Surat Kepada Ayahanda Hasanuddin Darjo

Monday, August 01, 2016

Surat Kepada Ayahanda Hasanuddin Darjo 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Salam dari ananda untuk ayahanda tercinta pejabat Dinas Pendidikan Aceh. 

Apa kabar ayah? Bagaimana tugas ayah sebagai kepala Dinas Pendidikan Aceh? Apakah pendidikan di Aceh sudah lebih maju atau malah sebaliknya? Ananda dengar, ayah akan membangun videotron di lima daerah di Aceh sebagai sarana penyampaian informasi kepada publik mengenai kesuksesan kinerja lembaga ayah pada kemajuan pendidikan Aceh. 

Anggaran yang ayah keluarkan juga tidak tanggung-tanggung mencapai Rp8,5 miliar. Sungguh besar anggaran yang ayah keluarkan hanya untuk membangun videotron yang terkesan sebagai pencitraan dari kesuksesan lembaga ayah. 

Banyak orang mengatakan, bahwa proyek yang akan ayah jalankan tidak bermanfaat dan mendukung untuk kemajuan pendidikan. Malah, kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa proyek yang ayah jalankan akan menjadi lahan baru untuk melakukan korupsi. 

Ayah, sudah cukup ananda mendengar kabar bahwa ayah dikatakan terlibat di kas bon Aceh Tenggara dan sindiran nitizen mengenai gaya glamor putri Kadisdik Aceh. Jangan ayah tambah lagi dengan kasus videotron yang berakibat bisa menjatuhkan ayah ke dalam jeruji besi.

Ayah, saya ada pengalaman mengenai dunia pendidikan saat melakukan bakti pendidikan di Teunom, Aceh Jaya tahun 2011 lalu dan KKN di Trienggadeng, Pidie Jaya tahun 2015 lalu. Di Teunom, saya mengabdikan diri pada sebuah sekolah dasar yang hanya menggunakan kapur, papan tulis hitam, dan kursi yang bisa terbilang banyak paku yang mulai lepas dari kayunya. 

Sekolah ini memiliki siswa yang sangat luar biasa dan antusias untuk belajar. Saya pernah bertanya, apa ibu kota Provinsi Aceh?, mereka dengan cepat menjawab Meulaboh. Hal ini sungguh mengejutkan saya, meskipun selanjutnya salah seorang siswa menjawab Banda Aceh. 

Pelajaran saya lanjutkan dengan meminta seorang siswa untuk membaca buku Lembaran Kerja Siswa (LKS). Siswa tersebut hanya diam dan malah menunduk, teman-temannya menyahut bahwa dia tidak bisa membaca dan ada beberapa orang lagi yang masih tidak bisa membaca. Saya memberhentikan pelajaran dan memfokuskan untuk mengajar beberapa siswa yang belum bisa membaca, mengingat mereka sudah kelas 5 dan 6 yang tidak lama lagi akan duduk di bangku SMP. 

Di Trienggadeng, saat saya KKN menemani teman mengajar di salah satu SMP di Trienggadeng yang memiliki halaman yang luas, namun banyak hewan ternak yang berkeliaran di dalamnya. Kelas siswa yang hampir rata-rata tiga orang duduk dalam satu meja dengan bentuk kursi yang bervariasi karena kekurangan meja dan kursi, tak kecuali ruang guru, mereka sabar dan ikhlas menikmati fasilitas seadanya. 

Di perpustakaan sekolah, banyak terdapat buku-buku pelajaran, tapi buku yang tersusun itu sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kurikulum saat ini (kebanyakan buku jauh di bawah KBK). Sekolah ini masih bersyukur masih memiliki papan tulis sebagai media sarana untuk belajar. 

Dari dua pengalaman kecil tersebut, bagaimana ayah katakan pendidikan di Aceh telah maju? sedangkan fasilitas belajar saja masih sangat-sangat kurang. Sekolah di Teunom sedikit lebih bagus karena bantuan dari Jerman yang dibangun setelah Tsunami sedangkan sekolah di Trienggadeng?, mungkin ayah bisa langsung ke sana, agar ayah lebih tahu kondisi sekolah di Trienggadeng.

Ayah, alangkah baiknya bila anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan yang lebih tepat sebagai penunjang pendidikan, seperti membuat taman baca umum yang dilengkapi dengan perpustakaan mini dengan buku-buku yang menarik, sehingga minat membaca siswa dan siswi meningkat. Bayangkan, jika anggaran Rp8,5 miliar dibagi ke 23 kabupaten dan kota di Aceh, maka setiap daerah akan mendapatkan anggaran mencapai Rp370 juta, dana itu kemudian digunakan untuk membangun taman baca. 

Agar taman baca yang dibuat tidak terbengkalai dan buku-buku yang disediakan tidak membosankan, ayah bisa bekerjasama dengan pihak sekolah dan perpustakaan daerah. Pihak sekolah nantinya mengajak para siswa untuk melakukan studi tour ke taman baca minimal dua bulan sekali dan meminta para siswa untuk membuat resume dari buku yang mereka baca. 

Pihak perpustakaan daerah yang akan mensuplai buku-buku sehingga para pengunjung tidak bosan untuk berkenjung ke taman baca. 

Selain itu, ayah bisa membuat lomba membaca dan resume buku setiap tahunnya, sebagai bentuk apresiasi agar para siswa dan masyarakat lebih semangat untuk berkunjung dan membaca di taman baca. Hal seperti ini mungkin lebih dibutuhkan di Aceh untuk mendukung dalam memerangi buta huruf dan menambah wawasan siswa dan masyarakat pada umumnya.

Ayah, penggunaan videotron sebagai sarana penyampaian informasi pendidikan bukan tidak boleh dibangun, namun pembangunan itu belum tepat untuk Aceh. Tidak mungkin ayah mengatakan pendidikan Aceh telah maju dan berkembang bila fakta kualitas pendidikan kita masih rendah terutama di daerah-daerah. 

Ingat ayah, hasil kinerja lembaga ayah tidak harus diumbar-umbar agar masyarakat tahu yang ujung-ujungnya terkesan ria. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai dari apa yang sudah lembaga ayah kerjakan.

Demikianlah surat dari Ananda mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan yang juga bertanggung jawab terhadap pendidikan Aceh. Ananda berharap ayahanda mempertimbangkan kembali penggunaan anggaran untuk videotron dengan bijaksana. Kebijaksanaan ayah sangat menentukan nasib Aceh ke depan.

Opini ini pernah dipublikasikan di media online Media Aceh (25/07/2016) .

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments