Aceh Miniatur Dari Indonesia

Wednesday, May 18, 2016

Aceh Miniatur Dari Indonesia


Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki kekayaan serta alam yang indah dan mempesona. Tak heran bila Indonesia mendapat julukan zamrud khatulistiwa dan menjadi rebutan para bangsa yang ingin menjajah dahulu. Selain alamnya yang kaya, Indonesia juga kaya akan budaya yang berasal dari berbagai macam suku bangsa. Suku-suku bangsa tersebut mulai dari Aceh, Melayu, Jawa, Bugis, Ambon, Irian, dan banyak lagi suku-suku yang masih ada di daerah pedalaman. Masyarakat Indonesia sendiri memeluk berbagai macam agama, seperti Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Khonghucu yang tersebar mulai dari  Sabang yang berada di bagian barat sampai merauke yang terletak paling timur Indonesia. Kehidupan beragama yang damai walaupun berbeda–beda keyakinan dalam menjalankan ibadah tetapi tetap menjaga rasa saling hormat-menghormati dan toleran.

Gambar Ilustrasi Keberagaman Suku di Aceh
(Doc. Google)
Berbicara tentang Indonesia serta perbedaan yang ada, Aceh merupakan daerah yang bisa dikatakan miniatur dari Indonesia. Di Aceh sendiri terdapat 12 suku bangsa, mulai dari suku Aceh, Gayo, Devayan, Alas, Kluet, Aneuk Jamee, Batak Pakpak, Haloban, Singkil, Lekon, Sigulai, dan Tamiang (GalleryAceh.blogspot.com). Bahasa yang digunakan di beberapa daerah Aceh juga berbeda-beda, mulai dari bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahasa Alas, bahasa Melayu Tamiang, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Kluet, bahasa Singkil, bahasa Haloban, dan bahasa Simeulue (aneukagamaceh.blogspot.com). Meskipun demikian bahasa yang menjadi pemersatunya adalah bahasa Aceh, yang dipergunakan hampir seluruh daerah di Aceh. Mengenai kepercayaan dalam beragama mayoritas masyarakat di Aceh adalah Islam, dan selebihnya sebagian kecil beragama Budha, Khatolik, dan Protestan. Dalam menjalankan kegiatan beragama, 

Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang bisa dikatakan paling damai dalam menjalankan perbedaan beribadah tanpa banyak kerusuhan antara agama. Tingginya tingkat toleransi dan saling menghargai masyarakat Aceh yang mayoritas Islam terbukti saat perayaan-perayaan hari besar beragama. Saat perayaan Imlek awal tahun 2014 kemarin, masyarakat Aceh mengkolaborasikan budaya tari seudati dengan tarian loing (barongsai). Padahal seperti yang kita ketahui tarian seudati merupakan tarian yang syair-syairnya banyak mengenai agama Islam, dan tarian barongsai identik dengan agama Budha (Imlek di Aceh Dimeriahkan Kolaborasi Barongsai & Seudati (Kamis, 30 Januari 2014) news.okezone.com). Begitu juga dengan perayaan Natal, di Aceh kegiatan yang dijalankan oleh agama Kristen ini berjalan dengan khidman dan aman masyarakatnya juga sangat toleran terhadap pemeluk agama selain Islam (Natal di Banda Aceh Aman (Rabu, 26 Desember 2012) medanbisnisdaily.com). Begitu juga saat bulan suci Ramadhan tiba, umat non muslim juga menjaga dan menghargai umat Islam yang sedang menjalaninya. Tudingan yang mengatakan umat non muslim yang berada di Aceh berada di bawah tekanan, semua seakan tertepiskan melihat keadaan yang sebenarnya terjadi antara pemeluk agama yang berbeda-beda di Aceh. Inilah Aceh, yang merupakan miniatur dari Indonesia. 

Perbedaan yang ada malah menjadi saling melengkapi untuk menjaga kedamaian antara suku dan agama. Karena setiap agama selalu mengajarkan tentang kebaikan, kedamaian, dan saling menghargai antara sesame manusia dan negara kita juga mengajarkan tentang rasa persatuan dan kesatuan. Sesuai dengan semboyan yang ada pada burung garuda, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua itulah Bhineka Tungga Ika dan itulah Indonesia.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments