21 Agustus 1945

21 Agustus 1945

Karya: Mhd. Saifullah
Di sini awal bermula.
Dua puluh satu Agustus 1945,
suara-suara terbungkam lama
kembali menggema
menyerukan untuk merdeka.
Merdeka, merdeka, merdeka.
Denyut proklamasi Indonesia tiba
di tanah Aceh tercinta.

Para pemuda mulai bersuara
Ghazali, Ali Hasjmy, beserta konco-konco yang lainnya termasuk Talsya
mulai melakukan pergerakan terbuka
Merubuhkan kekuasaan Nippon terkenal dengan slogan tiga A.

Merdeka, merdeka, merdeka.
Mereka menyerukan semua
kepada masyarakat Aceh tercinta.

Merdeka, merdeka, merdeka.
Selebaran mulai berbicara,
slogan-slogan bebas menghiasi dinding kota
merah putih mulai naik ke tahta.

Di sini awal bermula.
Dua puluh satu Agustus 1945,
menjadi nafas berjuang segenap jiwa,
para pejuang kembali meninggalkan seluruh harta.
Kata merdeka menjadi api yang membara.
Merdeka, merdeka, merdeka.
Jepang pun enyah,
Belanda pun enggan kembali duduk menjajah
karena serangan tiada terkira,
fisabilillah menjadi pondasi utama.

Merdeka, merdeka, merdeka.
Lebih baik mati daripada harus dijajah.
Lebih baik menderita daripada harus tunduk kepada penjajah
apalagi sampai harus kehilangan agama Allah.

Merdeka, merdeka, merdeka.
Lebih baik kehilangan harta dari ada anak cucu menderita.
Lebih baik kehilangan nyawa daripada Indonesia tidak merdeka.

Di sini awal bermula.
Dua puluh satu Agustus 1945,
menjadi saksi sejarah
tanah ini menjadi modal bangsa Indonesia.
Agresi-agresi Belanda menyerang
hilang dalam perang dengan para pejuang.
Indonesia merdeka seutuhnya.
Indonesia diakui dunia.

Tapi.
Dua puluh satu Agustus 1945,
kini seakan dilupa.
Mungkin karena luka atau dengan sengaja
kita menghapus sejarah yang mutlak milik kita.
Atau mungkin karena tahta tak seberapa
kita begitu mudah lupa
malah tidak tahu ada apa,
bagaimana, kenapa, dan di mana.

Mudah, ya dengan mudah.
Kita sapu bersih sejarah kita.
Kita ratakan seakan kita tidak memgetahuinya.
Lalu apa yang kita bangga dan cerita
bila kelak si buah hati bertanya
kebenaran modal tanah ini.

Dua puluh satu Agustus 1945,
pahamilah. Kita modalnya.
Kajhu, Aceh Besar
10 Agustus 2015
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments