Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 5)

Tuesday, November 29, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 5)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

5. Penyebab Depresi
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah ditemukan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhinya. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya depresi atau meningkatkan risiko seseorang terkena depresi, yaitu faktor fisik fan faktor psikologis.

5.1 Faktor Fisik
Pada faktor fisik penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.1.1 Faktor Genetik
Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi, tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja. Sulit untuk menghitung tingkat risiki karena pengaruh dari gen berbeda untuk tiap tipe depresi.

Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan jika ada depresi di dalam keluarga biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi.

Penelitian Kendler (1992) dari Departemen Psikiatri Virginia Commonwealth University terhadap kembar perempuan menunjukkan bahwa anak kembar berbagai faktor risiko terhadap neurotisme dan depresi berkisar antara 70% karena genetik dan 20% karena faktor lingkungan, dan hanya 10% diakibatkan oleh penyebab langsung depresi berat. Artinya jika salah satu kenbar terdeteksi menderita depresi berat, kembar yang lain memiliki faktor risiko yang besar bisa terserang depresi juga.

5.1.2 Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Secara biologis, depresi terjadi di otak karena otak manusia adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih dan memiliki 10 miliar sel serta mampu mengeluarkan miliar pesan tiap detik. Pembawa pesan komunikasi biokimia ini dikenal dengan neurotransmiter.

Penyebab depresi di dari dalam otak dikarenakan kekurangan neurotransmiter sorotonin, norepinephrine, dan dopamine. Selain itu kelebihan jumlah neurotransmiter dapat menyebabkan fase manik dalam periode manik depresi. Oleh karena itu neurotransmiter yang ada di dalam otak harus selalu dalam tingkat normal sehingga berfungsi harmonis.

5.1.3 Faktor Usia
Golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada tahap tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan. Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-24 tahun (Wilkinson, 1995).

Jorn (2000) dalam penelitiannya ditemukan bukti bahwa pada usia dewasa terdapat penurunan kecenderungan kecemasan dan depresi seiring dengan bertambahnya usia. Faktor yang diduga mempengaruhi penurunan tersebut adalah berkurangnya respons emosi seseorang seiring bertambahnya umur, meningkatnya kontrol emosi, dan kekebalan terhadap pengalaman yang stressful.

5.1.4 Gender
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria. Hal ini disebabkan karena perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, dan menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu penyakit depresi. Penelitian Angold (1998) menunjukkan bahwa periode meningkatnya risiko depresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas.

Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlais, 1995). Radolf dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh faktor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens dan adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita serta perbedaan fisiologi dan hormonal dibanding pria.

5.1.5 Gaya Hidup
Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food, atau makanan yang mengandung bahan perasa, pengawet dan pewarna buatan, kurang berolahraga, merokok, dan meminum-minuman keras (Hendranata, 2004).

Pada usia lanjut usia, depresi lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup, khususnya di atas usia 70 tahun. Terlibat aktivitas sosial mempengaruhi penurunan tingkat depresi, sehingga lansia yang terlibat aktivitas sosial lebih jarang terserang depresi  daripada lansia yang sering sendirian berada di rumah saja.

5.1.6 Penyakit Fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit, misalnya penyakit depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin karena seseorang merasa mereka baru saja mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba menjadi orang yang tidak berdaya. Penelitian Ebrahim (1987), terdapat 149 penderita stroke menunjukkan adanya gangguan afektif depresi pada penderita stroke akut setelah enam bulan.

Beberapa penyakit menyebabkan depresi karena pengaruhnya terhadap tubuh. Menurut McKenzie (1999) ada beberapa penyakit yang dihubungkan dengan depresi, yaitu acromrgaly, addixon’s desease, alkohol, brain abscess, brain haemorrhage, brain tumours, chronic fatigue syndrome, cushing’s desease, dementia, diabetes, encephalitis, luka pada kepala, masalah jantung, hyperparathyroidism, hypopituitarism, hyoithyroidism, multiple sclerosis, paronson’s desease, luka berat pada kepada, tubercolosis dan  minintis, kekuranga vitamin, penyakit oleh virus termasuk influenza, dan masalah keseimbangan air dalam tubuh, misalnya kekurangan garam, tinggi atau rendahnya kalsium dalam tubuh.

5.1.7 Obat-Obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapar menyebabkan depresi, namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi dan menghentikan pengobatan karena dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut (McKenzie (1999), ada beberapa obat yang menyebabkan depresi, yaitu tablet antiepilepsy, obat antitekanan darah tinggi, obat antimalaria-mefloquine (lariam), obat antiparkonson, obat kemotrapi yang beberapa digunakan untuk pengobatan kanker, pil kontrasepsi berupa kontrasepsi yang digabung dan kemungkinan pada pil progestogen saja, digitalis, diuretics, interferon-alfa yang digunakan untuk pengobatan hepatitis C, obat penenang, dan terapi steroid untuk asma, arthritis, dan lain-lain).

5.1.8 Obat-Obatan Terlarang
Obat-obatan terlarang dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan. Menurut Brees (2008), beberapa obat-obatan terlarang yang menimbulkan depresi yaitu marjiuana atau ganja, heroin atau putaw, kokaina, ekstasi, meth atau sabu-sabu.

5.1.9 Kurangnya Cahaya Matahari
Kebanyakan dari kita lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, sehingga ketika musim dingin kita bisa menjadi depresi. Penyakit seperti ini juga disebut menderita Seasonal Affective Disorder (SAD). Oleh karena itu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari Seasonal Affective Disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi depresi dalam waktu seminggu.

5.2 Faktor Psikologis
Pada faktor psikologis penyebab depresi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya, seperti:

5.2.1 Kepribadian
Individu-individu yang rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1997).

Menurut Gordon Parker dari Black Dog Institute (www.working-well.com), seseorang yang menunjukkan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi, yaitu mengalami kecemasan tingkat tinggi, seseorang pencemas atau mudah terpengaruh; seorang pemalu atau minder; seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah; seseorang yang hipersensitif; seseorang yang perfeksionis; dan seseorang yang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focussed).

5.2.2 Pola Pikir
McWilliam dan Bloomfield (2008) mengatakan seseorang dengan pikiran negatif dapat mengembangkan kebiasaan buruk  dan prilaku yang merusak diri sendiri. Di antara perilaku atau gaya hidup yang negatif dapat menyebabkan atau memperparah depresi, yaitu makan terlalu banyak, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, alkoholisme, merokok, pecandu judi, mengutil mencuri di toko, gangguan seksual, workaholisme atau kecanduan kerja.

5.2.3 Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi individu. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri akan menghasilkan sikap dan percaya diri, rasa kuat menghadapi sesuatu, rasa damai dan sebaliknya, bila semua tidak terpenuhi maka akan membuat seorang individu mempunyai mental yang lemah dan berpikir negatif (Maslow dalam Petri, 2004).

Selfe-esteem bervariasi dari positif ke sangat negatif, sehingga terlalu positif dan negatid tidak baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, harga diri yang sehat adalah berada di antara kedua esteem tersebut yaitu punya pandangan yang seimbang dan akurat.

5.2.4 Stres
Reaksi terhadap stres sering kali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa yang dialami. Menurut Beck (1985) ada beberapa kondisi yang dapat mencetuskan depresi berupa stres yang spesifik dapat menimbulkan situasi yang dapat menurunkan harga diri, menghambat tujuan penting, penyakit atau gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi stres yang datang bertubi-tubi; stres nonspesifik dapat mengembangkan bentuk-bentuk gangguan psikologis tertentu bila dihadapkan pada stres meskipun hal itu tidak mengenai kepekaan perasaan yang spesifik; dan faktor-faktor lain yang memberi arah di luar faktor spesifik dan nonspesifik namun mampu mengembangkan depresi.

Depresi tidak hanya disebabkan oleh konsekuensi kehilangan seseorang yang amat berarti bagi penderitanya, akan tetapi ditentukan juga bagaimana cara mereka memandang kehidupan tersebut sebagai suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya atau menganggap sebagai takdir, kesalahan diri, suatu hal yang mengancam, atau yang lain (Peterson, 1988).

5.2.5 Lingkungan Keluarga
Beberapa faktor yang mempengaruhi psikologis seseorang pada lingkungan keluarga diakibatkan dari kehilangan orang tua ketika masih anak-anak, jenis pengasuhan, penyiksaan fisik dan seksual ketika kecil. Hal-hal tersebut dangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang terkena depresi.

5.2.6 Penyakit Jangka Panjang
Orang-orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang. Starkstein (1990) menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara tingkat ketidakmampuan pada penderita parkinson dengan tingkat depresi. Hal ini juga didukung dengan penelitian Von Korff (1992) yang menunjukkan pasien medis yang mengalami ketidakmampuan fisik dan memerlukan perawatan berisiko terkena depresi berat.

5.2.7 Fisik atau Psikologis Mana Duluan?
Depresi dapat disebabkan oleh kondisi fisik, yaitu ketidakseimbangan biokimia dalam tubuh yang disebabkan oleh faktor bawaan, hormon, penyakit maupun zat dari obat-obatan dan psikologis berupa pikiran yang negatif karena kejadian yang tidak menyenangkan. Kekurangan neurotransmiter dapat berpengaruh pada pikiran dan tindakan yang negatif, dan pikiran serta tindakan negatif dapat berpengaruh terhadap neurotransmiter. Apapun yang akan menyebabkan depresi, ini akan menciptakan spiral menurun yang dapat memperparah depresi.

Pengobatan antidepresi dapat membantu memulihkan keseimbangan neurotransmiter otak. Beberapa terapi jangka pendek (paling seringterapi kognitif dan interpersonal), mengajarkan kebiasaan pikiran dan tindakan yang baru. Pendekatan medis dan psikoterapi telah sukses dalam menangani depresi.

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 4)

Saturday, November 26, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 4)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

4. Jenis-Jenis Depresi
Penggolongan atau klasifikasi depresi hingga saat ini masih sukar diterima terutama oleh kalangan psikiatr, dalam arti tidak dapat satu cara klasifikasi depresi yang diterima secara universal. Hanya sistem klasifikasi resmi seperti PPDGJ II revisi yang menghubungkan sindroma depresi dengan nosologi tertentu.

4.1 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Tingkat Penyakit 
Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO) (dalam www.workingwell.org.au), berdasarkan tingkat penyakitnya, depresi dibagi menjadi:

  • Mild depression/minor depression dan dysthymic disorder (depresi ringan), disebabkan mood yang rendah datang dan pergi dan penyakit datang setelah kejadian stressful yang spesifik;
  • Moderate depression (depresi sedang), disebabkan mood yang rendah berlangsung terus dan individu mengalami simtom fisik juga walaupun berbeda-beda tiap individu;
  • Severe depression/major depression (depresi berat), disebabkan gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati hal yang menyenangkan, dan penting untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin.

4.2 Jenis-Jenis Depresi Berdasarkan Klasifikasi Nosologi 
Klasifikasi nosologi dari keadaan depresi telah terbukti bernilai dalam prakter klinik dan telah dibakukan oleh World Health Organization (WHO). Unuk mencapai hal itu diperlukan penilaian yang menyeluruh dari semua fakta yang diperoleh dari pemeriksaan fisik, dari riwayat penyakit, dan dari eksplorasi keadaan psikologinya. Jenis-jenis depresi menurut klasifikasi nosologi, yaitu:

  • Depresi psikogenik, biasanya disebabkan akibat adanya kejadian yang dapat membuat seseorang sedih atau stres berat. Berdasarkan tanda dan gejalanya, depresi psikogenik dibagi menjadi depresi reaktif, exhaustion depression, dan depresi neurotik.
  • Depresi endogenik, biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah psikologis atau fisik tertentu, tetapi bisa jadi dicetuskan oleh trauma fisik maupun psikis. Depresi ini disebut pula depresi pada usia lanjut yang timbul pada usia 60-65 tahun pada laki-laki dan usia 50-60 tahun pada wanita.
  • Depresi somatogenik, faktor-faktor jasmani dianggap berperan dalam timbulnya depresi, dan depresi ini terbagi kedalam beberapa tipe seperti depresi organik dan depresi simptomatik.

4.3 Jenis-Jenis Depresi Menurut Penyebab, Gejala, dan Arah Penyakit 
Menurut Gre Wilkinson (1995), depresi dapat dibedakan berdasarkan menurut penyebab, gejala, dan arah penyakit, yaitu:

  • Penggolongan depresi menurut penyebabnya, bisa berupa depresi reaktif (stres dari luar) dan endogenus (stres dari dalam);
  • Penggolongan depresi menurut gejalanya, yang digolongkan sebagai depresi neurotik (pengalaman) dan psikotik (halusinasi);
  • Penggolongan depresi menurut arah penyakit, yang terjadi sendiri dan tidak dihubungkan dengan penyakit manik (lawan dari depresi dan sifat orang tersebut sangat gembira) disebut sebagai depresi unipolar dan bipolar.

4.4 Depresi Tersembunyi 
Depresi tersembunyi merupakan depresi dengan gangguan fisik misalnya keletihan, sakit kepala, tidak nafsu makan, dan susah tidur yang kadang kala tanpa disertai dengan kesehihan sehingga sering dianggap oleh penderita sebagai gangguan fisik dan stres. Depresi tersembunyi atau terselubung dapat berwujud keluhan-keluhan masalah fisik, sehingga biasanya penderita tidak menyangka bahwa keluhan-keluhan fisik tersebut sudah merupakan gejala depresi.

Dr. Zarate mengatakan bahwa banyak wanita yang berpikir bahwa mereka hanya stres, terlalu capai bekerja yang padahal sebenarnya mereka terkena depresi. Gejala fisik dari depresi sering tidak dihiraukan oleh pasien dan dokter sehingga menyebabkan penyakit tidak terdiagnosis dan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang (Graves, 2007).

4.5 Depresi Pada Perempuan 
Pada masa dewasa, diyakini bahwa depresi pada perempuan disebabkan oleh banyaknya stres yang dihadapi. Selain itu, hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, misalnya siklus menstruasi, kehamilan, kelahiran, ketidaksuburan, dan menopause mengubah mood pada beberapa perempuan termasuk terjadinya depresi. Beberapa penyebab depresi pada perempuan yang dibagi berdasarkan waktunya, yaitu:

  • Sindroma Pramenstruasi, suatu tingkat kecemasan yang diakibatkan fase siklus menstruasi;
  • Menopause, peristiwa normal yang tidak terjadi akibat stres, tetapi sering kali menyebabkan stres yang berat pada wanita dalam rentang usia reproduktif;
  • Depresi pasca melahirkan, kondisi yang muncul segera setelah wanita melahirkan.

4.6 Depresi Pada Remaja 
Depresi pada remaja sebagian besar tidak terdiagonasis sampai akhirnya mereka mengalami kesulitan yang serius dalam sekolah, pekerjaan, dan penyesuaian pribadi yang sering kali berlanjut pada masa dewasa (Blackman, 1995). Masa remaja adalah masa pemberontakan dan percobaan tingkah laku. Tantangan bagi para psikolog adalah untuk mengidentifikasi simtomatologi depresi pada remaja mungkin bersembunyi di dalam badai perkembangan (Siswanto, 2007).

Menurut beberapa penelitian (Fritz, 1995) sekitar 5% dari remaja menderita simtom depresi, misalnya kesedihan yang menetap, prestasi yang menurun dan kurangnya ketertarikan pada tugas yang dahulu disukai. Stres pada remaja perempuan dan laki-laki berbeda. Perbedaan tersebut yang menyebabkan lebih tingginya kecenderungan depresi pada perempuan.

Faktor risiko depresi bagi remaja adalah kejadian yang sangat menimbulkan stres, chid abuse atau kekerasan terhadap anak bisa berupa secara fisik maupun seksual, pengasuhan yang tidak stabil sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan sosial, penyakit kronis seperti ginjal dan kanker, serta sejarah keluarga yang mengalami depreso. Simtom-simtom depresi yang biasanya dialami oleh remaja, yaitu berupa mood yang suram atau mudah tersinggung, kemarahan, hilangnya minat melakukan sesuatu, berkurangnya kesenangan melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan nafsu makan (bisa berkurang atau meningkat), perubahan berat badan, kesulitan tidur, mengantuk disiang hari, kelelahan, kesulitan konsentrasi.

Banyak sekolah yang mencegah depresi dengan mengajarkan pada siswanya strategi mengatasi stres. Program ini paling efektif untuk siswa yang berisiko depresi (Lamarine, 1995). Faktor yang penting dalam mencegah depresi adalah hubungan yang positif dengan orang tua. Hal ini sangat penting bagi remaja awal (Sanford, 1996).

4.7 Depresi Pada Anak-Anak 
Simtom depresi pada anak-anak sama seperti simtom depresi pada orang dewasa, namun anak-anak tidak memiliki cukup banyak kata-kata untuk mengekspresikannya sehingga mereka mengekspresikannya melalui prilaku. Beberapa tanda depresi pada anak di usia TK dan SD, seperti anak tampak sakit, lebih sedikit bergerak, beberapa anak menjadi mudah menangis dan mudah tersinggung secara spontan jika frustasi.

Ditemukan bahwa anak-anak yang mengalami stres karena kejadian seperti perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga berisiko terkena depresi, namun bahkan anak-anak biasa juga bisa terkena depresi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan depresi punya toleransi yang rendah terhadap stres.

Berdasarkan National Institute of Mental Health, beberapa konsekuensi dari depresi anak-anak yaitu:

  • Sekali anak mengalami episode depresi, dia berisiko mendapat episode yang lain dalam 5 tahun;
  • Depresi pada masa anak-anak dapat memprediksi depresi yang lebih berat pada masa dewasa;
  • Depresi pada anak-anak dan remaja diasosiasikan dengan meningkatnya prilaku bunuh diri. (www.psychcenter.com)

Pengobatan depresi pada anak-anak dapat menggunakan terapi bermain. Terapi bermain biasanya biasanya dilakukan pada anak-anak usia 3-11 tahun. Bermain memberikan suatu cara bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaan melalui proses alami, penyembuhan, dan pengarahan.

4.8 Burnout
Burnout adalah keadaan seseorang di tempat kerja, yang ditandai dengan menurunnya produktivitas karena stres di tempat kerja yang terus menerus. Burnout sangat berkaitan dengan depresi, yaitu:

  • Burnout dapat menyebabkan depresi (Maslach, 1982);
  • Depresi dapat menyebabkan burnout (Glass, Mc Knigth, Valdirnarsdottir, 1993);
  • Burnout dan depresi berhubungan dengan beberapa faktor (Glass et al, 1993).

Menurut Maslach (1982), ada 3 simtom dari burnout, seperti kelelahan emosional,  depresonalization, dan berkurangnya pencapaian pribadi sehingga menyebabkan menururnya kualitas dan kuantitas pekerjaan.

Sumber atau penyebab burnout, sebagaimana dikemukakan oleh Cherniss (1991), Maslach (!982), dan Sullivan (1989), terdiri dari empat faktor, yaitu faktor keterlibatan dengan pelanggan, faktor lingkungan kerja, faktor individu, dan faktor sosial budaya.

Menurut berbagai penelitian, faktor-faktor yang menjadi penyebab burnout adalah:

  • Tuntutan pekerjaan baik secara emosional maupun beban kerja yang tinggi (Vegchel, Jonge, Dormann, 2004);
  • Ditekan oleh atasan atau percaya telah ditekan oleh atasa (Westman dan Etzion, 2001);
  • Kurangnya sumber daya untuk pekerjaan (Lee dan Ashforth, 1993).

Walaupun burnout dan depresi berbeda namun memiliki beberapa kesamaan. Persamaan antara depresi dan burnour adalah penderita sama-sama mengalami kelelahan emosional yang mengakibatkan produktivitas kerja menurun. Oleh karena itu, kedua gangguan tersebut perlu ditangani dengan serius.

Baca Selanjutnya (Bagian 5) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 3)

Tuesday, November 22, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 3)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

3. Gejala-Gejala Depresi 
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilang rasa percaya diri, hilangnya semangat kerja, dan menurunnya daya tahan. Menurut pengertian, gejala adalah sekumpulan peristiwa, prilaku, atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan.

Gejala depresi adalah kumpulan dari prilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Gejala depresi dapat dilihat dari tiga segi, yaitu segi fisik, psikis, dan sosial. Berikut akan dijelaskan gejala depresi berdasarkan dari ketiga segi tersebut:

3.1 Gejala Fisik
Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi, seperti gangguan pola tidur, menurunnya tingkat aktivitas, menurunnya efesiensi kerja, menurunnya produktivitas kerja, serta mudah merasa letih dan sakit.

3.2 Gejala Psikis
Ada beberapa tanda-tanda dari gejala psikis yang dapat diperhatikan di lingkungan kehidupan kita. Tanda-tanda tersebut mungkin anda atau rekan anda miliki, seperti kehilangan rasa percaya diri, sensitif, merasa diri tidak berguna, perasaan bersalah, dan perasaan terbebani.

3.3 Gejala Sosial
Masalah depresi dapat mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Bagaimana tidak, problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah yang timbul bukan hanya berbentuk konflik, namun juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok, dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal.

3.4 Simtom-Simtom Depresi
Beck (1967) membuat simtom atau gejala depresi menjadi beberapa kategori, seperti simtom-simtom emosional, kognitif, motivasional, dan fisik. Secara rinci akan kategori tersebut akan dipaparkan di bawah ini:

3.4.1 Simtom-Simtom Emosional
Simtom-simtom depresi adalah perubahan perasaan atau tingkah laku yang merupakan akibat langsung dari keadaan emosi. Pada penelitian Beck menyebutkan, manifestasi emosional yang meliputi penerunan mood, pandangan negatif terhadap diri sendiri, tidak lagi merasakan kepuasan, menangis, hilangnya respon yang menggembirakan. Bahkan peningkatan depresi mempengaruhi pada kegiatan-kegiatan biologis, seperti minum, makan, dan hubungan seks.

3.4.2 Simtom-Simtom Kognitif
Beck (1967) menyebutkan menifestasi kognitifnya antara lain yakni penilaian diri sendiri yang rendah, harapan-harapan yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan, distorsi body image. Pandangan negatif sering menjadi sumber frustasi, sehingga penderita depresi sering beranggapan bahwa keadaan yang tidak mencukupi ini (kondisi sosial, fisik, finansial) akan berlanjut atau bertambah buruk di masa mendatang. Bahkan ada beberapa kasus menyebutkan bahwa kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya ada yang menyalahkan diri sendiri.

3.4.3 Simtom-Simtom Motivasional
Hilangnya motivasi dapat dijumpai pada penderita depresi mulai dari 65%-86%, sehingga dorongan-dorongan dan implus-implus yang meninjol dalam depresi mengalami regrasi, terutama aktivitas-aktivitas yang menuntut tanggung jawab atau inisiatif serta energi yang cukup besar. Di samping itu, cenderung menunda kegiatan yang tidak memberi kepuasan segara dan lebih sering melamun daripada mengerjakan sesuatu serta beberapa pekerjaan yang pasif, seperti menonton televisi, bioskop, ataupun hanya tidur-tiduran di kamar. Meskipun keinginan tersebut juga dijumpai pada individu nondepresi, namun frekuensinya lebih sering dijumpai pada penderita depresi.

Beck (1967) mencatat angka 74% keinginan bunuh diri pada penderita depresi dan 12% bagi nondepresi. Pada klien, keinginan bunuh diri berlangsung terus-menerus sepanjang ia sakit, sedangkan pada penderita lain secara sporadis dan perlahan-lahan.

Simtom motivasional berikutnya ialah peningkatan dependensi. Beck (1967) mendefinisikan dependensi sebagai keinginan untuk memperoleh pertolongan dan petunjuk pada orang lain. Oleh karena itu, pada tingkat ekstrem, individu yang dependen ingin orang lain melakukan semua hal bagi dirinya tanpa ia bersusah payah.

3.4.4 Simtom-Simtom Fisik
Menurut Beck (1967) di antara simtom fisik tersebut adalah kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, mudah lelah, dan kehilangan libido. Mudah lelah ditemui pada 79% penderita depresi dan 33% pada nondepresi. Beberapa klien mengalami simtom mudah lelah ini sebagai gejala fisik sepenuhnya, anggota badan seperti kaki dan tangan terasa berat.

3.5 Perkembangan Depresi
3.5.1 Predisposisi Depresi
Pengembangan konsep diri bersumber dari pengalaman pribadi, keputusan orang lain terhadap diri, dan dari identifikasi terhadap orang yang signifikan. Bila sudah terbentuk maka konsep tersebut akan mempengaruhi cara individu memberi penilaian terhadap pengalaman berikutnya.

Penilaian atau konotasi yang dikaitkan dengan konsep diri adalah hal yang dapat mempertajam predisposisi depresi. Ketika depresi aktif terkonstelasi akan terjadi rangkaian peristiwa sebagai berikut, seperti individu menginterprestasikan pengalaman sebagai kegagalan atau hambatan pribadi dan menghubungkan dengan kekurangan dirinya, menganggap dirinya tidak berharga, membenci diri karena mempunyai kekurangan itu, dan menyalahkan diri. Dia menganggap kekurangan itu adalah bagian penting dari dirinya, maka dia tidak memiliki harapan akan terjadinya perubahan dan memandang masa depan sebagai yang tidak memberi kepuasan atau berisi hal-hal menyakitkan.

3.5.2 Precipitation of Depression
Individu yang mempunyai gabungan konstelasi dan sikap-sikap yang telah dijabarkan, memiliki predisposisi untuk mengembangkan depresi klinis pada kehidupan selanjutnya. Konstelasi depresi tersebut dapat menjadi depresi bergantung pada kondisi yang mampu mengaktifkan konstelasi tersebut, seperti:
  • Stress yang spesifik. Kondisi atau peristiwa yang memiliki persamaan dengan pengalaman traumatis pada masa lalu, misalnya situasi yang dapat menurunkan harga diri, situasi yang dapat menghambat tujuan penting atau dilema yang harus dipecahkan, penyakit berupa gangguan fisik atau abnormalitas, dan rangkaian situasi yang berulang;
  • Stres yang non spesifik. Individu akan dapat mengembangkan bentuk gangguan psikologis bila dihadapkan pada stres yang berlebihan;
  • Faktor-faktor lain. Beck menyebut salah satu faktor sebagai ketegangan psikologis yaitu yang stimulasi nya berlebihan atau berkepanjangan periode kembali kepada ketegangan psikologis.
Baca Selanjutnya (Bagian 4) >>>>

Depresi Tinjauan Psikologi (Bagian 2)

Tuesday, November 22, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 2)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

2. Pengertian Depresi
Depresi sebagai sindrom klinis telah diketahui sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Permasalahan dalam depresi ini adalah mengenai sifat dasar, klasifikasi, dan etiologinya.

2.1 Sejarah Depresi 
Pada zaman dahulu, masyarakat percaya semua penyakit mental disebabkan oleh kekuatan supranatural dan cara menyembuhkannya adalah dengan mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh penderita ( Zax dan Cowen, 1976).

Teori mengenai kepribadian manusia yang berasal dari Yunani menjelaskan tentang fenomena fisik dan psikologis dengan cara yang lebih ilmiah. Empedocles (490-420 SM) mengembangkan teori humoral didasarkan empat elemen yang dikarekteristik oleh cairan tubuh, yaitu:
  • Elemen api yang mengeluarkan kualitas panas yang berasal dari cairan darah di jantung;
  • Elemen tanah atau bumi yang mengeluarkan kualitas kering yang berasal dari cairan plegma di otak;
  • Elemen air yang mengeluarkan kualitas basah yang berasal dari cairan lendir kuning di hati; dan
  • Elemen udara yang mengeluarkan dingin yang berasal dari cairan lendir hitam di limpa.
Ketidakseimbangan cairan daripada keempat elemen yang ada di dalam tubuh akan mengakibatkan munculnya penyakit, sehingga cara mengobatinya dilakukan dengan berlawanan dari penyakit yang ada. Teori humoral Empedocles selanjutnya diterapkan lagi oleh Hippocrates (460-377 SM).

Pada teori tersebut Hippocrates mengatakan bahwa semua penyakit dan gangguan mental dijelaskan secara alamiah. Mimpi buruk dan kecemasan disebabkan oleh meningkatnya aliran lendir hitam ke otak, melankolia disebabkan oleh kelebihan lendir hitam (Gelder, Mayau, dan Cowen. 1998).

Dari teori yang diterapkan Hippocrates melahirkan pembagian kepribadian berdasarkan teori cairan tubuh, yaitu:
  • Kepribadian sanguin berasal dari cairan darah di jantung sehingga memunculkan kualitas semangat;
  • Kepribadian plagmatic berasal dari cairan plegma di otak sehingga memunculkan kualitas lamban;
  • Kepribadian kholeric berasal dari cairan lendir kuning di hati sehingga memunculkan kualitas keras; dan
  • Kepribadian melancholic berasal dari cairan lendir hitam di limpa sehingga memunculkan kualitas murung.
Pada abad ke-19, beberapa ahli mencoba mengungkapkan penyebab terjadinya penyakit mental, seperti Wilhelm Griesinger (1817-1868) dan Emil Kraeplin (1855-1926). Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa penyakit mental adalah penyakit somatis dan penyebabnya selalu dapat ditemukan di otak. Selain itu, Emil Kraeplin (1855-1926) percaya bahwa faktor heraditas merupakan penyebab penyakit mental, walaupun kemudian dia menemukan bahwa faktor metabolis yang mempengaruhi timbulnya penyakit mental (Zax dan Cowen, 1976).

Pendapat dari kedua ahli di atas kemudian memunculkan pandangan baru oleh seorang ahli yang bernama Freud. Pada pandangan Freud, dia meyakinkan bahwa pasien itu adalah individu yang unik dengan masa lalu yang berbeda-beda. Pandangan yang dikeluarkan oleh Freud bertahan sampai tahun 1970-an yang kemudian diikuti perkembangan ilmu genetik, biokimia, dan neuropatologi yang menyebabkan gangguan mental dan terkenal dengan nama biological psychiatry (www.priori.com).

2.2 Definisi Depresi 
Istilah depresi sudah begitu populer, akan tetapi arti yang sebenarnya dari depresi itu sukar didefenisikan secara tepat. Orang awam menggunakan istilah depresi dengan sangat bebas dan umum, yaitu suatu keadaan kesedihan dan ketidakbahagiaan. Misalnya ketika seseorang berada dalam kondisi berduka karena kehilangan orang yang dicintai, maka hal tersebut merupakan kejadian wajar bila terjadi pada minggu, minggu pertama namun menjadi suatu penyakit bila kesedihan dalam jangka waktu yang lama.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Rathus (1991) menyatakan orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi. Menurut Atkinson (1991) depresi sebagai sautu gangguan mood yang dicirikan tidak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan mencoba bunuh diri. 

Secara sederhana depresi dapat diartikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dan suatu perasaan tidak ada harapan lagi. Depresi adalah gangguan perasaan (efek) yang ditandai dengan efek disforik (kehilangan kegembiraan atau gairah) disertai dengan gejala-gejala lain, seperti gangguan tidur dan menurunkan selera makan.

2.3 Perbedaan Depresi Dengan Gangguan Lainnya
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara depresi dan gangguan psikologis lainnya, seperti stres dan kecemasan agar kita dapat menentukan gangguan psikologis yang sedang diderita  sehingga dapat memperoleh terapi yang tepat.

2.3.1 Depresi dan Kecemasan 
Kecemasan adalah  tanggapan dari sebuah ancaman, nyata, atau khayal. Kecemasan juga bisa berkembang menjadi gangguan jika menimbulkan ketakutan yang hebat dan menetap pada individu tersebut.

Salah satu definisi kecemasan adalah perasaan yang anda alami ketika berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan terjadi atau bisa juga diartikan takut akan kelemahan (Priest, 1994).
Menurut Prof. Robert Priest (1994), sumber-sumber umum dari kecemasan, yaitu pergaulan, kesehatan, anak-anak, kehamilan, menuju usia tua, kegoncangan rumah tangga, pekerjaan, kenaikan pangkat, kesulitan keuangan, problem-problem, dan ujian-ujian. Pada saat menghadapi kecemasan, tubuh mengalami reaksi fisik meliputi berdebar-debar, gemetar, ketegangan, gelisah atau sulit tidur, keringat, dan tanda-tanda fisik lainnya.

Kecemasan memusatkan pikiran pada suatu ancaman yang akan datang. Depresi seperti kecemasan dapat menjadi suatu masalah bila sudah kelewatan batas sehingga memutuskan kapan depresi menjadi suatu masalah adalah keputusan yang sangat sulit dalam banyak kasus. Oleh karena itu, pada saat terjadinya kecemasan, sebaiknya anda mencari bantuan untuk menghadapi dan mengatasinya.

2.3.2 Stres dan Depresi 
Menurut Prof. Peter Tyler (dalam Kasuda, 1996) stres adalah perasaan tidak enak yang disebabkan oleh persoalan-persoalan di luar kendali kita atau reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan.

Menurut Lazarus (1984), stres merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungan, yang dinilai individu sebagai suatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimiliki, serta mengancam kesejahteraannya. Sehubungan dengan itu, Lazarus membagi stres menjadi dua macam, yaitu: 
  • Pertama, stres yang mengganggu dan biasanya disebut juga dengan distress; 
  • Kedua, stres yang tiak mengganggu dan memberikan perasaan bersemangat yang disebut sebagai eustress atau stres baik.
Tuntutan secara umum yang dapat memunculkan stres dapat diklarifikasikan dalam beberapa bentuk seperti, frustasi, konflik, tekanan, dan ancaman. Oleh karena itu, orang yang tidak mampu mengatasi keadaan emosinya akan mudah terserang distress, tetapi orang yang mampu mengatasinya akan terhindar. Ciri-ciri orang mengalami distress yaitu mudah marah, cepat tersinggung, sulit berkonsentrasi, sukar mengambil keputusan, pelupa, pemurung, tidak energik, selalu merasa cemas atau takut, dan cepat bingung.

Kadang kala sulit untuk membedakan apakah seseorang mengalami distress atau depresi, akan tetapi seseorang baru disebut menderita depresi jika gangguan psikologi tersebut telah berlangsung dalam waktu lama atau lebih dari 2 minggu (APA, 2000).

Depresi Tinjauan Psikologi

Thursday, November 17, 2016 0
Resume Buku

Depresi Tinjauan Psikologi
(Bagian 1)

Gambar Cover Buku Depresi Tinjauan Psikologi (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul: Depresi Tinjauan Psikologi
Penulis: Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc.
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun terbit: 2009
Tebal/Jumlah Halaman: 208 Halaman

1. Pendahuluan
Pada zaman modern ini, banyak manusia mengalami stres, kecemasan, dan kegelisahan. Akan tetapi stres dan depresi masih dianggap bukan benar-benar suatu penyakit. Padahal keduanya merupakan sumber dari berbagai penyakit dan lebih bertanggung jawab terhadap banyaknya kematian. Stres dan depresi yang dibiarkan berlarut membebani pikiran dan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Pada penelitian di Amerika, sebanyak 28 orang dari 32 orang pasien telah mengalami stres dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Stres mental itu menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi tidak normal (Brain Mind Buletin, 1978).

Berdasarkan penelitian Katon dan Sullivan (1990), diperkirakan 15 sampai 33 persen orang yang pergi ke dokter sebenarnya menderita penyakit karena sebab emosional, seperti stres, khawatir, ketakutan, frustasi, dan rasa tidak aman. Hal-hal tersebutlah yang menjadi biang keladi dari timbulnya bermacam-macam keluhan penyakit, di antaranya sariawan, serangan jantung, sudah tidur, usus buntu, diabetes, asma, skizofrenia, gangguan pencernaan, dan bahkan kanker.

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini yang mendapat perhatian serius, sehingga World Health Organization (WHO) memprediksikan pada tahun 2020 nanti depresi menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi berat menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung (www.depression-net.com). Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi (Pujiastuti, 2001).

Di Indonesia pada tahun 1995 terdapat 185 orang dari 1000 orang menderita gangguan mental dan 16,2% dari mereka mengalami depresi (Kompas, 28 Januari 2003). Pada tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah orang yang mengalami stres, dan gila atau rata-rata mengalami gangguan kejiwaan seperti fobia, cemas, dan depresi (Republika, 12 Maret 2009).

Pernyataan di atas perlu dipertanyakan, karena kita semua pernah mengalami keadaan mood jelek, sedih, dan stres, namun tidak semuanya bisa disebut depresi. Menurut kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Text Revision (DSM IV-TR) (2000) seseorang dikatakan menderita depresi jika mengalami keadaan mood depresi selama lebih dari 2 minggu dan pada seseorang yang baru mengalami kejadian yang berat, misalnya mengalami kematian orang yang sangat dicintai, depresi harus sudah berlangsung selama 5 minggu.

Depresi adalah gangguab mood. Kata mood menggambarkan emosi seseorang, serangkaian perasaan yang menggambarkan kenyamanan atau ketidaknyamanan emosi atau dapat diartikan emosi yang bertahan lama yang mewarnai kehidupan dan keadaan kejiwaan seseorang (www.mentalhelp.net).

Mood datang dan pergi, bisa saja saat kita bangun pagi dengan perasaan tersinggung atau merasa tertekan setelah terjadi masalah. Terkadang kita dikuasai mood negatif sehingga sulit untuk tersenyum, memandang sisi yang terang, bahkan sulit untuk mengetahui bahwa masih ada sisi yang terang. Mood berbeda dengan emosi, bila emosi biasanya berlangsung sementara, mood merupakan perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan sampai beberapa bulan (Meier et al., 2000).

Depresi secara umum terdiri dari beberapa jenis, yaitu depresi ringan, depresi sedang, depresi berat, dan gangguan bipolar. Pada depresi ringan dan sedang, penderita tidak perlu mendapatkan perawatan medis karena dapat ditangani sendiri dengan berbagai alternatif penanganan dan pencegahan depresi. Misalnya dengan diet, berolahraga, dan relaksasi. Pada kasus depresi berat perlu diberikan perawatan medis karena penderitanya mengalami berbagai kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Depresi di Masa Sekarang
 Pada masa sekarang, depresi menjadi jenis gangguan kejiwaan yang paling sering dialami oleh masyarakat karena tingkat stres yang sangat tinggi akibat tuntutan hidup yang semakin bertambah. Patrim Sorikin (dalam Kasuda, 1996), sosiolog modern paling produktif dan kontroversial menyebutkan bahwa manusia modern telah jatuh pada mentalitas keindriawian, yaitu cara memandang benar atau salah, ilmiah atau tidak ilmiah, sah atau tidak sah, resmi atau tidak resmi, indah atau buruk, bermoral atau tidak bermoral, dan sesuai hukum atau tidak sesuai hukum, yang ditentukan oleh indera, meterial, dan hawa nafsu sehingga berlawanan dengan mentalitas ideasional di mana spiritual menjadi karakteristik.

Stres dan depresi telah melanda hampir seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, ketegangan, konflik emosional, perasaan negatif seperti benci, iri, dendam, kurang bersyukur, murung, frustasi, dan tekanan batin, semuanya telah bercampur dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin menjahui Tuhan dan memacu untuk mendapatkan dunia.

Stres dan depresi merupakan ancaman besar bagi umat manusia, khususnya di kota-kota besar sehingga keduanya dianggap sebagai penghalang utama bagi seseorang untuk menikmati hidup tentram dan bahagia. Anak-anak remaja di perkotaan saat ini mengalami lebih banyak stress daripada di masa lalu, selain akibat perceraian orang tua, tidak didukung orang tua, pergaulan, dan persaingan ketat untuk mendapatkan pendidikan. Bagi masyarakat lanjut usia, depresi disebabkan karena masalah keuangan, kesepian dari anak dan cucu, dan masalah kesehatan sehingga memicu terjadinya stroke, kanker, penyakit otak dementia, dan penyakit jantung.

Pada saat ini, jumlah penderita depresi berat atau dalam istilah psikologinya Major depression semakin meningkat dan menjadi suatu gangguan mental yang perlu diwaspadai karena:
  • Individu di semua usia, latar  belakang, gaya hidup, dan kebangsaan bisa terkena depresi;
  • Lebih dari 20% masyarakat mengalami simtom depresi;
  • Lebih banyak individu yang mengalami gangguan depresi daripada 50 tahun yang lalu;
  • Sekitar 80% individu yang melakukan bunuh diri diketahui mengalami depresi (www.clinical-dep-ression.co.uk).

Bukan Teroris

Thursday, November 17, 2016 0

 Bukan Teroris 

Gambar Ilustrasi Bukan Teroris (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah 
Berlari.
Seorang pemuda terus berlari.
Berlari menyelamatkan diri,
dari kejaran serdadu negeri.

Tergesah-gesah.
Jelas ia tampak tergesah-gesah.
Tak peduli malang-melintang,
keganasan coba menghadang.

Wajah pucat tergambar,
seakan maut mendekat,
ingin menjegat, menangkap,
serta mencabut nyawanya.
Saat muntahan moncong si besi
memaksanya untuk terus berlari.

Dar der dor, dar der dor.
Terdengar nyaring nyanyian senjata,
muntahan beberapa timah.
Membabi buta menembak kesegala arah.

Tak penting keadaan warga,
serdadu bekerja sesukanya,
terlihat bengis dan membabi buta.
Untuk menghabisi nyawa seorang pemuda,
yang tak lain adalah anak bangsa.

Dar der dor, dar der dor.
Tersungkur lemah tubuh ketanah .
Tanah kering terbasuh segar berwarna merah.
Seorang pemuda tertembus timah,
di dada hingga kepala.
Tunas bangsa dimakan bangsa.

Bertanya-tanya pekikan di sekitar,
apa yang terjadi.
Mengapa negeri memvonis mati,
anak negeri telah dikebiri.
Mengapa negeri memvonis mati,
tanpa bertanya siapa diri.
Mengapa negeri memvonis mati,
menghujam timah seakan tiada berarti.
Tunas bangsa telah menyatu bersama bumi.
Balee Siasah Sekret Himas FKIP Unsyiah 
Daruasalam, Banda Aceh 
2 Januari 2015
Ahmadiyah

Ahmadiyah

Monday, November 14, 2016 0
Resume Buku

Ahmadiyah

Organisasi modernis Islam Gerakan Ahmadiyah Indonesia didirikan oleh Mirza Wali Ahmad Beid pada Bulan September 1929. Organisasi ini mendasarkan pada Al Qur’an sebagai kitab suci yang menjadi sumber dan arah hidup terbaik, adanya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup dan manusia harus mengikuti contoh perbuatan, dan mengakui adanya pembaharu (mujjadid) setelah Nabi Muhammad mihrad Mirza Ghulam Ahmad adalah salah seorang mujjadid.

Organisasi ini timbul karena adanya pengaruh dari Ahmadiyah di Kadiam, India yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai mujjadid pada tahun 1884. Ahmadiyah menekankan kewajiban manusia untuk bertindak baik dengan penuh persaudaraan, hormat menghormati, ramah, dan lain sebagainya. Pada tahun 1908 terjadilah perpecahan karena salah seorang pemimpinnya Kwayah Kamaludin, mendirikan Ahmadiyah yang berpusat di Lahore. Ahmadiyah Kadian dan Lahore banyak berpengaruh di Indonesia dan Yogyakarta dijadikan pusatnya. Ahmadiyah di Indonesia ini tidak mencampuri politik dan hanya mempersoalkan prinsip-prinsip keagamaan dalam Islam dan pengaruhnya banyak di kalangan pemuda dan pelajar yang berpendidikan barat. Sebagaimana gerakan modernis organisasi ini menjadi saingan Muhammadiyah. Ahmadiyah di Indonesia banyak mendapat pengaruh dari Lahore karena keduanya mencari titik temu dalam mengembangkan nasionalisme masing-masing (Gerakan Ahmadiyah Lahore, 1979).

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bicaralah

Monday, November 14, 2016 0

 Bicaralah

Gambar Ilustrasi Mickropone
(Doc. Macworld)
Karya: Mhd. Saifullah
Mengapa tidak pernah bersuara?
Bila berdua, selalu berbeda.
Membatasi ego atau menyiksa cinta?

Bukankah saling suka?
Saling berbagi rasa.
Saling menjaga.
Bukankah. Kita juga saling terluka?

Kata mereka, Burni Telong itu
udaranya dingin.
Dan panasnya bibir pantai dapat membakar kulit.
Tapi. Tahukah engkau?
Kedinginanmu bak batu melebihi dinginnya gunung itu.
Logatmu mampu mematikan hati.
Mungkin kebal. Hingga dicincang tidak terasa
bahkan dibakar melebihi panasnya mentari tinggi.

Mengapa tidak pernah bersuara?
Bicaralah.
Bila bersama kita menggema.
Meruntuhkan keegoisan semata
dengan mudah apalagi hanya tembok Cina.

Mengapa tidak pernah bersuara?
Apakah kita harus tunduk dengan bodohnya suasana?
Kajhu, Banda Aceh
8 Oktober 2016
Partai dan Aliran Islam Modern di Indonesia

Partai dan Aliran Islam Modern di Indonesia

Sunday, November 13, 2016 0
Resume Buku 

Partai dan Aliran Islam Modern di Indonesia

Al Irsyad dan Partai Arab Indonesia
Gerakan Islam modern juga dilakukan oleh keturunan Arab. Kelompok sayid yaitu yang mengaku keturunan nabi tetap mengelola Jamiat Khair, sedangkan kelompok yang bukan keturunan sayid mendirikan perkumpulan Al Irsyad pada tahun 1914. Dengan bantuan seorang alim bernama Syekh Ahmad Surkati, asal Sudan, yang semula mengajar di Jamiyatul Khair meneruskan usaha di bidang pendidikan Al Irsyad. Organisasi ini menekankan persamaan antara umat manusia dan berlawanan dengan pendirian golongan sayid.

Keturunan Arab di Indonesia ternyata jumlahnya cukup banyak sehingga perlu diberi wadah dalam partai khusus, lebih-lebih karena mereka merasa di lahirkan di Indonesia dari wanita Indonesia pula. Karena itulah AR Baswedan mendirikan Partai Arab Indonesia  pada tahun 1934. Tidak diragukan lagi bahwa partai ini menekankan Indonesia sebagai tanah airnya.

Aliran Islam Modern Lainnya
Pada awal abad ke-20 di Saudi Arabia terjadi gerakan wahabi yang dipimpin oleh Raja Abdul Aziz ibn Saud. Sementara itu para pezarah ke Tanah Suci berjalan terus, tetapi karena terjadinya Perang Dunia I (1914-1918), maka perjalanan pulang para jamaah terhalang. Di antara mereka ada yang menetap di sana. Para jamaah yang pulang ke Indonesia menyebarkan ilmunya. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan timbulnya aliran-aliran Islam modern. Menurut hadits disebutkan bahwa setiap seratus tahun ada yang mengadakan pembaharuan atau modernisasi yang disebut mujaddid.

Setelah Jamiyatul Khair mendapat tempat di dalam masyarakat maka Syekh Ahmad Surkati ingin meningkatkan usahanya guna meningkatkan modernisasi. Bahasa Arab harus didalami, pendidikan agama Islam dilakukan sejak dini dan diajarkan terus menerus, sedangkan ukhuwwah Islamiyah baru dapat dicapai melalui umat yang seagama. Pada tahun 1914 Syekh Ahmad Surkati mendirikan perkumpulan Al Irsyad. Sementara itu ada pihak yang tidak sependapat dengan Ahmad Surkati tentang mahzab mendirikan organisasi sendiri yang disebut Ar Rabithat Al Alawiyah.

Organisasi yang sehaluan dengan Al Irsyad yaitu Muhammadiyah, Persis, Thawalib sedangkan yang bersimpati dengan Ar Rabithat yaitu Persatuan Tarbiyatul Islamiyah, Jamiyatul Washliyah, Musyawarah Thaliban (Chadidjah Nasution, 1970).

Thawalib. Keadaan masyarakat di Sumatera Barat awal abad ke-20 sangat menyedihkan karena pencemaran terhadap Islam makin meluas. Faktor internal dan eksternal menyebabkan perlunya permurnian ajaran agama Islam. Sekelompok pemuda yang belajar pada Syekh Ahmad Khatib di Mekkah membawa pemikiran Islam modern yang digerakkan oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Majalah dan surat kabar dari luar berhasil masuk dan mempengaruhi anak-anak yang mengaji di surau. Semua ini merupakan penyebab lahirnya Sumatera Thawalib pada tahun 1918. Organisasi ini bertujuan untuk mengusahakan dan memajukan ilmu pengetahuan dan pekerjaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kemajuan dunia akhirat menurut Islam. Kemudian organisasi itu berubah menjadi Persatuan Muslim Indonesia yang memperluas tujuannya, yaitu Indonesia merdeka dan Islam jaya.

Islam dan kebebasan dijadikan azas partai ini karena pertama, oerganisasi itu ingin merebut anggota dari partai yang sangat besar pengaruhnya pada waktu itu, yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) yang berazaskan Islam dan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berazaskan kebangsaan; kedua, Islam dan kebangsaan tidak bertentangan sama sekali dan cinta tanah air adalah bagian dari iman; dan ketiga, organisasi ini berharap memperoleh dukungan dari anggotanya untuk membasmi kemungkaran dan penindasan sampai tercapai tujuan politiknya, yaitu Indonesia merdeka dan Islam jaya. Dalam gerakan politik mencapai Indonesia merdeka ini, orang-orang Sumatera Thawalib tampil sebagai ujung tombaknya di Sumatera Barat.

Organisasi Sumatera Thawalib khususnya bergerak di bidang pendidikan dan politik dengan cepat meluas keseluruh Sumatera Barat. Sebagai organisasi politik terbesar dengan politiknya yang radikal terpaksa menghentikan kegiatannya pada tahun 1936 karena terkena larangan pemerintah. Perjuangan organisasi ini diteruskan secara perseorangan baik di Sumatera Barat maupun di tempat lain (Burhannuddin Daya, 1990).

Persatuan Thawalib Islamiyah (Perti). Organisasi yang didirikan oleh ulama-ulama di Sumatera Barat yang tidak setuju dengan Thawalib antara lain Syekh Sulaiman ar Rasuly. Ia mengatakan bahwa pendalaman Bahasa Arab diperlukan untuk memenuhi panggilan ijtihad.

Organisasi ini bermahzab Syafii dan mematuhinya secara konsekuen. Kegiatan utamanya dalam bidang pendidikan adalah mendirikan madrasah. Komunikasi dengan anggotanya dilakukan dengan majalah Suarti (Suara Tarbiyatul Islamiyah), Al Mizan (Bahasa Arab), Perti Bulletin. Organisasi ini tidak bergabung dengan organisasi lain dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia berdiri sebagai partai politik dengan nama Partai Tarbiyatul Islamiyah (Perti).

Persatuan Muslimin Tapanuli (PMT). Organisasi ini didirikan dengan alasan yang sama dengan Perti, berupa penolakan terhadap pemakaian mahzab dalam Thawalib pada tahun 1930. Syekh Musthafa Perbabaru adalah pendirinya dan setelah kemerdekaan organisasi ini bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang menebar di Sumatera Utara.

Persatuan Islam (Persis). Akibat dari pembatasan gerakan Jamiyatul Khair di Jakarta maka berdirilah Persis di bawah Kyai Hasan di Bandung pada tahun 1923. Organisasi ini berusaha meningkatkan kesadaran beragama dan semangat ijtihad dengan mengadakan dakwah dan pembentukan kader melalui madrasah dan sekolahan. Pemberantasan kemaksiatan merupakan tujuan utama Persis.

Musyawarah Thalibin. Organisasi ini timbul di Kalimantan Selatan sebagai pewaris dari Sarekat Islam (SI) yang sudah dicurigai oleh pemerintah. Usaha Sarekat Islam (SI) di bidang pendidikan dilanjutkan dengan mendirikan Madrasah Darussalam. Madrasah ini dilengkapi dengan asrama dan sawah serta ladangnya sehingga para santri belajar hidup sendiri dari hasil yang mereka kerjakan.

Pada tahun 1930, setelah Syekh Abdurrasyid Amuntasi kembali dari Mesir diadakan modernisasi di bidang pendidikan dengan mendirikan lembaga pendidikan Mahad Rasyidiyah yaitu lembaga pendidikan lengkap dari taman kanak-kanak sampai sekolah tinggi, dan juga membuka sekolah guru.

Al Jamiyatul Wasliyah. Persoalan mahzab tidak pernah terselesaikan di dalam Thawalib, Perti, dan PMT. Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai pendapat di antara organisasi yang ada. Oleh karena itu organisasi ini berusaha mempertemukan pendapat yang berbeda-beda dari berbagai macam aliran yang timbul di Sumatera Utara. Organisasi yang diresmikan pada tahun 1930 itu menekankan pada mahzab Syafii, tetapi bagi anggotanya bebas mengamalkan dan mengambangkan ilmunya masing-masing. Dengan demikian Al Wasliyah menjadi tempat berhimpunnya ummat yang tidak menyukai pertentangan dan perdebatan.

Dalam perkembangan selanjutnya Al Wasliyah tidak ketinggalan mengembangkan pendidikan dan usaha sosial seperti membuka panti sosial untuk anak yatim piatu. Selanjutnya organisasi ini bergabung dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Tidak berbeda dengan keadaan di daerah lain, kegagalan Sarekat Islam (SI) selanjutnya oleh PUSA di Aceh. Organisasi ini dibentuk pada tanggal 5 Mei 1939 di Peusangan, Bireuen yang diketuai oleh Tgk.M. Daud Beureueh berusaha meningkatkan syiar Islam dengan meningkatkan pendidikan agar terlaksana syiar Islam dalam masyarakat. Dalam perjuangannya organisasi ini bergabung dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Nahdlatul Wathan. Organisasi ini timbul sebagai lanjutan dari Sarekat Islam (SI) di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berusaha meningkatkan kesadaran beragama. Tekanan utama dari usaha organisasi itu adalah membuka sekolah-sekolah. Dalam perjuangannya ia menggabungkan diri dalam Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Cerita Alam

Sunday, November 13, 2016 0

 Cerita Alam 

Gambar Ilustrasi Cerita Alam (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah 
Aku melihat perubahan.
Negeri berpijak, dedaunan
berbisik keluh kesah.
Bukan seperti sahabat.

Lirik di atas,
belantara mulai hampa.
Keindahan tampak borok.

Haah.
Aku heran.
Ingin marah tapi tak bisa.
Ingin melarang,
pemerintah dan aparat,
bermain dibalik kasat.

Hanya bisa menggerutu,
namun malu di dalam hati,
utama diri sendiri.

Jangan biarkan alam berbicara
Jangan salahkan alam marah,
Jangan biarkan alam bercerita
tentang keluh kesahnya.
Dan jangan biarkan
alam menghardik,
sebab kekecewaan
kepada kita yang picik.

Jangan biarkan.
Jangan biarkan.

Masih serakah?
Tak peduli dengan mereka?

Biarlah.
Biarlah waktu akan menjawab.
Keluh kesah kita harus terima.
NA Coffee 
Gampong Lamprik, Banda Aceh 
27 November 2014

Cara Membuat Kolom Koemntar Facebook dan Blog Pada Blog

Wednesday, November 09, 2016 0

Cara Membuat Kolom Komentar Facebook dan Blog
Pada Blog

Membuat Blog semanarik mungkin adalah keinginan para blogger. Semuanya bertujuan agar blog tersebut disukai dan disenangi dari segi design dan tata letak. Sehingga, penampilan dari blog tersebut bisa menarik perhatian para pengunjung blog. Tidak ketinggalan juga mempercantik tampilan kolom komentar pada blog.
Gambar Ilustrasi Kolom Komentar Facebook dan Blog (Doc. Mhd. Saifullah)
Memasang kolom komentar Facebook dan Blog pada blog secara bersamaan merupakan salah satu cara mempercantik tampilan blog, khususnya tampilan postingan/artikel yang ada pada blog tersebut. Dimana Komentar-komentar dari pengunjung seakan-akan disembunyikan, dan komentar-komentar tersebut akan terlihat kembali apabila kita memilih berdasarkan Facebook atau Blog, bukan sepenuhnya dihilangkan (komentar tetap ada selama tidak kita hapus). Tujuannya adalah agar tampilan isi postingan terlihat ramping dan jelas . 

Seperti gambar di bawah inilah yang dilingkaran berwarna merah tampilan yang anda lihat bila memasang kolom komentar Facebook dan Blog pada blog nantinya.
Inilah langkah-langkah yang harus dilakukan mengenai Cara Membuat Kolom Komentar Facebook dan Blog Pada Blog, yaitu sebagai berikut:
  • Tentunya seperti biasa anda harus membuka akun blogger anda sendiri.
  • Pada Dasbor blog anda, masuk elemen Template, Lalu pilih Edit HTML.
  • Cari Kode: <div class='comments' id='comments'>
  • Copy atau salin Kode Script yang tertera di bawah ini, dan selanjunya Pastekan tepat di bawah Kode: <div class='comments' id='comments'>
<div class='comments-tab' id='fb-comments' onclick='javascript:commentToggle(&quot;#fb-comments&quot;);' title='Comments made with Facebook'>
<img class='comments-tab-icon' src='https://cdn3.iconfinder.com/data/icons/socialnetworking/32/facebook.png'/><fb:comments-count expr:href='data:post.url'/> Comments</div>
<div class='comments-tab inactive-select-tab' id='blogger-comments' onclick='javascript:commentToggle(&quot;#blogger-comments&quot;);' title='Comments from Blogger'>
<img class='comments-tab-icon' src='http://www.blogger.com/img/icon_logo32.gif'/> <data:post.numComments/> Comments</div>
<div class='clear'/>
</div>
<div class='comments-page' id='fb-comments-page'>
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'><div id='fb-root'/>
<fb:comments expr:href='data:post.url' num_posts='2' width='550'/></b:if></div>
<div class='comments comments-page' id='blogger-comments-page'>

<script src='http://connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1'/><script src='http://code.jquery.com/jquery-latest.js'/><meta content='ID FAN PAGE FACEBOOK' property='fb:admins'/><script type='text/javascript'>function commentToggle(selectTab) {$(&quot;.comments-tab&quot;).addClass(&quot;inactive-select-tab&quot;);$(selectTab).removeClass(&quot;inactive-select-tab&quot;);$(&quot;.comments-page&quot;).hide();$(selectTab + &quot;-page&quot;).show();}</script>

<style>.comments-page { background-color: #f2f2f2;}#blogger-comments-page { padding: 0px 5px; display: none;}.comments-tab { float: left; padding: 5px; margin-right: 3px; cursor: pointer; background-color: #f2f2f2;}.comments-tab-icon { height: 14px; width: auto; margin-right: 3px;}.comments-tab:hover { background-color: #eeeeee;}.inactive-select-tab { background-color: #d1d1d1;}</style>
  • Apabila sudah selesai, Simpanlah Template Blog anda. 
  • Lihat hasilnya.
Catatan:
  1. Ganti ID FAN PAGE FACEBOOK dengan Kode / No / Id Fan Page Facebook yang anda punya.
  2. Cara melihat IDFANPAGEFACEBOOK adalah: Masuklah ke Halaman Facebook Anda, lalu masuk lagi ke Pengaturan, Lihat Info Halaman, lalu lihat paling bawah sekali ada tulisan ID Halaman Facebook: 10026565009xxxx
  3. Anda tidak punya Halaman Facebook saat ini? Anda tidak perlu mengganti tulisan IDFANPAGEFACEBOOK di atas (saran sih gunakan Halaman Facebook) abaikan saja. Gunakan saja Kode Script di atas apa adanya.
  4. Ukuran atau panjang Kolomo Komentar FB sesuaikan dengan Ukuran Blog anda. Silahkan ganti angka yang berwana Ungu di atas. (width='550')
  5. Apabila kode <div class='comments' id='comments'> ada 2, pilih saja salah satu.
  6. Bagaimana, gampang bukan. Demikianlah tips tutorial kali ini mengenai "Inilah Cara Memasang Kolom Komentar Facebook dan Blog Model Tab". Selamat mencoba dan salam sukses selalu.
Sumber:

Sarekat Islam (SI)

Wednesday, November 09, 2016 0
Resume Buku

Sarekat Islam (SI)

Gambar Lambang Serikat Islam (SI) (Doc. Google)
Sarekat Islam dapat dipandang sebagai salah satu gerakan politik yang menonjol sebelum Perang Duni II. Layak kiranya jika organisasi ini perlu mendapat sorotan sendiri karena ia mengalami perkembangan yang cepat dan dinamis. Cepatnya perkembangan juga membawa cepatnya kemunduran yang hanya beberapa tahun setelah puncaknya. Berkurangnya pengaruh organisasi dan timbulnya pertentangan intern menyebabkan mengendurnya simpati masa (Korver, 1982:1).

Sarekat Islam didirikan pada tahun 1912 oleh H. Samanhudi, seorang pengusaha batik di Kampung Lawean, Solo yang mempunyai banyak pekerja. Perusahaan batik lainnya ada di tangan orang Cina dan Arab, dan mereka memproduksi batik dalam partai besar, sedangkan di sekitar perusahaan besar itu terdapat perajin kecil yang dilakukan di rumah-rumah penduduk dengan membatik dan membuat batik cap yang mulai populer pada waktu itu. Penasihat Urusan Bumiputra, Rinkers mengatakan bahwa ketika terjadinya bentrokan dengan polisi seorang Cina terbunuh. Akibatnya di Surabaya terjadi pemogokan para pedagang Cina yang melumpuhkan ekonomi. Ia menghubungkan peristiwa ini dengan kejadian di Surakarta karena di tempat itu terjadi persaingan antara pedagang Lawean dengan firma Sie Dian Ho, berdagang buku, alat kantor, dan bahan batik. Pemboikotan terhadap firma ini melahirkan Sarekat Islam (van der Xal, 1967:86-87).

Selanjutnya Korver berpendapat bahwa sudah sejak lama di Solo berdiri perkumpulan Cina-Jawa yang bernama Kong Sing. Anggotanya pengusaha Cina dan Jawa, termasuk H. Samanhudi. Pada tahun 1911, ketika terjadi revolusi di Cina terjadilah sikap yang merenggangkan hubungan mereka dengan orang Jawa. Hal ini juga merenggangkan hubungan sesama anggota Kong Sing sehingga anggota Kong Sing Jawa mendirikan Rekso Rumekso yang kemudian menjadi Sarekat Islam (Korver, 1982:21).

Jelas kiranya bahwa tujuan utama Sarekat Islam adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa, yang diikat dengan agama. Meskipun dari salah satu sumber disebutkan bahwa tidak ada persaingan antara pedagang Cina dan Jawa, sebenarnya hal ini tidak akan mungkin tidak terjadi di dunia perdagangan. Perubahan tingkah laku dan arogansi merenggangkan hubungan sosial mereka. Keadaan seperti ini memperkuat dan mendorong mereka untuk menyatukan diri menghadapi pedagang Cina. Agama Islam digunakan dan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang Islam.

Tujuan utama Sarekat Islam untuk mengembangkan perekonomian berkali-kali ditekankan oleh pemimpin Sarekat Islam terkemuka, yaitu Umar Said Cokroaminoto. Ia adalah seorang orator yang cakap dan bijak, mampu memikat anggotanya. Dalam pidatonya pada rapat raksasa di Kebun Binatang Surabaya tanggal 26 Januari 1913, ia menegaskan bahwa tujuan Sarekat Islam adalah menghidupkan jiwa dagang Bangsa Indonesia, memperkuat ekonominya agar mampu bersaing dengan bangsa asing. Usaha di bidang ekonomi tampak sekali, khususnya dengan berdirinya koperasi di Kota Surabaya. Di kota itu pula berdiri PT. Setia Usaha, selain menerbitkan surat kabar Utusan Hindia, juga menyelenggarakan penggilingan padi, dan juga mendirikan bank. Usaha itu semua dimaksud untuk membebaskan kehidupan ekonomi dari ketergantungan bangsa asing (Sartono Kartodirjo, LS, 2, 1968:65).

Usaha meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa sendiri diterima dengan antusias oleh masyarakat lapisan bawah. Wong Cilik (masyarakat kecil) mendapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupan yang sudah lama dinant-nantikan. Tidak salah kiranya jika Sarekat Islam mampu membaca keingan Wong Cilik yang menginginkan perbaikan upah kerja, sewa menyewa tanah, masalah-masalah yang berlaku di tanah partikelir, dan juga tingkah laku yang menyakitkan hati yang dilakukan para mandor dan kepala-kepala pribumi. Hal inilah yang merupakan kenyataan sebagai penderitaan rakyat yang harus diperbaiki. Maka tidak mengherankan kalau Sarekat Islam menjadi populer di kalangan rakyat bawah. Sarekat Islam segera meluas ke seluruh Jawa. Pada saat itu Cabang Jakarta mempunyai anggota 12.000 orang. Dalam rapat raksasa di Surabaya jumlah angggota bertambah menjadi 90.000 orang, terdiri dari 30.000 orang dari Cabang Solo, 16.000 dari Surabaya, 25.000 dari Jakarta, 23.000 dari Cirebon, dan 17.000 dari Semarang. Sementara itu telah ditolak sekitar 200.000 orang yang mendaftar diri sebagai anggota Sarekat Islam.

Dalam waktu kurang dari satu tahun Sarekat Islam sudah tumbuh menjadi organisasi raksasa. Karena itu pemerintah Hindia Belanda harus mencermati jejak Sarekat Islam yang dianggap membahayakan itu karena Sarekat Islam mampu memobilisasikan masa. Pada tahun 1914 anggota Sarekat Islam berjumlah 444.251 (Korver, 1982:225). Mengenai perkembangan yang cepat ini menimbulkan reaksi yang cepat pula dari pihak pemerintah. Gubernur Jenderal Idenburg (1909-1916) tidak menolak kehadiran Sarekat Islam dan muncul pertanyaan yang belum terjawab mengapa Sarekat Islam timbul dan cepat menjadi besar. Apa motivasi organisasi ini? Inilah yang menjadi tanda tanya besar Idenburg. Meskipun pada mulanya loyal pada pemerintah tetapi Sarekat Islam tetap tidak dapat dipercaya.

Mengapa reaksi terhadap makin luasnya keanggotaan Sarekat Islam itu, Idenburg berpendapat bahwa, menjadi jalangnya Sarekat Islam itu merupakan kenyataan bahwa orang bumiputra mulai memikirkan nasibnya dan inilah permulaan sadar dari tidurnya. Reaksi yang datang dari orang Belanda yang ketakutan di Eropa mengatakan bahwa Sarekat Islam identik dengan salah Idenburg. Sekiranya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Eropa oleh anggota Sarekat Islam maka itu merupakan bencana yang merupakan kesalahan Idenburg. Ditambah pula Belanda akan kehilangan jajahannya.

Kegelisahan timbul di kalangan pengusaha perkebunan sehingga di dalam surat kabar Soerabajasch Handlesbld dimuat iklan yang mencari opsir tentara Hindia Belanda yang sanggup memberi petunjuk bagaimana menjaga dan mempertahankan perusahaan perkebunan dan bangunan-bangunan lainnya. Perusahaan yang lain minta diberi izin untuk menggunakan senjata dan amunisi yang diambil dari gudang. Akan tetapi permintaan gila tidak diluluskan Idenburg.

Dari kalangan pangrehpraja berpendapat bahwa perkembangan Sarekat Islam harus diterima secara wajar, tetapi dipihak lain kehadirannya merupakan ancaman bagi keamanan dan ketertiban. Bupati yang progresif mengharuskan supaya pangrehpraja menduduki jabatan cabang Sarekat Islam. Sedangkan bupati yang konservatif akan menolak kehadiran Sarekat Islam dan dianggapnya mengurangi kewibawaannya dan mengancam kedudukannya.

Rinkes bersikap longgar terhadap Sarekat Islam, gerakan bumiputra memang sudah ada orang harus menerimanya, tetapi sebaiknya dengan jiwa dan sikap agung (van der Wal, 1967:215, 219). Bagi Idenburg, melarang begitu saja tidak ada gunanya, apalagi dengan tekanan dan penindasan. Jalan yang terbaik baginya adalah membuat kanalisasi, artinya mengurangi desakan kuat sehingga tidak timbul satu kekuatan besar yang dapat menghancurkan eksitensi kepada Sarekat Islam, sehingga organisasi ini leluasa menjalankan kegiatan tanpa ada hambatan dari pihak manapun. Idenburg hanya mau memberi badan humum pada cabang-cabang Sarekat Islam, sedangkan Central Sarekat Islam (CSI) baru akan diberikannya kemudian. Ini berarti bahwa hanya cabang lokal yang diakui secara resmi dan hubungan antara cabang dan koordinasi dari CSI diperlemah.

Dalam konsep Sarekat Islam tahun 1914 di Yogyakarta, Cokroaminoto terpilih sebagai pimpinan Sarekat Islam. Gejala konflik internal telah timbul di permukaan dan kepercayaan terhadap CSI mulai berkurang. Namun Cokroaminoto tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari CSI harus dikutuk. Karenanya perpecahan harus dihindarkan, persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu.

Politik kanalisasi dari Idenburg terbilang berhasil karena CSI baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan itu diberikannya pada waktu ia hampir berhenti dari jabatannya. Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Strium (1916-1921) yang juga seperti pendahulunya bersikap simpatik terhadap Sarekat Islam. Dalam kongres tahunan yang diselenggarakan tahun 1916, Cokroaminoto secara panjang lebar menguraikan perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Sementara itu persoalan pertahanan Hindia mulai banyak dibicarakan oleh golongan kolonial tertentu sehingga terbentuk Komite Pertahanan Hindia. Orang mengatakan bahwa Pertahanan Hindia ini berpengaruh terhadap proses kesadaran politik di Indonesia.

Pada Juni 1916 di Bandung diadakan kongres pertama yang dihadiri oleh 80 Sarekat Islam lokal yang meliputi 360.000 orang anggota. Kongres itu merupakan Kongres Nasional karena Sarekat Islam mencita-citakan supaya penduduk Indonesia menjadi satu natie atau satu bangsa dengan kata lain mempersatukan etnis Indonesia menjadi Bangsa Indonesia. Sudah disebut di atas bahwa Sarekat Islam setuju diadakannya Komite Pertahanan Hindia asal pemerintah membentuk Dewan Rakyat (Pringgodigdo, 1964:18).

Sebelum diadakanny Kongres Sarekat Islam kedua tahun 1917 di Jakarta, muncul aliran revolusioner sosialistis yang diwakili oleh Semaun yang pada waktu itu menjadi ketua Sarekat Islam lokal Semarang. Namun kongres itu tetap memutuskan azas perjuangan Sarekat Islam ialah mendapatkan zelf bestuur atau pemerintahan sendiri. Selain ditetapkan pula azas kedudukan kedua berupa Strijd tegen overheersing van het zonding kapitalisme atau perjuangan melawan penjajahan dari kapitalisme yang jahat (Pluvier, 1953:23). Sejak itu pula Cokroaminoto dan Abdul Muis mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat.

Sudah disebut di muka bahwa keanggotaan Sarekat Islam terus meningkat dan itu terbukti dalam kongres tahun 1918 ketiga di Surabaya, anggotanya mencapai 450.000 yang berasal dari 87 Sarekat Islam lokal. Sementara itu pengaruh Semaun makin menjalar ke tubuh Sarekat Islam. Dikatakannya bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah dan terjajah tetapi antara kapitalis dengan buruh. Karena itu perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani, di samping tetap memperlakukan pengajaran dan penghapusan heerendiensten.

 Di dalam Kongres Sarekat Islam keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh atau Serikat Sekerja (SS), karena Serikat Sekerja akan memperkuat kedudukan partai politik dalam menghadapi pemerintahan kolonial. Kemudian terbentukalah Persatuan Serikat Sekerja yang beranggotakan Serikat Sekerja Pengadaian dan Serikat Sekerja Pegawai Pabrik Gula, dan Serikat Sekerja Pegawai Kereta Api.

Selanjutnya perubahan-perubahan dalam tubuh Sarekat Islam dapat dilihat dari kongres-kongresnya. Setelah terjadinya peristiwa Cimareme dan kasus Afdeling B. maka pada akhir tahun 1919 diselenggarakan Kongres Sarekat Islam keempat. Suasana kongres lesu namun sementara perjuangan Sarekat Islam tetap ditegakkan dengan landasan perjuangan antar bangsa, yang ini berarti perjuangan melawan pemerintahan kolonial harus terus dilakukan. Di dalam tahun itu pula pengaruh sosialis komunis telah masuk ke tubuh Sarekat Islam Pusat maupun cabang-cabangnya setelah aliran itu mempunyai wadah dalam organisasi yang disebutnya  Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV).

Pada Kongres Sarekat Islam kelima pada tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Sarekat Islam Pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang mendambakan aliran ekonomi dogmatis diwakili oleh Semaun dan aliran nasional keagamaan diwakili oleh Cokroaminoto. Kemungkinan dipersatukannya dua aliran itu ialah memformulasikan satu perjuangan Sarekat Islam menentang kapitalisme sebagai sebab utama timbulnya penjajahan. Jadi yang perlu ditentang adalah penjajahan yang disebabkan oleh tindakan kapitalis.

Rupanya gejala perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu ternyata tidak dapat dipersatukan. Di dalam Kongres Sarekat Islam keenam yang diselenggarakan pada akhir tahun 1921 disetujui adanya disiplin partai. Sebagai akibat dilakukannya disiplin partai maka Semaun dikeluarkan dari Sarekat Islam karena berlaku ketentuan bahwa tidak diperbolehkannya merangkap dengan anggota partai lain. Dengan demikian terdapat dua aliran Sarekat Islam, yaitu 1) yang berazaskan kebangsaan-keagamaan berpusat di Yogyakarta dan 2) yang berazaskan Komunis berpusat di Semarang.

Kongres Sarekat Islam ketujuh yang diselenggarakan pada tahun 1923 di Madiun memutuskan bahwa Central Sarekat Islam diganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Selanjutnya ditetapkan berlakunya disiplin partai. Di pihak lain cabang-cabang Sarekat Islam yang mendapatkan pengaruh Komunis menyatakan dirinya bernaung dalam Serikat Rakyat yang merupakan bangunan bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Azas perjuangan Partai Sarekat Islam adalah nonkooperasi, artinya organisasi itu tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, tetapi organisasi itu mengizinkan anggotanya duduk dalam Dewan Rakyat atas nama diri sendiri. Kongres PSI 1927, menegaskan azas perjuangan bahwa tujuannya adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya dinyatakan dengan tegas tentang kemerdekaan nasional maka Parai Sarekat Islam menggabungkan diri dalam Pemufakatan Perhimpunan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Nama Partai Sarekat Islam dengan Indonesia untuk menunjukkan tujuan perjuangan kebangsaannya dan kemudian namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1927. Perubahan nama itu dapat dikaitkan dengan datangnya dr. Sukiman dari Belanda.

Di dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia terjadi perbedaan pendapat yang di satu  pihak diwakili oleh Cokroaminoto menekankan perjuangan kebangsaan. Di pihak lain dr. Sukiman keluar dari organisasi lama dan mendirikan Partai Islam Indonesia (Parii). Rupanya perpecahan itu dipandang melemahkan Partai Islam Indonesia (PII) atau perjuangan Islam maka akhirnya dua lairan itu dapat dipersatukan kembali pada tahun 1937. Persatuan dalam Partai Sarekat Islam Indonesia hanya berlangsung singkat karena dr. Sukiman memisahkan diri lagi yang diikuti Wiwoho, Kasman Singodimejo, dan lain-lain.

Pada tahun 1940 Kartosuwiryo mendirikan Partai Sarekat Islam Indonesia Kartosuwiryo setelah keluar dari Partai Sarekat Islam Indonesia yang lama. Pada saat Jepang mendarat di Indonesia, kekuatan Islam terpecah menjadi beberapa aliran Partai Sarekat Islam Indonesia Abikusno, Partai Sarekat Islam Indonesia Kartosuwiryo, Partai Islam Indonesia (Parii) dr. Sukiman. Semua aliran itu tidak berdaya pada masa pendudukan Jepang yang melarang kehidupan partai politik di Indonesia.

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.