Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 6)

04:31:00

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 6)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

6. Teori-Teori Depresi
Berikut ini adalah beberapa teori yang dapat menjelaskan timbulnya gangguan depresi (Sarason dan Sarason, 1993; Strongman, 1996).

6.1 Teori Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dari Freud menyebutkan bahwa depresi disebabkan oleh kebutuhan oral pada masa anak-anak yang kurang terpuaskan atau sebaliknya, terpuaskan secara berlebihan. Akibatnya anak akan mengembangkan ketergantungan yang berlebihan terhadap harga diri, sehingga apabila kehilangan seseorang yang sangat berarti, akan muncul reaksi yang kompleks, seperti rasa sedih dan berkabung yang berlarut-larut, perasaan marah, dendam, membenci diri sendiri, serta ingin menghukum atau menyalahkan diri sehingga ia merasa tertekan dan depresi.

6.2 Teori Prilaku atau Behavioral
Pendekatan behavioral mengatakan bahwa prilaku manusia adalah hasil dari lingkungannya karena manusia merespon rangsangan dari luar. Teori behavioral menjelaskan bahwa depresi muncul sebagai akibat seseorang kurang menerima penghargaan (rewards) dan lebih banyak menerima hukuman (punishment).

B.F. Skinner, seorang psikolog Amerika mengatakan bahwa manusia berusaha untuk melakukan tindakan tertentu di lingkungan mereka. Jika tindakan tersebut menciptakan hasil yang diinginkan, mereka akan terus melakukan hal tersebut dan begitu juga sebaliknya, bila tidak menyenangkan maka akan menghentikannya.

6.3 Teori Biologi
Menurut teori biologi kecenderungan berkembangnya gangguan afektif, terutama gangguan manik-depresive (bipolar) merupakan bawaan sejak lahir (Atkinson, 1991).  Di antara faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam melahirkan penyakit depresi adalah fungsi otak yang terganggu dan gangguan hormonal (Shreeve, 1991; Kusmanto, 1990).

Penyebab depresi tidak bisa disebut hanya disebabkan oleh faktor biologis atau faktor luar saja, namun integrasi dari kedua faktor tersebut karena walaupun pemicu utama episode depresi adalah stressor dar luar, kontribusi dari gentik harus dilihat karena tingkat depresi lebih tinggi di antara orang-orang yang punya hubungan genetis yang dekat (realisis biologis tingkat pertama).

Terdapat dua penjelasan dalam teori fisiologis mengenai depresi, yaitu adanya gangguan metabolisme elektrolit pada pasien depresi dan adanya hambatan dalam transmisi neural yang terjadi dalam sistem saraf simpatik serta melibatkan transmiter neuralnya.

6.4 Teori Stres
Teori stres awalnya digunakan untuk menjelaskan depresi berdasarkan asumsi bahwa gangguan mood adalah respon dari stres. Campbell dan Kub (1995) menemukan bahwa stressor sehari-hari yang diukur dengan Daily Hassles adalah prediktor yang paling kuat dalam depresi dan lebih kuat daripada kekerasan sewaktu kecil.

6.5 Teori Kognitif
Beck (1985) berpendapat bahwa adanya gangguan depresi adalah akibat dari cara berpikir seorang terhadap dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya distorsi kognitif terhadap diri, dunia, dan masa depannya, sehingga dalam mengevaluasi diri dan menginterpretasi hal-hal yang terjadi mereka cenderung mengambil kesimpulan yang tidak cukup dan berpandangan negatif.

Model kognitif depresi timbul dari observasi-observasi klinis yang sistematis dan pengujian-pengujian eksperimen yang berulang kali (Beck, 1979). Model ini terdiri dari tiga konsep khusus yaitu cognitive triad berupa memandang diri, pengalaman, serta masa depan secara negatif; proses informasi yang salah dan skema-sekama.

6.6 Teori Humanistis-Eksistensial
Teori humanistis ekssistensial mangatakan depresi adalah hasil dari rendahnya konsep diri dan self-esteem yang diakibatkan oleh kehilangan. Kehilangan tersebut tidak harus seseorang yang dicintai, bisa saja status, kekuasaan, tingkat sosial, dan bahkan uang. Teori Maslow menyatakan ada kebutuhan dasar manusia yang perlu dipenuhi untuk dapat berfungsi optimal, yaitu basic need, safety need, love and belongingness need, esteem need, dan self actualization need.

Ketiga kebutuhan need yang pertama merupakan kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu dan kekurangan dari kebutuhan tersebut mendorong seseorang untuk berusaha memenuhinya. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu yang lama akan menumbulkan frustasi dan depresi.

Teori humanistis lebih menekankan pada perbedaan antara ideal self  seseorang dengan persepsinya terhadap kenyataan sebagai sumber kecemasan serta depresi. Sesuai pendapat Kierkegaard bahwa depresi adalah hasil dari ketika perbedaan antara yang ideal dan yang nyata terlalu jauh untuk diterima oleh individu (Sarason dan Sarason, 1993).

Baca Selanjutnya (Bagian 7) >>>>

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments