Unsyiah: dari Cita-Cita Menuju Dunia

Thursday, June 09, 2016

Unsyiah: dari Cita-Cita Menuju Dunia

Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam merupakan pondasi awal masyarakat Aceh untuk mewujudkan cita-cita dan harapan dalam menyongsong masa depan melalui pendidikan. Tulis Presiden Soekarno pada 2 September 1959 yang terpatri pada sebuah prasasti di Tugu Kopelma Darussalam berisi, “Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita” menandakan diresmikannya kota ini. Cita-cita dan harapan itu kemudian diwujudkan secara nyata dengan berdirinya sebuah perguruan tinggi pada 2 September 1961 bernama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Nama Universitas Syiah Kuala diambil dari nama seorang tokoh agama dan intelektual yang hidup masa Kesulthanan Aceh Darussalam, Tgk. Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf Singkil) (1615-1693). Beliau adalah seorang tokoh yang pernah menjadi penasehat Kesulthanan Aceh Darussalam kepemimpinan Sulthanah Syafiatuddin Syah dan beliau juga berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara. Oleh karena itu, para pemimpin Aceh berharap dibalik penggunaan nama Universitas Syiah Kuala, kampus ini dapat menghasilkan para lulusan yang memiliki intelektual tinggi, etika dan bermoral yang bermanfaat serta berpengaruh bagi daerah, bangsa dan dunia. Citi-cita itu sampai saat ini dicoba untuk direalisasikan Unsyiah melalui visi universitas.

Visi Universitas Syiah Kuala adalah untuk menjadi universitas yang inovatif, mandiri, dan terkemuka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora, olahraga, dan seni sehingga menghasilkan lulusan berkualitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika.

Gambar Tugu Kopelma Darussalam
Pada Awal Mula Pembangunan.
(Doc. T.A. Talsya)
Harapan dan cita-cita yang telah disusun melalui Visi Unsyiah secara berlahan telah dijalankan dan diwujudkan. Para lulusan yang dihasilkan telah banyak berkontribusi dan membawa perubahan besar diberbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, kesehatan, serta masih banyak lagi bidang lainnya baik di Aceh, nasional, maupun dunia. Meski telah banyak berkontribusi, perealisasian dari cita-cita juga semakin ditingkatkan mulai dari kualitas pendidikan, pelayanan publik, dan fasilitas kampus.

Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menerapkan wajib lewat tes tofle (450). Pelayanan publik semakin mudah dilakukan baik untuk pengisian KRS, mencari bahan referensi (buku dan hasil penelitian), sampai info mengenai Program Studi (Prodi) dapat diakses online. Fasilitas kampus berupa gedung belajar juga mulai diperbanyak dan membuka beberapa prodi baru bahkan sampai kelas mahasiswa internasional, gedung perpustakaan, tempat ibadah, asrama mahasiswa, tempat olahraga, jalan, serta taman rekreasi, dan banyak lagi lainnya yang telah dibangun di lingkungan kampus. Hasilnya kini sudah dapat kita nikmati semua. Akreditas kampus sudah A, perpustakaan juga berakreditas A dan diakui ISO. Semua sarana dan prasarana yang dibangun tidak lain untuk mendorong serta meningkatkan semangat mahasiswa untuk belajar agar para lulusan yang dihasilkan semakin berkualitas.

Gambar Pamflet Nama Universitas Syiah Kuala
(Doc. Google)
Menjadi kampus terfavorit yang memiliki akreditas terbaik serta lulusan yang intelektualnya diakui skala nasional maupun internasional merupakan cita-cita bagi setiap universitas. Begitu juga dengan kampus yang telah banyak memproduksi manusia-manusia intelektual di provinsi ini, selama 55 tahun Unsyiah terus berbenah untuk mewujudkan cita-cita. Usaha untuk meningkatkan kualitas intelektual manusia Aceh yang bermoral melalui pendidikan dan bermanfaat bagi bangsa maupun dunia. Meskipun ada beberapa kendala dalam mewujudkannya, namun secara berlahan Unsyiah mencoba untuk merealisasikannya dengan perbuatan yang nyata. Hal ini agar Unsyiah bukan hanya sebagai kebanggaan semata bagi rakyat Aceh, akan tetapi kehadirannya menjadi bermanfaat dan diharapkan dunia.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments