Menjaga Pelangi Nusantara

07:50:00

Menjaga Pelangi Nusantara


#Kurangnya pemahaman masyarakat tentang Pancasila bisa menyebabkan terjadinya krisis akhlak dan moral yang menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan. Akibatnya, awan gelap yang hanya menumpahkan darah dari konflik sosial budaya sangat rawan terjadi di bumi Indonesia karena dipicu oleh perbedaan SARA.
Gambar Ilustrasi Berbagi Suku dan Budaya di Indonesia (Doc. Google)
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya. Berbagai Suku, Agama, dan Ras (SARA) yang ada bisa diumpamakan seperti pelangi. Warnai-warni budaya dari berbagai macam suku dan pemeluk agama yang berasal dari berbagai ras berbeda bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaan yang dimiliki menjadikan Bangsa Indonesia memiliki kekayaan akan keberagaman budaya yang ada.

Masih ingatkah saudara-saudara dengan beberapa konflik sosial budaya yang terjadi di negara kita? Konflik sosial budaya yang kebanyakan dipicu oleh perbedaan SARA ini seakan tumbuh subur di tanah pertiwi ini, seperti Reformasi (1998) yang melibatkan etnis Tionghoa, konflik Maluku (1999) dan konflik Poso (1999) antara agama Islam dan Kristen, Tragedi Sampit (2001) antara Suku Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah (www.tempo.co, diakses 20/02/2016) dan yang baru-baru ini terjadi di Singkil, Aceh (2015) antara agama Islam dan Kristen (www.serambinews.com, di akses 20/02/2016) serta banyak lagi beberapa kasus lainnya. 

Dari beberapa konflik sosial yang terjadi semua hanya menyisahkan kerugian bagi masyarakat dan bangsa ini. Bukan hanya kerugian materi dari kerusakan infrasturktur, namun juga kerugian dengan jatuhnya korban jiwa yang meninggal dan paling minimal korban cacat tetap. Hal ini membuktikan bahwa konflik sosial dikarenakan perbedaan SARA tidak membawa keuntungan atau menjadikan suatu kelompok tampak hebat, melainkan hanya menyisahkan kerugian dan luka di masyarakat sendiri. Selain itu, konflik sosial budaya yang terjadi dapat meredupkan nilai-nilai Pancasila serta menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan yang mengakibatkan terpecahnya bangsa.

Kali ini penulis tidak terlalu fokus membahas tentang penyebab atau siapa pelaku dan siapa yang lebih benar pada salah satu kasus dari sebuah konflik sosial budaya yang terjadi akibat adanya perbedaan SARA. Melainkan penulis hanya memfokuskan tulisan ini sebagi pembelajaran dan menjadikan suatu cerminan belakang untuk perubahan lebih baik dari kasus tersebut dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga tulisan ini diharapkan dapat membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan dari keberagaman budaya yang ada di dalam masyarakat.

***

Allah berfirman dalam Kalam-Nya,“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kami di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. Al Hujurat (49):13).

Penjelasan dari pada ayat di atas memberitahukan kepada kita bahwa, orang yang paling mulia di sisi Allah Swt. adalah orang yang bertakwa. Manusia yang diciptakan dari seorang lelaki dan perempuan sehingga kemudian manusia tersebut menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tujuan dibuatnya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tidak lain agar kita sesama manusia saling tolong-menolong, saling membantu, saling menghormati, dan saling menghargai, serta saling memberikan kasih sayang di antara sesama manusia selayaknya kita berkasih sayang terhadap diri sendiri.

Sejak awal berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para pendiri bangsa menyadari bahwa bangsa ini merupakan negara yang besar dan majemuk. Kemajemukan yang berasal dari keberagaman budaya merupakan bukti sebuah rahmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Bangsa Indonesia agar kita saling mengenal dan menghargai antara satu kelompok dengan kelompok lainnya yang berbeda budaya.

Untuk memelihara, mengembangkan, memperhatikan, dan menjaga persatuan dan kesatuan dari kemajemukan keberagaman budaya yang ada, maka diperlukan sebuah pondasi yang kokoh sebagai pemersatunya. Pondasi yang menjadi pijakan harus berlandaskan atas latar belakang keberagaman budaya dan sejarah dari berbagai SARA agar tidak menjadi suatu pemicu terjadinya konflik sosial budaya. Sehingga bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai modal utama untuk menyatukan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Pancasila Bagaikan Matahari
Kata Pancasila berasal dari dua penggal kata dalam bahasa sansekerta, yaitu panca yang berarti lima dan syila berarti dasar atau asas. Jika dibuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pancasila memiliki arti dasar negara serta falsafah bangsa dan negara Republik Indonesia yang terdiri atas lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Dalam buku Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara (2013:94-95) Ir. Soekarno berpendapat,”...,Pancasila adalah satu alat mempersatukan bangsa yang juga pada hakekatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan melenyapkan segala penyakit yang telah dilawan berpuluh-puluh tahun yaitu terutama, imperialisme....”. 

Dari penjelasan yang ada dapat diberi kesimpulan bahwa Pancasila merupakan lima dasar falsafah negara yang menjadi sebuah landasan dalam mempersatukan bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai unsur dasar negara memiliki peran penting bagaikan matahari, sedangkan Indonesia seumpama bumi. Keberadaan nilai-nilai yang terkandung dari lima sila sangat dibutuhkan bangsa ini untuk memberikan cahaya pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu untuk membangun kembali pemahaman dalam memaknai Pancasila sangat penting dilakukan agar Pancasila lebih operasional dalam kehidupan dan ketatanegaraan. Apalagi untuk di zaman saat ini, di mana nilai-nilai agama dan budaya bangsa telah terkikis dan tidak dijadikan sumber etika dalam mewujudkan cita-cita bangsa yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Bila kita pahami sila-sila yang ada pada Pancasila, maka jawaban dari konflik-konflik yang selalu beralasan bahwa Pancasila tidak mampu menyatukan perbedaan SARA di masyarakat telah terjawab. Pada sila ketuhanan bahwa Indonesia sebagai negara Pancasila adalah sebuah negara religius, dimana tidak ada boleh ada sikap dan perbuatan yang anti ketuhanan serta anti keagamaan. Sila kemanusiaan menegaskan manusia dituntut mengembangkan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang berkeadilan dan keberadaban serta mencerminkan akhlak mulia dalam bersikap sesuai dengan kodrat, hakikat, dan martabat. Sila persatuan Indonesia menyiratkan adanya keragaman corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan dalam upaya membina persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang padu, tidak terpecah-pecah. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan memaparkan tentang kehendak untuk menjadikan negara persatuan yang dapat mengatasi paham perorangan dan golongan sebagai upaya dari semangat kekeluargaan dari kebangsaan Indonesia dengan mengakui adanya kesederajatan/persamaan dalam perbedaan. Yang terakhir sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menegaskan tentang keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan baik material maupun siritual bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kurangnya pemahaman masyarakat tentang Pancasila bisa menyebabkan terjadinya krisis akhlak dan moral yang menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan. Akibatnya, awan gelap yang hanya menumpahkan darah dari konflik sosial budaya sangat rawan terjadi di bumi Indonesia karena dipicu oleh perbedaan SARA.

Pelangi Dari Kebhinnekaan
Negara Indonesia yang terbentang dari Pulau Rondo sampai perbatasan dengan Papua Nuegini dan dari Miangas sampai Pulau Rote dengan komposisi dan kontruksi yang beragam. Pulau-pulau yang berjajar berjumlah 17.508 buah pulau besar dan kecil serta didiami penduduk dengan ragam suku bangsa, bahasa, budaya, agama, adat istiadat, dan keberagaman lainnya. Selain itu Indoensia memiliki kebhinekaan dalam suku yang berjumlah 1.128 (seribu seratus dua puluh delapan) suku bangsa dan lebih dari 700 bahasa daerah. 

Keberagaman budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia seumpama pelangi. Warna-warni keberagaman budaya dari berbagai SARA tampak lebih indah bila dipadukan menjadi satu kesatuan dan akan terasa kurang bila hanya terdiri dari satu warna. Begitu juga dengan Indonesia, keragaman itu merupakan kekayaan yang harus dipersatukan, tetapi tidak boleh diseragamkan, dengan demikian, prinsip persatuan Indonesia tidak dipersempit maknanya.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara persatuan dalam arti sebagai negara yang warga negaranya erat bersatu, yang mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya dihadapan hukum dan pemerintah dengan tanpa terkecuali. Prinsip persatuan sangat dibutuhkan karena keragaman suku bangsa, agama, dan budaya yang diwarisi oleh bangsa Indonesia dalam sejarah mengharuskan Bangsa Indonesia bersatu. 

Kesadaran kebangsaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia lahir dari rasa nasib dan sepenanggungan akibat penjajahan yang sama. Ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 merupakan bukti kesadaran untuk membentuk wawasan kebangsaan dengan tekad bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Kesadaran tersebut telah menyatukan berbagai perbedaan serta menyampingkan ego perorangan, kelompok, dan kedaerahan.

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman. Walaupun terdiri atas berbagai suku yang beraneka ragam budaya daerah, tetap satu bangsa, memiliki bahasa dan tanah air yang sama, yaitu Bahasa Indonesia dan Tanah Air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa dan bersatu padu di bawah falsafah serta dasar negara Pancasila. Sehingga Bangsa Indonesia harus bersatu padu agar menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk dapat bersatu harus memiliki pedoman yang dapat menyeragamkan pandangan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kekayaan akan keragaman budaya yang luar biasa. Kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki membuat bangsa ini sangat rawan terjadinya konflik sosial budaya apabila tidak ada upaya untuk melaraskan perbedaan yang ada. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa.

Menyadari adanya kelemahan pada bangsa ini, maka diperlukan cara pandang untuk menumbuhkan kembali rasa kesatuan dan persatuan dari seluruh komponen bangsa untuk menjaga serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab konflik yang terjadi terus menerus secara berangsur-angsur dapat menghancurkan rasa persatuan bangsa. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara adalah pemersatu bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemajemukan yang diikat oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dapat diartikan walaupun Bangsa Indonesia mempunyai latar belakang yang berbeda baik dari suku, agama, dan bangsa tetapi satu adalah Bangsa Indonesia. Pengukuhan ini telah diikrarkan sejak tahun 1928 yang terkenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Banda Aceh, 26 Februari 2016

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments