Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 5)

Tuesday, November 29, 2016
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 5)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

5. Penyebab Depresi
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah ditemukan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhinya. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya depresi atau meningkatkan risiko seseorang terkena depresi, yaitu faktor fisik fan faktor psikologis.

5.1 Faktor Fisik
Pada faktor fisik penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.1.1 Faktor Genetik
Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi, tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja. Sulit untuk menghitung tingkat risiki karena pengaruh dari gen berbeda untuk tiap tipe depresi.

Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan jika ada depresi di dalam keluarga biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi.

Penelitian Kendler (1992) dari Departemen Psikiatri Virginia Commonwealth University terhadap kembar perempuan menunjukkan bahwa anak kembar berbagai faktor risiko terhadap neurotisme dan depresi berkisar antara 70% karena genetik dan 20% karena faktor lingkungan, dan hanya 10% diakibatkan oleh penyebab langsung depresi berat. Artinya jika salah satu kenbar terdeteksi menderita depresi berat, kembar yang lain memiliki faktor risiko yang besar bisa terserang depresi juga.

5.1.2 Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Secara biologis, depresi terjadi di otak karena otak manusia adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih dan memiliki 10 miliar sel serta mampu mengeluarkan miliar pesan tiap detik. Pembawa pesan komunikasi biokimia ini dikenal dengan neurotransmiter.

Penyebab depresi di dari dalam otak dikarenakan kekurangan neurotransmiter sorotonin, norepinephrine, dan dopamine. Selain itu kelebihan jumlah neurotransmiter dapat menyebabkan fase manik dalam periode manik depresi. Oleh karena itu neurotransmiter yang ada di dalam otak harus selalu dalam tingkat normal sehingga berfungsi harmonis.

5.1.3 Faktor Usia
Golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada tahap tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan. Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-24 tahun (Wilkinson, 1995).

Jorn (2000) dalam penelitiannya ditemukan bukti bahwa pada usia dewasa terdapat penurunan kecenderungan kecemasan dan depresi seiring dengan bertambahnya usia. Faktor yang diduga mempengaruhi penurunan tersebut adalah berkurangnya respons emosi seseorang seiring bertambahnya umur, meningkatnya kontrol emosi, dan kekebalan terhadap pengalaman yang stressful.

5.1.4 Gender
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria. Hal ini disebabkan karena perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, dan menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu penyakit depresi. Penelitian Angold (1998) menunjukkan bahwa periode meningkatnya risiko depresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas.

Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlais, 1995). Radolf dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh faktor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens dan adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita serta perbedaan fisiologi dan hormonal dibanding pria.

5.1.5 Gaya Hidup
Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food, atau makanan yang mengandung bahan perasa, pengawet dan pewarna buatan, kurang berolahraga, merokok, dan meminum-minuman keras (Hendranata, 2004).

Pada usia lanjut usia, depresi lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup, khususnya di atas usia 70 tahun. Terlibat aktivitas sosial mempengaruhi penurunan tingkat depresi, sehingga lansia yang terlibat aktivitas sosial lebih jarang terserang depresi  daripada lansia yang sering sendirian berada di rumah saja.

5.1.6 Penyakit Fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit, misalnya penyakit depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin karena seseorang merasa mereka baru saja mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba menjadi orang yang tidak berdaya. Penelitian Ebrahim (1987), terdapat 149 penderita stroke menunjukkan adanya gangguan afektif depresi pada penderita stroke akut setelah enam bulan.

Beberapa penyakit menyebabkan depresi karena pengaruhnya terhadap tubuh. Menurut McKenzie (1999) ada beberapa penyakit yang dihubungkan dengan depresi, yaitu acromrgaly, addixon’s desease, alkohol, brain abscess, brain haemorrhage, brain tumours, chronic fatigue syndrome, cushing’s desease, dementia, diabetes, encephalitis, luka pada kepala, masalah jantung, hyperparathyroidism, hypopituitarism, hyoithyroidism, multiple sclerosis, paronson’s desease, luka berat pada kepada, tubercolosis dan  minintis, kekuranga vitamin, penyakit oleh virus termasuk influenza, dan masalah keseimbangan air dalam tubuh, misalnya kekurangan garam, tinggi atau rendahnya kalsium dalam tubuh.

5.1.7 Obat-Obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapar menyebabkan depresi, namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi dan menghentikan pengobatan karena dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut (McKenzie (1999), ada beberapa obat yang menyebabkan depresi, yaitu tablet antiepilepsy, obat antitekanan darah tinggi, obat antimalaria-mefloquine (lariam), obat antiparkonson, obat kemotrapi yang beberapa digunakan untuk pengobatan kanker, pil kontrasepsi berupa kontrasepsi yang digabung dan kemungkinan pada pil progestogen saja, digitalis, diuretics, interferon-alfa yang digunakan untuk pengobatan hepatitis C, obat penenang, dan terapi steroid untuk asma, arthritis, dan lain-lain).

5.1.8 Obat-Obatan Terlarang
Obat-obatan terlarang dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan. Menurut Brees (2008), beberapa obat-obatan terlarang yang menimbulkan depresi yaitu marjiuana atau ganja, heroin atau putaw, kokaina, ekstasi, meth atau sabu-sabu.

5.1.9 Kurangnya Cahaya Matahari
Kebanyakan dari kita lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, sehingga ketika musim dingin kita bisa menjadi depresi. Penyakit seperti ini juga disebut menderita Seasonal Affective Disorder (SAD). Oleh karena itu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari Seasonal Affective Disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi depresi dalam waktu seminggu.

5.2 Faktor Psikologis
Pada faktor psikologis penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.2.1 Kepribadian
Individu-individu yang rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1997).

Menurut Gordon Parker dari Black Dog Institute (www.working-well.com), seseorang yang menunjukkan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi, yaitu mengalami kecemasan tingkat tinggi, seseorang pencemas atau mudah terpengaruh; seorang pemalu atau minder; seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah; seseorang yang hipersensitif; seseorang yang perfeksionis; dan seseorang yang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focussed).

5.2.2 Pola Pikir
McWilliam dan Bloomfield (2008) mengatakan seseorang dengan pikiran negatif dapat mengembangkan kebiasaan buruk  dan prilaku yang merusak diri sendiri. Di antara perilaku atau gaya hidup yang negatif dapat menyebabkan atau memperparah depresi, yaitu makan terlalu banyak, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, alkoholisme, merokok, pecandu judi, mengutil mencuri di toko, gangguan seksual, workaholisme atau kecanduan kerja.

5.2.3 Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi individu. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri akan menghasilkan sikap dan percaya diri, rasa kuat menghadapi sesuatu, rasa damai dan sebaliknya, bila semua tidak terpenuhi maka akan membuat seorang individu mempunyai mental yang lemah dan berpikir negatif (Maslow dalam Petri, 2004).

Selfe-esteem bervariasi dari positif ke sangat negatif, sehingga terlalu positif dan negatid tidak baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, harga diri yang sehat adalah berada di antara kedua esteem tersebut yaitu punya pandangan yang seimbang dan akurat.

5.2.4 Stres
Reaksi terhadap stres sering kali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa yang dialami. Menurut Beck (1985) ada beberapa kondisi yang dapat mencetuskan depresi berupa stres yang spesifik dapat menimbulkan situasi yang dapat menurunkan harga diri, menghambat tujuan penting, penyakit atau gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi stres yang datang bertubi-tubi; stres nonspesifik dapat mengembangkan bentuk-bentuk gangguan psikologis tertentu bila dihadapkan pada stres meskipun hal itu tidak mengenai kepekaan perasaan yang spesifik; dan faktor-faktor lain yang memberi arah di luar faktor spesifik dan nonspesifik namun mampu mengembangkan depresi.

Depresi tidak hanya disebabkan oleh konsekuensi kehilangan seseorang yang amat berarti bagi penderitanya, akan tetapi ditentukan juga bagaimana cara mereka memandang kehidupan tersebut sebagai suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya atau menganggap sebagai takdir, kesalahan diri, suatu hal yang mengancam, atau yang lain (Peterson, 1988).

5.2.5 Lingkungan Keluarga
Beberapa faktor yang mempengaruhi psikologis seseorang pada lingkungan keluarga diakibatkan dari kehilangan orang tua ketika masih anak-anak, jenis pengasuhan, penyiksaan fisik dan seksual ketika kecil. Hal-hal tersebut dangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang terkena depresi.

5.2.6 Penyakit Jangka Panjang
Orang-orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang. Starkstein (1990) menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara tingkat ketidakmampuan pada penderita parkinson dengan tingkat depresi. Hal ini juga didukung dengan penelitian Von Korff (1992) yang menunjukkan pasien medis yang mengalami ketidakmampuan fisik dan memerlukan perawatan berisiko terkena depresi berat.

5.2.7 Fisik atau Psikologis Mana Duluan?
Depresi dapat disebabkan oleh kondisi fisik, yaitu ketidakseimbangan biokimia dalam tubuh yang disebabkan oleh faktor bawaan, hormon, penyakit maupun zat dari obat-obatan dan psikologis berupa pikiran yang negatif karena kejadian yang tidak menyenangkan. Kekurangan neurotransmiter dapat berpengaruh pada pikiran dan tindakan yang negatif, dan pikiran serta tindakan negatif dapat berpengaruh terhadap neurotransmiter. Apapun yang akan menyebabkan depresi, ini akan menciptakan spiral menurun yang dapat memperparah depresi.

Pengobatan antidepresi dapat membantu memulihkan keseimbangan neurotransmiter otak. Beberapa terapi jangka pendek (paling seringterapi kognitif dan interpersonal), mengajarkan kebiasaan pikiran dan tindakan yang baru. Pendekatan medis dan psikoterapi telah sukses dalam menangani depresi.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments