Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 3)

21:19:00

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 3)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

3. Gejala-Gejala Depresi 
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilang rasa percaya diri, hilangnya semangat kerja, dan menurunnya daya tahan. Menurut pengertian, gejala adalah sekumpulan peristiwa, prilaku, atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan.

Gejala depresi adalah kumpulan dari prilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Gejala depresi dapat dilihat dari tiga segi, yaitu segi fisik, psikis, dan sosial. Berikut akan dijelaskan gejala depresi berdasarkan dari ketiga segi tersebut:

3.1 Gejala Fisik
Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi, seperti gangguan pola tidur, menurunnya tingkat aktivitas, menurunnya efesiensi kerja, menurunnya produktivitas kerja, serta mudah merasa letih dan sakit.

3.2 Gejala Psikis
Ada beberapa tanda-tanda dari gejala psikis yang dapat diperhatikan di lingkungan kehidupan kita. Tanda-tanda tersebut mungkin anda atau rekan anda miliki, seperti kehilangan rasa percaya diri, sensitif, merasa diri tidak berguna, perasaan bersalah, dan perasaan terbebani.

3.3 Gejala Sosial
Masalah depresi dapat mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Bagaimana tidak, problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah yang timbul bukan hanya berbentuk konflik, namun juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok, dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal.

3.4 Simtom-Simtom Depresi
Beck (1967) membuat simtom atau gejala depresi menjadi beberapa kategori, seperti simtom-simtom emosional, kognitif, motivasional, dan fisik. Secara rinci akan kategori tersebut akan dipaparkan di bawah ini:

3.4.1 Simtom-Simtom Emosional
Simtom-simtom depresi adalah perubahan perasaan atau tingkah laku yang merupakan akibat langsung dari keadaan emosi. Pada penelitian Beck menyebutkan, manifestasi emosional yang meliputi penerunan mood, pandangan negatif terhadap diri sendiri, tidak lagi merasakan kepuasan, menangis, hilangnya respon yang menggembirakan. Bahkan peningkatan depresi mempengaruhi pada kegiatan-kegiatan biologis, seperti minum, makan, dan hubungan seks.

3.4.2 Simtom-Simtom Kognitif
Beck (1967) menyebutkan menifestasi kognitifnya antara lain yakni penilaian diri sendiri yang rendah, harapan-harapan yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan, distorsi body image. Pandangan negatif sering menjadi sumber frustasi, sehingga penderita depresi sering beranggapan bahwa keadaan yang tidak mencukupi ini (kondisi sosial, fisik, finansial) akan berlanjut atau bertambah buruk di masa mendatang. Bahkan ada beberapa kasus menyebutkan bahwa kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya ada yang menyalahkan diri sendiri.

3.4.3 Simtom-Simtom Motivasional
Hilangnya motivasi dapat dijumpai pada penderita depresi mulai dari 65%-86%, sehingga dorongan-dorongan dan implus-implus yang meninjol dalam depresi mengalami regrasi, terutama aktivitas-aktivitas yang menuntut tanggung jawab atau inisiatif serta energi yang cukup besar. Di samping itu, cenderung menunda kegiatan yang tidak memberi kepuasan segara dan lebih sering melamun daripada mengerjakan sesuatu serta beberapa pekerjaan yang pasif, seperti menonton televisi, bioskop, ataupun hanya tidur-tiduran di kamar. Meskipun keinginan tersebut juga dijumpai pada individu nondepresi, namun frekuensinya lebih sering dijumpai pada penderita depresi.

Beck (1967) mencatat angka 74% keinginan bunuh diri pada penderita depresi dan 12% bagi nondepresi. Pada klien, keinginan bunuh diri berlangsung terus-menerus sepanjang ia sakit, sedangkan pada penderita lain secara sporadis dan perlahan-lahan.

Simtom motivasional berikutnya ialah peningkatan dependensi. Beck (1967) mendefinisikan dependensi sebagai keinginan untuk memperoleh pertolongan dan petunjuk pada orang lain. Oleh karena itu, pada tingkat ekstrem, individu yang dependen ingin orang lain melakukan semua hal bagi dirinya tanpa ia bersusah payah.

3.4.4 Simtom-Simtom Fisik
Menurut Beck (1967) di antara simtom fisik tersebut adalah kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, mudah lelah, dan kehilangan libido. Mudah lelah ditemui pada 79% penderita depresi dan 33% pada nondepresi. Beberapa klien mengalami simtom mudah lelah ini sebagai gejala fisik sepenuhnya, anggota badan seperti kaki dan tangan terasa berat.

3.5 Perkembangan Depresi
3.5.1 Predisposisi Depresi
Pengembangan konsep diri bersumber dari pengalaman pribadi, keputusan orang lain terhadap diri, dan dari identifikasi terhadap orang yang signifikan. Bila sudah terbentuk maka konsep tersebut akan mempengaruhi cara individu memberi penilaian terhadap pengalaman berikutnya.

Penilaian atau konotasi yang dikaitkan dengan konsep diri adalah hal yang dapat mempertajam predisposisi depresi. Ketika depresi aktif terkonstelasi akan terjadi rangkaian peristiwa sebagai berikut, seperti individu menginterprestasikan pengalaman sebagai kegagalan atau hambatan pribadi dan menghubungkan dengan kekurangan dirinya, menganggap dirinya tidak berharga, membenci diri karena mempunyai kekurangan itu, dan menyalahkan diri. Dia menganggap kekurangan itu adalah bagian penting dari dirinya, maka dia tidak memiliki harapan akan terjadinya perubahan dan memandang masa depan sebagai yang tidak memberi kepuasan atau berisi hal-hal menyakitkan.

3.5.2 Precipitation of Depression
Individu yang mempunyai gabungan konstelasi dan sikap-sikap yang telah dijabarkan, memiliki predisposisi untuk mengembangkan depresi klinis pada kehidupan selanjutnya. Konstelasi depresi tersebut dapat menjadi depresi bergantung pada kondisi yang mampu mengaktifkan konstelasi tersebut, seperti:
  • Stress yang spesifik. Kondisi atau peristiwa yang memiliki persamaan dengan pengalaman traumatis pada masa lalu, misalnya situasi yang dapat menurunkan harga diri, situasi yang dapat menghambat tujuan penting atau dilema yang harus dipecahkan, penyakit berupa gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi yang berulang;
  • Stres yang non spesifik. Individu akan dapat mengembangkan bentuk gangguan psikologis bila dihadapkan pada stres yang berlebihan;
  • Faktor-faktor lain. Beck menyebut salah satu faktor sebagai ketegangan psikologis yaitu yang stimulasi nya berlebihan atau berkepanjangan periode kembali kepada ketegangan psikologis.
Baca Selanjutnya (Bagian 4) >>>>

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments