Indische Partij (IP)

04:46:00

 Indische Partij (IP)


Gambar dari foto tokoh Indische Partij (IP) yang dikenal dengan Tiga Serangkai. Foto dari kiri ke kanan: Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), E.F.E. Douwes Dekker (Setyabudi), dan Cipto Mangunkusumo.
Keistimewaan Indische Partij (IP) adalah usianya yang pendek tetapi anggaran dasarnya dijadikan program politik pertama di Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker (DD) alias Setyabudi di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 dan merupakan organisasi campuran orang Indo dan Bumiputra. Douwes Dekker ingin melanjutkan Indische Bond, organisasi campuran Erasia dan Eropa yang didirikan pada tahun 1898. Indische Partij menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu setelah ia bekerja sama dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara yang kemudian mereka itu dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai.

Indische Partij adalah organisasi campuran yang menginginkan kerja sama orang Indo dan Bumiputra. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit maka diperlukan kerja sama dengan orang Bumiputra agar kedudukan organisasinya semakin kuat. Lagi pula disadari bahwa usaha sekeras apapun bagi orang Indo tidak akan mendapat keuntungan maksimal jika hanya berusaha sendiri tanpa bantuan orang Bumiputra. Orang-orang Indo lahir dari perkawinan campuran antara laki-laki Belanda dengan wanita Bumiputra. Menurut pengakuannya, orang Indo cenderung ikut kultur ayahnya yang dianggapnya lebih tinggi dari pada kultur ibunya. Dalam keadaan seperti ini mereka berpijak pada dua dunia. Turut pada dunia ayahnya, mereka merasa senang, tetapi dalam kenyataannya di masyarakat kedudukan mereka tidak sama dengan orang totok (sebutan untuk keturunan Belanda asli), sedangkan jika mereka ikut pada kultur ibunya jelas tidak mendapatkan keuntungan sosial politik. Mereka terasing dari orang totok yang didatangkan dari Belanda dan jauh dari kedudukan yang baik, misalnya pegawai pemerintahan atau perkebunan, di tempatkan oleh totok. Keadaan seperti ini menjadi semakin buruk setelah berkembangnya perkebunan yang berarti makin banyak orang totok yangd datang dan sebaliknya orang Indo semakin tersingkir. Orang totok jauh lebih terampil dari pada orang Indo, maka tidak mengherankan jika terjadi persaingan dalam perburuhan niscaya orang Indo tidak akan menang.

Douwes Dekker dapat dikatakan memiliki segalanya, akalnya terang, otaknya tajam, jiwanya kritis, tekadnya teguh, sedangkan keberaniannya untuk melahirkan segala yang terkandung dalam hatinya sangat besar. Douwes Dekker masih mempunyai hubungan keluarga dengan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, penulis Max Havelaar yang membela petani Banten dalam masa Tanam Paksa. Ia lahir pada tahun 1879 dari keturunan campuran ayahnya Belanda dan ibunya Indo. Rupanya pengalaman hidupnyalah yang menjiwai gerakan politiknya.

Setelah tamat dari Hoogere Burgerschool (HBS) di Jakarta, ia menjadi pengawas perkebunan kopi di Jawa Timur dan ia dipecat dari pekerjaannya karena dekat dengan buruh. Setelah itu, ia dibuang ke Srilangka karena menjadi sukarelawan yang membantu petani Belanda melawan tentara Inggris dalam Perang Boer di Afrika Selatan. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1902. Ia menjadi koresponden Harian de Locomotief di Semarang, kemudian pindah ke Harian Soerabajasch Handelsblad, dan akhirnya menetap di harian Bataviaasch Nieuwsblad. 

Ia berpendapat bahwa hanya melalui kesatuan aksi melawan kolonial dapat mengubah sistem yang berlaku. Keadilan bagi semua suku bangsa merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat anitesis antara penjajah dan terjajah, penguasa dan yang dikuasai. Selanjutnya ia berpendapat bahwa setiap gerakan politik yang sehat harus mempunyai prinsip bahwa ideologi partai politik haruslah kemerdekaan yang menjadi tujuan akhir. Pendapat itu kemudian disalurkan lewat majalah  Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres.

Sementara itu Douwes Dekker banyak berhubungan dengan para pelajar sekolah STOVIA di Jakarta dan karena ia menjadi redaktur Bataviaasch Nieuwsblad maka tidak mengherankan kalau ia banyak berkenalan dan memberi kesempatan kepada penulis-penulis muda dalam surat kabar. Menurut Suwardi meskupin pendiri Indische Partij adalah orang Indo, tetapi ia tidak mengenal supremasi Indo atau penduduk Bumiputra, bahkan ia menghendaki hilangnya golongan Indo dengan melebur diri dalam masyarakat Bumiputra. Perjuangan untuk berjuang menentang perbedaan sosial politik inilah yang mendasari tindakan Suwardi Suryaningrat selanjutnya dengan mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 dan menentang Undang-Undang Sekolah Liar pada tahun 1933. Di sisi lain, dr. Cipto Mangunkusumo meneruskan perjuangannya yang radikal meskipun ia dibuang bersama Douwes Dekker ke Belanda pada tahun 1913. Tahun 1926, ia dibuang lagi ke Banda yang sebelumnya dipenjarakan dua tahun di Bandung. Sebelum Jepang masuk, ia dibebaskan dari penjara dan meninggal pada tahun 1943.

Jiwa dinamis Douwes Dekker sudah diawali ketika ia melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September sampai dengan 3 Oktober 1912. Dalam perjalanannya itu ia mengadakan rapat-rapat dengan elit lokal di Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Cirebon. Douwes Dekker disambut hangat oleh pengurus Budi Utomo di Yogyakarta. Mereka diajak untuk membangkitkan semangat golongan Indier guna membangkitkan kekuatan politik untuk menentang penajajah. Perjalanan itu menghasilkan tanggapan di kota-kota yang dikunjunginya dan akhirnya dapat didirikan 30 Cabang Indische Partij dengan anggota 7300 orang. Sebagian besar dari mereka adalah orang Indo dan hanya sekitar 1500 orang Bumiputra (Koch, 1951:45).

Konsep kebangsaan Indiers disebarluaskan oleh Douwes Dekker karena ia berpendapat bahwa Indie dalam koloni Nederlandsch-Indie harus disadarkan dan dibebaskan dari belenggu penjajahan. Dari Anggaran Dasar Indische Partij dapat disimpulkan bahwa dari tujuan Indische Partij adalah untuk membangun patriotisme Bangsa Hindia kepada tanah air yang telah memberi lapangan hidup, dan menganjurkan kerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Ini berarti bahwa secara tidak langsung Indische Partij menolak kehadiran orang totok sebagai penguasa dan sekaligus melahirkan perasaan kebangsaan yang pertama karena mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Jelas bahwa Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang menampung semua suku bangsa di Hindia yang diajak menuju kemerdekaan Indonesia. Paham kebangsaan ini setelah melalui perjalanan panjang diolah dalam Perhimpunan Indonesia (1924) dan Partai Nasional Indonesia (1927) (Abdurrachman Surjomihardjo, 1979:73).

Sikap dan tindakan politik organisasi pergerakan ternyata berbeda-beda. Demikian pula pemerintah kolonial berbeda dalam cara menanggapinya. Sikap hati-hati pada Budi Utomo berbeda dengan sikap Sarekat Islam yang tenang dipermukaan dan bergejolak di bawah permukaan, dan berbeda lagi dengan Indische Partij yang radikal yang menentut kemerdekaan. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan pemerintah bersikap keras terhadap Indische Partij. Permohonan Indische Partij untuk mendapatkan badan hukum sia-sia belaka dan organisasi itu dinyatakan sebagai pertai terlarang sejak tanggal 4 Maret 1913. Usia Indische Partij sangat pendek dan tidak lebih dari enam bulan.

Sudah disebut di muka, meski usia Indische Partij sangat pendek tetapi khususnya dua orang rekannya yang mengikuti Tiga Serangkai jiwanya sangat berpengaruh pada para pemimpin pergerakan pada waktu itu. Memang pengaruh Douwes Dekker cukup luas dan hal ini diakui oleh Gubernur Jenderal Idenburg dalam suratnya kepada van Kol, anggota Eerste Kamer dari Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) di Nederland, yang antara lain sebagai berikut, “Bayangkanlah tuan, pergerakan seperti Sarekat Islam dapat dipengaruhi oleh seorang seperti Douwes Dekker. Bahaya yang akan ditimbulkan dan tidak dapat dilihat dari luar lebih besar. Pimpinan cabang-cabang Sarekat Islam dipegang oleh intelektual muda yang dipengaruhi secara pribadi oleh Douwes Dekker. Bagi kepentingan gerakan yang besar itu, saya terpaksa mengambil tindakan...”.

Tindakan Idenburg ini dilakukan setelah larangan terhadap Indische Partij dan karena ulah bekas pimpinannya di dalam Komite Bumiputra. Hal ini dilakukan berhubungan dengan maksud pemerintah mengadakan ulang tahun ke-100 kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.

Pada dasarnya komite tidak setuju dengan maksud pemerintah karena bertentangan dengan kenyataan. Sungguh sangat ironis kalau pesta itu harus dibiayai dari pajak yang ditarik dari orang Bumiputra. Sementara itu komite menuntut agar diadakan Parlemen India, dicabut pasal 111 Regeerings Reglement, dan tetap dipertahankannya hak mengeluarkan pendapat di koloni. Di dalam komite itu, dr. Cipto Mangunkusumo diangkat sebagai ketua dan Suwardi Suryaningrat sebagai sekretaris. Surat edaran Surwardi Suryaningrat yang berjudul Als ik een Nederlander was adalah kritik pedas terhadap pemerintah dan pada kesempatan ini pemerintah membalas dengan membuang Tiga Serangkai. Tahun 1919, Douwes Dekker pulang ke Indonesia dan pada tahun 1940 dibuang ke Suriname dan baru pada tahun 1947 kembali ke Indonesia. Dalam Kabinet Syahrir ia diangkat sebagai Menteri Negara, dan menjadi Dewan Pertimbangan Agung, kemudian meninggal pada tahun 1950.

Pembuangan Tiga Serangkai memiliki dampak luas, bahkan dampaknya bukan hanya ada di koloni tetapi juga ada di negara induk. Di Belanda terjadi perdebatan politik di Dewan Perwakilan Rakyat Belanda tentang pergerakan rakyat Indonesia. Di Indonesia makin menjadi kebutuhan untuk memperjuangkan hak-hak Bumiputra. Aksi Komite Bumiputra menghidupkan tumbuhnya kesadaran dan perlunya persatuan untuk mencapai perubahan ketatanegaraan. Perlu diketahui pula bahwa pergerakan di Indonesia dikenal di luar negeri melalui tulisan-tulisan penulis sosialis Belanda yang pada waktu itu menaruh perhatian yang besar sekali terhadap pergerakan rakyat Indonesia.

Usia Indische Partij pendek namun bagaikan sebuah tornado yang melanda Jawa. Oleh penerusnya setelah Indische Partij dibubarkan dan pimpinannya dibuang kemudian organisasi ini bernama Insulide, namun organisasi itu tidak mendapat sambutan masyarakat luas meskipun pada tahun 1919 diganti namanya menjadi Nationlaal Indische Partij (NIP). Kenyataan tidak dapat ditolak bahwa orang Indo masih merasa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Bumiputra. Perasaan lebih tinggi di kalangan Indo ini menyebabkan mereka banyak yang keluar dan menggabungkan diri dalam Indo Europeesch Verbond (IEV) yang didirikan pada tahun 1919. 

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments