Partai dan Aliran Islam Modern di Indonesia

Sunday, November 13, 2016

 Partai dan Aliran Islam Modern di Indonesia

Al Irsyad dan Partai Arab Indonesia
Gerakan Islam modern juga dilakukan oleh keturunan Arab. Kelompok sayid yaitu yang mengaku keturunan nabi tetap mengelola Jamiat Khair, sedangkan kelompok yang bukan keturunan sayid mendirikan perkumpulan Al Irsyad pada tahun 1914. Dengan bantuan seorang alim bernama Syekh Ahmad Surkati, asal Sudan, yang semula mengajar di Jamiyatul Khair meneruskan usaha di bidang pendidikan Al Irsyad. Organisasi ini menekankan persamaan antara umat manusia dan berlawanan dengan pendirian golongan sayid.

Keturunan Arab di Indonesia ternyata jumlahnya cukup banyak sehingga perlu diberi wadah dalam partai khusus, lebih-lebih karena mereka merasa di lahirkan di Indonesia dari wanita Indonesia pula. Karena itulah AR Baswedan mendirikan Partai Arab Indonesia  pada tahun 1934. Tidak diragukan lagi bahwa partai ini menekankan Indonesia sebagai tanah airnya.

Aliran Islam Modern Lainnya
Pada awal abad ke-20 di Saudi Arabia terjadi gerakan wahabi yang dipimpin oleh Raja Abdul Aziz ibn Saud. Sementara itu para pezarah ke Tanah Suci berjalan terus, tetapi karena terjadinya Perang Dunia I (1914-1918), maka perjalanan pulang para jamaah terhalang. Di antara mereka ada yang menetap di sana. Para jamaah yang pulang ke Indonesia menyebarkan ilmunya. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan timbulnya aliran-aliran Islam modern. Menurut hadits disebutkan bahwa setiap seratus tahun ada yang mengadakan pembaharuan atau modernisasi yang disebut mujaddid.

Setelah Jamiyatul Khair mendapat tempat di dalam masyarakat maka Syekh Ahmad Surkati ingin meningkatkan usahanya guna meningkatkan modernisasi. Bahasa Arab harus didalami, pendidikan agama Islam dilakukan sejak dini dan diajarkan terus menerus, sedangkan ukhuwwah Islamiyah baru dapat dicapai melalui umat yang seagama. Pada tahun 1914 Syekh Ahmad Surkati mendirikan perkumpulan Al Irsyad. Sementara itu ada pihak yang tidak sependapat dengan Ahmad Surkati tentang mahzab mendirikan organisasi sendiri yang disebut Ar Rabithat Al Alawiyah.

Organisasi yang sehaluan dengan Al Irsyad yaitu Muhammadiyah, Persis, Thawalib sedangkan yang bersimpati dengan Ar Rabithat yaitu Persatuan Tarbiyatul Islamiyah, Jamiyatul Washliyah, Musyawarah Thaliban (Chadidjah Nasution, 1970).

Thawalib. Keadaan masyarakat di Sumatera Barat awal abad ke-20 sangat menyedihkan karena pencemaran terhadap Islam makin meluas. Faktor internal dan eksternal menyebabkan perlunya permurnian ajaran agama Islam. Sekelompok pemuda yang belajar pada Syekh Ahmad Khatib di Mekkah membawa pemikiran Islam modern yang digerakkan oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Majalah dan surat kabar dari luar berhasil masuk dan mempengaruhi anak-anak yang mengaji di surau. Semua ini merupakan penyebab lahirnya Sumatera Thawalib pada tahun 1918. Organisasi ini bertujuan untuk mengusahakan dan memajukan ilmu pengetahuan dan pekerjaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kemajuan dunia akhirat menurut Islam. Kemudian organisasi itu berubah menjadi Persatuan Muslim Indonesia yang memperluas tujuannya, yaitu Indonesia merdeka dan Islam jaya.

Islam dan kebebasan dijadikan azas partai ini karena pertama, oerganisasi itu ingin merebut anggota dari partai yang sangat besar pengaruhnya pada waktu itu, yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) yang berazaskan Islam dan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berazaskan kebangsaan; kedua, Islam dan kebangsaan tidak bertentangan sama sekali dan cinta tanah air adalah bagian dari iman; dan ketiga, organisasi ini berharap memperoleh dukungan dari anggotanya untuk membasmi kemungkaran dan penindasan sampai tercapai tujuan politiknya, yaitu Indonesia merdeka dan Islam jaya. Dalam gerakan politik mencapai Indonesia merdeka ini, orang-orang Sumatera Thawalib tampil sebagai ujung tombaknya di Sumatera Barat.

Organisasi Sumatera Thawalib khususnya bergerak di bidang pendidikan dan politik dengan cepat meluas keseluruh Sumatera Barat. Sebagai organisasi politik terbesar dengan politiknya yang radikal terpaksa menghentikan kegiatannya pada tahun 1936 karena terkena larangan pemerintah. Perjuangan organisasi ini diteruskan secara perseorangan baik di Sumatera Barat maupun di tempat lain (Burhannuddin Daya, 1990).

Persatuan Thawalib Islamiyah (Perti). Organisasi yang didirikan oleh ulama-ulama di Sumatera Barat yang tidak setuju dengan Thawalib antara lain Syekh Sulaiman ar Rasuly. Ia mengatakan bahwa pendalaman Bahasa Arab diperlukan untuk memenuhi panggilan ijtihad.

Organisasi ini bermahzab Syafii dan mematuhinya secara konsekuen. Kegiatan utamanya dalam bidang pendidikan adalah mendirikan madrasah. Komunikasi dengan anggotanya dilakukan dengan majalah Suarti (Suara Tarbiyatul Islamiyah), Al Mizan (Bahasa Arab), Perti Bulletin. Organisasi ini tidak bergabung dengan organisasi lain dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia berdiri sebagai partai politik dengan nama Partai Tarbiyatul Islamiyah (Perti).

Persatuan Muslimin Tapanuli (PMT). Organisasi ini didirikan dengan alasan yang sama dengan Perti, berupa penolakan terhadap pemakaian mahzab dalam Thawalib pada tahun 1930. Syekh Musthafa Perbabaru adalah pendirinya dan setelah kemerdekaan organisasi ini bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang menebar di Sumatera Utara.

Persatuan Islam (Persis). Akibat dari pembatasan gerakan Jamiyatul Khair di Jakarta maka berdirilah Persis di bawah Kyai Hasan di Bandung pada tahun 1923. Organisasi ini berusaha meningkatkan kesadaran beragama dan semangat ijtihad dengan mengadakan dakwah dan pembentukan kader melalui madrasah dan sekolahan. Pemberantasan kemaksiatan merupakan tujuan utama Persis.

Musyawarah Thalibin. Organisasi ini timbul di Kalimantan Selatan sebagai pewaris dari Sarekat Islam (SI) yang sudah dicurigai oleh pemerintah. Usaha Sarekat Islam (SI) di bidang pendidikan dilanjutkan dengan mendirikan Madrasah Darussalam. Madrasah ini dilengkapi dengan asrama dan sawah serta ladangnya sehingga para santri belajar hidup sendiri dari hasil yang mereka kerjakan.

Pada tahun 1930, setelah Syekh Abdurrasyid Amuntasi kembali dari Mesir diadakan modernisasi di bidang pendidikan dengan mendirikan lembaga pendidikan Mahad Rasyidiyah yaitu lembaga pendidikan lengkap dari taman kanak-kanak sampai sekolah tinggi, dan juga membuka sekolah guru.

Al Jamiyatul Wasliyah. Persoalan mahzab tidak pernah terselesaikan di dalam Thawalib, Perti, dan PMT. Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai pendapat di antara organisasi yang ada. Oleh karena itu organisasi ini berusaha mempertemukan pendapat yang berbeda-beda dari berbagai macam aliran yang timbul di Sumatera Utara. Organisasi yang diresmikan pada tahun 1930 itu menekankan pada mahzab Syafii, tetapi bagi anggotanya bebas mengamalkan dan mengambangkan ilmunya masing-masing. Dengan demikian Al Wasliyah menjadi tempat berhimpunnya ummat yang tidak menyukai pertentangan dan perdebatan.

Dalam perkembangan selanjutnya Al Wasliyah tidak ketinggalan mengembangkan pendidikan dan usaha sosial seperti membuka panti sosial untuk anak yatim piatu. Selanjutnya organisasi ini bergabung dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Tidak berbeda dengan keadaan di daerah lain, kegagalan Sarekat Islam (SI) selanjutnya oleh PUSA di Aceh. Organisasi ini dibentuk pada tanggal 5 Mei 1939 di Peusangan, Bireuen yang diketuai oleh Tgk.M. Daud Beureueh berusaha meningkatkan syiar Islam dengan meningkatkan pendidikan agar terlaksana syiar Islam dalam masyarakat. Dalam perjuangannya organisasi ini bergabung dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Nahdlatul Wathan. Organisasi ini timbul sebagai lanjutan dari Sarekat Islam (SI) di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berusaha meningkatkan kesadaran beragama. Tekanan utama dari usaha organisasi itu adalah membuka sekolah-sekolah. Dalam perjuangannya ia menggabungkan diri dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments