Menggugat Historiografi Indonesia

Menggugat Historiografi Indonesia

Gambar Sampul Buku Menggugat Historiografi Indonesia (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul : 
Menggugat Historiografi Indonesia
Penulis : 
Bambang Purwanto dan Asvi Warman Adam
Penerbit : 
Ombak
Tahun terbit : 
2005
Tebal/jumlah halaman : 
148 Halaman

1. Sejarawan Akademik dan Disorientasi Historiografi Sebuah Otokritik
a. Pengingkaran yang menjerumuskan
Sejarawan Indonesia harus menghadapi adanya gugatan terhadap rekonstruksi sejarah Indonesia dari masyarakat di zaman yang telah berbeda. Masyarakat tidak lagi menerima berbagai konstruksi dan konsep kebenaran yang dipahami selama ini, sehingga menimbulkan pendapat bahwa historiografi Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan atau di ujung tanduk. Historiografi Indonesia masih belum mampu untuk membangun citra dirinya sebagai keilmuan yang dapat dibanggakan dan diapresiasikan masyarakat sebagai media pencerahan. Akibatnya, historiografi Indonesia dianggap sebagai beban yang menjerumuskan dan mengakibatkan cara berpikir yang sempit.

Pengingkaran yang menjerumuskan mengenai historiografi Indonesia pertama kali terjadi lebih dari 90 tahun yang lalu, ketika Hoesein Djajadiningrat membahas dan tinjauan kritis kajiannya tentang sejarah Banten. Kajian Hoesein dianggap sebagai karya pertama orang Indonesia dan batas akhir historiografi tradisional yang menggunakan prinsip-prinsip metode kritis sejarah (Kartodirdjo, 1982; Kuntowijoyo, 1994). Selain itu, pemikiran yang berkembang pada Seminar Sejarah Nasional I yang dianggap sebagai sebagai awal munculnya kesadaran sejarah baru dan historiografi Indonesia. Padahal penulisan sejarah Indonesia belum memberikan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu sejarah (Oetomo, 1961). Hal itu juga dinyatakan oleh Soedjatmoko dan Mohammad Ali mengenai begitu pentingnya metodologi dalam penulisan sejarah saat menanggapi kekhawatiran terhadap arah perkembangan historiografi Indonesia. Diperlukannya teori dan metodologi dalam kerangka sejarah kritis, analitis, dan multidimensional dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial yang diungkapkan Sartono Kartodirdjo dalam menanggapi tidak relevan praktek penyelidikan penulisan sejarah nasional atau Indonesiasentrisme (Kartodirdjo, 1982). “Sejarah bukan sastra, sejarah dan sastra berbeda dalam struktur dan subtansi. Sejarah adalah sejarah sebagai ilmu, dan sastra adalah sastra sebagai imajinasi”, tanggapan Kuntowijoyo mengenai sejarah (Kuntowijoyo, 2004).

Kesalahan dan terus dianggap kebenaran dari sekian banyak relitas hitoriografi yang ada adalah sejarah Presiden Indonesia dan kepala pemerintahan lainnya. Jika kita mengganggap sejarah sebagai sebuah proses, maka sejarah Presiden Indonesia dari yang pertama hingga saat ini adalah Soekarno, Sjafrudin Prawiranegara, Assat, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Selain itu dalam konteks kepala pemerintahan terdiri perdana menteri sejak dari Sutan Sjahrir sampai Djuanda. Akan tetapi sebagaian nama-nama di atas seakan hilang tidak berbekas dalam memori historiografi bangsa Indonesia saat ini.

Melupakan nama Sjafrudin Prawiranegara sama saja mengingkari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan menghilangkan Assat dari sejarah kepresidenan sama saja tidak mengakui keberadaan Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai universitas pertama yang didirikan oleh Indonesia serta salah satu babak penting dalam proses sejarah Republik Indonesia. Berdasarkan pengalaman itu, tidak mengherankan jika ada pendapat mengatakan sejarah Indonesia sebenarnya berjalan di tempat atau bahkan mundur kebelakang bila dilihat berdasarkan konseptual dan metodologi. Historiografi yang dihasilkan sejarawan Indonesia tertinggal jauh bila dibandingkan dengan penulisan sejarah Indonesia yang ditulis oleh pihak asing.

Bukti terjadi kesalahan fundamental pada pengetahuan dan prinsip dasar dalam proses ahli ilmu sejarah yang disampaikan mengalami distorsi dari generasi ke generasi. Pemahaman yang hanya menyimpan pengetahuan dan kerangka berpikir seperti koleksi yang harus dijaga dengan baik agar tidak berubah. Oleh karena itu, banyak para sejarawan tidak menghasilkan tulisan sejarah yang menarik dan kritis sehingga terkadang bertentangan dengan ide dasar yang telah diwariskan. Keberhasilan yang dicapai dari generasi penerus sejarawan Indonesia lebih bersifat individual yang tidak mencerminkan kemajuan intelektual historiografi Indonesia. Disorientasi pola pikir yang anaronisme, generasilasi, distorsi semantik, dan kebingunan subtansif merupakan indikator utnuk menyatakan adanya persoalan pada sejarah Indonesia. Kehidupan para sejarawan telah dibentuk oleh mitos dan doktriner, tidak ada lagi cara berpikir realitas masa lalu yang berdimensi kritis dan manusiawi sehingga dalam merekontruksikan sejarah selalu mencari kambing hitam dalam yang menjadi sebab konstruksi sejarah. 

Perkembangan distorsi historiografi lebih kepada persoalan politik yang disebabkan intervensi kekuasaan terhadap ilmu dari pada ilmu itu sendiri (Adam, 2004). Akibatnya, kreativitas intelektual sejarawan menjadi terbatas atau terpasung oleh bingkai-bingkai ideologis dan doktriner. Sebagai sejarawan di perguruan tinggi, jauh lebih baik mengoreksi diri sendiri daripada mencari kambing hitam di rumah orang lain, ketika mempertanyakan kontribusi yang telah diberikan bagi kemajuan dan kemunduran historiografi Indonesia selama ini.

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments