S.A.Y. I.F.U.L.L.

Saturday, April 30, 2016 0

S.A.Y.  I.F.U.L.L.

Gambar Ilustrasi Tulisan SAY IFULL (Doc. Mhd. Saifullah)
Karya: Mhd. Saifullah
Siapapun itu bertanya
Apa yang terpikirkan aku?
Ya, bertanya tak berarah.

Ingatanku melayang bertanya-tanya.
Fasia melahirkan kata-kata penuh makna.
Umpama seperempat abad lalu.
Layaknya seperti itu dan begitu. Ya.
Lahirlah semua saat ini.
Kajhu, Aceh Besar
1 Mei 2016

Partai Indonesia Raya (Parindra)

Friday, April 29, 2016 0

Partai Indonesia Raya (Parindra)

Gambar Ilustrasi Susunan Parindra
(Doc. Google)
Makalah pada semester 3 matakuliah Sejarah Pergerakan Nasional yang membahas tentang Partai Indonesia Raya (Parindra).

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang 

Usaha untuk menuju persatuan dan kesatuan antarorganisasi pemuda ditempuh dengan cara melaksanakan kongres yang kemudian dikenal dengan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres Pemuda I dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 30 April - 2 Mei 1926, oleh sebuah komite dengan susunan sebagai berikut. 

Ketua :
M. Tabrani

Wakil Ketua :
Sumarto

Sekretaris :
Jamaludin
Bendahara :
Suwarso
Pembantu :
Bahder Johan, Sumarto, Yan Toule Soulehuwiy, dan Paul Pinontuan, Hamami, dan Sanusi Pane 

Tujuan kongres adalah untuk menanamkan semangat kerja sama antarperkumpulan pemuda untuk menjadi dasar persatuan Indonesia dalam arti yang lebih luas. Usaha menggalang persatuan dan kesatuan dalam Kongres Pemuda I ini belum terwujud, karena rasa kedaerahan masih kuat. Sementara itu para pelajar di Jakarta dan Bandung melihat adanya dua kepentingan yang bertentangan dalam penjajahan, yang mereka sebut sebagai antitese kolonial yang sangat merugikan pihak Indonesia. Antitese ini akan dihapus apabila penjajahan sudah lenyap. Untuk itu, maka para pelajar dari berbagai daerah pada bulan September 1926 mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di Jakarta. PPPI bertujuan memperjuangkan Indonesia merdeka.

Pada tahun 1928 alam politik di Indonesia sudah dipenuhi oleh jiwa persatuan. Rasa kebangsaan dan cita-cita Indonesia merdeka telah menggema di jiwa para pemuda Indonesia. Atas inisiatif PPPI, maka diadakan Kongres Pemuda II di Jakarta, yang dihadiri oleh utusan organisasi-organisasi pemuda dan berhasil diikrarkan sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dengan susunan Panitia Penyelenggara sebagai berikut. 
Ketua : 
Sugondo Joyopuspito (dari PPPI).
Wakil Ketua : 
Joko Mursid (dari Jong Java).
Sekretaris : 
Muh. Yamin (dari Jong Sumatranen Bond)
Bendahara : 
Amir Syarifuddin ( dari Jong Batak Bond)
Anggota : 
Johan Mohammad (dari Jong Islamieten Bond), Senduk (dari Jong Selebes), J. Leimena (dari Jong Ambon), Rohyani (dari Pemuda Kaum Betawi).

Teungku Putik (Bagian 3/Habis)

Friday, April 29, 2016 0

Teungku Putik (Bagian 3/Habis)

Gambar Buku Teungku Putik (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul :
Teungku Putik: Dari Perjuangan Hingga Pengasingan 1849-1933).
Penulis :
Hasbullah
Penerbit :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tahun terbit :
2012
Tebal/jumlah halaman :
122 Halaman

4. Akhir Resistensi
Pasca perdamaian tersebut, Teungku Putik kembali mengaktifkan lembaga pendidikan agama beserta meuseujid dan meunasah sebagai pengajian di Nigan yang lama tidak dimanfaatkan lagi. Kegiatan-kegiatan sosial yang pernah dilakukan dahulu kini kembali dijalankan oleh Teungku Putik dengan bantuan Belanda untuk kemakmuran kehidupan masyarakat di perkampungan. Pada tahun 1916, beliau kembali ke Seunagan untuk melanjutkan pembangunan baik di bidang agama maupun sosial ekonomi. Sehingga Teungku Putik mengangkat wakilnya di Seunagan, seperti Teungku Abdullah di Gampong Seumayam, Teungku Muhammad Arifin di Gampong Panton Limeing, dan Teungku Gadong di Gampong Tripa.

Masih ragunya Belanda dengan penyerahan diri atau perdamaian Teungku Putik terjadi pada saat terjadi percobaan pembunuhan terhadap Kolonel G.F.V. Gesenson di Gampong Suak Bilie pada tahun 1917 oleh tiga orang pemuda. Belanda menggap bahwa ketiga pemuda tersebut pernah menjadi pengikut dari Teungku Putik, sehingga Belanda melalui asisten Resident West Koest van Atjeh yang dijabat Kolonel Schmitd menangkap beliau. 

Pada penangkapan tersebut Kolonel Schmitd mengatakan bahwa beliau diundang Mayor Bekring ke Meulaboh karena ada sesuatu keperluan untuk dibicarakan. Sejak saat itu Teungku Putih tidak lagi terdengar kabar, para keluarga dan pengikutnya hanya ditinggalkan bertanya-tanya. Namun sebelum ditangkap, beliau telah menitipkan pesan kepada Teuku Raja Tampok bahwa bilau akan ditangkap dan tidak mungkin kembali lagi ke kemari (Seunagan).

Pada tahun 1920, pihak keluarga menerima sepucuk surat daru Teungku Putik yang isinya sebagai berikut:
“Kami sekarang berada di tengah-tengah masyarakat Banyumas, dan dibebaskan bergerak dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Tetapi berpegang tegulah kepada jalan Allah Swt., dan hanya kepada-Nya kita semua akan kembali, oleh karenanya beramal shalih dan berjihadlah, semata-mata karena Allah, jangan dipercayai oleh syaitan. Surat ini jangan dibalas karena membahayakan kehidupan kita”.

Surat tersebut dibawa oleh pejuang dari Seunagan yang telah dikembalikan ke masyarakat. Beliau pernah bertemu dengan Teungku Putik di Banyumas.

Menurut beberapa sumber yang pernah berkunjung ke Banyumas, disebutkan pada tahun 1933, Teungku Putik meninggal dunia pada usia 85 tahun. Beliau dimakamkan di sebuah perbukitan di Kabupaten Banyumas bekas Keresidenan Kedu di Jawa Tengah.

Teungku Putik (Bagian 2)

Friday, April 29, 2016 0

Teungku Putik (Bagian 2)

Gambar Buku Teungku Putik (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul :
Teungku Putik: Dari Perjuangan Hingga Pengasingan 1849-1933).
Penulis :
Hasbullah
Penerbit :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tahun terbit :
2012
Tebal/jumlah halaman :
122 Halaman

3. Resistensi Terhadap Belanda
Perlawanan-perlawanan yang terjadi di Nagan Raya (Seunagan) merupakan bagian dari perjuangan rakyat Aceh dalam menentang Belanda. Pasukan yang dipimpin oleh Teungku Putik menghimpun suatu barisan jihad dengan 200 orang anggota pasukan muslimin yang dibagi ke dalam enam kelompok untuk mencegah serta membendung serangan yang diluncurkan oleh marsose Belanda. Dengan memanfaatkan alam sebagai benteng pertahanan, pasukan Teungku Putik menggunakan teknik gerilya untuk menyerang dan menyergap Belanda. Dalam melakukan gerilyanya, pasukan Teungku Putik dan Teungku Kapa yang merupakan santri sekaligus panglima pasukan berhasil menyergap pasukan marsose Belanda di Gunong Buloh, Keude Neulop, Pulo Ie, Paya Udeung, Cot Meugat, Reudep, dan Rambong Cut dengan hanya bersenjatakan pedang (peudeung) dan kelewang (reudeuh).

Pada tahun 1902, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Brewer menyerang Jeuram yang merupakan tempat pertahanan dan berkumpulnya masyarakat Seunagan. Pasukan Teungku Putik yang dibantu Uleebalang Tueku Keumangan dan panglimanya Pang Bacah beserta masyarakat berhasil memukul mudur pasukan Belanda ke Pulo Ie. Pada serangan tersebut membuat Belanda harus kehilangan 15 orang pasukannya yang tewas dan 10 orang luka-luka, sedangkan dipihak muslim Seunagan 8 orang tewas dan 10 orang luka-luka ringan. Sejak saat itu Belanda terus menerus melakukan serangan ke Jeuram hingga membuat pasukan Teungku Putik terpaksa mundur ke Paya Udeung.

Setelah merebut Jeuram, Belanda kemudian membangun benteng di daerah tersebut seluas 300 meter. Meskipun telah membangun pertahanan yang tangguh namun gigihnya pasukan gerilya yang dipimpin oleh Teungku Putik membuat Belanda tidak henti-hentinya melakukan pengejaran, baik itu penyergapan bahkan pemberian hadiah kepada orang-orang yang mampu menangkapnya. Namun seakan semua itu sia-sia, hal ini disebabkan masyarakat yang tidak berani berkhianat karena rasa cinta, segan, dan hormat kepada Teungku Putik yang dianggap juru penyelamat.

Direbutnya Jeuram oleh Belanda, Teungku Putik dan Teuku Keumangan memindahkan lokasi pertemuan ke daerah Sapek. Di situ, pasukan Teungku Putik juga mendirikan sebuah masjid yang bertujuan untuk  pembinaan sekaligus untuk terus mengindoktrinasi perang sabil kepada anggota-anggota serta masyarakat yang ada di gampong tersebut setiap saat pengajian dan perjumpaan lainnya. Ketenangan pertahanan di daerah Sapek tidak berlangsung lama, sebab tempat tersebut telah diketahui dan Belanda beserta pasukan mencoba melakukan penyerangan ke daerah tersebut.

Sulitnya medan yang harus dilalui pasukan Belanda menuju Sapek menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi pasukan Teungku Putik untuk melakukan serangan dan penyergapan. Hal ini dikarenakan jalan-jalan menuju daerah tersebut masih penuh dengan hutan lebat yang berlumpur serta berawa dan keadaan ini menjadi benteng bagi pasukan Teungku Putik. Sulitnya melumpuhkan pasukan Teungku Putik dengan pertahanan benteng alamnya membuat Pemerintahan Belanda di Meulaboh yang dipimpin oleh Kapten M.J.J.B.H. Campioni berkunjung ke Seunagan untuk menyaksikan langsung daerah rawan dan penuh ketegangan tersebut bersama dengan pasukannya, seperti Letnan Cristoffer, van Der Vlerk, van Der Zee, dan Brewer.

Setiap pergerakan pasukan Belanda yang akan memasuki wilayah Seunagan, selalui diintai dan diawasi oleh Pang Dolah dan Pang Brahim yang merupakan orang kepercayaan Teungku Putik untuk berjaga dikawasan perbatasan Seunagan dan Kaway XVI. Info yang didapat akan dikabarkan dengan menggunakan tanda alam serta bunyi-bunyian tambo (beduk) yang dipukul. Hal ini dilakukan agar pasukan Teungku Putik sudah bersiap-siap sebelum Belanda sampai.

Ketika pasukan Belanda telah memasuki kawasan antara Nigan dan Sapek yang berawa-rawa, tambo langsung dibunyikan. Pasukan yang telah bersembunyi dan bersiap-siap dengan semangat jihad yang dipimpin oleh Teungku Pulo Jakfar langsung melakukan penyerangan secara tiba-tiba dan membuat pasukan Belanda kacau balau, panik, tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga pada penyerangan tersebut Belanda kehilangan 60 orang pasukannya yang tewas dengan 20 orang luka parah termasuk Kapten Campioni yang kemudian meninggal dalam perjalanan laut menuju Kutaraja (Banda Aceh) lalu dikuburkan di pekuburan Peutjoet atau kerkhof.

Seorang pasukan Belanda H.C. Zentgraff menuliskan peristiwa tersebut sebagai berikut:
“Suatau kelalaian sang komandan telah membuat keuntungan bagi pihak lawan di dekat Gampong Sapek. Orang masih ingat akan pertempuran yang sangat menyedihkan itu. Setiap kesilapan di sini, harus dibayar dengan darah...ya...sebuah pembunuhan berkelewang ini yang dilakukan lawan dengan perasaan tidak takut mati...yang tak ada teranya itu kita dapati sebuah penyerbuan terhadap pasukan Compioni di tahun 1904, satu-satunya pertempuran berkelewang terbesar yang pernah dikenal dalam pertempuran di Aceh”.

Banyaknya serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan muslimin dan rakyat, membuat Belanda melakukan pengejaran terhadap pasukan muslimin di Seunagan. Pasukan yang dipimpin oleh Letnan Brewe ini melakukan pengejaran dengan tindakan yang kejam dengan mencurigai pemberontak kepada penduduk sipil. Selain itu, Belanda juga melakukan pendekatan dengan beberapa Uleebalang di Seunagan agar mau berdamai, dan hal tersebut dilakukan dengan cara menculik keluarga dari Teuku Keumangan.

Diculiknya keluarga dari Teuku Keumangan membuat Uleebalang Seunagan menyerah dan memilih berdamai dengan Belanda pada tahun 1906. Tindakan tersebut diambil agar dapat membebaskan keluarga dan melindungi masyarakat dari represivitas pasukan Belanda yang semakin kejam.

Menyerahnya Teuku Keumangan tidak menyurutkan Teungku Putik untuk terus berjuang, malah Teungku Putik memindahkan lokasi pertahanan dan persembunyian ke daerah pedalaman Krueng Tripa. Di daerah baru tersebut Teungku Putik beserta para pasukannya juga membuka lahan untuk bertani. Namun persembunyian baru tersebut juga diketahui oleh pasukan Belanda sehingga mereka langsung melakukan pengejaran ke daerah Krueng Tripa. 

Lagi-lagi untuk dapat mencapai daerah tersebut Belanda harus kehilangan 4 orang pasukannya yang tewas saat berhadapan dengan pasukan perang yang dipimpin oleh Pang Ali. Selain itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J.J. Donner juga hampir menjadi korban penikaman Keujreun Bacah apabila tidak langsung kabur yang telah mempermainkan dan membuat mereka lalai.

Pada tahun 1908, Teungku Putik menerima berita dari Teuku Keumangan bahwa Belanda akan melakukan serangan ke hulu Krueng Tripa. Teungku Putik memerintahkan pasukannya untuk mengatur siasat untuk bersembunyi memasuki kiri dan kanan hutan  di daerah antara Krueng Tripa dan Krueng Buloh. Tiba-tiba dengan teriakan Allahu Akbar pasukan Teungku Putik menyerang pasukan Belanda tampa rasa takut. Pasukan muslimin yang dipimpin oleh Teungku Putik terus bergerak maju dengan harapan memenangi pertempuran ataupun mati syahid demi agama dan mengharapkan keridhaan Allah.

Dari peperangan yang terjadi di hulu Krueng Tripa tersebut, pasukan muslimin berhasil meraih kemenangan. Belanda kehilangan 70 orang serdadu yang tewas, serta beberapa pasukan yang luka termasuk Kapten Lux. Sedangkan dipihak Teungku Putik kemengan ini juga harus dibayar mahal dengan kehilangan beberapa orang panglimanya, seperti Pang Brahim, Pang Sabi, Teungku Imeum Meukek, Keucik Abah, dan sepuluh pengikutnya serta Teungku Usman (Teungku Cut) anak kandungnya sendiri.

Setelah peperangan tersebut, Teungku Putik menyadari untuk menghentikan perjuanga secara kekerasan dengan menggunakan senjata. Beliau memilih untuk berjuang di tengah masyarakat umum untuk memperbaiki taraf kehidupan penyempurnaan dakwah, ibadah, serta ilmu pengetahuan agama. Supaya ibadah yang dilakukan masyarakat benar-benar sesuai dengan anjuran Allah Swt., dan Nabi Muhammad Saw. Hal ini juga berdasarkan pikiran dan dasar beberapa pertimbangan ajakan dari Teuku Keumangan untuk segera berdamai dengan Belanda dan bersama-sama membangun Seunagan di bidang keagamaan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Mengingat Belanda yang semakin refresif dan melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai pendukung kelompoknya. Apabila kondisi ini berlanjut, maka dikuatirkan kemungkinan generasi masa depan akan menjadi buta dalam pengetahuan agama dan tidak dapat menuntut ilmu ibadah serta pendidikan. Di sisi lain, pada tahun 1910 wilayah Seunagan dan pantai barat Aceh mulai berjangkit penyakit endemis cacar secara besar-besaran yang banyak menyerang penduduk serta pengikut Teungku Putik. Banyak dari mereka yang terserang penyakit tersebut meninggal dunia.

Pada tahun 1911, Teungku Putik bersama beberapa pasukannya turun gunung menuju Krueng Tripa untuk melakukan perdamaian dengan Belanda. Mayor Bekring selaku pimpinan Belanda wilayah Aceh Barat yang berkedudukan di Meulaboh memimpin upacara perdamaian tersebut dengan didampingi oleh Mayor Volumen yang bertugas di wilayah Selatan Aceh yang berkedudukan di Tapak Tuan beserta Teuku Ben Mahmud Blangpidie.

Perdamaian dengan Teungku Putik merupakan kesusksesan besar oleh Belanda sehingga beliau dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk diberikan penghargaan dari Gubernur Militer Aceh yang dijabat oleh H.N.A. Swarth. Meskipun telah berdamai, Belanda tidak mempercayai Teungku Putik dengan mutlak mereka terus mengikuti gerak-gerik beliau. Sedangkan dilain pihak, Teuku Raja Tampok yang merupakan salah satu pengikut Teungku Putik memilih untuk terus melakukan perjuangan melawan Belanda.

Peninggalan Kerajaan Serta Kebudayaan Yang Bercorak Hindu Di Aceh

Friday, April 29, 2016 0

Peninggalan Kerajaan Serta Kebudayaan
Yang Bercorak Hindu Di Aceh

Gambar Benteng Indra Patra
(Doc. Google)
Tugas Makalah Matakuliah Sejarah Aceh 1 pada saat semester dua dengan judul Peninggalan Kerajaan Serta Kebudayaan Yang Bercorak Hindu Di Aceh.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.           Latar Belakang Masalah
Yang seperti kita ketahui tidak banyak bahkan hampir tidak tampak sama sekali peninggalan-peninggalan Hindu yang tersisa di Aceh. Mengapa semua itu bisa terjadi? karena, setelah agama Islam masuk ke Aceh beberapa kebudayaan yang berbau agama Hindu itu dihancurkan atau dimusnahkan baik itu bangunan ataupun candi. Semua itu mereka lakukan karena sikap kefanatikan masyarakat Aceh terhadap agama Islam. Walaupun ada beberapa budaya Hindu yang tersisa dan telah terakulturasi dengan kebudayaan Islam yang mana masih melekat pada masyarakat kita di Aceh. Tak salah bila di Aceh sangat sulit untuk mencari bukti-bukti tentang peninggalan kerajaan serta kebudayaan Hindu saat ini. Sebab, kebanyakan bukti telah tiada dan seandainya ada pasti kurang akan sumbernya.

Aceh yang terkenal dengan sebutan, “Kota Serambi Mekkah” merupakan tempat di mana berkembangnya agama Islam pertama di Indonesia. Diperlihatkan dari letak geografisnya, dimana Aceh sendiri terletak di ujung barat Pulau Sumatera yang dekat dengan Selat Malaka yang saat itu menjadi pintu pusat lalu lalangnya kapal-kapal saudagar antara belahan bumi Barat dan Timur. Dapat diperhitungkan sejak awal abad ke 1 atau paling lambat masa mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Seperti yang tertulis dalam buku H Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad jilid I.

Namun dengan meningkat lalulintas perdagangan dan kemampuan hidup masyarakat sekaligus memungkinkan terbangunnya suatu pemerintahan atau kerajaan. Sumatera memang sudah dikenal dengan kaya akan hasil Bumi dan Alamnya jadi tidak salah pada masa itu bangsa India menyebutnya dengan sebutan Swarnadwipa (Pulau Emas).

Selain berdagang, para saudagar-saudagar tersebut yang mana mereka berasal dari Arab, India dan Cina lebih dominan dalam perdagangan di Sumatera. Pelan-pelan para saudagar tersebut menyebarkan agama yang mereka anut dan pahami yang mereka bawa bawa dari daerah asal, salah satunya yaitu agama Islam, Budha dan Hindu.

Sebelum masuknya agama Islam ke Aceh, diperkirakan terlebih dahulu sudah ada agama serta kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha di Aceh. Beberapa kerajaan yang dulu pernah bercorak Hindu seperti, Kerajaan Laut Bangko (Kluet) di Aceh Selatan, Kerajaan Sama Indra (Pedir) yang berada di Pidie, Kerajaan Indrapurwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa yang berada di Aceh Besar dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di Lhokseudu.

Jepang Zaman Kamakura

Friday, April 29, 2016 0

Jepang Zaman Kamaura

Gambar Ilustrasi Jepang Zaman Kamakura
(Doc. Google)
Tugas matakuliah Sejarah Asia Timur sewatu semester 3, dengan judul makalah Jepang Zaman Kamakura.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.           Latar Belakang Masalah

Dari sekian yang paling penting dalam latar belakang zaman Kamakura adalah peristiwa  di mana dua keluarga dari provinsi-provinsi di ibukota yaitu keluarga Taira dan keluarga Minamoto yang terjadi pada zaman Heian.

Peperangan itu pada hakekatnya adalah peraduan kekuatan berperang, karena dalam perang saudara zaman Hogen kedua keluarga inilah yang sebenarnya berhadapan satu dengan yang lain sebagai lawan yang pantang mundur.

Keluarga Taira membantui suatu pihak di istana. Dan keluarga Minamoto dipergunakan lawan pihak istana.

Dalam pertempuran ini keluarga Taira mendapatkan kemenangan dari keluarga Minamoto dan menewaskan anggota keluarga Minamoto, antaranya Tameyoshi dan anaknya yang bernama Yoshitomo. Dan kaisar Sutoku yang telah melepaskan kedudukannya dijatuhkan hukuman buang, sedangkan Fujiwara Yorinaga seorang menteri kiri dihukum mati.

Kemenangan perang yang diraih oleh keluarga Taira bukan akhir perang antara keluarga Taira dan Minamoto pada saat itu. Peperangan meletus kembali pada tahun 1159. Dalam sejarah Jepang dinamakan perang saudara Heiji.

7 Kalimat Penghianatan Untuk Indonesia 70

Friday, April 29, 2016 0

7 Kalimat Penghianatan Untuk Indonesia 70

Gambar Teks Proklamasi (Doc. Google)
“Tujuh belas Agustus tahun sembilan belas empat puluh lima itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka untuk nusa dan bangsa, dan hari lahirnya bangsa Indonesia.” Sungguh hari yang paling istimewa dari bangsa kita. Ini merupakan angin segar bagi seluruh rakyat Indonesia karena sudah terlepas dari penjajah.

Siapapun tidak akan meyangkan bahwa Jum’at, 17 Agustus 1945 merupakan kado dan anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia. Karena tepat pada hari dan bulan tersebut, Allah jadikan yang paling istimewa dari pada hari dan bulan lainnya dalam satu tahun. Sehubungan dengan itu, pada hari kemerdekaan Indonesia juga tepat pada Jum’at 9 Ramadhan 1364 Hijriah yang merupakan bulan suci penuh berkah bagi umat Islam.Baca selengkapnya...

Al-Jum’ah artinya persatuan, persahabatan, kerukunan, dan pertemuan. Meski secara umum dan keseluruhan semua hari termasuk Jum’at dalam seminggu itu bisa dikatakan sama atau tidak ada bedanya. Namun hari Jum’at bagi umat Islam memiliki keistimewaan tersendiri sama halnya dengan keistimewaan Sabtu bagi orang-orang Yahudi, dan Minggu untuk kawan-kawan Nasrani.

Keistimewaan hari Jumat telah Allah perlihatkan mulai dari hari dibentuk dan akan hancurnya bumi sampai peristiwa penting terciptanya manusia. Sedangkan bulan Ramadan Allah berkahi karena pada bulan tersebut apapun kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan oleh Allah pahalanya, dan pada bulan ini juga Kalamullah diturunkan ke bumi.
***
Kemarin, kita telah memperingati hari kemerdekaan bangsa dan larut dalam suasana euforia. Tetapi apakah masyarakat Indonesia tahu apa yang terjadi pada sejarah bangsa sehari paska dibacakannya proklamasi? Tidak, masyarakat masih banyak yang tidak tahu apa telah terjadi. Karena pemerintah memang sengaja menutupi hal-hal kecacatan dari masyarakat dengan hiburan dan kesenangan. Padahal tujuh kalimat telah hilang dalam cita-cita bangsa, untuk penghianat yang cacatkan tujuh puluh tahun Indonesia.

Kemisteriusan sejarah Piagam Jakarta yang telah disah dan ditetapkan oleh Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 22 Juni 1945 menuai kontraversi menjelang pengumuman. Tujuh kalimat pada alinea keempat dihapuskan dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang sebelumnya berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dalam isi Piagam Jakarta.

Rekayasa politik dimainkan oleh para intelektual sekuer pada saat itu, dengan mengatakan bahwa Moh. Hatta didatangi oleh seorang serdadu Jepang. Dia diminta untuk menghapuskan tentang menjalankan syariat Islam pada Piagam Jakarta. Karena apabila bangsa ini diterapkan syariat Islam maka akan menimbulkan perpecahan pada Indonesia. Namun yang terjadi malah sebaliknya ketika syariat itu dihapuskan maka menimbulkan kekecewaan bagi para wakil pendiri bangsa yang telah bersusah payah membuat konstitusi dan cita-cita bangsa. Dan sampai meninggal Moh. Hatta, tidak ada yang tahu siapa siapa serdadu yang menjumpainya. Sungguh peristiwa yang sangat misterius dan penuh dengan rekayasa politik. Antara benar atau tidak kita semua tidak tahu, yang mengetahuinya adalah para intelektual pada saat itu. Dan di sanalah awal dari semua luka dan penghianatan bagi bangsa ini.

Sejak saat itu, rumusan konstitusi negara ini terus diubah-ubah oleh para intelektual sekuler. Pancasila yang dikatakan sebagai dasar negara ini juga bukan Pancasila yang dikatakan Soekarno pada 1 Juni dan tidak juga sesuai isi Piagam Jakarta yang telah disepakati. Namun Pancasila saat ini adalah keinginan para sekuler untuk kebebasan menguasai bangsa ini sejak dikeluarkannya Pancasila pada Dekrit Presiden 5 Oktober 1959.

Demokrasi bukanlah sebuah cita-cita yang diinginkan pada hasil rumusan Piagam Jakarta. Karena tidak ada kata demokrasi yang terucap pada setiap isi kalimat dari hasil rumusan tersebut. Sebaliknya, yang tertuang dalam isi Piagam Jakarta adalah sebuah kedaulatan rakyat. Sebab demokrasi adalah bentuk dari sebuah kebebasan individu. Sedangan kedaulatan rakyat adalah bersumber dari kekuasaan rakyat sebagai kelompok manusia (makhluk) individu sekaligus sebagai manusia sebagai makhluk sosial yang terikat tak terpisahkan dengan tata nilai yang bersifat primordialis.

Tanggal 18 Agustus sungguh tidak cocok bila diperingati sebagai hari lahirnya konstitusi negara kita. Sebaliknya pada tanggal tersebut lebih tepatnya memperingati hari penghianatan akan cita-cita bangsa kita. Di mana tujuh kalimat telah diubah pada cita-cita besar bangsa ini yang tertuang dalam Piagam Jakarta serta sejak saat itu konstitusi negara juga mulai diubah dengan sesukanya. Padahal konstitusi dan cita-cita bangsa ini telah disepakati bersama menjadi sebuah perjanjian luhur Bangsa Indonesia ditandatangani oleh para Wakil Pendiri Negara yang sah pada tanggal 22 Juni 1945 yang bernama Piagam Jakarta.

Tidak salah bila orang mengatakan bahwa sejarah adalah milik penguasa, sebab sejarah dapat diubah sesuai dengan keinginan penguasa. Sehubungan dengan itu, para sejarawan juga akan menjadi sulit dalam membuat historiografi yang sesungguhnya tentang bangsa ini. Sebab masih banyak para intelektual sekuar yang menguasai negeri ini, meskipun mereka tidak langsung memimpin negeri ini.

Selamat atas kemerdekaan Indonesia ke 70 tahun, selamat untuk tidak berubah bila kedaulatan rakyat tidak ada.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Opini media online Harian Aceh Indonesia (18/Agustus/2015).

33 Lacur

Friday, April 29, 2016

33 Lacur

Doc. Mhd. Saifullah
Karya: Mhd. Saifullah
Engkau kesana.
Lacur.

Engkau kemari.
Lacur.

Engkau pergi ke barat, timur,
kutub utara, selatan
bahkan di udara, maupun darat,
sampai ke air.
Meski kemana-mana
engkau selalu.
Lacur.

Namun engkau sabar
masih mampu tersenyum bahagia
lantang berbangga
sebab engkau bukan pe-.
Lacur.
Simpang Tiga, Banda Aceh
28 April 2016

USK

Friday, April 29, 2016 0

USK

Gambar Gedung Rektorat Unsyiah (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Sungguh bangga pada diri
Sujud syukur ku hamparkan kepada sang Ilahi
Saat mata memandang kaku dalam kata tertulis,
aku lulus pada universitas negeri
aku lulus pada universitas berpredikat tinggi
Ya, kampus kebanggaan dari tanah leluhurku yang telah mati.
Riang gembira tak bisa merubah jiwa
Segala rasa menyatu di dalam raga

Namun sayang seribu sayang
Kampus tercinta lepas genggam dalam bayang
Musnah harapan termakan semu
Saat kaki telah memijak, tubuh telah bersandar,
dan otak telah terisi oleh hal-hal palsu
Dipaksa masuk dalam sistim penuh debu
Usang karena ketidakpastian diujung tandu

Kampus harapan pemusnah impian
Kamu, dia, mereka, kita, dan aku
Akan musnah ditelan waktu
Berubah atau terusir oleh zaman
dan hilang dari tanah yang telah diperjuangkan

Hilanglah berjuang sambil belajar
Lenyaplah belajar sambil berjuang
Sebab setitik tinta sudah tak mampu terbayar
Sedangkan kampus penuh akan uang.
Inong Balee
Darussalam, Banda Aceh
28 Agustus 2015

Sepi

Friday, April 29, 2016 0

Sepi

Gambar Ilustrasi Sepi
(Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Mati hatiku.
Saat ku ingin melihatmu.
Sedihku sunyi.
Awan enggan menemani.

Penghianat cinta
berlalu pergi.
Seakan hari tak ada
sedetik waktu pun sirnah.

Ingin ku pergi dari dunia.
Namun nirwana mencela.
Terhempas rasa sepi.

Ingin ku mengadu akan cinta.
Namun tak terdengar arah.
Tersudut sendiri.

Dalam sepi.
Tak mampu mati.
FKIP Unsyiah
Darussalam, Banda Aceh
16 Desember 2015

Lalu

Friday, April 29, 2016 0

Lalu

Gambar Ilustrasi Senja (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Aku pernah
terserampang,
dalam bingkai
kegelapan
yang tampak
seperti semu.

Aku pernah tersemat
dalam kegelapan malam.

Dan aku pernah
diterjang,
waktu dalam bayang
yang membuatku
membisu.

Namun aku terbantu,
dengan seuntai cahaya
Sang kalam.
Saat raga
perlahan mulai rapuh,
dan ingin berjumpa
dengan penghujung waktu.
Warkop Zakir
Gampong Lamyong, Banda Aceh
10 November 2015

Hidup

Friday, April 29, 2016 0

Hidup

Gambar Ilustrasi Pilihan Hidup (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Beberapa orang
banyak bertanya tentang hidup.
Sebagiannya
selalu mengeluh tentang hidup.
Sebagian lainnya
mencerca tentang hidup.
Tanpa kita sadari,
kita sedang hidup.
Warkop Zakir
Gampong Lamyong, Banda Aceh
3 November 2015

Damai

Friday, April 29, 2016 0

Damai

Gambar Ilustrasi Damai dan Bahagia (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Selamat siang wahai malam.
Dunia tidak pekak.
Untuk apa berteriak.

Tiada perlu diharapkan,
dari balada-balada tak berdetak.
Bila hanya terusir,
bersua sia-sia,
lebur meratap dunia.

Layaknya paradoks.
Mudah berurai
dengan sang dewa.

Mengapa harus lalim sebagai manusia?
Karena kita, dicipta,
bukan untuk senjata.
Apalagi menjadi mesin manusia.

Tak perlu berteriak.
Bila bumipun enggan beriak.
Warkop Zakir
29 Desember 2015

Di Manakah Jawaban Itu

Friday, April 29, 2016 0

Di Manakah Jawaban Itu

Gambar Ilustrasi Cahaya (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Di manakah jawaban itu?
Hampir setiap kota aku melihat.
Hampir setiap sudut kota aku bertanya.
Namun tak ada jawaban yang pasti.

Ku tanya siang dengan awan dan mentari
Ku tanya malam penuh akan bulan dan bintang
Namun tak ada jawaban yang pasti
Semua hanya terdiam
Berlalu dengan bungkaman
Dan tak mampu menjawab pertannyaan ini

Di manakah jawaban itu?

Manusia hanya bisa mengolok-oloknya
Atau tak mengerti serta memahami akan pertanyaan ini

Di manakah jawaban itu?
Di mana?

Inilah misteri kehidupan
Semua penuh tanda tanya

Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan
Kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan
Senyuman akan menghapus kesedihan
Amarah akan hilang dengan ketenangan
Inilah misteri kehidupan
Penuh akan cerita dan juga penuh tanda tanya

Mengapa mereka tak menjawabnya?
Di manakah jawaban itu?

Tuhan sungguh tiada duanya
Membuat teka teki dalam kehidupan ini
Kita disuruh untuk berusaha mencari dan terus mencari
Hingga kita menemukan akan kebenaran
Kebenaran sejati dari dekapan Ilahi

Di manakah jawaban itu?
Di manakah jawaban itu?

Sungguh misteri Ilahi dan kita tetap harus mencari
Agar lebih mendekatkan diri kepada Ilahi
Kajhu, Aceh Besar
13 Desember 2014

Kodok

Friday, April 29, 2016 0

Kodok

Karya: Mhd. Saifullah
Hei kodok
Engkau repetkan apa?
Padahal hujan sudah cukup lama.
Sampai-sampai
aku tak bisa kemana-mana.
Hei kodok
Mengapa engakau tertawa?
Padahal orang-orang sedang susah.
Tetapi engkau malah tertawa.

Hei kodok.
Hei kodok.
Hei kodok.

Cobalah berhenti sejenak.
Jangan takut.
Engkau tidak akan mati.
Hujan pasti akan turun lagi.
Kalo bukan nanti pasti esok hari.

Hei kodok.
Hujan telah berhenti.
Waktunya kami beraktivitas kembali.

Banyak-banyaklah berdoa kepada sang Ilahi
Agar sang ular tak memangsamu hari ini.
Sebab sang ular pasti sudah lama menanti.
Karena hujan turun tiada henti.
Kajhu, Banda Aceh
21 Desember 2014
Gambar Ilustrasi Kodok (Doc. Google)

Suara Dibungkam

Friday, April 29, 2016

Suara Dibungkam

Gambar Ilustrasi Pembungkaman Suara (Doc. Mhd. Saifullah)
Karya: Mhd. Saifullah

Suara kami,
mungkin tidak senyaring
tiupan seruling dikesunyian alam.
Suara kami,
mungkin tidak sebanding
para negarawan dalam berkalam.
Suara kami,
mungkin saat ini engkau abaikan.
Suara kami,
dianggap subversif
dalam kerajaan kampus
yang dikatakan proaktif.
Namun dalam konkretisasinya
adalah pasif.

Bibit-bibit intrik polemik
disebarkan penguasa tiada arah.
Di tanah hampa si awam
ditanam pemikiran apatis.
agar semakin lemah
dan semakin mengikis para pengkritis.
Dan dengan mudah
sang penguasa memaksa mereka
memakan titah.

Kami digenggam otoriter sang rektorat.
Kami dibungkam dengan tipu muslihat.
Kami diikat, lalu ditindas,
dan dijadikan boneka
untuk kepentingan tahta semata

Tidak, tidak.
Kampus ini bukan sedang reformasi.
Kampus ini bukan sedang revolusi.
Kampus ini bukan sedang menjalani predestinasi.
Tetapi kampus ini sedang membuat jabatan abadi.
Sedang menjalani predasi.
Dengan memakan anak sendiri
agar kekuasaan mudah dijalankan
kesana-kemari sesuka hati.

Sang raja bertajuk angkuh.
Takut dilambai tahta yang membaju
hingga anak sendiri dianggap musuh.
Bungkamkan rasa
dengan mendidik kuasa tirani.
Lebih utama gengsi
dari pada membina kami.

Suara kami,
mungkin tidak senyaring
tiupan seruling di kesunyian alam.
Suara kami,
mungkin tidak sebanding
para negarawan dalam berkalam.
Suara kami,
mungkin saat ini engkau abaikan.
Namun suara kami,
akan menjadi momok menakutkan.
Sebab membungkam
bukan jalan kepastian
tetapi jalan menuju kehancuran.

Banda Aceh
15 Oktober 2015

Persada Kita

Friday, April 29, 2016 0

Persada Kita

Gambar Unsyiah (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah

Bertekun menjadi sarjana
harapan menjelang senja.
Bertekun menjadi perubah bangsa
tiada berpapah, tiada terkira.

Dinamika dicipta untuk berkuasa.
Penguasa bertahta asa nafsu dunia,
penuh retorika, penuh tanda tanya.

Persada harapan.
Persada perubahan.
Persada impian.
Musnah ditelan zaman.

Banda Aceh
11 Oktober 2015

Sadar dan Bangkitlah

Friday, April 29, 2016 0

Sadar dan Bangkitlah

Gambar Ilustrasi Perjuangan (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Detak detik waktu bergulir
Semakin senja semangat bangsa
Detak detik waktu berlgulir
Menipis jiwa, asa telah musnah.

Detak detik waktu berlalu
Semakin semu perjuanganku
Detak detik waktu berlalu
Si muda berjuak, memupuskan bangsa

Dahulu berlonggok-longgok pekikan kemerdekaan
terdengar diseluruh celah nusantara
Bagaikan kobaran-kobaran api memakan ilalang
Tak sungkan para jemari menghunus pedang
Mencabik-cabik penjajah di medan peperangan

Kini semua mulai memudar
Asa mulai memeluk barat
Kini pertiwi mulai sendiri
Sebab putih telah usam
Merah berubah menjadi usang

Mereka rela bertukar darah
Demi menghilangkan penjajah
Mereka tinggalkan keluarga dan harta
Demi Indonesia merdeka

Tetapi mengapa
Mengapa kita menjadi penjajah di negeri sendiri
Di negeri sendiri di tanah pertiwi
Mengapa kita dustai tanah yang diperjuangkan sampai mati
Apa yang telah kita lakukan kepada negeri ini
Apa? Apa?

Sadarkah kita wahai generasi bangsa
Pertiwi pernah dijamak oleh para penjajah
Pertiwi pernah berteman dengan kegelapan kaki dunia
Pertiwi pernah merangkak di lembah-lembah usang
tanpa cahaya
Pertiwi pernah menahan dan menangis
melawan lapar yang melanda

Bangkit, bangkitlah
Bangkitlah generasi muda
Sadar, sadarlah
Sadarkan diri kita

Aku putra engkau putri
Kita adalah generasi muda bangsa ini
Di tangan kita kini
Tergenggam arah bangsa menuju rakyat yang sejahtera
Di bahu kita kini
Ada harapan mereka akan cita-cita bangsa

Bangkit, bangkitlah wahai generasi muda
Bangsa ini memanggilmu
untuk pengabdian tiada berdosa
Bangsa ini membutuhkanmu
Bangkit, bangkitlah wahai generasi muda
Bangkitlah untuk mewujudkan cita-cita bangsa

Fajar kan tiba bersama cahaya
Menuju harapan indah Indonesia
Kajhu, Aceh Besar
7 Oktober 2015

Teungku Putik

Thursday, April 28, 2016 0

Teungku Putik

Gambar Buku Teungku Putik (Doc. Mhd. Saifullah)
Identitas dari buku
Judul :
Teungku Putik: Dari Perjuangan Hingga Pengasingan 1849-1933).
Penulis :
Hasbullah
Penerbit :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tahun terbit :
2012
Tebal/jumlah halaman :
122 Halaman

1. Asal Usul Keturunan Teungku Putik
Teungku Putik merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus pejuang pada masa kolonial yang berasal dari Nagan Raya atau yang dulunya dikenal daerah Seunagan. Teungku Putik anak dari seorang ulama bernama Teungku Abdurrasyid cucu dari Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan), dan cucu buyut dari Teungku Syekh Abdussalam.

Teungku Putik lahir di Cot Nigan daerah Seunagan pada tahun 1849. Besar di lingkungan masyarakat yang taat serta mencerminkan nilai-nilai keagamaan menjadikan watak dan kepribadian Teungku Putik teguh akan pendirian agama Islam sehingga kelak beliau juga berjuang melawan kolonial. Pada usia enam tahun Teungku Putik sudah lancar membaca Al Qur’an sehingga membuat Teungku Chik Di Killa tertarik dan membawanya untuk tinggal di dayah setelah kakeknya Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan) meninggal. Selama tiga tahun Teungku Putik tinggal di dayah dan beajar ilmu agama, pengetahuan, serta peperangan. Sejak saat itu Teungku Putik dikenal oleh masyarakat dengan pemuda yang memiliki ilmu agama dan pengtahuan serta diberi gelar “Teungku Putik”.

Teungku Putik merupakan sebutan atau gelar untuk seorang ulama yang masih muda. Teungku Putik berasal dari dua suku kata dalam bahasa Aceh, teungku berarti seseorang yang memiliki pengetahuan agama, dan putik yang berarti masih berusia sangat muda.

2. Jejak Perjuangan Teungku Putik
Setelah meninggalnya beberapa tokoh utama dari golongan ulama Seunagan, seperti Teungku Syekh Abdurrhim, Teungku Chik Di Killa, dan Teungku Abdurrasyid dakwah agama Islam di Seunagan dan Aceh Barat harus diteruskan oleh Teungku Putik yang pada saat itu masih berusia sangat muda. Di samping itu, beliau juga dipercaya oleh Uleebalang Seunagan untuk menjabat sebagai kadhi (hakim) untuk wilayah kenegerian Seunagan dan menikah dengan seorang putri dari Teuku Tuan di Nigan yang merupakan seorang saudagar lada. Sehingga selain berhasil melaksanakan dakwah Islam dengan mendirikan dayah, meuseujid (masjid), dan meunasah (madrasah), Teungku Putik juga berhasil untuk melanjutkan cita-cita mertuanya, yaitu memajukan pertanian dan perkebunan masyarakat.

Pada saat melaksanakan dakwah Islam, Teungku Putik sangat gigih berjuang menghapus dan memasukkan ajaran agama Islam ke dalam adat atau kebiasaan masyarakat. Selain itu, beliau menggerakkan masyarakat untuk meuseuraya (gotong-royong) dalam melakukan berbagai hal baik, seperti membangun masjid, irigasi (neulop), dan jalan-jalan. Selama melakukan pekerjaan sosial, bukan sedikit pengorbanan yang dikeluarkan Teungku Putik untuk pembangunan. Demikian pula karisma yang dimiliki telah membuat masyarakat mau menyumbang tenaga dan harta. Sehingga ketika perang Aceh menghadapi Belanda pecah pada tahun 1873, masyarakat juga ikut berjuang bersama Teungku Putik.

Pendidikan dan Kebudayaan Adalah Insan Intelektual

Thursday, April 28, 2016 0

Pendidikan dan Kebudayaan Adalah Insan Intelektual

“...orang tua siswa memperotes pihak sekolah yang menjual buku pelajaran begitu mahal...”,”...seorang siswa dipukul oleh kepala sekolah...”,”...banyak siswa yang berhenti sekolah karena tidak ada guru serta jarak sekolah yang jauh...”,”kualitas pendidikan Aceh mengalami kemunduran, semula peringkat 30 kini menjadi 32 untuk tingkat nasional...”,”...siswa SD diperkosa oleh empat orang tetangganya...”,”...Nurul Fatimah siswi Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Keunaloi, Seulimum, Aceh Besar meninggal dunia setelah dianiaya oleh teman sekolahnya...”.
Gambar Lambang Tut Wuri Handayani (Doc. Google)
Di atas merupakan beberapa kutipan kasus tentang pendidikan serta buruknya moral yang diterbitkan oleh berbagi media massa di Aceh tahun 2015. Padahal Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam dan memiliki alokasi dana pendidikan yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ini membuktikan bahwa pendidikan kita masih sangat jauh tertinggal dari daerah lain serta karakter dari masyarakat kita semakin menjauh dari yang namanya Islam.

Bila kita sedikit berkaca dari sejarah Kerajaan Aceh Darussalam, keadaan saat ini sangat jauh berbeda dan tertinggal dari sebelumnya. Jika sebelumnya Aceh pernah menjadi pusat pembelajaran agama Islam di Nusantara sehingga dijulukan Serambi Mekah. Selain itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan telah ditanamkan kepada rakyat Aceh oleh setiap sulthan-sulthan yang memimpin. Seruan berupa mewajibkan rakyat untuk belajar, baik itu mempelajari ilmu agama, perang, perdagangan, serta seni. Karena sulthan menyadari tanpa belajar maka kita tidak akan ada ilmu, bila tidak ada ilmu maka kerajaan tidak akan maju, dan bila kerajaan tidak maju maka rakyat akan sengsara. Semua terbukti pada masa Sulthan Iskandar Muda, kerajaan mencapai kejayaan pada abad ke-17 dan diakui sebagai lima kerajaan terbesar pada masanya. Dan kesadaran pentingnya pendidikan dan kebudayaan itu terus dilanjutkan hingga sampai berdirinya Tugu Kopelma Darussalam dan Tugu Pena.

Kali ini penulis tidak membahas secara keseluruhan tentang sejarah kejayaan Aceh serta permasalahn tentang pendidikan dan buruknya moral masyarakat. Namun penulis lebih memfokuskan tulisan ini lebih kepada peran kita semua untuk mengatasi permasalahan dan memberikan solusi dalam meningkatkan insan yang intelektual di Aceh. Dengan belajar dari sejarah sebagai cerminan dan untuk menangani permasalahan yang ada. Karena apabila kita hanya membahas tentang permasalahan di Aceh, maka salah menyalahkan yang terdengar.

***

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran hidup kemanusian. Sedangkan menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik,  pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat”.

Mengenai kebudayaan Dr. Moh. Hatta berpendapat,”kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa”. Dan menurut Djojodigono mengatakan,”kebudayaan itu adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa”.

Berdasarkan pendapat diatas, bahwa pendidikan merupakan proses untuk memajukan dan mengembangkan potensi seseorang. Sedangkan kebudayaan adalah suatu hasil ciptaan yang dibuat oleh seseorang dari suatu bangsa. Dan kesimpulannya bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan proses untuk menjadikan seseorang menciptakan sesuatu yang menjadi identitasnya masing-masing bangsanya atau dengan maksud manusia yang memiliki karakter dan peradaban tinggi (insan intelektual).

Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan harus seimbang dijalani dan apabila salah satu dari keduanya melebihi maka akan celakalah negeri tersebut. Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW. di tengah-tengah manusia. Tiada lain untuk membimbing nafsu manusia bagaimana seharusnya ia dibimbing, dikendalikan dan diarahkan. Rasulullah SAW. bersabda,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Seorang cendikiawan Republik Roma Mercuas Tulius Cicero (106-43 SM) mengungkapkan bahwa kejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya. Doktrin tersebut merupakan untuk mengingatkan semua warga kekaisaran Roma mengenai manfaat praktis kebijakan dalam kehidupan nyata. Sebagian bangsa-bangsa yang memiliki karakter yang tangguh lazimnya akan maju berkembang dan sejahtera. Sebaliknya bangsa yang lemah karakternya justru tidak memiliki kontribusi bermakna pada kemajuan dunia dan malah kian terpuruk. Dan ini diperkuat lagi oleh seorang sejarawan bernama Arnold Toynbee, dengan mengungkapkan,”Dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam alias karena lemahnya karakter.

Kali ini beberapa kasus yang terjadi di Aceh bukan hanya tentang minimnya pendidikan, namun juga karena bobroknya karakter masyarakat. Di mana karakter msyarakat kita saat ini tidak sesuai dan mencerminkan daerah yang menegakkan syariat Islam. Selain itu kurangnya keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Sehingga banyak orang-orang pintar tetapi tidak memiliki moral serta akhlak yang baik dan banyak yang mengetahui agama tetapi tertinggal tentang perkembangan dunia. Dan inilah yang menyebabkan Aceh terpuruk sampai dengan saat ini.

Saat ini permasalahan yang terjadi di Aceh adalah tanggung jawab kita semua. Sehingga untuk mengurangi permasalahan tersebut kita harus ikut andil berperan. Mulai dari peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan juga mahasiswa.

Keluarga dan Sekolah Sebagai Pondasi
Bentuk karakter dari seseorang bergantung terhadap keadaan lingkungan terdekat sekitanya, baik itu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Apabila lingkungan yang dijalaninya daerah yang rawan akan konflik, maka karakter yang ditunjukan adalah sifat yang keras, cenderung tertutup, dan mudah emosi. Begitu juga sebaliknya apabila lingkungannya yang tertib dan teratur, maka karakter yang terbentuk adalah kedisiplinan. Sehubungan dengan itu, keluarga dan sekolah adalah pondasi awal dalam membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, untuk membentuk insan yang berkualitas yang memiliki intelektual dan peradaban tinggi maka dibutuhkan peran dari kedua unsur tersebut.

Masih lemahnya kesadaran beberapa keluarga tentang pendidikan karakter merupakan permasalahan pertama. Kebanyakan keluarga tidak melaksanakan pendidikan karakter dalam keluarganya. Padahal seharusnya pembentukan karakter seorang anak harus dimulai dari hal yang terkecil dalam lingkungannya dan keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar berinteraksi. Dengan demikian untuk membentuk karakter seorang anak yang memiliki insan berintelektual, peran keluarga sebenarnya lebih diutamakan.

Selain keluarga peran sekolah juga menjadi pondasi terpenting dalam pembentukan karakter anak. Sebab sekolah adalah suatu lembaga yang memang dirancang khusus untuk pengajaran para murid (anak didik) di bawah pengawasan para guru. Dengan demikian, sekolah memiliki dua peran penting, Pertama sekolah berperan sebagai keluarga kedua bagi anak didik atau bisa dikatakan lanjutan dari pembentukan karakter yang dilakukan oleh keluarga. Kedua berperan sebagai tempat belajar memahami keadaan masyarakat. Sehingga sekolah harus mengajarkan kepada peserta didik bagaimana berinteraksi yang baik dengan orang tua dan masyarakat luas.

Tetapi malah sebaliknya, banyaknya sekolah-sekolah yang mengutamakan pendidikan akademik dan sangat kurang dalam memberikan porsi pendidikan karakter anak. Oleh sebab itu, hasil pendidikan moralitas saat ini dianggap masih jauh dibawah harapan. Akibatnya, seperti yang terjadi saat ini, ketika anak didik ini menjadi pemimpin, mereka banyak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti korupsi dan bentuk kecurangan-kecurangan lainnya. Bahkan anak yang tidak terdidik karakternya akan menjadi boomerang bagi orang tuanya.

Kedua unsur yang menjadi pondasi awal pembentukan karakter seorang anak harus lebih dipertimbangkan kembali perannya oleh keluarga dan sekolah. Selain itu hubungan keluarga dan sekolah juga harus diperkuat agar mengetahui perkembangan karakter dari seorang anak.  Karena basis komunitas karakter yang kuat adalah keluarga yang kuat, maka sekolah perlu ikut serta membantu terwujudnya keluarga yang kuat. Dalam arti yang lebih luas, membantu mereka menjadi keluarga yang semakin peduli terhadap perkembangan pendidikan dan moral anak-anak. Dan begitu juga sebaliknya, para keluarga tidak boleh lepas tangan begitu saja kepada sekolah dalam membentuk karakter anak. Keluarga juga harus membantu sekolah dalam membina karakter anak

Tanamkan Dua Sifat Panutan
Pemberdayaan dan peningkatan dalam menciptakan insan yang intelektual tidak terlepas dari peran para pemimpin dan ulama dalam dunia pendidikan dan kebudayaan. Selain itu peranan keduanya telah terbukti pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dengan memiliki beberapa ulama kharismatik seperti Syamsuddin as-Sumatrani, Nurruddin ar-Raniry, dan Abdurrauf al-Fansuri. Selain itu ulama-ulama ini juga memiliki intelektual yang tinggi, sehingga dipercaya sebagai penasehat sulthan dan pemegang hukum kerajaan dan telah banyak memberi kontribusi besar pada kerajaan. Sehingga menjadikan Kerajaan Aceh Darussalam pusat ilmu pendidikan Islam di Nusantara pada masanya. Dan ini merupakan contoh dalam membangun insan yang intelektual, bahwa bukan ilmu agama saja yang diperlukan, namun juga ilmu dunia.

Dalam pembentukan karakter, sifat pemimpin juga perlu ditanamkan dengan anak-anak melalui kegiatan yang positif. Sebab manusia diciptakan dan diturunkan kedunia tidak lain adalah untuk menjadi seorang khalifah atau pemimpin. Pemimpin adalah orang yang memimpin dari beberapa orang, jadi bila tidak memimpin masyarakat secara keseluruhan minimal menjadi pemimpin pada keluarganya. Dan dari tiap-tiap pemimpin tersebut akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Selain itu, pemimpin juga merupakan panutan bagi pengikutnya. Baik dan buruknya pemimpin dalam membina dan membangun masyarakat akan berdampak bagi generasi yang akan datang. Sehubungan dengan itu dalam membangun sifat kepemimpinan perlu kembangkan sikap peduli dengan keadaan sekitar agar seorang anak lebih percaya diri dan memiliki sifat bertanggung jawab. Ajarkan tentang arti pemimpin yang benar dan makna pemimpin sesungguhnya. Oleh karena itu menjadi pemimpin itu tidaklah mudah dan tidak pula susah apabila kita mampu mempertanggung jawabkannya. Rasullullah SAW., merupakan tokoh agama sekaligus pemimpin umat yang paling sempurna di dunia. Sihingga beliau bisa dijadikan contoh dalam membentuk karakter anak.

Mahasiswa Harus Menjadi Contoh
Mahasiswa merupakan manusia yang memiliki intelektual, sehingga mahasiswa harus mewujudkan status intelektual tersebut dalam kehidupan nyata. Sebagai mahasiswa, kita juga memiliki peran untuk membantu Aceh dalam menciptakan insan yang berintelektual dan ini sesuai dengan tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi. Sebagai mahasiswa yang mengutamakan pendidikan untuk dapat melakukan sebuah penelitian dan sebelum melakukan pengabdian.

Mahasiswa adalah kumpulan orang-orang yang memiliki moral yang baik. Maksudnya mahasiswa diharapkan serta diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan masyarakat terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk mampu merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan kesadaran itu mahasiswa harus menyadari betul fungsi dasar mahasiswa, yaitu bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik pada kehidupan di masyarakat dengan intelektual yang dimiliki.

Sebagai orang yang memiliki intelektual dan pendidikan, mahasiswa harus menjadi contoh dalam kehidupan sosial yang dalam atau solidaritas sosial. Sehingga mahasiswa bukan hanya bertanggung jawab pada individu tetapi juga keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat tersebut bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu mahasiswa dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai indidu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat.

***

Pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal penting sebagi motor penggerak dalam memajukan sebuah bangsa yang tinggi akan peradaban. Selain itu, pendidikan dan kebudayaan merupakan wadah pembentuk karakter bangsa yang juga cerminan peradaban suatu bangsa. Seperti yang kita ketahui pendidikan berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas sedangkan kebudayaan berperan untuk membentuk karakter manusia yang beradab. Sehingga kita pernah mendengar istilah agama tanpa ilmu bagaikan berjalan dikegelapan tanpa cahaya (lumpuh), sedangkan ilmu tanpa agama bagaikan orang buta. Semua dikarenakan pendidikan dan kebudayaan umpama matahari dan bulan sedangkan bumi adalah manusia. Apabila salah satu dari keduanya kurang ataupun melebih, maka bumilah yang akan merasakan dampak yang terjadi.

Kepada para orang tua dan pihak sekolah, marilah mempertimbangkan kembali tentang pelaksanaan pembentukan karakter. Sebab keluarga dan sekolah adalah dua pondasi awal dalam membentuk karakter seorang anak. Untuk para pemimpin cobalah memberikan contoh layaknya seorang pemimpin. Dan kepada para ulama marilah sesuaikan ilmu agama dengan perkembangan teknologi agar generasi Islam bisa lebih bersinar di masa mendatang. Untuk kawan-kawan mahasiswa semua, yang berperan sebagai moral force setidaknya kita memberikan contoh yang lebih baik pada lingkungan sekitar kita. Selain itu kitalah yang akan memantu penyimpangan moral yang ada di masyarakat.

Apabila kita menyadari akan peran masing-masing, besar kemungkinan kedepannya generasi yang diciptakan oleh Aceh adalah insan yang berkualitas. Sehingga akan membawa Aceh menjadi suatu bangsa yang maju dan berkembang peradabannya di Indonesia.

Kajhu, Aceh Besar
9 Oktober 2015

Obrolan Lelaki Pembunuh Sepi dan Penghibur

Wednesday, April 27, 2016 0

Obrolan Lelaki Pembunuh Sepi dan Penghibur

Gambar Ilustrasi Obrolan (Doc. Google)
Karya: Rizky Fonna dan Mhd. Saifullah
Di manakah engkau
wahai lelaki pembunuh sepi?
Aku sedikit bergerak
semakin jauh dari keramaian
wahai lelaki penghibur.

Ah, keramaian hanya menjadi titik jenuh
untuk lelaki seperti kita.
Ya, betul sudah itu.
Tak salah terkadang kita memenjarakan tubuh
dalam kotak tak beraturan.
Karena keramaian hanya memasung pikiran kita
dari ocehan sampah.

Lelaki seperti kita hanya butuh sedikit uang,
segelas kopi, beberapa batang rokok,
lalu keheningan, dan piknik.

Lelaki seperti kita hanya butuh sedikit uang,
segelas kopi, beberapa batang rokok,
lalu keheningan, dan piknik.

Buummm.
Tepat.
Racikan itu yang kita tunggu.
Mari piknik.
Simpang Tiga, Banda Aceh
27 April 2016

Mamak Ke Mana?

Wednesday, April 27, 2016 0

Mamak Ke Mana?

Karya: Mhd. Saifullah
Emakkk.
ahakhakahak.
Mamakkkk.
Ahakahakahak.

Suara itu pecah,
terkenal di taman bocah.
Ya.
Di hamparan kasih jiwa,
antara bunda dan ananda.
Larut dalam ria.
Bermain dan bercengkraman
dalam bahagia.

Di wadah tak berbeda,
bocah dua setengah tahun
bermimik beda dari lainnya.

Padahal ini hari balon.
Meriah tanpa prabaya.
Namun enggan tuk melirik,
bukan karena tidak menarik.

Enggak.
Gak, gak.
Gak mau.
Enggak.

Menoleh menolak.
Lebih tenang dan senang,
damai memeluk kaki ibunda.
Meski larut mengalah,
menggenggam karet berwarna.

Wusss.
Anginpun bercerita.
Mengambil alih kuasa,
melarikan balon mengudara.

Wusss.
Lepaslah pelukan.
Tangisan ikut berkumandang.
Kaki berlahan merayap meraih,
jalan raya yang sedang melirih.

Duaaarrrrr.
Gegar menggelegar.
Sekejap detik.
Sekejap melirik.
Sekejap saja,
orang-orang berbisik
tanpa berkedip.
Melihat aspal meminum darah.

Tanpa curiga,
ananda hilang kata
lalu melahirkan kata.
Silih sahut mengasa raga.

Mak, mamak.
Mamak bangun.
Mak, mamak bangun.
Jangan bobok.
Jangan bobok di sini.

Sendu kontan menghapus ragu.
Gerimis lamunkan jiwa.
Bocah meyakinkan ibunda.

Dalam detik ia diranjak
disela tubuh dimulai
dalam diri bertanya-tanya.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Ia terus bertanya pada dunia
sampai Tuhan menyadarkan waktunya.

Ia bertanya kepada ayah,
saudara
lalu ia menyambut fajar, hari, senja,
bahkan malam.
Dengan kata-kata sama.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.

Mamak kemana.
Mamak kenapa
tidak pulang kerumah.
Kajhu, Aceh Besar
21 Desember 2015
Gambar Ilustrasi Ibu dan Anak (Doc. Google)