Mamak Kemana

Mamak Kemana

Karya: Mhd. Saifullah
Emakkk.
ahakhakahak.
Mamakkkk.
Ahakahakahak.

Suara itu pecah,
terkenal di taman bocah.
Ya.
Di hamparan kasih jiwa,
antara bunda dan ananda.
Larut dalam ria.
Bermain dan bercengkraman
dalam bahagia.

Di wadah tak berbeda,
bocah dua setengah tahun
bermimik beda dari lainnya.

Padahal ini hari balon.
Meriah tanpa prabaya.
Namun enggan tuk melirik,
bukan karena tidak menarik.

Enggak.
Gak, gak.
Gak mau.
Enggak.

Menoleh menolak.
Lebih tenang dan senang,
damai memeluk kaki ibunda.
Meski larut mengalah,
menggenggam karet berwarna.

Wusss.
Anginpun bercerita.
Mengambil alih kuasa,
melarikan balon mengudara.

Wusss.
Lepaslah pelukan.
Tangisan ikut berkumandang.
Kaki berlahan merayap meraih,
jalan raya yang sedang melirih.

Duaaarrrrr.
Gegar menggelegar.
Sekejap detik.
Sekejap melirik.
Sekejap saja,
orang-orang berbisik
tanpa berkedip.
Melihat aspal meminum darah.

Tanpa curiga,
ananda hilang kata
lalu melahirkan kata.
Silih sahut mengasa raga.

Mak, mamak.
Mamak bangun.
Mak, mamak bangun.
Jangan bobok.
Jangan bobok di sini.

Sendu kontan menghapus ragu.
Gerimis lamunkan jiwa.
Bocah meyakinkan ibunda.

Dalam detik ia diranjak
disela tubuh dimulai
dalam diri bertanya-tanya.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Ia terus bertanya pada dunia
sampai Tuhan menyadarkan waktunya.

Ia bertanya kepada ayah,
saudara
lalu ia menyambut fajar, hari, senja,
bahkan malam.
Dengan kata-kata sama.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.
Kajhu, Aceh Besar
21 Desember 2015
Gambar Ilustrasi Ibu dan Anak (Doc. Google)

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments