Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 4)

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 4)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

4. Jenis-Jenis Depresi
Penggolongan atau klasifikasi depresi hingga saat ini masih sukar diterima terutama oleh kalangan psikiatr, dalam arti tidak dapat satu cara klasifikasi depresi yang diterima secara universal. Hanya sistem klasifikasi resmi seperti PPDGJ II revisi yang menghubungkan sindroma depresi dengan nosologi tertentu.

4.1 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Tingkat Penyakit 
Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO) (dalam www.workingwell.org.au), berdasarkan tingkat penyakitnya, depresi dibagi menjadi:

  • Mild depression/minor depression dan dysthymic disorder (depresi ringan), disebabkan mood yang rendah datang dan pergi dan penyakit datang setelah kejadian stressful yang spesifik;
  • Moderate depression (depresi sedang), disebabkan mood yang rendah berlangsung terus dan individu mengalami simtom fisik juga walaupun berbeda-beda tiap individu;
  • Severe depression/major depression (depresi berat), disebabkan gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati hal yang menyenangkan, dan penting untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin.

4.2 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Klasifikasi Nosologi 
Klasifikasi nosologi dari keadaan depresi telah terbukti bernilai dalam prakter klinik dan telah dibakukan oleh World Health Organization (WHO). Unuk mencapai hal itu diperlukan penilaian yang menyeluruh dari semua fakta yang diperoleh dari pemeriksaan fisik, dari riwayat penyakit, dan dari eksplorasi keadaan psikologinya. Jenis-jenis depresi menurut klasifikasi nosologi, yaitu:

  • Depresi psikogenik, biasanya disebabkan akibat adanya kejadian yang dapat membuat seseorang sedih atau stres berat. Berdasarkan tanda dan gejalanya, depresi psikogenik dibagi menjadi depresi reaktif, exhaustion depression, dan depresi neurotik.
  • Depresi endogenik, biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah psikologis atau fisik tertentu, tetapi bisa jadi dicetuskan oleh trauma fisik maupun psikis. Depresi ini disebut pula depresi pada usia lanjut yang timbul pada usia 60-65 tahun pada laki-laki dan usia 50-60 tahun pada wanita.
  • Depresi somatogenik, faktor-faktor jasmani dianggap berperan dalam timbulnya depresi, dan depresi ini terbagi kedalam beberapa tipe seperti depresi organik dan depresi simptomatik.

4.3 Jenis-Jenis Depresi Menurut Penyebab, Gejala, dan Arah Penyakit 
Menurut Gre Wilkinson (1995), depresi dapat dibedakan berdasarkan menurut penyebab, gejala, dan arah penyakit, yaitu:

  • Penggolongan depresi menurut penyebabnya, bisa berupa depresi reaktif (stres dari luar) dan endogenus (stres dari dalam);
  • Penggolongan depresi menurut gejalanya, yang digolongkan sebagai depresi neurotik (pengalaman) dan psikotik (halusinasi);
  • Penggolongan depresi menurut arah penyakit, yang terjadi sendiri dan tidak dihubungkan dengan penyakit manik (lawan dari depresi dan sifat orang tersebut sangat gembira) disebut sebagai depresi unipolar dan bipolar.

4.4 Depresi Tersembunyi 
Depresi tersembunyi merupakan depresi dengan gangguan fisik misalnya keletihan, sakit kepala, tidak nafsu makan, dan susah tidur yang kadang kala tanpa disertai dengan kesehihan sehingga sering dianggap oleh penderita sebagai gangguan fisik dan stres. Depresi tersembunyi atau terselubung dapat berwujud keluhan-keluhan masalah fisik, sehingga biasanya penderita tidak menyangka bahwa keluhan-keluhan fisik tersebut sudah merupakan gejala depresi.

Dr. Zarate mengatakan bahwa banyak wanita yang berpikir bahwa mereka hanya stres, terlalu capai bekerja yang padahal sebenarnya mereka terkena depresi. Gejala fisik dari depresi sering tidak dihiraukan oleh pasien dan dokter sehingga menyebabkan penyakit tidak terdiagnosis dan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang (Graves, 2007).

4.5 Depresi Pada Perempuan 
Pada masa dewasa, diyakini bahwa depresi pada perempuan disebabkan oleh banyaknya stres yang dihadapi. Selain itu, hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, misalnya siklus menstruasi, kehamilan, kelahiran, ketidaksuburan, dan menopause mengubah mood pada beberapa perempuan termasuk terjadinya depresi. Beberapa penyebab depresi pada perempuan yang dibagi berdasarkan waktunya, yaitu:

  • Sindroma Pramenstruasi, suatu tingkat kecemasan yang diakibatkan fase siklus menstruasi;
  • Menopause, peristiwa normal yang tidak terjadi akibat stres, tetapi sering kali menyebabkan stres yang berat pada wanita dalam rentang usia reproduktif;
  • Depresi pasca melahirkan, kondisi yang muncul segera setelah wanita melahirkan.

4.6 Depresi Pada Remaja 
Depresi pada remaja sebagian besar tidak terdiagonasis sampai akhirnya mereka mengalami kesulitan yang serius dalam sekolah, pekerjaan, dan penyesuaian pribadi yang sering kali berlanjut pada masa dewasa (Blackman, 1995). Masa remaja adalah masa pemberontakan dan percobaan tingkah laku. Tantangan bagi para psikolog adalah untuk mengidentifikasi simtomatologi depresi pada remaja mungkin bersembunyi di dalam badai perkembangan (Siswanto, 2007).

Menurut beberapa penelitian (Fritz, 1995) sekitar 5% dari remaja menderita simtom depresi, misalnya kesedihan yang menetap, prestasi yang menurun dan kurangnya ketertarikan pada tugas yang dahulu disukai. Stres pada remaja perempuan dan laki-laki berbeda. Perbedaan tersebut yang menyebabkan lebih tingginya kecenderungan depresi pada perempuan.

Faktor risiko depresi bagi remaja adalah kejadian yang sangat menimbulkan stres, chid abuse atau kekerasan terhadap anak bisa berupa secara fisik maupun seksual, pengasuhan yang tidak stabil sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan sosial, penyakit kronis seperti ginjal dan kanker, serta sejarah keluarga yang mengalami depreso. Simtom-simtom depresi yang biasanya dialami oleh remaja, yaitu berupa mood yang suram atau mudah tersinggung, kemarahan, hilangnya minat melakukan sesuatu, berkurangnya kesenangan melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan nafsu makan (bisa berkurang atau meningkat), perubahan berat badan, kesulitan tidur, mengantuk disiang hari, kelelahan, kesulitan konsentrasi.

Banyak sekolah yang mencegah depresi dengan mengajarkan pada siswanya strategi mengatasi stres. Program ini paling efektif untuk siswa yang berisiko depresi (Lamarine, 1995). Faktor yang penting dalam mencegah depresi adalah hubungan yang positif dengan orang tua. Hal ini sangat penting bagi remaja awal (Sanford, 1996).

4.7 Depresi Pada Anak-Anak 
Simtom depresi pada anak-anak sama seperti simtom depresi pada orang dewasa, namun anak-anak tidak memiliki cukup banyak kata-kata untuk mengekspresikannya sehingga mereka mengekspresikannya melalui prilaku. Beberapa tanda depresi pada anak di usia TK dan SD, seperti anak tampak sakit, lebih sedikit bergerak, beberapa anak menjadi mudah menangis dan mudah tersinggung secara spontan jika frustasi.

Ditemukan bahwa anak-anak yang mengalami stres karena kejadian seperti perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga berisiko terkena depresi, namun bahkan anak-anak biasa juga bisa terkena depresi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan depresi punya toleransi yang rendah terhadap stres.

Berdasarkan National Institute of Mental Health, beberapa konsekuensi dari depresi anak-anak yaitu:

  • Sekali anak mengalami episode depresi, dia berisiko mendapat episode yang lain dalam 5 tahun;
  • Depresi pada masa anak-anak dapat memprediksi depresi yang lebih berat pada masa dewasa;
  • Depresi pada anak-anak dan remaja diasosiasikan dengan meningkatnya prilaku bunuh diri. (www.psychcenter.com)

Pengobatan depresi pada anak-anak dapat menggunakan terapi bermain. Terapi bermain biasanya biasanya dilakukan pada anak-anak usia 3-11 tahun. Bermain memberikan suatu cara bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaan melalui proses alami, penyembuhan, dan pengarahan.

4.8 Burnout
Burnout adalah keadaan seseorang di tempat kerja, yang ditandai dengan menurunnya produktivitas karena stres di tempat kerja yang terus menerus. Burnout sangat berkaitan dengan depresi, yaitu:

  • Burnout dapat menyebabkan depresi (Maslach, 1982);
  • Depresi dapat menyebabkan burnout (Glass, Mc Knigth, Valdirnarsdottir, 1993);
  • Burnout dan depresi berhubungan dengan beberapa faktor (Glass et al, 1993).

Menurut Maslach (1982), ada 3 simtom dari burnout, seperti kelelahan emosional,  depresonalization, dan berkurangnya pencapaian pribadi sehingga menyebabkan menururnya kualitas dan kuantitas pekerjaan.

Sumber atau penyebab burnout, sebagaimana dikemukakan oleh Cherniss (1991), Maslach (!982), dan Sullivan (1989), terdiri dari empat faktor, yaitu faktor keterlibatan dengan pelanggan, faktor lingkungan kerja, faktor individu, dan faktor sosial budaya.

Menurut berbagai penelitian, faktor-faktor yang menjadi penyebab burnout adalah:

  • Tuntutan pekerjaan baik secara emosional maupun beban kerja yang tinggi (Vegchel, Jonge, Dormann, 2004);
  • Ditekan oleh atasan atau percaya telah ditekan oleh atasa (Westman dan Etzion, 2001);
  • Kurangnya sumber daya untuk pekerjaan (Lee dan Ashforth, 1993).

Walaupun burnout dan depresi berbeda namun memiliki beberapa kesamaan. Persamaan antara depresi dan burnour adalah penderita sama-sama mengalami kelelahan emosional yang mengakibatkan produktivitas kerja menurun. Oleh karena itu, kedua gangguan tersebut perlu ditangani dengan serius.

Baca Selanjutnya (Bagian 5) >>>>
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments