Sajaratun

Sajaratun

Gambar Ilustrasi Pohon (Sajaratun) (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Waktu-waktu.
Begitu laju berlalu
Tiada menunggu,
tertunggu, ataupun ditunggu.
Tak terasa.

Bila dikata,
pemula orde baru.
sebatang sajaratun ditanam penuh harapan,
di taman tunas bangsa,
dikenal dengan keguruan.
Keyakinan cuma satu.
Bermanfaat.
Bermanfaat menghantarkan oksigen
pengetahuan kebenaran
dari dedauanan dilahirkan.

Hingga kini
sebatang sajaratun masih ada,
masih kokoh,
masih tegak berdiri
meski beratus bahkan beribu dedauan telah lepas
akan lahir kembali tunas-tunas tiada henti.
Bukan mati satu tumbuh seribu,
ungkapan itu terlalu lemah.
Sebab dedaunan melandas pun tetap bermanfaat
bagi kehidupan di bawah sana.
Pemberi pendidikan dunia.
Bahkan sampai detik ini.

Wahai saudara ku semua,
coba lihat disekitar.
Apakah berbeda?
Atau adakah perbedaan?
Tidak, tidak.
Aku, engkau, dia, bahkan mereka
yang telah tiada
atau nanti mereka di depan sana.
Kita sama.
Kita adalah dedaunan itu.
Tiada berbeda.

Siklus masa berlalu
dedaunan akan terus berganti
hukum alam membatasi jiwa-jiwa di dunia.
Hilang, hilang, hilang
Dedauna tak bersemi,
tunas-tunas enggan menampakkan diri,
sajaratun mulai lelah berdiri
lalu hilang bagaikan buih.
Sebab tak ada yang abadi.
Semua akan mati.

Waktu-waktu.
Begitu laju sang waktu.
Tiada menunggu, tertunggu,
ataupun ditunggu.
Tak terasa, namun habis jua.
Siklus ruang waktu menceritakan bagaikan senja.
Kajhu, Aceh Besar
16 Mei 2016
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments