Pemoeda Dahoeloe Kini Pemuda

Wednesday, July 27, 2016

Pemoeda Dahoeloe Kini Pemuda

Secara fisik, pemuda bisa dibilang individu seseorang yang sedang mengalami perkembangan. Bila dipandang secara psikis, pemuda merupakan individu yang sedang mengalami perkembangan emosional sehingga pemuda sering dikaitkan dengan sumber daya manusia pembangunan masa kini maupun masa datang. Dalam UU Kepemudaan Nomor 40 Tahun 2009, Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode pertembuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Dilihat dari usianya, pemuda merupakan lumbung aspirasi sehingga banyak pergerakan-pergerakan dalam sejarah setiap bangsa banyak dilakukan oleh kaum pemuda dari pada aspirasi masyarakat umum.

Soekarno Presiden Indonesia pertama pernah mengatakan “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut semeru beserta akarnya dan beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”. Dari perkataan tersebut cukup jelas, peran pemudah sangat mempengaruhi dalam berbagai hal, pemikiran-pemikiran kaum pemuda lebih kritis dan tajam terhadap perkembangan bangsa sehingga pemuda selalu menjadi dambaan dari sebuah bangsa. Soekarno pernah berkata tugas pemuda saat ini bukan harus berjuang seperti pemuda dahulu yang melawan penjajahan Belanda, tetapi tugas pemuda saat ini jauh lebih berat karena perjuangan yang lebih kepada menjaga diri sendiri dari kerasnya pengaruh bebas dunia globalisasi dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa adanya perbedaan sebagai warga negara.

Sejarah dan Makna Sumpah Pemuda
Peristiwa sumpah pemuda merupakan salah satu pristiwa besar yang tercatat di dalam sejarah penting Bangsa Indonesia. Di mana semangat kebersamaan untuk persatuan timbul dalam sebuah kongres yang bernama Kongres Pemuda. Di dalam kongres tersebut di hadiri oleh beberapa organisasi pemuda yang ada di seluruh Indonesia pada saat itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen, Jong Islamieten Bond dan  beberapa orang pemuda Tionghua.

Kongres Pemuda 2 yang digagaskan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 27-28 Oktober 1928 dalam tiga tempat yang berbeda. Pada pertemuan pertama tanggal 27 Oktober 1928 dilaksanakan di Gedung  Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein yang sekarang Lapangan Benteng. Pada rapat pertama dalam kongres tersebut adalah pembahasan tentang arti persatuan dengan pemuda, yang pada saat itu organisasi pemuda yang ada lebih kepada kedaerahan masing-masing. Dalam pembahasan tersebut, Moehammad Yamin menjelaskan ada lima yang memperkuat persatuan Bangsa Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Pada rapat kedua yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928, di Gedung Oost, Java Bioscoop dan  membahas lebih kepada perkembangan pendidikan di Indonesia pada saat itu, baik itu pendidikan yang dilakukan di sekolah dan di rumah. Dan pada rapat penutup atau rapat yang ketiga dibahas tentang penjelasan pentingnya rasa nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.

Teks Sumpah Pemuda dibacakan langsung oleh Soegondo yang merupakan ketua kongres sesaat setelah Mr. Sunario selesai berpidato dan isi Sumpah Pemuda tersebut berbunyi:

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia;

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku, berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia;

Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Setelah pembacaan, Moehammad Yamin yang merupakan perumus teks tersebut memaparkan makna dan arti dari teks Sumpah Pemuda, lalu diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Soepratman untuk pertama kali. Sejak kejadian tersebut lagu Indonesia Raya dilarang oleh pemerintah colonial Hindia Belanda untuk dinyanyikan, namun para pemuda tetap ingin menyanyikan sampai dengan merdekanya Bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928, merupakan tonggak awal dalam catatan penting sejarah Bangsa Indonesia. Sesuai dengan namanya, Sumpah Pemuda yang dirumuskan oleh  pemuda yang kemudian menjadikannya dasar untuk membangkitkan semangat dan rasa persatuan. Rasa persatuan itu timbul setelah pengikraran Sumpah Pemuda dibacakan bersama-sama, di mana seperti yang kita ketahui ada tiga butir penting yang mendorong kebersamaan tersebut, bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa yang satu.

Yang dimaksud dalam butiran-butiran tersebut dapat dijelaskan dengan, pertama bertanah air satu, yaitu kesadaran kita untuk bersatu yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda baik itu tanah kelahiran dan air yang kita minum. Kesadaran akan tanah yang merupakan tempat kelahiran kita telah dijajah, dikuras habis hasil buminya, dan menjadi ladang pembantaian oleh satu penjajah yang sama sehingga timbul satu pengakuan bertanah air satu, tanah air Indonesia untuk memperkuat rasa persamaan nasib yang dialami. Pada butiran kedua berbangsa yang satu, yaitu kesadaran akan perbedaan suku yang berasal dari berbagai macam daerah tanah kelahiran yang ada untuk bersatu dalam pengakuan sebagai bangsa Indonesia. Butiran ketiga mengenai pengakuan berbahasa yang satu, yaitu kesadaran akan perbedaan tanah kelahiran, suku dan bahasa sehingga timbul rasa kesatuan dengan bahasa yang satu sebagai bahasa perantara antara bahasa yang satu dengan yang lain, yaitu bahasa Indonesia.

Tiga butir yang ada dalam teks Sumpah Pemuda merupakan hal penting dalam menyadarkan rasa persatuan dan nasionalisme yang menjadikan negara kita bersemangat untuk merdeka dan bebas dari yang namanya penjajah.

Kini Pemuda
Masalah yang terjadi pada pemuda saat ini yang merupakan generasi penerus bangsa begitu banyak, mulai dari tawuran dan pergaulan bebas. Bila kita melihat banyak kejadian yang terjadi saat ini, baik itu berita di media elektronik maupun surat kabar mengenai tawuran atau saling baku hantam antara kelompok pemuda satu dengan yang lain dan bahkan tak segan-segan untuk saling melukai bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Selain itu, kasus pergaulan bebas juga semakin marak terjadi. Minimnya pengetahuan pemuda mengenai bahaya penggunaan narkoba membuat kebanyakan pemuda terlibat di karenakan berawal dari hal coba-coba sehingga berakhir dengan yang namanya kematian disebabkan over dosis obat-obatan. Dan untuk seks bebas, mudahnya kaum muda mengakses situs-situs porno dan banyaknya tempat khusus dewasa yang mudah untuk di masuki kaum muda, sehingga mudahnya terjadi hubungan di luar nikah yang menyebabkan hamil dan melakukan aborsi serta yang paling ringanya terjangkit virus HIV/AIDS.

Di Aceh sendiri, kejadian tawuran siswa SMA N 2 dan SMK N 1 di Bireuen pada bulan September kemarin, merupakan potret nyata yang terjadi pada generasi muda Aceh saat ini. Padahal penyebab kejadian rata-rata dikarenakan hal sepele serta kesalah pahaman yang menjadi pemicunya. Walau dalam tawuran tersebut tidak ada yang terluka karena langsung dibubarkan oleh pihak keamanan. Untuk kasus pergaulan bebas, semejak kejadian Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 semakin meningkat, mengingat setalh kejadian tersebut banyak pengaruh dari luar yang masuk ke Aceh. Terbukti kasus penyebaran virus HIV/AIDS di Aceh semakin bertambah terhitung setelah sepuluh tahun belakangan ini (2004-2014), jumlah penderitanya telah mencapai 272 jiwa, sesuai catatan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (Serambi Indonesia pada hari Kamis, 23 Oktober 2014).

Berita mengenai sisi gelap ABG Aceh yang menyimpang di kalangan remaja telah mencapai titik mengkhawatirkan. Di tempat-tempat khusus dewasa seperti bar dan diskotik banyak ditemukan kaum remaja di karenakan mudahnya akses untuk masuk ketempat-tempat tersebut (Serambi, Selasa, 25 Meret 2014). Meski Polisi Syariat atau Wilayatul Hisbah (WH) sering melakukan razia bahkan mengawasi tempat-tempat hiburan malam, penginapan seperti di hotel, tidak membuat kaum remaja diam bahkan dari pihak WH sendiri mengaku kewalahan untuk merazia tempat-tempat tersebut.

Inilah gambaran penyimpangan prilaku sebagian besar pemuda Indonesia khususnya di Aceh pada saat ini. Dampak dari tawuran antara pemuda akan menyebabkan kurangnya rasa saling menghargai serta rasa persatuan dan kesatuan antara satu kelompok pemuda dengan sekelompok pemuda yang lain. Sedangkan pergaulan bebas akan berdambak kepada boboroknya moral generasi muda. Padahal pemuda adalah generasi penerus bangsa yang kelak akan memimpin bangsa ini. Tetapi bagaimana kedepannya nasib bangsa ini, bila pemudanya saja sudah saling menghancurkan dan tidak memiliki moral yang baik.

Namun, dari sekian banyak kejadian yang merusak pemuda, masih ada dari sebagian kecil pemuda Indonesia yang juga masih peduli dan mau berjuang untuk bangsa dan rakyatnya. Mereka banyak melibatkan diri kedalam berbagai kegiatan yang positif, seperti bergabung kedalam lembaga berorganisasi, kegiatan olahraga, kegiatan keagamaan, penelitian, dan banyak lagi kegiatan lain yang bisa membangun bangsa serta mencegah dari berbagai hal yang merusak jiwa. Malah dari beberapa kegiatan positif tersebut telah membawa harum nama bangsa Indonesia ke kencah dunia Internasional, seperti kegiatan olahraga, menjadi dai internasional dan bidang teknologi lomba pameran robot.

Inilah tugas terberat bangsa saat ini, harus ada solusi tepat dan cepat dalam menangani kasus yang terjadi pada kaum muda. Peran-peran dari berbagai pihak dibutuhkan untuk mengurangi hal-hal negative. Peran orang tua yang merupakan orang terdekat  juga sangat besar dan peran beberapa lembaga sosial sangat serta sosialisasi mengenai bahaya pergaulan bebas juga harus ditingkatkan mulai dari sejak dini

Saran saya untuk kawan-kawan pemuda semua, alangkah baiknya kita mengisi kegiatan-kegiatan yang positif, yang meningkatkan rasa nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang nantinya bisa memajukan bangsa menuju perkembangan yang lebih baik dan mampu menjawab tantangan globalisasi sesuai dengan ajaran agama kita.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments