Tsunami

Saturday, November 05, 2016

Tsunami
(Bagian 1)

Gambar Cover Buku Tsunami (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul:
Tsunami
Penulis:
Subandono Diposaptono dan Budiman
Penerbit:
Penerbit Buku Ilmiah Populer
Tahun terbit:
2005
Tebal/jumlah halaman:
222 Halaman

1. Apa itu Tsunami?
a. Mengenal Tsunami
Jauh sebelum Tsunami menghantam kawasan pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), masyarakat luas tidak paham betul apa itu Tsunami. Ketidak pahaman inilah membuat kita tidak siap menghadapi bencana Tsunami. Akibatnya, seperti baru saja kita saksikan. Dalam rekaman video amatir yang diambil sebelum dan selama berlangsungnya Tsunami, tampak bahwa kepanikan menghinggapi kita.

Tidak terlihat tanda-tanda untuk menyelamatkan diri meski Tsunami sudah tampak di depan mata. Apalagi dari pemerintah setempat tidak ada pihak yang memandu atau menjelaskan apa yang sedang dan bakal terjadi. Bayangkan, lebih dari 200.000 orang tewas mengenaskan dan hilang serta kerugian materil yang sangat besar. 

Bencana Tsunami yang berasal dari gempa tektonik yang berpusat di Samudera Hindia, bukan hanya menghantam Indonesia namun juga mengimbas keenam negara seperti, Thailand, India, Maladewa, Somalia, Sri Lanka, dan Myanmar. Menurut Parluhutan Manurung (2005), gelombang yang ditimbulkan Tsunami Aceh ternyata sangat dahsyat hingga ke lokasi jauh mencapai Meksiko, Rusia, dan Selandia Baru. Gelombang ini terekam pada stasiun pengamatan pasang surut yang dikumpulkan oleh International Tsunami Information Center (ITIC). Ketinggian gelombang mencapai beberapa meter dengan laju perjalanan Tsunami di Samudera Hindia menimbulkan gelombang pasang yang sangat begitu dahsyat.

Secara harfiah, kata Tsunami berasal dari bahasa Jepang, yaitu Tsu  berarti pelabuhan dan Nami adalah gelombang. Secara umum Tsunami diartikan sebagai pasang surut air laut yang besar di lautan. Tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan gangguan implusif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu bisa berasal dari beberapa gejala alam berupa gempa bumi tektonik, erupsi, vulkanik, atau longsoran (land side).

Gelombang Tsunami yang ditimbulkan oleh gaya implusif bersifat transien dengan gelombangnya bersifat sesar. Gelombang seperti ini berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Perbedaan pada gelombang tersebut adalah pada gerakan airnya. Gelombang angin yang datang dan pergi tanpa menimbulkan genangan lokal lebih tinggi, sedangkan Tsunami menghempas daratan dengan cepat seperti dinding air.

Ciri lain dari Tsunami adalah panjang gelombang bisa mencapai puluhan kilometer dengan kecepatan rambat berkisar 400-1.000 km/perjam sehingga bisa menghancurkan kehidupan pantai. Hal ini yang menyebabkan banyaknya bangunan yang roboh, rusaknya lahan pertanian, kesuburan tanah terganggu, sarana mendapatkan air bersih juga susah, dan ratusan ribu nyawa menghilang. Bencana Tsunami yang timbul pada tahun 2004 lebih dahsyat daripada bencana Tsunami yang disebabkan letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 27 Agustus 1883 yang menelan korban lebih kurang sebanyak 36.417 orang.

Di Indonesia, bencana Tsunami bukanlah suatu hal baru jika dilihat dari beberapa catatan bencana yang pernah terjadi. Tsunami yang disebabkan meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 dan Tsunami pada tahun 2004, adalah bagian dari bencana Tsunami yang pernah terjadi di Indonesia, selain dari kedua itu Tsunami dan gempa juga pernah terjadi di Flores pada 12 Desember 1992 dengan menelan korban sekitar 2.000 orang meninggal. Gempa yang terjadi di Flores tersebut memiliki kekuatan 7,8 Skala Richter (SR) dan mampu merobohkan ribuan bangunan di Kota Maumere.

b. Waspadalah, Indonesia Memang Rawan Tsunami
Sejarah kelam Tsunami Aceh bisa saja terjadi lagi di kawasan pesisir Indonesia lainnya. Betapa tidak, ternyata dibalik begitu banyaknya potensi migas (minyak dan gas) di laut kita, Indonesia berada dalam satu kawasan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng (Triple Junction Plate Converge). Ketiga lempeng itu yaitu Eurasia, Samudera Pasific, dan Indo-Australia yeng bergerak relatif ke barat dan ke utara terhadap Eurasia.

Berada di kawasan pertemuan tiga lempengan juga membuat Indonesia kaya akan gunung berapi. Indonesia memiliki 240 gunung berapi yang tersebar ke berbagai daerah, sehingga kebanyakan gempa dan Tsunami yang terjadi di negeri ini berjenis gempa tektonik. Gempa dan Tsunami yang berasal dari gempa tektonik berada di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia sering terjadi Tsunami.

Selama periode 1600-2005 telah terjadi Tsunami lebih kurang sebanyak 105 kali, di mana 90% disebabkan oleh gempa tektonik, 9% disebabkan oleh lutusan gunung berapi, dan 1% dipicu oleh longsong. Menurut Arnold (1986), Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan tinggi di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia sangat rawan untuk terjadinya Tsunami. Pendapat ini juga didukung oleh Ismail (1982) dan Kertapatri (1991) telah menetapkan sekitar 89% daerah Tsunami yang tersebar di daerah Indonesia. Kelompok pantai yang rawan Tsunami di antaranya Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Selatan dan Utara Pulau Flores, pulau-pulau di Maluku, utara dan sebagian bagian selatan Irian Jaya, serta utara Sulawesi.

Laut Maluku merupakan daerah yang paling rawan terjadinya bencana Tsunami. Sepanjang tahun 1600-2005, Laut Maluku menyumbang 31% dari total Tsunami yang pernah tercatat di seluruh Indonesia. Bila dirata-ratakan maka interval waktu kejadian Tsunami berkisar 10 tahun. Akan tetapi, Gelombang Tsunami yang paling besar di Indonesia tercatat dalam sejarah adalah gelombang Tsunami yang terjadi pada tahun 1883 saat meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Gelombang yang ditimbulkan akibat letusan itu mencapai 41 meter selain memuntahkan batuan-batuan sampai puluhan kilometer jauhnya.

Beberapa daerah yang pernah mengalami kejadian bencana Tsunami di antaranya adalah Pulau Babi (Flores) tahun 1992 dengan korban meninggal 1952 orang dan ketinggian gelombang 26,2 meter. Banyuwangi (Jawa Timur) tahun 1994 dengan korban meninggal 38 orang dan ketinggian gelombang 13,9 meter.

Baca Selanjutnya (Bagian 2) >>>>

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments