Benteng Kesultanan Aceh (Bagian 2)

Benteng Kesultanan Aceh (Bagian 2)

Friday, February 12, 2016 0
Resume Buku

Benteng Kesultanan Aceh

Gambar Benteng Indra Patra (Doc. Google)
Identitas dari buku
Judul :
Benteng Kesultanan Aceh: Kajian Filologi, Arkeologi, dan Topografi.
Penulis :
Hermansyah dan Nasruddin
Penerbit :
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA)
Tahun terbit : 
2013
Tebal/jumlah halaman :
152 Halaman

2. Benteng dan Budaya Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh merupakan sebuah kerajaan pantai yang letaknya sangat strategis di jalur yang padat akan perdagangan atau lebih tepatnya Selat Malaka. Untuk menjaga daerahnya, Kesultanan Aceh tidak memakai benteng keliling namun menempatkan beberapa benteng kecil di sekitar Selat Malaka. Hal ini dilakukan untuk terus berwaspada terhadap musuh, baik itu dari kerajaan tetangga maupun dari luar yang selalu menincar Kesultanan Aceh. Benteng-benteng tersebut berbeda bentuk serta komponen di dalamnya antara satu dengan yang lain.

a. Pertahanan Benteng di Aceh-Nusantara
Benteng merupakan salah satu peninggalan manusia masa lalu yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Benteng adalah dinding dari tembok (batu, tanah, dan sebagainya) untuk melindungi kota dari serangan musuh (Poerwadarminta, 1982:21). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan benteng merupakan bangunan tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh yaitu manusia dan hewan (Depdikbud, 1988:103).

Kota-kota di Indonesia berdasarkan bukti-bukti kepurbakalaan dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu jenis kota memakai benteng keliling untuk pertahanan (Tuban, Banten, dan Cirebon) dan jenis kota tidak memakai benteng keliling (Samudera Pasai, Gresik, Kesultanan Aceh). Banda Aceh yang merupakan salah satu kota yang tertua tidak mempunyai benteng keliling, namun benteng-benteng hanya ditempatkan pada muara sungai yang dibuat dari batu. Di daerah pedalaman ditemukan pula benteng-bentang yang terbuat dari batu kali dan bata.

Benteng-benteng bekas peninggalan Kesultanan Aceh memiliki bentuk persegi empat dan persegi panjang dengan variasi berdinding dua sampai empat sisi yang dilengkapi dengan lubang pengintai. Perbedaan dari beberapa benteng tersebut bergantung dengan konsep pendiri benteng tersebut.

b. Agama dan Politik Aceh
Kehadiran para pedagang Islam di Kesultanan Aceh menjadi daerah ini sebagai pusat penyebaran dan pembelajaran Agama Islam. Banyak para ulama serta pujangga mengajarkan ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan umum serta banyak menulis kitab-kitab mengenai ajaran agama. Ulama dan pujangga yang pernah datang ke Kesultanan Aceh di antaranya seperti Muhammad Azhari (Ilmu Metafisika), Syeh Abdul Khair ibn Syeh ibn Hajar (Bidang Mistik), Muhammad Yamani (Ilmu Usul), Syeh Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad Hamid (Bidang Logika), dan Syeh Bukhari al-Jauhari (Pengarang Kitab Tajus Salatin atau mahkota raja-raja). 

Tokoh agama dan pujangga lainnya yang ada di Kesultanan Aceh adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syeh Abdur Rauf Singkili. Pada masa Kesultanan Aceh juga banyak dibangun infrastruktur berupa masjid-masjid sebagai tempat beribadah, di antaranya Masjid Baiturrahman dan Baitul Musyahadah serta taman yang indah bernama taman ghairah.

Dalam usaha memperkuat dan memperkenalkan Kesultanan Aceh keluar, kesultanan membangun hubungan politik dengan beberapa kerajaan yang ada di Nusantara dan kerajaan asing. Hubungan politik Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki terlihat paling erat. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya perutusan dari Kesultanan Aceh yang kemudian dibalas dengan mengirimkan dua buah kapal beserta 500 orang ahli-ahli militer dan pembuat meriam pada tahun 1566 M.

Pada masa kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah (1588-1604 M) hubungan perdagangan Kesultanan Aceh juga dilakukan dengan beberapa bangsa asing. Hubungan dengan bangsa Portugis dijalan dengan kesepakatan perdamaian dari kedua belah pihak dengan memberi kebebasan berdagang Portugis di ibukota kesultanan. Kesultanan Aceh selanjutnya melakukan hubungan perdagangan dengan Kerajaan Belanda pada tahun 1602 M. Bangsa Portugis yang mengetahui hal tersebut mencoba menghasut agar Kesultanan Aceh tidak melakukan hubungan kerjasama dengan Belanda, namun tidak dipedulikan oleh pihak kesultanan. Semakin banyak orang asing yang melakukan perdagangan di daerah kesultanan, maka akan semakin baik dan maju kesultanan. Realisasi dari hubungan tersebut adalah dengan disambut begitu baiknnya Abdul Zamad dan Sri Mohammad yang merupakan dua orang utusan kesultanan oleh Pangeran Mauritz. Hubungan selanjutnya dilakukan Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris yang dibuktikan dengan diterimanya sepucuk surat dari ratu Inggris yang dibawakan oleh James Lancaster.

c. Budaya Kesultanan Aceh
1) Pembangunan Sarana Pertahanan 
Sarana pertahanan adalah sesuatu yang dapat dijadikan pertahanan di dalam atau di belakang, tidak hanya dibuat manusia tetapi juga diciptakan oleh Tuhan menghalangi musuh-musuh untuk menyerang juga dikatakan sebagai pertahanan.

2) Benteng Batu
Pembangunan serta perawatan benteng batu di kesultanan Aceh berkisar antara abad ke-16 M dan 17 M. Beberapa benteng batu tersebut di antaranya Benteng Kuta Lubok (bekas benteng pertahanan Portugis lalu direbut oleh Kesultanan Aceh dan mendapat perawatan pada masa Sultan Iskandar Muda), Benteng Inong Balee, Benteng Indra Puri, dan Benteng Indra Patra. Selain Benteng Kuta Lubok, beberapa benteng-benteng batu yang disebutkan tadi rata-rata tidak diketahui pada masa siapa pembangunannya dan pada tahun berapa untuk secara pasti.

3) Budaya Pemanfaatan Benteng Untuk Pertahanan
Sumber sejarah menyebutkan Kesultanan Aceh sering terjadi peperangan dengan kerajaan lainnya, antara lain Portugis, Johor, kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur, dan bahkan dengan kerajaan tetangga yang paling dekat. Peperangan yang berlangsung di ibukota kesultanan selama abad ke-16 M dan 17 M hanya berlangsung satu kali, yaitu dengan Portugis di Lamreeh Aceh Besar. Peperangan selanjutnya tidak pernah lagi di ibukota kesultanan atau darat, melainkan di laut. Benteng-benteng yang ada di sepanjang pesisir kesultanan Aceh tidak lain fungsinya hanya untuk pengontrolan dan pengamanan daerah setempat serta fungsi-fungsi yang lainnya.

d. Budaya Materi Pendukung Benteng 
Meriam merupakan salah satu materi yang mendukung benteng di Kesultanan Aceh. Kehadiran meriam di Aceh pertama sekali didatangkan dari Turki melalui persahabatan yang dirintis oleh Sultan Al-Kahhar (1539-1571 M), setelah mengirimkan dua orang utusan untuk mendapatkan bantuan militer melawan Portugis di Malaka.

e. Bentuk Benteng Luar Aceh
Pembangunan benteng di Indonesia sudah ada sejak abad ke-7 M, namun sayangnya benteng-benteng yang berdiri pada abad tersebut hingga abad ke-15 M sangat sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan pada umumnya benteng-benateng tersebut terbuat dari kayu, bambu, dan tanah sehingga tidak dapat bertahan lama karena dimakan usia. Salah satu benteng yang masih ada dan tersisa yaitu Benteng Ujung Pandang yang dibangun oleh kerajaan Makasar pada tahun 1545.

Benteng-benteng yang banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia kebanyakan peninggalan dari kolonial. Benteng-benteng tersebut antara lain, Benteng  Marlborough di Bengkulu (1714 M) dibuat oleh Bangsa Inggris, sedangkan benteng yang dibangun Bangsa Belanda adalah Benteng Duurstede (1691 M) di Sapura Maluku Tengah, Benteng  Speelwjk (1684 M) di Banten.

Ada beberapa perbedaan dan persamaan dari benteng-benteng yang berada di Kesultanan Aceh dan beberapa daerah di Indonesia, antara lain:
1) Perbedaan
  • Benteng-benteng di Aceh adalah hasil buatan orang Aceh sendiri kecuali Benteng Kuta Lubok, sedangkan benteng di beberapa daerah Indonesia kebanyakan hasil ciptaan kolonial.
  • Dari segi ukuran, benteng-benteng di Aceh terlihat lebih kecil bila dibandingkan dengan benteng di beberapa daerah Indonesia.
  • Pendirian benteng di Aceh dilatar belakangi untuk pertahanan kota/kesultanan, sedangkan benteng di beberapa daerah Indonesia untuk keamanan penguasaan ekonomi.
  • Dari faktor usia, benteng Aceh lebih tua dari pada benteng di beberapa daerah Indonesia.
  • Benteng di beberapa daerah Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa yaitu dengan memakai bastoin, sedangkan benteng Aceh memakai gaya pribumi dengan tidak memakai gaya bastoin kecuali Benteng Kuta Lubok.
  • Benteng di beberapa daerah Indonesia kebanyakan memakai ruan di dalamnya, sedangkan benteng Aceh tidak.
2) Persamaan
  • Dari bentuknya, benteng-benteng yang ada berbentuk segi empat.
  • Pendirian benteng kebanyakan di pinggir pantai.
Dari uraian perbedaan dan persamaan benteng di atas, tentunya terjadi perbedaan fungsi dan pemanfaatan kedua benteng.

Korupsi Pertama Sebuah Negara

Friday, February 12, 2016 0

Korupsi Pertama Sebuah Negara

Gambar Ilustrasi Pesawar RI Pertama @Doc.Google
#Kebiasaan korupsi ternyata sudah dimulai saat  Indonesia masih tumbuh sebagai bayi.

Di era revolusi, tidak semua orang yang mengaku sebagai pejuang berprilaku baik. Kala itu selain para pejuang  yang memang benar-benar melawan Belanda, ada juga jenis pejuang yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan “berjuang demi kemerdekaan”, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa ( mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).

Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.

Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya.

“Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau…”kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).

Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kutaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter. Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas (sebanding dengan jumlah 10 Milyar Rupiah untuk hari ini).

Singkat cerita, dana itu kemudian diancer-ancer untuk membeli sebuah pesawat terbang. Sebagai pimpro dipilihlah Wiweko Soepono, penerbang senior Indonesia sekaligus salah satu direktur Garuda paling sukses sepanjang sejarah. Dengan bekal wessel 120.000 straitsdollar ia kemudian terbang untuk mencari pesawat di Thailand. Namun anehnya, saat Wiweko ke bank, mereka hanya bilang dana yang ada tinggal 60.000 straits dollar saja. Raib 50%!

Wiweko akhirnya mafhum, dirinya “dibokisin”. “Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan…,” ungkapnya ketika diwawancara oleh majalah Angkasa pada tahun 2000.

Soal siapa yang “bokis” dalam masalah ini, Wiweko mengaku tak tahu sama sekali. Ia pun tak mau berspekulasi bahwa pemberi wessel (yang enggan ia sebut namanya) adalah penilep sebagian uang sumbangan itu. Untuk menghindari fitnah dan intrik, Wiweko memotokopi pencairan wessel tersebut. Hingga dirinya beranjak tua, fotokopi wessel itu tetap ia simpan.

Dengan uang 60.000 straits dollar, perwira Angkatan Udara Republik Indonesia itu berhasil membawa pulang sebuah Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (artinya Gunung Emas). Nomor registrasi penerbangannya: RI-001. Pesawat itu kemudian secara resmi menjadi pesawat kepresidenan pertama sebelum beberapa tahun kemudian dikomersialisasi untuk melayani penerbangan sipil di Burma.

Lantas, bagaimana kabar sisa uang 60.000 staits dollar dan 20 kg emas hasil sumbangan dari rakyat Aceh? Laiknya kasus-kasus mega korupsi yang terjadi kemudian, soal itu seolah sirna, tertumpuki cerita-cerita sejarah yang lainnya hingga orang-orang lupa sama sekali . Indonesia banget ya? (hendijo).

Sumber: Arsip Indonesia

Benteng Kesultanan Aceh

Benteng Kesultanan Aceh

Sunday, February 07, 2016 0
Resume Buku

Benteng Kesultanan Aceh

Gambar Benteng Indra Patra (Doc. Google)
Identitas dari buku
Judul :
Benteng Kesultanan Aceh: Kajian Filologi, Arkeologi, dan Topografi.
Penulis 
Hermansyah dan Nasruddin
Penerbit
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA)
Tahun terbit : 
2013
Tebal/jumlah halaman 
152 Halaman

1. Kesultanan Aceh
a. Aceh dan Kesultanan
Kesultanan Aceh merupakan sebuah kesultanan yang dideklarasikan berdiri pada 1516 M dan Ali Mughayat Syah (1516-1530) sebagai sultan yang pertama kali memimpin. Kesultanan Aceh Darussalam bercikal bakal dari dua buah kesultanan, yaitu Kesultanan Mahkota Alam dan Kesultanan Darul Kamal. Kedua kesultanan ini sebelumnya saling bermusuhan dan sering terjadi peperangan, meskipun daerah hanya dipisahkan oleh Krung Aceh (Kali/Sungai Aceh).

Dalam hikayat Aceh diceritakan, permusuhan baru berakhir setelah Sultan Syamsu Syah dari Kesultanan Makota Alam meminta menjodohkan puteranya Ali Mughayat Syah dengan puteri dari Kesultanan Darul Kamal. Permintaan tersebut diterima oleh Sultan Muzaffar Syah yang saat itu memimpin Darul Kamal. Pernikahan tersebut ternyata hanya siasat untuk mengakhiri perang dan lebih mudah menaklukkan Kesultanan Darul Kalam. Hal itu baru terungkap saat arak-arakan untuk acara pernikahan disembunyikan senjata-senjata perang dan melakukan serangan secara tiba-tiba. Dari serangan yang dilancarkan tersebut, Sultan Muzaffar Syah terbunuh. Sejak peristiwa itu Sultan Syamsu Syah memerintah kedua kesultanan hingga dia meninggal pada tahun 1516 M dan setelah itu digantikan oleh puteranya Ali Mughayat Syah. Pada masa kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, kedua kesultanan yang telah disatukan diberi nama Kesultanan Aceh Darussalam serta pusat kesultanan dipindahkan ke Darud Dunia dan daerah tersebut juga dikenal dengan nama Bandar Aceh Darussalam.

Kedudukan Portugis yang sudah ada di Malaka sejak 1511 M, menjadi sebuah ancaman bagi para pedagang Islam dengan memblokir arus lalu lintas perdagangan internasional di selat itu. Ancaman bukan hanya bersifat ekonomi, namun juga diiringi dengan penyebaran agama Kristen dan meneruskan perang salib dengan tujuan menghancurkan Islam. Bandar-bandar Islam di Pasai dan Pidie, satu persatu dikuasai dan dibangun benteng pengawasan oleh Portugis seperti Benteng Kuta Asan (sekarang Sigli). Hal itu membuat para pedagang Islam kabur dari bandar-bandar yang ada di kedua daerah tersebut dan memilih Bandar Aceh sebagai kawasan baru perdagangan.

Meskipun Kesultanan Aceh Darussalam berada di bawah Pidie, namun Sultan Ali Mughayat Syah menginsafi keadaan yang telah banyak berubah serta memilih memisahkan diri dan mengambil alih kekuasaan. Setelah memisahkan diri, Sultan Ali Mughayat Syah menyiapkan beberapa program untuk kesultanan yang dipimpinnya. Program tersebut bertujuan untuk menyatukan beberapa kesultanan kecil di Aceh Besar untuk dijadikan inti Kesultanan Aceh yang merdeka dan membangkitkan semangat jihad dengan memperhebat pengajaran agama Islam dikalangan rakyat. Selain itu, merebut dan mengusir Potrugis dari lalu lintas perdagangan Selat Malaka.

Portugis mencoba mengancam Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Gasper de Costa (1519 M) dan Joge de Brito (1521 M) namun dapat digagalkan Sultan Ali Mughayat Syah. Kemengan yang diraih membuat Kesultanan Aceh berani untuk terus menyerang kekuasaan Portugis di Pidie dan Pasai, sehingga tahun 1920 M Portugis sudah dapat diusir dari Selat dan menyatukan kesultanan-kesultanan di sekitarnya seperti Daya, Pidie, dan Samudera Pasai. Kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah hanya berlangsung sepuluh tahun setelah penyatuan beberapa kesultanan dan membuat Kesultanan Aceh sudah cukup kuat untuk dapat diteruskan oleh sultan selanjutnya kelak.

Perluasan wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh selanjutnya baru di teruskan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah atau lebih dikenal dengan Al-Kahhar (1553-1571 M). Selama kepemimpinannya, Kesultanan Aceh dapat menaklukkan beberapa kota pelabuhan di Pulau Sumatera seperti Singkil, Barus, Pasaman Tiku, Pariaman, Padang dan Aru. Pada masa kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah, Kesultanan Aceh telah mengeluarkan mata uang sendiri yang terbuat dari emas (derham) dan dari timah (keuh). Selain mata uang utama, ada beberapa jenis mata uang lain, seperti kupang, paradu, dan tahil.

Puncak perkembangan dan kejayaan Kesultanan Aceh tampak lebih jelas pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Daerah kekuasaan terbentang sepanjang jalur kota pelabuhan pantai barat dan timur Pulau Sumatera. Dalam catatan Nuruddin Ar-Raniry terdapat beberapa daftar daerah taklukan sejak tahun 1612-1621 M, seperti Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Perak, Nias, dan Aru (yang pada tahun 1612 melepaskan diri). Selian itu, Agustin de Beaulieu seorang pedagang Prancis juga menyebutkan beberapa daerah taklukkan Kesultanan Aceh. Daerah-daerah tersebut antara lain Labo, Singkil, Barus, Batang Hari, Pasaman, Tiku, Pariaman, Padang, dan Sileda.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, hampir setiap kota dan sungai dibangun benteng-benteng pengawas yang dilengkapi dengan meriam. Di sekitaran benteng sultan juga membangun tempat peristirahatan dan masjid yang dikelilingi dengan terusan. Benteng-benteng yang dekat dengan pelabuhan dibangun rumah bea cukai yang dilengkapi balai sebagai tempat menghadap pedagang dari dalam maupun luar negeri. Tempat tersebut berada langsung di bawah kekuasaan laksamana sebagai wali kota yang memimpin pasukan kaum kebiri.

b. Ekonomi Perdagangan
Pencarian rakyat Aceh sebagian berasal dari bercocok tanam dan berdagang, namun ada juga sebagian yang sebagai ahli-ahli pertukangan. Lada menjadi penghasila utama dari Kesultanan Aceh selain barang-barang perdagangan yang didatangkan dari luar negeri. Setiap tahunnya, Kesultanan Aceh dapat menghasilkan 50.000 karung lada yang dikumpulkan dari pantai barat Sumatera. Harga jual lada juga sangat tinggi, di ibukota kesultanan bisa mencapai 64 rial perbahar.

Begitu pesatnya kegiatan perdagangan dari berbagai bangsa di pusat ibukota kesultanan membuat Bandar Aceh Darussalam menjadi kota pelabuhan teramai sepanjang pantai barat dan timur Pulau Sumatera. Baiknya sambutan dan murahnya pajak atau bea yang harus dibayar dari pada pelabuhan lainnya membuat para pedagang lebih senang berada di Bandar Aceh Darussalam. Hal ini dikarenakan beberapa kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai Sumatera berada di bawah pengawasan Kesultanan Aceh, sehingga bila ada pedagang luar yang ingin berdagang di pelabuhan harus mendapat izin terlebih dahulu dari sulthan.

Penghasilan masukan kesultanan berasal dari bea cukai sebesar 5% tiap-tiap harga barang yang masuk dan ini dikenakan kepada kapal-kapal asing di setiap pelabuhan taklukkan Kesultanan Aceh. Sumber masukan kesultanan lainnya adalah hadiah berharga yang diberikan oleh para tamu dan pedagang-pedagang asing yang berkunjung ke Kesultanan Aceh. Selain dari hadiah-hadiah, sultan juga menerima warisan-warisan dari hambanya yang meninggal dan tidak memiliki pewaris harta bendanya.

Kehadiran para pedagang ini membuat Bandar Aceh Darussalam memiliki penduduk yang bervariasi serta menjadikan sebuah kota yang sangat berkembang dan metropolitan dengan birokrasi pemerintahan yang kuat.
Baca Selanjutnya (Bagian 2) >>>>

Awal Masuknya Islam ke Aceh

Sunday, February 07, 2016 0
Resume Buku
Awal Masuknya Islam ke Aceh
Gambar Cover Buku Awal Masuknya Islam ke Aceh (Doc. Ahmad Zaki Husaini)
Identitas dari buku
Judul 
Awal Masuknya Islam ke Aceh: Analisis Arkeologi dan Sumbangannya pada Nusantara.
Penulis : 
Husaini Ibrahim
Penerbit 
Aceh Multivision
Tahun terbit 
2014
Tebal/jumlah halaman 
278 Halaman

Resensi Sejarah Awal Masuknya Islam ke Aceh:
Sejarah awal masuknya Islam di Indonesia adalah di Sumatera atau lebih tepatnya di daerah Aceh. Bukti ini didukung dengan beberapa sumber sejarah berupa artefak yang berbentuk fisik ataupun manuskrip yang ada di dalam maupun luar negeri. Sumber artefak berbentuk fisik berupa adanya bukti batu-batu nisan Aceh yang tersebar di beberapa wilayah Nusantara, bentuk serta ukiran ragamseni pada bangunan masjid maupun rumah Aceh, dan mata uang pada masa kerajaan Islam di Aceh. Sedangkan bukti berupa manuskrip berasal dari catatan dan laporan para pengembara seperti catatan ekspedisi Cheng Ho, Ma Huan yang keduanya pernah mengunjungi daerah Su-men-ta-la atau Hsiu-wen-tala (Samudera) dan Lan-wu-li atau Lan-po-li (Lamuri). Sedangkan Marco Polo, Tome Pires, serta Ibn Batutah menyebutkan daerah yang pernah mereka kunjungi telah memeluk Islam, seperti Ferlec, Sumatera, Lambri, Selat Malaka, dan Samudera Pasai. Sehubungan dengan itu, bukti lain berupa buku atau kitab-kitab seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Bustanus-Shalatin juga menceritakan masuk dan berkembangannya Islam di Sumatera khususnya Aceh. Harahap (1951:9) menyebutkan penyebaran agama Islam dilakukan oleh ulama yang bernama Abdullah Arif  seorang keturunan Arab dengan memulai dari Aceh lalu keberbagai wilayah di Sumatera dengan cara perniagaan, perkawinan, tasawuf, kesenian, dan lain-lain melalui pedakwah dan pedagang (hal.56). Berdasarkan beberapa sumber sejarah yang ada telah membuktikan bahwa Aceh sebagai daerah awal masuknya Islam di Nusantara dan ini semakin diperkuat dengan kesepakatan para ahli sejarah seperti Moquette, Snouck Hurgronje, Hamka, dan Ali Hasjmy.

Beberapa sarjana menyebutkan ada beberapa tempat yang merupakan daerah awal Islam, seperti Peureulak di Aceh Timur dan Samudera Pasai di Aceh Utara. Berdasarkan sumber seperti Hikayat Nurul ‘Ala dan catatan Marco Polo, Ali Hasjmy berpendapat mengenai masuknya Islam pertama kali di Perlak pada abad ke-9 M (1983). Dan pendapat mengenai awal Islam di Perlak semakin dipertegas dalam keputusan seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara yang diadakan di Kuala Simpang. Hasil kesimpulan seminar menyatakan, Islam sudah ada di Kerajaan Peureulak sejak tahun 840 M (225H). Sedangkan kajian para sarjana Belanda Snouck Hurgronje (1907) dan Moquette (1912) berpendapat bahwa jejak awal masuknya Islam di Aceh sudah ada pada abad ke-13 M di Samudera Pasai. Pendapat ini berdasarkan pengkajian terhadap batu nisan Sulthan Malik al-Shalih dan beberapa catatan dari Cina pada masa Dinasti Yuan. Dalam catatan tersebut menyebutkan Samudera Pasai pernah mengirim utusan bernama Sulaiman dan Hasan ke Cina pada tahun 1282 M (hal.86). Namun demikian, meskipun para sejarawan berpendapat bahwa kedua tempat tersebut merupakan awal masuknya Islam, bukan berarti tempat-tempat Aceh yang lain tidak perlu dibicarakan. Penelitian terbaru dalam buku ini menyebutkan bahwa Kampong Pande merupakan daerah awal Islam di Aceh dan secara tidak langsung telah membantah pendapat-pendapat sebelumnya. Melalui pengkajian batu-batu nisan pada tahun 2006-2007 di Kampong Pande dengan ditemukan jenis nisan baru yang belum pernah dipublikasikan oleh Ambary (1988) dan Othman (1988) (hal.130). 

Begitu banyak batu nisan Aceh ditemukan di lokasi tersebut dengan bentuk dan perpaduan ukiran yang khas serta terdiri dari unsur-unsur budaya berbeda sesuai perkembangan selanjutnya, seperti unsur budaya pada masa prasejarah, Hindu, dan juga Islam. Unsur budaya prasejarah megalitik tampak pada bentuk atas nisan yang runcing seperti yoni menyerupai lingga, sedangkan unsur budaya Hindu-Budha pada ukiran-ukiran hiasan kalamakara, dan unsur budaya Islam pada ukiran kalimat tauhid dan batu nisan ini dikenal dengan nama nisan Aceh. Ragam seni ukir yang terdapat pada batu-batu nisan Aceh membuktikan bahwa Aceh sudah ada sejak zaman prasejarah dan pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu hingga sampai berpadu dengan budaya Islam. 

Batu-batu nisan Aceh yang terdapat di komplek makam tersebut diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-13 M, dan lebih tua dari pada nisan yang ada di Samudera Pasai bila dilihat dari jenis kronologinya (hal.131). Sehubungan dengan ditemukannya persebaran batu-batu nisan mencapai puluhan hektar, mulai dari pemukiman penduduk hingga ke tepi laut Selat Malaka membuktikan Islam telah ada di Aceh sejak lama dan tempatnya di Kampong Pande. Selain itu bukti batu nisan tersebut dapat ditelusuri bukan hanya di daerah awal Islam di Aceh, akan tetapi juga dijumpai dibanyak tempat  yang dipengaruhi oleh pengaruh Aceh di wilayah tersebut, baik di Indonesia maupun wilayah-wilayah lainnya di Semenanjung Malaysia (hal.257). 

Selain batu nisan, dalam buku ini juga menjelaskan bukti awal masuknya Islam berdasarkan bukti pada bangunan seperti masjid kuno dan rumah adat Aceh. Ada beberapa masjid-masjid kuno di Aceh yang masih tersisa, misalnya Masjid Indrapuri, Masjid Indrapurwa, Masjid Teungku di Anjong, dan Masjid Ulee Lheu. Beberapa masjid tersebut ada yang memiliki perpadauan unsur budaya, seperti Masjid  Indrapuri. Masjid Indrapuri merupakan contoh perubahan evolusi kebudayaan dan ideologi, di mana perubahan kepercayaan lama (Hindu) yang beralih menjadi kebudayaan dan kepercayaan Islam. Selain bentuk fisik bangunan, ukiran yang terdapat pada langit-langit masjid menyerupai dengan ukiran batu nisan Aceh. Sedangkan unsur-unsur budaya pada rumah adat Aceh terlihat pada lambang serta simbol-simbol yang memiliki arti tersendiri. Rumah Aceh memiliki tata ruang simetris yang terdiri dari ruang depan yang disebut seuramou rinyeun, ruang tengah disebut seuramou tungai, dan ruang belakang disebut seuramou likot (hal.249). Rumah tersebut sengaja dirancang sedemikian sesuai keperluan masyarakat dan alam sekitarnya serta sarat dengan nilai-nilai agama.

Buku ini menjelaskan tentang daerah yang menjadi awal masuknya Islam ke Aceh berdasarkan analisis penelitian arkeologi bukti-bukti peninggalan Islam berupa artefak yang berbentuk fisik dan manuskrip yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Oleh karena itu buku ini menarik untuk dibaca bagi para arkeolog maupun sejarawan, terutama yang lebih memfokuskan penelitian ataupun belajar mengenai batu-batu nisan Aceh. Disamping itu, penulis telah mengklasifikasi batu nisan Aceh terbaru berdasarkan kronologinya yang sangat bermanfaat dan menjadi daya tarik tersendiri pada buku ini. Sebaliknya yang menjadi kekurangan dari buku ini adalah tidak begitu banyak dijelaskan nama serta jenis batu nisan Aceh berdasarkan kronologinya. Selain itu, buku ini seharusnya bisa lebih tebal bila ini menceritakan tentang masuknya Islam di Aceh yang membantah teori-teori sebelumnya.

Buku yang ditulis oleh Husaini Ibrahim berjudul Awal Masuknya Islam ke Aceh seakan memecahkan permasalahan dan membantah sejarah mengenai awal masuknya Islam di Perlak dan Samudera Pasai. Pengkajian yang dilakukan pada tahun 2006-2007 di Kampong Pande dengan menggunakan arkeologi analisis petrografi, serta menganalisa pola bentuk seni ukir, dan pola hias pada nisan telah menggugurkan pendapat para sejarawan yang sebelumnya. Di mana para sejarawan berpendapat bahwa Perlak dan Samudera Pasai merupakan daerah awal masuknya Islam di Aceh. 

Landasan bukti mengenai Kampung Pande sebagai kawasan mula-mula menerima kedatangan Islam di Aceh dan Nusantara adalah berdasarkan bukti batu nisan yang ditinjau dari segi bentuk, jenis, dan hiasan. Selian itu berdasarkan sumber-sumber asing pernah menyebutkan nama Lamuri sebagai sebuah kerajaan tertua di Aceh yang beralih dari pra Islam menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara. Mengenai pendapat Islam masuk di Perlak kemudian berkembang ke Samudera Pasai, mungkin ini karena melihat perkawinan antara Sulthan Malik al-Shalih dari Samudera Pasai dengan Puteri Ganggang Sari dari Perlak. Dan dari keterangan tersebut sebenarnya hanya untuk mempertegas bahwa Aceh merupakan daeral terawal masuknya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

Dilema Nafsu

Friday, February 05, 2016 0

Dilema Nafsu

Gambar Ilustrasi Dilema (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Kita pernah merasa.
Kita pernah dilanda.
Kita antara dilema,
kompetisi dan ambisi.
Tak berujung berarti.

Ya. Mungkin kita lama terlena nyenyak.
Malam bisa saja langsung bertidak.
Bintang akan selalu menjaga.
Kita selalu akan bertanya.
Membongkar hari esok dengan curiga.

Apakah ini?
Ambisikah atau kompetisi?

Belum siap.
Namun kita jauh berharap.
Pasang keingin tahuan.
Layaknya bintang komandan,
tunjuk-tunjuk jalankan.

Padahal, cukup di rimba belajar memahami.
Pada akhir-akhir malam,
ajak fisikmu berdiskusi.
Biarkan alur-alur gila lahir untuk berkomunikasi.
Menceritakan suara hati dalam wadah intuisi.

Ini bisa menjadi pemula.
Pengetahuan membayar usaha.
Jerih payah akan terbayar semua.

Tidak perlu ambisi dalam kompetisi.
Bila masih ragu,
maka mati.
Kejelasan akan tampak dengan sendiri.

Sekarang atau terkenang.
Kajhu, Aceh Besar
30 Desember 2015

Pulang Merindu

Monday, February 01, 2016 0

Pulang Merindu

Gambar Ilustrasi Berdoa (Doc. Google)
Karya: Mhd. Saifullah
Aku tak ingin merindukan malam
yang hanya berisi
bulan dan para bintang.

Aku tak ingin merindukan siang
hanya kumpulan cahaya
dari matahari dan langit biru.

Aku tak ingin merindukan keluarga
saudara, bahkan kekasihku.
Bila sekedar lihat orang-orang
tersayang.

Tetapi aku ingin belaian manja
dan mendengar bisikan.
Dari Tuhan.
Engkau harus kuat berjuang
sebelum engkau pulang.
Banda Aceh
30 April 2015