Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC)

Wednesday, October 26, 2016 0

Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC)

Halo sahabat semua, jika pada artikel sebelumnya kita telah membahas mengenai langkah-langkah untuk Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) dan juga menjalankan langkah yang pertama yaitu Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC). Pada artikel kali ini saya akan membagikan tips selanjutnya yang masih berhubungan dengan artikel sebelumnya, yaitu mengenai Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC). Di artikel ini nantinya sahabat bisa pelajari dan semoga dapat dipergunakan dalam mengedit tulisan serta lebih mudah untuk membuat Daftar Isi dalam pembuatan karya tulis ilmiah berupa skripsi, tesisi, makalah, dan lain sebagainya yang berhubungan. 

Langkah-langkah pada artikel yang mengenai Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC) ini, saya menggunakan aplikasi Microsoft Word 2010. Kalau begitu tanpa memperpanjang tulisan lagi, mari sahabat semua baca langkah-langkah yang harus sahabat lakukan. Berikut ini ada langkah-langkah yang harus sahabat lakukan dalam Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) yang saya bagikan ke dalam dua bagian agar lebih mudah untuk dipahami sahabt semua, yaitu Bagian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC) dan Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC).
Sahabat pastinya sudah mempelajari langkah sebelumnya tentang agian Pengaturan Styles Table of Contents (TOC). Apabila sudah dilakukan, maka tampilan di samping kiri sahabat akan tampak seperti gambar Map Navigation di bawah ini 
Gambar Contoh Map Navigation (Doc. Muhammad Saifullah)
(Untuk dapat menampilkan mapnya, klik Menu Bar View lalu conteng atau pilih Navigator Pane).

  • Bukti sahabat telah melakukan langkah-langkah dengan benar adalah apabila sahabat klik setiap judul yang tertera di map Navigation maka sahabat akan langsung diantar ke halaman yang dituju.
  • Apabila sudah terbukti kita lanjut ke langkah berikutnya dengan memanggil Table of Contents (TOC) ke Daftar Isi, namun sahabat harus terlebih dahulu mengunjungi halaman Daftar Isi yang sudah ada.
  • Lihat tulisan References yang ada di Menu Bar bagian atas, klik lalu pilih Menu Bar Table of Contents yang berada di pojok kiri.
  • Pilih Insert Table of Contents  dan tunggu sampai ada tampilan seperti gambar di bawah ini.
Gambar Contoh Insert Table of Contents (TOC) (Doc. Muhammad Saifullah)
  • Lakukan pengeditan dari Table of Contents, yaitu dengan melakukan beberapa hal yang perlu diubah.
  • Pada bagian Web Previem, hapus contengan use hyperlink yang ada agar tulisan tidak berbentuk link.
  • Di Bagian General, bentuk Formats dapat disesuaikan dengan keinginan sahabat.
  • Show Level juga dapat disesuaikan (bisa 2, 3, dan seterusnya), karena itu untuk menampilkan semua heading yang telah kita buat.
  • Klik Modify untuk merapikan tampilan tulisan Table of Contents (TOC). Setelah diklik maka akan ada tampilan Style seperti gambar di bawah ini.
Gambar Contoh Modify Table of Contents (TOC) (Doc. Muhammad Saifullah)
  • Pilih TOC 1 apabila sahabat ingin merubaha tampilan tulisan untuk Heading 1 saat di Daftar Isi nanti.
  • Pilih TOC 2 dan TOC 3 apabila sahabat ingin merubaha tampilan tulisan untuk Heading 2 dan Heading 3 saat di Daftar Isi nanti. Saran saya TOC 2 dan TOC 3 tampilannya di Modify saja, dengan menjadikan tulisan tidak menggunakan Bold (B) agar dapat membedakan mana bab dan mana sub bab serta bagian sub bab seaktu ditampilan di Daftar Isi nanti.
  • Klik Ok untuk menutup serta menyimpan tulisan yang sudah kita edit dan hasil yang kita buat akan tampil di Daftar Isi seperti gambar di bawah ini.
  • Warna hitam yang menjadi background pada tulisan dan telah saya tandai berwarna merah seperti gambar di atas merupakan bukti bahwa membuat Daftar Isi dengan menggunakan Table of Contents yang sahabat buat telah berhasil.
  • Selesai.
Gambar Contoh Daftar Isi dengan Table of Contents (TOC) (Doc. Muhammad Saifullah)
Bagaimana mudahkan mempelajari Tutorial Membuat Table of Contents (TOC)? Sahabat dapat mencoba-cobanya kembali sendiri apabila ingin semakin mahir sambil iseng-iseng malakukan eksperimen kecil-kecilan.

Sekian artikel mengenai Tutorial Membuat Table of Contents (TOC) dengan langkah Bagian Meletakkan Table of Contents (TOC). Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat semua yang sedang belajar atau iseng-iseng bermain Microsoft Word. Kalau begitu sampai jumpa pada artikel tips berupa tutorial berikutnya dari saya. Salam.

Aku Debu Dari Jalanan (Bagian 1)

Thursday, October 06, 2016 0

Aku Debu Dari Jalanan
(Bagian 1)

Ini adalah sepenggal kisah dari perjalanan hidup yang aku lalui. Kisah yang menceritakan berbagai kegiatan yang aku lakukan untuk menyambung hidup, mulai sejak aku seorang bocah, remaja, hingga aku dewasa. Dalam kisah ini juga akan menceritakan perjalanan kehidupanku yang merantau ke berbagai daerah mengikuti saudara-saudaraku. Semoga dari cerita yang aku tulis ini dapat menjadi sebuah motivasi, pembelajaran, bahkan menjadi hiburan bagi siapapun yang membacanya.

Perkenalkan, namaku Muhammad Saifullah. Orang-orang dan beberapa temanku sering memanggilku dengan panggilan yang berbeda-beda, ya sesuai dengan hati mereka dan di mana tempat aku tinggal. Mereka ada yang memanggil Saiful, Ifull, Popon, dan terkadang Ucil yang merupakan nama candaanku. Aku lahir di Banda Aceh, tepatnya di daerah Meurduwati pada tanggal 1 Mei 1991. Ayahku bernama Basri Daud berasal dari Payabakong, Aceh Utara dan Ibuku bernama Nurbetty Siregar berasal dari Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Dari buah tangan kedua orang tuaku, lahirlah empat orang anak yang salah satunya adalah aku. Aku anak keempat dari empat orang bersaudara, yang pertama bernama Putra Azhari, kedua Mira Afriani, ketiga Novi Rahmawati, dan selanjutnya yang keempat adalah aku, Muhammad Saifullah.

Sampai saat ini atau tepatnya tahun 2016, aku masih berstatus seorang mahasiswa yang sedang menempuh jenjang pendidikan di salah satu universitas yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh dan dikenal dengan sebutan Jantong Hatee Rakyat Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Di sini aku menempuh pendidikan pada sebuah fakultas yang menjadi modal dasar bangsa ini dan kelak akan melahirkan para generasi bangsa. Ya, fakultas ini bernama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan fokus pendidikan yang aku ambil sejak tahun 2011 adalah bidang Pendidikan Sejarah. Dan tahun ini, aku sedang menyelesaikan tugas akhirku dan berharap dapat menyelesaikan sidang dengan baik sebelum mendapat gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) untuk pembuktian ilmu yang telah aku dapatkan di kampus ini.

***
Aku lahir dari latarbelakang keluarga yang terbilang kurang mampu, karena pada saat itu ekonomi keluargaku sedang dilanda kekurangan. Ayahku yang sempat bekerja di salah satu perusahaan gas alam bernama PT. Arun yang berada di Kota Lhokseumawe. Namun sejak tahun 1990 ayahku sudah tidak lagi bekerja, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki pekerjaan.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ayahku diberhentikan dari pekerjaannya, sebab ibuku tidak pernah bercerita kepadaku mengenai hal itu. Beliau hanya menceritakan kepadaku mengenai penyebab kepindahan keluarga kami ke Medan sewaktu usiaku dua tahun. “Setelah ayah tidak bekerja lagi, ayah diajak Pak De Helmi Hakim pergi ke Surabaya untuk kerja bersama pak de. Tapi sewaktu keluarga kita sudah memindahkan barang-barang ke Medan dan bersiap-siap untuk berangkat ke Surabaya sebulan lagi, ayah dipulangkan sama pak de. Sejak itulah kita sekeluarga tinggal di Medan”, Ibuku bercerita kepadaku pada saat itu. Hanya itu yang diceritakan oleh ibu kepadaku sewaktu aku pernah tinggal bersama beliau.

Pak De Helmi Hakim adalah abang dari ibuku. Panggilan Pak De disamatkan kepadanya karena beliau sejak muda sudah merantau dan sampai saat ini tinggal di Yogyakarta serta memiliki istri yang juga berasal dari daerah tersebut. Ayahku yang disuruh kembali ke Kota Medan oleh Pak De Helmi juga tidak diberitahu secara pasti apa penyebabnya, ibuku hanya mengatakan bahwa itu hanya ayah dan ibuku saja yang boleh tahu. Akibat kejadian itu, kehidupan ekonomi keluarga kami semakin tidak stabil. Barang-barang prabotan rumah tangga yang pernah mengisi rumah kami sewaktu tinggal di Kota Banda Aceh, sudah habis dijual. Tidak lain hanya untuk mempermudah kepindahan serta biaya keluarga kami dari Banda Aceh ke Kota Medan yang selanjutnya direncanakan ke Surabaya. Meski selanjutnya rencana itu harus dipupuskan karena ayah dipulangkan kembali oleh pak de dan sejak saat itu keluargakupun harus menetap di Kota Medan.

Perpindahan keluargaku ke Kota Medan yang dimulai pada tahun 1993 menjadi awal bagiku memijakan kaki di kota yang dikenal keras dalam menjalani hidup. Di kota ini pula aku tumbuh dan menghabiskan masa kecilku bersama keempat saudaraku. Pada awal kepindahan keluargaku ke Kota Medan, kami menetap untuk sementara waktu di rumah kakak dari ibuku yang sering kami panggil Wak Inong. Nama asli Wak Inong sebenarnya adalah Nurhayati. Beliau sebelumnya tinggal di daerah Lhoksukon sehingga seluruh sanak saudara kami memanggilnya dengan sebutan Wak Inong yang berarti wawak perempuan. Di Kota Medan beliau sudah lebih dahulu tinggal, bisa dikatakan hampir terpaut sepuluh tahun sebelum kepindahan keluarga kami kota tersebut. Di rumah beliau kami sekeluarga menumpang tidak begitu lama. Selepas ayahku kembali ke Medan, keluargaku langsung menyewa rumah kontrakan untuk tempat kami tinggal. Rumah kontrakan yang kami dapatkan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Wak Inong, hanya terpaut 50 meter dan itu sengaja dilakukan agar kalau ada suatu keperluan bisa dengan mudah dikunjungi. Selain itu, aku beserta ketiga saudaraku juga sering berkunjung ke rumah beliau untuk bermain dan menonton televisi. Maklum pada saat itu di rumah kami jangankan televisi, prabotan rumah saja masih kurang karena baru pindah.

Di Kota Medan, aku dan keluargaku tinggal di Jalan Pinang Baris, Gang Wakaf II, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal. Di daerah ini aku banyak menghabiskan masa kecil bersama teman-temanku, yang kebanyakan di antara mereka bersuku Melayu Deli atau bila orang Medan mengatakan orang kampung selebihnya Aceh, Padang, dan Jawa. Faisal Embot, Fahmi, Aminan Boo, Irol, Puput, Ahyar Kate, Mai Incit, Mai Kecil, Bambang Jumin, Ifan, Ryan, Iwan, Iskandar, dan banyak lagi lainnya yang tidak mungkin aku sebutkan semua namanya, mereka adalah teman-temanku yang menghabiskan waktu bersamaku bahkan kami berada di sekolah yang sama, yaitu di SDN 066655 Medan Sunggal.

Sewaktu tinggal di daerah Pinang Baris aku sering dipanggil sebagi Popon. Sebutan nama Popon berawal dari kakak ku yang nomor 3 (Novi Rahmawati) yang sewaktu kecil belum bisa memanggilku dengan nama yang sempurna. Alhasil, namaku yang seharusnya dipanggil Ifull malah menjadi Popon, karena kakakku masih celat (cadel) sewaktu memanggil namaku semasa kami kecil.

Kehidupan yang aku jalani semasa kecil di Pinang Baris tidak jauh berbeda layaknya para bocah pada saat itu. Kami juga bermain kelereng, mandi di sungai, bermain lumpur, patok lele, bersepeda, dan terkadang sampai mencuri buah-buahan dari kebun masyarakat di daerah tersebut serta banyak lagi kegiatan lainnya. Kami tidak hanya bisa bermain, namun kami juga mencoba mencari uang jajan sendiri. Ada yang membantu orang tua mengambil daun pisang, semir sepatu, menyapu mobil angkutan di terminal, serta mengamen, ikut pergi undangan anak yatim, dan apabila setiap menjelang bulan puasa kami berprofesi menjadi pembersih pemakaman dan penjual bunga kembang untuk pemakaman di tanah wakaf yang berada di lorong tempat kami tinggal. Hal ini kami lakukan karena ingin memiliki uang sendiri agar bisa bermain game dan membeli jajanan berupa gorangan serta membeli mie. Kalau minta uang sama orang tua sangat susah, yang ada malah kenak marah bukan malah dikasih uang.

Keinginan untuk mendapatkan dan memiliki uang sendiri sebenarnya sudah lama aku inginkan, namun baru terwujud dan aku lakukan sejak kelas 2 SD (Sekolah Dasar) karena sebelumnya orang tuaku tidak mengizinkan aku mencari uang. Keinginan untuk mendapatkan dan memiliki uang berawal saat melihat temanku si Ahyar Kate, Mai Kecil, Faisal Embot, dan Bambang Jumin yang mampu membeli mainan serta memiliki uang saku lebih saat di sekolah. Padahal kehidupan ekonomi keluarga mereka sama seperti ku, sedang mengalami kekurangan namun mengapa mereka bisa mendapatkan semua itu? Hal itu baru aku ketahui ternyata mereka selama ini mereka bekerja sebagai penyapu dan membersihkan angkutan umum yang akan masuk ke terminal. Upah yang dibayar oleh para supir mereka kumpulkan untuk membeli apapun keperluan yang mereka inginkan dan itu mereka kerjakan tanpa rasa malu bila dilihat oleh teman-teman yang lain. Melihat mereka yang mau bekerja demi mendapatkan uang tanpa mengenal malu, aku mencoba untuk mengikuti jejak mereka sebagai penyapu angkutan umum dan sejak saat itu aku mulai terjun ke dunia jalanan.

Pertama kali aku turun ke dunia jalanan dan berprofesi sebagi penyapu mobil dimulai dari mengikuti si Ahyar Kate. Dia mengajariku bagaimana cara menyetop (memberhentikan) angkutan umum dan menawarkan jasa untuk dibersihkan. Kami berdua berdiri di tepi jalan setelah pengkolan (tikungan) yang berada di Jalan Pinang Baris sebelum ke terminal kota sambil memegang sapu kecil dan penyemprot kecil yang sudah berisi solar. Beberapa mobil yang lalu lalang lewat begitu saja menandakan menolak untuk dibersihkan hingga sebuah mobil angkutan berhenti dihadapan kami dan  meminta untuk menyapu mobil kepada kami.

Aku yang baru menjalani kegiatan ini hanya langsung mengikuti Kate naik ke dalam mobil sambil merasa tidak percaya bahwa aku sudah menjadi seorang penyapu mobil meski pada hari itu aku hanya sekedar membantu Kate. Selama Kate menyapu angkutan, aku hanya melihatnya dari bangku penumpang yang berada di dekat pintu masuk (bangku serap). Kate yang sudah mahir dan profesional dalam menlakukan hal ini terlihat sangat cepat saat membersihkan lantai mobil angkutan yang kami bersihkan.

Selang lima belas menit kemudian, mobil yang menerima jasa untuk dibersihkan telah selesai kami kerjakan dan kamipun diberi upah sebesar Rp.500 (lima ratus rupiah). Pada saat itu nominal uang sebesar itu sudah terbilang cukup pada tahun 1997, sebab harga barang-barang masih terbilang murah.

Begitulah awalnya aku belajar menyapu angkutan umum bersama si Ahyar Kate selama satu harian penuh sampai menjelang sore. Upah yang diberikan oleh supir langganan Kate sebesar Rp.500 atau biasa kami sebut gopek, pada tahun 1997 sangat besar nilainya. Jika dibandingkan dengan uang saku sekolahku, itu sama jajan selama sehari. Sejak saat itu, hari-hari selanjutnya setelah pulang sekolah dan makan siang, aku bergegas pergi dan berdiri di samping jalan lewat tengkolan Pinang Baris sambil mengangkat sapu kecil dan penyemprot kecil untuk solar menawarkan jasa membersihkan mobil angkutan umum yang berlalu lalang di jalan raya.
Gambar Insert Mhd. Saifullah
(Doc. Mhd. Saifullah)
Bersambung....