Awal Masuknya Islam ke Aceh

Sunday, February 07, 2016

Awal Masuknya Islam ke Aceh

Gambar Cover Buku Awal Masuknya Islam ke Aceh (Doc. Ahmad Zaki Husaini)
Identitas dari buku
Judul 
Awal Masuknya Islam ke Aceh: Analisis Arkeologi dan Sumbangannya pada Nusantara.
Penulis : 
Husaini Ibrahim
Penerbit 
Aceh Multivision
Tahun terbit 
2014
Tebal/jumlah halaman 
278 Halaman

Resensi Sejarah Awal Masuknya Islam ke Aceh:
Sejarah awal masuknya Islam di Indonesia adalah di Sumatera atau lebih tepatnya di daerah Aceh. Bukti ini didukung dengan beberapa sumber sejarah berupa artefak yang berbentuk fisik ataupun manuskrip yang ada di dalam maupun luar negeri. Sumber artefak berbentuk fisik berupa adanya bukti batu-batu nisan Aceh yang tersebar di beberapa wilayah Nusantara, bentuk serta ukiran ragamseni pada bangunan masjid maupun rumah Aceh, dan mata uang pada masa kerajaan Islam di Aceh. Sedangkan bukti berupa manuskrip berasal dari catatan dan laporan para pengembara seperti catatan ekspedisi Cheng Ho, Ma Huan yang keduanya pernah mengunjungi daerah Su-men-ta-la atau Hsiu-wen-tala (Samudera) dan Lan-wu-li atau Lan-po-li (Lamuri). Sedangkan Marco Polo, Tome Pires, serta Ibn Batutah menyebutkan daerah yang pernah mereka kunjungi telah memeluk Islam, seperti Ferlec, Sumatera, Lambri, Selat Malaka, dan Samudera Pasai. Sehubungan dengan itu, bukti lain berupa buku atau kitab-kitab seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Bustanus-Shalatin juga menceritakan masuk dan berkembangannya Islam di Sumatera khususnya Aceh. Harahap (1951:9) menyebutkan penyebaran agama Islam dilakukan oleh ulama yang bernama Abdullah Arif  seorang keturunan Arab dengan memulai dari Aceh lalu keberbagai wilayah di Sumatera dengan cara perniagaan, perkawinan, tasawuf, kesenian, dan lain-lain melalui pedakwah dan pedagang (hal.56). Berdasarkan beberapa sumber sejarah yang ada telah membuktikan bahwa Aceh sebagai daerah awal masuknya Islam di Nusantara dan ini semakin diperkuat dengan kesepakatan para ahli sejarah seperti Moquette, Snouck Hurgronje, Hamka, dan Ali Hasjmy.

Beberapa sarjana menyebutkan ada beberapa tempat yang merupakan daerah awal Islam, seperti Peureulak di Aceh Timur dan Samudera Pasai di Aceh Utara. Berdasarkan sumber seperti Hikayat Nurul ‘Ala dan catatan Marco Polo, Ali Hasjmy berpendapat mengenai masuknya Islam pertama kali di Perlak pada abad ke-9 M (1983). Dan pendapat mengenai awal Islam di Perlak semakin dipertegas dalam keputusan seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara yang diadakan di Kuala Simpang. Hasil kesimpulan seminar menyatakan, Islam sudah ada di Kerajaan Peureulak sejak tahun 840 M (225H). Sedangkan kajian para sarjana Belanda Snouck Hurgronje (1907) dan Moquette (1912) berpendapat bahwa jejak awal masuknya Islam di Aceh sudah ada pada abad ke-13 M di Samudera Pasai. Pendapat ini berdasarkan pengkajian terhadap batu nisan Sulthan Malik al-Shalih dan beberapa catatan dari Cina pada masa Dinasti Yuan. Dalam catatan tersebut menyebutkan Samudera Pasai pernah mengirim utusan bernama Sulaiman dan Hasan ke Cina pada tahun 1282 M (hal.86). Namun demikian, meskipun para sejarawan berpendapat bahwa kedua tempat tersebut merupakan awal masuknya Islam, bukan berarti tempat-tempat Aceh yang lain tidak perlu dibicarakan. Penelitian terbaru dalam buku ini menyebutkan bahwa Kampong Pande merupakan daerah awal Islam di Aceh dan secara tidak langsung telah membantah pendapat-pendapat sebelumnya. Melalui pengkajian batu-batu nisan pada tahun 2006-2007 di Kampong Pande dengan ditemukan jenis nisan baru yang belum pernah dipublikasikan oleh Ambary (1988) dan Othman (1988) (hal.130). 

Begitu banyak batu nisan Aceh ditemukan di lokasi tersebut dengan bentuk dan perpaduan ukiran yang khas serta terdiri dari unsur-unsur budaya berbeda sesuai perkembangan selanjutnya, seperti unsur budaya pada masa prasejarah, Hindu, dan juga Islam. Unsur budaya prasejarah megalitik tampak pada bentuk atas nisan yang runcing seperti yoni menyerupai lingga, sedangkan unsur budaya Hindu-Budha pada ukiran-ukiran hiasan kalamakara, dan unsur budaya Islam pada ukiran kalimat tauhid dan batu nisan ini dikenal dengan nama nisan Aceh. Ragam seni ukir yang terdapat pada batu-batu nisan Aceh membuktikan bahwa Aceh sudah ada sejak zaman prasejarah dan pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu hingga sampai berpadu dengan budaya Islam. 

Batu-batu nisan Aceh yang terdapat di komplek makam tersebut diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-13 M, dan lebih tua dari pada nisan yang ada di Samudera Pasai bila dilihat dari jenis kronologinya (hal.131). Sehubungan dengan ditemukannya persebaran batu-batu nisan mencapai puluhan hektar, mulai dari pemukiman penduduk hingga ke tepi laut Selat Malaka membuktikan Islam telah ada di Aceh sejak lama dan tempatnya di Kampong Pande. Selain itu bukti batu nisan tersebut dapat ditelusuri bukan hanya di daerah awal Islam di Aceh, akan tetapi juga dijumpai dibanyak tempat  yang dipengaruhi oleh pengaruh Aceh di wilayah tersebut, baik di Indonesia maupun wilayah-wilayah lainnya di Semenanjung Malaysia (hal.257). 

Selain batu nisan, dalam buku ini juga menjelaskan bukti awal masuknya Islam berdasarkan bukti pada bangunan seperti masjid kuno dan rumah adat Aceh. Ada beberapa masjid-masjid kuno di Aceh yang masih tersisa, misalnya Masjid Indrapuri, Masjid Indrapurwa, Masjid Teungku di Anjong, dan Masjid Ulee Lheu. Beberapa masjid tersebut ada yang memiliki perpadauan unsur budaya, seperti Masjid  Indrapuri. Masjid Indrapuri merupakan contoh perubahan evolusi kebudayaan dan ideologi, di mana perubahan kepercayaan lama (Hindu) yang beralih menjadi kebudayaan dan kepercayaan Islam. Selain bentuk fisik bangunan, ukiran yang terdapat pada langit-langit masjid menyerupai dengan ukiran batu nisan Aceh. Sedangkan unsur-unsur budaya pada rumah adat Aceh terlihat pada lambang serta simbol-simbol yang memiliki arti tersendiri. Rumah Aceh memiliki tata ruang simetris yang terdiri dari ruang depan yang disebut seuramou rinyeun, ruang tengah disebut seuramou tungai, dan ruang belakang disebut seuramou likot (hal.249). Rumah tersebut sengaja dirancang sedemikian sesuai keperluan masyarakat dan alam sekitarnya serta sarat dengan nilai-nilai agama.

Buku ini menjelaskan tentang daerah yang menjadi awal masuknya Islam ke Aceh berdasarkan analisis penelitian arkeologi bukti-bukti peninggalan Islam berupa artefak yang berbentuk fisik dan manuskrip yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Oleh karena itu buku ini menarik untuk dibaca bagi para arkeolog maupun sejarawan, terutama yang lebih memfokuskan penelitian ataupun belajar mengenai batu-batu nisan Aceh. Disamping itu, penulis telah mengklasifikasi batu nisan Aceh terbaru berdasarkan kronologinya yang sangat bermanfaat dan menjadi daya tarik tersendiri pada buku ini. Sebaliknya yang menjadi kekurangan dari buku ini adalah tidak begitu banyak dijelaskan nama serta jenis batu nisan Aceh berdasarkan kronologinya. Selain itu, buku ini seharusnya bisa lebih tebal bila ini menceritakan tentang masuknya Islam di Aceh yang membantah teori-teori sebelumnya.

Buku yang ditulis oleh Husaini Ibrahim berjudul Awal Masuknya Islam ke Aceh seakan memecahkan permasalahan dan membantah sejarah mengenai awal masuknya Islam di Perlak dan Samudera Pasai. Pengkajian yang dilakukan pada tahun 2006-2007 di Kampong Pande dengan menggunakan arkeologi analisis petrografi, serta menganalisa pola bentuk seni ukir, dan pola hias pada nisan telah menggugurkan pendapat para sejarawan yang sebelumnya. Di mana para sejarawan berpendapat bahwa Perlak dan Samudera Pasai merupakan daerah awal masuknya Islam di Aceh. 

Landasan bukti mengenai Kampung Pande sebagai kawasan mula-mula menerima kedatangan Islam di Aceh dan Nusantara adalah berdasarkan bukti batu nisan yang ditinjau dari segi bentuk, jenis, dan hiasan. Selian itu berdasarkan sumber-sumber asing pernah menyebutkan nama Lamuri sebagai sebuah kerajaan tertua di Aceh yang beralih dari pra Islam menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara. Mengenai pendapat Islam masuk di Perlak kemudian berkembang ke Samudera Pasai, mungkin ini karena melihat perkawinan antara Sulthan Malik al-Shalih dari Samudera Pasai dengan Puteri Ganggang Sari dari Perlak. Dan dari keterangan tersebut sebenarnya hanya untuk mempertegas bahwa Aceh merupakan daeral terawal masuknya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments