Tsunami (Bagian 2)

Tsunami
(Bagian 2)

Gambar Cover Buku Tsunami (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul:
Tsunami
Penulis:
Subandono Diposaptono dan Budiman
Penerbit:
Penerbit Buku Ilmiah Populer
Tahun terbit:
2005
Tebal/jumlah halaman:
222 Halaman

2. Dahsyatnya Tsunami
a. Dahsyatnya Tsunami
Sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Ungkapan itu cocok menggambarkan betapa menderitanya masyarakat dan alam sekitarnya yang terkena Tsunami. Penderitaan pertama diawali dengan gempa tektonik di dasar laut yang kuat dan terjadi di malam hari. Serangan kedua terjadi dengan disusul datangnya gelombang Tsunami. Begitulah seumpama fenomena yang bukan hanya terjadi di Aceh, tetapi juga di kawasan lainnya, baik di dalam maupun luar negeri.

Gempa tektonik yang menyebabkan Tsunami bukan hanya pernah melanda Indonesia, namun juga pernah terjadi di beberapa negara lain di dunia. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa negara yang pernah dilanda gempa tektonik dan Tsunami, di antaranya seperti di Jepang, Filipina, Papua New Gini, dan banyak lagi negara lainnya.

Di Jepang, beberapa bencana gempa tektonik dan Tsunami yang melanda di antaranya di Nakaragua pada tanggal 9 September 1992, korban meninggal mencapai 170 orang dengan kekuatan gempa 7,2 Skala Richter (SR) dan menimbulkan gelombang Tsunami setinggi 10 meter yang berkecepatan 25-50 km/jam. Gempa tektonik dan Tsunami di Okushiri pada tanggal 12 Juli 1993, korban meninggal diperkirakan mencapai 239 orang dengan kekuatan gempa 7,8 Skala Richter (SR) dan menimbulkan gelombang Tsunami setinggi 31 meter. Di Pulau Kuril, gempa tektonik dan Tsunami yang melanda pada tanggal 4 Oktober 1994, menewaskan 10 orang dengan kekuatan gempa 8,1 Skala Richter (SR) dan menimbulkan gelombang Tsunami setinggi 10 meter.

Di Filipina, terjadi gempa tektonik dan Tsunami yang melanda daerah Mindoro pada tanggal 14 November 1994. Gempa tektonik tersebut diperkirakan berkekuatan sebesar 7,1 Skala Richter (SR) dan menimbulkan gelombang Tsunami setinggi 7 meter dengan menewaskan 71 orang korban.

Di Aitape, Papua New Gini terjadi gempa tektonik dan Tsunami pada tanggal 17 Juli 1998, dengan korban jiwa mencapai 2.200 orang. Kekuatan gempa diperkirakan berkekuatan 7,1 Skala Richter (SR) dan menimbulkan Tsunami dengan ketinggian 15 meter.

Di dalam negeri, bencana gempa tektonik dan Tsunami selain di Aceh yang pernah terjadi lebih parah dari pada di beberapa negara lain yang dilanda. Di antaranya seperti di Flores, Banyuwangi, Sulawesi Tengah, Irian Jaya.

Di Flores, gempa tektonik dan Tsunami yang terjadi pada tanggal 12 Desember 1992, menewaskan 1.713 orang. Kekuatan gempa pada saat itu diperkirakan mencapai 7,5 Skala Richter (SR) sehingga menimbulkan Tsunami dengan ketinggian 26 meter.

Di Banyuwangi, gempa tektonik dan Tsunami memakan korban sebanyak 238 orang pada tanggal 3 Juni 1994. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan pada saat itu mencapai 14 meter yang disebabkan oleh gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR).

Di Sulawesi Tengah, gempa tektonik dan Tsunami yang terjadi menimbulkan gelombang setinggi 4 meter. Korban yang tewas akibat bencana yang terjadi pada 1 Januari 1996 menewaskan 8 orang yang disebabkan gempa tektonik berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR).

Di Irian Jaya, gempa tektonik dan Tsunami juga pernah terjadi, yaitu pada tanggal 17 Februari 1996. Bencana tersebut menewaskan 107 orang yang meninggal dihantam gelombang setinggi 7,7 meter. Gelombang Tsunami terjadi disebabkan karena kekuatan gempa yang begitu kuat, yaitu mencapai 8 Skala Richter (SR).

Berdasarkan catatan, kejadian gempa tektonik dan Tsunami yang terjadi selama tahun 1990-an menandakan bahwa Indonesia memang terasa kian jauh dari kesan aman. Kenyamanan pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi barang yang sangat langka dan mahal di negeri ini bila melihat kejadian yang pernah ada.

b. Proses Terjadinya Tsunami
Proses terjadinya Tsunami tidak terlepas dari teori tektonik lempeng (Plate Tectonivs Theory) yang berkembang pesat pada akhir 1960-an. Teori ini mengasumsikan bahwa interior bumi tersusun dari empat lapisan, yaitu litosfer, astenosfer, mesosfer, dan inti bumi. Lalu faktor apa saja yang mendorong terjadinya Tsunami?

Terjadinya gempa diperkirakan sudah ada sejak planet bumi kita terbentuk. Akan tetapi baru manusia baru bisa melaporkan terjadinya gempa pertama kali dalam catatan sejarah adalah sekitar tahun 1800 SM (Sebelum Masehi). Ada tiga hal yang dianggap penyebab terjadinya gempa, yaitu ulah manusia, vulkanik, dan tektonik.

Gempa ulah manusia adalah gempa yang disebabkan oleh aktivitas manusia sehingga mengakibatkan terjadinya beberapa gejala alam. Beberapa contoh gempa yang disebabkan oleh ulah manusia yaitu gempa akibat runtuhnya rongga bawah tanah di daerah pertambangan, gempa akibat pengisian pertama kali waduk dengan air, dan gempa akibat ledakan percobaan bom nuklir di bawah tanah.

Gempa vulkanik adalah gempa yang terjadi akibat aktivitas gunung berapi, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah letusan berlangsung. Getaran yang terjadi disebabkan adanya desakan magma ke dinding bagian dalam dari gunung berapi. Gempa vulkanik biasanya berkekuatan sangat kecil tetapi frekuensi terjadinya sangat tinggi terutama pada saat aktivitas gunung berapi mencapai puncaknya.

Gempa tektonik adalah gempa yang diakibatkan aktivitas tektonik, yaitu berupa pergerakan, pergeseran, dan tumbukan lempeng-lempeng yang ada di bumi. Sejarah mencatat beberapa daerah yang pernah terjadi bencana besar yang disebabkan oleh gempa tektonik seperti San Frasisco (1960), Kanto (1923), Hopeh (1976), Luzon (1990), dan Kobe (1995).

Lalu bagaimana Tsunami terjadi? Menurut Prof. Yoshiaki Kawata, Kepala Pusat Penelitian Bencana Besar, Institut Penelitian Pencegahan Bencana, Universitas Kyoto menjelaskan, terjadinya Tsunami disebabkan oleh pergerakan air dalam volume besar secara vertikal. Pergerakn itu disebabkan karena tiga hal, yaitu:
  • Pertama, gempa dengan patahan vertikal yang terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Secara emperis, jika gempa yang terjadi berkekuatan 6,5 Skala Richter (SR) dan pusat gempa berada kurang dari 60 Km dari dasar laut, maka Tsunami akan terjadi. Misalnya seperti yang terjadi pada gempa dan menimbulkan Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Kekuatan gempa mencapai 9,0 Skala Richter (SR) dan pusat gempa terjadi pada kedalaman 4 Km, sehingga menimbulkan Tsunami yang sangat dahsyat. Sementara itu, gempa Nias pada 29 Maret 2005 yang berkekuatan 8,7 Skala Richter (SR) dan berjarak 30 Km merupakan gempa dangkal yang menghasilkan deformasi vertikal. Oleh karena itu Tsunami yang terjadi relatif lebih kecil, yaitu maksimum hanya tiga sampai empat meter.
  • Kedua, penyebab terjadinya Tsunami adalah adanya longsor besar yang disebabkan oleh gempa, kegiatan gunung berapi, atau longsor di dasar laut, seperti yang terjadi pada Gunung Maeyama tahun 1792 disebabkan oleh meledaknya gunung berapi Unzen. Akibatnya, Tsunami melanda Kumamoto yang berseberangan dengan daerah letusan dan menewaskan korban mencapai 15.000 orang.
  • Ketiga, penyebab terjadinya Tsunami berasal dari meletusnya gunung berapi, seperti yang terjadi pada Gunung Krakatau yang meletus tanggal 27 Agustus 1883. Menurut Later (1981), setidaknya ada 10 proses yang menimbulkan Tsunami akibat meletusnya Gunung Krakatau. Kesepuluh proses tersebut meliputi aliran pyroclastic (20%), erupsi vulkanik (22%), longsoran dan avalanches dari batuan beku (7%), ledakan bawah laut (19%), terbentuknya kalder (9%),  dorongan basal yang disertai gelombang kejut (7%), batuan panas (6%), lahar (4,5%), gelombang udara yang berasosiasi dengan ledakan besar (4,5%), serta aliran lava (1,5%). Hal ini juga didukung oleh Sigurdsson dan Carey (1991) yang menyimpulkan bahwa empat dari sepuluh proses yang ditimbulkan akan menimbulkan Tsunami. Keempat proses itu adalah terbentuknya kaldera dalam skala yang luas, aliran pyroclastic, ledakan bawah laut, dan avalanches kedalam laut.
Dari ketiga penyebab tersebut, gempa di dasar laut merupakan penyumbang terbesar terjadinya Tsunami. Tsunami akibat gempa di dasar laut sebenarnya mengikuti teori elastic body (benda elastis). Ibarat bola karet, apabila ditekan satu bagian, maka pada bagian lain akan mengembang. Permukaan patahan secara vertikal (naik atau turun) ini merupakan nilai kenaikan permukaan laut. Berdasarkan analisis gelombang, gempa hanya menghasilkan dua jawaban, yaitu energi gempa yang biasa disebut moment magnitude dan sudut kemiringan kenaikan tersebut.

Panjang gelombang tergantung pada luasnya patahan gempa di dasar laut. Pada umumnya Tsunami yang mengakibatkan kerusakan memiliki panjang gelombang sekitar 20-50 Km. Kecepatan Tsunami didapat berdasarkan perkalian kedalaman laut dan percepatan gravitasi bumi. Misalnya, kedalaman rata-rata  Samudera Indonesia sekitar 4.000 meter, maka kecepatan penjalaran Tsunami hampir 720 Km/jam, yaitu secepat pesawat jet.

Baca Selanjutnya (Bagian 2) >>>>
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments