Negeri Minyak

Monday, December 11, 2017 0

Negeri Minyak 

Karya: Mhd. Saifullah 
Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Keluar satu, masuk satu.
Kendaraan belajar mengantri.
Tersusun rapi,
bagaikan ular berbaring menepi.
Menjadi hiburan tak berarti.
Pandangan tak begitu peduli,
ini sudah sering terjadi.

Keluar dua, masuk dua.
Kendaraan mengantri begitu lama.
Perut kendaraan bervariasi.
Sesuai keadaan ekonomi
dan dompet saat ini.

Keluar tiga, masuk tiga.
Pengendara semakin resah.
BBM sedang berganti.
Baju lama tersisi,
baju baru melambung tinggi.

Rakyat harus berpikir.
Membeli atau berhenti
Mengingat negeri
penghasil minyak bumi.
Tetapi fakta minyak import lagi.

Keluar empat, masuk empat.
Jirigen ikutan belajar mengantri.
Melihat harga begitu tinggi.
Timbun menimbun, memperkaya diri.
Yang penting punya sendiri terisi.

Masuk lima, keluar semua.
Antrian mulai tiada.
SPBU mulai lelah.
Sebab tadi berubah, esok berduka.

Hahaha.
Negeri kaya minyak menderita.

Gampong Lamnyong, Banda Aceh
23 November 2014

Berputar

Saturday, December 09, 2017 0

Berputar

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Berputar-putar
roda terus berputar.
Berputar-putar
waktu terus berjalan.
Berputar-putar
hari terus berlalu,
usia semakin mendekati mati.

Berputar-putar
roda kehidupan terus berputar.
Berputar-putar
perjalanan masih panjang.
Berputar-putar
semua saling berputar,
dan semua harus berputar.
Agar sesuai dalam kehidupan.

Kopelma Darussalam, Banda Aceh 
22 November 2014

Nyanyian Malam

Friday, December 08, 2017 0

Nyanyian Malam

Ilustrasi Nyanyian Malam. @Doc. Mhd. Saifullah 
Karya: Mhd. Saifullah
Gemuruh tiada berkumandang,
langit cerah malam ini.
Terdengar suara bintang
bermain riang.
Senyuman bulan juga semakin lebar.
Karna malam, tanpa berteman awan.

Semakin terasa nyanyian malam.
Semakin tercipta alunan gembira.
Cicak-cicak ikut tertawa,
melihat katak mulai berduka.
Seakan maut selalu menghantui jiwa.

Nyanyian malam membawa duka.
Sang katak menangis,
sambil mendurja.
Melihat sang ular bermain lidah,
mendengar gendang perut yang susah.

Nyanyian bencana berduka.
Langit cerah,
satu dalam suka dan duka.

Terbentuk suara berbeda-beda.
Terdengar bagaikan para nada.

Suara alam sungguh indah.
Nyanyian malam itulah dia.
Sampai aku menghantar mata.
Dan bermimpi hingga nirwana.

Gampong Laksana, Banda Aceh
20 November 2014

Awal

Wednesday, December 06, 2017 0

Awal

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Awalku bertemu denganmu,
Aku bagaikan patung.
Diam, membisu,
seakan tubuhku
terpaku oleh waktu.

Saat suara-suara
merayap ditelingaku,
Musim semi melahirkan
taman bunga di hatiku.
Jantungku menggebu-gebu,
terpacu.

Aku ling-lung,
lupa diri tidak menentu.
Aku tak mengerti
apa yang terjadi.
Rasa apa ini.

Aku semakin bingung,
Mengapa membatu
dihadapan seorang wanita.

Dia telah mengkudeta hatiku.
Dia merubahnya,
merubah menjadi taman bunga.

Sungguh tidak ku sangka.
Apakah ini cinta?
Cinta diawal melihat
dan mendengar suaranya.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
12 November 2014

Ternodai

Tuesday, December 05, 2017 0

Ternodai 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Inilah gambaran nyata.
Hak-hak mulai dilangkahi.
Menyulap pasti menjadi ilusi.
Mensetipoi kebaikan dan kebenaran.

Media-media saling berlomba
membumingkan kebodohan.
Bukan berita fakta,
tetapi lebih pro penguasa.

Kebenaran telah tersetipoi.
Pembodohan telah menodai
orang-orang tak bersalah.

Di dalam sana.
Para politisi menari-nari.
Mereka bukan berdiskusi,
tetapi tertawa gembira di kebodohan rakyat.

Berita telah berubah
membuta mata hapuskan masa.
Mensetipoi kebenaran,
mengelabuhi keadilan.

Sungguh, sungguh dan sungguh.
Kita telah dinodai.
Bahkan dilecehkan.
Dengan orang-orang
pengambil untung kebenaran.

Kajhu, Aceh Besar
9 November 2014

Mau Ke Mana

Thursday, November 30, 2017 0

Mau Ke Mana 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Mahasiswa adalah kita.
Jiwa pemuda lagi bijaksana.
Jiwa yang dapat merubah bangsa.

Hey hey hey.
Jangan cuma diam aja.
Begerak dan hidupkanlah semua.
Aktifkanlah masa muda.
Kita adalah mahasiswa.

Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Banggakanlah jiwa kita.
Jiwa seorang mahasiswa.
Tuntunan masyarakat semua.

Ingat tridarma perguruan tinggi.
Bagaikan modal tiada henti.
Merupakan sebuah janji
dan menjadi ideologi.
Karena hanya kita,
yang dapat merubah negeri ini.

Hey hey hey.
Mau kemana jiwa muda.
Jiwa pemberani dan pantang menyerah.
Tak ada kata menyerah
untuk membelah rakyat yang lemah.

Gampong Lamlagang, Banda Aceh
September 2014

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949 (Bagian 2)

Tuesday, November 28, 2017 0
Resume Buku

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh,
1945-1949 (Bagian 2)

Buku Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul: 
Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949
Penulis: 
Sudirman
Penerbit: 
BPSNT Banda Aceh
Tahun terbit: 
2012 (Cetakan Pertama)
Tebal/jumlah halaman: 
153 Halaman

Resensi Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949:

3. Peranan Media Massa Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Aceh
3.1 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Di Aceh
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, bukanlah akhir perjuangan bangsa ini. Sikap ketidakpuasan Belanda, membuatnya berusaha ingin menguasai kembali Indonesia dengan melancarkan agresi militer. Melalui agresi I dan II, Belanda mencoba menceraiberai negeri ini dalam bentuk beberapa negara boneka. Satu-satunya daerah dalam wilayah Negara Republik Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan yang tidak pernah dikuasai lagi oleh tentara Belanda sejak tahun 1942 adalah Aceh. Hal ini pula yang menjadi modal utama utusan Indonesia (Bung Hatta) dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, untuk dijadikan sebagai alasan bahwa Negara Republik Indonesia masih memiliki wilayah yang bebas dari penguasaan Belanda. Sedangkan kota-kota di Sumatera Timur yang menjadi basis pertahanan Indonesia, sudah dikuasai oleh Belanda.

Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, menyebabkan kekuasaan Dewan Pertahanan Daerah diserahkan kepada gubernur militer, pada 20 Desember, di tahun yang sama. Aceh merupakan daerah pertahanan yang potensial untuk melakukan konsolidasi dan persiapan menyerang agresor Belanda. Semua divisi dan satuan, dipersiapkan serta dikerahkan ke perbatasan Aceh-Sumatera Utara, seperti di Langkat, Tanah Karo, dan Dairi. Sejalan dengan itu, dilakukan pula pengungsian bahan material dan personil militer ke Burni Bius, tempat yang dipandang strategis untuk perjuangan, yaitu Kota Takengon, Aceh Tengah.

Pengungsian menyebabkan situasi dan posisi komandan berada di pedalaman, sementara satuan-satuan bawahan berada terpencar dalam hutan belantara. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu alat komunikasi yang dianggap begitu penting untuk melakukan kontak, penyusunan strategi perang, dan menentukan sasaran penyerangan. Alat komunikasi yang dibutuhkan tentu harus sesuai dengan kondisi alam dan medan juang, sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat. Jenis alat yang dimaksud adalah pemancar radio. Siaran radio dapat menjangkau batas-batas yang tidak mungkin ditempuh dengan fisik manusia maupun alat fisik lainnya. Selain itu, siaran radio juga dapat menembus blokade-blokade pasukan musuh dan menangkis propaganda-propaganda yang merugikan perjuangan Indonesia.

3.2 Peranan Radio Pada Masa Revolusi Kemerdekaan 
Satu di antara modal perjuangan Bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan adalah alat komunikasi, yaitu radio. Radio memegang peranan penting dalam menyebarluaskan informasi, melalui radio berita dapat mencapai sasarannya dengan mudah. Begitu besar manfaat siaran radio, terutama oleh Bangsa Indonesia, sebab berita proklamasi kemerdekaan dikumandangkan melalui radio. Demikian juga pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ketika Belanda memblokade dan mengepung dengan aksi militernya, upaya pencarian dukungan dari luar negeri dapat diperoleh melalui siaran radio.

Begitu pentingnya radio sehingga dianggap perlu membentuk suatu organisasi yang ideal dan efektif. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pada 10 November 1945, para pemimpin radio dari seluruh Jawa mengadakan pertemuan dan membicarakan persoalan tersebut dengan pemimpin negara, Presiden Soekarno, di Jakarta. Pertemuan itu menuntut kepada Jepang untuk menyerahkan semua studio radio beserta pemancar dan perlengkapannya kepada Bangsa Indonesia. Pada hari terakhir pertemuan itu, tepatnya pukul 24.00 WIB, dicapai suatu kesepakatan untuk mendirikan satu organisasi radio siaran dan menentukan tindakan-tindakan yang akan diambil oleh daerah-daerah. Berdasarkan kesepakatan, tanggal 11 September 1945, ditetapkan menjadi Hari Radio Republik Indonesia (RRI).

3.2.1 Radio Kutaraja 
Sejak awal perang kemerdekaan (1946), Aceh memiliki sebuah pemancar radio yang ditempatkan di Kutaraja yang dinamakan Radio Republik Indonesia Kutaraja. Cikal bakal radio tersebut merupakan sisa-sisa radio Jepang, Hodoka, yang dihancurkan pada saat Jepang kalah dengan Sekutu. Mengingat pentingnya alat komunikasi, para pemuda yang dipimpin Said Ahmad Dahlan beserta Tuanku Mahmud, T Ali Basya Talsya, Abdul Aziz, Ghazali Yunus, dan Oesman Raliby, berusaha mencari kekurangan peralatan radio di gudang-gudang yang masih dikuasai Jepang, seperti daerah Blang Bintang dan Lhoknga serta memasuki kampung-kampung.

Pemancar radio berhasil dirakit kembali dan mulai mengudara pada 11 Mei 1946, berkekuatan 25 watt dan dipancarkan pada gelombang 68-73 meter, dengan jarak jangkauan siaran hanya seputaran Kutaraja. Pada tahun 1947, perluasan jarak jangkauan siaran dilakukan setelah mendapat bantuan dari W Schulz dan Hojok Tjam. Radio Kutaraja yang kemudian berganti nama menjadi Pemantjar Radio Atjeh, memiliki kekuatan 100 watt, mengudara melalui gelombang 33 meter, dan jangkauan siarannya meluas hingga ke Kota Medan dan Bukittinggi. Dengan bantuan relly di Bukittinggi, berita kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh tahun 1948, dapat tersebar luas ke seluruh tanah air.

Perkembangan perluasan jarak jangkauan tidak hanya sampai di situ, pada 9 April 1948, Radio Atjeh menjadi 325 watt dan mengudara melalui gelombang 33,5 meter, dan sudah dapat diterima siarannya ke luar negeri. Ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersidang membicarakan masalah pertikaian antara Negara Republik Indonesia dengan Belanda, RRI Aceh berulang kali mengadakan siaran dengan materi mengenai keinginan dan tekad serta sikap Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai mosi dan resolusi disiarkan melalui radio ini, terutama yang berhubungan dengan kepentingan perjuangan Indonesia, sehingga berita tersebut dapat dijadikan bahan yang berguna untuk dikemukakan dalam perdebatan-perdebatan yang diadakan Dewan Keamanan PBB.

Pemancar RRI Aceh juga dipergunakan oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang berkedudukan di Sumatera Tengah. Penggunaan yang dimaksud, seperti mengirim berita-berita, menyiarkan pengumuman-pengumuman, dan instruksi-instruksi, baik yang ditujukan kepada tokoh-tokoh Indonesia di dalam negeri maupun Kepala Perwakilan Indonesia di luar negeri yang ada di India dan di PBB.

Adapun bahasa yang digunakan oleh RRI Aceh pada waktu itu selain Bahasa Indonesia, juga Bahasa Inggris dan Belanda. Pejuang yang aktif dalam urusan penyiaran antara lain, T Junaidi, Armin Lubis, dan Rajulis, mereka berasal dari Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera. 

3.2.2 Radio Rimba Raya
Agresi Militer II yang dilakukan Belanda berserta merebaknya propaganda-propaganda dan berita-berita kebohongan, begitu mengganggu semangat perjuangan Bangsa Indonesia pada saat itu. Amran Zamzami menyebutkan, Belanda  mempunyai corong-corong informasi media massa sebagai alat propaganda-propaganda dalam perang urat saraf.

Berdasarkan kejadian tersebut, pejuang Indonesia berusaha mendirikan Balai Penerangan dan Penyelidikan pada 17 Agustus 1946 di Medan, sebagai untuk menyebarluaskan informasi dan menangkal upaya Belanda menjatuhkan semangat perjuangan Bangsa Indonesia. Bahkan sebelumnya, Balai Penerangan dan Penyelidikan yang sama juga didirikan di Kutaraja pada 1 Februari 1946, yang diketuai oleh Said Ahmad Dahlan. 

Balai Penerangan itu kemudian secara resmi menjadi Jawatan Penerangan Keresidenan Aceh. Tugasnya tidak jauh berbeda dari lembaga sebelumnya, yakni menangkal propaganda musuh, juga melakukan penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat, termasuk mengelola siaran RRI Aceh. Keberadaan radio di Balai Penerangan Jawatan, ternyata belum mampu menjawab tantangan-tantangan musuh, berupa siaran-siaran radio mereka yang merubah opini masyarakat bahkan dunia tentang Indonesia. Dalam menjawab tantangan itu, masyarakat Indonesia di Aceh terdorong untuk menambah jangkauan pemancar radio, yang kemudian didapatkan dari Malaysia setelah diselundupkan ke Aceh melalui Tanjungpura.

Penyelundupan pemancar radio dilakukan oleh para pejuang dengan menembus blokade Belanda yang berjaga-jaga di perairan Selat Malaka. Akibat kejadian itu, 12 orang pejuang dari Batalyon B di bawah pimpinan Nip Karim gugur karena berhasil ditembak pasukan Belanda. Untuk dapat melakukan penyelundupan, Husin Yusuf meminta Mayor John Lie, seorang periwa Angkatan Laut Republik Indonesia, membantu proses penyelundupan tersebut. Bersama dengan 24 anggota TNI dari Divisi X, John Lie, berhasil menyelundupkan alat pemancar radio sampai ke Aceh, dengan menggunakan speed boat. 

Pemancar radio yang berhasil diselundupkan kemudian dipasang di Kreung Simpo, 19 Km dari Kota Bireuen, sedangkan studionya dipasang di Kota Bireuen. Lokasi itu dipilih untuk keamanan pemancar tersebut. Adapun pemasangan pemancar dilakukan oleh W Schulz dan dibantu Letnan Sayuddin Thalib, Letnan R Abdullah, Letnan Syarifuddin, dan Ramli Melayu.

Pemancar radio kemudian dipindahkan ke Kutaraja, atas permintaan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, Teungku Muhammad Daud Beureueh. Pemindahan itu dilakukan untuk memudahkan gubernur militer menyampaikan kebijakan politik demi perjuangan dan akan memudahkan pula mengetahui berita-berita perjuangan. Hal ini dikarenakan kemampuan jangkauan pemancar hingga ke luar negeri. 

Pemindahan sempat beberapa kali dilakukan. Setelah di Kutaraja, pemancar dipindahkan ke Cot Geu, kawasan kaki Gunung Seulawah. Terakhir, pascaagresimiliter II pecah, 20 Desember 1948, pemancar Radio Rimba Raya dipindahkan ke wilayah pegunungan Aceh Tengah, yakni ke Ronga-Ronga di Rimba Raya. Saat di Ronga-Ronga, siaran pertama yang dipancarkan adalah instruksi gubernur militer mengenai pemberlakuan mobilisasi umum terhadap seluruh penduduk yang sudah dewasa. 

Lokasi Radio Rimba Raya terletak di kawasan Ronga-Ronga, yang daerahnya rimbun dengan pepohonan lebat serta huta belantara. Sebelum dipindahkan ke lokasi tersebut, pemancar rencananya dibawa ke Burni Bius dekat Takengon, namun dikarenakan keamanan sehingga dibatalkan.

Penyiaran Radio Rimba Raya menggunakan calling Sumatera, Radio Republik Indonesia yang mengudara pada gelombang 19 meter dan Suara Indonesia Merdeka pada gelombang pemancar 25 meter. Untuk signal calling RRI Aceh, dipakai gelombang 61 meter, sehingga di luar negeri dapat diterima siarannya. Personil yang bekerja, terdiri atas  tenaga pemimpin, penyiar, teknisi, tenaga administrasi, dan sopir.

Waktu mengudara radio ini mulai pukul 16.00 WIB hingga 24.00 WIB. Dalam pembagiannya waktu siaran, 16.00-18.00 WIB, mengadakan hubungan telegraf dengan stasiun pemancar-pemancar grilia di dalam maupun di luar kota.  Pukul 19.00-21.00 WIB, mengenai siaran dalam negeri untuk ke masyarakat; pukul 21.00-23.00 WIB,  siaran khusus ke luar negeri; dan pukul 23.00-24.00 WIB,  siaran khusus ke garis depan pejuangan. Radio Rimba Raya hampir setiap hari melakukan hubungan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, seperti di New Delhi serta berita-beritanya sering dikutip oleh All Radio India. 

Ketika Yogyakarta yang merupakan ibu kota Indonesia pada saat itu, dikuasai oleh Belanda, pada 20 Desember 1948. Radio Rimba Raya tampil sebagai modal perjuangan yang dapat membantah semua berita propaganda yang dilancarkan Belanda. Dalam  situasi tersebut, radio tersebut memainkan perannya dalam upaya mengobarkan dan membangkitkan semangat perjuangan, terutama bagi pejuang yang ada di garis depan. Perjuangan itu menempatkan Radio Rimba Raya sebagai alat perjuangan yang berfungsi mengkater propaganda-propaganda siaran berita radio Belanda. Selain itu, Rimba Raya juga digunakan sebagai alat komunikasi dengan tokoh-tokoh pejuang militer dan diplomasi, seperti dengan Jenderal Sudirman dan TB Simatupang di Jawa. 

Saat berlangsungnya Konferensi Asia yang membahas tentang Indonesia, pada 20-23 Januari 1949 di New Delhi, Radio Rimba Raya bekerja ekstra dengan menambah jam siaran. Berita-berita yang disampaikan berkenaan dengan situasi politik dan ekonomi Indonesia kepada wakil-wakil bangsa ini yang hadir pada konferensi tersebut. Sedangkan selama konferensi berlangsung, siaran beritanya dijadikan bahan masukan bagi pejuang dan rakyat Indonesia yang ada di dalam negeri. 
Bersambung ke . . . (Bagian 3)

Senja Di Ufuk Barat Pulau Sumatera

Friday, November 24, 2017 0

Senja Di Ufuk Barat Pulau Sumatera 

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Jari ini lelah untuk bercerita.
Telah terbungkam mata
ini untuk berbicara.

Apakah engkau tahu?
Atau tak pernah mau tahu?

Langit tersenyum,
namun berapi-api.
Tanah subur,
namun tidak terkendali.

Mengalir segar
air berwarna merah.
Menguning ladang,
panen tak kunjung tiba.

Senja di ufuk barat
kini hampir tiba.
Kelelahan sehari akan terbayar.
Harapan esok fajar lebih indah,
karna senja akan menutup mata.
Setelah sehari resah dan lelah.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Presiden Baru

Wednesday, November 22, 2017 0

Presiden Baru 

Ilustrasi. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah 
Kau terpilih menjadi pemimpin bangsa.
Dipercaya memegang amanah.
Jangan kau coba menghianati
ataupun berlari.
Dari janji,
yang kau obral selama ini.

Wahai presiden baru ku.
Lihat rakyatmu.
Di ujung sana,
masih menderita.
Di ujung sini,
masih menanti.

Wahai presiden baru ku.
Dekaplah rakyatmu.

Satukan kami.
Jangan kau hancurkan demi kepentingan.
Persatukan kami.
Jangan kau tindas demi keamanan.

Jagalah kami wahai presiden baru ku.
Jangan dustai janjimu.
Pedulikan kami wahai presiden baru ku.
Jangan sekali kali kau acuhkan rakyatmu.

Wahai presiden baru ku.
Dengarkan seruan suara rakyatmu.

Asrama IPAU
Gampong Laksana, Banda Aceh
2014

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949

Sunday, November 19, 2017 0
Resume Buku

Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh,
1945-1949 (Bagian 1)

Buku Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949. @Doc. Mhd. Saifullah
Identitas dari buku
Judul: 
Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949
Penulis: 
Sudirman
Penerbit: 
BPSNT Banda Aceh
Tahun terbit: 
2012 (Cetakan Pertama)
Tebal/jumlah halaman: 
153 Halaman

Resensi Peranan Media Massa Pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Aceh, 1945-1949:

1. Pendahuluan
Agresi Militer I dan II, yang dilakukan Belanda, menyebabkan hampir seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali daerah Aceh, dapat dikuasai oleh neraga yang berjulukan kincir angin tersebut. Daerah itu kemudian menjadi modal dasar yang kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan. Salah satu yang dimiliki dan digunakan masyarakat Aceh sebagai modal perjuangan adalah media massa.

Media massa merupakan alat komunikasi yang begitu  berpengaruh dalam membentuk opini masyarakat, baik pada masa-masa damai maupun masa tidak damai. Melalui media massa, pesan atau ide dengan mudah dapat disampaikan kepada khalayak ramai hingga ke daerah yang tidak mungkin dijangkau. Media massa mencangkup seluruh alat komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, maupun hasil-hasil penerbitan yang memenuhi syarat untuk disebarluaskan, terbit secara periodik, bersifat umum, dan aktual.

Media massa merupakan kekuatan sosial politik yang ampuh dan mempunyai hubungan rangkap dalam rangka membangkitkan pendapat umum atau opini publik di masyarakat. Media massa bukan saja memantulkan atau merefleksikan pendapat-pendapat umum yang telah ada dalam masyarakat, tetapi juga menimbulkan, menciptakan, menempa, dan memupuk sendiri atau opini tertentu melalui pemberitaan-pemberitaan. Oleh karena itu, pada rentang waktu 1945-1949, media massa memiliki peranan yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan.

2. Perkembangan Media Massa Di Aceh
2.1 Radio
2.1.1 Zaman Hindia Belanda 
Siaran radio pertama di Indonesia dimulai dengan berdirinya Bataviasche Radio Vereniging, pada 16 Juni 1925. Kemudian, muncul beberapa siaran lainnya, seperti Nederlandsche Indische Omroep Mij yang merupakan radio siaran terbesar dan terlengkap, karena mendapat bantuan penuh dari Pemerintah Hindia Belanda, terdapat di Jakarta, Bandung, dan Medan. Beberapa badan siaran radio hadir di Surakarta bernama Solosche Radio Vereniging dan Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep; di Yogyakarta Mataramsche Vereniging Voor Radio Omroep; di Bandung Vereniging Voor Oosterse Radio Luisteraars; di Surabaya Chineese en Inheemsche Radio Luistraas; di Madiun Erste Madiunse Radio Omroep; di Medan Meyer Omroep Voor Allen; serta Radio Semarang.

Seluruh radio yang ada pada masa itu, sangat menguntungkan Pemerintah Hindia Belanda, karena program-programnya berorientasi bagi kepentingan pemerintah, baik menyangkut politik maupun sosial budaya. Media komunikasi radio digunakan untuk memperoleh informasi mengenai situasi daerah jajahan, sehingga dengan itu dapat memantapkan kekuasaan mereka di Indonesia.

Mengantisipasi pesatnya perkembangan radio siaran milik Belanda, pada 29 Maret 1937, para pejuang dari anggota volksraad melakukan pertemuan untuk melahirkan radio tandingan milik Pemerintah Hindia Belanda. Pertemuan itu dipelopori oleh, di antaranya M Sutarjo Kartohadikusumo dan Sarlito Mangunkusumo, yang kemudian melahirkan sebuah badan bernama Perserikatan Perkumpulan Radio Ketimuran.

Perkumpulan itu bertujuan semata-mata untuk memajukan kesenian dan kebudayaan daerah yang telah terancam akibat perkembangan radio siaran Pemerintah Kolonial Belanda. Selain itu, tujuan lainnya untuk memajukan masyarkat Indonesia, baik rohani maupun jasmani. Radio perkumpula yang berdiri tanpa bantuan dari pemerintah tersebut baru dapat dijalankan pada  1 November 1940.

2.1.2 Zaman Pendudukan Jepang
Berkat bantuan radio sebagai alat propaganda, pada 8 Maret 1942, Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Radio siaran yang saat itu berstatus swasta diambil alih dan dikuasai seluruhnya, sedangkan radio-radio rakyat disegel. Siaran radio ditangani pusat siaran radio di Jakarta oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyuku. Cabang-cabang daerah seperti di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang, dinamakan Hoso Kyuku.

Semua siaran radio tersebut diarahakan untuk kepentingan Pemerintahan Jepang, selain dari siaran itu tidak boleh didengarkan, termasuk siaran dari luar negeri yang dikhawatirkan dapat melunturkan kepercayaan terhadap pemerintah. Oleh karena itu, berita-berita yang disiarkan hanya untuk membangkitkan semangat rakyat dalam membantu tentara Jepang melawan Sekutu di seluruh Asia. Jepang selalu bersemboyan Asia Timur Raya, yang dalam artian bahwa Asia adalah untuk bangsa Asia. 

2.2 Media Cetak
2.2.1 Zaman Hindia Belanda 
Perkembangan persuratkabaran di Aceh baru masuk sekitar akhir abad ke-19, pada masa Pemerintahan Belanda. Surat-surat kabar yang diterbitkan pada masa itu ada yang menggunakan bahasa pengantar dalam Bahasa Belanda, Melayu, Cina, dan ada pula yang mempergunakan bahasa daerah. 

Pers berbahasa Melayu mulai muncul tahun 1902 M, di Medan dengan nama Pertja Timoer, yang dicetak dipercetakan milik orang Belanda bernama J Hellerman. Terbit setiap Senin dan Kamis dengan Pimpinan Redaksi, Mangaradja Salembuwe.

Di Aceh, surat kabar diterbitkan ada yang berbahasa Belanda dan adapula berbahasa Melayu. Surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Aceh, yakni Pemberita Atjeh di Kutaraja. Surat kabar yang berada di bawah Pimpinan Dja Endar Moeda, digolongkan sebagai surat kabar yang progresif di Aceh. 

Pada tahun 1907 M, di Kutaraja berdiri sebuah surat kabar bernama Sinar Atjeh yang terbit setiap Senin dan Kamis. Surat kabar ini diterbitkan oleh perusahaan Sinar Atjeh Companie yang berkantor di Peunayong No 59, Kutaraja. Percetakan yang digunakan untuk mencetak, yakni dari Deli Courant di Kutaraja, Atjeh Drukkerij en Boekhandel fillial. Limboen Hwat, sebagai pimpinan redaksi, sedangkan Lim Boen San, sebagai pimpinan Bidang Administrasi dan Tata Usaha. Sinar Atjeh terbit tiga sampai empat halaman, dengan lebih banyak memuat iklan dari pengusaha dan mengenai ulasan politik, para penulis banyak menggunakan nama samaran, seperti “Aron Toetjoh”. Harga langganan surat kabar sebesar f.1.50 untuk pertiga bulan, f.3.00 perenambulan, dan untuk Kutaraja harga perbulan f.0.50. Selain itu, surat kabar ini banyak pula dikirim hingga ke Nederland.

Surat kabar berbahasa Melayu lainnya, didirikan tahun 1928 di Aceh, bernama Soera Atjeh di bawah asuhan TM Usman diterbitkan di Kota Sigli. Pada tahun 1932, surat kabar yang diterbitkan dua minggu sekali itu, pindah ke Kutaraja dan sejak tahun 1933, diterbitkan oleh organisasi Nadil Islahil Islamy (Organisasi Perbaikan Islam) yang juga diketuai TM Usman. Selain TM Usman, redaktur surat kabar ditambah lagi dengan Mohd Hasbi.

Perkembangan pers setelah berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional menduduki tempat yang lebih penting dari pers Eropa. Pers digunakan sebagai alat komunikasi dengan para anggota dan juga untuk menyerang kebijakan politik penjajah Belanda.

Di Aceh, selain surat kabar Soera Atjeh, pada masa-masa pergerakan juga dikenal dua surat kabar milik Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Oetoesan Rakjat dan Batterij. Selain itu, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), juga menerbitkan majalah bulanan bernama Penjoeloeh, yang dicetak di Medan, dengan Teungku Ismail Yakoeb sebagai pimpinan redaksi. Majalah Penjoeloeh bertahan hingga masuknya Jepang di Aceh, tahun 1942.

2.2.2 Zaman Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang di Aceh, pemerintah hanya menerbitkan surat kabar yang ada di bawah pengawasan Sinbun Bun bagian dari badan bernama Hodoka, yaitu Atjeh Sinbun. Surat kabar itu dicetak dipercetakan Atjeh Drukkerij, peninggalan milik kolonial Belanda di Aceh. Atjeh Sinbun dipimpin oleh Abdul Wahid R, sebagai direktur atau pimpinan umum, sedangkan para jurnalisnya, yakni Ismail Yakoeb, Ali Hasjmy, Amelz, Abdullah Arif, dan Talsya, yang kemudian dikenal sebagi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan di Aceh.

Melalui Atjeh Sinbun, para pejuang di Aceh berusaha memasukkan ide-ide perjuangan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sehingga ada terjadi pertentangan-pertentangan dalam penerbitan surat kabar antara pihak Pemerintah Jepang dengan para pemimpin rakyat di surat kabar Atjeh Sinbun. Pemerintah Jepang menyadari bahwa para redaktur surat kabar dari kalangan masyarakat selalu berusaha menggunakan Atjeh Sinbun sebagai alat perjuangan. Oleh karena itu, untuk mengawasinya, pemerintah menempatkan seorang petugas Jepang dalam proses penerbitan surat kabar. Jika sedikit saja ada unsur-unsur yang dianggap merusak kewibawaan pemerintahan pada penerbitan surat kabar, maka para redaktur akan diberikan sanksi. Dalam banyak kasus, tindakan yang diberikan oleh pemerintah kepada redaktur berupa pemindahan dari staf-staf redaksi Atjeh Sinbun ke tempat lain, bahkan bisa meringkuk dalam tahanan Kempetai Jepang.

Pada tahun 1943, Ismail Yakoeb diberikan penindakan atas tulisannya di Atjeh Sinbun yang dianggap oleh Pemerintah Jepang sebgai suatu usaha merong-rong kewibawaan pemerintah dengan sengaja. Dianggap membahayakan, Ismail Yakoeb dikeluarkan dari pemimpin redaksi Atjeh Sinbun. Penindakan di kalangan para redaktur kembali dilakukan Jepang dengan mengeluarkan Amelz dari redaksi Atjeh Sinbun. Berikutnya disusul lagi oleh Ibunu Rasyid dan AG Mutyara.

Surat kabar Atjeh Sinbun terakhir kali terbit pada 15 Agustus 1945. Akan tetapi, terbitan itu kemudian dibatalkan karena pejabat Pemerintahan Jepang memberitahu Ali Hasjmy bahwa Jepang telah kalah dalam peperangan melawan tentara Sekutu. Dengan demikian, berakhirlah riwayat surat kabar Atjeh Sinbun di Aceh.

Semangat Permata Biru

Thursday, November 16, 2017 0

Semangat Permata Biru

Ilustrasi. @Doc. Mhd. Saifullah.
Karya: Mhd. Saifullah
Di kala ku tadah langit
dalam hamparan lautan biru.
Ombak mengulum pasir, 
angin bertiup bersahutan.
Ku pandang seonggok biru menyilau.
Seperti permata berharga mulia.
Seakan tertarik untuk kutuju.

Ku berdiri melangkah maju. 
Keyakinan membelah lautan 
dan ombak yang coba menghantam. 
Ku kuatkan kuda-kuda. 
Walau harus terjatuh dan menjauh dari nyata.
Tapi aku takan menyerah. 
Walau nyawa taruhannya.
Berakit-rakit ke hulu, 
berenang-renang ke tepian. 
Bersakit-sakit dahulu, 
bersenang-senang kemudian.

Aku yakin bisa. 
Aku yakin mampu. 
Pulau biru gampang bagiku. 
Karang-karang hancurkan seperti abu,
bila mencoba menghalangiku. 

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Banda Aceh

Sunday, November 12, 2017 0

Banda Aceh

Acara Karnaval Di Kota Banda Aech. @Doc. Mhd. Saifullh. 
Karya: Mhd. Saifullah
Menikmati suasana yang asri.
Damai bagaikan pasir yang putih.
Di ujung Sumatera kota tercinta,
Banda Aceh namanya.

Banda Aceh
Kota tercinta.
Banda Aceh
Kota penuh sejarah.
Banda Aceh
Kota para raja.
Banda Aceh
Kota kaya budaya.

Ooohhh.
I love Banda Aceh.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2014

Si Hitam Yang Nikmat

Friday, November 10, 2017 0

Si Hitam Yang Nikmat

Kopi Memacu Pikiranmu Untuk Menulis. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Hitam manis,
itu julukannya.
Menjadi primadona para kaum
muda, tua, hingga menjelang senja.
Teman betah pemberi inspirasi.

Hari-hari hampa tanpa
secangkir tentang dia.
Si hitam menggoda
menemani kita.
Kapanpun selalu terasa.
Tiap waktu tak hilang darinya.

Hitam-hitam.
Kau membuatku seakan gila.
Candumu membuatku tergoda.

Dunia bertanya-tanya.
Apa yang anda pikirkan?
Menikmati kopi bersama
orang-orang tersayang.
Apa yang terjadi?
Seduhan kopi nikmat sekali.
Apa yang anda lakukan?
Menikmati secangkir kopi
penuh inspirasi.

Si hitam sungguh menggoda.
Tak salah banyak yang suka.
Meski hitam, namun istimewa.
Uuhhh
Sungguh nyaman bersamanya

Warkop Tahufik
Gampong Mulia, Banda Aceh
1 Desember 2014

Suasana Tempo Dahoeloe

Wednesday, November 08, 2017 0

Suasana Tempo Dahoeloe 

Permainan Tradisional Indonesia, Layang-Layang. @Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suara para bocah.
Memecahkan bisu.
Larut dalam permainan,
tempo dulu.

Wohoo. Wohoo
Kini hilang.
Wohoo. Wohoo
Kini hilang.

Aku rindu,
suasana tempo dahoeloe.
Aku rindu,
suasana masa kecilku.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
Desember 2013

Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama (Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)

Monday, November 06, 2017 0
Abdoel Moeis

Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama 

(Seorang Wartawan Sekaligus Sastrawan)
Para pejuang Indoensia. @Doc. Istimewa. 
Sejak 1959 dan diikuti penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hampir setiap tahunnya, Indonesia mengukuh dan menetapkan beberapa nama pejuang dengan gelar pahlawan nasional. Gelar tersebut diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki peran maupun kontribusi penting, dalam proses dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Hingga saat ini, ada lebih dari 165 nama tokoh yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Data itu berdasarkan situs Pahlawan Center (pahlawancenter.com), yang dimiliki Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). 

Begitu banyak sudah gelar pahlawan nasional dikukuhkan oleh pemerintah, namun apakah para pembaca tahu, siapa tokoh pertama yang diberi gelar tersebut?

Abdoel Moeis (Abdul Muis), dialah seorang wartawan, sastrawan, sekaligus pejuang yang pertama kali diberikan gelar pahlawan nasional oleh Bangsa Indonesia. Tokoh kelahiran Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli tahun 1893, itu, ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 218 Tahun 1959 oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Liputan6.com, (Online, diakses, 6 November 2017).
Lukisan Wajah Abdoel Moei. @Doc. Goedang Biografi. 
Semasa hidup, Abdoel Moeis telah menghasilkan beberapa karya sastra dan artikel yang terkenal pada saat itu. Novel “Salah Asuhan” terbitan tahun 1928, merupakan salah satu novelnya yang paling dikenal. Bahkan novel tersebut telah difilmkan pada tahun 1972 oleh Asrul Sani serta telah diterjemahkan Robin Susanto ke dalam Bahasa Inggris berjudul “Never the Twain” dan menjadi referensi sastra hingga saat ini. Selain novel, artikel kritikan terhadap Pemerintah Hindia Belanda, juga pernah dituliskan oleh lulusan Sekolah Eropa Rendah atau Eur Lagere School (ELS) ini. Pada surat kabar berbahasa Belanda, De Express (yang kemudian ditutup oleh pemerintah tahun 1912), Abdoel Moeis membahas tentang pengecaman tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina orang Indonesia (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Sejak remaja, Abdoel Moeis telah merantau ke Pulau Jawa. Pendidikan yang dienyamnya hanya sebatas ijzah hasil ujian ambtenar kecil (Klein Ambtenaars Examen). Meskipun demikian, dia juga pernah merasakan jenjang Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), selama selama beberapa tahun (1900-1902) dan memilih berhenti dikarenakan sakit.

Artikel Terkait: Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Di dunia politik, Abdoel Moeis pernah aktif di organisasi Syarikat Islam (SI) sejak 1913 dan pernah terlibat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) yang pertama, 1920-1923. Kepiawaiannya dalam menulis, membuat tokoh berdarah minang ini dipercaya memimpin salah satu surat kabar milik SI di Bandung, Kaum Muda, bersama dengan AH Wignyadisastra. Sejak saat itu, dia mulai merambah ke beberapa media lainnya, seperti Oetoesan Hindia, Hindia Sarekat, Neratja, serta beberapa media lainnya pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya begitu komitmen menyuarakan perubahan nasib warga pribumi, sehingga dianggap radikal dan menjadi pemicu untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. 

Pergerakan yang dilakukan Abdoel Moeis semakin menjadi-jadi, khususnya saat mulai berkenalan dengan beberapa tokoh penting pergerakan seperti, Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soeryaningrat. Keempat tokoh ini kemudian membentuk Komite Bumi Putra, sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda. Selanjutnya, komite ini menolak dengan tegas dan menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari Spanyol, yang dirayakan di tanah jajahan (Indonesia/Hindia Belanda).

Peran Abdoel Moeis pada dunia pendidikan dibuktikan dengan berdirinya Technische Hooge School di Bandung atau yang saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Usaha tersebut dilakukannya setelah mempengaruhi para tokoh Belanda, saat dirinya diutus ke Belanda oleh Komite Indie Weerbaar dalam membahas pertahanan bagi Hindia Belanda (Indonesia), ketika tahun 1917 atau saat perang dunia pertama (Sejarahri.com, (Online), diakses, 5 November 2017).

Perlawanan terhadap pemerintah bukan hanya dilakukan Abdoel Moeis melalui tulisan-tulisan politiknya saja, tetapi juga dengan pergerakan langsung. Salah satunya, ketika Abdoel Moeis menjabat Ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB), ia memimpin aksi kaum buruh untuk mogok kerja pada, 11 Januari 1922, di Yogyakarta. Aksi yang dilakukan tersebut dalam tempo dua minggu sudah menyebar ke luar Yogyakarta, seperti Karesidenan Cirebon, Pekalongan, Kedu, Kediri, Semarang, Rembang, serta Surabaya, dengan lebih kurang 1.000 orang buruh pada saat itu (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Aksi pergerakan yang dilakukan, dianggapnya sebagai suatu bentuk perjuangan nasional. Akibat tindakannya tersebut, dia kemudian ditangkap oleh pemerintah kolonial, pada 8 Februari 1922, dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Selama dipengasingan, Abdoel Moeis berhasil mendirikan dua media, yakni harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut, akan tetapi usia kedua surat kabar tersebut tidak lama. Abdoel Moeis kemudian memilih untuk menjadi seorang petani di pengasingannya, setelah dia tidak berjumpa lagi dengan beberapa rekan seperjuangannya.

Paska proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, Belanda mencoba kembali ingin menguasai negeri yang pernah dijajahnya. Gencarnya agresi militer yang dilakukan, memutuskan Abdoel Moeis kembali terlibat melakukan perlawanan dengan membentuk suatu persatuan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan di pengasingannya, yaitu Persatuan Perjuangan Priangan. Laskar itu dipimpinnya hingga Republik Indonesia meraih kemerdekaan sepenuhnya. Sebelum lima belas tahun usia kemerdekaan Indonesia, Abdoel Moeis lebih dahulu menutup usia, pada, 17 Juni 1959, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. 

Adapun beberapa karya sastra yang ditulis oleh Abdoel Moeis selain novel Salah Asuhan, yakni Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953). Selain itu, beberapa karyanya yang lain dan telah diterjemahkan, di antaranya Don Kisot karya Cerpantes (1923), Tom Sawyer Anak Amerika karya Mark Twain (1928), Sebatang Kara karya Hector Melot (1932), dan Tanah Airku karya C. Swaan Koopman (1950) (Merdeka.com, diakses, 5 November 2017).

Perjuangan yang telah dilakukan Abdoel Moeis dalam membela kepentingan rakyat kecil, menjadi alasan tersendiri bagi Pemerintah Indonesia untuk mengukuhkan gelar pahlawan kepada tokoh berdarah minangkabau ini. Gelar tersebut diberikan pada 30 Agustus 1959, oleh Presiden Soekarno, melalui Kepres No 218 Tahun 1959, berselang dua bulan pejuang rakyat kecil tersebut meninggal.

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia hampir setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada beberapa tokoh pejuang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk bangsa dan negara ini.


Sumber:
Merdeka. Tidak Ada Tahun. Profil: Abdoel Moeis. (Online). (diakses, 5 November 2017).
Pahlawan Center. Tidak Ada Tahun. Pahlawan Nasional. (Online). (diakses, 6 November 2017).
Sejarah RI. Tidak Ada Tahun. Biografi Abdul Muis. (Online). (diakses, 5 November 2017).

Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Sunday, November 05, 2017 0

Mencari Jawaban Penetapan dan Gelar Pahlawan Nasional

Ilustrasi Taman Makam Pahlwan. @Doc. Sriwijaya Post. 
Indonesia merupakan sebuah negara, yang kemerdekaannya diraih dari kaum penjajah melalui sebuah perjuangan. Usaha itu bahkan telah dilakukan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dikumandangkan. Dalam arti kata, perjuangan masih berbentuk kedaerahan dari beberapa kerajaan yang ada di Nusantara.

Perlawanan-perlawanan menentang bangsa penjajah yang ditimbulkan, melahirkan beberapa nama pejuang, seperti Iskandar Muda, Soekarno, Mohd Hatta, Sudirman, Tjut Nyak Dhien, Kartini, dan beberapa pejuang lainnya. Para pejuang itulah, yang saat ini dikenal dengan gelar pahlawan nasional.

Beranjak dari penjelasan singkat di atas, timbul beberapa pertanyaan terkait pahlawan nasional. Bagaimana yang dimaksud dengan pahlawan nasional? Apakah ada syarat untuk mendapatkan gelar tersebut? Lalu, apakah penghargaan tersebut hanya diberikan kepada tokoh-tokoh besar? Sebagaimana yang diketahui, setiap 10 November, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada hari itu juga, biasanya presiden akan mengangkat dan mengumumkan beberapa nama tokoh sebagai pahlawan nasional.

Menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mencari beberapa artikel yang berkaitan mengenai pahlawan nasional. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan untuk para pembaca, khususnya bagi saya.

Latar Belakang Gelar Pahlawan Nasional
Berbicara mengenai penyamatan gelar pahlawan nasional, tidak terlepas dari sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 10 November oleh Bangsa Indonesia. Tanggal tersebut memiliki makna tersendiri bagi negeri yang terbentang dari Sabang sampai Marauke ini, dalam mengenang jasa orang-orang yang telah berjuang memerdekakan Indonesia dari penjajah.

Sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, pernah diulas oleh beberapa media online nasional, dalam bentuk berita. Pada artikel-artikel singkat itu menceritakan, apa latar belakang 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional, yang kini menjadi salah satu hari besar di negeri ini.

Pada artikel berjudul “Kenapa Hari Pahlawan Ditetapkan 10 November?”, menuliskan cerita penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan itu pertama kali dilakukan sekitar tahun 1950-an, semasa Seokarno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Alasan penggunaan tanggal tersebut, untuk mengenang sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi di Surabaya. Di mana pertempuran besar antara pejuang Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan melawan serdadu Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), membawa Belanda, yang ingin kembali menjajah negeri ini. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya salah satu hari besar nasional dan diperingati oleh bangsa ini. Adapun pengusul ide tersebut, merupakan seorang mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang pada masa itu ikut andil berperang, yakni Sumarsono (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

Selain untuk memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi, penetapan tersebut dikatakan memiliki unsur kesengajaan yang dilakukan Presiden Soekarno. Hal itu diungkapkan oleh seorang sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal. Menurutnya, Seokarno sengaja memanfaatkan momentum 10 November untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

Sejarah penetapan Hari Pahlawan Nasional, diperkuat lagi dengan sebuah artikel berita yang mengusung judul “Siapakah Tokoh Pertama yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional?”. Pada artikel ini dituliskan, tokoh yang pertama kali dikukuhkan oleh Presiden Sukarno menyandang gelar pahlawan nasional adalah seorang wartawan, sastrawan, dan nasionalis yang lantang mengkritisi Pemerintahan Belanda lewat tulisan-tulisannya, yakni Abdul Muis. Tokoh kelahiran 3 Juli 1883 yang berasal dari Sumatera Barat ini, ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 30 Agustus 1959, melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 218 Tahun 1959 (Republika.co.id, (Online), diakses 2 November 2017).

Menetapkan Gelar Pahlawan Nasional
Orang-orang yang telah berjuang mengorbankan nyawa, pikiran, harta, dan keluarga, untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan negeri ini. Secara umum, mereka dapat disebut sebagai pahlawan. Upaya yang dilakukan, merupakan bukti dan wujud nyata kecintaan mereka terhadap ibu pertiwi. Akan tetapi, secara spesifik, para pejuang tersebut belum dapat disematkan gelar pahlawan nasional. Hal ini dikarenakan, ada beberapa regulasi yang menjadi syarat, untuk mengukuhkan seorang pejuang layak disebut sebagai pahlawan nasional.

Artikel Terkait: Orang Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Pertama

Secara garis besar, kata pahlawan nasional dapat diartikan sebagai seseorang yang rela berkorban dan berjasa besar terhadap perubahan (kebenaran) pada sebuah negara atau bangsa. Namun, secara definisi, pahlawan nasional memiliki arti tersendiri sesuai dengan makna katanya masing-masing.

Pahlawan nasional berasal dari dua kata, yakni “Pahlawan” dan “Nasional”. Secara definisi, arti kata pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran atau bisa dikatakan sebagai pejuang yang gagah berani. Kata nasional didefinisikan sebagai sifat kebangsaan, berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri, atau meliputi suatu bangsa. (KBBI (Online), diakses, 2 November 2017).

Definisi kata pahlawan telah diatur pemerintah melalui regulasi yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP RI) No 33 Tahun 1964, Tentang Penetapan, Penghargaan dan Pembinaan Terhadap Pahlawan. Pada regulasi tersebut, yang dimaksud dengan pahlwan adalah Warga Negara Republik Indonesia yang gugur atau tewas atau meninggal dunia karena akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa; dan Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya (PP RI No 33 Tahun 1964).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan, yang dimaksud sebagai pahlawan nasional adalah, seorang warga negara yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk bertindak membela kebenaran bagi negara dan bangsanya, serta tidak ternodai oleh tindakan yang membuat cacat nilai perjuangan atau kepahlawanannya.

Regulasi mengenai penetapan seseorang dengan gelar pahlawan nasional, tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009, yang membahas tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan. Pada aturan tersebut dijelaskan, presiden akan memberikan penghargaan berupa gelar pahlawan nasional kepada seseorang yang telah meninggal dunia atau gugur atas perjuangan, darmabakti, karya yang luar biasa, dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Penghargaan gelar itu dibuktikan dengan sebuah plakat dan piagam yang diberikan.

Pengajuan seseorang untuk mendapat gelar pahlawan nasional, telah diatur dalam PP No 35 Tahun 2010 tersebut. Usulan permohonan yang dimaksud, dapat dilakukan baik secara individu, kelompok masyarakat atau organisasi, institusi pemerintahan daerah maupun negara, serta kementerian ataupun lembaga nonkementerian.

Adapun syarat pengajuan yang harus dilengkapi, sesuai yang tertuang dalam Pasal 51 PP No 35 tahun 2010, yakni riwayat hidup diri berupa keterangan tentang kesatuan, organisasi, atau institusi pemerintahan, riwayat perjuangan, jasa dan tugas negara yang dilakukan calon penerima gelar pahlawan nasional. Selain itu, harus disertai dengan surat rekomendasi dari menteri pimpinan institusi pemerintahan, pimpinan institusi nonkementerian terkait, gubernur atau bupati/wali kota di tempat calon penerima dan pengusul gelar.

Calon penerima gelar pahlawan nasional yang diusulkan, akan dilakukan penelitian oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP). Tim yang beranggotakan paling banyak 13 orang (terdiri dari unsur praktisi, sejarawan, akademisi, pakar, dan instansi terkait) harus bersifat independen.

Hasil penelitian dan pengkajian yang dilakukan TP2GP, kemudian disampaikan kepada gubernur atau bupati/walikota untuk dipertimbangkan menerbitkan rekomendasi. Selanjutnya, rekomendasi tersebut diserahkan bupati/walikota atau gubernur kepada menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang sosial. Menteri terkait akan mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional melalui dewan sebelum diserahkan kepada presiden, untuk verifikasi kelayakan. Dewan yang dimaksud yakni dewan yang bertugas memberikan pertimbangan kepada presiden dalam memberikan gelar.

Jika pengusulan dianggap dewan memenuhi persyaratan utuk diberikan gelar pahlawan, maka akan disampaikan kepada presiden sebagai bahan pertimbangan pemberian gelar. Sebaliknya, apabila tidak memenuhi kriteria sebagai calon penerima gelar, pengajuan akan dikembalikan kepada pengusul.

Pemberian gelar pahlawan nasional kepada calon penerima gelar, akan dilakukan langsung oleh presiden, melalui ahli waris. Apabila ahli waris tidak ada, maka gelar tersebut akan diterima oleh pengusul.

Mengenai prosedur pengusulan gelar pahlawan nasional atau kriteria calon pahlawan nasional, dapat dilihat pada PP RI No 33 Tahun 1964 dan PP RI No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009. Atau dapat diakses melalui situs yang dikelola Kementerian Sosial Republik Indonesia, Pahlawan Center.


Penjelasan singkat mengenai sejarah gelar pahlawan nasional di atas, setidaknya sudah menjawab apa yang menjadi tanda tanya bagai para pembaca, khususnya saya selaku penulis. Meskipun secara umum telah kita ketahui, bahwa setiap orang yang rela mengorbankan jasa dan nyawanya, dapat disebut sebagai pahlwan. Terutama, mereka yang telah berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Bahkan, JJ Rizal mengatakan, setelah hari pahlawan ditetapkan, para tokoh yang pernah ikut berjuang dahulu, diberi gelar pahlawan. Meski tolak ukur kepahlawanan itu sendiri tidak mutlak jika dilihat dari sisi sejarah, karena dicampuri dengan kepentingan rezim penguasa. Selain itu, dia juga menilai, saat ini makna Hari Pahlawan lebih kepada unsur seremoni saja dan tanpa menghayati pesan nilai-nilai perjuangan oleh para pahlawan (Okezone.com, (Online), diakes 2 November 2017).

***
“Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi mulai zaman Soeharto. Indonesia menjadi negara yang terus memproduksi pahlawan dengan penilaian yang lebih cenderung pada pertimbangan politik,” ujarnya. Dimana pahlawan lebih banyak berasal dari lembaga Kemiliteran atau Kepolisian.

“Saat ini kita sudah kehilangan warisan nilai-nilai perjuangan yang dibawa oleh para pahlawan. Semua sekarang penuh dengan kepentingan,” ujarnya.
***

Memaknai Hari Pahlawan, bukanlah hanya sekedar mengingatnya saja. Tetapi sebagai generasi dari bangsa yang pernah diperjuangkan mereka, kita harus mampu meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan dari usaha yang telah mereka lakukan.

Sumber:
KBBI. Tidak Ada Tahun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Online). (diakses, 2 November 2017).
Peraturan Presiden Republik Indonesia No 33 Tahun 1964 Tentang Penetapan, Penghargaan dan Pembinaan Terhadap Pahlawan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 35 Tahun 2010, Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 20 Tahun 2009, Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Oke Zone. 2011. Kenapa Hari Pahlawan Ditetapkan 10 November?. (Online), (diakses, 2 November 2017).
Republika. 2014. Siapakah Tokoh Pertama yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional?. (Online). (diakses, 2 November 2017).

Kabar Tersera Pada Lamina

Saturday, November 04, 2017 0

Kabar Tersera Pada Lamina

Ilustrasi Lamina. @Doc. Google. 
Karya: Mhd. Saifullah
Kata-kata dipasung pada lamina,
kabar dicatat tersera-sera
Antah-berantah,
sengaja
atau memang ada
Hanya membaca
apa tertitip di dalamnya

Luar biasa bergulir mesin waktu
mengurai satu demi satu
Kabar fakta menjadi semu
Kabar realita dikatakan sengaja
Tersera-sera
Ada mampu membaca,
namun tak paham kata,
Tinta merah dianggap cinta.

Tersusun

Tersera-sera

Lamprit, Banda Aceh
4 Oktober 2017

Rungau

Thursday, November 02, 2017 0

Rungau

Ilustrasi Rungau. @Doc. Istimewa. 
Karya: Mhd. Saifullah
Kau titipkan sukma itu
di hembusan detak waktu.
Luruh riuk jiwa
pada bayang-bayang berdiri,
pekat, terbesit aungan menyepi

Rungau melanda diri
Aku didekapmu
Laila

Lamprit, Banda Aceh
1 November 2017

Sumpah Pemuda

Wednesday, November 01, 2017 0

Sumpah Pemuda 

Teks Sumpah Pemuda. @Doc. Informa Zone. 
Karya: Mhd. Saifullah
Sejarah tentang masa lalu.
Menyungsung niat untuk bersatu.
Merdeka dari penjajah,
lama berpijak di bumi Nusantara.

Semangat para patriot pemuda,
mengiring nasionalisme untuk bangsa.
Mulai dari Jong Sumatera,
Dong Java, Ambon, Cilebes, dan lainnya.
Bersatu menyerukan sumpah.

Dua puluh delapan Oktober 1928,
menjadi hari berharga.
Sadar bersatu, menyatu menguatkan
diri untuk melawan musuh yang satu.

Ikrar pemuda pun berkumandang.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
28 Oktober 2013

Ibu

Tuesday, October 31, 2017 0

Ibu

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.
Karya: Mhd. Saifullah
Ibu. Kasih dan sayangmu padaku.
Tersalur,
menyatu dalam darahku.

Ibu. Cinta yang engkau berikan.
Tak sanggup
aku membalasnya.

Kau adalah malaikat jiwaku.
Yang memberikan cahaya
dalam kehidupanku.
Kasihmu takan terhenti,
kepada diriku.
Ohh ibu.

Ibu. Lelah,
takan pernah lelah.
Untukku, sebagai anakmu.
Ibu. Henti,
takan berhenti.
Kasihmu, dalam perjuangan.
I love ibu.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Hujan

Sunday, October 29, 2017 0

Hujan

Hujan. @Doc. Tribun Solo
Karya: Mhd. Saifullah
Awan mulai tampak hitam.
Genderang bergemuruh
menandakan air akan datang.

Turun dan terjun bebas,
dari kaki langit.
Tanpa penghalang
juga penghambat.

Itulah hujan.
Sekali berjalan
beribu hentakan tertuang.
Menyentuh lautan,
daratan, dedaunan
dan menggenangi jalanan.

Wahai engkau rezki.
Engkau membawa
apa yang dinanti.
Engkau pelepas dahaga,
dikala kemarau mengundang
dan melanda.

Engkau rezki dari Ilahi
Sebagai makhluk,
kita wajib mensyukuri.

Gampong Beurabong, Aceh Besar
2013

Balas Budi Dengan Mencaci

Tuesday, October 24, 2017 0

Balas Budi Dengan Mencaci

Ilustrasi. @Doc. Suara Harapan. 
Karya: Mhd. Saifullah
Mohon...mohon.
Itulah kata segar terdengar,
layaknya para pengemis berlalu–lalang.
Engkau memohon dengan memandang.
Dengan badan sedikit gemetar.

Semua itu selalu ku ingat dan terikat.
Karena engkau kini bagaikan penghianat.
Dengan congkaknya engkau menolak.
Dengan mudahnya engkau mengelak.

Hahahahahaaaa.
Memang engkau bagaikan tongkol berduri
menusuk kaki.
Sakit sungguh terasa sampai ke hati.
Membuat engkau lupa diri.
Dengan mudahnya engkau mencaci.

Apa ini caramu berterima kasih..?
Apa ini caramu membalas budi..?

Kau mencaci maki aku,
yang telah menyelamatkanmu.
Kau hina aku,
setelah aku meninggikanmu.
Dan kau.
Kau ingin membunuhku.
Setelah aku
memberikan kehidupan untukmu.

Hahahahahaaaa.
Engkau memang manusia
bertahta tinggi.
Tapi, tak beda sikapmu
dengan seekor babi.
Dan engkau bagaikan seekor unta.
Enggan melihat kebawah ketika kaya.

Balas budi dengan mencaci,
Engkaulah manusia
yang tak tahu berterima kasih.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Aidul Adha

Sunday, October 22, 2017 0

Aidul Adha

Ilustrasi. @Doc. rilis.id
Karya: Mhd. Saifullah
Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar.
Laailahailallahhuallahhuakbar.
Allahuakbar walillailham.

Takbir bergema
di waktu malam,
Memecah kesunyian
di waktu mencekam.
Tanda kuasa,
hari besar telah datang,
Menuju hari tenang
penuh dengan kemenangan.

Berqurban bagimu mampu.
Tak mampu lembu,
kambingpun laku.
Ikhlas bersambut ridho di kalbu,
imbalan Ilahi
menanti diakhir waktu.

Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar.
Laailahailallahhuallahhuakbar.
Allahuakbar walillailham.

Saling memaafkan handai tolan.
Sambung ikatan merenggang,
memberikan kesempatan,
sebelum kembali
dalam pertanggung jawaban.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Adik Kecilku

Wednesday, October 18, 2017 0

Adik Kecilku

Ilustrasi. @Doc. Istimewa.  
Karya: Mhd. Saifullah 
Tak ada lagi
senyuman indah,
dari wajah kecilmu.
Kau kini telah tenang.
Di sana.
Ohh adik kecilku.

Tenanglah.
Adik kecilku.

Kini kau telah pergi,
tinggalku sendiri.
Menuju nirwana
di tempat terindah.

Yang indah,
yang selalu ada di dekatNya.
Di sisiNya.
Di syurga.

Tawamu telah hilang
menjadi kenangan.
Candamu kini telah pergi
menjadi sebuah angan.

Tenanglah Adik kecilku.
Tenanglah Adik kecilku.
Di syurga.

Gampong Beurabong, Aceh Besar 
2013

Baginda Rasullah Muhammad SAW

Saturday, October 14, 2017 0

Baginda Rasullah Muhammad SAW

Ilustrasi. @Doc. Bintang.com 
Karya: Mhd. Saifullah
Isnin, duabelas Rabiul Awal.
Di malam tenang
serta cuaca cerah nan indah,
bertabur cahaya bintang benderang.
Seakan bulan mengeluarkan senyuman,
terindah di malam ini.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Kemarau panjang melanda,
sontak berubah menjadi subur
dalam penghijauan.
Patung-patung berhala menjulang,
tersungkur dan hancur berantakan.
Api berkobar bertahun-tahun,
Husss.
Padam seketika seakan tak berdaya.

Pintu syurga terbuka,
mengabarkan ini adalah pertanda.
Sebuah pertanda dari Ilahi.
Seorang kekasih
akan dilahirkan ke bumi.

Sebuah kabar tersiar keseluruh kota.
Menghantarkan kesejukan
di antara berkecamukan.
Saat seorang ibu
melahirkan seorang putra,
Allah titipkan di rahim,
Aminah istri Abdullah.

Putra dipilih menjadi pemimpin
umat di dunia.
Kelak menjadi penegak agama Allah.
Putra yang dititipkan sebuah
Kalammullah,
Perkataan Allah,
dalam ayat-ayat suci
Menjadi pedoman hidup
kita saat ini.

Bersuara merdu bila berbicara.
Terpercaya bila diberi amanah.
Berkata jujur tanpa mendusta.
Bijaksana dalam keputusan.

Tak perlu kaya untuk
memiliki beribu umat.
Kesederhanaan memancarkan
kekayaan hati.
Tak elak seluruh dunia mengagumimu,
Wahai Baginda Rasulku.

Pihak kawan,
maupun lawan menyeganimu,
Mengataskanmu,
dari pemimpin-pemimpin hebat.
Pemimpin yang selalu diagung-agungkan.
Pemimpin yang selalu dipuja-puja di dunia
dan pemimpin yang selalu
diteladani oleh semua manusia.

Siapa tak kenal beliau?
Kekasih Allah dan dikagumi
oleh semua,
Aku, kamu dan kita semua
pasti mengenalnya.
Bukan hanya umat Islam.
Yahudi, Nasrani, maupun agama lain
yang ada di dunia,
Pasti mengenalnya.

Itulah seorang sosok pemimpin
yang sempurna di dunia.
Baginda besar penghujung alam
Rasulullah Muhammad SAW.

Gampong Emperum, Banda Aceh 
2013

Metamorfosis

Thursday, October 12, 2017 0

Metamorfosis

Ilustrasi metamorfosis desa menjadi kota. @Doc. fadinug.
Karya: Mhd. Saifullah
Jangkrik berdering menderu bersuara.
Katak bernyanyi membaca mantra.
Saling merebu, saling berdoa.

Pagar-pagar mematri lahan,
sekaki demi sekaki, menghimpit dengan jalan.
Aroma-aroma alam berlahan menepi.
Tak pergi menjauh namun mati.

Jangkrik berdering wujud tak ada.
Nyanyian katak terpasung jua.
Merebu dunia fana.

Gampong Lampeuneurut, Aceh Besar
12 September 2017

Kamu (Puisi Yang Menjadi Lagu)

Saturday, October 07, 2017 0
Puisi & Lagu

Kamu

Karya: Mhd. Saifullah
Kamu. Tetaplah di sini bersama ku
temani aku cukup kamu.
Ku ingin kau jadi pendamping ku,
ya cuma kamu.
Di kala kita berdua
melalui hari-hari bersama.
Terasa, terasa berbeda.
Bagaikan indah nirwana di ujung senja.
Menyambut malam menemaniku.
Bersama bulan dan bintang serta dirimu
Kamu. Tetaplah di sini bersama ku
temani aku cukup kamu.
Ku ingin kau hadir di sisi ku,
temani diriku
Kamu. Tetaplah kau selalu bersama ku
dalam setiap waktu.
Kamu. Ku ingin kau jadi pendamping ku,
ya cuma kamu.

Lampeuneurut, Aceh Besar
23 September 2017

***
Kamu - Say IFull
Vidoe lagu berjudul 'Kamu' yang ada di YouTube.

Reff:
     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah di sini bersama ku
         C           D    
Temani aku cukup
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau jadi pendamping ku
         C            D   
Yang cuma kamu

Intro:
G, D, D7

          G             D   
Di kala kita berdua
      C             G           D
melalui hari-hari bersama.
          G                         D
Terasa, terasa berbeda.
     Am                     G        
Bagaikan indah nirwana
   Em        D
di ujung senja.

(#)
       Bm                                                C
Menyambut malam . . .  Menemaniku
       Bm                                           C                Cm
Bersama bulan dan bintang serta dirimu


Reff:
     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah di sini bersama ku
         C           D    
Temani aku cukup
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau hadir di sisi ku
         C            D   
Temani diriku

     G                             D                       Am
Kamu . . . Tetaplah kau selalu bersama ku
         C           D    
Dalam setiap waktu
     G                             D              Am
Kamu . . . Ku ingin kau jadi pendamping ku
         C            D   
Yang cuma kamu