Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 7)

Sunday, December 04, 2016

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 7)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

7. Penyakit Mematikan dan Depresi
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit mematikan yang paling banyak menyebabkan kematian di zaman sekarang ini adalah penyakit jantung, penyakit kanker, dan penyakit stroke (www.wikipedia.com). Ketiga penyakit ini walaupun menyerang bagian tubuh yang berbeda pada individu, namun penelitian telah menunjukkan bahwa depresi berperan dalam memperparah gejala penyakit tersebut. Oleh karena itu perlu dipahami hubungan antara penyakit mematikan dan depresi pada pasien.

7.1 Penyakit Jantung
Hadirnya depresi pada penderita penyakit jantung koroner bukan saja membahayakan kesejahteraan emosionalnya, tetapi juga akan semakin memperberat penyakit yang diderita dan menghambat kemajuan rehabilitas yang ditunjukan padanya. Sarafino (1994) mengemukakan bahwa suatu penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu.

Frasure Smith dan rekan-rekannya (1993) menemukan bahwa kondisi depresi berat merupakan faktor risiko penyebab kematian setelah 6 bulan pasien mengalami serangan jantung. Pasien depresi memiliki risiko yang lebih besar karena mereka menderita penyakit yang lebih berat daripada pasien yang tidak depresi. Sedangkan depresi ringan yang dialami pasien dapat disamakan dengan perasaan sedih yang normal dan cenderung membatasi diri.

Pashkow (1997) berpendapat bahwa gejala-gejala depresi pada orang yang sakit jantung koroner pada dasarnya sama dengan simtom-simtom depresi pada umumnya, di antaranya adalah gangguan tidur dan selera makan; perasaan hidup tanpa harapan dan tidak petut untuk dihidupi; perasaan keletihan atau kekesalan yang tidak berkaitan dengan kondisi fisik; hilangnya minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasa; sulit memusatkan perhatian atau membuat keputusan; menangis, terutama tangisan spontan; dan pikiran bunuh diri. Dari penelitian yang sama ditemukan pula perbedaan derajat depresi di antara pasien penyakit jantung koroner yang mengalami serangan jantung, mulai dari depresi dengan taraf ringan sampai berat. Diperkirakan 45% mengalami depresi berat dan ringan, dimana yang mengalami depresi berat sebanyak 18% dan 27% mengalami depresi ringan. Oleh karena itu tindakan psikolos sangat diperlukan apabila pasien pasca serangan jantung cenderung mengalami reaksi depresi, maka hal ini sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian pada pasien.

7.2 Penyakit Kanker
Penderita kanker sering kali mengalami perasaan kecewa ketika harus kehilangan salah satu organ tubuh akibat penyakit atauun karena proses penanganan kanker. Proses penanganan kanker juga disertai dengan rasa sakit, kecemasan, disfungsi seksual, dan kemungkinan perawatan di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama (Redd dan Jacobsen, 1988).

Kemungkinan terjadi gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya, dan tidak berharga dialamai antara 23%-66% penderita kanker. Diperkirakan saat ini ada sekitar 25% penderita kanker mengalami depresi berat (Sinar Harapan, 2003).

Beberapa penelitian menyatakan penderita kanker kurang mendapat dukungan sosial. Hal ini antara lain disebabkan orang-orang di sekitar penderita, keluarga atau kerabat bersikap menghindari pasien (Wortman dan Dunkel-Schetter, 1979). Padahal dukungan sosial mempunyai arti yang sangat penting bagi penderita kanker. Selain itu, dukungan sosial mempunyai peran penting dalam memperbaiki status kesehatan seseorang (Kaplan dan Toshima, 1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi tekanan psikologis selama masa stres (Billings dan Moos, 1982).

Pasien kanker tidak boleh dibiarkan sendirian dan tidak boleh diberikan perawatan fisik saja, namun perlu perawatan psikologis untuk mengurangi keluhan-keluhan mental pasien dan mendapat dukungan terutama dari keluarga dan bergabung dengan kelompok penderita kanker sebagai sarana untuk mendapat dukungan sosial.

7.3 Penyakit Stroke 
Menurut Psikiater Dr. Teddy Hidayat, stroke merupakan sindrom gangguan otak yang bersifat vokal akibat adanya gangguan sirkulasi darah di otak. Penderita stroke atau penderita pascastroke, kemungkinan besar akan mengalami gangguan pada sistem motorik tubuh dan kemampuan saraf (otak). Apabila otak sebelah kiri yang terkena, maka gangguan yang mungkin muncul adalah gangguan berpikir dan motorik, sedangkan bila sebelah kanan maka kemungkinan penderita akan mengalami gangguan fungsi bahasa, perasaan, (emosi), dan gangguan pahaman. Kecacatan fisik yang diakibatkan oleh stroke beserta gangguan yang menyertainya merupakan suatu kenyataan yang harus dihadapi individu penderita stroke.

Individu yang terserang stroke sering kali merasa tidak percaya dan tidak dapat menerima kenyataan. Hal ini dapat dipahami karena pada saat seseorang dihadapkan pada penyakit yang menakutkan seperti stroke beserta gangguan yang diakibatkannya, ia beranggapan bahwa mungkin seumur hidup akan menderita sakit.

Kondisi kesehatan sangat berperan di dalam penyesuaian diri seseorang. Penyesuaian diri berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Individu yang mengalami stroke dengan stres emosional tinggi tidak akan mampu memandang dirinya secara objektif, selalu menyesali keadaan diri, tidak percaya diri, dan bersikap negatif terhadap orang lain dan lingkungan sosialnya, dan hal tersebut akan memperburuk kesehatan. Begitu pula sebaliknya individu yang bebas dari stres emosional akan menjadi individu yang rileks, mampu menghayati perasaan emosionalnya dan mengenali potensi-potensi yang dimiliki serta dapat melakukan evaluasi tentang keadaan dirinya sehingga dapat memunculkan penilaian positif terhadap keadaan kondisi dirinya. Hal tersebut tentu akan mempercepat proses penyembuhan pascastroke (Agustin, 2009).

7.4 Kesimpulan
Dari beberapa sumber, secara umum penyebab dari penyakit mematikan yaitu penyakit jantung, stroke, dan kanker disebabkan oleh makanan yang tidak sehat, kurang berolahraga, riwayat keluarga, minum-minuman keras, dan merokok. Penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien yang membutuhkan perawatab khusus seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke menginginkan suatu pembicaraan yang terbuka dengan anggota keluarganya untuk mengurangi beban psikologis yang dirasakan (Tylor, 1986).

Menurut Peterson dan Bossio (1991), ada keterkaitan antara pandangan yang optimis dan kesehatan fisik seseorang. Individu optimis lebih baik dalam melakukan kebiasaan yang sehat daripada individu yang pesimis, dengan melakukan latihan dan diet yang seimbang. Sebaliknya individu yang pesimis dapat mengembangkan rasa tidak berdaya, rasa putus asa, kekecewaan yang mendalam serta tidak mempunyai gairah untuk hidup.

Baca Selanjutnya (Bagian 8) >>>>

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments