Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 2)

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 2)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

2. Pengertian Depresi
Depresi sebagai sindrom klinis telah diketahui sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Permasalahan dalam depresi ini adalah mengenai sifat dasar, klasifikasi, dan etiologinya.

2.1 Sejarah Depresi 
Pada zaman dahulu, masyarakat percaya semua penyakit mental disebabkan oleh kekuatan supranatural dan cara menyembuhkannya adalah dengan mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh penderita ( Zax dan Cowen, 1976).

Teori mengenai kepribadian manusia yang berasal dari Yunani menjelaskan tentang fenomena fisik dan psikologis dengan cara yang lebih ilmiah. Empedocles (490-420 SM) mengembangkan teori humoral didasarkan empat elemen yang dikarekteristik oleh cairan tubuh, yaitu:
  • Elemen api yang mengeluarkan kualitas panas yang berasal dari cairan darah di jantung;
  • Elemen tanah atau bumi yang mengeluarkan kualitas kering yang berasal dari cairan plegma di otak;
  • Elemen air yang mengeluarkan kualitas basah yang berasal dari cairan lendir kuning di hati; dan
  • Elemen udara yang mengeluarkan dingin yang berasal dari cairan lendir hitam di limpa.
Ketidakseimbangan cairan daripada keempat elemen yang ada di dalam tubuh akan mengakibatkan munculnya penyakit, sehingga cara mengobatinya dilakukan dengan berlawanan dari penyakit yang ada. Teori humoral Empedocles selanjutnya diterapkan lagi oleh Hippocrates (460-377 SM).

Pada teori tersebut Hippocrates mengatakan bahwa semua penyakit dan gangguan mental dijelaskan secara alamiah. Mimpi buruk dan kecemasan disebabkan oleh meningkatnya aliran lendir hitam ke otak, melankolia disebabkan oleh kelebihan lendir hitam (Gelder, Mayau, dan Cowen. 1998).

Dari teori yang diterapkan Hippocrates melahirkan pembagian kepribadian berdasarkan teori cairan tubuh, yaitu:
  • Kepribadian sanguin berasal dari cairan darah di jantung sehingga memunculkan kualitas semangat;
  • Kepribadian plagmatic berasal dari cairan plegma di otak sehingga memunculkan kualitas lamban;
  • Kepribadian kholeric berasal dari cairan lendir kuning di hati sehingga memunculkan kualitas keras; dan
  • Kepribadian melancholic berasal dari cairan lendir hitam di limpa sehingga memunculkan kualitas murung.
Pada abad ke-19, beberapa ahli mencoba mengungkapkan penyebab terjadinya penyakit mental, seperti Wilhelm Griesinger (1817-1868) dan Emil Kraeplin (1855-1926). Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa penyakit mental adalah penyakit somatis dan penyebabnya selalu dapat ditemukan di otak. Selain itu, Emil Kraeplin (1855-1926) percaya bahwa faktor heraditas merupakan penyebab penyakit mental, walaupun kemudian dia menemukan bahwa faktor metabolis yang mempengaruhi timbulnya penyakit mental (Zax dan Cowen, 1976).

Pendapat dari kedua ahli di atas kemudian memunculkan pandangan baru oleh seorang ahli yang bernama Freud. Pada pandangan Freud, dia meyakinkan bahwa pasien itu adalah individu yang unik dengan masa lalu yang berbeda-beda. Pandangan yang dikeluarkan oleh Freud bertahan sampai tahun 1970-an yang kemudian diikuti perkembangan ilmu genetik, biokimia, dan neuropatologi yang menyebabkan gangguan mental dan terkenal dengan nama biological psychiatry (www.priori.com).

2.2 Definisi Depresi 
Istilah depresi sudah begitu populer, akan tetapi arti yang sebenarnya dari depresi itu sukar didefenisikan secara tepat. Orang awam menggunakan istilah depresi dengan sangat bebas dan umum, yaitu suatu keadaan kesedihan dan ketidakbahagiaan. Misalnya ketika seseorang berada dalam kondisi berduka karena kehilangan orang yang dicintai, maka hal tersebut merupakan kejadian wajar bila terjadi pada minggu, minggu pertama namun menjadi suatu penyakit bila kesedihan dalam jangka waktu yang lama.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Rathus (1991) menyatakan orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi. Menurut Atkinson (1991) depresi sebagai sautu gangguan mood yang dicirikan tidak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan mencoba bunuh diri. 

Secara sederhana depresi dapat diartikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dan suatu perasaan tidak ada harapan lagi. Depresi adalah gangguan perasaan (efek) yang ditandai dengan efek disforik (kehilangan kegembiraan atau gairah) disertai dengan gejala-gejala lain, seperti gangguan tidur dan menurunkan selera makan.

2.3 Perbedaan Depresi Dengan Gangguan Lainnya
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara depresi dan gangguan psikologis lainnya, seperti stres dan kecemasan agar kita dapat menentukan gangguan psikologis yang sedang diderita  sehingga dapat memperoleh terapi yang tepat.

2.3.1 Depresi dan Kecemasan 
Kecemasan adalah  tanggapan dari sebuah ancaman, nyata, atau khayal. Kecemasan juga bisa berkembang menjadi gangguan jika menimbulkan ketakutan yang hebat dan menetap pada individu tersebut.

Salah satu definisi kecemasan adalah perasaan yang anda alami ketika berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan terjadi atau bisa juga diartikan takut akan kelemahan (Priest, 1994).
Menurut Prof. Robert Priest (1994), sumber-sumber umum dari kecemasan, yaitu pergaulan, kesehatan, anak-anak, kehamilan, menuju usia tua, kegoncangan rumah tangga, pekerjaan, kenaikan pangkat, kesulitan keuangan, problem-problem, dan ujian-ujian. Pada saat menghadapi kecemasan, tubuh mengalami reaksi fisik meliputi berdebar-debar, gemetar, ketegangan, gelisah atau sulit tidur, keringat, dan tanda-tanda fisik lainnya.

Kecemasan memusatkan pikiran pada suatu ancaman yang akan datang. Depresi seperti kecemasan dapat menjadi suatu masalah bila sudah kelewatan batas sehingga memutuskan kapan depresi menjadi suatu masalah adalah keputusan yang sangat sulit dalam banyak kasus. Oleh karena itu, pada saat terjadinya kecemasan, sebaiknya anda mencari bantuan untuk menghadapi dan mengatasinya.

2.3.2 Stres dan Depresi 
Menurut Prof. Peter Tyler (dalam Kasuda, 1996) stres adalah perasaan tidak enak yang disebabkan oleh persoalan-persoalan di luar kendali kita atau reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan.

Menurut Lazarus (1984), stres merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungan, yang dinilai individu sebagai suatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimiliki, serta mengancam kesejahteraannya. Sehubungan dengan itu, Lazarus membagi stres menjadi dua macam, yaitu: 
  • Pertama, stres yang mengganggu dan biasanya disebut juga dengan distress; 
  • Kedua, stres yang tiak mengganggu dan memberikan perasaan bersemangat yang disebut sebagai eustress atau stres baik.
Tuntutan secara umum yang dapat memunculkan stres dapat diklarifikasikan dalam beberapa bentuk seperti, frustasi, konflik, tekanan, dan ancaman. Oleh karena itu, orang yang tidak mampu mengatasi keadaan emosinya akan mudah terserang distress, tetapi orang yang mampu mengatasinya akan terhindar. Ciri-ciri orang mengalami distress yaitu mudah marah, cepat tersinggung, sulit berkonsentrasi, sukar mengambil keputusan, pelupa, pemurung, tidak energik, selalu merasa cemas atau takut, dan cepat bingung.

Kadang kala sulit untuk membedakan apakah seseorang mengalami distress atau depresi, akan tetapi seseorang baru disebut menderita depresi jika gangguan psikologi tersebut telah berlangsung dalam waktu lama atau lebih dari 2 minggu (APA, 2000).

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments