7 Kalimat Penghianatan Untuk Indonesia 70

7 Kalimat Penghianatan Untuk Indonesia 70

Gambar Teks Proklamasi (Doc. Google)
“Tujuh belas Agustus tahun sembilan belas empat puluh lima itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka untuk nusa dan bangsa, dan hari lahirnya bangsa Indonesia.” Sungguh hari yang paling istimewa dari bangsa kita. Ini merupakan angin segar bagi seluruh rakyat Indonesia karena sudah terlepas dari penjajah.

Siapapun tidak akan meyangkan bahwa Jum’at, 17 Agustus 1945 merupakan kado dan anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia. Karena tepat pada hari dan bulan tersebut, Allah jadikan yang paling istimewa dari pada hari dan bulan lainnya dalam satu tahun. Sehubungan dengan itu, pada hari kemerdekaan Indonesia juga tepat pada Jum’at 9 Ramadhan 1364 Hijriah yang merupakan bulan suci penuh berkah bagi umat Islam.Baca selengkapnya...

Al-Jum’ah artinya persatuan, persahabatan, kerukunan, dan pertemuan. Meski secara umum dan keseluruhan semua hari termasuk Jum’at dalam seminggu itu bisa dikatakan sama atau tidak ada bedanya. Namun hari Jum’at bagi umat Islam memiliki keistimewaan tersendiri sama halnya dengan keistimewaan Sabtu bagi orang-orang Yahudi, dan Minggu untuk kawan-kawan Nasrani.

Keistimewaan hari Jumat telah Allah perlihatkan mulai dari hari dibentuk dan akan hancurnya bumi sampai peristiwa penting terciptanya manusia. Sedangkan bulan Ramadan Allah berkahi karena pada bulan tersebut apapun kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan oleh Allah pahalanya, dan pada bulan ini juga Kalamullah diturunkan ke bumi.
***
Kemarin, kita telah memperingati hari kemerdekaan bangsa dan larut dalam suasana euforia. Tetapi apakah masyarakat Indonesia tahu apa yang terjadi pada sejarah bangsa sehari paska dibacakannya proklamasi? Tidak, masyarakat masih banyak yang tidak tahu apa telah terjadi. Karena pemerintah memang sengaja menutupi hal-hal kecacatan dari masyarakat dengan hiburan dan kesenangan. Padahal tujuh kalimat telah hilang dalam cita-cita bangsa, untuk penghianat yang cacatkan tujuh puluh tahun Indonesia.

Kemisteriusan sejarah Piagam Jakarta yang telah disah dan ditetapkan oleh Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 22 Juni 1945 menuai kontraversi menjelang pengumuman. Tujuh kalimat pada alinea keempat dihapuskan dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang sebelumnya berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dalam isi Piagam Jakarta.

Rekayasa politik dimainkan oleh para intelektual sekuer pada saat itu, dengan mengatakan bahwa Moh. Hatta didatangi oleh seorang serdadu Jepang. Dia diminta untuk menghapuskan tentang menjalankan syariat Islam pada Piagam Jakarta. Karena apabila bangsa ini diterapkan syariat Islam maka akan menimbulkan perpecahan pada Indonesia. Namun yang terjadi malah sebaliknya ketika syariat itu dihapuskan maka menimbulkan kekecewaan bagi para wakil pendiri bangsa yang telah bersusah payah membuat konstitusi dan cita-cita bangsa. Dan sampai meninggal Moh. Hatta, tidak ada yang tahu siapa siapa serdadu yang menjumpainya. Sungguh peristiwa yang sangat misterius dan penuh dengan rekayasa politik. Antara benar atau tidak kita semua tidak tahu, yang mengetahuinya adalah para intelektual pada saat itu. Dan di sanalah awal dari semua luka dan penghianatan bagi bangsa ini.

Sejak saat itu, rumusan konstitusi negara ini terus diubah-ubah oleh para intelektual sekuler. Pancasila yang dikatakan sebagai dasar negara ini juga bukan Pancasila yang dikatakan Soekarno pada 1 Juni dan tidak juga sesuai isi Piagam Jakarta yang telah disepakati. Namun Pancasila saat ini adalah keinginan para sekuler untuk kebebasan menguasai bangsa ini sejak dikeluarkannya Pancasila pada Dekrit Presiden 5 Oktober 1959.

Demokrasi bukanlah sebuah cita-cita yang diinginkan pada hasil rumusan Piagam Jakarta. Karena tidak ada kata demokrasi yang terucap pada setiap isi kalimat dari hasil rumusan tersebut. Sebaliknya, yang tertuang dalam isi Piagam Jakarta adalah sebuah kedaulatan rakyat. Sebab demokrasi adalah bentuk dari sebuah kebebasan individu. Sedangan kedaulatan rakyat adalah bersumber dari kekuasaan rakyat sebagai kelompok manusia (makhluk) individu sekaligus sebagai manusia sebagai makhluk sosial yang terikat tak terpisahkan dengan tata nilai yang bersifat primordialis.

Tanggal 18 Agustus sungguh tidak cocok bila diperingati sebagai hari lahirnya konstitusi negara kita. Sebaliknya pada tanggal tersebut lebih tepatnya memperingati hari penghianatan akan cita-cita bangsa kita. Di mana tujuh kalimat telah diubah pada cita-cita besar bangsa ini yang tertuang dalam Piagam Jakarta serta sejak saat itu konstitusi negara juga mulai diubah dengan sesukanya. Padahal konstitusi dan cita-cita bangsa ini telah disepakati bersama menjadi sebuah perjanjian luhur Bangsa Indonesia ditandatangani oleh para Wakil Pendiri Negara yang sah pada tanggal 22 Juni 1945 yang bernama Piagam Jakarta.

Tidak salah bila orang mengatakan bahwa sejarah adalah milik penguasa, sebab sejarah dapat diubah sesuai dengan keinginan penguasa. Sehubungan dengan itu, para sejarawan juga akan menjadi sulit dalam membuat historiografi yang sesungguhnya tentang bangsa ini. Sebab masih banyak para intelektual sekuar yang menguasai negeri ini, meskipun mereka tidak langsung memimpin negeri ini.

Selamat atas kemerdekaan Indonesia ke 70 tahun, selamat untuk tidak berubah bila kedaulatan rakyat tidak ada.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Opini media online Harian Aceh Indonesia (18/Agustus/2015).
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments