Penerapan Kurikulum Pendidikan Diolok-Olok

Wednesday, May 11, 2016

Penerapan Kurikulum Pendidikan Diolok-Olok


Budaya gonta-ganti yang terjadi pada setiap kali pergantian pemimpin serta pembantunya di Indonesia bukanlah hal yang aneh lagi bagi kita. Baik itu dalam penerapan sistem ekonomi, politik pemerintahan, serta pendidikan. Perbedaan pemikiran serta tidak sependapat menjadi salah satu faktor perubahan dalam setiap kepemimpinan. Terbukti, budaya tersebut masih saja berlanjut mulai dari kepemimpinan pada masa Presiden Soekarno sampai dengan saat ini masa Presiden Jokowi. Kali ini yang menjadi korban dari perubahan kepemimpinan lagi-lagi adalah dunia pendidikan. Dalam jangka waktu sepuluh tahun, Indonesia sudah bergonta-ganti kurikulum sebanyak 4 kali. Mulai dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), K13 (Kurikulum 2013), dan yang baru saja diganti lagi sekarang.

Menanggapi keputusan Mendikbud yang ingin menghentikan penerapan pelaksanaan Kurikulum 2013 yang di sampaikan oleh Anies Baswedan, sungguh membuat dunia pendidikan bangsa ini seperti diolok-olok bagaikan sebuah boneka. Di mana bisa dimain-mainkan, digonta-ganti pakaiannya, serta dibolak-balik sesuai keinginan. Padahal seperti yang kita ketahui, Kurikulum 2013 yang baru saja diterapkan dan belum sampai lagi satu semester dilaksanakan pada seluruh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Terdapat hanya 6.221 sekolah yang baru menerapkan Kurikulum 13 pada tahun ajaran 2013/2014, yang terdiri dari 2.598 SD, 1.437 SMP, 1.165 SMA, dan 1.012 SMK dari 182.538 sekolah yang terdata di Kementerian Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sampai tahun 2008. Selebihnya bisa dikatakan sebanyak 174.862 sekolah baru pada semester ini menerapkan Kurikulum 2013. Dan sekolah-sekolah yang telah tiga semester menerapkan Kurikulum 2013 akan menjadi sekolah percontohan bagi kurikulum tersebut.

Gambar Ilustrasi
(Doc. Google)
Alasan Mendikbud pemerintah mengambil keputusan untuk menghentikan penerapan penggunaan Kurikulum 2013 di karenakan sebagian besar sekolah belum siap melaksanakan kurikulum tersebut. Dalih-dalih alasan penghentian ini dilandsasi karena ketidakselarasan ide dengan desain kurikulum dan ketidakselarasan antara gagasan dan isi buku. Sehingga masih ada masalah dalam kesiapan buku, sistem penilaian, penataran guru, pendamping guru dan pelatihan kepala sekolah yang belum merata. Dan penerapan Kurikulum 2013 dikatakan terkesan pelaksanaannya terlalu terburu-buru. Apa sebenarnya yang dipikir serta diinginkan dari pemimpin-pemimpin bangsa ini dalam dunia pendidikan? Apakah pemerintah tidak pernah berpikir dampak dari semuanya bila dilakukan perubahan kurikulum secara terburu-buru?

Dari beberapa alasan serta penjelasan yang disampaikan mengenai pergantian kurikulum, timbul beberapa pertanyaan dari saya sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang nantinya akan menjadi calon seorang guru. Apa yang akan kami lakukan sewaktu Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah bila kurikulum sudah diganti? Sedangkan sewaktu micro teaching kami diajarkan menggunakan Kurikulum 2013? Pastinya akan membuat kami menjadi kalang kabut, karena apa yang kami telah pelajari nantinya tidak sesuai dan sangat jauh berbeda dengan apa yang akan kami terapkan di sekolah tempat kami PPL nantinya. Bersyukur bila mendapat sekolah yang masuk dalam 6.221 sekolah yang menjadi percontohan penerapan Kurikulum 2013.

Bagaimana dengan nasib para siswa kelas tiga? Padahal mereka akan Ujian Nasional (UN)? Bila penerapan Kurikulum 2013 dihentikan, maka semester depan mereka akan memakai kurikulum yang berbeda pula. Dan ini bisa sangat berdampak pada hasil belajar siswa pastinya karena sistem penilaiannya sudah berbeda.

Bagaimana mengenai kerugian anggaran yang telah dikeluarkan oleh negara untuk penerapan Kurikulum 2013? Dan buku pelajaran dan Pedoman Guru Kurikulum 2013 nantinya dijadikan untuk apa? Akibat persiapan yang tidak matang dalam menarapkan Kurikulum 2013, negara telah dirugikan Rp.829 Milyar sesuai dengan pengesahan yang dilakukan oleh anggota X DPR RI. Dana yang dipergunakan untuk membeli buku melalui dan BOS serta pelatihan guru seakan menjadi sia-sia bila kurikulum diubah kembali.

Sungguh disayangkan bila kurikulum setiap saat diubah sesuai dengan pemimpinnya. Bagaikan memegang sebuah proyek, bila sudah berganti kontraktor maka bentuk serta keadaannya juga diganti.

Perubahan kurikulum memang sangat berdampak besar bagi dunia pendidikan, karna kurikulumlah yang akan merancang bagaimana sistem serta cara pendidik menerapkan pelajaran kepada peserta didik. Pergantian kurikulum dengan terburu-buru bisa dikatakan pendidikan bangsa ini seperti diolok-olok dan ditelanjangi. Habis dipakaikan baju baru, udah itu dibuka kembali dan ganti lagi tanpa memikirkan kerugian dari membeli bahan-bahan untuk membuat baju tersebut.

Saran saya sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang nantinya menjadi calon seorang guru. Alangkah baiknya setiap peraturan, pembangunan, serta keputusan apapun itu dilakukan percobaan dahulu sebelum diputuskan secara matang. Baik itu dibidang pendidikan maupun di bidang-bidang lainnya. Karena tidak mudah untuk menerapkan sekaligus di Indonesia yang sangat luas ini. Kejadian pergantian kurikulum ini semoga menjadi pelajaran besar bagi pemimpin semua.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments