Serdadu

Thursday, March 24, 2016 0

Serdadu

Gambar Ilustrasi Perang (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Langkah menuju medan tugas.
Periksa segera para pasukan.

Rangka mulai melihat-lihat langka.
Laskar di garis depan tampak ganjil tapi nyata.

Melapor komandan menemui tangis.
Solidaritas terbendung, oleh serangan-serangan bengis.
Para kesatuan mudahnya dibrondong sadis.
Hati sahabat mana yang tidak teriris.
Ingin rasanya mati membunuh diri saja.
Atau kembali kerumah,
berkumpul dengan keluarga,
menikmati tawa canda,
namun selalu dihantui dosa-dosa.

Tidak.
Tiiddddaaaakkk.
Ini perjuangan.
Ini harus dipertahankan meski sampai darah penghabisan.
Biarlah mati diterjang lawan.
Asal kemerdekaan bangsaku tidak tergadaikan.
Kajhu, Aceh Besar
31 Desember 2015

Permainanmu: Cakrawala

Thursday, March 24, 2016 0

Permainanmu: Cakrawala

Karya: Mhd. Saifullah
Beranak pinak
mereka bermain dibalik senja.
Meski hanya siluet,
tampak lebih jelas.
Cakrawala enggan bermain kata.

Ia lebih senang memaksaku,
lalu menamparku untuk berpaling
melihat para ombak bermain berguling.
Agar tak kuhantarkan perginya senja,
yang tak mungkin harus berbalik.

Lengah sedikit ku curi melirik.
Cakrawala tetap mengusik.
Mata dibendung,
beban dunia terkatung-katung.

Dia permainkanku.
Ini permainan dia.
Inikah yang engkau mau.

Wahai cakrawala.
Ambilah untukmu senja itu.
Bawalah bumi ini kedalam relungmu.
Agar puasa engkau bermain.
Ambilah cakrawala.

Wahai Cakrawala.
Aku takan marah.
Tak tega aku
melihat pasir memeluk erat kakiku.
Bawalah pergi denganmu.
Bersama ombak
yang mengalir setiap waktu.
Agar engkau tau,
ini bukan kecewa.
Tetapi inilah permainan gila.
Kajhu, Aceh Besar
4 Januari 2016
Gambar Saifull dan Langit Merah (Doc. Mhd. Saifullah)
Himne HIMAS

Himne HIMAS

Wednesday, March 23, 2016 0

Lirik
Himne HIMAS


Karya: Mhd. Saifullah 
Menyingsing sang fajar mulai bersinar
Memberi semangat menggapai cita
Menyungsung hari untuk mengabdi
Sebagai bentuk jati diri

Himpunan Mahasiswa Sejarah
Tempat menjalin silaturrahmi
Sesama warga saling membahu
Untuk membangun HIMAS jaya

Reff:
HIMAS
Himpunan mahasiswa sejarah
Jaya selalu mahasiswa sejarah
menjunjung tinggi nilai tridharma
Perguruan tinggi yang ada

HIMAS
Himpunan mahasiswa sejarah
Jaya selalu mahasiswa sejarah
Tekat bulat melahirkan perbuatan yang nyata
Yakinlah HIMAS tetap jaya
Yakinlah HIMAS tetap jaya
Yakinlah HIMAS tetap jaya

Darah Juang - Jhon Tobing

Wednesday, March 23, 2016 0

Chord & Lirik
Darah Juang - Jhon Tobing

Doc. Google

Karya: John Tobing
Intro:
Am, F, C, Am,
Dm, G, C,
Dm, Am, F, Am,
F, G, Am

(#)
  Am   F  C  Am
Di sini negeri kami.
  Dm     G    C
Tempat padi terhampar.
  Dm    Am    F    Am
Samuderanya kaya raya.
   F   G   Am
Tanah kami subur Tuhan.

  Am   F  C  Am
Di negeri permai ini.
  Dm       G      C
Berjuta rakyat bersimbah luka.
 Dm    Am    F    Am
Anak kurus tak sekolah.
   F   G   Am
Pemuda desa tak kerja.

Reff:
    F   C
Mereka dirampas haknya.
     Dm          Am
Tergusur dan lapar.
  Dm     Am
Bunda relakan darah juang kami.
   F   G   Am
Tuk membebaskan rakyat.

       C
Mereka dirampas haknya.
  Dm     Am
Tergusur dan lapar.
  Dm     Am
Bunda relakan darah juang kami.
   F     G    Am
Padamu kami berjanji.

Back to (#) dan Reff:

Intro:
Am, F, C, Am,
Dm, G, C,
Dm, Am, F, Am,
F, G, Am

Reff:
        C
Mereka dirampas haknya.
     Dm     Am
Tergusur dan lapar.
  Dm     Am
Bunda relakan darah juang kami.
   F     G    Am
Tuk membebaskan rakyat.

       C
Mereka dirampas haknya.
     Dm          Am
Tergusur dan lapar.
  Dm     Am
Bunda relakan darah juang kami.
   F     G    Am
Padamu kami berjanji.
   F     G    Am
Padamu kami berjanji.
   F     G    Am
Padamu kami berjanji.
Antara Mahasiswa, Janji, dan Sumpah

Antara Mahasiswa, Janji, dan Sumpah

Monday, March 21, 2016 0

Antara Mahasiswa, Janji, dan Sumpah

Doc. Google
Siapakah mahasiswa? Apakah itu mahasiswa? Mengapa harus mahasiswa yang diharapkan? Dalam pengertian yang sederhana, yang dikatakan mahasiswa adalah seseorang yang telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) dan melanjutkan pendidikan serta telah terdaftar secara administratif di perguruan tinggi, universitas, akademik maupun institut.

Secara definisi, mahasiswa berasal dan terbentuk dari dua suku kata, maha dan siswa. Kata maha yang berarti di atas atau yang paling tinggi, sedangkan siswa artinya anggota masyarakat yang sedang disiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Jadi mahasiswa adalah anggota masyarakat yang telah disiapkan dan sedang menempuh jenjang pendidikan tinggi untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik atau lebih terpelajar dan berintelektual. Sedangkan pengertian mahasiswa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), mahasiswa ialah pelajar perguruan tinggi.

Menjabat atau menyandang status sebagai mahasiswa merupakan sebuah kebanggan sekaligus tantangan, karena tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa sungguh sangat besar. Seorang mahasiswa diharapkan mampu memahami suatu konsep, dapat memetakan permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan yang ada di masyarakat sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Sehingga mahasiswa dikenal sebagai penyambung lidah dan sekaligus tulang punggung rakyat. Inilah pemahaman yang sesungguhnya mengenai pengertian mahasiswa.
Peran dan Fungsi Mahasiswa

Secara garis besar, mahasiswa memiliki peran dan fungsi sebagai berikut:

1.      Peranan Intelektual
Mahasiswa merupakan manusia yang memiliki intelektual, sehingga mahasiswa harus mewujudkan status intelektual tersebut dalam kehidupan nyata. Dengan kesadaran itu mahasiswa harus menyadari betul fungsi dasar mahasiswa, yaitu bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik pada kehidupan di masyarakat dengan intelektual yang dimiliki. Dengan melahirkan solusi-solusi yang alternatif dan bermanfaat dalam menangani permasalahan di masyarakat untuk memajukan bangsa ini.

2.      Peranan Sosial
Sebagai orang yang memiliki intelektual dan pendidikan, mahasiswa harus memiliki jiwa-jiwa sosial yang dalam atau solidaritas sosial. Sehingga mahasiswa bukan hanya bertanggung jawab hanya pada individu tetapi juga keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat tersebut bagi lingkungan sekitarnya.

3.      Peranan Moral
Mahasiswa dipandang masyarakat lebih istimewa dari pada masyarakat lainnya, karena mahasiswa memiliki intelektual dan pendidikan yang tinggi. Mahasiswa dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai indidu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu, mengenai moral dan budi pekerti demi memajukan bangsa ini perlu ditanamkan kesadaran penuh dan pengetahuan mendalam kepada mahasiswa.

Selain secara garis besar peran serta fungsi mahasiswa, dan dikarenakan mahasiswa telah diembankan dan memiliki rasa tanggung jawab, sehingga mahasiswa memiliki beberapa peran yang melekat dan disandang, misalnya seperti:

Agent Of Change
Mahasiswa adalah agent perubahan, yaitu Sumber Daya Manusia yang mahasiswa miliki mampu melakukan perubahan sekecil apapun. Maksudnya jika ada sesuatu kesalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar, mahasiswa dituntut untuk mampu merubah sesuai dengan harapan dan kebenaran yang sesungguhnya.

Iron Stock
Mahasiswa adalah Sumber Daya Manusia yang tidak akan pernah habis kecuali bila Tuhan mengakhiri dunia ini. Maksudnya yaitu mahasiswa merupakan generasi yang akan menggantikan orang-orang yang memimpin dan menjadi penerus untuk memimpin bangsa ini nantinya.

Moral Force
Mahasiswa adalah itu kumpulan orang-orang yang memiliki moral yang baik. Maksudnya yaitu mahasiswa diharapkan serta diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan masyarakat terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk mampu merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan.

Social Control
Mahasiswa adalah pengontrol kehidupan sosial atau masyarakat. Di mana mahasiswa harus mampu mengontrol sosial yang ada di lingkungan masyarakat. Jadi sebagai mahasiswa, mereka harus pintar dalam bersosialisasi dengan lingkungan  dan bukan hanya pintar di bidang pendidikan atau akademis saja.

Direct Of Change
Mahasiswa bukan hanya bisa melakukan perubahan langsung karena Sumber Daya Manusianya yang banyak. Setelah melakukan perubahan mahasiswa juga harus  menjaga kestabilan perubahan tersebut maka mahasiswa tidak lantas melepas perubahan yang telah terjadi. Mahasiswa harus mampu mengarahkan perubahan yang didapat menuju implementasi dari rencana yang telah dipetakan sebelumnya.

Janji dan Sumpah Mahasiswa
Kesadaran akan tanggung jawabnya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi semakin menurun dalam tubuh dan pikiran mahasiswa. Padahal Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan janji dasar serta tanggung jawab yang harus mahasiswa kembangkan secara simultan dan bersama-sama. Bila melihat dengan kondisi Bangsa Indonesia yang mulai memprihatinkan saat ini, sebagai mahasiswa baru (Maba) perlu mengetahui dan menyadari salah satu pedoman untuk  melaksanakan tanggung jawabnya dalam rangka menjawab tantangan negara dan bangsa Indonesia di masa depan.

Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual di negara ini. Karena mahasiswa adalah ujung tombak perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Adapun Tri Dharma Perguruan tinggi itu sendiri meliputi:

1.      Pendidikan.
Mahasiswa memiliki kewajiban meningkatkan mutu pada diri mahasiswa sendiri secara khusus agar dapat meningkatkan mutu bangsa pada umumnya. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga ketika mahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari pertimbangan rasional, bukan dengan adu otot. Itulah yang disebut kedewasaan serta keinteltualan mahasiswa.

2.      Penelitian dan Pengembangan
Setelah menjalankan pendidikan dan mendapatkan ilmu yang telah dikuasai di perguruan tinggi, mahasiswa harus mengimplementasikan dan menerapkan ilmu tersebut melalui penelitian. Penelitian mahasiswa harus memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban dan  kepentingan  bangsa kita dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada dan mengkajinya secara keilmuan. Dan mahasiswa harus senantiasa mengembangkan kemampuan dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah yang ada.

3.      Pengabdian pada Masyarakat
Mahasiswa adalah yang paling dekat dengan rakyat dan memahami secara jelas kondisi masyarakat tersebut. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Kewajiban sebagai mahasiswa dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyat karena sebagaian besar keputusan pemerintah di masa ini sudah terlalu jauh terkontaminasi oleh berbagai kepentingan politik tertentu. Sebagai mahasiswa yang memiliki mata yang masih bening tanpa ternodai kepentingan-kepentingan serupa mampu melihat secara jernih, melihat lebih dalam dari yang terdalam terhadap intrik politik yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Dalam berperan untuk membela kepentingan masyarakat, mahasiswa tentu tidak dengan jalan kekerasan dan aksi, namun menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, kaji terlebih dahulu, pahami, dan sosialisasikan pada rakyat. Mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata rakyat sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap rakyat.

Sumpah Mahasiswa mungkin tidak asing lagi bagi mahasiswa, terutama mahasiswa lama (Mala). Sumpah yang pertama kali dibacakan pada tahun 1998 saat menurunkan rezim Orde Baru (OB).  Dan sampai saat ini, sumpah mahasiswa masih terdengar pada saat mahasiswa baru memasuki kampus. Selain janji mahasiswa yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, sumpah mahasiswa ini juga harus dibaca dan dipahami oleh mahasiswa baru. Bunyi Sumpah Mahasiswa adalah sebagai berikut:

Sumpah Mahasiswa
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan
Kami Mhasiswa Indonesia Bersumpah
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan

Semoga tulisan singkat dan sederhana dari saya mengenai mahasiswa, janji, dan sumpah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca semua. Terimakasih atas kunjungan para pembaca semua.

Lirik Lagu Rindu (I Miss U)

Thursday, March 17, 2016 0

Chord & Lirik
Lagu Rindu - Say IFull

Karya: Mhd. Saifullah 
Intro:
C, Am, F, G
C
Malam ini, ingin ku sampaikan rasa.
Am
Rasa rindu, rinduku pada dirimu.
    F G
Kasih, ku sangat merindukan dirimu.

C
Lagu rindu yang ku ciptakan untukmu.
Am
Dengarkanlah menjelang tidur malammu.
    F G
Kasih, ku sangat merindukan dirimu.

(#)
F G
Ku tuliskan rasa rinduku.
      Am
Bersama bintang yang selalu.
C
Dan bulan yang menemani malamku.

F G
Melambung dalam rasa ini.
      Am
Menyatu dalam sanubari.
      G
Melepaskan hasrat rindu di hati.

Reff:
C         Am
I miss you.
   F
Ku ungkapkan padamu
   G
sebagai besar rasa cinta ku.

C         Am
I miss you.
   F
Dengarlah kasih.
   G
Suara rinduku di dalam hati.

Introlead:
C, Am, F, G
Kembali ke (#)

Reff:
C         Am
I miss you.
    F
Ku ungkapkan padamu
    G
sebagai besar rasa rindu ku.

C         Am
I miss you.
    F
Dengarlah kasih.
    G
Suara rinduku di dalam hati.

C         Am
I miss you.
    F
Ku ungkapkan padamu
    G
sebagai besar rasa cinta ku.

C         Am
I miss you.
    F
Dengarlah kasih.
    G
Suara rinduku di dalam hati.

Intro:
C, Am, F, G
Say IFull (Muhammad Saifullah). @Doc. Mhd. Saifullah

Menjaga Pelangi Nusantara

Thursday, March 10, 2016 0

Menjaga Pelangi Nusantara


#Kurangnya pemahaman masyarakat tentang Pancasila bisa menyebabkan terjadinya krisis akhlak dan moral yang menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan. Akibatnya, awan gelap yang hanya menumpahkan darah dari konflik sosial budaya sangat rawan terjadi di bumi Indonesia karena dipicu oleh perbedaan SARA.
Gambar Ilustrasi Berbagi Suku dan Budaya di Indonesia (Doc. Google)
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya. Berbagai Suku, Agama, dan Ras (SARA) yang ada bisa diumpamakan seperti pelangi. Warnai-warni budaya dari berbagai macam suku dan pemeluk agama yang berasal dari berbagai ras berbeda bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaan yang dimiliki menjadikan Bangsa Indonesia memiliki kekayaan akan keberagaman budaya yang ada.

Masih ingatkah saudara-saudara dengan beberapa konflik sosial budaya yang terjadi di negara kita? Konflik sosial budaya yang kebanyakan dipicu oleh perbedaan SARA ini seakan tumbuh subur di tanah pertiwi ini, seperti Reformasi (1998) yang melibatkan etnis Tionghoa, konflik Maluku (1999) dan konflik Poso (1999) antara agama Islam dan Kristen, Tragedi Sampit (2001) antara Suku Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah (www.tempo.co, diakses 20/02/2016) dan yang baru-baru ini terjadi di Singkil, Aceh (2015) antara agama Islam dan Kristen (www.serambinews.com, di akses 20/02/2016) serta banyak lagi beberapa kasus lainnya. 

Dari beberapa konflik sosial yang terjadi semua hanya menyisahkan kerugian bagi masyarakat dan bangsa ini. Bukan hanya kerugian materi dari kerusakan infrasturktur, namun juga kerugian dengan jatuhnya korban jiwa yang meninggal dan paling minimal korban cacat tetap. Hal ini membuktikan bahwa konflik sosial dikarenakan perbedaan SARA tidak membawa keuntungan atau menjadikan suatu kelompok tampak hebat, melainkan hanya menyisahkan kerugian dan luka di masyarakat sendiri. Selain itu, konflik sosial budaya yang terjadi dapat meredupkan nilai-nilai Pancasila serta menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan yang mengakibatkan terpecahnya bangsa.

Kali ini penulis tidak terlalu fokus membahas tentang penyebab atau siapa pelaku dan siapa yang lebih benar pada salah satu kasus dari sebuah konflik sosial budaya yang terjadi akibat adanya perbedaan SARA. Melainkan penulis hanya memfokuskan tulisan ini sebagi pembelajaran dan menjadikan suatu cerminan belakang untuk perubahan lebih baik dari kasus tersebut dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga tulisan ini diharapkan dapat membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan dari keberagaman budaya yang ada di dalam masyarakat.

***

Allah berfirman dalam Kalam-Nya,“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kami di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. Al Hujurat (49):13).

Penjelasan dari pada ayat di atas memberitahukan kepada kita bahwa, orang yang paling mulia di sisi Allah Swt. adalah orang yang bertakwa. Manusia yang diciptakan dari seorang lelaki dan perempuan sehingga kemudian manusia tersebut menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tujuan dibuatnya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tidak lain agar kita sesama manusia saling tolong-menolong, saling membantu, saling menghormati, dan saling menghargai, serta saling memberikan kasih sayang di antara sesama manusia selayaknya kita berkasih sayang terhadap diri sendiri.

Sejak awal berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para pendiri bangsa menyadari bahwa bangsa ini merupakan negara yang besar dan majemuk. Kemajemukan yang berasal dari keberagaman budaya merupakan bukti sebuah rahmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Bangsa Indonesia agar kita saling mengenal dan menghargai antara satu kelompok dengan kelompok lainnya yang berbeda budaya.

Untuk memelihara, mengembangkan, memperhatikan, dan menjaga persatuan dan kesatuan dari kemajemukan keberagaman budaya yang ada, maka diperlukan sebuah pondasi yang kokoh sebagai pemersatunya. Pondasi yang menjadi pijakan harus berlandaskan atas latar belakang keberagaman budaya dan sejarah dari berbagai SARA agar tidak menjadi suatu pemicu terjadinya konflik sosial budaya. Sehingga bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai modal utama untuk menyatukan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Pancasila Bagaikan Matahari
Kata Pancasila berasal dari dua penggal kata dalam bahasa sansekerta, yaitu panca yang berarti lima dan syila berarti dasar atau asas. Jika dibuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pancasila memiliki arti dasar negara serta falsafah bangsa dan negara Republik Indonesia yang terdiri atas lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Dalam buku Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara (2013:94-95) Ir. Soekarno berpendapat,”...,Pancasila adalah satu alat mempersatukan bangsa yang juga pada hakekatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan melenyapkan segala penyakit yang telah dilawan berpuluh-puluh tahun yaitu terutama, imperialisme....”. 

Dari penjelasan yang ada dapat diberi kesimpulan bahwa Pancasila merupakan lima dasar falsafah negara yang menjadi sebuah landasan dalam mempersatukan bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai unsur dasar negara memiliki peran penting bagaikan matahari, sedangkan Indonesia seumpama bumi. Keberadaan nilai-nilai yang terkandung dari lima sila sangat dibutuhkan bangsa ini untuk memberikan cahaya pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu untuk membangun kembali pemahaman dalam memaknai Pancasila sangat penting dilakukan agar Pancasila lebih operasional dalam kehidupan dan ketatanegaraan. Apalagi untuk di zaman saat ini, di mana nilai-nilai agama dan budaya bangsa telah terkikis dan tidak dijadikan sumber etika dalam mewujudkan cita-cita bangsa yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Bila kita pahami sila-sila yang ada pada Pancasila, maka jawaban dari konflik-konflik yang selalu beralasan bahwa Pancasila tidak mampu menyatukan perbedaan SARA di masyarakat telah terjawab. Pada sila ketuhanan bahwa Indonesia sebagai negara Pancasila adalah sebuah negara religius, dimana tidak ada boleh ada sikap dan perbuatan yang anti ketuhanan serta anti keagamaan. Sila kemanusiaan menegaskan manusia dituntut mengembangkan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang berkeadilan dan keberadaban serta mencerminkan akhlak mulia dalam bersikap sesuai dengan kodrat, hakikat, dan martabat. Sila persatuan Indonesia menyiratkan adanya keragaman corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan dalam upaya membina persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang padu, tidak terpecah-pecah. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan memaparkan tentang kehendak untuk menjadikan negara persatuan yang dapat mengatasi paham perorangan dan golongan sebagai upaya dari semangat kekeluargaan dari kebangsaan Indonesia dengan mengakui adanya kesederajatan/persamaan dalam perbedaan. Yang terakhir sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menegaskan tentang keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan baik material maupun siritual bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kurangnya pemahaman masyarakat tentang Pancasila bisa menyebabkan terjadinya krisis akhlak dan moral yang menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan. Akibatnya, awan gelap yang hanya menumpahkan darah dari konflik sosial budaya sangat rawan terjadi di bumi Indonesia karena dipicu oleh perbedaan SARA.

Pelangi Dari Kebhinnekaan
Negara Indonesia yang terbentang dari Pulau Rondo sampai perbatasan dengan Papua Nuegini dan dari Miangas sampai Pulau Rote dengan komposisi dan kontruksi yang beragam. Pulau-pulau yang berjajar berjumlah 17.508 buah pulau besar dan kecil serta didiami penduduk dengan ragam suku bangsa, bahasa, budaya, agama, adat istiadat, dan keberagaman lainnya. Selain itu Indoensia memiliki kebhinekaan dalam suku yang berjumlah 1.128 (seribu seratus dua puluh delapan) suku bangsa dan lebih dari 700 bahasa daerah. 

Keberagaman budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia seumpama pelangi. Warna-warni keberagaman budaya dari berbagai SARA tampak lebih indah bila dipadukan menjadi satu kesatuan dan akan terasa kurang bila hanya terdiri dari satu warna. Begitu juga dengan Indonesia, keragaman itu merupakan kekayaan yang harus dipersatukan, tetapi tidak boleh diseragamkan, dengan demikian, prinsip persatuan Indonesia tidak dipersempit maknanya.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara persatuan dalam arti sebagai negara yang warga negaranya erat bersatu, yang mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya dihadapan hukum dan pemerintah dengan tanpa terkecuali. Prinsip persatuan sangat dibutuhkan karena keragaman suku bangsa, agama, dan budaya yang diwarisi oleh bangsa Indonesia dalam sejarah mengharuskan Bangsa Indonesia bersatu. 

Kesadaran kebangsaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia lahir dari rasa nasib dan sepenanggungan akibat penjajahan yang sama. Ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 merupakan bukti kesadaran untuk membentuk wawasan kebangsaan dengan tekad bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Kesadaran tersebut telah menyatukan berbagai perbedaan serta menyampingkan ego perorangan, kelompok, dan kedaerahan.

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman. Walaupun terdiri atas berbagai suku yang beraneka ragam budaya daerah, tetap satu bangsa, memiliki bahasa dan tanah air yang sama, yaitu Bahasa Indonesia dan Tanah Air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa dan bersatu padu di bawah falsafah serta dasar negara Pancasila. Sehingga Bangsa Indonesia harus bersatu padu agar menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk dapat bersatu harus memiliki pedoman yang dapat menyeragamkan pandangan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kekayaan akan keragaman budaya yang luar biasa. Kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki membuat bangsa ini sangat rawan terjadinya konflik sosial budaya apabila tidak ada upaya untuk melaraskan perbedaan yang ada. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa.

Menyadari adanya kelemahan pada bangsa ini, maka diperlukan cara pandang untuk menumbuhkan kembali rasa kesatuan dan persatuan dari seluruh komponen bangsa untuk menjaga serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab konflik yang terjadi terus menerus secara berangsur-angsur dapat menghancurkan rasa persatuan bangsa. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara adalah pemersatu bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemajemukan yang diikat oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dapat diartikan walaupun Bangsa Indonesia mempunyai latar belakang yang berbeda baik dari suku, agama, dan bangsa tetapi satu adalah Bangsa Indonesia. Pengukuhan ini telah diikrarkan sejak tahun 1928 yang terkenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Banda Aceh, 26 Februari 2016