Masikah Sesuai Pancasila?

Masikah Sesuai Pancasila?

Gambar Sila Pancasila (Doc. Google)
#Semua hasil bumi kita mereka ambil, bukan hanya minyak mentah dan gas alam saja, tetapi seluruh tanah kita juga mereka olah untuk ditanamkan perkebunan sawit, karet, dan tambang.

Indonesia saat ini bisa dikatakan sedang mengalami krisis. Baik itu krisis ekonomi, moral, keadilan, dan yang paling parah adalah krisis ideologi serta hokum. Bila dikatakan saat ini bangsa kita sedang mengalami kemajuan, itu merupakan salah besar. Kemajuan yang terjadi saat ini bukanlah cita-cita yang diimpi-impikan oleh para pahlawan. Kemajuan yang saat ini terjadi lebih tepatnya hanya dirasakan oleh para penguasa, terutama penguasa ekonomi dari asing.

Cita-cita bangsa Indonesia cukup jelas telah tertuang pada Undang-Undang Dasar 1945. Cita-cita tersebut tertuang mulai dari alinea pertama hingga alinea terakhir. Cita-cita yang pertama kali diimpikan oleh bangsa ini adalah kemerdekaan, yaitu kemerdekaan dalam segala hal bentuk penjajahan dan hingga sampai terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun yang terjadi saat ini hanyalah sebuah omong kosong belakang. Bukan kemerdekaan yang semestinya didapatkan, tetapi malah sebaliknya.

Kemerdekaan yang dirasakan dan didapatkan saat ini hanya berupa slogan serta semangat semata, sebab dalam kenyataannya bangsa kita masih dijajah oleh pihak asing. Keadilan yang diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia ternyata semua hanyalah sebuah tulisan dan ungkapan yang sering kita dengar serta dibacakan pada saat kegiatan upacara hari Senin. Karena dalam kenyataannya, keadilan dalam negeri ini sungguh terasa sangat pahit oleh rakyat kita. Keadilan hanya milik orang-orang yang memiliki uang serta kekuasaan dan bukan berpihak pada masyarakat berekonomi rendah.

Hampir 70 tahun Indonesia merdeka dan terlepas dari cengkraman penjajah. Namun sesungguhnya itu semua merupakan batas penjajahan yang bersifat klasik menuju penjajahan babak baru yang lebih dikenal dengan Neokolonialis. Berarti bisa dikatakan selama hamper 70 tahun pihak asing telah menjajah bangsa kita.

Perusahaan-perusahaan yang berdiri kokoh di tanah kita bukanlah milik kita seutuhnya, semua didominan oleh perusahaan asing sebagai pemiliknya. Perusahaan tersebut telah mengorek hasil bumi dari tanah kita, sedangkan kita hanya mendapatkan sampah.

Semua hasil bumi kita mereka ambil, bukan hanya minyak mentah dan gas alam saja, tetapi seluruh tanah kita juga mereka olah untuk ditanamkan perkebunan sawit, karet, dan tambang. Dan yang lebih parahnya lagi, air yang merupakan sumber kehidupan dan sudah ada pada alam juga mereka kuasai. Sedangkan kita hanya sebagai pekerja, konsumen, serta menjadi tempat pembuangan dari hasil limbah perusahaan yang mereka bangun. Sungguh semua itu tidak banyak dari kita menyadarinya dan ini sungguh sangat disayangkan.

Sifat dan kelakuan pemerintah negeri ini juga tidak jauh berbeda dengan kaum bangsawan yang pro penjajah pada masa penjajahan klasik. Di mana pemerintah dengan mudahnya mengajak pihak asing masuk dan bekerjasama. Padahal sesungguhnya yang mereka lakukan sangat menyengsarakan rakyat tetapi mereka tidak juga menyadarinya.

Pemimpin yang katanya pro terhadap rakyat ternyata hanya slogan palsu, dalam kenyataannya mereka adalah alat yang nyata dalam menghisap darah rakyat. Kebanyakan pemerintah saat ini sungguh sangat mudah untuk ditaklukan oleh pihak asing mulai dari tingkat presiden hingga sampai tingkat kepala kampung. Hanya dengan melakukan suap serta penyogokan pihak asing dengan mudah dapat masuk dan menguasai tanah.

Untuk menutupi kebobrokan yang akan terjadi, pemerintah dengan mudah menjual dengan mengatasnamakan rakyat dan untuk kepentingan rakyat. Hal tersebut dilakukan agar rakyat tidak melakukan perlawanan serta gugatan. Namun sampai saat ini yang dirasakan serta dinikmati oleh rakyat hanyalah dari sisa atau bisa dikatakan sampah. Tetapi pemerintah dengan bangganya mengatakan mereka telah sukses mengangkat perekonomian rakyat. Hal demikianlah yang menyebabkan terjadinya beberapa gejolak di daerah-daerah yang tidak merasakan dari hasil tersebut.
Pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia tidak lain hanya dikarenakan ketidak adilan dalam menjalankan roda prekonomian dari bangsa ini. Tetapi pemerintah di sini yang mempunyai kuasa, sehingga para pemberontak ayng menuntut keadilan dikatakan telah menghina dan memperkosa UUD’45 dan Pancasila. Padahal sesungguhnya yang telah melecehkan Negara ini adalah para pemimpin yang dengan mudahnya menjual rakyat dan tanah dari negeri ini.

Sungguh, Pancasila merupakan sebuah ideologi dari sebuah bangsa yang sempurna sebagai hasil pemikiran manusia. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kumpulan cita-cta yang sangat mulia bagi sebuah bangsa, karena tidak semua bangsa memiliki cita-cita seperti yang dimiliki oleh bangsa kita.

Kepada para pemimpin terutama yang duduk pada pemerintahan, cobalah untuk sadarkan diri. Indonesia negeri yang kaya akan Sumber Daya Alamnya, dan potensi dari Sumber Daya Manusianya juga sudah mulai memadai. Jangan takut bila pihak asing mengancam dengan mengembargo atau menstop barang mereka ke Indonesia. Sesungguhnya mereka lebih takut bila kita memberhentikan pengambilan serta pengiriman bahan-bahan mentah yang ada di negeri kita. Marilah kita untuk bangkit dengan mengolah sendiri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Jangan mau terbuai dengan iming-iming yang tidak jelas dengan mengorbankan rakyatmu wahai pemimpinku. Sesungguhnya rakyatmu merindukan kebijaksanaanmu.

Tulisan ini pernah dimuat pada media online Sumber Post (8 Juli 2015)
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments