Depresi Tinjauan Psikologi

Thursday, November 17, 2016
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 1)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

1. Pendahuluan
Pada zaman modern ini, banyak manusia mengalami stres, kecemasan, dan kegelisahan. Akan tetapi stres dan depresi masih dianggap bukan benar-benar suatu penyakit. Padahal keduanya merupakan sumber dari berbagai penyakit dan lebih bertanggung jawab terhadap banyaknya kematian. Stres dan depresi yang dibiarkan berlarut membebani pikiran dan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Pada penelitian di Amerika, sebanyak 28 orang dari 32 orang pasien telah mengalami stres dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Stres mental itu menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi tidak normal (Brain Mind Buletin, 1978).

Berdasarkan penelitian Katon dan Sullivan (1990), diperkirakan 15 sampai 33 persen orang yang pergi ke dokter sebenarnya menderita penyakit karena sebab emosional, seperti stres, khawatir, ketakutan, frustasi, dan rasa tidak aman. Hal-hal tersebutlah yang menjadi biang keladi dari timbulnya bermacam-macam keluhan penyakit, di antaranya sariawan, serangan jantung, sudah tidur, usus buntu, diabetes, asma, skizofrenia, gangguan pencernaan, dan bahkan kanker.

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini yang mendapat perhatian serius, sehingga World Health Organization (WHO) memprediksikan pada tahun 2020 nanti depresi menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi berat menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung (www.depression-net.com). Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi (Pujiastuti, 2001).

Di Indonesia pada tahun 1995 terdapat 185 orang dari 1000 orang menderita gangguan mental dan 16,2% dari mereka mengalami depresi (Kompas, 28 Januari 2003). Pada tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah orang yang mengalami stres, dan gila atau rata-rata mengalami gangguan kejiwaan seperti fobia, cemas, dan depresi (Republika, 12 Maret 2009).

Pernyataan di atas perlu dipertanyakan, karena kita semua pernah mengalami keadaan mood jelek, sedih, dan stres, namun tidak semuanya bisa disebut depresi. Menurut kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Text Revision (DSM IV-TR) (2000) seseorang dikatakan menderita depresi jika mengalami keadaan mood depresi selama lebih dari 2 minggu dan pada seseorang yang baru mengalami kejadian yang berat, misalnya mengalami kematian orang yang sangat dicintai, depresi harus sudah berlangsung selama 5 minggu.

Depresi adalah gangguab mood. Kata mood menggambarkan emosi seseorang, serangkaian perasaan yang menggambarkan kenyamanan atau ketidaknyamanan emosi atau dapat diartikan emosi yang bertahan lama yang mewarnai kehidupan dan keadaan kejiwaan seseorang (www.mentalhelp.net).

Mood datang dan pergi, bisa saja saat kita bangun pagi dengan perasaan tersinggung atau merasa tertekan setelah terjadi masalah. Terkadang kita dikuasai mood negatif sehingga sulit untuk tersenyum, memandang sisi yang terang, bahkan sulit untuk mengetahui bahwa masih ada sisi yang terang. Mood berbeda dengan emosi, bila emosi biasanya berlangsung sementara, mood merupakan perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan sampai beberapa bulan (Meier et al., 2000).

Depresi secara umum terdiri dari beberapa jenis, yaitu depresi ringan, depresi sedang, depresi berat, dan gangguan bipolar. Pada depresi ringan dan sedang, penderita tidak perlu mendapatkan perawatan medis karena dapat ditangani sendiri dengan berbagai alternatif penanganan dan pencegahan depresi. Misalnya dengan diet, berolahraga, dan relaksasi. Pada kasus depresi berat perlu diberikan perawatan medis karena penderitanya mengalami berbagai kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Depresi di Masa Sekarang
 Pada masa sekarang, depresi menjadi jenis gangguan kejiwaan yang paling sering dialami oleh masyarakat karena tingkat stres yang sangat tinggi akibat tuntutan hidup yang semakin bertambah. Patrim Sorikin (dalam Kasuda, 1996), sosiolog modern paling produktif dan kontroversial menyebutkan bahwa manusia modern telah jatuh pada mentalitas keindriawian, yaitu cara memandang benar atau salah, ilmiah atau tidak ilmiah, sah atau tidak sah, resmi atau tidak resmi, indah atau buruk, bermoral atau tidak bermoral, dan sesuai hukum atau tidak sesuai hukum, yang ditentukan oleh indera, meterial, dan hawa nafsu sehingga berlawanan dengan mentalitas ideasional di mana spiritual menjadi karakteristik.

Stres dan depresi telah melanda hampir seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, ketegangan, konflik emosional, perasaan negatif seperti benci, iri, dendam, kurang bersyukur, murung, frustasi, dan tekanan batin, semuanya telah bercampur dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin menjahui Tuhan dan memacu untuk mendapatkan dunia.

Stres dan depresi merupakan ancaman besar bagi umat manusia, khususnya di kota-kota besar sehingga keduanya dianggap sebagai penghalang utama bagi seseorang untuk menikmati hidup tentram dan bahagia. Anak-anak remaja di perkotaan saat ini mengalami lebih banyak stress daripada di masa lalu, selain akibat perceraian orang tua, tidak didukung orang tua, pergaulan, dan persaingan ketat untuk mendapatkan pendidikan. Bagi masyarakat lanjut usia, depresi disebabkan karena masalah keuangan, kesepian dari anak dan cucu, dan masalah kesehatan sehingga memicu terjadinya stroke, kanker, penyakit otak dementia, dan penyakit jantung.

Pada saat ini, jumlah penderita depresi berat atau dalam istilah psikologinya Major depression semakin meningkat dan menjadi suatu gangguan mental yang perlu diwaspadai karena:
  • Individu di semua usia, latar  belakang, gaya hidup, dan kebangsaan bisa terkena depresi;
  • Lebih dari 20% masyarakat mengalami simtom depresi;
  • Lebih banyak individu yang mengalami gangguan depresi daripada 50 tahun yang lalu;
  • Sekitar 80% individu yang melakukan bunuh diri diketahui mengalami depresi (www.clinical-dep-ression.co.uk).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments