Teungku Putik

10:55:00

Teungku Putik

Gambar Buku Teungku Putik (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul :
Teungku Putik: Dari Perjuangan Hingga Pengasingan 1849-1933).
Penulis :
Hasbullah
Penerbit :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tahun terbit :
2012
Tebal/jumlah halaman :
122 Halaman

1. Asal Usul Keturunan Teungku Putik
Teungku Putik merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus pejuang pada masa kolonial yang berasal dari Nagan Raya atau yang dulunya dikenal daerah Seunagan. Teungku Putik anak dari seorang ulama bernama Teungku Abdurrasyid cucu dari Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan), dan cucu buyut dari Teungku Syekh Abdussalam.

Teungku Putik lahir di Cot Nigan daerah Seunagan pada tahun 1849. Besar di lingkungan masyarakat yang taat serta mencerminkan nilai-nilai keagamaan menjadikan watak dan kepribadian Teungku Putik teguh akan pendirian agama Islam sehingga kelak beliau juga berjuang melawan kolonial. Pada usia enam tahun Teungku Putik sudah lancar membaca Al Qur’an sehingga membuat Teungku Chik Di Killa tertarik dan membawanya untuk tinggal di dayah setelah kakeknya Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan) meninggal. Selama tiga tahun Teungku Putik tinggal di dayah dan beajar ilmu agama, pengetahuan, serta peperangan. Sejak saat itu Teungku Putik dikenal oleh masyarakat dengan pemuda yang memiliki ilmu agama dan pengtahuan serta diberi gelar “Teungku Putik”.

Teungku Putik merupakan sebutan atau gelar untuk seorang ulama yang masih muda. Teungku Putik berasal dari dua suku kata dalam bahasa Aceh, teungku berarti seseorang yang memiliki pengetahuan agama, dan putik yang berarti masih berusia sangat muda.

2. Jejak Perjuangan Teungku Putik
Setelah meninggalnya beberapa tokoh utama dari golongan ulama Seunagan, seperti Teungku Syekh Abdurrhim, Teungku Chik Di Killa, dan Teungku Abdurrasyid dakwah agama Islam di Seunagan dan Aceh Barat harus diteruskan oleh Teungku Putik yang pada saat itu masih berusia sangat muda. Di samping itu, beliau juga dipercaya oleh Uleebalang Seunagan untuk menjabat sebagai kadhi (hakim) untuk wilayah kenegerian Seunagan dan menikah dengan seorang putri dari Teuku Tuan di Nigan yang merupakan seorang saudagar lada. Sehingga selain berhasil melaksanakan dakwah Islam dengan mendirikan dayah, meuseujid (masjid), dan meunasah (madrasah), Teungku Putik juga berhasil untuk melanjutkan cita-cita mertuanya, yaitu memajukan pertanian dan perkebunan masyarakat.

Pada saat melaksanakan dakwah Islam, Teungku Putik sangat gigih berjuang menghapus dan memasukkan ajaran agama Islam ke dalam adat atau kebiasaan masyarakat. Selain itu, beliau menggerakkan masyarakat untuk meuseuraya (gotong-royong) dalam melakukan berbagai hal baik, seperti membangun masjid, irigasi (neulop), dan jalan-jalan. Selama melakukan pekerjaan sosial, bukan sedikit pengorbanan yang dikeluarkan Teungku Putik untuk pembangunan. Demikian pula karisma yang dimiliki telah membuat masyarakat mau menyumbang tenaga dan harta. Sehingga ketika perang Aceh menghadapi Belanda pecah pada tahun 1873, masyarakat juga ikut berjuang bersama Teungku Putik.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments