Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 8)

Tuesday, December 13, 2016
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 8)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

8. Risiko Yang Ditimbulkan Oleh Depresi
Penderita depresi dapat menimbulkan beberapa risiko negatif yang sangat berpengaruh terhadap diri penderita dan berdampak pada lingkungan sekitarnya, seperti bunuh diri, gangguan tidur atau insomnia dan hypersomnia, gangguan dalam hubungan, gangguan dalam pekerjaan, gangguan pola makan, dan perilaku-perilaku merusak. Beberapa risiko tersebut akan dijelaskan selanjutnya.

8.1 Bunuh Diri
Depresi yang tidak ditangani secara cepat dapat meningkatkan risiko percobaan bunuh diri, karena dipengaruhi oleh pikiran orang yang dilanda depresi. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa begitu putus asa sehingga mereka benar-benar mempertimbangkan membunuh dirinya sendiri. Telah diketahui bahwa, orang bunuh diri sangat kurang mendapat dukungan sosial, 65% bunuh diri pernah memberikan tanda peringatan, 90% adalah penderita penyakit kejiwaan, dan 70% mengidap depresi (Wilkinson, 1995).

Keinginan bunuh diri tidak hanya dialami oleh individu yang sedang mengalami gangguan mood depresi, namun pada fase manik pada penderita bipolar juga terjadi keinginan bunuh diri. Hal ini terjadi karena pada saat fase depresi, seseorang mengalami gangguan bipolar tidak memiliki cukup banyak dorongan untuk benar-benar melakukan bunuh diri, namun saat fase manik seseorang dengan semangat tinggi dan sering melakukan tindakan yang berbahaya.

8.2 Gangguan Tidur: Insomnia dan Hypersomnia
Penderita depresi umumnya selalu mengalami susah tidur menjadikan penderita susah tidur walaupun sudah lelah, bangun lebih pagi dari biasa dan tidak bisa tidur laagi, tidur dengan gelisah dan sering bangun pada malam hari, dan tidur berlebihan pada siang hari (Priest, 1994). Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan, setidaknya 80% dari orang yang menderita depresi mengalami insomnia, atau kesulitan untuk tidur, sering kali, dan kesulitan untuk tetap tertidur.

Pada orang yang mengalami depresi, mereka tidur dengan cepat, namun sering terbangun pada malam hari. Perasaan yang tidak nyaman dan tidak rileks, merasa malam sangat lambat berlalu dan bangun dengan perasaan lebih lelah dari pada ketika tidur. Beberapa penyebab kesulitan tidur adalah kafein yang berada di dalam kopi dan teh, kebanyakan minuman ringan dan coklat, pseudoephedrine atau decongestant dapat mengganggu tidur.

Hipersomnia adalah perasaan mengantuk berlebihan. Hipersomnia adalah simtom untuk gangguan bipolar atau manik-depresif dan juga berhubungan dengan kesulitan bangun dan dikarekteristikan dengan merasa capai sepanjang waktu, perlu waktu tidur siang, nerasa mengantuk meskipun sudah tidur dan tidur siang, kesulitan berpikir dan membuat keputusan serta pikiran berkabut, apatis, kesulitan mengingat dan konsentrasi, meningkatnya risiko kecelakaan, dan lamanya waktu tidur (www.lifetips.com).

8.3 Gangguan dalam Hubungan
Depresi dapat mengganggu hubungan penderita dengan orang lain terutama orang yang dekat dengannya. Untuk itu depresi perlu mendapatkan penanganan yang serius agar tidak merusak hubugan dengan orang yang dicintai. Selain itu penderita depresi juga perlu bantuan dukungan sosial dari orang-orang yang dicintai dan perlu untuk merasa diterima untuk dapat mempercepat proses kesembuhan depresi.

8.4 Gangguan dalam Pekerjaan
Depresi mengakibatkan kerugian dalam produksi karena absenteisme ataupun perfoma yang sangat buruk. Alasan-alasan mengapa seseorang mengalami penurunan performa kerja ada pada simtom-simtom depresi yaitu:

  • Menurunnya ketertarikan atau kesenangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Menurunya konsentrasi dan daya ingat dan membuat kesalahan yang tidak bisa dilakukan.
  • Perasaan kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari atau bekerja lebih lambat daripada biasanya.
  • Berkurangnya kemampuan pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.
  • Mudah tersinggung atau menyebabkan masalah dengan hubungan kerja.

Penurunan pada peforma pekerjaan yang terus-menerus ditambah dengan masalah-masalah hubungan di tempat kerja menyebabkan seseorang yang depresi lebih cenderung dipecat dan menjadi pengangguran. Pengangguran dapat menciptakan depresi yang lebih berat, karena kehilangan pekerjaan menciptakan stres yang tinggi pada individu penderita.

8.5 Gangguan Pola Makan
Depresi dapat menyebabkan gangguan pada pola makan dan gangguan pola makan dapat menyebabkan depresi. Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum mengenai pola makan yang secara nyata memengaruhi berat tubuh, yaitu tidak selera makan dan keinginan makan-makanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan obesitas.

8.6 Perilaku-Perilaku Merusak 
Beberapa prilaku yang merusak yang disebabkan oleh depresi adalah agresivitas dan kekerasan sehingga mudah tersinggung dan agresif; penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, dan perilaku merokok.

Depresi sebagai suatu gangguan yang dapat diobati dan sebaiknya ditangani dengan segera mengingat risiko-risiko negatif yang dapat ditimbulkannya. Penanganan yang cepat memungkinkan fungsi-fungsi kehidupan seseorang tidak terlalu dipengaruhi oleh depresi sehingga bahaya yang ditimbulkan akibat depresi dapat diminimalisir.

Baca Selanjutnya (Bagian 9) >>>>

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments