Rencong di Tanah Pendarahan

Rencong di Tanah Pendarahan

Gambar Rencong (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Lihat,
ini adalah rencong
di lorong-lorong waktu.
Lekukan darah
terhias dinding-dinding masa.
Indah di bundarnya pupil
para serakah harta dan tahta.
Tak terkira,titik-titik air mata terbayang,
berbayang di antaranya.
Rencong menyumpah langit.
Tanah ini adalah tanah pendarahan.
Senantiasa menzaman hingga hamba memakan tuan.

Lihat,
bingkai waktu yang bisu
menceritakan barisan ayah, anak, dan ibu.
Bersatu namun tak tahu menahu.
Sebab tanah pendarahan membelenggu kesiapan.
Rencong menikam menggila.
Relakan segala
bukan untuk kenikmatan tuan dan tuan rasakan,
namun untuk tanah pendarahan.

Lihat,
mereka terselamat.
Tertawa bahagia dikeringnya nyawa.
Mereka sebut pahlawan,
lalu melejit meraja dan mencibir tuannya
yang kini menghamba.
Rencong tak lagi menikam musuhnya.
Rencong tak lagi menyumpah langit.
Rencong beralih menusuk ke bumi,
dan mencabik-cabik seluruh isi
layaknya potret di dinding masa.
Meski tanah tak lagi dengan darah
namun senantiasa mengalir di bawahnya.

Ingat,
meski asing tak tampak mata,
meski sebangsa tak lagi menggauli
atau mengikis diri.
Rencong akan terus kehausan
dan takan lepas untuk darah memandikan.
Klan akan menjadi korban.
Karena tanah ini,
tanah pendarahan.
Kajhu, Aceh Besar
1 Mei 2016
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments