L.A.U.T.

Friday, December 30, 2016 0

L.A.U.T.

Gambar Ilustrasi L.A.U.T. (Doc. Lautnya Paul)
Karya: Mhd. Saifullah
Luasmu susah terkira.
Alunanmu membuat haus mata.
Umpama kain, padahal sahaja sudah.
Tak tampak riak kegaduhan di dalamnya.

Leraian angin menyeretmu hingga ketepi.
Arah ombak terlihat galau,
namun setia lalui hari.
Usaha tiada henti,
demi bersua pasir nan putih
meskipun hanya sekejap.
Terus, tetap terus, 
dan terus menerus.

Lalu, kata-kata menepik 
menyadarkan kita.
Apa makna dibalik maksud semua?
Untaian alam telah memaparkan 
sedemikian jelas.
Terabaikan begitu sia-sia,
kita tak mampu membaca.

Laut terlihat kalut,
asa laut tidak pernah surut.
Ujung keujung laut sama.
Tetap pada pendirian semula.
Laut hanya ingin bersua,
dengan pasir putih nan indah.
Sebelum waktu menghentikan semua.
Kajhu, Aceh Besar
5 Januari 2015

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 9/Habis)

Tuesday, December 13, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 9/Habis)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

9. Cara Menanggulangi Depresi
Depresi dapat menjadi penyakit yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, namun kemungkinan untuk mengobati individu depresi bagi yang mencari pengobatan sangat tinggi yaitu 85%-90% (Hegg, 1991). Depresi memang dapat hilang dengan sendirinya, namun pada kasus depresi berat diperlukan terapi dan pengobatan yang efektif untuk mengurangi depresi.

Beberapa cara menanggulangi depresi bagi para penderita depresi mulai dari depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat adalah sebagai berikut:

9.1 Obat Antidepresan
Ada beberapa obat antidepresan, yaitu lithium berupa obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar; Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs) berupa obat menghalangi aktivitas monoamine oxidase, enzim yang menghancurkan neurotransmiter monoamine norepinephirne, serotonin, dan dopamine; tricylics berupa obat meningkatkan aktivitas neurotransmiter monoamine norepinephirne dan sorotonim dengan menghambat reuptake ke dalam neuron; SSRIs berupa obat yang hanya menghambat reuptake sorotonim namun tidak menghalangi neurotransmiter lain (Bress, 2008).

9.2 CBT (Cognitive Behavior Theraphy)
Pendekatan CBT (Cognitive Behavior Theraphy) memusatkan perhatian pada proses berpikir klien yang berhubugan dengan kesulitan emosional dan psikologis klien. CBT (Cognitive Behavior Theraphy) adalah terapi yang dikembangkan oleh Beck tahun 1976 dan paling sesuai untuk gangguan harga diri dan depresi.

Teknik-teknik yang digunakan dalam pelaksanaan terapi kognitif tingkah laku menurut Beck adalah sebagai berikut mulai dari jadwal aktivitas harian, catatan harian pemikiran tidak rasional, menilai pola pikir, latihan aktif, dan tugas rumah.

Gilliland, James, dan Bowman (1994) mengemukakan beberapa teknik utama dalam terapi prilaku kognitif, yaitu Bek’s cognitive therapy, relaxation training dan relaxation therapy, systematic desensitization, mental and emotive imagery, dan meditation.

Meningkatkan Harga Diri dengan Terapi CBT (Cognitive Behavior Theraphy)
Pada penderita depresi yang mengalami harga diri rendah (merasa tidak berguna dan tidak percaya diri) perlu dilakukan perubahan pola pikir dengan menggunakan terapi CBT (Cognitive Behavior Theraphy). Ada lima tahap untuk meningkatkan harga diri berdasarkan prinsip CBT, yaitu
  • Mengidentifikasi situasi dan kondisi yang menyebabkan masalah;
  • Menyadari kepercayaan dan pikiran-pikiran;
  • Mengarahkan pikiran negatif dan tidak akurat;
  • Menentang pikir yang negatif atau tidak akurat; dan
  • Mengubah pemikiran dan kepercayaan.
9.3 Tarapi Interpersonal
Terapi interpersonal adalah bantuan psikoterapi jangka pendek yang berfokus kepada hubungan antara orang-orang dengan perkembangan simtom penyakit kejiwaan. Terapi interpersonal dikembangkan oleh psikiater Gerald Klerman M.D. dari Harvard dan psikolog Mayma Weissman, Ph.D.

Terapi interpesonal adalah turunan dari terapi psikodinamika yaitu psikoanalisis, dengan menekankan pada pengalaman masa lalu dan ketidaksadaran. Ada tujuh tipe intervensi yang biasanya digunakan dalam terapi interpersonal, dan sebagian besar dipengaruhi oleh teori psikodinamika, yaitu berfokus pada keadaan emosi klien, penyelidikan terhadap perlawanan klien terhadap pengobatan, diskusi mengenai pola hubungan dan pengalaman klien, memeriksa masa lalu klien, penekanan pada pengalaman interpersonal saat ini, penyelidikan hubungan terapi atau klien, dan identifikasi fantasi serta keinginan klien.

Tujuan dari terapi interpersonal adalah mengurangi simtom depresi dan meningkatkan penyesuaian sosial. Ada empat area masalah yang sering didentifikasi, yaitu unresolved grief, role transitions, dan interpersonal deficits. 

9.4 Konseling Kelompok dan Dukungan Sosial
Konseling secara kelompok adalah pelaksanaan wawancara konseling yang dilakukan antara seseorang konselor profesional dengan beberapa pasien sekaligus dalam kelompok kecil (Winkel, 1999). Amir Awang (1988) menjelaskan bahwa ciri utama konseling kelompok adalah memberi fokus kepada pemikir sadar, tingkah laku, dan menggalakkan interaksi terbuka, peserta merupakan orang-orang normal dan fasilotator merupakan penggerak yang penting.

Kegunaan dukungan sosial kelompok, yaitu:
  • Merasa ada orang lain yang juga menderita sehingga dapat mengurangi rasa isolasi;
  • Mempunyai pengalaman menolong orang lain dengan memberikan informasi dan nasihat sokongan emosional;
  • Dapat memberikan harapan dengan melihat pada pasien yang menjadi sembuh;
  • Dapat meniru semangat, optimis, dan kegigihan sesama pasien mewalan penyakitnya;
  • Dapat mengeluarkan segala perasaan dan masalah serta merasa didengarkan; dan
  • Merasa diterima dan disayangi dalam keadaan apapun. Oleh karena itu, diharapkan melalui intervensi kelompok dukungan sosial dapat mengurangi stres berat yang dialami pasien sehingga mereka dapat lebih optimis dan percaya diri dalam melawan penyakitnya.
Sheridan dan Radmacher (!992), Sarafino (1998) serta Tylor (1999) membagi dukungan sosial ke dalam lima bentuk, yaitu dukungan instrumental (tangible assistance), dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan pada harga diri, dan dukungan dari kelompok sosial.

9.5 Berolahraga
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan pikiran dan perasaan positif yang dapat menghalangi munculnya mood negatif adalah dengan berolahraga (North dalam Cox, 2002). Sebagian studi menunjukkan bahwa orang yang berolahraga atau memiliki tubuh yang bugar mengalami kecemasan, depresi, dan tekanan hidup yang lebih kecil daripada mereka yang tidak berolahraga (Sarafino, (1998).

Olahraga merupakan suatu pilihan gaya hidup. Olahraga penting untuk kesehatan fisik dan mental. Menurut para ahli kesehatan, jika emosi sedang pada posisi terendah, penderita dianjurkan untuk berolahraga selama 20 menit untuk tiap sesi dan dilakukan kurang lebih tiga kali dalam seminggu.

Berolahraga dapat meningkatkan body image karena, jika bergabung dalam tim olahraga, maka seseorang akan sering melakukan aktivitas fisik dan berolahraga. Di dalam tim olahraga juga terdiri dari beberapa orang yang berbeda dan mereka bekerja sana untuk memenangkan pertandingan, sehingga memungkinkan seorang anak untuk mengembangkan identitasnya sendiri dan memiliki orang yang dapat menerima dia apa adanya.

9.6 Diet (Mengatur Pola Makan)
Simtom depresi dapat diperparah oleh ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Ketidakseimbangan nutrisi dapat menyebabkan depresi semakin parah, dikarenakan mengkonsumsi kafein secara berkala, mengkonsumsi sukrosa (gula), kekurangan biotin, asam folat, dan vitamin B, vitamin C, kalsium, tembaga, magnesium atau potasium, kelebihan magnesium atau vanadium, ketidakseimbangan asam amino, dan alergi makanan.

9.7 Terapi Humor
Respons fisiologis dari tertawa termasuk meningkatnya pernapasan, sirkulasi, sekresi hormon dan enzim pencernaan, dan peningkatan tekanan darah. Ketertarikan efek humor terhadap kesehatan sudah menjadi psychoneuroimmunology, studi mengenai bagaimana faktor fisiologis, dan otak serta sistem imun berinteraksi terhadap kesehatan.

Pada buku Stress Without Distress, Syle mengatakan bahwa interpretasi seseorang terhadap suatu kejadian hanya bergantung pada kejadian di luar diri kita, tetapi juga bergantung pada cara kita mempersepsi kejadian dari cara seseorang memberi arti kejadian itu. Humor memberi perspektif yang berbeda dari masalah kita. Jika tidak dapat membuat situasinya menjadi ringan, situasi tersebut bukan lagi menjadi ancaman.

9.8 Berdoa
Berdoa merupakan salah satu cara untuk mengatasi depresi. Apapun pengertian kita tentang doa, tujuan, dan caranya, doa dapat mendatangkan ketenangan lahir dan batin, serta melepaskan kita dari ketegangan fisik dan mental kita.

Pemuka agama biasanya sangat berpengalaman di bidang konseling dan selalu bersedia membantu memecahkan masalah dan memberikan dukungan. Pemuka agama juga bisa mengarahkan kita agar lebih beriman kepada Tuhan dan menjauhkan kita dari kesedihan mendalam. Intinya, religiusitas batin seseorang membantu mereka ke luar dari depresinya.

9.9 Hidroterapi dan Hidrotermal 
Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatan penyakit dan terapi hidromental adalah penggunaan efek temperatur air, misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-lain. Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis atau termal air, sebab tubuh bereaksi pada stimulus panas dan dingin.

Seseorang dengan gangguan sensasi temperatur berisiko terkena iritasu atau frostbite saat berada pada temperatur yang ekstrem. Ketika suatu kondisi berlangsung perlu menghubungi dokter untuk menentukan terapi fisik yang sesuai, seperti:
  • Penderita diabetes, hindari panas pada kaki dan juga hindari pemanasan tubuh yang penuh misalnya body wraps;
  • Raynand’s disease, hindari penggunaan air dingin;
  • Diabetes atau multiple sclerosis, wanita hamil atau seseorang dengan tekanan darah tinggi atau rendah, hindari berendam air panas dan sauna yang lama;
  • Tidak dianjurkan mendinginkan kaki jika berisiko iritasi ginjal dan saluran kencing serta rematik;
  • Lansia dan anak-anak bisa kelelahan karena terlalu banyak panas; dan
  • Jika hamil dan penyakit jantung, konsultasi pada dokter sebelum melakukan sauna.
9.10 Menolongi Orang Yang Sedang Menderita Depresi
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menolong orang yang sedang menderita depresi, yaitu mendengarkan penderita depresi, meluangkan waktu kepada penderita depresi, meyakinkan, memperhatikan pola makan penderita depresi, membantu menjahui minuman keras dari penderita depresi, jika mulai berkata tidak mau hidup lagi atau mencoba bunuh diri sendiri segera tanggapi dengan serius dan hubungi dokter yang menangani depresi, dan yakinkan mereka untuk menerima bantuan.

Kesehatan yang menyeluruh yang optimal hanyalah mungkin ketika ada hubungan yang harmonis antara tubuh, pikiran, dan jiwa (Santillo dalam Wright, 2006). Penyakit adalah keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan gangguan pada tubuh, pikiran, dan emosi. Oleh karena itu, depresi perlu ditangani dengan baik untuk menyeimbangkan keperluan ditangani dengan baik untuk menyeimbangkan kembali tubuh, pikiran, dan emosi.

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 8)

Tuesday, December 13, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 8)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

8. Risiko Yang Ditimbulkan Oleh Depresi
Penderita depresi dapat menimbulkan beberapa risiko negatif yang sangat berpengaruh terhadap diri penderita dan berdampak pada lingkungan sekitarnya, seperti bunuh diri, gangguan tidur atau insomnia dan hypersomnia, gangguan dalam hubungan, gangguan dalam pekerjaan, gangguan pola makan, dan perilaku-perilaku merusak. Beberapa risiko tersebut akan dijelaskan selanjutnya.

8.1 Bunuh Diri
Depresi yang tidak ditangani secara cepat dapat meningkatkan risiko percobaan bunuh diri, karena dipengaruhi oleh pikiran orang yang dilanda depresi. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa begitu putus asa sehingga mereka benar-benar mempertimbangkan membunuh dirinya sendiri. Telah diketahui bahwa, orang bunuh diri sangat kurang mendapat dukungan sosial, 65% bunuh diri pernah memberikan tanda peringatan, 90% adalah penderita penyakit kejiwaan, dan 70% mengidap depresi (Wilkinson, 1995).

Keinginan bunuh diri tidak hanya dialami oleh individu yang sedang mengalami gangguan mood depresi, namun pada fase manik pada penderita bipolar juga terjadi keinginan bunuh diri. Hal ini terjadi karena pada saat fase depresi, seseorang mengalami gangguan bipolar tidak memiliki cukup banyak dorongan untuk benar-benar melakukan bunuh diri, namun saat fase manik seseorang dengan semangat tinggi dan sering melakukan tindakan yang berbahaya.

8.2 Gangguan Tidur: Insomnia dan Hypersomnia
Penderita depresi umumnya selalu mengalami susah tidur menjadikan penderita susah tidur walaupun sudah lelah, bangun lebih pagi dari biasa dan tidak bisa tidur laagi, tidur dengan gelisah dan sering bangun pada malam hari, dan tidur berlebihan pada siang hari (Priest, 1994). Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan, setidaknya 80% dari orang yang menderita depresi mengalami insomnia, atau kesulitan untuk tidur, sering kali, dan kesulitan untuk tetap tertidur.

Pada orang yang mengalami depresi, mereka tidur dengan cepat, namun sering terbangun pada malam hari. Perasaan yang tidak nyaman dan tidak rileks, merasa malam sangat lambat berlalu dan bangun dengan perasaan lebih lelah dari pada ketika tidur. Beberapa penyebab kesulitan tidur adalah kafein yang berada di dalam kopi dan teh, kebanyakan minuman ringan dan coklat, pseudoephedrine atau decongestant dapat mengganggu tidur.

Hipersomnia adalah perasaan mengantuk berlebihan. Hipersomnia adalah simtom untuk gangguan bipolar atau manik-depresif dan juga berhubungan dengan kesulitan bangun dan dikarekteristikan dengan merasa capai sepanjang waktu, perlu waktu tidur siang, nerasa mengantuk meskipun sudah tidur dan tidur siang, kesulitan berpikir dan membuat keputusan serta pikiran berkabut, apatis, kesulitan mengingat dan konsentrasi, meningkatnya risiko kecelakaan, dan lamanya waktu tidur (www.lifetips.com).

8.3 Gangguan dalam Hubungan
Depresi dapat mengganggu hubungan penderita dengan orang lain terutama orang yang dekat dengannya. Untuk itu depresi perlu mendapatkan penanganan yang serius agar tidak merusak hubugan dengan orang yang dicintai. Selain itu penderita depresi juga perlu bantuan dukungan sosial dari orang-orang yang dicintai dan perlu untuk merasa diterima untuk dapat mempercepat proses kesembuhan depresi.

8.4 Gangguan dalam Pekerjaan
Depresi mengakibatkan kerugian dalam produksi karena absenteisme ataupun perfoma yang sangat buruk. Alasan-alasan mengapa seseorang mengalami penurunan performa kerja ada pada simtom-simtom depresi yaitu:

  • Menurunnya ketertarikan atau kesenangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Menurunya konsentrasi dan daya ingat dan membuat kesalahan yang tidak bisa dilakukan.
  • Perasaan kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari atau bekerja lebih lambat daripada biasanya.
  • Berkurangnya kemampuan pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.
  • Mudah tersinggung atau menyebabkan masalah dengan hubungan kerja.

Penurunan pada peforma pekerjaan yang terus-menerus ditambah dengan masalah-masalah hubungan di tempat kerja menyebabkan seseorang yang depresi lebih cenderung dipecat dan menjadi pengangguran. Pengangguran dapat menciptakan depresi yang lebih berat, karena kehilangan pekerjaan menciptakan stres yang tinggi pada individu penderita.

8.5 Gangguan Pola Makan
Depresi dapat menyebabkan gangguan pada pola makan dan gangguan pola makan dapat menyebabkan depresi. Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum mengenai pola makan yang secara nyata memengaruhi berat tubuh, yaitu tidak selera makan dan keinginan makan-makanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan obesitas.

8.6 Perilaku-Perilaku Merusak 
Beberapa prilaku yang merusak yang disebabkan oleh depresi adalah agresivitas dan kekerasan sehingga mudah tersinggung dan agresif; penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, dan perilaku merokok.

Depresi sebagai suatu gangguan yang dapat diobati dan sebaiknya ditangani dengan segera mengingat risiko-risiko negatif yang dapat ditimbulkannya. Penanganan yang cepat memungkinkan fungsi-fungsi kehidupan seseorang tidak terlalu dipengaruhi oleh depresi sehingga bahaya yang ditimbulkan akibat depresi dapat diminimalisir.

Baca Selanjutnya (Bagian 9) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 7)

Sunday, December 04, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 7)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

7. Penyakit Mematikan dan Depresi
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit mematikan yang paling banyak menyebabkan kematian di zaman sekarang ini adalah penyakit jantung, penyakit kanker, dan penyakit stroke (www.wikipedia.com). Ketiga penyakit ini walaupun menyerang bagian tubuh yang berbeda pada individu, namun penelitian telah menunjukkan bahwa depresi berperan dalam memperparah gejala penyakit tersebut. Oleh karena itu perlu dipahami hubungan antara penyakit mematikan dan depresi pada pasien.

7.1 Penyakit Jantung
Hadirnya depresi pada penderita penyakit jantung koroner bukan saja membahayakan kesejahteraan emosionalnya, tetapi juga akan semakin memperberat penyakit yang diderita dan menghambat kemajuan rehabilitas yang ditunjukan padanya. Sarafino (1994) mengemukakan bahwa suatu penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu.

Frasure Smith dan rekan-rekannya (1993) menemukan bahwa kondisi depresi berat merupakan faktor risiko penyebab kematian setelah 6 bulan pasien mengalami serangan jantung. Pasien depresi memiliki risiko yang lebih besar karena mereka menderita penyakit yang lebih berat daripada pasien yang tidak depresi. Sedangkan depresi ringan yang dialami pasien dapat disamakan dengan perasaan sedih yang normal dan cenderung membatasi diri.

Pashkow (1997) berpendapat bahwa gejala-gejala depresi pada orang yang sakit jantung koroner pada dasarnya sama dengan simtom-simtom depresi pada umumnya, di antaranya adalah gangguan tidur dan selera makan; perasaan hidup tanpa harapan dan tidak petut untuk dihidupi; perasaan keletihan atau kekesalan yang tidak berkaitan dengan kondisi fisik; hilangnya minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasa; sulit memusatkan perhatian atau membuat keputusan; menangis, terutama tangisan spontan; dan pikiran bunuh diri. Dari penelitian yang sama ditemukan pula perbedaan derajat depresi di antara pasien penyakit jantung koroner yang mengalami serangan jantung, mulai dari depresi dengan taraf ringan sampai berat. Diperkirakan 45% mengalami depresi berat dan ringan, dimana yang mengalami depresi berat sebanyak 18% dan 27% mengalami depresi ringan. Oleh karena itu tindakan psikolos sangat diperlukan apabila pasien pasca serangan jantung cenderung mengalami reaksi depresi, maka hal ini sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian pada pasien.

7.2 Penyakit Kanker
Penderita kanker sering kali mengalami perasaan kecewa ketika harus kehilangan salah satu organ tubuh akibat penyakit atauun karena proses penanganan kanker. Proses penanganan kanker juga disertai dengan rasa sakit, kecemasan, disfungsi seksual, dan kemungkinan perawatan di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama (Redd dan Jacobsen, 1988).

Kemungkinan terjadi gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya, dan tidak berharga dialamai antara 23%-66% penderita kanker. Diperkirakan saat ini ada sekitar 25% penderita kanker mengalami depresi berat (Sinar Harapan, 2003).

Beberapa penelitian menyatakan penderita kanker kurang mendapat dukungan sosial. Hal ini antara lain disebabkan orang-orang di sekitar penderita, keluarga atau kerabat bersikap menghindari pasien (Wortman dan Dunkel-Schetter, 1979). Padahal dukungan sosial mempunyai arti yang sangat penting bagi penderita kanker. Selain itu, dukungan sosial mempunyai peran penting dalam memperbaiki status kesehatan seseorang (Kaplan dan Toshima, 1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi tekanan psikologis selama masa stres (Billings dan Moos, 1982).

Pasien kanker tidak boleh dibiarkan sendirian dan tidak boleh diberikan perawatan fisik saja, namun perlu perawatan psikologis untuk mengurangi keluhan-keluhan mental pasien dan mendapat dukungan terutama dari keluarga dan bergabung dengan kelompok penderita kanker sebagai sarana untuk mendapat dukungan sosial.

7.3 Penyakit Stroke 
Menurut Psikiater Dr. Teddy Hidayat, stroke merupakan sindrom gangguan otak yang bersifat vokal akibat adanya gangguan sirkulasi darah di otak. Penderita stroke atau penderita pascastroke, kemungkinan besar akan mengalami gangguan pada sistem motorik tubuh dan kemampuan saraf (otak). Apabila otak sebelah kiri yang terkena, maka gangguan yang mungkin muncul adalah gangguan berpikir dan motorik, sedangkan bila sebelah kanan maka kemungkinan penderita akan mengalami gangguan fungsi bahasa, perasaan, (emosi), dan gangguan pahaman. Kecacatan fisik yang diakibatkan oleh stroke beserta gangguan yang menyertainya merupakan suatu kenyataan yang harus dihadapi individu penderita stroke.

Individu yang terserang stroke sering kali merasa tidak percaya dan tidak dapat menerima kenyataan. Hal ini dapat dipahami karena pada saat seseorang dihadapkan pada penyakit yang menakutkan seperti stroke beserta gangguan yang diakibatkannya, ia beranggapan bahwa mungkin seumur hidup akan menderita sakit.

Kondisi kesehatan sangat berperan di dalam penyesuaian diri seseorang. Penyesuaian diri berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Individu yang mengalami stroke dengan stres emosional tinggi tidak akan mampu memandang dirinya secara objektif, selalu menyesali keadaan diri, tidak percaya diri, dan bersikap negatif terhadap orang lain dan lingkungan sosialnya, dan hal tersebut akan memperburuk kesehatan. Begitu pula sebaliknya individu yang bebas dari stres emosional akan menjadi individu yang rileks, mampu menghayati perasaan emosionalnya dan mengenali potensi-potensi yang dimiliki serta dapat melakukan evaluasi tentang keadaan dirinya sehingga dapat memunculkan penilaian positif terhadap keadaan kondisi dirinya. Hal tersebut tentu akan mempercepat proses penyembuhan pascastroke (Agustin, 2009).

7.4 Kesimpulan
Dari beberapa sumber, secara umum penyebab dari penyakit mematikan yaitu penyakit jantung, stroke, dan kanker disebabkan oleh makanan yang tidak sehat, kurang berolahraga, riwayat keluarga, minum-minuman keras, dan merokok. Penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien yang membutuhkan perawatab khusus seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke menginginkan suatu pembicaraan yang terbuka dengan anggota keluarganya untuk mengurangi beban psikologis yang dirasakan (Tylor, 1986).

Menurut Peterson dan Bossio (1991), ada keterkaitan antara pandangan yang optimis dan kesehatan fisik seseorang. Individu optimis lebih baik dalam melakukan kebiasaan yang sehat daripada individu yang pesimis, dengan melakukan latihan dan diet yang seimbang. Sebaliknya individu yang pesimis dapat mengembangkan rasa tidak berdaya, rasa putus asa, kekecewaan yang mendalam serta tidak mempunyai gairah untuk hidup.

Baca Selanjutnya (Bagian 8) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 6)

Thursday, December 01, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 6)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

6. Teori-Teori Depresi
Berikut ini adalah beberapa teori yang dapat menjelaskan timbulnya gangguan depresi (Sarason dan Sarason, 1993; Strongman, 1996).

6.1 Teori Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dari Freud menyebutkan bahwa depresi disebabkan oleh kebutuhan oral pada masa anak-anak yang kurang terpuaskan atau sebaliknya, terpuaskan secara berlebihan. Akibatnya anak akan mengembangkan ketergantungan yang berlebihan terhadap harga diri, sehingga apabila kehilangan seseorang yang sangat berarti, akan muncul reaksi yang kompleks, seperti rasa sedih dan berkabung yang berlarut-larut, perasaan marah, dendam, membenci diri sendiri, serta ingin menghukum atau menyalahkan diri sehingga ia merasa tertekan dan depresi.

6.2 Teori Prilaku atau Behavioral
Pendekatan behavioral mengatakan bahwa prilaku manusia adalah hasil dari lingkungannya karena manusia merespon rangsangan dari luar. Teori behavioral menjelaskan bahwa depresi muncul sebagai akibat seseorang kurang menerima penghargaan (rewards) dan lebih banyak menerima hukuman (punishment).

B.F. Skinner, seorang psikolog Amerika mengatakan bahwa manusia berusaha untuk melakukan tindakan tertentu di lingkungan mereka. Jika tindakan tersebut menciptakan hasil yang diinginkan, mereka akan terus melakukan hal tersebut dan begitu juga sebaliknya, bila tidak menyenangkan maka akan menghentikannya.

6.3 Teori Biologi
Menurut teori biologi kecenderungan berkembangnya gangguan afektif, terutama gangguan manik-depresive (bipolar) merupakan bawaan sejak lahir (Atkinson, 1991).  Di antara faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam melahirkan penyakit depresi adalah fungsi otak yang terganggu dan gangguan hormonal (Shreeve, 1991; Kusmanto, 1990).

Penyebab depresi tidak bisa disebut hanya disebabkan oleh faktor biologis atau faktor luar saja, namun integrasi dari kedua faktor tersebut karena walaupun pemicu utama episode depresi adalah stressor dar luar, kontribusi dari gentik harus dilihat karena tingkat depresi lebih tinggi di antara orang-orang yang punya hubungan genetis yang dekat (realisis biologis tingkat pertama).

Terdapat dua penjelasan dalam teori fisiologis mengenai depresi, yaitu adanya gangguan metabolisme elektrolit pada pasien depresi dan adanya hambatan dalam transmisi neural yang terjadi dalam sistem saraf simpatik serta melibatkan transmiter neuralnya.

6.4 Teori Stres
Teori stres awalnya digunakan untuk menjelaskan depresi berdasarkan asumsi bahwa gangguan mood adalah respon dari stres. Campbell dan Kub (1995) menemukan bahwa stressor sehari-hari yang diukur dengan Daily Hassles adalah prediktor yang paling kuat dalam depresi dan lebih kuat daripada kekerasan sewaktu kecil.

6.5 Teori Kognitif
Beck (1985) berpendapat bahwa adanya gangguan depresi adalah akibat dari cara berpikir seorang terhadap dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya distorsi kognitif terhadap diri, dunia, dan masa depannya, sehingga dalam mengevaluasi diri dan menginterpretasi hal-hal yang terjadi mereka cenderung mengambil kesimpulan yang tidak cukup dan berpandangan negatif.

Model kognitif depresi timbul dari observasi-observasi klinis yang sistematis dan pengujian-pengujian eksperimen yang berulang kali (Beck, 1979). Model ini terdiri dari tiga konsep khusus yaitu cognitive triad berupa memandang diri, pengalaman, serta masa depan secara negatif; proses informasi yang salah dan skema-sekama.

6.6 Teori Humanistis-Eksistensial
Teori humanistis ekssistensial mangatakan depresi adalah hasil dari rendahnya konsep diri dan self-esteem yang diakibatkan oleh kehilangan. Kehilangan tersebut tidak harus seseorang yang dicintai, bisa saja status, kekuasaan, tingkat sosial, dan bahkan uang. Teori Maslow menyatakan ada kebutuhan dasar manusia yang perlu dipenuhi untuk dapat berfungsi optimal, yaitu basic need, safety need, love and belongingness need, esteem need, dan self actualization need.

Ketiga kebutuhan need yang pertama merupakan kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu dan kekurangan dari kebutuhan tersebut mendorong seseorang untuk berusaha memenuhinya. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu yang lama akan menumbulkan frustasi dan depresi.

Teori humanistis lebih menekankan pada perbedaan antara ideal self  seseorang dengan persepsinya terhadap kenyataan sebagai sumber kecemasan serta depresi. Sesuai pendapat Kierkegaard bahwa depresi adalah hasil dari ketika perbedaan antara yang ideal dan yang nyata terlalu jauh untuk diterima oleh individu (Sarason dan Sarason, 1993).

Baca Selanjutnya (Bagian 7) >>>>