
Lebih baik aku bernyanyi
dan menghibur para penikmati.

Inilah aku.
Bernyanyi tanpa ragu.
Meski wajah-wajah menatap jemu.
Ku tampar demi masa depanku.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2012

Surat Cinta Kepada Ummul Mukminin

Friday, August 25, 2017 0

Surat Cinta Kepada Ummul Mukminin

Ilustrasi Ummul Mukminin. @Doc. Istimewa
Karya: Mhd. Saifullah
Namamu sudah tak asing lagi.
Di telinga umat Islam dahulu,
sampai saat ini.

Siapa tak kenal ummul mukminin.
Dua orang istri yang sangat setia.
Khadijah dan Aisyah,
itulah namanya.

Demi cinta kepada sang Pencipta
serta RasulNya mereka rela berkorban.
Untuk menegakkan agama Allah.
Dan merelakan segalanya.
Mulai dari harta hingga jiwa,
meski kadang harus tersiksa.

Kesetiaan dan cinta kepada Rasulku,
membuat aku mengagumimu.
Hingga aku jatuh hati kepada dirimu.
Wahai ummul mukminin Rasulku.

Goresan tinta kecil syair puisiku,
ku coba menuliskan tentang cinta
dan pengorbananmu kepada Rasulku.
Karena kagumku kepadamu wahai ummul mukminin.

Tiada istri paling sholeha
lagi bijaksana selain keduanya.
Tak salah Allah menjanjikan syurga
bila pengorbananmu tiada dua.

Wahai muslimat semua.
Tirulah sifat ummul mukminin yang telah ada.
Hidupkan keluargamu dengan cinta Allah.
Niscaya syurga menantimu di sana.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
26 Desember 2012

Harta

Thursday, August 24, 2017 0

Harta

Ilustrasi dari harta. @Doc. Republika.com
Karya: Mhd. Saifullah
Susah raja begitu gelisah.
Semua ada,
Namun sayang.
Kebahagiaan tak punya.
Hidup mewah seakan tak bermakna.

Susah.
Sungguh memang susah.
Bila hidup
hanya terpikirkan harta.
Susah mati
takut tersiksa.
Susah berbagi
dapat neraka.

Apa susahnya hidup berbagi.
Bila tak ada lebih,
nasi sepiringpun jadi.
Buat bekal di akhirat nanti
sebelum mati.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
5 Juli 2012

Sahabat Sejati Telah Pergi

Wednesday, August 23, 2017 0

Sahabat Sejati Telah Pergi 

Ilustrasi persahabatan. @Doc. Webfree.id
Karya: Mhd. Saifullah
Ntah mengapa diriku.
Malam ini terasa teramat sepi.
Mungkin firasatku tentang engkau.
Tentang engkau akan pergi.
Pergi jauh meninggalkan aku di sini.

Sahabat sejati telah pergi.
Sahabat sejati telah damai dan abadi.
Sahabat sejati tidak akan pernah
kembali lagi.
Karena dia telah pergi jauh,
meninggalkan aku dan dunia ini.

Kau telah tenang.
Kehidupan dunia datang
tidak akan pernah engkau hiraukan.
Engkau telah tenang di sana.
Bersama mimpi
dan kenangan yang pergi.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh 
2012
Wanita Tangguh Dari Ujung Sumatera

Wanita Tangguh Dari Ujung Sumatera

Monday, August 21, 2017 0

Wanita Tangguh Dari Ujung Sumatera

Cut Nyak Dhien (duduk di tengah) beserta dengan para pengikutnya. @Doc. Istimewa
Karya: Mhd. Saifullah
Biarlah raga terpisah,
demi merah putih berkibar di udara.
Biarlah darah menghilang di tanah,
biarlah tulang hilang ditelan masa.

Wanita gagah
dari ujung Sumatera
yang pernah menggetarkan
setiap jengkal langkah serdadu belanda.

Wanita berjiwa ksatria
yang memperjuangkan setiap jengkal
tanah kelahiran dan bangsanya.

Wanita dari Serambi Mekkah,
wanita yang berjuang untuk Indonesia.
Untuk hari esok (masa depan)
yang lebih cerah.

Darussalam, Banda Aceh
20 Agustus 2017

Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Friday, August 18, 2017 0

Jika Aku Tak Bisa Berbahasa Kalian? (Haruskah Kalian...)

Ilustrasi menggosip (menceritakan seseorang). @Doc. kataislam.com
Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang bisa dikatakan unik, yang saya alami. Mungkin sebagian kawan-kawan pernah mengalami hal yang sama.

Kejadian ini terjadi pada Kamis, 10 Agustus 2017 lalu, di saat saya memutuskan untuk memotong rambut setelah pulang dari Kampus Politeknik Aceh yang ada di Pango. Cuaca panas, membuat rambut dan kepala saya menjadi gerah. Maklum saja, aktu itu rambut saya bisa dibilang lumayan panjang, bagian depannya kalau ditarik bisa lewat dagu dan bagian belakangnya telah sampai bahu. Jadi, solusi mencari tempat jasa pemotongan rambut (pangkas) sambil menuju jalan pulang saya anggap sangatlah tepat. Biar terlihat lebih muda dan keren kayak orang-orang. Hehehe.

Saya pun beranjak dari Kampus Politeknik Aceh dengan menggunakan sepeda motor sambil memikul tas yang lumayan berat karena berisi laptop, buku, serta beberapa barang lainnya. Rute perjalanan yang saya tempuh untuk pulang ke rumah sambil mencari tempat pangkas, yakni Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango lalu ke Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Sepanjang perjalanan yang saya lalui, sambil mengendarai sepeda motor, saya mencoba memperhatikan tempat pangkas di kawasan pertokoan yang ada di kiri dan di kanan bahu jalan.

Beberapa menit setelah bergeser dari tempat yang saya bergerak tadi, akhirnya saya mendapatkan salah satu tempat pangkas yang ada di kawasan Jalan Teuku Iskandar, Lambhuk, Banda Aceh. Mendapati tempat tersebut, saya langsung memarkirkan sepeda motor dan lalu masuk ke dalam.

Ketika masuk, saya langsung disodorkan pertanyaan oleh salah seorang karyawan jasa pemotongan rambut layaknya menyambut konsumennya. 

"Koh ook bang? (Potong rambut bang?)," tanyanya karyawan tersebut dengan dialeg Bahasa Aceh.

"Nyo bang (iya bang)," jawab saya yang memang ingin memotong rambut.

Sambil melepaskan tas yang tersandang, saya memperhatikan sekeliling ruangan mencari tempat untuk meletakkan tas. Karyawan yang memahami gerak-gerik saya langsung mengatakan untuk meletakkan tas di atas meja (tempat peralatan pemotongan rambut) dekat kaca.

"Neu peuduk atas meja nyo ju (letakkan di atas meja ini saja)," ucapnya menyuruh.

Saya mencoba meletakkan tas di atas meja, namun masih saya pegang karena masih ragu dengan posisi tas yang saya anggap masih kurang pas (takut jatuh karena berisi laptop). 

"Peuduk ju (letakkan saja), gak apa-apa, gak jatuh itu," disambut dengan dialeg Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia oleh karyawan yang nantinya akan memotong rambut saya dengan karena melihat saya sedikit ragu meletakkan tas.

Mendengar pernyataan itu, saya letakkan tas lalu menuju kursi pangkas untuk duduk.

Di dalam ruangan itu ada 5 orang, di antaranya 2 orang konusmen (termasuk saya) dan 3 orang jasa pemotongan rambut (satu bersiap-siap untuk memotong rambut saya, satu sedang memotong rambut konsumen yang lain, dan satunya lagi sedang menjalankan shalat).

Kemudian karyawan itu menanyakan kembali kepada saya. "Kiban ta koh? (Bagaimana kita potong?)," tanyanya menawarkan potongan dengan model rambut yang bagaimana.

"Rapi," jawab saya dengan santai.

Karyawan tersebut kemudian menanyakan kembali, dan saya tetap dengan jawaban yang sama.

Mungkin suara saya terlalu pelan dan cepat ataukah antara didengar jelas atau tidak oleh karyawan tersebut. Sehingga teman  di sebelahnya langsung menyahut dan mengatakan kepada karyawan itu bahwa saya tidak bisa berbahasa Aceh.

"Han jeut Bahasa Aceh jih nyan (Tidak bisa Bahasa Aceh dia tu)," sahut kawannya.

Karyawan tersebut akhirnya menanyakan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

"Mau pangkas model yang gimana bang?," tanyanya.

Saya pun menjawab dengan bahasa Indonesia. "Dirapikan aja bang, samping sama potong atasnya dikit," jawabku.

Merasa sedikit bingung, karyawan tersebut mencoba menunjukan pilihan beberapa gambar model potongan rambut yang tertera di dinding ruangan tersebut.

"Apa mau kayak nomor 19?," menawarkan salah satu model potongan rambut yang ada.

Sejenak saya berpikir sambil memperhatikan model potongan rambut yang ditawarkan. Tidak lama kemudian saya pun mengiyakan model tersebut karena terlihat lebih rapi dan keren.

"Boleh bang, yang nomor 19 aja," jawab ku menyetujui tawarannya.

Karyawan itu kemudian bersiap-siap untuk memotong rambutku, namun ketika dia baru saja memegang mesin pemotong rambut. Matanya tiba-tiba mengarah ke tas yang aku letakan tadi di atas meja.

"Kita pindahkan aja tasnya ya bang?," dia meminta izin kepada ku sembari mencoba memindahkan tas.

"Berat juga tasnya bang, apa isinya?," tanyanya padaku.

Aku yang melihat langsung merespon. "Laptop sama buku bang. Hati-hati bang," mengingatkan kepada karyawan itu.

Mendengar rekannya mengatakan bahwa tas yang dipindahkan itu berat. Karyawan satunya yang sedang memotong rambut pelanggan lain, mencoba menyambung pembicaraan.

"Nyan bom aso jih. Hati-hati kah me, meunyo ret meuledak habe geutanyo (itu bom isinya. Hati-hati kamu bawa, kalau jatuh meledak habis kita)," ucapnya karyawan tersebut.

"Kadang cit jih aneuk buah Abu Safi (kadang juga dia anak buah Abu Safi)," ucapnya lagi menambahkan sambil tertawa.

Mendengar apa yang dikatakannya, saya hanya tersenyum seakan tidak menghiraukan apa yang dia bicarakan.

Setelah itu, karyawan tadi kembali menceritakan tentang saya dengan menggunakan Bahasa Aceh, seakan-akan mereka menganggap saya benar-benar tidak mengerti bahasa tersebut. Saya kembali tidak menghiraukan, tetapi saya tetap mendengar percakapan mereka.

Di dalam hati saya bergumam heran, "apa orang ini benar-benar gak tahu kalau aku bisa berbahasa Aceh?," tanyaku dalam hati.

Bosan bercerita mulai dari tentang saya hingga tentang-tentang lainnya. Akhirnya karyawan tadi berhenti berbicara dan suasanya menjadi senyap. Tidak lama kemudian, masuk pelanggan lainnya keruangan tersebut. Pembicaraan kembali dimulai dengan tema baru lagi. Di saat itu, saya sudah tidak peduli dan tidak mendengar lagi apa yang menjadi pembahasan.

Beberapa menit kemudian, rambut saya pun selesai dipotong oleh karyawan yang pertama tadi. Biasanya, setelah habis potong rambut maka karyawan akan menyetel kursi menjadi lebih santai (telentang) untuk dilakukan pemijatan (mengurut).

Melihat kursi akan disetel, saya pun respon melarang dengan menggunakan Bahasa Aceh.

"Ohh bek bang, bek. Ka jeut nyo (ohh jangan bang, jangan. Udah bisa ini)," menginstruksikan kepadanya bahwa saya tidak mau dipijat.

Mendengar saya berbicara menggunakan Bahasa Aceh. Karyawan  itu langsung kaget.

"Haii, jeut lago Bahasa Aceh? Lon pike kon awak Aceh beno (haii, bisa rupanya Bahas Aceh? Saya pikir bukan orang Aceh tadi)," tanyanya kaget.

"Jeut bang (bisa bang)," jawabku.

"Man pakon beno wakte lon tanyong hana jaweb? (Lalu kenapa tado waktu saya tanya (masalah potongan rambut) tidak dijawab?," tanyanya lagi.

"Na bang, cuma mungken han dron leungo beno (ada bang, cuma mungkin gak abang dengar tadi," jawabku lagi sambil senyum dingin.

Mendengar pembicaraan kami, seorang karyawan tadi kembali ikut menyahut.

"Mungken abang nyan Aceh Jawa (mungkin abang itu Aceh Jawa). Hahaha...," sahutnya tertawa.

Sambil berbenah diri untuk beranjak, aku langsung menanyakan harga operasional pomotongan rambut. Setelah menyerahkan biaya pembayaran, karyawan tersebut merasa tidak enak kepada diriku. Itu terlihat dari cara dia mencoba mengakrabkan diri dengan ku.

"Omak bang, pike dron beno awak Jawa atau awak Medan. Kareuna wakte jak deungon ook panyang (omak bang, pikir abang tadi orang Jawa atau orang Medan. Karena waktu datang dengan rambut panjang lagi," ngelesnya.

Merasa tidak enak, dia sempat meminta maaf sebelum saya keluar dari ruang itu.

"Lake meuah bang beuh. Lon hana lon teupeu beno (minta maaf bang ya. Saya tidak tahu tadi)," ucapnya.

Merasa tidak ada yang harus dimaafkan, dan saya menganggapnya itu sebuah candaan.

"Hana peu bang, santai ju (tidak apa-apa bang, santai saja)," jawabku.

***

Begitulah cerita singkat yang saya alami sewaktu memotong rambut. Dari tulisan ini, Saya kembali teringat pada sebuah peristiwa saat saya sedang liputan. Kejadian itu hampir sama seperti yang saya alamj, akan tetapi konteksnya saja berbeda.

Ketika itu korbannya adalah rombongan atlit sepeda yang sedang melakukan touring dari Pulau Weh (Sabang) ke Kota Banda Aceh. Para atlit yang tiba di salah satu penginapan di Kota Banda Aceh pernah diganggu oleh pekerja bangunan di penginapan mereka saat pertama kali sampai. Ada beberapa pekerja yang mencoba mengganggu dan berbicara hal yang tidak wajar untuk atlit wanita yang ikut dengan para rombongan dengan menggunakan bahasa daerah Jawa Barat (Sunda).

Mendengar mereka sedang dibicarakan, salah seorang atlit wanita yang mengerti merasa marah dan memarahi para pekerja tersebut dengan Bahasa Sunda. Teman-teman atlit lainnya yang merasa heran apa yang dibicarakan mencoba menanyakan kepada salah seorang atlit tersebut.

"Itu tadi dia bilangin kita yang enggak-enggak, wuuu dasar," ucap atlit wanita tersebut.

Tulisan ini mungkin hisa menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa jangan menilai orang dari luar. Selain itu, jangan pernah mencoba membicarakan orang lain dengan menggunakan bahasa yang mungkin kita anggap orang yang kita bicarakan itu tidak mengerti atau memahaminya.

Mungkin saat itu kalian menceritakan mereka, namun suatu saat kalian akan malu karenanya.

Kita Merah Putih

Thursday, August 17, 2017 0

Kita Merah Putih

Seorang bocah menghormat bendera merah putih. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku merah.
Engkau putih.
Berpadu, satu.
Berbeda menjadi saudara.
Merah putih kita.

Sekber Wartawan, Banda Aceh
17 Agustus 2017

Mereka (Hutan)

Tuesday, August 15, 2017 0

Mereka (Hutan)

No Forest, No Light, and No Future (Tidak ada Hutan, Tidak Ada Cahaya, dan Tidak Ada Masa Depan). @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Mereka tak bersuara,
tapi mereka bisa mendengar.
Mereka tak mengeluarkan air mata,
namun mereka dapat bersedih pula.
Mereka punya rasa.
Tetapi kita tidak pernah percaya
bahwa mereka ada untuk kita (manusia).

Banda Aceh
31 Juli 2017

Guruku

Monday, August 14, 2017 0

Guruku

Ilustrasi. @Doc. Kompasiana.
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau begitu mulia.
Di dalam hati para siswa.
Begitu besar jasamu guruku.

Kau begitu sabar.
Di setiap engkau mengajar.
Begitu berartinya guruku.

Jasamu.
Sulit dilupakan.
Jasamu.
Sulit tuk dikenang.
Guruku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Atas semua
yang kau berikan untukku.

Terima kasihku.
Ku ucapkan padamu.
Wahai guruku.
Terima kasihku.

Wahai guruku.
Terima kasihku.

SMA Muhammadiyah 1 Batam, Batam 
2011

Berhenti Berharap

Monday, August 14, 2017 0

Berhenti Berharap

Ilustrasi. @Doc. Google.
Karya: Mhd. Saifullah
Aku terlalu berharap.
Terlalu lama aku telah menunggu.
Kepastian itu tiada ujungnya,
namun malah semakin menyiksaku.
Menyiksa bathin juga perasaanku.

Apa maksud dari semua ini.
Aku masih tidak pernah mengerti.
Mengapa aku selalu berharap.
Padahal semua itu hanya semu,
yang melahirkan luka dan sakit melara.

Aku berharap,
namun tanpa pernah diambil peduli.
Bagaikan bulan berharap bertemu matahari.
Gelap dunia, bencana semesta.

Huuffffttt.
Lebih baik aku memupuskannya.
Tiada guna aku terlarut dalam harap.

Gampong Emperum, Banda Aceh
2012

Tips Unik Agar Mau Menulis

Thursday, August 10, 2017 0

Tips Unik Agar Mau Menulis

Ilustrasi menulis. @Doc. Kompasiana.
Menulis bisa dikatakan sebagai suatu kemampuan seseorang dalam merangkai kata-kata serta bahasa dengan menciptakan suatu kalimat. Pada dunia bahasa, menulis menjadi salah satu bagian yang sangat penting dilakukan setelah kemampuan membaca, berbicara, dan menyimak. Sebab dengan menulis, penulis mampu menceritakan kembali situasi ataupun keadaan yang dilihatnya. Selain itu dengan kemampuan menulis, penulis juga bisa lebih mudah dalam mengingat apa yang sudah terjadi.

Ada beberapa definisi atau pengertian dari menulis yang saya ambil. Pengertian tersebut ada menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, dan menurut beberapa para ahli.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, menulis berasal dari kata tulis yang berarti ada huruf (angka dan sebagainya) yang dibuat (digurat dan sebagainya) dengan pena (pensil, cat, dan sebagainya) (Sumber: KBBI Online).

Menurut para ahli seperti Djago Tarigan dalam buku yang ditulis Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009:5) menulis bisa diartikan sebagai mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan (Sumber: Dunia Baca Dot Com (Online)).

Definisi menulis menurut Pranoto (2004:9) adalah menuangkan buah pikiran kedalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Sumber: Zha Gadih Minang (Online)).

Berdasarkan tiga definisi di atas, menulis dapat diartikan sebagai suatu susunan huruf atau angka yang dibuat dalam bentuk kalimat berupa ungkapan, pendapat yang dituangkan kedalam tulisan.

Di atas sudah dijelaskan definisi ataupun pengertian dari menulis. Lalu bagaimana cara kita agar mau menulis? Inilah yang menjadi beberapa masalah bagi para penulis terutama penulis pemula. Akan tetapi kawan-kawan jangan panik ataupun bingung untuk mulai menulis dari tulisan yanga akan kawan-kawan tulis.
Kali ini saya akan berbagi beberapa informasi mengenai tips dan cara untuk menjadi penulis ataupun minimalnya mau menulis sebuah artikel atau tulisan. Tips ini berdasarkan pengalaman yang saya alami untuk memulai menulis. Adapun langkah-langkahnya bisa kawan-kawan baca di bawah ini.

Cobalah Tulis Kembali Buku-Buku Bacaan
Membuat suatu tulisan atau artikel memang tidaklah mudah. Kawan-kawan harus memikirkan apa yang harus ditulis dan kata apa yang akan ditulis pertama kali. Mengenai hal tersebut, kawan-kawan bisa memulainya dengan mencoba menulis tulisan yang ada di buku bacaan yang kamu punya ataupun pinjam dari perpustakaan.

Menulis kembali tulisan yang ada di buku adalah sebagai suatu lahan latihan paling dasar bagi penulis pemula untuk mau menulis. Hal ini dikarenakan, tulisan dari buku bacaan yang ada secara tidak langsung telah memacu kawan-kawan untuk membaca, mengingat, dan mengikuti rangkaian kata-kata yang ada di dalam buku. Selain itu, menulis kembali buku bacaan akan melatih jari-jari tangan kawan-kawan untuk mau menulis.   

Latihan menulis melalui cara ini bisa dilakukan dengan sehari minimal satu sampai sepuluh halaman buku. Apabila kawan-kawan sudah mulai terbiasa, cobalah untuk meningkatkan halaman tulisan perharinya. Jika jari-jari dan pikiran kawan-kawan sudah biasa untuk menulis maka coba tingkatkan dengan melakukan resume (membuat ringkasan) dari bagaian atau bab yang ada pada buku. Semakin sering kamu lakukan latihan menulis seperti ini, maka kamu mulai terbiasa dan bahkan semakin menambah keinginan untuk menulis.

Tulislah Apa Yang Anda Pikirkan
Permasalahan bagi para penulis pemula untuk mau menulis biasanya adalah apa yang mau ditulis oleh penulis. Sebenarnya sih itu bukan suatau permasalahan yang serius. Ketika kawan-kawan sudah mulai mau menulis, tulislah apa yang kamu pikirkan. Tulis semua dahulu sampai selesai menurut kawan-kawan. 

Sebagai pemula, kamu bisa menulis tulisan berupa puisi, cerpen, ataupun kisah maupun diari serta perjalanan hidupmu. Kalau kawan-kawan bisa menulis artikel esai atau opini itu malahan lebih bagus lagi.

Tulisan yang sudah kawan-kawan tulis kemudian coba dibaca kembali untuk memperbaiki setiap kata yang salah sekaligus merangkai kalimat mana yang tepat. Kotak-katiklah tulisan yang kamu punya sesuai keinginan kamu. Kemudian tulisan yang sudah kamu kotak-katik coba untuk dibaca kembali untuk lebih memastikan hasilnya.

Kedua tips di atas berdasarkan pengalaman dari saya yang mungkin bisa bermanfaat bagi kawan-kawan. Semoga dengan tips sederhana ini bisa menambah kemauan kawan-kawan yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis atau memulai untuk menulis.