Sabtu, 28 Mei 2016

18:32:00

Sabtu, 28 Mei 2016

Karya: Mhd. Saifullah
Sabtu, dua puluh delapan mei
dua ribu enam belas.
Tepatnya sabtu malam.
Dikenal malam minggu.
Untuk kesekian kali,
hujan dan angin kencang
masih setia membarengi.
Mereka sebut badai
menghantam kota.
Tak sampai dua jam berlalu,
bergilir kembali melanda.

Bila dihitung,
lebih dari sepekan langit kelabu.
Siang terasa pekat,
malam memburam tanpa cahaya bulan,
apalagi bintang.
Tak tampak sedikitpun.

Kesejukan mengudara sepanjang waktu,
berhembus secara tegas.
Menusuk pori dan menikam
hingga tulangpun kehilangan tuan.
Tak terkecuali,
semua jiwa meradang.

Sabtu, dua puluh delapan mei
dua ribu enam belas.
Untuk kesekian,
angin kencang dan hujan bergandengan
Kutaraja, Sabang, Aceh Raya, Aceh Besar,
dan beberapa daerah lain.
Wussss wussss.
Habis diterjang.
Pohon-pohon rumah habis luluh lantah.
Listrik pun ikut padam di antaranya.
Menikmati euforia alam memurka kota.

Sabtu, dua puluh delapan mei
dua ribu enam belas.
Mari kita belajar dari padanya.
Dari kesekian, tragedi kota.
Ie Masen, Banda Aceh
28 Mei 2016
Gambar Ilustrasi Tanggal
(Doc. Mhd. Saifullah)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments