Fatal Bercadung

Fatal Bercadung

Friday, September 23, 2016 0

Fatal Bercadung

Karya: Mhd. Saifullah
Malam itu langit memang tampak terang
dengan keistimewahan cahaya para bintang.
Bulan tersenyum manis
seakan dia yang jauh di sana
selalu tampak indah,
meski sesungguhnya penuh keburukan pada sisinya.
Awan tipis terus mengitar membodohi alam pikiranku.
Otak dunia semakin membebani
garis-garis tubuh perlahan mensibak mata hati.
Untuk apa aku memikul dunia?
Bintang dan bulan yang tersamatkan
melambung di hati
tak lain adalah priyai nan siap melepih kehidupanku.
Pelan tapi pasti.

Sungguh. Sungguh.
Ahhhhh.
Kekecewaanku menghampakan diketenggelaman.
Amarah ku rasa melampaui merapi tempo hari.
Ingin ku tinjunya,
untuk meruntuhkan langit
agar tenang aku di sini.
Berada terkubur direruntuhan puing pembodohan diri.
Ya. Mati.
Begitu istilah proletariat menyimpulkannya.

Aku ini hanya apa.
Kerdil terkikis bersama lensa.
Waktu menertawa berdurja.
Akupun berdurjasa.
Emperum, Banda Aceh
23 September 2016

Kabar Negeri Mengmbut-embut

Wednesday, September 14, 2016 0

Kabar Negeri Mengembut-embut

Gambar Ilustrasi Kabar Negeri Menggembut-embut (Doc. Mhd. Saifullah)
Karya: Mhd. Saifullah
Setiap pagi, berita terdengar
mengembut-embut kabar negeri.
Mulai dari ekonomi, sosial, politik,
bahkan sampai ayah menggauli anak sendiri.
Tersebar mudah semudah-mudahnya.
Bagai kentut keluar dari sarangnya.

Ku buka siaran televisi.
Headline news tertulis,
sembari juru berita menghidangkan informasi.
Berita katanya untuk hari ini.
Ekonomi negeri sedang terserang asma,
kehidupan sosial harus menghirup tiga kilo
tabung udara. Sehingga!
Politik negeri terjangkit akut luar binasah.
Tak dapat terkendali,
rakyat jelata di kelas VIP tingkat bawah
tidak mampu kawin lagi. Sehingga!
Anak sendiripun jadi.

Wah mulai kacau kayaknya berita di televisi.
Lebih baik baca berita dari dunia maya
daripada, daripada.

Ku ambil handphone ku.
Cusssss. Ku berseluncur secepat waktu.
Cusssss. Langsung mudah terbuka.
Cusssss. Maklum lagi banyak paket data.
Kecepatannya di atas rata-rata,
meski hanya handphone android di bawah rata-rata.

Seluncur, seluncur, seluncur.
Aku ketik, trending topik berita
hari ini.
Tak, tik, tuk. Tak, tik, tuk.
Tak, tik, tuk. Tak, tik, tuk.
Cusssss. Seluncur, seluncur, seluncur.
Klik.
Begitu merdu suaranya sewaktu ku buka.

Ku baca berita di dunia maya.
Baru dibuka sudah mengembut-embut tagline
dari surat kabar online atau media.
Ekonomi negeri sedang pancaroba,
harga kedelai mengguncang harga tempe. Sehingga!
Tempe menjadi di atas rata-rata. Sehingga!
Masyarakat memilih telur sebagai lauk pauk
daripada terjadi pemberontakan di pusat kota.
Krisis di mana-mana.
Profesi begal dipilih bukan karena niat semata.
Melacur dianggap lumrah.

Wah mulai tidak benar ini berita di dunia maya.
Lebih baik buka sosial media saja
daripada, daripada.

Ketik, ketik. Ketik, Ketik.
Cusssss. Cusssss. Cusssss.
Terbuka wajah buku, kicauan burung,
dorongan gram, sampai hiburan video tabung kamu.

Ku baca kronologi di sosial media,
trending topik hari ini mengenai duka.
Innalillahi wainnailaihirojiun.
Mohon doa dari kawan-kawan semua
untuk kesembuhan penyakit asma ekonomi negeri kita.
Sebab udara tiga kilo mulai langka,
minyak tanah sudah disubsidi entah kemana.
Operasi politik yang telah akut 
hanya memperkaya saja bagi mereka.
Asusila anak semakin menjadi raja.
Katakan amin biar dapat pahala.
Katakan amin biar masuk surga.

Sungguh terdengar
mengembut-embut kabar negeri setiap hari.
Ekonomi, sosial, politik, dikocok-kocok,
asusila menjadi hidangan biasa.
Sebelas dua belas dengan sembilan bahan pokok.
Tersebar mudah semudah-mudahnya
bagai kentut keluar dari sarangnya.
Darussalam, Aceh Besar
4 September 2016

(#) Nb.
Headline news bisa diartikan sebagai kumpulan pokok permasalahan yang sedang menjadi perbincangan di masyarakat.
Handphone adalah telepon genggam atau selular.


Handphone android adalah perangkat seluler yang menggunakan sistem operasi Android yang dikembangkan oleh Google.

Puisi ini pernah dimuat pada salah satu media online Portalsatu.com (5/09/2016).
Detik Melentik

Detik Melentik

Wednesday, September 14, 2016 0

Detik Melentik

Karya: Mhd. Saifullah
Detak meletik detik gemuruh waktu
telah begitu lama berjalan
menemani bumi berputar
hingga saat ini.
Tak terhitung detiknya yang terlepas
satu persatu terus berlalu
berlahan menjadi semu.

Tik, tik, tik.
Suami beristri dengan melantik,
hadir anak melewati jari-jari nan lentik
setiap detik lalu mencari lagi untuk dilantik.
Begitulah terus bergulir
hingga cucu melahirkan cucu
dan tinggal berbagai cucu.

Tik, tik, tik.
Begitulah bunyinya meletik
dari bejibun para detik.
Langkah-langkahnya menggelitik,
terdengar asik.
Tiada kendali jiwa-jiwa diletik.
Menghanyutkan serangkai akal-akal
anak manusia lalu melerah,
tak sadar bahwa diri telah binasah.
Merugi, kata terlahir dibalik resah.
Emperum, Banda Aceh
3 September 2016

Malam Meregas Lara

Saturday, September 03, 2016 0

Malam Meregas Lara

Gambar Ilustrasi Malam Cahaya Bulan Purnama (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Malam menyematkanku
pada rintihan alam.
Tergaris terang rinai hujan
bercerita.
Tersusun-susun kelam.
Tercabik-cabik mendalam.

Malam menyuaku tenang.
Tersandar dalam bayang-bayang.
Merepih hati, merepih lara,
merepih semua gundah.

Malam. Malam bernyanyi.
Sunyi. Sunyi menepi.
Bulan bintang menemani.
Seakan di musim semi.

Jiwa. Jiwa bertanya.
Tentang rasa yang ada.
Sedu sedap sedang tenang.
Terhanyut seperti melerang.

Regah kini rasa. Tiada mati.
Tersenyum dibalik cahaya bulan
menyinari malam.
Darussalam, Banda Aceh
28 Agustus 2016
Bunga Perdamaian

Bunga Perdamaian

Saturday, September 03, 2016 0

Bunga Perdamaian

Karya: Mhd. Saifullah
Setelah hampir tiga puluh tahun.
Darah selalu menyirami tanahnya.
Selama itu juga
nyawa-nyawa memupuk kesuburan
dari yang tahu
sampai tiada menahu.

Setelah hampir tiga puluh tahun.
Bunga pun tumbuh.
Tunasnya membawa harapan.
Wanginya menghapus dendam.
Mekarnya membawa perdamaian.
Hingga seluruh dunia
ikut terpesona menyaksikan.

Lima belas Agustus dua ribu lima.
Bunga jeumpa tumbuh bahagia.
Kajhu, Aceh Besar
15 Agustus 2016