Teungku Putik (Bagian 2)

Teungku Putik (Bagian 2)

Gambar Buku Teungku Putik (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul :
Teungku Putik: Dari Perjuangan Hingga Pengasingan 1849-1933).
Penulis :
Hasbullah
Penerbit :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tahun terbit :
2012
Tebal/jumlah halaman :
122 Halaman

3. Resistensi Terhadap Belanda
Perlawanan-perlawanan yang terjadi di Nagan Raya (Seunagan) merupakan bagian dari perjuangan rakyat Aceh dalam menentang Belanda. Pasukan yang dipimpin oleh Teungku Putik menghimpun suatu barisan jihad dengan 200 orang anggota pasukan muslimin yang dibagi ke dalam enam kelompok untuk mencegah serta membendung serangan yang diluncurkan oleh marsose Belanda. Dengan memanfaatkan alam sebagai benteng pertahanan, pasukan Teungku Putik menggunakan teknik gerilya untuk menyerang dan menyergap Belanda. Dalam melakukan gerilyanya, pasukan Teungku Putik dan Teungku Kapa yang merupakan santri sekaligus panglima pasukan berhasil menyergap pasukan marsose Belanda di Gunong Buloh, Keude Neulop, Pulo Ie, Paya Udeung, Cot Meugat, Reudep, dan Rambong Cut dengan hanya bersenjatakan pedang (peudeung) dan kelewang (reudeuh).

Pada tahun 1902, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Brewer menyerang Jeuram yang merupakan tempat pertahanan dan berkumpulnya masyarakat Seunagan. Pasukan Teungku Putik yang dibantu Uleebalang Tueku Keumangan dan panglimanya Pang Bacah beserta masyarakat berhasil memukul mudur pasukan Belanda ke Pulo Ie. Pada serangan tersebut membuat Belanda harus kehilangan 15 orang pasukannya yang tewas dan 10 orang luka-luka, sedangkan dipihak muslim Seunagan 8 orang tewas dan 10 orang luka-luka ringan. Sejak saat itu Belanda terus menerus melakukan serangan ke Jeuram hingga membuat pasukan Teungku Putik terpaksa mundur ke Paya Udeung.

Setelah merebut Jeuram, Belanda kemudian membangun benteng di daerah tersebut seluas 300 meter. Meskipun telah membangun pertahanan yang tangguh namun gigihnya pasukan gerilya yang dipimpin oleh Teungku Putik membuat Belanda tidak henti-hentinya melakukan pengejaran, baik itu penyergapan bahkan pemberian hadiah kepada orang-orang yang mampu menangkapnya. Namun seakan semua itu sia-sia, hal ini disebabkan masyarakat yang tidak berani berkhianat karena rasa cinta, segan, dan hormat kepada Teungku Putik yang dianggap juru penyelamat.

Direbutnya Jeuram oleh Belanda, Teungku Putik dan Teuku Keumangan memindahkan lokasi pertemuan ke daerah Sapek. Di situ, pasukan Teungku Putik juga mendirikan sebuah masjid yang bertujuan untuk  pembinaan sekaligus untuk terus mengindoktrinasi perang sabil kepada anggota-anggota serta masyarakat yang ada di gampong tersebut setiap saat pengajian dan perjumpaan lainnya. Ketenangan pertahanan di daerah Sapek tidak berlangsung lama, sebab tempat tersebut telah diketahui dan Belanda beserta pasukan mencoba melakukan penyerangan ke daerah tersebut.

Sulitnya medan yang harus dilalui pasukan Belanda menuju Sapek menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi pasukan Teungku Putik untuk melakukan serangan dan penyergapan. Hal ini dikarenakan jalan-jalan menuju daerah tersebut masih penuh dengan hutan lebat yang berlumpur serta berawa dan keadaan ini menjadi benteng bagi pasukan Teungku Putik. Sulitnya melumpuhkan pasukan Teungku Putik dengan pertahanan benteng alamnya membuat Pemerintahan Belanda di Meulaboh yang dipimpin oleh Kapten M.J.J.B.H. Campioni berkunjung ke Seunagan untuk menyaksikan langsung daerah rawan dan penuh ketegangan tersebut bersama dengan pasukannya, seperti Letnan Cristoffer, van Der Vlerk, van Der Zee, dan Brewer.

Setiap pergerakan pasukan Belanda yang akan memasuki wilayah Seunagan, selalui diintai dan diawasi oleh Pang Dolah dan Pang Brahim yang merupakan orang kepercayaan Teungku Putik untuk berjaga dikawasan perbatasan Seunagan dan Kaway XVI. Info yang didapat akan dikabarkan dengan menggunakan tanda alam serta bunyi-bunyian tambo (beduk) yang dipukul. Hal ini dilakukan agar pasukan Teungku Putik sudah bersiap-siap sebelum Belanda sampai.

Ketika pasukan Belanda telah memasuki kawasan antara Nigan dan Sapek yang berawa-rawa, tambo langsung dibunyikan. Pasukan yang telah bersembunyi dan bersiap-siap dengan semangat jihad yang dipimpin oleh Teungku Pulo Jakfar langsung melakukan penyerangan secara tiba-tiba dan membuat pasukan Belanda kacau balau, panik, tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga pada penyerangan tersebut Belanda kehilangan 60 orang pasukannya yang tewas dengan 20 orang luka parah termasuk Kapten Campioni yang kemudian meninggal dalam perjalanan laut menuju Kutaraja (Banda Aceh) lalu dikuburkan di pekuburan Peutjoet atau kerkhof.

Seorang pasukan Belanda H.C. Zentgraff menuliskan peristiwa tersebut sebagai berikut:
“Suatau kelalaian sang komandan telah membuat keuntungan bagi pihak lawan di dekat Gampong Sapek. Orang masih ingat akan pertempuran yang sangat menyedihkan itu. Setiap kesilapan di sini, harus dibayar dengan darah...ya...sebuah pembunuhan berkelewang ini yang dilakukan lawan dengan perasaan tidak takut mati...yang tak ada teranya itu kita dapati sebuah penyerbuan terhadap pasukan Compioni di tahun 1904, satu-satunya pertempuran berkelewang terbesar yang pernah dikenal dalam pertempuran di Aceh”.

Banyaknya serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan muslimin dan rakyat, membuat Belanda melakukan pengejaran terhadap pasukan muslimin di Seunagan. Pasukan yang dipimpin oleh Letnan Brewe ini melakukan pengejaran dengan tindakan yang kejam dengan mencurigai pemberontak kepada penduduk sipil. Selain itu, Belanda juga melakukan pendekatan dengan beberapa Uleebalang di Seunagan agar mau berdamai, dan hal tersebut dilakukan dengan cara menculik keluarga dari Teuku Keumangan.

Diculiknya keluarga dari Teuku Keumangan membuat Uleebalang Seunagan menyerah dan memilih berdamai dengan Belanda pada tahun 1906. Tindakan tersebut diambil agar dapat membebaskan keluarga dan melindungi masyarakat dari represivitas pasukan Belanda yang semakin kejam.

Menyerahnya Teuku Keumangan tidak menyurutkan Teungku Putik untuk terus berjuang, malah Teungku Putik memindahkan lokasi pertahanan dan persembunyian ke daerah pedalaman Krueng Tripa. Di daerah baru tersebut Teungku Putik beserta para pasukannya juga membuka lahan untuk bertani. Namun persembunyian baru tersebut juga diketahui oleh pasukan Belanda sehingga mereka langsung melakukan pengejaran ke daerah Krueng Tripa. 

Lagi-lagi untuk dapat mencapai daerah tersebut Belanda harus kehilangan 4 orang pasukannya yang tewas saat berhadapan dengan pasukan perang yang dipimpin oleh Pang Ali. Selain itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J.J. Donner juga hampir menjadi korban penikaman Keujreun Bacah apabila tidak langsung kabur yang telah mempermainkan dan membuat mereka lalai.

Pada tahun 1908, Teungku Putik menerima berita dari Teuku Keumangan bahwa Belanda akan melakukan serangan ke hulu Krueng Tripa. Teungku Putik memerintahkan pasukannya untuk mengatur siasat untuk bersembunyi memasuki kiri dan kanan hutan  di daerah antara Krueng Tripa dan Krueng Buloh. Tiba-tiba dengan teriakan Allahu Akbar pasukan Teungku Putik menyerang pasukan Belanda tampa rasa takut. Pasukan muslimin yang dipimpin oleh Teungku Putik terus bergerak maju dengan harapan memenangi pertempuran ataupun mati syahid demi agama dan mengharapkan keridhaan Allah.

Dari peperangan yang terjadi di hulu Krueng Tripa tersebut, pasukan muslimin berhasil meraih kemenangan. Belanda kehilangan 70 orang serdadu yang tewas, serta beberapa pasukan yang luka termasuk Kapten Lux. Sedangkan dipihak Teungku Putik kemengan ini juga harus dibayar mahal dengan kehilangan beberapa orang panglimanya, seperti Pang Brahim, Pang Sabi, Teungku Imeum Meukek, Keucik Abah, dan sepuluh pengikutnya serta Teungku Usman (Teungku Cut) anak kandungnya sendiri.

Setelah peperangan tersebut, Teungku Putik menyadari untuk menghentikan perjuanga secara kekerasan dengan menggunakan senjata. Beliau memilih untuk berjuang di tengah masyarakat umum untuk memperbaiki taraf kehidupan penyempurnaan dakwah, ibadah, serta ilmu pengetahuan agama. Supaya ibadah yang dilakukan masyarakat benar-benar sesuai dengan anjuran Allah Swt., dan Nabi Muhammad Saw. Hal ini juga berdasarkan pikiran dan dasar beberapa pertimbangan ajakan dari Teuku Keumangan untuk segera berdamai dengan Belanda dan bersama-sama membangun Seunagan di bidang keagamaan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Mengingat Belanda yang semakin refresif dan melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai pendukung kelompoknya. Apabila kondisi ini berlanjut, maka dikuatirkan kemungkinan generasi masa depan akan menjadi buta dalam pengetahuan agama dan tidak dapat menuntut ilmu ibadah serta pendidikan. Di sisi lain, pada tahun 1910 wilayah Seunagan dan pantai barat Aceh mulai berjangkit penyakit endemis cacar secara besar-besaran yang banyak menyerang penduduk serta pengikut Teungku Putik. Banyak dari mereka yang terserang penyakit tersebut meninggal dunia.

Pada tahun 1911, Teungku Putik bersama beberapa pasukannya turun gunung menuju Krueng Tripa untuk melakukan perdamaian dengan Belanda. Mayor Bekring selaku pimpinan Belanda wilayah Aceh Barat yang berkedudukan di Meulaboh memimpin upacara perdamaian tersebut dengan didampingi oleh Mayor Volumen yang bertugas di wilayah Selatan Aceh yang berkedudukan di Tapak Tuan beserta Teuku Ben Mahmud Blangpidie.

Perdamaian dengan Teungku Putik merupakan kesusksesan besar oleh Belanda sehingga beliau dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk diberikan penghargaan dari Gubernur Militer Aceh yang dijabat oleh H.N.A. Swarth. Meskipun telah berdamai, Belanda tidak mempercayai Teungku Putik dengan mutlak mereka terus mengikuti gerak-gerik beliau. Sedangkan dilain pihak, Teuku Raja Tampok yang merupakan salah satu pengikut Teungku Putik memilih untuk terus melakukan perjuangan melawan Belanda.

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments