Pendidikan dan Kebudayaan Adalah Insan Intelektual

Thursday, April 28, 2016

Pendidikan dan Kebudayaan Adalah Insan Intelektual

“...orang tua siswa memperotes pihak sekolah yang menjual buku pelajaran begitu mahal...”,”...seorang siswa dipukul oleh kepala sekolah...”,”...banyak siswa yang berhenti sekolah karena tidak ada guru serta jarak sekolah yang jauh...”,”kualitas pendidikan Aceh mengalami kemunduran, semula peringkat 30 kini menjadi 32 untuk tingkat nasional...”,”...siswa SD diperkosa oleh empat orang tetangganya...”,”...Nurul Fatimah siswi Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Keunaloi, Seulimum, Aceh Besar meninggal dunia setelah dianiaya oleh teman sekolahnya...”.
Gambar Lambang Tut Wuri Handayani (Doc. Google)
Di atas merupakan beberapa kutipan kasus tentang pendidikan serta buruknya moral yang diterbitkan oleh berbagi media massa di Aceh tahun 2015. Padahal Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam dan memiliki alokasi dana pendidikan yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ini membuktikan bahwa pendidikan kita masih sangat jauh tertinggal dari daerah lain serta karakter dari masyarakat kita semakin menjauh dari yang namanya Islam.

Bila kita sedikit berkaca dari sejarah Kerajaan Aceh Darussalam, keadaan saat ini sangat jauh berbeda dan tertinggal dari sebelumnya. Jika sebelumnya Aceh pernah menjadi pusat pembelajaran agama Islam di Nusantara sehingga dijulukan Serambi Mekah. Selain itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan telah ditanamkan kepada rakyat Aceh oleh setiap sulthan-sulthan yang memimpin. Seruan berupa mewajibkan rakyat untuk belajar, baik itu mempelajari ilmu agama, perang, perdagangan, serta seni. Karena sulthan menyadari tanpa belajar maka kita tidak akan ada ilmu, bila tidak ada ilmu maka kerajaan tidak akan maju, dan bila kerajaan tidak maju maka rakyat akan sengsara. Semua terbukti pada masa Sulthan Iskandar Muda, kerajaan mencapai kejayaan pada abad ke-17 dan diakui sebagai lima kerajaan terbesar pada masanya. Dan kesadaran pentingnya pendidikan dan kebudayaan itu terus dilanjutkan hingga sampai berdirinya Tugu Kopelma Darussalam dan Tugu Pena.

Kali ini penulis tidak membahas secara keseluruhan tentang sejarah kejayaan Aceh serta permasalahn tentang pendidikan dan buruknya moral masyarakat. Namun penulis lebih memfokuskan tulisan ini lebih kepada peran kita semua untuk mengatasi permasalahan dan memberikan solusi dalam meningkatkan insan yang intelektual di Aceh. Dengan belajar dari sejarah sebagai cerminan dan untuk menangani permasalahan yang ada. Karena apabila kita hanya membahas tentang permasalahan di Aceh, maka salah menyalahkan yang terdengar.

***

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran hidup kemanusian. Sedangkan menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik,  pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat”.

Mengenai kebudayaan Dr. Moh. Hatta berpendapat,”kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa”. Dan menurut Djojodigono mengatakan,”kebudayaan itu adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa”.

Berdasarkan pendapat diatas, bahwa pendidikan merupakan proses untuk memajukan dan mengembangkan potensi seseorang. Sedangkan kebudayaan adalah suatu hasil ciptaan yang dibuat oleh seseorang dari suatu bangsa. Dan kesimpulannya bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan proses untuk menjadikan seseorang menciptakan sesuatu yang menjadi identitasnya masing-masing bangsanya atau dengan maksud manusia yang memiliki karakter dan peradaban tinggi (insan intelektual).

Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan harus seimbang dijalani dan apabila salah satu dari keduanya melebihi maka akan celakalah negeri tersebut. Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW. di tengah-tengah manusia. Tiada lain untuk membimbing nafsu manusia bagaimana seharusnya ia dibimbing, dikendalikan dan diarahkan. Rasulullah SAW. bersabda,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Seorang cendikiawan Republik Roma Mercuas Tulius Cicero (106-43 SM) mengungkapkan bahwa kejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya. Doktrin tersebut merupakan untuk mengingatkan semua warga kekaisaran Roma mengenai manfaat praktis kebijakan dalam kehidupan nyata. Sebagian bangsa-bangsa yang memiliki karakter yang tangguh lazimnya akan maju berkembang dan sejahtera. Sebaliknya bangsa yang lemah karakternya justru tidak memiliki kontribusi bermakna pada kemajuan dunia dan malah kian terpuruk. Dan ini diperkuat lagi oleh seorang sejarawan bernama Arnold Toynbee, dengan mengungkapkan,”Dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam alias karena lemahnya karakter.

Kali ini beberapa kasus yang terjadi di Aceh bukan hanya tentang minimnya pendidikan, namun juga karena bobroknya karakter masyarakat. Di mana karakter msyarakat kita saat ini tidak sesuai dan mencerminkan daerah yang menegakkan syariat Islam. Selain itu kurangnya keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Sehingga banyak orang-orang pintar tetapi tidak memiliki moral serta akhlak yang baik dan banyak yang mengetahui agama tetapi tertinggal tentang perkembangan dunia. Dan inilah yang menyebabkan Aceh terpuruk sampai dengan saat ini.

Saat ini permasalahan yang terjadi di Aceh adalah tanggung jawab kita semua. Sehingga untuk mengurangi permasalahan tersebut kita harus ikut andil berperan. Mulai dari peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan juga mahasiswa.

Keluarga dan Sekolah Sebagai Pondasi
Bentuk karakter dari seseorang bergantung terhadap keadaan lingkungan terdekat sekitanya, baik itu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Apabila lingkungan yang dijalaninya daerah yang rawan akan konflik, maka karakter yang ditunjukan adalah sifat yang keras, cenderung tertutup, dan mudah emosi. Begitu juga sebaliknya apabila lingkungannya yang tertib dan teratur, maka karakter yang terbentuk adalah kedisiplinan. Sehubungan dengan itu, keluarga dan sekolah adalah pondasi awal dalam membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, untuk membentuk insan yang berkualitas yang memiliki intelektual dan peradaban tinggi maka dibutuhkan peran dari kedua unsur tersebut.

Masih lemahnya kesadaran beberapa keluarga tentang pendidikan karakter merupakan permasalahan pertama. Kebanyakan keluarga tidak melaksanakan pendidikan karakter dalam keluarganya. Padahal seharusnya pembentukan karakter seorang anak harus dimulai dari hal yang terkecil dalam lingkungannya dan keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar berinteraksi. Dengan demikian untuk membentuk karakter seorang anak yang memiliki insan berintelektual, peran keluarga sebenarnya lebih diutamakan.

Selain keluarga peran sekolah juga menjadi pondasi terpenting dalam pembentukan karakter anak. Sebab sekolah adalah suatu lembaga yang memang dirancang khusus untuk pengajaran para murid (anak didik) di bawah pengawasan para guru. Dengan demikian, sekolah memiliki dua peran penting, Pertama sekolah berperan sebagai keluarga kedua bagi anak didik atau bisa dikatakan lanjutan dari pembentukan karakter yang dilakukan oleh keluarga. Kedua berperan sebagai tempat belajar memahami keadaan masyarakat. Sehingga sekolah harus mengajarkan kepada peserta didik bagaimana berinteraksi yang baik dengan orang tua dan masyarakat luas.

Tetapi malah sebaliknya, banyaknya sekolah-sekolah yang mengutamakan pendidikan akademik dan sangat kurang dalam memberikan porsi pendidikan karakter anak. Oleh sebab itu, hasil pendidikan moralitas saat ini dianggap masih jauh dibawah harapan. Akibatnya, seperti yang terjadi saat ini, ketika anak didik ini menjadi pemimpin, mereka banyak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti korupsi dan bentuk kecurangan-kecurangan lainnya. Bahkan anak yang tidak terdidik karakternya akan menjadi boomerang bagi orang tuanya.

Kedua unsur yang menjadi pondasi awal pembentukan karakter seorang anak harus lebih dipertimbangkan kembali perannya oleh keluarga dan sekolah. Selain itu hubungan keluarga dan sekolah juga harus diperkuat agar mengetahui perkembangan karakter dari seorang anak.  Karena basis komunitas karakter yang kuat adalah keluarga yang kuat, maka sekolah perlu ikut serta membantu terwujudnya keluarga yang kuat. Dalam arti yang lebih luas, membantu mereka menjadi keluarga yang semakin peduli terhadap perkembangan pendidikan dan moral anak-anak. Dan begitu juga sebaliknya, para keluarga tidak boleh lepas tangan begitu saja kepada sekolah dalam membentuk karakter anak. Keluarga juga harus membantu sekolah dalam membina karakter anak

Tanamkan Dua Sifat Panutan
Pemberdayaan dan peningkatan dalam menciptakan insan yang intelektual tidak terlepas dari peran para pemimpin dan ulama dalam dunia pendidikan dan kebudayaan. Selain itu peranan keduanya telah terbukti pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dengan memiliki beberapa ulama kharismatik seperti Syamsuddin as-Sumatrani, Nurruddin ar-Raniry, dan Abdurrauf al-Fansuri. Selain itu ulama-ulama ini juga memiliki intelektual yang tinggi, sehingga dipercaya sebagai penasehat sulthan dan pemegang hukum kerajaan dan telah banyak memberi kontribusi besar pada kerajaan. Sehingga menjadikan Kerajaan Aceh Darussalam pusat ilmu pendidikan Islam di Nusantara pada masanya. Dan ini merupakan contoh dalam membangun insan yang intelektual, bahwa bukan ilmu agama saja yang diperlukan, namun juga ilmu dunia.

Dalam pembentukan karakter, sifat pemimpin juga perlu ditanamkan dengan anak-anak melalui kegiatan yang positif. Sebab manusia diciptakan dan diturunkan kedunia tidak lain adalah untuk menjadi seorang khalifah atau pemimpin. Pemimpin adalah orang yang memimpin dari beberapa orang, jadi bila tidak memimpin masyarakat secara keseluruhan minimal menjadi pemimpin pada keluarganya. Dan dari tiap-tiap pemimpin tersebut akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Selain itu, pemimpin juga merupakan panutan bagi pengikutnya. Baik dan buruknya pemimpin dalam membina dan membangun masyarakat akan berdampak bagi generasi yang akan datang. Sehubungan dengan itu dalam membangun sifat kepemimpinan perlu kembangkan sikap peduli dengan keadaan sekitar agar seorang anak lebih percaya diri dan memiliki sifat bertanggung jawab. Ajarkan tentang arti pemimpin yang benar dan makna pemimpin sesungguhnya. Oleh karena itu menjadi pemimpin itu tidaklah mudah dan tidak pula susah apabila kita mampu mempertanggung jawabkannya. Rasullullah SAW., merupakan tokoh agama sekaligus pemimpin umat yang paling sempurna di dunia. Sihingga beliau bisa dijadikan contoh dalam membentuk karakter anak.

Mahasiswa Harus Menjadi Contoh
Mahasiswa merupakan manusia yang memiliki intelektual, sehingga mahasiswa harus mewujudkan status intelektual tersebut dalam kehidupan nyata. Sebagai mahasiswa, kita juga memiliki peran untuk membantu Aceh dalam menciptakan insan yang berintelektual dan ini sesuai dengan tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi. Sebagai mahasiswa yang mengutamakan pendidikan untuk dapat melakukan sebuah penelitian dan sebelum melakukan pengabdian.

Mahasiswa adalah kumpulan orang-orang yang memiliki moral yang baik. Maksudnya mahasiswa diharapkan serta diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan masyarakat terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk mampu merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan kesadaran itu mahasiswa harus menyadari betul fungsi dasar mahasiswa, yaitu bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik pada kehidupan di masyarakat dengan intelektual yang dimiliki.

Sebagai orang yang memiliki intelektual dan pendidikan, mahasiswa harus menjadi contoh dalam kehidupan sosial yang dalam atau solidaritas sosial. Sehingga mahasiswa bukan hanya bertanggung jawab pada individu tetapi juga keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat tersebut bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu mahasiswa dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai indidu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat.

***

Pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal penting sebagi motor penggerak dalam memajukan sebuah bangsa yang tinggi akan peradaban. Selain itu, pendidikan dan kebudayaan merupakan wadah pembentuk karakter bangsa yang juga cerminan peradaban suatu bangsa. Seperti yang kita ketahui pendidikan berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas sedangkan kebudayaan berperan untuk membentuk karakter manusia yang beradab. Sehingga kita pernah mendengar istilah agama tanpa ilmu bagaikan berjalan dikegelapan tanpa cahaya (lumpuh), sedangkan ilmu tanpa agama bagaikan orang buta. Semua dikarenakan pendidikan dan kebudayaan umpama matahari dan bulan sedangkan bumi adalah manusia. Apabila salah satu dari keduanya kurang ataupun melebih, maka bumilah yang akan merasakan dampak yang terjadi.

Kepada para orang tua dan pihak sekolah, marilah mempertimbangkan kembali tentang pelaksanaan pembentukan karakter. Sebab keluarga dan sekolah adalah dua pondasi awal dalam membentuk karakter seorang anak. Untuk para pemimpin cobalah memberikan contoh layaknya seorang pemimpin. Dan kepada para ulama marilah sesuaikan ilmu agama dengan perkembangan teknologi agar generasi Islam bisa lebih bersinar di masa mendatang. Untuk kawan-kawan mahasiswa semua, yang berperan sebagai moral force setidaknya kita memberikan contoh yang lebih baik pada lingkungan sekitar kita. Selain itu kitalah yang akan memantu penyimpangan moral yang ada di masyarakat.

Apabila kita menyadari akan peran masing-masing, besar kemungkinan kedepannya generasi yang diciptakan oleh Aceh adalah insan yang berkualitas. Sehingga akan membawa Aceh menjadi suatu bangsa yang maju dan berkembang peradabannya di Indonesia.

Kajhu, Aceh Besar
9 Oktober 2015

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments